• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DINAMIKA MAKNA TRADISI ARAK

C. Strategi Transformasi Makna Bagi Generasi Milenial

4. Cara Keempat

Persiapan lainnya dalam pertunjukan seni barong yaitu adanya alat- alat music klasik, berupa gendang, dan sejenisnya. Namun seiring perkembangan zaman globalisasi alat music tersebut mulai mengikuti zaman, walaupun tidak keseluruhan namun perubahan alat tersebut menunjukkan bahwa pengaruh zaman juga sangat besat.

Dokumentasi Pribadi 2022

Salah satu alat musik yang digunakan saat pertunjukan barong

“Pertunjukan barong sat acara ider bumi dan selamata Desa, itu pasti di iringi musik. Dan music ini konon sudah begitu, sejak dahulu, meskipun akhirnya juga ada perubahan dan penambahan.

Iya maklumlah, kan harus mengikuti perkembangan. Namun tidak semuanya berubah hanya beberapa bagiannya saja. Dan alat music ini nanti dimainkan supaya barong itu bisa ber-antraksi, artinya barong itu mengikuti irama music itu.”

Ider Bumi sebagai sarana penolak bala dan sarana ucapan syukur atas hasil bumi yang melimpah. Namun semenjak upacara ini masuk dalam agenda Banyuwangi festival (B-Fest), semenjak itulah ada beberapa perubahan baik secara teknis dan penambahan perlengkapan lainnya saat pertunjukan.

Sementara untuk tempat pelaksanaan upacara ini juga tidak berubah banyak. Upacara ini dimulai dari berziarah ke makam Mbah Buyut Cili, lalu dilanjutkan dengan arak arakan yang mengelilingi seluruh penjuru Desa Kemiren. Namun bedanya dari periode waktu sebelumnya, pada periode kali ini ritual ini ditutup di balai Desa di mana masyarakat akan berkumpul untuk menyantap tumpeng serakat bersama sama dengan para pejabat yang hadir.

Menurut keterangan yang diberikan Adi Purwadi, tradisi untuk makan tumpeng serakat secara bersama-sama ini dimulai pada sekitar tahun 1990an.

Pada saat itu Adi Purwadi bersama dengan sesepuh Desa menilai perlunya kegiatan yang bisa meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upacara Barong Ider Bumi. Untuk itu para sesepuh Desa sepakat untuk menambahkan kegiatan makan tumpeng bersama sebagai sarana untuk mempererat tali silahturahmi antar masyarakat Kemiren.

“Tapi menurut saya secara pemahaman adat jadi ada kelunturan nilai sakralnya, memang sedikit ada beda, ya ini harus disikapi secara bijak, arif ya, kenapa? Ya karena tradisi dan pariwisata itu menjadi sebuah objek yang luar biasa. Tapi kalo ngga bisa ngelola, obyek-obyek itu bisa rusak dikemudian hari. Kalo ritual adat kan seharusnya yang sibuk di area itu kan harusnya ya masyarakat adat untuk ritual mereka sendiri. Sekarang ini sudah protokoler. Seolah-olah hanya sibuk dengan kedatangan pejabat.”

Bapak Suhaimi juga mendukung Barong Ider Bumi ini untuk tetap masuk ke dalam Banyuwangi Festival karena menurutnya inti dari upacara tersebut tidak berubah, meskipun ada penambahan sedikit yang penting makna dan intinya tidak berubah. Karena menurut bapak Suhaimi dilibatkannya barong bisa memperkenal eksistensi barong ke masyakarat luar tidak ketingalan ke luar negeri.

