BAB II HASIL DAN TEMUAN PENELITIAN
2. Supervisi Akademik Pengawas PAI pada Guru SD
a. Pengertian Supevisi Akademik
Supervisi akademik adalah kegiatan pengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi dalam upaya
32 Maunah Bini, Supervisi Pendidikan Islam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2009), h. 26.
meningkatkan kualitas produk didik melalui usaha memotivasi, membina dan mengarahkan orang-orang yang terkait dengan kegiatan akademik. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kegiatan supervise akademik sangat penting dan harus dilaksanakan secara kontinu oleh kepala sekolah kepada para pendidik. Sebab dengan supervisi akademik dapat memperbaiki kinerja pendidik yang muaranya dapat meningkatkan mutu pembelajaran itu sendiri.
Menurut Sudiyon, bahwa ada tiga konsep pokok atau kunci dalam pengertian supervisi akademik yaitu: Supervisi akademik harus mempengaruhi dan mengembangkan perilaku guru secara langsung dalam mengolah proses pembelajaran. perilaku supervisor harus didisain secara official dalam membantu guru yang mengembangkan kemampuannya, sehingga jelas waktu mulai dan berakhirnya program pengembangan tersebut, dan tujuan akhir supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu memfasilitasi proses belajar bagi murid- muridnya33.
Dari pengertian di atas, dapat di simpulkan bahwa ada tiga konsep pokok (kunci) dalam pengertian supervisi akademik.
1). Supervisi akademik harus secara langsung mempengaruhi dan mengembangkan perilaku guru dalam mengelola proses pembelajaran. Inilah karakteristik esensial supervisi akademik.
Sehubungan dengan ini, janganlah diasumsikan secara sempit,
33Lantip Diat Prasojo & Sudiyono, Supervisi Pendidikan, (Yogyakarta: Gava Media, 2011), h. 84.
bahwa hanya ada satu cara terbaik yang bisa diaplikasikan dalam semua kegiatan pengembangan perilaku guru. Tidak ada satupun perilaku supervisi akademik yang baik dan cocok bagi semua guru.Tegasnya, tingkat kemampuan, kebutuhan, minat, dan kematangan profesional serta karakteristik personal guru lainnya harus dijadikan dasar pertimbangan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan program supervisi akademik.
2). Perilaku supervisor dalam membantu guru mengembangkan kemampuannya harus didesain secara ofisial, sehingga jelas waktu mulai dan berakhirnya program pengembangan tersebut. Desain tersebut terwujud dalam bentuk program supervisi akademik yang mengarah pada tujuan tertentu.Oleh karena supervisi akademik merupakan tanggung jawab bersama antara supervisor dan guru, maka alangkah baik jika programnya didesain bersama oleh supervisor dan guru.
3). Tujuan akhir supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya.
b. Tujuan dan Fungsi Supervisi Akademik
Secara sederhana tujuan supervisi akademik adalah untuk dapat mengetahui, mengetahui apakah guru-guru dalm melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun serta melihat
secara langsung kemampuan guru-guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas.34
Adapun rencana-rencana supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam supervisi di dalam kelas, seperti, perangkat pembelajaran, yaitu: silabus, program tahunan, program semester, kalender akademik, KKM, RPP, buku nilai, buku agenda guru, dan absen siswa. Selanjutnya pengawas membuatkesimpulan dan saran, selanjutnya dilakukan supervisi sesuai kelemahan yang terjadi ketika observasi yang dilakukan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan tujuan dari supervisi akademik adalah untuk melihat langsung peristiwa yang terjadi terhadap kemampuan guru dalam proses pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan.
c. Teknik-teknik supervisi akademik
Dalam upaya memberikan bimbingan dan pembinaan kepada guru, teknik supervisi yang sering digunakan ada 2 macam, yaitu teknik individual dan kelompok.
1) Teknik individual
Teknik ini tertuju pada seorang guru yang memiliki problema khusus dan bersifat individu yang dapat dilakukan melalui kunjungan kelas.
2) Teknik kelompok
34Abdul Kadim Masaong, Supervisi Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 81.
