Harry Setya Nugraha
Fakultas Hukum Universitas Mulawarma [email protected]
Abstract
This article discusses the challenges that will be faced by the Constitutional Court in dealing with disputes over the 2024 election results and alternative ideas to answer these challenges. By using normative juridical research methods, this article explains that first, there are at least seven conditions that could potentially become challenges for the Constitutional Court in handling cases of Dispute over the Election Results in 2024 which are qualified into technical and non-technical challenges. Second, answer this challenge, it is necessary to restructure the judicial trial at the Constitutional Court specifically in cases of dispute over election results. The Constitutional Court must also consistently stand as an independent and impartial exercise of judicial power and must be able to maintain a distance from practical political activities.
Keywords: PHPU, Election, 2024
Abstrak
Artikel ini membahas tantangan yang akan dihadapi oleh Mahkamah Konstitusi dalam menagani perkara perselisihan hasil pemilu serentak tahun 2024 serta alternatif gagasan untuk menjawab tantangan tersebut.
Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif, artikel ini menjelaskan bahwa pertama, terdapat setidakanya tujuh kondisi yang potensial menjadi tantangan bagi MK dalam menangani perkara Perselisihan Hasil Pemilu Serentak Tahun 2024 yang dikualifikasikan kedalam tantangan yang bersifat teknis maupun non teknis. Kedua, untuk menjawab tantangan tersebut perlu dilakukan penataan kembali terhadap sidang yudisial di MK khusus pada perkara perselisihan hasil pemilu. MK juga harus konsisten berdiri sebagai lembaga pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang independen dan imparsial serta harus mampu menjaga jarak dengan aktivitas politik praktis.
Kata kunci: PHPU, Pemilu, 2024
Pendahuluan
Lembaran sejarah pertama Mahkamah Konstitusi (MK) di Indonesia dibuka dengan disetujuinya pembentukan MK dalam amandemen konstitusi yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 2001 sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 24 ayat (2) dan Pasal 24C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) 1945 hasil perubahan ketiga.1 Lebih lanjut, Pasal III Aturan Peralihan UUD NRI 1945 memerintahkan dibentuknya MK selambat-lambatnya tanggal 17 Agustus 2003.2 Dengan kata lain, MK adalah sebuah lembaga di dalam struktur kelembagaan Indonesia yang dibentuk berdasarkan amanat Pasal 24C jo Pasal III aturan Peralihan Perubahan UUD NRI 1945.3
Jimly Asshidiqie menjelaskan bahwa pembentukan MK pada setiap negara memiliki latar belakang yang beragam, namun secara umum adalah berawal dari suatu proses
1 Mahkamah Konstitusi, Buku II Laporan Pelaksanaan Putusan MPR oleh Mahkamah Konsitusi 2003- 2004; Satu Tahun Mahkamah Konstitusi Mengawal Konstitusi Indonesia, MK RI, Jakarta, 2004, hlm. 3.
2 Maruarar Siahaan, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Mahkamah Konstitus Republik Indonesa, Jakarta, 2006, hlm. 10.
3 Ikhsan Rosyada P, Mahkamah Konstitusi: Memahami Keberadaannya dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2006, hlm. 18.
perubahan politik kekuasaan yang otoriter menuju yang lebih demokratis. Pembentukan MK dalam konteks Indonesia setidaknya dilatarbelakangi dengan tiga alasan4, yaitu:
a. Alasan Filosofis, MK dihadirkan untuk menegaskan bahwa tidak ada lagi supremasi parlemen atau eksekutif tanpa adanya kontrol dari hukum. Hal ini sesuai dengan ajaran konstitusionalisme yang menghendaki adanya perlindungan terhadap HAM serta mekanisme checks and balances yang seimbang antara lembaga- lembaga kekuasaan yang dibentuk, dan penegasan sebagai negara hukum dalam konstitusi;
b. Alasan politis, dimana perkembangan realitas politik telah menimbulkan banyak persoalan yang sebagian tidak mampu diselesaikan melalui pengaturan dan mekanisme yang ada dalam UUD NRI 1945.
c. Alasan sosio-historis, yaitu kebutuhan akan lembaga ini sesungguhnya sudah lama ada, pengujian UU terhadap UUD (judicial review) yang menjadi wewenang MK telah diusulkan oleh Mohammad Yamin dalam sidang BPUPKI, namun usulan ini kemudan ditolak oleh Soepomo dengan alasan sistem ketatanegaraan untuk Indonesia tidak cocok apabila menggunakan trias politica murni dengan ahli hukum yang masih sedikit.
