• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Konsep Klien

2.2.2 Struktur Keluarga

komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan secara jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan hierarki kekuatan. Komunikasi keluarga bagi pengirim yakin mengemukakan pesan secara jelas dan berkualitas, serta meminta dan menerima umpan balik.

Penerima pesan mendengarkan pesan, memberikan umpan balik, dan valid.

Komunikasi dalam keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila tertutup, adanya isu atau berita negatif, tidak berfokus pada satu hal, dan selalu mengulang isu dan pendapat sendiri. Komunikasi keluarga bagi pengirim bersifat asumsi, ekspresi perasaan tidak jelas, judgemental

ekspresi, dan komunikasi tidak sesuai. Penerima pesan gagal mendengar, diskualifikasi, ofensif (bersifat negatif), terjadi miskomunikasi, dan kurang atau tidak valid.

1) Karakteristik pemberi pesan :

- Yakin dalam mengemukakan suatu pendapat.

- Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas.

- Selalu menerima dan meminta timbal balik.

2) Karakteristik pendengar : - Siap mendengarkan - Memberikan umpan balik - Melakukan validasi b. Struktur peran

Struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan. Jadi, pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal. Posisi/status adalah posisi individu dalam masyarakat misal status sebagai istri/suami.

c.Struktur kekuatan

Struktur kekuatan adalah kemampuan dari individu untuk mengontrol, memengaruhi, atau mengubah perilaku orang lain. Hak (legimate power), ditiru (referent power), keahlian (exper power), hadiah (reward power), paksa (coercive power), dan afektif power.

d. Struktur nilai dan norma

Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu. Sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada lingkungan sosial tertentu, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat sekitar keluarga.

1) Nilai, suatu sistem, sikap, kepercayaan yang secara sadar atau tidak dapat mempersatukan anggota keluarga.

2) Norma, pola perilaku yang baik menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga.

3) Budaya, kumpulan daripada perilaku yang dapat dipelajari, dibagi, dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah. (Friedman, dalam Harmoko hal 19; 2012)

2.2.3 Tipe atau Bentuk Keluarga

Tipe keluarga dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

a. Tipe keluarga tradisional

1. Nuclear family atau keluarga inti merupakan keluarga yang terdiri atas suami, istri, dan anak.

2. Dyad family merupakan keluarga yang terdiri dari suami istri namun tidak memiliki anak.

3. Single parent yaitu keluarga yang memiliki satu orang tua dengan anak yang terjadi akibat perceraian atau kematian.

4. Single adult adalah kondisi dimana dalam rumah tangga hanya terdiri dari satu orang dewasa yang tidak menikah.

5. Extended family merupakan keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah dengan anggota keluarga lainnya.

6. Middle-aged or erdely couple dimana orang tua tinggal sendiri dirumah dikarenakan anak-anaknya telah memiliki rumah tangga sendiri.

7. Kit-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersamaan dan menggunakan pelayanan bersama.

b. Tipe keluarga non tradisional

1. Unmaried parent and child family yaitu keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak tanpa adanya ikatan pernikahan.

2. Cohabitating couple merupakan orang dewasa yang tinggal bersama tanpa adanya ikatan perkawinan.

3. Gay dan lesbian family merupakan seorang yang memiliki persamaan jenis kelamin tinggal satu rumah layaknya suami-istri.

4. Nonmarital Hetesexual Cohabiting Family, keluarga yang hidup bersama tanpa adanya pernikahan dan sering berganti pasangan.

5. Faster family, keluarga menerima anak yang tidak memiliki hubungan dalam darah waktu sementara. (Widagdo, 2016)

2.2.4 Fungsi Keluarga

Menurut Friedman fungsi keluarga terbagi atas : a. Fungsi Afektif

Fungsi ini merupakan presepsi keluarga terkait dengan pemenuhan kebutuhan psikososial sehingga mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.

b. Fungsi Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses perkembangan individu sebagai hasil dari adanya interaksi sosial dan pembelajaran peran sosial. Fungsi ini melatih agar dapat beradaptasi dengan kehidupan sosial.

c. Fungsi Reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menjaga kelangsungan keluarga.

d. Fungsi Ekonomi

Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan secara ekonomi dan mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan.