Teknik ini tertuju pada dua orang atau lebih. Dalam hal ini, guru-guru yang memiliki problema dan kelemahan yang sama, akan dikelompokkan dan akan disupervisi sesuai kebutuhan. Teknik kelompok yang sering digunakan pada saat supervisi, yaitu demonstrasi pembelajaran, pertemuan guru, lokakarya, seminar, workshop dan kelompok kerja guru.
Teknik supervisi kelompok dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1) Pertemuan atau rapat
Melalui rapat dan pertemuan, warga sekolah dapat mengemukakan pendapat masing-masing dengan menyatukan pendapat dalam mencapai satu tujuan.
2) Diskusi kelompok
Diskusi kelompok sangat berguna untuk menyatukan pendapat antar pimpinan dalam sebuah pertemuan khusus.
Misalnya, dengan cara mengundang guru mata pelajaran serumpun atau pelajaran yang berbeda sesuai kebutuhan.
Pendekatan supervisi akademik
Menurut Sahertian, menjelaskan ada tiga pendekatan yang pakai dalam menjalankan kegiatan supervisi akademik, seperti; pendekatan langsung (direktif), yaitu cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. pendekatantidak langsung (non directif), yaitu cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung.
Perilaku supervisor dalam pendekatan ini adalah mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah. Dan pendekatan kolaboratif, yaitu memadukan cara pendekatan directif dan non directif menjadi pendekatan baru. Pada prinsipnya pendekatan ini, mengedepankan komitmen kerjasama dalam menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam mengkomunikasikan masalah yang dihadapi guru.Dalam hal ini pula, perilaku supervisor adalah menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negoisasi.35
Berdasarkan paparan di atas, ada beberapa pene dalam kegiatan supervisi akademik ini yaitu langsung, tidak langsung dan pendekatan kolaboratif.
3. Pengawasan
a. Pengertian pengawasan
Pengawasan merupakan proses kegiatan mengawasi atau mengamati sehingga mengetahui bahwa kegiatan organisasi atau lembaga berjalan dan terlaksana dengan baik sesuai rencana dan harapan. Selain itu, juga dapat mengoreksi dan memperbaiki jika dalam kegiatan tersebut, ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan.
Selanjutnya Burhanuddin, mengartikan pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada
35Ibid, h. 44-52.
stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru, baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran.36
Dalam perkembangan berikutnya supervisi selanjutnya dikenal istilah penilikan dan pengawasan mempunyai pengertian suatu kegiatan yang bukan hanya mencari kesalahan objek pengawasan itu semata-mata, tetapi juga mencari hal-hal yang sudah baik, untuk dikembangkan lebih lanjut. Pengawas bertugas melakukan pengawasan, dengan memperhatikan semua komponen sistem sekolah/madrasah dan peristiwa yang terjadi sekolah/ madrasah.
Pengawasan identik dengan supervisi, menurut Good Carter dalam Suhertian, mengartikan bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin dan membimbing guru- guru dan petugas-petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan-jabatan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan pendidikan, bahan- bahan pengajaran dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran.
Selanjutnya Syaiful, dalam bukunya supervisi pembelajaran mengartikan supervisi mempunyai arti khusus yaitu “membantu dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan meningkatkan mutu baik personel maupun lembaga. Dalam dunia pendidikan memandang guru sebagai bagian penting dari manajemen yang diharapkan
36Daryanto, H.M. Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) h. 170
melaksanakan tugas sesuai fungsi-fungsi manajemen dengan baik dan terukur”.
Dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pengawasan atau supervisi erat kaitanya dengan kegiatan membimbing, membina, memonitoring dan member pelayanan dalam membantu guru terhadap kegiatan proses pembelajaran agar tetap berjalan seperti yang diharapkan.
b. Tujuan dan Prinsip Supervisi Akademik
Supervisi akademik bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas guru dalam proses belajar mengajar dalam kelas yang secara otomatis memperbaiki kualitas siswa pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Olive yang mengatakan bahwa sasaran supervisi akademik, yaitu :
1). Mengembangkan kurikulum yang diterapkan sekolah
2). Meningkatkan kegiatan belajar mengajar disekolah/ madrasah.
