Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 101
16
102 | Dr. Khairul Hamim, MA.
yang baik atau buruk merupakan pencerminan iman dan takwanya kepada Allah SWT.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah.
Setiap muslim selalu rindu untuk pergi ke tanah suci Makkah al-Mukarramah, meskipun ia sudah berkali kali pergi kesana. Bahkan mereka yang pernah bermukim di tempat yang tandus dan gersang itu. Tetap merasa rindu untuk datang lagi kesana. Apalagi mereka yang belum pernah pergi kesana sama sekali.
Orang-orang yang pergi ke tanah suci umumnya dalam rangka menjalankan ibadah haji, tergerak hatinya karena ampunan dosa yang akan didapatinya, dan memang Rasulullah SAW, telah menerangkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, Beliau bersabda:
ُهُّمُا ُهْت َدَلَو ِمْوَيَك ِهِبْوُنُذ ْنِم َجَر َخ ْق ُسْفَي ْ َلَو ْثَفْرَي ْمَلَف َّج َح َنَم
“Barang siapa yang menunaikan ibadah haji ,lalu tidak mengucapkan kata kata keji dan tidak fasiq, keluarlah dia dari dosa dosanya bagaikan hari dimana dia dilahirkan ibunya ( bersih tidak berdosa).”
Di samping itu juga setiap muslim yang akan menjalankan ibadah haji tentulah selalu berharap dan minta didoakan untuk mendapatkan haji yang makbul dan mabrur. Tidak ada satu orang pun yang menginginkan agar hajinya tidak diterima oleh Allah sebagai haji yang mabrur melainkan sebaliknya semua orang mengharapkan haji yang dilaksanakannya medapat haji yang mabrur. Karena haji mabrur itu balasannya adalah syurga.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
ةَّنَ ْلا َّلاِ ٌءاَز َج ُهَل َسْيَل ُر ْوُ ْبَْلا ُّجَ ْلَاَ
“ Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.”
Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 103 Dengan kata lain syurgalah tempat yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur. Hadis yang sering dikemukakan oleh para penceramah manasik haji ini memang menarik untuk dipahami dan isi hadist ini membuka peluang timbunya pertanyaan menarik. Mengapa haji mabrur langsung diiming- imingi syurga? Dan sejauh mana mereka telah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang haji yang mabrur?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Kita harus memahami bahwa kata mabrur berasal dari kata “Barra” yang artinya baik atau patuh. Haji mabrur artinya haji yang mendapatkan kebaikan, dan sering juga diartikan sebagai ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Dengan kata lain haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikan atau haji yang pelakunya menjadi baik. Yaitu haji yang menjadikan orang setelah melakukannya atau sepulangnya ke kampung halamannya, dia memiliki komitmen sosial, kepedulian kepada sesama. Itulah sebetulnya yang menjadikan indikasi dari kemabruran, yakni sepulangnya melakukan haji, ia menjadi manusia yang baik, jangkauan amal dan ibadahnya jauh kedepan dan berdimensi sosial.
Ini sesuai dengan kata ulama’ yang menyatakan :
اَّممِ ًلا َح ُن َس ْحَا ُّجَ ْلا َن ْو ُكَي ْنَا ِر ْوُ ْبَْلا ِّجَ ْلا ِتاَم َلَع نِم َو
ِه َدَلَب ِلْهَ ِل ًَةَو ْدُق َنْو ُكَي ْنَاَو ُلْبَق
“Di antara tanda-tanda bahwa seseorang mendapatkan haji yang mabrur, ialah adanya perubahan sikap mental, perubahan yang semakin baik dalam dirinya sekembalinya menunaikan ibadah haji, dan ia dapat menjadi contoh yang baik sebagai ikutan dalam masyarakat.”
Haji yang mabrur itu bukanlah di Makkah, bukan di Arofah, bukan pada waktu melaksanakan tawaf dan sa’i, tetapi haji yang mmabrur adalah sesudah pulang atau balik ke kampung halamannya.
104 | Dr. Khairul Hamim, MA.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Untuk mendapatkan haji mabrur tesebut, secara umum ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon haji, antara lain :
Pertama, uang yang dipakai untuk biaya pergi haji harus benar benar yang halal, bukan uang yang haram, maksudnya uang yang diperoleh dengan usaha atau cara-cara yang haram.
Orang yang pergi haji dengan hasil mencuri atau korupsi, sama halnya dengan orang yang bersembahyang dengan pakaian hasil mencuri.
Apabila seorang yang pergi haji itu mendapat biaya dari orang lain. misalnya berupa hadiah atau fasilitas maka disyaratkan pihak lain yang memberikan biaya itu benar-benar ikhlas dan rela. Bukan karena paksaan, tekanan, manipulasi dan sebagainya, sehingga kemampuan yang berasal dari orang lain itu juga benar benar halal. Tidak bercampur unsur dosa dan sebagainya.
Kedua, motivasi dalam menjalankan ibadah haji itu hanyalah semata-mata karena memenuhi perintah Allah. Tidak untuk hal-hal yang lain, misalnya kepingin disebut pak haji atau bu hajah dan sebagainya. Maka sulit rasanya akan memperoleh haji yang mabrur, karena motivasinya bukan lillahi ta’ala lagi.
