• Tidak ada hasil yang ditemukan

Symbolic Interactionism

KONTEKS KOMUNIKASI

B. Komunikasi Antar Pribadi

1. Symbolic Interactionism

Interaksi simbolik merupakan suatu aktivitas yang menjadi ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Blumer menyatukan gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat tulisannya, dan juga diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey, William I. Thomas, dan Charles H. Cooley (Mulyana, 2001: 68).

Menurut perspektif interaksi simbolik, perilaku manusia harus dipahami dari sudut pandang subjek. Teori ini memandang bahwa kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Inti pada penelitian ini adalah mengungkap bagaimana cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang akan mereka

sampaikan dalam proses komunikasi dengan sesama. Makna yang mereka berikan kepada objek berasal dari interaksi sosial dan dapat berubah selama interaksi itu berlangsung. Inti dari teori interaksi simbolik adalah “self” atau diri. Mead menganggap konsep diri adalah suatu proses yang berasal dari interaksi sosial individu dengan orang lain (D. Mulyana, 2001: 73).

Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah perspektif yang lebih besar yang sering disebut perspektif fenomenologis atau perspektif interpretif. Maurice Natanson menggunakan istilah fenomenologis sebagai suatu istilah yang merujuk pada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap kesadaran manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial. Menurut Natanson, pandangan fenomenologis atas realitas sosial menganggap dunia intersubjekif terbentuk dalam aktivitas kesadaran yang salah satu hasilnya adalah ilmu alam. Ia mengakui bahwa George Herbet Mead, William I. Thomas, dan Charles H. Cooley, selain mazhab Eropa yang dipengaruhi.

Max Weber adalah representasi perspektif fenomenologis ini. Bogdan dan Taylor mengemukakan bahwa dua pendekatan utama dalam tradisi fenomenologis adalah interaksi simbolik dan etnometodologi. (Mulyana, 2001: 59)

Sumber: (Sunarto, 2009)

Awal perkembangan interaksionisme simbolik dapat dibagi menjadi dua aliran/mahzab, yaitu aliran/mahzab Chicago, yang dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati. Peneliti perlu mencoba empati dengan pokok materi, masuk pengalamannya, dan usaha untuk memahami nilai dari tiap orang. Blumer dan pengikutnya menghindarkan kuantitatif dan pendekatan ilmiah dan menekankan riwayat hidup, autobiografi, studi kasus, buku harian, surat, dan nondirective interviews. Blumer terutama sekali menekankan pentingnya pengamatan peserta di dalam studi komunikasi. Lebih lanjut, tradisi Chicago melihat orang- orang sebagai kreatif, inovatif, dalam situasi yang tak dapat diramalkan. Masyarakat dan diri dipandang sebagai proses.

x Sunarto, Bahan Kuliah Materi Teori Komunikasi, 2009, Magister Ilmu Komunikasi Universitas

Yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial.

Tradisi yang kedua adalah aliran/mahzab Iowa yang mengambil lebih dari satu pendekatan ilmiah. Manford Kuhn dan Carl Dipan, para pemimpinnya, percaya konsep interactionist bisa diterapkan. Walaupun Kuhn menerima ajaran dasar interaksionalisme simbolik, ia berargumentasi bahwa metoda sasaran jadilah lebih penuh keberhasilan dibanding “yang lembut” metoda yang dipekerjakan oleh Blumer. Salah satu karya Kuhn adalah suatu teknik pengukuran yang terkenal dengan sebutan Twenty Statement Test. Hari ini, menurut interactionism Bagus, simbolik telah menyatukan studi bagaimana kelompok mengkoordinir tindakan mereka, bagaimana emosi dipahami dan dikendalikan, bagaimana kenyataan dibangun, bagaimana diri diciptakan, bagaimana struktur sosial besar mendapatkan dibentuk dan bagaimana kebijakan publik dapat dipengaruhi. Di dalam bab ini kita berkonsentrasi pada interactionism simbolik klasik, gagasan dasar dari perkembangan dan perluasan yang teoritis yang paling dikenali di dalam bidang komunikasi.

Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka. Perilaku mereka tidak dapat digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan impuls, tuntutan budaya atau tuntutan peran. Manusia bertindak

hanyalah berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka. Tidak mengherankan bila frase-frase “definisi situasi”, “realitas terletak pada mata yang melihat” dan “bila manusia mendefinisikan situasi sebagai riil, situasi tersebut riil dalam konsekuensinya” sering dihubungkan dengan interaksionisme simbolik. (Mulyana, 2001: 70)

Perilaku manusia ditentukan oleh interaksinya dengan orang lain. Ketika individu lahir, terdapat struktur-struktur social di sekelilingya, tetapi bagaimana dia berperilaku sangat dipengaruhi oleh interaksinya dengan orang lain. Sebagai contoh, seorang anak lahir di sebuah masyarakat sosial yang jauh dari kehdiupan agama. Minuman keras, berjudi, mencuri, merampok, dan keburukan lainnya telah menjadi ciri khas dari kelompok masyarakat tersebut. Pertanyaannya apakah anak yang lahir dari lingkungan seperti ini akan memiliki perilaku yang sama?

Jawabannya tentu saja tidak. Jika anak tersebut tidak menjalin interaksi intensif dengan lingkungannya maka perilakunya bisa jadi akan berbeda. Misalnya si anak tadi sejak kecil dibatasi pergaulannya oleh orang tuanya dan hanya dikenalkan hal baik.

Atau anak tadi lebih banyak tinggal di asrama sekolahnya, pesantren atau tempat lain yang membuatnya tidak terlalu sering berinteraksi dengan lingkungan tempat lahirnya.

Ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain, maka dia akan berperilaku simbolik sesuai ekspektasi orang lain. Misalnya, kita ingin agar kita dipandang sebagai sosok yang ramah di mata orang lain, atau orang lain sudah telanjur berekspektasi bahwa kita adalah orang ramah. Maka kita cenderung akan berusaha memenuhi ekspektasi tersebut dalam berinteraksi, seperti selalu tersenyum, berkata dengan nada rendah, memasang wajah

ramah, dan sebagainya.

Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol- simbol. Secara ringkas, interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama, individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang dikandung komponen- komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.