Atas ketiga dasar tersebutlah pada akhirnya disadari bahwa untuk menciptakan pemerintahan yang demokratis dan konstitusional, dibutuhkan lembaga yang memiliki kewenangan untuk melakukan kontrol yudisial. MK akhirnya disepakati dibentuk di Indonesia pada perubahan ketiga UUD NRI 1945 yang disahkan pada 10 Agustus 2002.
Secara normatif, terdapat empat kewenangan dan satu kewajiban yang dimiliki oleh MK sebagaimana ditentukan dalam Pasal 24 C ayat (1) dan (2) UUD NRI 1945.
Kewenangan tersebut yakni:
a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. memutus pembubaran partai politik; dan
d. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
Adapun kewajiban sebagaimana dimaksud yakni kewajiban untuk memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Keempat kewenangan dan satu kewajiban MK tersebut sesungguhnya merupakan pengejawantahan dari empat fungsi yang melekat pada MK sejak pembentukannya, yaitu sebagai pengawal konstitusi, sebagai penafsir konstitusi, penegak demokrasi dan penjaga hak asasi manusia.5
4 Firmansyah Arifin, Urgensi Mahkamah Konstitusi: Pemetaan Beberapa Issue Penting Dalam Proses Pembentukannya, Teropong Vol.II No.10 Edisi Juli, 2003, hlm. 13.
5 Abdul Latif, Fungsi Mahkamah Konstitusi: Upaya Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi, Cet 2, Total Media, Jakarta, 2009, hlm. 108.
Harry Setya Nugraha
Perselisihan Hasil Pemilu Serentak...
Dari Keempat fungsi yang dilaksanakan melalui empat kewenangan dan satu kewajiban sebagaimana telah disebutkan diatas, satu kewenangan yang menarik untuk dikaji seiring dengan perkembangan ketatanegaraan saat ini adalah kewenangan MK dalam memutus perselisihan hasil pemilu. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kenapa kewenangan MK dalam memutus perselisihan hasil pemilu menjadi satu hal yang menarik untuk dikaji?
Jika kita dicermati, dapat terlihat bahwa dari waktu kewaktu instrumen hukum yang mengatur soal pedoman beracara dalam perselisihan hasil pemilu (baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden) terus mengalami perubahan dan penyempurnaan. Mulai dari Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 4 Tahun 2004 dan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 5 Tahun 2004 yang dijadikan sebagai pedoman beracara dalam perselisihan hasil pemilihan umum tahun 2004 hingga berbagai Peraturan Mahkamah Konstitusi yang dibentuk pada tahun 2018 yang dijadikan sebagai pedoman beracara dalam perselisihan hasil pemilihan umum tahun 2019. Perubahan dan penyempurnaan terhadap instrumen hukum tersebut setidak-tidaknya memberikan sinyal bahwa terdapat perbedaan tantangan dalam setiap perkara perselisihan hasil pemilu dari waktu ke waktu.
Kaitannya dengan penyelenggaraan pemilu serentak tahun 2024, patut diduga bahwa penyelenggaraan pemilu serentak tahun 2024 juga akan banyak berakhir di meja MK. Jika hal tersebut benar terjadi, patut diduga pula bahwa tantangan dalam perkara perselisihan hasil pemilu serentak tahun 2024 akan berbeda dengan berbagai tantangan dalam perkara perselisihan hasil pemilu di tahun-tahun sebelumnya. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini akan mengkaji soal tantangan apa saja yang akan dihadapi oleh MK dalam menangani perkara perselisihan hasil pemilu pada pemilu serentak tahun 2024 dan alternatif gagasan untuk menjawab tantangan tersebut.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan dua pokok permasalahan sebagai berikut:
1. Apa tantangan yang akan dihadapi oleh MK dalam menangani perkara Perselisihan Hasil Pemilu Serentak Tahun 2024?
2. Apa alternatif gagasan yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilu Serentak Tahun 2024?
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer; bahan hukum sekunder; dan bahan
hukum tersier. Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui metode library research.6 Bahan hukum yang diperoleh dari studi kepusatakan dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Tantangan dalam Perkara PHPU Serentak Tahun 2024
Kewenangan dalam memutus perselisihan hasil pemilu telah dijalani MK sejak pemilu tahun 2004. Pada pemilu tahun 2004, setidaknya terdapat 44 permohonan perselisihan hasil pemilu legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)) serta 1 permohonan perselisihan hasil pemilu presiden dan wakil presiden yang diputus oleh MK.7 Ketika itu, proses beracara dalam perselisihan hasil pemilu dilakukan berdasarkan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 4 Tahun 2004 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan hasil Pemilihan Umum dan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 5 Tahun 2004 tentang Prosedur Pengajuan Keberatan Atas Penetapan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2004.