e. Fungsi Kesehatan

Menyediakan kebutuhan fisik, makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan. (Harnilawati, 2013)

2.2.5 Peranan Keluarga

1. Peran formal keluarga

Peran formal bersifat eksplisit. Peran formal keluarga adalah : a. Peran Prenteral dan Perkawinan

Nye dan Gecas, (1976) yang dikutip Andarmoyo (2012), telah mengidentifikasi enam peran dasar yang membentuk bentuk sosial sebagai suami-ayah, dan istri-ibu. Peran tersebut adalah : 1) Peran provider/penyedia,

2) Peran pengatur rumah tangga, 3) Peran perawatan anak,

4) Peran sosialisasi anak, 5) Peran rekreasi,

6) Peran persaudaraan/kindship/pemelihara hubungan keluarga paternal dan maternal,

7) Peran terapeutik/memenuhi kebutuhan afektif dari pasangan 8) Peran seksual

b. Peran Anak

Peran anak adalah melaksanakan tugas perkembangan dan pertumbuhan fisik, psikis, dan sosial.

c.Peran Kakek/Nenenk

Menurut Bengston (1985) yang dikutip Andarmoyo (2012), peran kakek/nenek dalam keluarga adalah :

1) Semata-mata hadir dalam keluarga,

2) Pengawal (menjaga dan melindungi bila diperlukan),

3) Menjadi hakim (arbritrator), negoisasi antara anak dan orang tua,

4) Menjadi partisipan aktif, menciptakan keterkaitan antara masa lalu dengan sekarang serta masa yang akan datang.

2.Peran Informal Keluarga

Peran informal bersifat implisit biasanya tidak tampak ke permukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individu (Satir, 1967 dalam Andarmoyo 2012) dan atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga. Keberadaan peran informal penting bagi tuntutan-tuntutan integratif dan adaptif kelompok keluarga (Andarmoyo, 2012). Beberapa contoh peran informal yang bersifat adaptif dan merusak kesejahteraan keluarga diantaranya sebagai berikut :

a. Pendorong

Pendorong memuji, setuju dengan, dan menerima konstribusi dari orang lain. Akibatnya dapat merangkul orang lain dan membuat mereka merasa bahwa pemikiran mereka penting dan bernilai untuk didengar.

b. Pengharmonis

Pengharmonis menengahi perbedaan yang terdapat di antara para anggota menghibur menyatukan kembali perbedaan pendapat.

c. Inisiator-konstributor

Inisiator-konstributor mengemukakan dan mengajukan ide-ide baru atau cara-cara mengingat masalah-masalah atau tujuan-tujuan kelompok.

d. Pendamai

Pendamai (compromiser) merupakan salah satu bagian dari konflik dan ketidaksepakatan. Pendamai menyatakan posisinya dan mengakui kesalahannya, atau menawarkan penyelesaian “setengah jalan”.

e. Penghalang

Penghalang cenderung negatif terhadap semua ide yang ditolak tanpa

f. Dominator

Dominator cenderung memaksakan kekuasaan atau superiotas dengan memanipulasi anggota kelompok tertentu dan membanggakan kekuasaannya dan bertindak seakan-akan mengetahui segala-galanya dan tampil sempurna.

g. Perawat keluarga

Perawat keluarga adalah orang yang terpanggil untuk merawat dan mengasuh anggota keluarga lain yang membutuhkan.

h. Penghubung keluarga

Perantara keluarga adalah penghubung, ia (biasanya ibu) mengirim dan memonitor komunikasi dalam keluarga.

2.2.6 Prinsip – prinsip perawatan keluarga

a. Sebagai pendidik, perawat bertanggung jawab memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga, terutama untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan.

b. Sebagai koordinator pelaksana pelayanan keperawatan, perawat bertanggung jawab memberikan pelayanan keperawatan yang komprehensif.

c. Sebagai pelaksana pelayanan perawatan, pelayanan keperawatan dapat diberikan kepada keluarga melalui kontak pertama dengan anggota keluarga yang sakit yang memiliki masalah kesehatan.

d. Sebagai supervisor pelayanan keperawatan, perawat melakukan supervise ataupun pembinaan terhadap keluarga melalui kunjungan rumah secara teratur, baik terhadap keluarga beresiko tinggi maupun yang tidak.

e. Sebagai pembela (advokat), perawat berperan sebagai advokat keluarga untuk melindungi hak-hak keluarga sebagai klien.

f. Sebagai fasilisator, perawat dapat menjadi tempat bertanya individu,

keperawatan yang mereka hadapi sehari-hari serta dapat membantu memberikan jalan keluar dalam mengatasi masalah.

g. Sebagai peneliti, perawat keluarga melatih keluarga untuk dapat memahami masalah-masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga.

h. Sebagai modifikasi lingkungan, perawat komunitas juga harus dapat memodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekitarnya agar dapat tercipta lingkungan yang sehat.

