Dilaksanakan dan disusun sebagai syarat dalam memperoleh penilaian praktikum Biologi Dasar
Disusun oleh :
Nama : Ninda Fatma Cahyani
NIM : L1C023064
Program Studi : Ilmu Kelautan Kelompok : 3
Asisten :
Ganjar Dwi Pangestu NIM. L1B022041
LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2023
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keanekaragaman merupakan totalitas dari seluruh makhluk hidup yang ada pada suatu kawasan. Lingkungan memiliki peran penting dalam penganekaragaman karena lingkungan sangat mendukung dalam interaksi antara makhluk hidup dan makhluk tak hidup. Jumlah keanekaragaman yang bermacam-macam mulai dari flora dan fauna.
Banyaknya flora dan fauna mengakibatkan perlunya untuk mengklasifikasikan ciri dari masing-masing makhluk hidup dalam suatu lingkungan (Fatmala, 2017).
Taksonomi ialah klasifikasi atau pengelompokan benda menurut ciri-ciri tertentu. Taksonomi dalam bidang pendidikan, digunakan untuk klasifikasi tujuan instruksional; ada yang menamakannya tujuan pembelajaran, tujuan penampilan, atau sasaran belajar, yang digolongkan dalam tiga klasifikasi umum atau ranah (domain), yaitu: (1) ranah kognitif, berkaitan dengan tujuan belajar yang berorientasi pada kemampuan berpikir; (2) ranah afektif berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati); dan (3) ranah psikomotor (berorientasi pada keterampilan motorik atau penggunaan otot kerangka). Saat ini dikenal berbagai macam taksonomi tujuan instruksional yang diberi nama menurut penciptanya, misalnya: Bloom; Merill dan Gagne (kognitif);
Krathwohl, Martin & Briggs, dan Gagne (afektif); dan Dave, Simpson dan Gagne (psikomotor) (Gunawan et al., 2017).
Beberapa kriteria khusus yang digunakan oleh para ahli biologi untuk menentukan suatu spesies dalam makna yang lebih luas antara lain sebagai berikut: pertama, spesies adalah suatu kelompok organisme yang merupakan keturunan yang berasal dari nenek moyang yang sama. Hal ini merupakan inti dari konsep biologi modern yang berkembang tentang spesies. Kriteria pertama ini secara tidak langsung menentukan batasan bahwa spesies merupakan suatu entitas historis. Kedua, suatu spesies harus merupakan pengelompokan terkecil organisme yang berbeda nyata dengan organisme dari kelompok yang lain (Wahono, 2016).
1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara 3 taksonomi hewan adalah untuk mengetahui jenis-jenis hewan yang berpotensi sebagai pakan ikan.
II. MATERI DAN METODE
2.1. Materi 2.1.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum acara 3 taksonomi hewan adalah sebagai berikut :
Tabel 6. Alat yang digunakan pada praktikum acara 3
No. Nama Alat Fungsi Alat
1. Alat tulis Untuk menulis hasil laporan pengamatan
2. Sarung tangan Untuk mengambil atau memegang hewan yang sedang diamati
3. Kamera Untuk mendokumentasikan
hasil pengamatan 2.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum acara 3 taksonomi hewan adalah organisme sampel yang berfungsi sebagai bahan pengamatan.
2.2. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Disiapkan organisme sampel yang akan diamati
2. Diamati dan dicatat nama umum/nama lokal, nama ilmiah dan bagian pada organisme sampel yang dapat dimakan oleh ikan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Hasil yang didapatkan pada praktikum acara 3 taksonomi hewan adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Hasil pengamatan acara 3
Annelida 1. Cacing Tanah (Lumbricus sp. )
Kingdom : Animalia Filum : Annelida Kelas : Oligochaeta Ordo :
Megascolescidae Famili : Ampullariidae Genus : Pheretima
Spesies : Lumbricus sp.
* Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan (Rahmadina Dan Eriri, 2018)
2. Cacing Sutra (Tubifex sp.)
Kingdom : Animalia Filum : Annelida Kelas : Oligochaeta Ordo :
Hsplotaxida Famili : Tubificidae
Genus : Tubifex
Spesies : Tubifex sp.
* Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan (Darillia et al., 2022)
Mollusca 1. Bekicot ( Achatina Fulica )
Kingdom : Animalia Filum : Molusca Kelas : Gastropoda Ordo : Pulmonata Famili :
Achatinidae
Genus : Achatina
Spesies : Achatina fulica
* Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan kecuali cangkang ( Edison, 2019)
2. Keong Sawah (Pomacea canaliculata Lamarck ) Kingdom : Animalia Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda
Ordo : Mesogastropoda Famili : Ampullariidae Genus : Pomacea
Spesies : Pomacea canaliculata Lamarck
* Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan kecuali cangkang dan operculum (Pakpahan et al., 2018)
Arthropod a
1. Ulat Hongkong ( Tenebrio molitor ) Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insect
Ordo : Coleopteran Famili :
Tenebrionidae
Genus : Tenebrio Species : Molitor
* Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan (Kuncorowati, 2021)
2. Udang ( Caridina sp. )
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda Famili : Atyidae Genus : Caridina Spesies : Caridina sp.
* Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan kecuali sevalotoraks (kulit dan kepala udang) (Mulyati et al., 2016).
3. Jangkrik ( Gryllus sp. )
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insekta
Ordo : Orthoptera Familia :
Gryllidae
Genus : Gryllus
Spesies : Gryllus sp.
* Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan kecuali kaki loncat (Nugroho et al., 2020).
Chordata 1. Ikan Wader ( Rasbora sp. )
Kingdom : Animalia Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili :
Cyprinidae
Rasbora
Spesies : Rasbora sp.
*Seluruh bagian tubuh bisa dijadikan pakan ikan (Diana 2013).
3.2. Pembahasan
Taksonomi secara praktis dapat dikatakan tumbuh dan berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia.
Setiap suku bangsa di dunia mempunyai kosa kata untuk menyebut atau menamai berbagai hewan, tumbuhan atau benda tertentu. Pada mulanya, penggolongan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan manusia pada saat itu, berdasarkan peran atau manfaat yang dapat diperoleh oleh manusia, misalnya berhubungan dengan makanan (dapat dimakan atau tidak), obat-obatan sederhana, dan lain-lain.
Setiap objek memiliki karakteristik yang beragam, maka penamaan yang digunakan kemudian menunjukkan karakteristik khas yang dimiliki oleh objek tersebut (Anderson et al., 2015).
Kata Taksonomi berasal dari kata dalam bahasa Yunani (selanjutnya disingkat Y), yaitu taxis (taxis) yang berarti susunan dan nomos (nomos) yang berarti aturan atau cara atau undang-undang.
Beberapa kriteria khusus yang digunakan oleh para ahli biologi untuk menentukan suatu spesies dalam makna yang lebih luas antara lain sebagai berikut: pertama, spesies adalah suatu kelompok organisme yang merupakan keturunan yang berasal dari nenek moyang yang sama (Anderson et al., 2015).
Protozoa adalah jasad renik hewani yang terdiri dari satu sel, hidup sendiri-sendiri dari satu sel hidup sendiri-sendiri atau berkelompok membentuk koloni. Protozoa banyak terdapat di alam antara lain di dalam air laut, air tawar, tanah, dan di dalam tubuh organisme lain. Protozoa bisa bergerak dengan memfungsikan alat geraknya, yakni pseudopodia (kaki semu), silia (rambut getar), atau flagela (bulu cambuk). Membran plasma pada beberapa jenis protozoa ada yang dilengkapi dengan silia atau flagel yang keduanya
berfungsi sebagai alat bergerak. Contoh dari protozoa adalah rhizopoda, amoeba, dan ciliophora (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Porifera mendapatkan oksigen dan juga makannanya dari siklus alami air yang mengalir kemudian membawa benda-benda yang bisa menjadi santapannya. Porifera mempunyai ukuran tubuh mulai dari yang berukuran kecil dalam milimeter sampai yang berukuran besar dalam meter. Pada bagian tubuhnya terdapat banyak pori, rongga- rongga yang digunakan sebagai tempat mengalirnya air, serta terdapat saluran-saluran. Secara umum hewan ini mempunyai susunan rangka pada bagian dalam. Hewan ini berkembang biak menggunakan 2 cara yakni berkembang biak melalui cara kawin dan cara tak kawin. Beberapa contoh dari porifera yakni sycon, spongia, dan cliona (Fahmi, 2018).