Atau tidak ikhlas karena Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam S.Al-Baqarah : 196
ِ لله َة َرْمُعْلا َو َّجَ ْلا اوُِّتَأ َو
“ Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah”
Untuk menunjang terwujudnya keikhlasan dalam beribadah haji harus sudah merasa berkewajiban untuk menjalankan ibadah haji. Dan ia perlu mempelajari sejarah dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam ibadah ihram, tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, melontarkan jumrah dan lain-lain.
Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 105 Ketiga, memelihara etika haji pada waktu mengerjakan manasik haji, antara lain tidak boleh berkata yang jorok, melakukan maksiat dan bertengkar, menodai kesucian tanah suci Makkah dan sebagainya,
Firman Allah SWT dalam S. Al-Baqarah : 197
ِّجَ ْلا ِف َلاد ِج لَو َقو ُسُف لَو َثَفَر لَف َّجَ ْلا َّنِهيِف َضَرَف ْنَمَف
“Siapa yang sudah mulai mengerjakan (ibadah) haji, maka ia tidak diperbolehkan lagi melakukan kejahatan dan berbantah- bantah atau bertengkar saat mengerjakan haji.”
Keempat, perjalanan kesempurnaan haji itu tidak hanya berakhir dengan kembalinya kita ketanah air. Kemabruran haji tetap harus terjaga walau raga tidak lagi berada di hadapan ka’bah.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Ibadah haji merupakan gabungan antara ibadah fisik (badaniyah) dan ibadah kebendaan (maliyah) karenanya ibadah haji lebih berat dibandingkan dengan rukun- rukun Islam lainnya, seperti ibadah shalat, zakat, puasa dan lain lain. Shalat hanya ibadah badaniah, zakat adalah ibadah maliyah sementara puasa ibadah badaniah, begitu pila ibadah ibadah yang lainnya selain haji. Ini artinya apabila seseorang muslim sudah dapat dan sanggup menjalankan ibadah haji, maka secara logika ia lebih dapat dan lebih sanggup untuk menjalankan ibadah- ibadah yang lain seperti shalat, zakat, puasa, dan ibadah-ibadah ringan lainnya.
Di sisi lain seseorang yang telah mendapat predikat haji dituntut untuk beretika haji, ia tidak dibenarkan melakukan hal-hal yang tercela dalam agama, bahkan hal-hal yang diluar haji dibolehkan seperti hubungan seksual suami istri, berhias, berpakaian rapi, memakai wangi-wangian. Mencukur rambut dan lain-lain, semua ini harus ditinggalkan oleh orang yang sedang melakukan ibadah haji.
106 | Dr. Khairul Hamim, MA.
Apabila seorang haji sudah sanggup menunggalkan hal hal seperti itu, maka sebagai tanda haji mabrurnya adalah ia lebih sanggup untuk meninggalkan hal-hal yang sudah jelas dilarang oleh Allah dalam rangka pendekatan kepada-Nya.
Sebagai tanda kemabruran berikutnya adalah, ia akan selalu sanggup untuk menerima dan mengerjakan perintah perintah Allah yang lain dengan sikap loyalitas mutlak. Oleh karena itu, wajar sekali apabila nabi SAW. Mengatakan bahwa tidak ada balasan bagi haji yang mabrur kecuali syurga, sebab ibadah haji yang mabrur merupakan manifestasi dari penyerahan total dan loyalitas mutlak kepada Allah SWT. Loyalitas seperti inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As, ketika beliau diperintahkan untuk menyembeleh putranya, Nabi Ismail As.
Akal manusia manakah yang dapat menerima perintah seperti itu? Di sinilah sesungguhnya letak barometer loyalitas kepada Allah. Bagi orang yang rendah tingkat loyalitasnya kepada Allah, ia akan dengan mudah menolak perintah seperti itu.
Akhirnya marilah kita berdoa mudah-mudahan saudara saudara kita yang pergi menunaikan ibadah haji tahun ini, diberikan keselamatan, kesehatan lahir batin dan sukses mencapai martabat haji mabrur. Demikian pula semoga saudara saudara kita yang belum berkesempatan beribadah haji dimudahkan olehmu ya Allah dalam mencari serta mencukupkan segala persyaratan dan bekal-bekalnya. Amin ya rabbal alamin.
ِهْيِف َمِب ْمُكاَّيِاَو ْيِنْعَفَنَو .ِمْيِظَع ِنَاْرُقْلا ِف ْمُكَلَو ْ ِل ُللها َكَراَب
ُهَّنِا ُهَت َو َلَت ْم ُكْنَم َو ْيِّنِم َلَّبَقَت َو .ِمْيِكَ ْلا ِرْك ِّذلا َو ِةَي َلْا َنِم
ْ ِل ِمْيِظَعْلا َللهاُرِفْغَت ْساَو ا َذَه ِلْوَق ُلْوُقَا .مْيِلَعْلا ُعْيِم َّسلاَوُه
ُتاَنِم ْؤُلا َو َ ْيِنِم ْؤُلا َو ُت َمِل ْسُلا َو َ ْيِمِل ْسُلا ِرِئا َسِل َو ْم ُكَل َو
. ِمْيِحَّرلا ُروفَغْلا َوُه ُهَّنِا ُه ْوُرِفْغَت ْساَف
Kumpulan Khutbah Jum'at & Hari Raya | 107