2.2.7 Skoring

Kriteria Hitungan Skor Pembenaran

Sifat masalah.

Skala : Aktual 3

Kemungkinan masalah dapat diubah.

Skala : tidak dapat 0

Potensial masalah untuk dicegah.

Skala : Tinggi 3 Cukup 2 Rendah 1

3/3 x 1

0/2 x 2

1/3 x 1 1

0

1

Sifat masalah tidak bisa diubah karena px menderita DM.

Masalah tidak efektif, px lansia dan tidak mengetahui tentang diet, DM, olahraga, jadi perlu edukasi.

Masalah lanjut sudah terjadi, membutuhkan perawatan segera.

Px mengatakan bahwa masalah penyakit DM nya perlu dikendalikan.

Menonjolnya masalah.

Skala :

Masalah berat harus segera ditangani 2 Ada masalah tapi tidak perlu ditangani 1 Masalah tidak dirasakan 0

0/2 x 1 1

Jumlah skor = 3

2.3 Konsep Dampak Masalah 2.3.1 Konsep Solusi

1. Mempertahankan berat badan ideal dengan mengonsumsi makanan rendah lemak.

2. Mengonsumsi makanan tinggi serat seperti buah dan sayur.

3. Mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis.

4. Berolahraga secara rutin dan banyak melakukan aktivitas fisik.

2.3.2 Konsep Masalah yang Sering Muncul pada Diabetes Melitus

1. Ketidakseimbangan nutrisi akibat tidak terpenuhinya nutrisi sesuai dengan kebutuhan dapat dilihat dari gangguan produksi insulin, makan dan pola aktivitas yang dapat dilakukan oleh pasien yang menderita diabetes melitus.

2. Resiko ketidakstabilan kadar gula darah dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai manajemen diabetes melitus.

3. Resiko kekurangan volume cairan dikarenakan diuresis osmotik.

4. Keletihan / kelelahan yang dirasakan oleh pasien saat melakukan aktivitas

5. Kerusakan integritas jaringan / nekrosis jaringan.

6. Resiko infeksi dikarenakan trauma pada jaringan (proses penyakit diabetes melitus).

7. Ansietas / kecemasan yang dirasakan pasien akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang di deritanya.

8. Nyeri akut dikarenakan kerusakan jaringan akibat hipoksia perifer.

2.4 Konsep Asuhan Keperawatan 2.4.1 Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien, baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan menurut Effendy (1995, dalam Dermawan, 2012).

Secara garis besar data dasar yang dipergunakan mengkaji status keluarga adalah :

1) Struktur dan karakteristik keluarga 2) Sosial, ekonomi dan budaya 3) Faktor lingkungan

4) Riwayat kesehatan dan medis dari setiap anggota keluarganya

a. Beberapa data umum keluarga menurut Padila (2012, p. 92), sebagai berikut:

1) Nama kepala keluarga (KK) 2) Alamat dan telepon

3) Pekerjaan kepala keluarga, orang yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan sehingga akan semakin sedikit pula ketersediaan waktu dan kesempatan untuk melakukan pengobatan.

mengenai sesuatu dikarenakan ilmu yang di dapatkan dijadikan acuan.

5) Komposisi keluarga, menjelaskan anggota keluarga yang didentifikasi sebagai bagian dari keluarga mereka.

6) Genogram, merupakan alat pengkajian yang digunakan untuk mengetahui keluarga, riwayat dan sumber-sumber keluarga. Diagram

ini menggambarkan hubungan vertikal (lintas generasi) dan horizontal (dalam generasi yang sama) untuk memahami kehidupan keluarga dihubungkan dengan pola penyakit. Genogram keluarga memuat minimal informasi tiga generasi.

