• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISWA KELAS IX G SMP NEGERI 2 GEMPOL

Dalam dokumen Untitled - IPA FMIPA UM (Halaman 42-46)

41

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERTANYA DAN HASIL BELAJAR SISWA

memotivasi siswa untuk dapat menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari siswa.Pembelajaran yang topik bahasannya senantiasa berkaitan erat dengan kehidupan sehari hari (kontekstual) akan banyak membicarakan hal-hal yang bangunan konsepsinya sudah ada di dalam struktur kognitif siswa. Dengan demikian proses pembentukan (konstruksi) peta ilmu pengetahuan dalam sruktur kognitif siswa dapat berlangsung secara alami dan menghasilkan bangunan yang bermakna bagi perkembangan berfikir siswa.

Berdasarkan uraian di atas permasalahan rendahnya kemampuan bertanya dan prestasi belajar siswa akan dicoba diatasi dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif CAROUSEL berpadu SNOWBALL THROWING . Oleh karena itu akan dilakukan penelitian tindakan dengan judul ” Peningkatan Kemampuan Bertanya dan Hasil Belajar Siswa Melalui Strategi CAROUSEL Berpadu SNOWBALL THROWING Pada Siswa Kelas IX G SMP Negeri 2 Gempol Kabupaten Pasuruan”.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui observasi terhadap siswa kelas IX G SMP Negeri 2 Gempol kabupaten Pasuruan yang terdiri atas 41 siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah lembar keterlaksanaan pembelajaran unjuk kerja, lembar keterampilan bertanya, serta lembar soal evaluasi siswa disetiap siklusnya. Analisis menggunakan analisis deskriptif terhadap hasil dari keterampilan bertanya yang diamati dan analisis kualitatif terhadap hasil belajar siswa.

HASILDANPEMBAHASAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam satu kali pembelajaran. Setiap kegiatan pembelajaran terdapat dua orang observer yang mengamati aktivitas guru dan siswa serta keterlaksanaan pembelajaran. Keterampilan bertanya yang diukur dalam penelitian ini meliputi tiga aspek yaitu keaktifan bertanya, kualitas pertanyaan dan struktur pertanyaan (Lewis, 2002).

Keaktifan bertanya ditandai dari jumlah siswa yang bertanya serta pertanyaan yang muncul selama kegiatan pembelajaran. Kualitas pertanyaan didasarkan pada kesesuaian bobot pertanyaan dengan tingkatan kognitif Bloom. Sedangkan struktur pertanyaan yang diamati dalam penelitian ini meliputi bahasa yang digunakan dan struktur kalimat yang digunakan dalam bertanya. Selain itu juga mengukur capaian hasil belajar yang diambil dari evaluasi siswa pada siklus tersebut.

Keaktifan belajar siswa didalam kelas sangat menentukan berhasil tidaknya proses pembelajaran

yang sedang berlangsung, Model Carousell diawali dengan pembentukan kelompok, siswa dikelompokkan menjadi 10 kelompok kecil, setiap kelompok berjumlah 4 orang siswa dan masing- masing siswa sudah mengantungi nama masing- masing yaitu ada yang menjadi siswa 1, siswa 2, siswa 3, dan siswa 4. Setelah itu siswa mengerjakan LK(Lembar Kerja) secara individu sesuai tugas yang diberikan oleh guru, setelah semua siswa selesai mengerjakan LK dilanjutkan presentasi kelompok dengan cara siswa berpindah dari kelompok satu ke kelompok yang lain sesuai nama siswanya dan berputar sesuai dengan jarum jam dan dilakukan bersama-sama mulai dari siswa 1, setelah selesai dilanjutkan siswa 2, kemudian siswa 3, dan berakhir pada siswa 4. Setelah itu dilaksanakan diskusi kelas yang dipandu oleh guru, selanjutnya semua siswa diminta membuat satu pertanyaan dikertas yang sudah disediakan, apabila pertanyaan yang dibuat sudah selesai siswa diminta kertas pertanyaan tadi dibentuk seperti bola. Setelah itu siswa mengambil undian untuk kelompoknya, yang mendapat undian nomor awal itulah yang melempar pertanyaan yang sudah berbentuk bola tadi kepada teman yang diinginkan dan yang mendapatkan lemparan pertanyaan harus menjawab dari pertanyaan yang didapatkan, apabila jawaban salah maka guru melemparkan pertanyaan ke siswa lain sampai jawaban itu benar. Setelah selesai guru memberi penguatan materi dan membimbing membuat kesimpulan pembelajaran.