“Ya sebenarnya tidak ada perubahan, memang sejak saya masih kecil belum menikah sudah menikah sampai sudah punya anak gini, ya ini untuk kebersamaan masyarakat dan ritual tahunan untuk menolak bala agar Desa ini tetap aman. Kalo ritualnya ya dulu hanya masyarakat Kemiren sekarang sudah lebih rame dan meriah lagi. Ritual ngga ada yang berubah sama sekali, Cuma kemasan yang dikemas lebih bagus lagi, tapi pelaksaan ritual tetap ndak boleh dirubah.”18

Menurut penulis, walaupun secara esensial makna barong tidak beruba secara substansi. Namun secara tidak langsung sedikit banyak mengurangi nilai kesakralan dari upacara di dalamnya, di mana pemerintah mengubah indikator kesuksesan acara ini dari banyak tidaknya pengunjung yang mendatangi acara ini, sementara hal tersebut bertentangan dengan tujuan diadakannya Barong Ider Bumi ini. Bahkan orang hanya menganggap barong merupakan pertunjukan seni belakah yang dilaksanakan bukan untuk acara ritual. Anggapan-anggapan demikian tidak boleh muncul, karena barong ider bumi diadakan untuk acara-acara wujud syukur dan selamatan Desa.

“Bagi saya kalau arak-arakan barong ini dimasukkan ke dalam agenda Banyuwangi festival, atau masuknya keterlibatan pemerintah Banyuwangi ke dalam tradisi arak-arakan barong ini, ya, tidak masalah, tapi, tujuan dan makna tidak boleh berubah sebagaimana konsep para sesepuh sebagai penggagas barong ini. Hanya saja, kegelisahan saya, iya sekarang justru anak-anak muda /atau generasi mudah jarang bahkan tidak sama sekali mengerti apa maksud diadakannya arak-arakan barong ider bumi, misalnya. Jadi anak muda sekarang lebih tertarik dengan gaya budaya luar, sehingga mereka hanya menyaksikan pertunjukan, tapi kalau ditanya, kamu tau makna barong ini?, atau kalau di tanya kamu tau setiap sisi di barong itu?, aduh, sangat parah, pemuda hari ini, iya kita, butuh penerus tradisi barong yang paham makna dan tujuannya19

Hasil analisis penulis dari interview dengan para sesepuh ini, setidaknya mereka mengkhawatirkan generasi mudah yang mulai berkenalan dengan budaya luar, dianggapnya lebih modern dan kebarat baratan. Sehingga

18Bapak Suhaimi, (Selaku Ketua Adat Suku Using Adat Desa Kemiren), diwawancarai oleh Chilmad Fuad Achmad, Banyuwangi, 20 September 2021

19Bapak Mustofa, (Selaku Seniawan Adat Suku Using Adat Desa Kemiren), oleh Chilman Fuad Achmad, Banyuwangi, 10 november 2021

budayanya sendiri dianggap ketinggalan, ironisnya lagi hanya dipertahankan sebagai agenda tahuan karena diwariskan oleh para leluhurnya, tanpa dilacak makna dan fungsi barong tersebut. Memang adanya budaya luar yang masuk juga menjadi tantang serius bagi pemegang tradisi barong, karena ancamannya kepada generasi mudah yang diharapkan menjadi penerusnya.

Makanya harus ada langka kongkrit dari senior barong atau keluarga barong untuk memperkenalkan ulang kepada generasi mudah (baca: milenial) dimana hari ini mulai tidak akrab dengan filosofi diadakannya arak-arakan barong. Harus ada cara untuk mengajak anak-anak muda untuk lebih dekat dengan tradisi barong dan mengetahui seluk-beluk maknanya.

“Memang menyedihkan kegengarannya anak mudah yang saya harapkan bisa melestarikan tradisi ini, ya mala kurang tertarik. Ya begitula keadaannya, mereka tidak tertarik karena banyak faktonya, menurut saya, karena pengaruh budaya luar, misalnya dari tontonan, dll.