7) Tipe keluarga, menjelaskan mengenai jenis atau tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis atau tipe keluarga tersebut.

8) Suku bangsa, mengkaji asal suku bangsa keluarga serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan.

9) Agama, mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat memengaruhi kesehatan.

10) Status sosial ekonomi keluarga, ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya dan ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga serta barang- barang yang dimiliki oleh keluarga.

11) Aktivitas rekreasi keluarga, rekreasi keluarga tidak hanya dilihat dari kapan saja keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu, namun dengan menonton televisi dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.

b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

1) Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak tertua.

2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.

3) Riwayat keluarga inti, menjelaskan mengenai riwayat terbentuknya keluarga inti, penyakit menular atau tidak menular di keluarga.

4) Riwayat keluarga sebelumnya (suami-istri), menjelaskan mengenai riwayat penyakit menular di keluarga, dan riwayat kebiasaan atau gaya hidup yang mempengaruhi kesehatan.

c. Pengkajian lingkungan, terdiri dari:

penempatan septic tank beserta kapasitas dan jenisnya, jarak septic tank dengan sumber air, konsumsi makanan olahan dan sumber air minum keluarga.

2) Karakteristik tetangga dan RT-RW, menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat serta budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.

3) Mobilitas geografis keluarga, ditentukan dengan melihat apakah keluarga sering berpindah temat tinggal.

4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat, menjelaskan mengenai pergaulan keluarga baik di komunitas hobi, kantor, sekolah, maupun teman main. Interaksi ini bisa digunakan untuk melacak jejak dari mana penyakit yang didapatkan oleh pasien.

5) Sistem pendukung keluarga

Menjelaskan mengenai fasilitas berupa perabot bagi anggota keluarga, dukungan dari anggota keluarga dan dukungan dari masyarakat setempat.

d. Fungsi keluarga a) Fungsi Afektif

Fungsi ini merupakan presepsi keluarga terkait dengan pemenuhan kebutuhan psikososial sehingga mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.

b) Fungsi Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses perkembangan individu sebagai hasil dari adanya interaksi sosial dan pembelajaran peran sosial. Fungsi ini melatih agar dapat beradaptasi dengan kehidupan sosial.

c) Fungsi Reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menjaga kelangsungan keluarga.

d) Fungsi Ekonomi

Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan secara ekonomi dan mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan.

e) Fungsi Kesehatan

Menyediakan kebutuhan fisik, makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan.

e. Stress dan koping keluarga

1) Stressor jangka panjang dan pendek

Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari enam bulan.

Sedangkan stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari enam bulan.

2) Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor, dikaji sejauh mana keluarga berespon terhadap stressor.

3) Strategi koping yang digunakan, dikaji strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.

4) Strategi adaptasi disfungsional, dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.

f. Pemeriksaan fisik, dilakukan pada semua anggota keluarga.

Metode yang digunakan sama dengan pemeriksaan fisik klinik.

g. Harapan keluarga

Pada akhir pengkajian perawat menanyakan harapan keluarga keluarga terhadap petugas atau pelayanan kesehatan yang ada.

2.4.1.1 Pengumpulan data

Pengkajian yang dilakukan pada Asuhan Keperawatan pada pasien diabetes melitus antara lain :

a. Identitas Kepala Keluarga Nama Kepala Keluarga (KK).

b. Komposisi keluarga 1. Jenis kelamin

Pada umumnya insiden pada wanita lebih tinggi daripada pria, tetapi usia 45 tahun ke atas insiden pria lebih tinggi. Pada umumnya pria akan mempunyai risiko tinggi terhadap diabetes melius apabila terjadi banyak perubahan pola gaya hidup.

2. Umur

Laki-laki berusia 35 sampai 50 tahun dan wanita diatas 45 tahun berisiko tinggi untuk mengalami diabetes melitus.

3. Pekerjaan

Orang yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk mengunjungi fasilitas kesehatan sehingga akan semakin sedikit pula ketersediaan waktu dan kesempatan untuk melakukan pengobatan.

4. Status sosial ekonomi keluarga

Mempengaruhi asupan nutrisi tergantung pendapatan dalam suatu rumah tangga.

