BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Konsep Klien
2.2.4 Struktur Keluarga
Struktur keluarga terdiri dari: pola dan proses komunikasi, strukrur peran, struktur kekuatan dan struktur nilai dan norma (Mubarak dkk, 2011) menggambarkan sebagai berikut:
a. Struktur komunikasi
Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila : jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hirarki kekuatan.
b. Struktur peran
Yang dimaksud struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan. Jadi pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal.
c. Struktur kekuatan
Yang dimaksud adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol atau mempengaruhi atau merubah perilaku orang lain : legitimate power (hak), referent power (ditiru), expert power (keahlian), reward power (hadiah), coercive power (paksa) dan affective power.
d. Struktur nilai dan norma
Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu, sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan sosil tertentu berarti disini adalah lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga.
2.2.5 Peran Perawat Keluarga
Ada tujuh peran perawat keluarga menurut Sudiharto (2012) adalah sebagai berikut : 1. Sebagai pendidik
Perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan.
2. Sebagai koordinator pelaksan pelayanan kesehatan
Perawat bertanggung jawab memberikan pelayanan keperawatan yang komprehensif.
Pelayanan keperawatan yang bersinambungan diberikan untuk menghindari kesenjangan antara keluarga dan unit pelayanan kesehatan.
3. Sebagai pelaksana pelayanan perawatan
Pelayanan keperawatan dapat diberikan kepada keluarga melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang memiliki masalah kesehatan. Dengan demikian,
anggota keluarga yang sakit dapat menjadi “entry point” bagi perawatan untuk memberikan asuhan keperawatan keluarga secara komprehensif.
4. Sebagai supervisor pelayanan keperawatan
Perawat melakukan supervisi ataupun pembinaan terhadap keluarga melalui kunjungan rumah secara teratur, baik terhadap keluarga berisiko tinggi maupun yang tidak. Kunjungan rumah tersebut dapat direncanakan terlebih dahulu atau secara mendadak, sehingga perawat mengetahui apakah keluarga menerapkan asuhan yang diberikan oleh perawat.
5. Sebagai pembela (advokat)
Perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi hakhak keluarga klien.Perawat diharapkan mampu mengetahui harapan serta memodifikasi system pada perawatan yang diberikan untuk memenuhi hak dan kebutuhan keluarga.Pemahaman yang baik oleh keluarga terhadap hak dan kewajiban mereka sebagai klien mempermudah tugas perawat untuk memandirikan keluarga.
6. Sebagai fasilitator
Perawat dapat menjadi tempat bertanya individu, keluarga dan masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi sehari-hari serta dapat membantu jalan keluar dalam mengatasi masalah.
7. Sebagai peneliti
Perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahai masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh angota keluarga. Masalah kesehatan yang muncul didalam keluarga biasanya terjadi menurut siklus atau budaya yang dipraktikkan keluarga.
2.2.6 Prinsip Perawatan Kesehatan Keluarga
Setiadi (2008) mengatakan ada beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan Asuhan Keperawatan keluarga yaitu :
a. Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan.
b. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan Kesehatan keluarga sehat sebagai tujuan utama.
c. Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan kesehatan keluarga.
d. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan keluarga, perawat melibatkan peran aktif seluruh keluarga dalam merumuskan masalah dan ebutuhan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya.
e. Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat proinotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
f. Dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga, keluarga memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga.
g. Sasaran Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara keseluruhan.
h. Pendekatan yang dipergunakan dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan proses keperawatan.
i. Kegiatan utama dalam memberikan Asuhan Keperawatan kesehatan keluarga adalah penyuluhan kesehatan dan Asuhan Keperawatan kesehatan dasar atau perawatan dirumah.
j. Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi. Keluarga-keluarga yang tergolong resiko tinggi dalam bidang kesehatan antara lain adalah :
1. Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia subur dengan masalah : a. Tingkat sosial ekonomi yang rendah.
b. Keluarga kurang tahu atau tidak mampu mengatasi masalah kesehatan sendiri.
c. Keluarga dengan keturunan yang kurang baik atau keluarga dengan penyakit keturunan.