A. Keaktifan Bertanya

Salah satu komponen keterampilan bertanya yang diukur dalam penelitian ini adalahkeaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan. Semakin aktif siswa mengajukan pertanyaan maka mengindikasikan keterampilan bertanya semakin baik. Hasil capaian keaktifan bertanya siswa pada penelitian tindakan kelas ini disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil capaian keaktifan bertanya

Siklus Jumlah Siswa yang Bertanya

Jumlah Pertanyaan yang

Muncul

I 41 41

II 41 41

Tabel 1 menunjukkan ketetapan peningkatan keaktifan bertanya dilihat dari aspek jumlah siswa yang bertanya maupun jumlah pertanyaan yang muncul secara keseluruhan selama kegiatan pembelajaran baik pada siklus I maupun siklus II.

B. Kualitas Pertanyaan

Kualitas pertanyaan dalam penelitian ini merupakan tingkatan atau jenis pertanyaan yang diklasifikasikan berdasarkan tingkatan kognitif Bloom. Tingkatan kualitas pertanyaan berdasarkan taksonomi Bloom disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Tingkatan kualitas pertanyaan

Tingkatan Pertanyaan Keterangan

43

C1 Mengingat

C2 Pemahaman

C3 Mengaplikasikan

C4 Analisis

C5 Penilaian

C6 Menciptakan

(diadaptasi dari Lewis, 2002)

Tabel 2 menunjukkan semakin tinggi tingkat kualitas pertanyaan maka dibutuhkan kemampuan berpikir yang juga semakin tinggi. Pertanyaan tingkat tinggi akan merangsang kegiatan diskusi menjadi semakin kritis dan kreatif (Lewis, 2002).

Semakin tinggi tingkatan kualitas pertanyaan yang muncul maka keterampilan bertanya juga semakin baik. Hasil capaian kualitas pertanyaan dalam penelitian disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil capaian kualitas pertanyaan

Tabel 3 menunjukkan hasil capaian kualitas pertanyaan yang muncul selama penelitian. Pada siklus I pertanyaan yang muncul adalah sebanyak empat puluh satu pertanyaan dengan dua puluh dua diantaranya masuk kategori high order thinking yang terdiri atas dua belas pertanyaan C3, delapan pertanyaan C4, dan dua pertanyaan C5. Capaian keterampilan bertanya siklus II sebanyak 41 pertanyaan dengan dua puluh dua diantaranya berkategori high order thinking namun pertanyaan C3 menurun jadi 7 pertanyaan, tetapi pertanyaan C4 dan C5 mengalami peningkatan yaitu sepuluh pertanyaan C4 dan lima pertanyaan C5. Dari hasil peningkatan kategori pertanyaan yang dicapai maka bisa diharapkan prestasi belajar siswa bisa meningkat, hasil belajar dan prestasi belajar bisa dilihat pada table 4 .