Bergeser ke tahun 2009, MK kembali menggelar sidang perselisihan hasil pemilu legislatif serta pemilu presiden dan wakil presiden. Kali ini, terdapat 69 permohonan perselisihan hasil pemilu legislatif serta 1 permohonan perselisihan hasil pemilu presiden dan wakil presiden yang diregistrasi oleh MK.8 Berbeda dengan perselisihan hasil pemilu tahun 2004, pada tahun 2009 proses beracara dalam perselisihan hasil pemilu dilakukan berdasarkan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden; dan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 18 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengajuan Permohonan Elektronik (Electronic Filing) Dan Pemeriksaan Persidangan Jarak Jauh (Video Conference).
Lebih lanjut pada tahun 2014 MK meregistrasi 903 pemohonan perselisihan hasil pemilu legislatif serta 1 permohonan perselisihan hasil pemilu presiden dan wakil presiden.9 Ketika itu, Peraturan Mahkamah Konsitusi Nomor 2 Tahun 2012 tentang Persidangan Mahkamah Konstitusi; Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana diubah dengan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
6 Teknik pengumpulan bahan hukum dengan metode library research dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai literatur (kepustakaan), baik berupa buku-buku, jurnal ilmiah, media massa dan internet serta referensi lain yang relefan guna menjawab berbagai rumusan permasalahan Baca Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Mater Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Ghalia Indonesia, Jakata, 2002, hlm. 11.
7 Saldi Isra, Lembaga Negara, Pajawali Pers, Depok, 2020, hlm. 341.
8 Mahkamah Konstitusi, Mengawal Demokrasi Menegakkan Keadilan Subtantif, Laporan Tahunan 2009, hlm. 9.
9 Mahkamah Konstitusi, Menegakkan Konstitusionalisme dalam Dinamika Politik, Laporan Tahunan 2014, hlm.
11.
Harry Setya Nugraha
Perselisihan Hasil Pemilu Serentak...
serta Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden hadir sebagai pedoman dalam beracara bagi MK, pemohon, termohon maupun pihak terkait.
Terakhir pada tahun 2019, persidangan perselisihan hasil pemilu di gelar oleh MK untuk menyidangkan dan memutus 261 permohonan perselisihan hasil pemilu legislatif serta 1 permohonan perselisihan hasil pemilu presiden dan wakil presiden yang sebelumnya telah diregistrasi oleh kepaniteraan MK10. Di tahun tersebut, peraturan MK yang menjadi dasar pedoman beracara adalah Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2018 tentang Persidangan Mahkamah Konstitusi; Peraturan Mahkamah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Tata Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 3 Tahun 2018 tentang Tata Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Daerah; Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 4 Tahun 2018 tentang Tata Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden; dan Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tahapan, Kegiatan dan Jadwal Penanganan Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Mahkamah Nomor 2 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Tahapan, Kegiatan, dan Jadwal Penanganan Perkara Hasil Pemilihan Umum.
Jika dicermati, dapat terlihat bahwa dari waktu kewaktu instrumen hukum yang mengatur soal pedoman beracara dalam perselisihan hasil pemilu baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden terus mengalami perubahan dan penyempurnaan. Perubahan dan penyempurnaan terhadap instrumen hukum tersebut setidak-tidaknya memberikan sinyal bahwa terdapat perbedaan tantangan dalam setiap perkara perselisihan hasil pemilu dari waktu ke waktu. Tidak terkecuali terhadap penyelenggaraan pemilu tahun 2024. Patut diduga bahwa tantangan dalam perkara perselisihan hasil pemilu serentak tahun 2024 akan berbeda dengan berbagai tantangan dalam perkara perselisihan hasil pemilu di tahun-tahun sebelumnya
Berkenaan dengan hal tersebut, penulis setidaknya mengidentifikasi beberapa kondisi yang menjadi tantangan bagi MK dalam menangani perkara Perselisihan Hasil Pemilu Serentak Tahun 2024. Tantangan tersebut akan dijabarkan dalam dua kualifikasi, yakni tantangan yang bersifat teknis dan tantangan non teknis.