Coelenterata adalah hewan invertebrata yang mempunyai rongga dengan bentuk tubuh seperti tabung dan mulut yang dikelilingi oleh tentakel. Pada saat berenang, mulut coelenterata menghadap ke dasar laut. Tubuh Coelenterata (hewan berongga) adalah terdiri atas jaringan luar (eksoderm) dan jaringan dalam (endoderm) serta sistem otot yang membujur dan menyilang (mesoglea). Istilah Coelenterata berasal dari bahasa Yunani dari kata Coeles yang berarti rongga dan interon yang berarti usus. Funggsi rongga tubuh pada Coelenterata adalah sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler). Contoh Coelenterata (Hewan berongga) adalah ubur-ubur, hydra, dan anemon laut (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Platyhelminthes berasal dari bahasa yunani yaitu “platy” yang berarti pipih dan “helminthes” yang berarti cacing. Sesuai dengan namanya, anggota kelompok cacing ini memiliki tubuh pipih dorsoventral. Platyhelminthes juga dapat dikelompokkan sebaai hewan triploblastik karena memiliki tiga lapisan jaringan, yaitu ektodermis (lapisan luar), mesodermis (lapisan tengah) dan endodermis (lapisan dalam). Platyhelminthes adalah cacing pipih yang pencernaanya berupa rongga gastrovaskuler, eksresi dengan
dan vegetatif. Filum Platyhelminthes terdiri dari sekitar 13.000 spesies, terbagi menjadi tiga kelas; dua yang bersifat parasit dan satu hidup bebas (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Planaria dan kerabatnya dikelompokkan sebagai kelas Turbellaria. Cacing hati adalah parasit eksternal atau internal dari kelas Trematoda. Cacing pita adalah parasit internal dari kelas Cestoda. Umumnya, golongan cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam tubuh organisme lain.
Platyhelminthes yang hidup bebas adalah di air tawar, laut, dan tempat-tempat yang lembab, sedangkan Platyhelminthes yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh Platyhelminthes adalah (Planaria yang sering ditemukan di balik batuan (panjang 2-3 cm), (Bipalium yang hidup di balik lumut lembab (panjang mencapai 60 cm), (Clonorchis sinensis, (cacing hati, dan cacing pita (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Secara bahasa, kata Nemathelminthes berasal dari bahasa yunani, yakni “nema” yang artinya benang, dan “helmintes” yang artinya cacing. Nemathelminthes sudah memiliki rongga pada tubuhnya walaupun rongga tersebut bukan rongga tubuh sejati.
Nemathelminthes adalah kelompok hewan cacing yang mempunyai tubuh bulat panjang dengan ujung yang runcing. Rongga tubuh pada Nemathelminthes disebut pseudoaselomata. Cacing ini mempunyai tubuh meruncing pada kedua ujung sehingga disebut dengan cacing gilig. Ukuran tubuh Nemathelminthes umumnya miksroskopis, tapi ada juga yang mencapai ukuran 1 m. Cacing Nemathelminthes kebanyakan hidup parasit pada tubuh manusia, hewan, atau tumbuhan, namun adapula yang hidup bebas. Ukuran dari cacing betina lebih besar dari cacing jantan (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Annelida dalah kelompok hewan dengan bentuk tubuh seperti susunan cincin, gelang-gelang atau ruas-ruas. Istilah kata Annelida berasal dari bahasa Yunani dari kata annulus yang berarti cincin, dan
oidos yang berarti bentuk. Annelida merupakan cacing dengan tubuh bersegmen, tripoblastik dengan rongga tubuh sejati (hewan selomata) dan bernapas melalui kulitnya. Terdapat sekitar 15.000 spesies Annelida dengan panjang tubuh mulai dari 1 mm-3 m. Filum Annelida hidup di air tawar, air laut, dan di tanah. Umumnya annelida hidup secara bebas, meskipun ada yang bersifat parasit (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Mollusca berasal dari bahasa latin yaitu molluscus yang artinya lunak. Mollusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewan ini tripoblastik { mempunyai 3 lapisan lembaga, yaitu ektoderm (lapisan luar), mesoderm (lapisan tengah) dan endoderm (lapisan dalam), bilateral simetri, umumnya memiliki mantelyang dapat menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat.
Cangkok tersebut berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya kerang tiram, siput sawah dan bekicot. Cangkok kerang ini terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah untuk berjalan dengan cara kontraksiotot (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Arthropoda berasal dari bahasa Latin, yaitu "arthra" yang berarti ruas dan "podos" yang berarti kaki, dapat diartikan bahwa Arthropoda merupakan hewan yang memiliki ciri, yaitu kaki beruas, berbuku, atau bersegmen (segmen tersebut juga terdapat di tubuh).