3). Mengembangkan kualitas seluruh warga sekolah
Yang terpenting dalam supervisi akademik di sekolah adalah pola fikir dan sikap yang bersifat konstruktif dan kreatif sehingga para guru merasa nyaman dan diberikan kebebasan dan kepercayaan sesai kemampuan dalam mengembangkan dirinya. Oleh karena itu, supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data disertai fakta yang objektif.
dengan demikian, prinsip supervisi dilakukan melalui prinsip ilmiah, prinsip demokratis, prinsip kerjasama, prinsip konstruksi dan kreatif.
Dari tujun dan prisip di atas, pada dasarnya antara tujuan dan prinsip harus seiring sejalan dalam pelaksanaan kegiatan kepengawasan dimaksud, karena ketika tujuan dan prinsip tidak sejalan atau salah satu pincang maka dapat menimbulkan hasil yang tidak seimbang.
d. Pengawas sekolah
Seorang supervisor harus memiliki posisi dan kedudukan yang lebih tinggi daripada objek yang disupervisi. Selain itu, seorang supervisor juga harus memiliki ilmu dan pengalaman lebih daripada guru dan kepala sekolah yang dibinanya. Sagala memberikan makna
“pengawas sekolah identik dengan supervisi pendidikan yang mempunyai arti khusus yaitu membantu dan turut serta dalam usaha- usaha perbaikan dan meningkatkan mutu baik personal atau lembaga”.37
Pendapat di atas menunjukkan bahwa fungsi pengawas adalah membantu lembaga dan individu yang bertugas di sekolah tersebut untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai visi misi sekolah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain supervisi erat kaitanya dengan kegiatan membimbing, membina, memonitoring dan memberi pelayanan dalam membantu guru terhadap kegiatan proses pembelajaran agar tetap berjalan seperti yang diharapkan.
e. Fungsi Pengawas Sekolah
Kepala sekolah menjalankan dua fungsi supervisi yaitu supervisi akademik dan manajerial. Supervisi akademik berfungsi
37Sagala, Syaiful. Supervisi Pembelajaran..., h. 89
mengembangkan dan meningkatkan kualitas guru dan mutu pembelajaran.38
Sedang supervisi manajerial berfungsi mengelola sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang meliputi hal-hal sebagai berikut; perencanaan, koordinasi,pelaksanaan, penilaian, pengembangan kompetensi SDM kependidikan dan sumberdaya lainnya
Ada dua fungsi utama sebagai seorang pengawas pendidikan yaitu melakukan tugas sebagai pengawas pada bidang akademik dan bidang manajerial.
f. Tugas pokok pengawas sekolah
Tugas pokok pengawas sekolah sangat enting dalam menungkatkan mutu dan kualitas suatu lembaga atau sekolah. Tugas pokok pengawas sekolah/satuan pendidikan adalah melakukan penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial.39
Menurut Sudjana ada sepuluh tugas pokok pengawas sekolah baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh pengawas antara lain:
a. Menyusun program kerja kepengawasan untuk setiap semester dan setiap tahunnya pada sekolah yang dibinanya.
38Dharma, Surya. Peranan dan Fungsi Pengawas Sekolah/ Madrasah. Dalam Jurnal Tenaga Kependidikan. ( Jakarta, depdiknas,2008), h. 14
39 https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/08/tugas-pokok-fungsi-hak-dan- wewenang-pengawas-sekolahsatuan-pendidikan/diakses tanggal 10 Juli 2020, Jam 15.28 Wita.
b. Melaksanakan penilaian, pengolahan dan analisis data hasil belajar/bimbingan siswa dan kemampuan guru.
c. Mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan, proses pembelajaran/bimbingan, lingkungan sekolah yang berpengaruh terhadap perkembangan hasil belajar/bimbingan siswa.
d. Menganalisis berbagai faktor sumber daya pendidikan guna berinovasi di sekolah.
e. Membimbing dan membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran.
f. Melakukan penilaian dan pemantauan terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang dibinanya.
g. Membuat laporan hasil supervisi sekolah yang dibina kemudian melaporkannya ke komite, dinas pendidikan dan stakeholder lainnya.
h. Memberikan penilaian tentang hasil supervisi seluruh sekolah guna menetapkan program supervisi berikutnya.
i. Memberikan bahan penilaian kepada sekolah dalam persiapan akreditasi.