2. Keluarga dengan Ibu dengan resiko tinggi kebidanan yaitu : a. Umur Ibu (16 tahun/lebih dari 35 tahun).
b. Menderita kekurangan gizi (anemia).
c. Menderita hipertensi.
d. Primipara dan Multipara.
e. Riwayat persalinan atau komplikasi
3. Keluarga dalam anak menjadi resiko tinggi karena : a. Lahir prematur (BBLR).
b. Berat badan sukar naik.
c. Lahir dengan cacat bawaan.
d. ASI Ibu kurang sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi.
e. Ibu menderita penyakit menular yang dapat mengancam bayi dan anaknya.
4. Keluarga mempunyai masalah hubungan antara anggota keluarga a. Anak yang tidak pernah dikehendaki pernah mencoba untuk digugurkan.
b. Tidak ada kesesuaian pendapat antara anggota keluarga dan sering timbul cekcok dan ketegangan.
c. Ada anggota keluarga yang sering sakit
d. Salah satu anggota (suami atau istri) meninggal, cerai, lari meninggalkan rumah.
2.3 Konsep Dampak Masalah 2.3.1 Konsep Solusi
1. Mengonsumsi makanan sehat.
2. Mengurangi konsumsi garam jangan sampai berlebihan.
3. Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan seperti teh dan kopi.
4. Berhenti merokok.
5. Berolahraga secara teratur.
6. Menurunkan berat badan, jika diperlukan.
7. Mengurangi konsumsi minuman beralkohol.
2.3.2 Konsep Masalah Gejala yang muncul:
1. Kerusakan vaskuler 2. Penyakit arteri koroner 3. Hipertrofi ventikel kiri 4. Gagal jantung kiri
5. Perubahan patologis pada ginjal (sumber: Smeltzer&Bare,2013)
2.4 Asuhan Keperawatan Definisi
Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematik untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga.
2.4.1 Pengkajian a. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien pernah mengalami sakit yang berat pada dulu 2. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang ada yaitu sakit kepala, kelelahan, pundak terasa berat, sulit bernapas 3. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga yang mengalami sakit yang sama atau keturunan b. Aktivitas istirahat
Gejalanya yaitu kelelahan, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton. Di tandai dengan peningkatan frekuensi denyut jantung, disritmia, dan takipnea
c. Sirkulasi
Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit katup jantung, penyakit jantung coroner atau stroke, episode palpitasi, serta berkeringat banyak. Temuan fisik meliputi:
1. Tekanan darah tinggi (diukur secara serial)
2. Hipotensi postural akibat kebiasaan minum obat tertentu.
3. Nadi: meningkat pada arteri karotis, jugularis, pulsasi radialis; perbedaan denyut nadi atau tidak ada denyut nadi pada beberapa area seperti arteri popliteal, posterior tibia.
4. Denyut apikal bergeser dan/atau kuat angkat.
5. Denyut jantung: takikardia, disritmia.
6. Murmur: dapat terdengar jika ada stenosis atau insufisiensi katup.
d. Integritas ego
Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, rasa marah kronis (mungkin mengindikasikan gangguan serebral). Faktor-faktor stress multiple (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan). Temuan fisik meliputi kegelisahan, penyempitan lapang perhatian, menangis, otot wajah yang tegang terutama sekitar mata, menarik napas panjang, dan peningkatan pola bicara.
e. Eliminasi
Riwayat penyakit ginjal (obstruksi atau infeksi). Temuan fisik produksi urine < 50 ml/jam atau oliguri.
f. Makanan/Cairan
mengonsumsi makanan tinggi lemak atau kolesterol, tinggi garam, dan tinggi kalori.