Tubuh Arthropoda merupakan simetris bilateral dan tergolong triploblastik selomata. Jumlah spesies anggota filum ini adalah terbanyak dibandingkan dengan filum lainnya yaitu diperkirakan lebih dari 1.000.000 spesies. Contoh anggota filum ini antara lain kepiting, udang, serangga, laba-laba, kalajengking, kelabang, dan kaki seribu, serta spesies-spesies lain yang dikenal hanya berdasarkan fosil. Habitat hewan-hewan Arthropoda adalah di air dan di darat (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Echinodermata adalah triploblastik selomata tubuhnya
bintang laut. Rangka berupa keeping-keping kapur terdapat di dalam kulit dan pada umumnya mempunyai duri. Saluran pencernaanya sudah sempurna meskipun anus pada sebagian Echinodermata tidak berfungsi. Sistem peredaran darah Echinodermata umumnya tereduksi, sukar diamati. Sistem peredaran darah terdiri dari pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah pembuluh radial ke setiap bagian lengan (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Kata “chordata” berasal dari bahasa Latin “chorda” yang berarti “tali”, yang dimaksud dengan “tali” ini adalah notokorda.
Notokorda merupakan “tongkat” fleksibel terbuat dari bahan yang mirip dengan tulang rawan. Berbagai literatur sering membagi pembahasan filum Chordata ini ke dalam dua bagian, yaitu Chordata yang tidak bertulang belakang (Nonvertebrata atau Invertebrata Chordata), dan Chordata yang bertulang belakang (Vertebrata).
Filum Chordata adalah kelompok hewan, termasuk vertebrata dan beberapa binatang yang mirip invertebrata yang memiliki ciri-ciri yang serupa (Maya dan Nurhidayah, 2020).
Semua anggota kelompok ini memiliki notokorda, tali saraf dorsal berongga, celah faring, endostyle, dan ekor berotot yang melewati anus. Vertebrata merupakan kelompok hewan yang memiliki tulang belakang. Dalam sistem klasifikasi, vertebrata merupakan subfilum dari filum Chordata Semua hewan yang tergolong vertebrata memiliki rangkaian tulang kecil (vertebra) yang memanjang pada bagian dorsal dari kepala hingga ekor. Rangkaian vertebrata yang disebut tulang punggung ini membentuk sumbu kerangka menggantikan notokord. Tulang punggung berfungsi sebagai penyokong tubuh serta melindungi tali saraf (Maya dan Nurhidayah, 2020).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum, maka dapat disimpulkan bahwa pakan ikan yang berkualitas perlu memenuhi standar keamanan dan kebutuhan nutrisi ikan yang dibutuhkan untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangan hariannya. Beberapa nutrisi tersebut mencakup protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, asam amino, dan serat.
4.2. Saran
Semoga praktikum selanjutnya adalah praktikan harus lebih berhati-hati dalam menggunakan alat maupun bahan yang ada laboraturium agar tidak terjadi kecelakaan dan kerusakan pada alat laboraturium.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, L. W. Lorin. D. R. Krathwohl. (2015). Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, Dan Asesmen Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom. Terjemahan: Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Aziz A. M. (2015). Budidaya Cacing Tanah Unggul ala Adam Cacing. Jakarta: PT.
Agro Media Pustaka.
Cazzaniga, N.J. 2002. Old species and new concepts in the taxonomy of pomacea (gastropoda : Ampullariidae). Biocell 26 (1):71-81.
Fahmi. 2018. Klasifikasi Hewan Invertebrata Filum Porifera. Jakarta.
Fatmala, L. 2017. Keanekaragaman Arthropoda Permukaan Tanah di bawah Tegakan Vegetasi Pinus (Pinus merkusii) Tahura Pocut Meurah Intan.
Banda Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam.
Gunawan, Imam dan Retno Anggarini. 2017. Taksonomi Bloon-Revisi Ranah Kognitif: Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, dan Penilaian. Madiun:
GGSD FIP IKIP PGRI Madiun.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2. Direktorat Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.
Departemen Pendidikan Nasional.
Maya dan Nurhidayah. 2020. Zoologi Invertebrata. Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung.
Parianto. Riastuti, R.D., Nurzorifah, M,. 2019. Keanekaragaman Insekta yang Terdapat di Hutan Pendidikan dan Pelatihan Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Jurnal Pendidikan dan Biologi Sains. 2(2).
Santoso, I. H. (2003). Budidaya Bekicot. Yogyakarta : Kanisius.
Wahono. (2016). Ilmu Pengetahuan Alam SMA: Buku Guru. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.