j. Memberikan saran dan bimbingan kepada pihak sekolah dalam memecahkan masalah terkait penyelenggaraan pendidikan..40
40Sudjana, Nana. Standar Mutu..., h. 17
Beberapa hal tersebut di atas menunjukkan kegiatan kerja pengawas yang diwujudkan oleh pengawas dalam bentuk kinerja pengawas meliputi, perencanan program pengawas, pelakasanaan progran kerja pengawas, melaksanakan evalusi, dan pelaporan hasil kerja pengawas, maka kinerja pengawas dapat diidentikkan dengan perwujudan dari tugas-tugas pengawas.
4. Guru
a. Pengertian Guru
Guru adalah pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundah paa orang tua. Pendapat lain juga guru adalah orang yang mengajar.41 Secara sederhana, guru dimaknai dengan orang yang mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik.
Sedangkan di masyarakat, guru adalah orang yang mengajar pada tempat-tempat tertentu baik formal maupun non formal seperti masjid, surau, rumah dan lainnya.42 Guru bukan sekedar mengajar, namun pula mendidik.43
Berkaitan denganini guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar-mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak didik ketaraf yang dicita-citakan.
41Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), h. 33.
42Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h. 31.
43 Sardiman, A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 125.
b. Tugas dan Tanggungjawab Guru
Dinamakan bertanggung jawab jika seseorang mampu mengambil keptusan sesuai norma dan nilai tertentu baik internal dirinya maupun eksternal seperti lingkungan sosialnya. 44 Guru yang profesional harus mampu bertangung jawab dalam dunia pendidikan.
Sebagai pendidik, guru hars mampu mewariskan nilai dan norma kepada peserta didik sebagai generasi penerus untuk melestarikan dan melestarikan nilai dan norma yang telah ditetapkan.
Guru bertanggung jawab memberikan pengajaran terhadap peserta didik sehingga mereka memahami dan mengetahui mana yang baik dan buruk, mana bermoral dan amoral. Norma tersebut tidak harus diajarkan di dalam kelas saja, namun pula di luar kelas melalui pemberian contoh kepada peserta didik berupa cara bersikap dan bertingkah laku. Pendidikan bukan hanya berupa ucapan, namun dapat berupa sikap, tingkah laku dan perbuatan.
Diantara sifat-sifat guru yang bertanggung jawab, adalah sebagai berikut:45
1) Mentaati norma dan nilai kemanusiaan yang berlaku.
2) Tidak menjadikan tugas sebagai beban.
3) Menyadari nilai yang terkait dengan perbuatannya dan akibat yang timbul dari perbuatannya.
44Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Bedasarkan Pendekatan Kompetensi, cet. V, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 39.
45 Wens tanlain, dkk, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan: Buku Panduan Mahasiswa, (Jakarta: Gramedia, 1989), h.31.
4) Menghargai orang lain sekalipun kepada peserta didik 5) Memiliki sikap bijaksana dan berhati-hati dalam mengambil
keputusan atau tidak sembrono 6) Bertaqwa
Jadi, guru harus bertanggung jawab atas sikap dan perbuatnnya dalam mendidik dan membentuk karakter peserta didik sehingga menjadi anak yang cerdas dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
c. Kinerja Guru
UU RI no.14 tahun 2005 pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran serta mengevaluasi hasil pembelajaran. Kinerja guru yang baik terlihat pada penampilan mereka baik penampilan dalam kemampuan akademik maupun profesinya sebagai guru yang mampu mengelola pengajaran di kelas dengan baik dan mampu mendidik siswa di luar kelas dengan baik pula.46
Guru yang berinovasi dalam pendidikan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu pembelajaran. Guru mempersiapkan kemampuan sebagai pendidik sesuai tuntutan sekolah. Sebagai pendidik, kualitas kinerja guru sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan.
Kepuasan kerja (job satisfaction) guru merupakan sasaran penting menjadi sebagai salah satu dari indikator dalam manajemen
46Undang-undang Guru Dan Dosen(UU RI No.14 Th.2005) , Sinar Grafika;2006
sumber daya manusia, karena secara langsung maupun tidak langsung akan dapat memberikan pengaruh terhadap produktifitas kerja. Suatu gejala yang dapat membuat rusaknya kondisi organisasi sekolah adalah rendahnya kepuasan kerja guru dimana timbul gejala seperti kemangkiran, malas bekerja, banyaknya keluhan guru, rendahnya prestasi kerja, rendahnya kualitas pengajaran, indisipliner guru dan gejala negatif lainnya.