Makanya saya selalu memperkenalkan kepada generasi muda, ya semacam sosialisasi, lah. Sebelum pertunjukan arak-arakan barong di mulai, biasanya menyampaikan terlebih dahulu maksud dan tujuang barong ini. Dan juga seperti kamu ini, melakukan wawancara kemudian di tulis dan jadikan arsip data mengenai barong, kan bagus. Sehingga bisa dibaca oleh anak-anak muda dan dipelajari di sekolah-sekolah prihal macam-macam tradisi di Desa Kemiren Banyuwangi.”20

Sedangkan menurut bapak mustofa salah satu cara mentransformasikan barong ini kepada kalangan milenial harus lebih sering disosialisasikan ketika ada momentum perkumpulan, ataupun membuat acara yang semua pesertanya adalah anak-anak muda.

“Harus kenalkan barong ini kepada anak muda karena mereka adalah penerus kita, kalau mereka tidak tau maknanya, tujuannya atau sejarahnya yang bagaimana bisa lertari barong ini, apalagi tidak ada pemainnya, kan menyedihkan. Iya sementara caranya, bagi saya, media digital dimanfaatkan, contoh setiap pertunjukan di upload di medsos, dan ada keterangan dari senior, menyampaikan lewat medsos juga, pokonya

20Bapak Mustofa, (Selaku Seniawan Adat Suku Using Adat Desa Kemiren), oleh Chilman Fuad Achmad, Banyuwangi, 20 maret 2021

kan sekerang anak muda referensinya kan media sosial, ya kita isi di sana suapaya barong ini juga membanjiri medsos.”21

Strategi untuk memeperkanalkan tradisi barong ini ke anak muda dengan sering-sering melibatkan mereka, setiap pertunjukan pemainnya dari kalngan muda-muda. Begitu juga mereka harus diadakan pelatihan khusus dan pemahaman seputar sejarah dan perkembangan selanjutnya.

“Yang paling efektif cara untuk melibatkan anak-anak muda mengadakan sosialisasi ketika pertunjukan, kan di situ ada banyak pengunjung yang datang, nah, sempatkan para senior untuk memberikan satu dua kata seputar sejarah dan sakralnya barong ini bagi suku using Desa Kemiren ini sebagai kekayaan lokal. Kemudian ajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam pertujukan. Umpamanya diajak sebagai pemain, dsb.”22

Begitu juga memperkanalkan melalui literasi, menyampaikan makna seputar barong lewat tulisan yang di bukukan dan diterbitkan, sehingga barong ini mendapat panggung di ruang akademik karena banyak orang akan membaca dan meneliti.

“Saya sangat mengharap kesenian barong ini banyak orang menulisnya, tentu yang di bahas seputar sejarah dan makna barong serta keadaan barong di era sekarang. Nah, ini kan menarik ya, misalnya anak masyarakat sendiri meneliti barong kemudian di jadikan buku di letakkan di kampus atau di sekolah, itu kan pasti banyak yang membacanya, lah, dari situ barong tidak hanya dianggap kesenian yang liar di masyarakat, tapi juga menjadi kesenian ilmiah, kenapa, iya kan kalau jadi buku ilmia namanya.”23

21Bapak Mustofa, (Selaku Seniawan Adat Suku Using Adat Desa Kemiren), oleh Chilman Fuad Achmad, Banyuwangi, 24desember 2021

22Bapak Mustofa, (Selaku Seniawan Adat Suku Using Adat Desa Kemiren), oleh Chilman Fuad Achmad, Banyuwangi, 20 januari 2022

23Bapak Mustofa, (Selaku Seniawan Adat Suku Using Adat Desa Kemiren), oleh Chilman Fuad Achmad, Banyuwangi, 20 Juli 2022

70 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

1. Makna dan Fungsi serta Filosofi Tradisi Arak-arakan Barong Suku Using di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwang di Tengah Arus Globalisasi