Tabel 4. Hasil Belajar

Rentangan Nilai

Siklus I Siklus II

Siswa

% SISWA

Siswa

% SISWA

70 - 75 4 9,75 - -

76 - 79 11 26,82 2 4,87

80 – 85 24 58,83 25 60,97

86 – 89 1 2,43 5 12,19

90 - 100 1 2,43 9 21,95

Artikel ini memuat penelitian dimana dengan memberikan treatment berupa model pembelajaran Carousell berpadu Snowball Throwing diharapkan mampu meningkatkan keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa. Data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan antara siklus I dan siklus II dalam hal jumlah pertanyaan dan kualitas pertanyaan, begitu juga pada hasil evaluasi siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I rata-rata siswa mendapatkan nilai 80,0 dengan rincian nilai dibawah KKM ada 36,57%, dan diatas KKM 63,69%, sedangkan pada

siklus II rata-rata nilai siswa 85,0 dengan rincian nilai dibawah KKM hanya 4,87%, dan diatas KKM 95,11%. Perubahan kontras terjadi beberapa diantaranya dipengaruhi oleh perpaduan strategi pembelajaran yang ada didalam proses penelitian ini. Strategi pembelajaran Carousell adalah salah satu pembelajaran aktif yang membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap secara aktif (Silberman, 2005).

Keaktifan yang dominan dalam strategi ini dapat membantu dalam mengembangkan keaktifan siswa. Untuk mendukung strategi Carousell tersebut maka digunakan model Snowball Throwing yang berperan untuk mengarahkan keaktifan kelas kearah pembelajaran yang berorientasi kegiatan tanya jawab. Melalui pembelajaran yang berorientasi tanya jawab tersebut siswa dilatihkan untuk terbiasa mengajukan pertanyaan sehingga keterampilan bertanya dapat meningkat. Peningkatan keterampilan bertanya mahasiswa tidak lepas dari pola pembelajaran berbasis lesson study.Lesson studymengambil peranan penting dalam penyusunan perencanaan pembelajaran selanjutnya.

Ketika kegiatan pembelajaran pertama dalam siklus I ada permasalahan terkait siswa yang diduga akan menurunkan keterampilan bertanya maka akan langsung didiskusikan pada tahap refleksi lesson study. Dengan kegiatan berulang dari lesson studydan dipadu dengan kegiatan PTK secara keseluruhan menghasilkan proses pembelajaran yang lebih baik, meningkatkan keaktifan siswa dalam bertanya dan juga meningkatkan hasil belajar siswa.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Carousell berpadu Snowball Throwing dapat meningkatkan keterampilan bertanya dan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan kuantitas pertanyaan dan hasil belajar, kualitas pertanyaan yang diajukan pada tahapan siklus I maupun siklus II. Model pembelajaran yang dipadukan ini pada dasarnya menuntut siswa untuk aktif memberikan pertanyaan dan bahasan dari pertanyaan ini menjadi salah satu cara memahamkan konsep pembelajaran yang baik kepada siswa, sehingga hasil belajar lebih meningkat. Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut mengenai pemahaman konsep dari siswa dengan menggunakan model pembelajaran serupa guna melengkapi kebermaknaan penelitian.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan kualitas belajar siswa dalam belajar IPA, guru dapat menggunakan metode pembelajaran kooperatif Carousell

Siklus Kualitas Pertanyaan

Jumlah C1 C2 C3 C4 C5 C6

I 17 2 12 8 2 - 41

II 11 7 7 10 5 - 41

berpadu Snoball Throwing dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

2. Pembelajaran kooperatif Carousell berpadu Snoball Throwing memerlukan dukungan dari pihak sekolah dalam hal penyediaan Pustaka Insan Madani.peralatan yang dibutuhkan karena pembelajaran kooperatif memerlukan peralatan yang memadai.

3. Penelitian ini dapat ditindaklanjuti untuk materi-materi belajar berikutnya sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih valid.

DAFTARRUJUKAN

Lewis, K. G. 2002. Developing Questioning Skills.

Austin: University of Texas.

Silberman. 2005. Active Learning. Yogyakarta:

Pustaka Insan Madani.

45

ANALISIS TINGKAT KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP PADA

Dalam dokumen Untitled - IPA FMIPA UM (Halaman 42-46)

Garis besar

Dokumen terkait