Sebaliknya, kepuasan yang tinggi diinginkan kepala sekolah karena dapat dikaitkan dengan hasil positif yang mereka harapkan.
Kepuasan kerja yang tinggi menandakan bahwa sebuah organisasi sekolah telah dikelola dengan baik dengan manajemen yang efektif.
Kepuasan kerja yang tinggi menunjukkan kesesuaian antara harapan guru dengan imbalan yang disediakan oleh organisasi. Meningkatkan kepuasan kerja bagi guru merupakan hal yang sangat penting, karena menyangkut masalah hasil kerja guru yang merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada siswa.
5. Motivasi
a. Pengertian motivasi
Motivasi berasal dari kata-kata movere yang berarti dorongan dalam istilah bahasa Inggrisnya disebut motivation. Motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu usaha menimbulkan dorongan motif pada
individu atau kelompok agar bertindak.47 Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa motivasi adalah kehendak atau dorongan untuk melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan yang dirasakan. 48 Menurut Abdul, bahwa motivasi adalah keadaan individu yang melahirkan kekuatan, kegairahan dan dinamika serta mengarahkan tingkah laku pada tujuan.49
Berdasarkan definisi di atas, dapat dipahami bahwa motivasi mengandung rangsangan suatu pihak kepada individu, sehingga ia melakukan sesuatu yang menjadi tujuan pihak lain itu, dan pada giliranya juga dapat merealisasikan keinginan-keinginan individu.
b. Teori-teori motivasi
Terdapat 5 teori motivasi yang paling popular dan berpengaruh besar dalam praktek pengembangan sumber daya manusia dalam suatu organisasi.
Pertama, Teori Efek Hawthorn, Penelitian oleh Elton Mayo pada perusahaan General Electric kawasan Hawthorn di Chicago, memiliki dampak pada motivasi kelompok kerja dan sikap karyawan dalam bekerja. Kontribusi hasil penelitian tersebut bagi perkembangan teori motivasi adalah:
47 Mochyi Achmad Machdoero, Metodologi Penelitian Untuk Ilmu-Ilmu Ekonomi Dan Sosial. (Malang : UMM Press Malang,1993) h,157.
48 Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi:Versi Bahasa Indonesia Edisi Kedelapan Jilid 1 (Jakarta : PT Prenhallindo,1988) h. 28.
49 Abdul Hamid Mursi. SDM Yang Produktif : Pendekatan Al-Qur’an Dan Sains. (Jakarta : Gema Insani Perss.1997), h. 12.
1) Kebutuhan dihargai sebagai manusia ternyata lebih penting dalam meningkatkan motivasi dan produktivitas kerja karyawan dibandingkan dengan kondisi fiisik lingkungan kerja.
2) Sikap karyawan dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi baik di dalam maupun di luar lingkungan tempat kerja.
3) Kelompok informal di lingkungan kerja berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan sikap para karyawan.
4) Kerjasama kelompok tidak terjadi begitu saja, tetapi harus direncanakan dan dikembangkan.
Kedua, Teori Kebutuhan, Menurut Abraham Maslow, pada dasarnya karyawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan, kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri. Ketiga, Teori X dan Y, Mc. Gregor mengemukakan dua model yang menjelaskan motivasi karyawan yang bekerja yaitu teori X dan teori Y. Keempat, Teori Hygine dan Motivator, Menurut Herzberg, faktor yang menimbulkan kepuasan kerja karyawan berbeda dengan faktor yang menimbulkan ketidak- puasan kerja. Kelima, teori motivasi berprestasi, David Mc Clelland menjelaskan tentang keinginan seseorang untuk mencapai kinerja yang tinggi.