5. Jumlah anggota keluarga

Semakin sedikit keluarga yang terdapat disuatu rumah tangga maka sering muncul masalah yang mengarah lima tugas keluarga karena minimnya komunikasi dalam pengambilan keputusan (Anggara, 2012).

6. Pendidikan

Pendidikan seseorang semakin tinggi maka semakin rendah angka ketidakpatuhan dan ketidaktahuan seseorang itu mengenai sesuatu

Riwayat keluarga dekat yang menderita diabetes melitus (faktor keturunan) mempertinggi resiko terkena diabetes melitus.

8. Tipe keluarga

Terdapat 2 tipe keluarga, dimana tipe keluarga yang pertama adalah tipe keluarga tradisional yang terdiri dari 11 jenis tipe keluarga dan yang kedua tipe non-tradisinal atau tipe modern yang terdiri dari 8 tipe keluarga. Setiap tipe keluarga dalam rumah tangga berbeda dengan satu sama lain. Pada umumnya keluarga mengalami kesulitan berkomunikasi dalam sehari-hari, sehingga untuk memutuskan dan atau mencari solusi dari masalah itu sulit.

9. Agama

Mengidentifikasi agama dan kepercayaan keluarga yang dianut yang didapat mempengaruhi kesehatan. Seseorang tidak patuh terhadap terapi diet ini dikarenakan mengkonsumsi olahan yang diberikan pada saat menghadiri selamatan, karena tidak sesuai dengan takaran yang seharusnya sudah ditentukan dietnya.

10. Suku Bangsa

Penyakit diabetes melitus ternyata banyak diderita orang madura.

11. Aktivitas Rekreasi

Menjelaskan kemampuan dan kegiatan keluarga untuk melakukan rekreasi secara bersama baik di luar dan dalam rumah, juga tentang kuantitas yang dilakukan.

c. Keluhan utama

Alasan utama pasien datang ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan.

d. Riwayat kesehatan

1) Riwayat Kesehatan Dahulu

Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, obat-obatan adiktif, kegemukan. Pengkajian pemakaian obat-obat yang sering digunakan klien, seperti pemakaian obat anti hipertensi, antipidemia, penghambat beta, dan lainnya. Adanya riwayat merokok, penggunaan alkohol, dan penggunaan obat kontrasepsi oral. Pengkajian riwayat ini dapat

data dasar untuk mengkaji lebih jauh untuk memberikan tindakan selanjutnya.

2) Riwayat Kesehatan Sekarang

Diabetes melitus sering kali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien melakukan aktivitas, biasanya terjadi nyeri pada luka , pandangan kabur.

3) Riwayat Kesehatan Keluarga

Biasanya ada riwayat penyakit keluarga yang menderita diabetes melitus, hipertensi atau adanya riwayat hipertensi dari generasi lainnya.

e.Pemeriksaan Fisik

Berguna selain untuk menemukan tanda-tanda fisik yang mendukung diagnosis diabetes melitus dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, juga berguna untuk mengetahui penyakit yang mungkin menyertai diabetes melitus.

Berikut pola pemeriksaan fisik sesuai Review of System : 1) B1 (Breathing)

Dikaji tentang keluhan sesak, batuk, nyeri, keteraturan irama nafas, jenis pernafasan.

2) B2 (Blood)

Dikaji adanya keluhan nyeri dada dan suara jantung.

3) B3 (Brain)

Dikaji jumlah GCS, refleks fisiologis dan patologis, istirahat/tidur.

4) B4 (Bladder)

Pengukuran volume output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake cairan.

5) B5 (Bowel)

hepar, lien, konsisten BAB, frekuensi, bau, dan warna.

6) B6 (Bone)

Dikaji tentang kemampuan pergerakan sendi, kekuatan otot, warna kulit, turgor, dan edema.

7) B7 (Penginderaan)

a) Mata : dikaji pupil isokor/anisokor, sclera ikterus/tidak, konjungtiva anemis/tidak.

b) Pendengaran/telinga : dikaji apakah ada gangguan pendengaran/tidak.

c) Penciuman/hidung : dikaji bentuk, apa ada gangguan penciuman/tidak.

2.4.1.2 Analisa Data

Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berfikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. Dalam melakukan analisis data, diperlukan kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.