Selain itu, juga melaporkan mual, muntah, perubahan berat badan, dan riwayat pemakaian diuretik. Temuan fisik meliputi berat badan normal atau obesitas, adanya edema, kongesti vena, distensi vena jugularis (DVJ).
g. Neurosensori
Mengeluh pening/pusing, berdenyut, sakit kepala berdenyut di suboksipital episode mati-rasa, atau kelumpuhan salah satu sisi badan. Gangguan visual (diplopia- pandangan ganda atau pandangan kabur) dan episode epistaksis. Temuan fisik:
perubahan status mental meliputi kesadaran, orientasi, isi dan pola pembicaraan, afek yang tidak tepat, proses pikir dan memori. Respons motorik: penurunan refleks tendon, tangan menggenggam. Fundus optik: pemeriksaan retina dapat ditemukan penyempitan atau sklerosis arteri, edema atau papiledema (eksudat atau hemoragi) tergantung derajat dan lamanya hipertensi.
h. Nyeri/Ketidak nyamanan
Melaporkan angina (penyakit arteri coroner.keterlibatan jantung), nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi (indikasi arteriosclerosis pada arteri ekstremitas bawah), sakit kepala hebat di oksipital, nyeri atau teraba massa di abdomen (pheochromocytoma).
i. Pernapasan/respirasi
Mengeluh sesak napas saat aktivitas, takipnea, orthopnea, PND, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok. Temuan fisik meliputi sianosis, penggunaan otot bantu pernapasan, terdengar suara napas tambahan (ronkhi, rales, wheezing).
Pembelajaran/Penyuluhan 2.4.2 Analisa Data
Analisis data merupakan kemampuan kognitif dalam pengembangan daya berfikir dan penalaran yang dipengaruhi oleh latar belakang ilmu dan pengetahuan, pengalaman, dan
pengertian keperawatan. Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berfikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. Dalam melakukan analisis data, diperlukan kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.
2.4.3 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status kesehatan atau masalah aktual atau potensial. Perawat memakai proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mensintesis data klinis dan menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan atau mencegah masalah kesehatan klien yang ada pada tanggung jawabnya.
Diagnosa keperawatan yang kemungkinan muncul:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas.
Definisi: Ketidak cukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Penyebab:
1. Ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen 2. Tirah baring
3. Kelemahan 4. Imobilitas
5. Gaya hidup monoton Gejala dan tanda mayor:
Subjektif:
1. Mengeluh Lelah Objektif:
1. Frekuensi jantung meningkat >20% dari kondisi istirahat
Gejala dan tanda minor:
Subjektif:
1. Dispnea saat/setelah aktivitas
2. Merasa tidak nyaman setelah aktivitas 3. Merasa lemah
Objektif:
1. Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istirahat
2. Gambaran EKG menunjukkan aritmia saat/setelah aktivitas 3. Sianosis
2. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
Definisi: pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
Penyebab:
1. Agen pencedera fisiologis (inflamasi, iskemia, neoplasma) 2. Agen pencedera kimiawi (terbakar bahan kimia iritan)
3. Agen pencedera fisik (abses, aputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan)
Gejala dan tanda mayor:
Subjektif:
1. Mengeluh nyeri Objektif:
1. Tampak meringis
2. Bersikap protektif (waspada, posisi menghidari nyeri) 3. Gelisah
4. Frekuensi nadi meningkat 5. Sulit tidur
Gejala dan tanda minor:
Objektif:
1. Tekanan darah meningkat 2. Pola napas berubah 3. Nafsu makan berubah 4. Proses berpikir terganggu 5. Menarik diri
6. Berfokus pada diri sendiri 7. Diaforesis
3. Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi
Definisi: Kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman.