c. Motivasi Kerja
Menurut Mangkunegara, kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.50 Tinggi rendahnya kinerja seseorang berkaitan erat dengan sistem pemberian penghargaan yang diterapkan organisasi tempat mereka bekerja.Pemberian penghargaan yang tidak tepat dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang.Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.51
Kinerja merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan guru sesuai dengan perannya di sekolah. 52 Pendapat lain mengatakan bahwa kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. 53 Pada umumnya, kinerja diberi batasan sebagai kesuksesan seseorang di dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Prawirosentono, mengemukakan kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing- masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan
50 Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, (Jakarta: Raja Grafindo, 2000) h 67
51 Ambar Teguh Sulistiyani&Rosidah, MSDM Konsep,Teori dan Pengembangan dalam Konteks Organisasi Publik: ( Yogyakarta: Graha Ilmu, 2003) h. 223
52 Veithzal Rivai, Kiat Memimpin dalam Abad 21,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.2004), h. 309.
53 Hasibuan Organisasi..., h,34
secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.54
d. Prinsip-prinsip pemberian motivasi kerja
Menurut Hasibuan bahwa tujuan pemberian rangsangan adalah untuk meningkatkan produktivitas kerja dan memperbaiki tingkat pelaksanaan. Selain itu rangsangan akan mengurangi kecerobahan bekerja serta menambah keseriusan dan efektifitas kerja. 55 Motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dengan peningkatan produktivitas kerja karena orang yang termotivasi akan mempunyai produktivitas kerja yang tinggi dan akan mempunyai semangat kerja yang tinggi.apalagi ditambah dengan motivasi dari atasan, Menurut Simanjuntak, memotivasi bawahan berarti menjadikan mereka merasakan bahwa bekerja sebagai bagian hidup yang dinikmati.56
Untuk melihat pengaruh motivasi dengan produktivitas, maka terlebih dahulu kita lihat pengertian menurut Mohyi bahwa motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu usaha menimbulkan dorongan (motif) pada individu atau kelompok atau bertindak atau melakukan sesuatu. 57 Sedangkan produktivitas menurut Hasibuan, produktivitas
54 Suyadi Prawirosentono , Model Pembangunan Sumber Daya Manusia Negara - Negara Berkembang (Yogyakarta : BPFE ,1999 ), h. 10
55 Hasibuan, Malayu S.P.. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masala (Jakarta:
Bumi Aksara, 2007), h. 76..
56Edy Suandi Hamid, Ekonomi Indonesia Memasuki Millenium III, (Yogyakarta: UI Press, 2000), h. 107-129.
57Mochyi Achmad Machdoero. Metodologi Penelitian Untuk Ilmu-Illu Ekonomi Dan Sosial. (Malng: UMM Press, 1993), h. 157
kerja adalah perbandingan hasil (output) dengan masukan (input) dan produksi yang dihasilakn harus mempunyai nilai tambah.58
Hamid juga mengemukakan hal yang senada dengan pendapat- pendapat ahli dia tas, yaitu bahwa diantara hal-hal yang dapat digunakan sebagai penentu perbaikan produktivitas individu adalah motivasi sebagai factor internal.karena motivasi berasal dari dalam diri seorang guru untuk berprilaku sebagaimana yang diinginkan lembaga.59
Dapat disimpulkan bahwa motivasi serta produktivitas diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja yang dimiliki oleh seorang guru dapat mempengaruhi terhadap meningkatkan produktivitas kerja mereka, dan jika suatu lembaga yang motivasi kerja gurunya rendah, maka hasil produktivitas kerjanya juga rendah, tetapi jika motivasi gurunya tinggi, akan memudahkan proses dalam mencapai tujuan yang ditetapkan lembaga.
6. Disiplin
a. Pengertian Disiplin
Disiplin berasal dari kata inggris yakni “discipline” yangberarti:
tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri,kendali diri, latihan membentuk, meluruskan, atau menyempurnakansesuatu, sebagai kemampuan mental atau karakter moral, hukum yangdiberikan untuk melatih atau memperbaiki kumpulan atau sistemperaturan-
58Moekijat. Dasar-DasarMotivasi, (Bandung: Pioner Jaya, 2005), h. 95.
59 Hamid Abdul Mursi. SDM Yang Produktif : Pendekatan Al-Qur’an Dan Sains, (Jakarta: Gema Insani Perss, 1997), h. 76.