2.4.2 Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status kesehatan atau masalah aktual atau potensial. Perawat memakai proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mensintesis data klinis dan menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan atau mencegah masalah kesehatan klien yang ada pada tanggug jawabnya.

Ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah variasi kadar glukosa darah naik/turun dari rentang normal.

Mubarak (2012) merumuskan diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan data yang di dapatkan pada pengkajian. Komponen diagnosis keperawatan meliputi problem atau masalah, etiology atau penyebab, dan sign atau tanda yang selanjutnya dikenal dengan PES.

1. Problem atau masalah (P) masalah yang mungkin muncul pada penderita diabetes melitus.

2. Etiology atau penyebab (E) yang berasal dari pengkajian fungsi perawatan keluarga.

3. Sign atau tanda (S) tanda atau gejala yang di dapatkan dari hasil pengkajian. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien diabetes melitus yaitu (PPNI, T. P. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)).

Kemungkinan diagnose yang muncul pada pasien diabetes melitus yaitu :

1. (D.0027) Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan penggunaan insulin atau obat glikemik oral dibuktikan dengan banyaknya buang air kecil dalam sehari.

Definisi : Variasi kadar glukosa darah naik / turun dari rentang normal. Gejala dan Tanda Mayor :

Subjektif : 1. Mengantuk 2. Pusing Objektif :

1. Gangguan koordinasi

2. Kadar glukosa dalam darah / urin rendah Gejala dan Tanda Minor :

Subjektif : 1. Palpitasi

2. Mengeluh lapar Objektif

1. Gemetar

2. Kesadaran menurun 3. Perilaku aneh 4. Sulit bicara 5. Berkeringat

2. (D.0142) Gangguan integritas kulit / jaringan berhungan dengan kurang terpapar informasi tentang upaya mempertahankan / melindungi integritas jaringan dibuktikan dengan adanya luka di kaki yang lembab.

Definisi : Kerusakan kulit (dermis dan/ epidermis) atau jaringan (membran, mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/

ligamen)

Gejala dan Tanda Mayor : Subjektif :

(tidak tersedia) Objektif :

1. Kerusakan jaringan dan/ lapisan kulit.

Gejala dan Tanda Minor : Subjektif :

(tidak tersedia) Objektif : 1. Nyeri 2. Perdarahan 3. Kemerahan 4. Hematoma

2.4.3 Perencanaan

Tabel 2 N

O

TGL DX KEPERAWATAN SLKI SIKI TT

D

1 Ketidakstabilan kadar

glukosa darah berhubungan dengan penggunaan insulin atau obat glikemik oral dibuktikan dengan banyaknya buang air kecil dalam sehari. (D.0027)

Luaran utama :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 jam kestabilan kadar glukosa darah normal.

1. Kestabilan kadar glukosa darah 1) Mengantuk dari meningkat

menjadi sedang.

2) Pusing dari meningkat menjadi sedang.

3) Keluhan lapar dari meningkat menjadi sedang.

Luaran tambahan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam kontrol risiko

Intervensi utama : 1.manajemen hipoglikemia Observasi

1) Identifikasi tanda dan gejala hipoglikemia.

2) Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia.

Terapeutik

1) Berikan karbohidrat sederhana, jika perlu.

2) Berikan glukogon, jika perlu.

3) Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuai diet.

1) Kemampuan mencari informasi tentang faktor risiko dari menurun menjadi sedang.

5) Pertahankan akses IV, jika perlu.

6) Hubungi layanan medis, jika perlu.

2) Kemampuan mengubah perilaku dari menurun menjadi sedang.

3) Kemampuan menghindari faktor risiko dari menurun menjadi sedang.

4) Pengguaan fasilitas kesehatan dari menurun menjadi sedang.

5) Penggunaan sistem pendukung dari menurun menjadi sedang.

6) Pemantauan perubahan status kesehatan dari menurun menjadi sedang.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam diharapkan status nutrisi meningkat.

2. Status nutrisi

Edukasi

1) Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiap saat.

2) Anjurkan memakai identitas darurat yang tepat.

3) Anjurkan monitor kadar glukosa darah.

4) Anjurkan berdiskusi dengan tim perawatan

diabetes tentang

penyesuaian program pengobatan.

Intervensi pendukung : Observasi

1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi.

Terapeutik

Dokumen terkait