Penyebab:
1. Krisis situasional
2. Kebutuhan tidak terpenuhi 3. Krisis maturasional
4. Ancaman terhadap konsep diri 5. Ancaman terhadap kematian 6. Kehawatiran mengalami kegagalan 7. Disfungsi system keluarga
8. Hubungan orang tu-anak tidak memuaskan
9. Faktor keturunan (temperamen mudah teragitasi sejak lahir)
10. Penyalahgunaan zat
11. Terpapar bahaya lingkungan 12. Kurang terpapar informasi
Gejala dan tanda mayor:
Subjektif:
1. Merasa bingung
2. Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi 3. Sulit berkonsentrasi
Objektif:
1. Tampak gelisah 2. Tampak tegang 3. Sulit tidur
Gejala dan tanda minor:
Subjektif:
1. Mengeluh pusing 2. Anoreksia
3. Palpitasi
4. Merasa tidak berdaya Objektif:
1. Frekuensi napas meningkat 2. Frekuensi nadi meningkat 3. Tekanan darah meningkat 4. Diaforesis
5. Tremor
6. Muka tampak pucat
7. Suara bergetar 8. Kontak mata buruk 9. Sering berkemih
10. Berorientasi pada masa lalu
4. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload.
Defisi: Beresiko mengalami pemompaan jantung yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Faktor resiko:
1. Perubahan afterload
2. Perubahan frekuensi jantung 3. Perubahan frekuensi irama 4. Perubahan kontraktilitas 5. Perubahan preload
Kondisi klinis terkait:
1. Gagal jantung kongestif 2. Sindrom koroner akut 3. Gangguan katup jantung 4. Atrial
5. Aritmia
2.4.4 Intervensi Keperawatan
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan pada Pasien Hipertensi Menurut PPNI (2018)
No Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI TTD
Kode Dx Keperawatan Kode Luaran Kode Luaran
1. D.0056 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan imobilitas
Definisi: Ketidak cukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Luaran utama
Toleransi aktivitas setelah
dilakukan intervensi selama 24 jam, maka tingkat pengetahuan
meningkat dengan kriteria hasil:
✓ Rekuensi nadi meningkat
✓ Saturasi oksigen meningkat
✓ Kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat
✓ Kecepatan jalan meningkat
✓ Jarak jalan meningkat
✓ Kekuatan tubuh bagian atas meningkat
✓ Keluhan lelah menurun
✓ Dispnea saat aktivitas menurun
✓ Dispnea setelah aktivitas menurun
✓ Perasaan lemah menurun
✓ Aritmia saat beraktivitas menurun
Intervensi utama 1. Manajemen energi
Tindakan:
Observasi
✓ Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
✓ Monitor kelelahan fisik dan emosional
✓ Monitor pola dan jam tidur
✓ Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas Terapeutik
✓ Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus
✓ Lakukan latihan rentang gerak pasif dan atau aktif
✓ Berikan aktivitas distraksi yang menenagkan
L.05047 1.05178
✓ Aritmia setelah aktivitas menurun
✓ Sianosis menurun
✓ Warna kulit membaik
✓ Tekanan darah membaik
✓ Frekuensi napas membaik
✓ EKG iskemia membaik
1.05186
✓ Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan
Edukasi
✓ Anjurkan tirah baring
✓ Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
✓ Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang
✓ Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan
Kolaborasi
✓ Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
2. Terapi aktivitas Tindakan:
Observasi
✓ Identifikasi defisit tingkat aktivitas
✓ Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu
✓ Identifikasi sumber daya untuk aktivitas yang diinginkan
✓ Identifikasi strategi
meningkatkan partisipasi dalam aktivitas
✓ Identifikasi makna aktivitas rutin dan waktu luang
Terapeutik
✓ Fasilitasi fokus pada kemampuan bukan deficit yang dialai
✓ Sepakati komitmen untuk meningkatkan frekuensi dan rentang aktivitas
✓ Fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan aktivitas yang konsisten sesuai kemampuan fisik, psikologi, dan sosial
✓ Koordinasikan pemilihan aktivitas sesuai usia
✓ Fasilitasi makna aktivitas yang dipilih
✓ Fasilitasi transportasi untuk menghadiri aktivitas, jika sesuai
✓ Fasilitasi pasien dang keluarga dalam menyesuaikan lingkungan untuk mengakomodasikan aktivitas yang dipilih
