SEBAGAI BRANDING SDI
C. SIT dan Idealisasi Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
Sekolah Islam Terpadu (SIT) merupakan model baru dalam wacana pengembangan lembaga pendidikan formal di Indonesia.
Seiring dengan perkembangan konteks masyarakat Muslim di Indonesia, tepatnya pada akhir 1980-an terbentuk masyarakat kelas menengah, ditandai dengan terbentuknya ICMI dan Soeharto sebagai pelindungnya. Bagian dari usaha-usaha mereka
104 Von Bertalanffy, L. (1968). General System Theory. New York, 41973, 40, 51.
105 Ibid.,52.
73
adalah mengenalkan simbol-simbol dan lembaga-lembaga Islami kepada masyarakat luas.Kelas menengah Muslim melakukan berbagai eksperimen untuk mengislamisasikan pendidikan formal. Mereka mendirikan sejumlah sekolah yang berkualitas yang menggabungkan pendidikan sekuler dan pendidikan Islam.
Beberapa contoh sekolah-sekolah model ini adalah al-Azhar, al- Izhar, Muthaharri, Insan Cendikia, Madania, Bina Insani, Dwi Warna, Lazuardi, Fajar Hidayah, Nurul Fikri, dan Salman al- Farisi.106
Model sekolah Islam seperti tersebut di atas, menurut Azra, dalam peta pendidikan Islam dewasa ini memperoleh apresiasi tinggi di kalangan Muslim perkotaan. Sekolah Islam juga merupakan satu pusat reproduksi generasi baru Muslim perkotaan, yang dalam banyak segi tidak memiliki ikatan ideologis, baik dengan NU maupun Muhammadiyah. Mereka dikenal sebagai new-born Muslims dan karenanya cenderung mempraktikkan keberagamaan secara menyeluruh (kāffah).
Mereka sangat menekankan perlunya kembali ke khazanah Islam sesuai al-Qur‘an dan sunnah, yang diyakini memberi pandangan hidup komprehensif dan bersifat total. Hal ini dilakukan untuk membendung kecenderungan ideologi Barat yang sekuleristik dan
106Noorhaidi, Education, Young Islamist, 85.
74
materialistik. Meskipun, harus digarisbawahi, mereka tidak bersikap anti-Barat atau anti-modernitas.107
Tampilnya model sekolah Islam merupakan satu fenomena penting yang berada di luar kategori tradisional-modern sebagaimana kita kenal selama ini.Di satu pihak, sekolah Islam mewakili model pendidikan yang dulu dicitakan kaum Muslim reformis, yang menerapkan prinsip-modernitas dalam sistem pembelajaran.Namun, di sisi lain, model sekolah Islam juga mengadopsi sistem asrama yang secara tradisional milik pesantren.108
Konsep SIT memiliki perbedaan karakteristik dengan sekolah umum biasa yang dikelola Kementerian Pendidikan Nasional. Namun juga tidak sama dengan madrasah biasa dan pesantren yang dikelola dibawah Kementerian Agama. Secara substansial, sistem dan kelembagaan SIT sebenarnya merupakan sekolah umum dengan penekanan pada aspek-aspek budi pekerti Islam.Pendidikan yang diselenggarakan tidak menjadikan pelajaran agama seperti sejarah Islam, fikih, dan akidah sebagai materi utama dalam kurikulum seperti di pesantren dan sebagian madrasah, dan juga tidak sebatas tambahan kognisi saja
107 Azra, A. (2006). Jamhari,―Pendidikan Islam Indonesia dan Tantangan Globalisasi: Perspektif Sosio-Historis,‖. Mencetak Muslim Modern Peta Pendidikan Islam Indonesia, 1-22.
108Ibid., 17.
75
sebagaimana ditemukan di sekolah-sekolah umum. Apa yang ditekankan dari model SIT adalah bagaimana agama menjelma dalam budi pekerti, akhlak, dan moralitas terpuji yang terefleksikan dalam hidup keseharian peserta didik.109
Model sekolah Islam memang diperuntukkan untuk keluarga kelas menengah Muslim di perkotaan. Karena itu, sekolah- sekolah Islam dilengkapi fasilitas pendidikan yang bagus seperti AC, perpustakaan digital dan laboratorium serta sarana komputer dan olahraga yang cukup lengkap. Sebagai institusi modern, lembaga-lembaga ini dikelola para profesional dalam hal manajemen dan pengembangan kurikulum. Para guru, staf administrasi, dan manajerial sekolah direkrut secara kompetitif dan profesional dengan mempertimbangkan bidang dan keahlian masing-masing.Dengan fasilitas dan dukungan yang kuat dari stakeholders, sekolah-sekolah ini kadang jauh lebih berkualitas dibanding sekolah-sekolah umum, apalagi pesantren dan madrasah.110
Bangunan ideal ―Sistem Pendidikan Islam Integratif/Holistik‖ dalam Gambar 7 di atas relevan sebagai
109 Ropi, I. (2006). Sekolah Islam untuk Kaum Urban: Pengalaman Jakarta dan Banten. dalam Jajat Burhanuddin dan Dina Afrianty (ed)., Mencetak Muslim Modern, Peta Pendidikan Islam Indonesia. Raja Grafindo Persada dan PPIM UIN Jakarta, 243.