Dalam hal teknis, beberapa kondisi sebagaimana yang akan menjadi tantangan bagi MK dalam mengani perkara Perselisihan Pemilu Serentak Tahun 2024 yakni pertama, jumlah permohonan perselisihan hasil pemilu tahun 2024 yang diprediksi akan tetap tinggi dan tidak berbanding lurus dengan kuantitas hakim konstitusi serta waktu penyelesaian perselisihan. Prediksi soal tingginya jumlah permohonan perselisihan hasil pemilu tahun 2024 setidaknya cukup berasalan mengingat grafik jumlah permohonan perselisihan hasil pemilu dari tahun 2004 hingga tahun 2019 yang tergambar pada grafik sebagai berikut:
10 Mahkamah Konstitusi, Mengawal Demokrasi Konstitusional Pemilu Serentak 2019, Laporan Tahunan 2019, hlm. 27.
Grafik 1. Grafik Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2004-2019
Meskipun tren jumlah permohonan perselisihan hasil pemilu terlihat menurun pada tahun 2019 jika dibandingkan pada tahun 2014, tetapi jumlah yang demikian itu masih tergolong tinggi jika dikaitkan dengan kuantitas hakim konstitusi dan waktu yang disediakan oleh peraturan perundang-undangan kepada MK untuk menyidangkan perkara a quo.
Kondisi yang kedua adalah perselisihan hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2024 yang masih tetap akan diadili oleh MK. Kewenangan MK dalam mengadili sengketa hasil pilkada ditegaskan dalam Putusan Nomor 85/PUU-XX/2022 setelah MK membatalkan Pasal 157 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UndangUndang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi Undang-Undang.11 Kondisi ini diprediksi akan membuat terjadinya penumpukan perkara perselisihan hasil pemilu dan pilkada tahun 2024 tidak dapat dihindarkan. Penumpukan dapat terjadi karena dari waktu ke waktu, jumlah permohonan perselisihan hasil pilkada juga dapat dikatakan tidak sedikit. Berikut penulis sajikan grafik permohonan perselisihan hasil pilkada yang diregistrasi oleh kepaniteraan MK dari tahun 2008 hinga tahun 2021:
11 Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 85/PUU-XX/2022
44 1
69
1 903
1 261
1 0
100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
PHPU Legislatif PHPU Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2004 Tahun 2009 Tahun 2014 Tahun 2019
Harry Setya Nugraha
Perselisihan Hasil Pemilu Serentak...
Grafik 2. Grafik Perselisihan Hasil Pemilihan Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2008-2021.
Penumpukan perkara perselisihan hasil pemilu dan pilkada tahun 2024 pada akhirnya akan berpengaruh terhadap perofma MK dalam pelaksanaan perannya sebagai the guardian of democracy, mengingat kuantitas hakim konstitusi dan keterbatasan waktu penyelesaian sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Oleh karena itu, selain diperlukan alternatif model penyelesaian perselisihan hasil pemilu tahun 2024 yang telah disinggung sebelumnya, perlu juga sekiranya difikirkan alternatif model penyelesaian perselisihan hasil pemilihan kepala daerah tahun 2024 oleh MK.
Kondisi yang ketiga adalah keterbatasan waktu yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan kepada MK untuk menyelesaikan perkara perselisihan hasil pemilihan, baik itu pemilihan umum presiden dan wakil presiden, legislatif maupun kepala daerah.
Berkenaan dengan hal tersebut, perlu diketahui bahwa Pasal 78 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi telah menentukan bahwa permohonan atas perselisihan hasil pemilu wajib diputus dalam jangka waktu:
a. paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi, dalam hal pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden;
b. paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi, dalam hal pemilihan umum anggota DPR, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Sementara dalam perkara perselisihan hasil pilkada, Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 6 Tahun 2020 tentang Tata Cara Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota telah menentukan bahwa perkara perselisihan hasil pemilihan pilkada diputus MK dalam tenggang waktu paling lama 45 hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Elektronik Buku Registrasi Perkara Konstitusi (e-BRPK).12
12 Pasal 52 Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 6 Tahun 2020 tentang Tata Cara Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.