✓ Fasilitasi aktivitas rutin, sesuai kebutuhan
✓ Fasilitasi aktivitas pengganti saat mengalami keterbatasan waktu, energi, atau gerak
✓ Fasilitasi aktivitas motorik kasar untuk pasien hiperaktif
✓ Tingkatkan aktifitas fisik untuk memelihara berat badan, jika sesuai
✓ Fasilitasi aktivitas motorik untuk merelaksasikan otot
✓ Fasilitasi aktivitas dengan komponen memori implisit dan emosional untuk pasien demensia, jika sesuai
✓ Libatkan dalam permainan kelompok yang tidak kompetitif, terstruktir dan aktif
✓ Tingkatkan keterlibatan dalam aktivitas rekreasi dan diservikasi untuk menurukan kecemasan
✓ Libatkan keluarga dalam aktivitas
✓ Fasilitasi mengembangkan motivasi dan pengetahuan diri
✓ Fasilitasi pasien dan keluarga memantau kemajuannya sendiri untuk mencapai tujuan
✓ Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari
✓ Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas
Edukasi
✓ Jelaskan metode aktivitas
✓ Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
✓ Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial, spiritual dan kognitif dalam menjaga fungsi dan
kesehatan
✓ Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok atau terapi 2. D.0077 Nyeri akut berhubungan dengan
peningkatan tekanan vaskuler serebral
Definisi: Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
Luaran utama
Tingkat nyeri setelah dilakukan intervensi selama 24 jam, maka tingkat pengetahuan menurun dengan kriteria hasil:
✓ Keluhan nyeri menurun
✓ Meringis menurun
✓ Sikap protektif menurun
✓ Gelisah menurun
✓ Kesulitan tidur menurun
✓ Menarik diri menurun
✓ Berfokus pada diri sendiri menurun
✓ Diaforesis menurun
Intervensi utama 1. Manajemen nyeri
Tindakan:
Observasi
✓ Identifikasi lokasi, karakteristik durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
✓ Identifikasi skala nyeri
✓ Identifikasi respon nyeri non ferbal
✓ Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
✓ Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
L.08066 1.08238
✓ Perasaan depresi(tekanan) perasaan takut mengalami cidera berulang menurun
✓ Anoreksia menurun
✓ Perineum terasa tertekan menurun
✓ Uterus teraba membulat menurun
✓ Ketegangan otot menurun
✓ Pupil dilatasi menurun
✓ Muntah menurun
✓ Mual menurun
✓ Frekuensi nadi membaik
✓ Pola napas membaik
✓ Tekanan darah membaik
✓ Proses berpikir membaik
✓ Fokus membaik
✓ Fungsi berkemih membaik
✓ Perilaku membaik
✓ Nafsu makan membaik
✓ Pola tidur membaik
✓ Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
✓ Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
✓ Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
✓ Monitor efek samping penggunaan analgenik
Terapeutik
✓ Berikan Teknik
nonfsrmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
✓ Kontorl lingkungan yang memperberat rasa nyeri
✓ Fasilitasi istirahat dan tidur
✓ Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredahkan nyeri
Edukasi
✓ Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
✓ Jelaskan strategi meredakan nyeri
✓ Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
✓ Anjurkan menggunakan analgenik secara tepat
1.08243
✓ Ajarkan Teknik
nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
✓ Kolaborasikan penggunaak analgenik bila perlu
2. Pemberian analgesik Tindakan:
Observasi
✓ Identifikasi karakteristik nyeri
✓ Identifikasi riwayat alergi obat
✓ Identifikasi kesesuaian jenis analgesic
✓ Monitor tanda-tanda vital
✓ Monitor efektifitas analgesik
✓ Terapeutik
✓ Diskusikan jenis analgesik yang disukai untuk Mencapai analgesia optimal
✓ Pertimbangkan penggunaan Infus continue, atau bolus opioid untuk mempertahankan kadar dala serum
✓ Tetapkan target efektifitas analgesic untuk mengoptimalkan respons pasien
✓ Dokumentasikan respon terhadap efek analgesic dan efek yang tidak diinginkan
Edukasi
✓ Jelaskan efek terapi dan efek samping obat
Kolaborasi
✓ Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesik.
3. D.0080 Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi Definisi: Kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman.