110 Ibid., 245 .
76
paradigma dalam pengembangan model lembaga pendidikan Islami. Konsep tersebut dimungkinkan juga dapat menjadi solusi atas fenomena yang dikemukakan Amin Abdullah bahwa corak atomistik, non-sistemik biasa mewarnai corak metode dan cara berpikir kalam/akidah, ibadah, dan muamalah yang umumnya diajarkan melalui pendidikan Islam yang selama ini berjalan.
Akibatnya, pembelajaran dan perkuliahan agama Islam tidak akan mampu membentuk karakter/akhlak sosial bermasyarakat, bertetangga, dan bernegara yang positif, konstruktif, dan kohesif.111
Pemikiran Islam memerlukan seperangkat keilmuan yang lain. Selain kitab kuning, pemikiran Islam juga memerlukan sains, social sciences, dan humanities. Multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin adalah kebutuhan jaman sekarang, lebih-lebih dalam persoalan kehidupan beragama. Kebijakan linearitas tidak cocok diterapkan dalam kajian agama dan keagamaan karena akan membentuk corak keberagamaan dan pemahaman keagamaan yang sempit dan myopic. Mengutip Mohammad
111 Abdullah, M. A. (2014). Implementasi Pendekatan Integratif- Interkonektif dalam Kajian Pemikiran Pendidikan Islam (Fresh Ijtihad memperjumpakan Ulum al-Din dan Sains Modern dalam Pemikiran Pendidikan Islam. Implementasi Pendekatan Integratif-Interkonektif dalam Kajian Pendidikan Islam. Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 4.
77
Arkoun, pemikiran keagamaan Islam telah membeku sejak abad ke-12 sampai abad ke-19.112
Sementara itu, pandangan Nasr dan Al-Faruqi yang menyebutkan bahwa dengan meniru sistem pendidikan Barat secara keseluruhan bukanlah jalan keluar dari kondisi ketertinggalan umat Islam saat ini, menurut peneliti dapat diterima. Setidaknya dengan menggunakan pendekatan sistem, teori autopoeisis Maturana-Varela, konsep organisasi, struktur dan prilaku living systems dapat diadaptasi untuk merumuskan konsep pendidikan Islam yang ideal sebagai sistem untuk diterapkan di sekolah sebagai living system.
Peter Senge menandaskan pentingnya menggunakan pendekatan sistem untuk memahami fenomena perkembangan sekolah sebagai suatu sistem yang hidup (the school as a living system). Sebuah sistem yang hidup memiliki kapasitas untuk membuat dirinya sendiri. Tidak seperti mesin, sistem yang hidup terus tumbuh dan berkembang, membentuk hubungan yang baru, memiliki tujuannya sendiri untuk tetap bertahan dan kembali membuat dirinya sendiri. Dengan kalimat lain, sistem yang hidup
112 Cara berpikir yang diajukan adalah integrasi-interkoneksi antar berbagai disiplin keilmuan. Ibid., 10.
78
membuat dirinya sendiri sementara mesin dibuat oleh orang lain.113
Selaras dengan pendapat Senge tersebut, pendekatan sistem- teori autopoiesis tepat digunakan untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana SDIT Anak Sholeh Mataram dan SDIT Abu Hurairah Mataram sebagai living system dalam merumuskan konsep pendidikan Islam terpadu dan mempraktikkannya dalam kurikulum dan pelaksanaan pembelajarannya, dalam konteks lingkungan yang mengitarinya. Jika pendekatan sistem digunakan untuk melihat fenomena tersebut, maka akan terlihat dalam gambar 8 berikut:
Gambar 8
Sistem Pendidikan Islam Holistik-Integratif di Sekolah
113 Senge, P. (2000). The industrial age system of education. Schools that learn, 27-58.
79
Gambar tersebut menunjukkan bahwa pada lapis terdalam terdapat komponen al-Qur‘an-hadis dan iman yang mendasari visi sekolah dan terhubung langsung dengan komponen ilmu- ilmu agama, ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam dan practical sciences (amal saleh). Lapisan-lapisan ini berada dalam area berwarna abu-abu terang dengan pengertian berada dalam wilayah organisasi sistem karena berada dalam ranah konsep yang terus dikonservasi keberadaannya sebagai identitas sistem.
Sementara lapisan berikutnya yang berwarna abu-abu gelap merupakan wilayah struktur sistem karena komponen-komponen dalam wilayah tersebut bisa saja berbeda-beda antar satu sekolah dengan sekolah lainnya dengan tidak merubah identitas.
Adapun lapisan luar dari sistem tersebut memperlihatkan lingkungan yang mengitari sistem. Lingkungan sistem mencakup:
ideologi keagamaan, ormas, politik, selera masyarakat, pemerintah, MI regular, SD regular, dan gerakan dakwah transnasional. Lingkungan tersebut bersifat dinamis. Sama dengan sistem yang juga bersifat dinamis. Lingkungan bisa jadi memberikan pengaruh positif terhadap sistem sekolah dan sebaliknya dapat memberi pengaruh negatif. Dalam pengertian tidak memberikan pengaruh apapun terhadap sistem sekolah
80
81