Barong: (B): Barang/perilaku yang baik. (A): Apik: hal-hal yang bersifat baik. (R): Rumaten (baca:jaganen), raksanen, sifat sifat perbuatan baik yang sudah dimiliki. (O): Ojo (baca: jangan). (N): Nakal (baca:

jangan suka berbuat jahat atau nakal). (G): Gubaban (baca:

ngapusi);jangan menipu. Dan barong berfungsi sebagai sarana ritual, ungakapan rasa syukur atas hasil tanah yang melimpah, untuk mengusir wabah, kesian lokal. Selanjutnya filosofi Bentuk barong seperti harimau bersayap dianggap sebagai hewan paling sakti dalam kepercayaan masyarakat Kemiren. Mahkota barong memiliki nilai bahwa manusia harus memiliki hati yang besar lapang dada. Gerudho memiliki nilai bahwa manusia perlu waspada menengok ke belakang. Sayap memiliki makna bahwa manusia harus bisa mengayomi dan melindungi sesama.

Tanduk memiliki makna seluruh kekuatan berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Warna barong yang terdiri dari pancawarna, merah melambangkan keberanian, hitam melambangkan kelanggengan, hijau melambangkan kesejahteraan, kuning melambangkan kelahiran dan kematian, dan putih melambangkan kesucian.

2. Praktek Tradisi Arak-arakan Barong Suku Using di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi

Barong lebih aktif digunakan untuk acara atau ritual ider bumi pada bulan syawal dan dzulhijjah, pelaksanaannya dimulai dengan berdoa di makam Mbah Buyut Cili dengan meminta restu agar lancar dan aman.

Kemudian dilanjutkan dengan sembur uthik-uthik berupa campuran beras kuning dan uang logam yang sudah didoakan oleh pemangku adat, lalu

ketika barong sudah berantaksi ditaburkan. Selanjutnya pertunjukan barong iring-ingiri alat-alat musik dan terakhir menyediakan sesajen atau tumpeng untuk dimakan setelah acara arak-arakan barong ider bumi selesai, sebagai rasa bentuk solidaritas dan kebersamaan.

3. Strategi Transformasi Makna Bagi Generasi Milenial

Strategi transformasi dalam mempernalkan makna arak-arakan barong kepada generasi milenia pertama, melakukan sosialisasi berupa penyampaian ketika barong ider bumi dilaksanakan. Karena setiap kali ada acara arak-arakan barong ider bumi dipadati pengunjung, maka kesempat emas untuk memberikan pemahaman seputar barong, yang dikhususkan kepada generasi milenia. Kedua, mengadakan pelatihan kepada anak-anak muda, yang memang di kader untuk melanjutkan tradisi kesenian barong.

Ketiga, melalui tulisan yang di bukukan, baik berbentuk buku, majalah, koran, maupun bulletin.

B. Saran-Saran

1. Seharusnya makna, fungsi dan filosofi barong harus lebih di akses, terutama makna sesungguhnya dari leluhir yang tertulis dalam buku sejarah.

2. Palaksanaan arak-arakan barong untuk ider bumi lebih di adaptasikan dengan zaman kekinian, walaupun tanpa menguba intinya.

3. Kurangnya pengenalan kepada anak muda bahkan kepada masyarakat mengenai makna barong. Kurangnya peneliti untuk membukukan sejaran barong.

72

DAFTAR PUSTAKA BUKU

Abd Aziz, dkk., Ilmu Alamiyah Dasar Ilmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar (IAD-ISD IBD). Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2014

Abdul Syukur Ibrahim, Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. Surabaya:

Usaha Nasional), 1994

Abdul Rifai Pain, Selayang Pandang Desa Kemiren. Banyuwangi: 2020

Bangbang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: PT. Raja Grafindo 1997

Cliffford Geertz, Santri, Abangan, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta:

Pustaka Jaya, 1981

Edward Shils, dkk, Elit Dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: Lembaga Penelitian, pendidikan dan penerangan Ekonomi, 1981

Holt, C. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Bandung: Art Line, 1997

Ibrahim, Abdul Syukur, Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. (Surabaya:

Usaha Nasional, 1994), h. 205

Irwan Abdullah, dkk, Bahasa Nusantara: Posisi dan Penggunaanya Menjelang Abad ke-21. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999

Lily Turangan, dkk, Seni Budaya dan Warisan Indonesia Sejarah Awal 1. Jakarta:

Aku Bisa, 2014

Lexy J. Meeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010

Marzuki, Metodologi Riset. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Islam 1983

Mardimin Johanes, Jangan Tangisi Tradisi. Yogyakarta: Kanisius, 1994

Rahayu, E.W. dan Hariyanto, T, Barong Using Aset Wisata Budaya Banyuwangi, Banyuwangi: Banyuwangi: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, 2008

Soedarsono, R. M, Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press, 2010

Syaiful, M, dkk, Jagat Using Seni, Tradisi dan Kearifan Lokal Using. Dirjen Kebudayaan: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2015

Setianto, E. B, Analisis Kebijakan Bupati Dalam Pelestarian Seni Dan Budaya Untuk Menunjang Pariwisata Banyuwangi. Banyuwangi: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Banyuwangi, 2016

S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004 Sugiono, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatf. Bandung: Alfabeta, 2008 Suharsimi Arikonto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.

Rineka Cipta, 2006

Sutrisno Hadi, Metodologi Research. Jakarta: Remaja Karya 2003

Sandjaja dan Albertus, Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustakarya 2006 Suharsimi Arikonto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. cet. Ke 12,

Jakarta: PT. Rineka Cipta 2002

Sutrisno Hadi, Metode Resech. Jogjakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Teknologi UGM, 1988

Sustrisno Hadi, Metode Riset. Yogyakarta: Andi Offset, 1994

Zulyani Hidayah, Ensiklopedia Suku Bangsa Indonesia, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor, 2015

JURNAL

Ardhika Mula Sari, dkk, Dinamika Upacara Adat Barong Ider Bumi Sebagai Obyek Wisata Budaya Using Di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Bayuwangi Tahun 1830-2014, Unej Jurnal Pendidikan vol. 1, no. 1 (2015)

Moh. Putra, dkk., “Barong Using Optimalisasi Seni Pertunjukan Sebagai Obyek Pariwisata Budaya Using”, Universitas Jember vol. 14, no. 1, (Juni 2019) Muhammad Agung Pramono Putro, Barong Using Optimalisasi Seni Pertunjukan

Sebagai Obyek Pariwisata Budaya Using, Jurnal Sabda vol. 14, no. 1, (Juni 2019)

SKRIPSI

Aprilia Dwi Shanti. Etnografi Komunikasi Tradisi Barong Ider Bumi Bagi Orang Using, Skripsi, S1. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang: 2018

Sri Astuti. Dinamika Sosial Studi Kasus Pada Mahasiswa Berasal Dari Bima Di Universitas Muhammadiyah Makasar, Skripsi S1. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makasar, 2021

INTERNET

https://kbbi.web.id/dinamika.html.

https://Kemiren.com/sejarah-Desa-kemire.

WAWANCARA

Wawancara Bapak Suhaimi, (selaku ketua suku using adat Desa Kemiren) Wawancara Bapak Rifai (selaku wakil ketua suku using adat Desa Kemiren) Wawancara Bapak Mustafa, (selaku seniawan suku using adat Desa Kemiren)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Penulis dan Bapak Rifa‟I

(Selaku Wakil Ketua Adat Suku Using Adat Desa Kemiren)

Penulis dan Bapak Suhaimi

(Selaku Ketua Adat Suku Using Adat Desa Kemiren)

Penulis dan Sukar

(Sesepuh Suku Using Adat Desa Kemiren)

Penulis dan Ning (Nama Panggilan)

(Penjaga/Perawat Makam Mbah Buyut Cili Suku Using Adat Desa Kemiren)

Dokumen terkait