Luaran utama
Tingkat ansietas setelah dilakukan intervensi selama 24 jam, maka tingkat pengetahuan menurun dengan kriteria hasil:
✓ Verbalisasi kebingungan menurun
✓ Verbalisasi akibat khawatir kondisi yang dihadapi menurun
✓ Perilaku gelisah menurun
✓ Perilaku tegang menurun
✓ Keluhan pusing menurun
✓ Anoreksia menurun
✓ Palpitasi menurun
✓ Frekuensi pernapasan menurun
✓ Frekuensi nadi menurun
✓ Tekanan darah menurun
Intervensi utama 1. Reduksi ansietas
Tindakan:
Observasi
✓ Identifikasi saat tingkat ansietas berubah
✓ Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
✓ Monitor tanda-tanda ansietas Terapeutik
✓ Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan rasa kepercayaan
✓ Temani pasien untuk mengurangi kecemasan
✓ Pahami situasi yang membuat ansietas dengarkan dengan penuh perhatian
L.09093 1.09314
✓ Diaphoresis menurun
✓ Tremor menurun
✓ Pucat menurun
✓ Konsentrasi membaik
✓ Pola tidur membaik
✓ Perasaan keberdayaan membaik
✓ Kontak mata membaik
✓ Pola berkemih membaik
✓ Orientasi membaik
✓ Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
✓ Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan
✓ Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
✓ Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan dating
Edukasi
✓ Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
✓ Informasikan secara factual, mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
✓ Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien
✓ Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif
✓ Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
✓ Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
✓ Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
✓ Latih teknik relaksasi Kolaborasi
1.09326
✓ Kolaborasi pemberian obat antlansietas
2. Terapi relaksasi Tindakan:
Observasi
✓ Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan
berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif
✓ Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan
✓ Identifikasi kesediaan, kemampuan, dan penggunaan teknik sebelumnya
✓ Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan sesudah latihan
✓ Monitor respons terhadap terapi relaksasi
Terapeutik
✓ Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan
pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan
✓ Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi
✓ Gunakan pakaian longgar
✓ Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama
✓ Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan analgetik atau indakan medis lain, jika sesuai
Edukasi
✓ Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis musk meditasi, napas dalam, relaksasi otot progresif)
✓ Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih
✓ Anjurkan mengambil posisi nyaman
✓ Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
✓ Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih
✓ Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi
4. D.0011 Resiko penurunan curah jantung Defisi: Beresiko mengalami
pemompaan jantung yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Luaran utama
Curah jantung setelah dilakukan intervensi selama 24 jam, maka tingkat pengetahuan meningkat dengan kriteria hasil:
Intervensi utama 1. Perawatan jantung
Tindakan:
Observasi
✓ Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung (meliputi
L.02008 1.02075
✓ Kekuatan nadi perifer meningkat
✓ Ejection fraction (EF) meningkat
✓ Cardiec todex (CI) meningkat
✓ Left ventricular stroke work index (LVSWI) meningkat
✓ Stroke volume index (SVI) meningkat
✓ Palpitasi menurun
✓ Bradikardi menurun
✓ Takikardi menurun
✓ Gambaran EKG aritmia menurun
✓ Lelah menurun
✓ Edema menurun
✓ Distensi vena jugularis menurun
✓ Dispnea menurun
✓ Oliguria menurun
✓ Pucat/sianosis menurun
✓ Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) menurun
✓ Ortopnea menurun
✓ Batuk menurun
✓ Suara jantung S3 menurun
✓ Suara jantung S4 menurun
dispnea, kelelahan, edema, ortopnea, paroxysmai noctumal dyspnea, peningkatan CVP)
✓ Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena jugularis, palpitasi, ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
✓ Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik, jika perlu)
✓ Monitor intake dan output cairan
✓ Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama
✓ Monitor saturasi oksigen
✓ Monitor keluhan nyeri dada (mis. intensitas, lokasi, radiasi, durasi, presivitasi yang mengurangi nyeri)
✓ Monitor EKG 12 sadapan
✓ Monitor aritmla (kelainan irama dan frekuensi)
✓ Monitor nilai laboratorium jantung (mis. elektrolit, enzim jantung.
BNP, NTpro-BNP)
✓ Monitor fungsi alat pacu jantung