27 3
230
132 105
192
9
152
60 72
136
0 50 100 150 200 250
Perselisihan Hasil Pilkada
Tahun 2008 Tahunn 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2021
Meskipun dapat dipahami bahwa perkara perselisihan hasil merupakan perkara yang harus diselesaikan dalam waktu yang cepat (speedy trial) untuk menghindari kekacauan serta pemanfaatan pihak tertentu untuk mengulur waktu, tetapi kondisi yang demikian ini menjadi tidak baik dan justru berpotensi memberi dampak negatif apabila berhadapan-hadapan dengan kedua kondisi sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Jikapun waktu penyelesaian perkara diperpanjang, juga dikhawatirkan justru akan menabrak konsep peradilan cepat dan memberi konsekuensi pada pelaksanaan kewenangan konstitusional MK lainnya, khususnya kewenangan dalam pengujian undang-undang.
Kondisi Keempat adalah kuantitas hakim MK. Berkenaan dengan hal tersebut, Pasal 24C ayat (3) UUD NRI 1945 telah secara tegas menyatakan bahwa MK mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden. Dalam kondisi normal, jumlah tersebut dianggap ideal untuk menangani perkara-perkara konstitusional yang menjadi kewenangan MK.
Namun dalam kondisi-kondisi abnormal atau setidak-tidaknya kondisi sebagaimana penulis uraikan diatas, jumlah tersebut justru adalah jumlah yang tidak ideal. Pribadi hakim konstitusi tentu akan mengalami kelebihan beban kerja yang juga akan berpotensi pada peforma hakim konstitusi dalam mengadili perkara perselisihan hasil pemilihan.
Disisi yang lain, mustahil rasanya jika hanya untuk menangani kondisi yang demikian itu harus dilakukan penambahan hakim konstitusi melalui perubahan UUD NRI 1945. Satu- satunya cara yang paling memungkinkan adalah dengan mencari alternatif model penyelesaian perselisihan hasil pemilihan sebagaimana dimaksud dalam penelitian ini.
Dalam hal non teknis, beberapa kondisi sebagaimana yang akan menjadi tantangan bagi MK dalam mengani perkara Perselisihan Pemilu Serentak Tahun 2024 yakni pertama, kepercayaan publik kepada MK yang terlihat menurun. Dalam sebuah data yang di rilis oleh Lembaga Survei Indonesia pada bulan Oktober Tahun 2022, dapat diketahui bahwa secara umum kepercayaan publik terhadap lembaga negara menurun tajam, tidak terkecuali pada MK. Setelah sempat berada pada angka 79%, per Oktober Tahun 2022 tingkat kepercayaan publik kepada MK hanya berada pada angka 62%.13 Tren penurunan kepercayaan publik terhadap MK juga ditangkap oleh Charta Politika dalam sebuah rilis yang menyatakan bahwa semula tingkat kepercayaan publik kepada MK berada pada angka 69,8%, namun kini hanya berada pada angka 66,5%.14 Kondisi ini bukan tidak mungkin akan mempengaruhi persepsi publik terhadap kredibelitas MK dalam mengadili sengketa Pemilu Serentak tahun 2024 nantinya. Bagaimanapun tidak dapat dinafikkan bahwa dalam konteks democratic policy, kepercayaan publik menjadi variabel determinan.15
Kedua, potensi intervensi politik praktis. Dalam kondisi yang ideal, MK sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman adalah lembaga yang merdeka. Kemerdekaan MK dalam melaksanakan fungsi kekuasaan kehakiman membuatnya harus terbebas dari berbagai
13 https://www.lsi.or.id/post/rilis-survei-lsi-20-oktober-2022 [diakses pada 3 November 2022, Pukul 10.00 WITA]
14 https://www.jpnn.com/news/waduh-terjadi-penurunan-kepercayaan-publik-hampir-di-semua- lembaga-negara [diakses pada 3 November 2022, Pukul 10.00 WITA]
15 Rustiana Dwi Wahyinengseh, Membangun Kepercayaan Publik Melalui Kebijakan Sosial Inklusif, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 15, Nomor 1, 2011, hlm.37
Harry Setya Nugraha
Perselisihan Hasil Pemilu Serentak...
bentuk intervensi politik manapun, termasuk oleh badan eksekutif maupun legislatif.16 Namun sayangnya, akhir-akhir ini mulai tampak tindakan intervensi yang dilakukan oleh
“kekuatan politik” terhadap MK. Salah satunya adalah intervensi DPR terhadap hakim MK. Meskipun intervensi dalam hal tersebut tidak berkaitan langsung dengan kewenangan MK dalam mengadili sengketa hasil pemilu, namun patut mendapat perhatian bahwa intervensi politik potensial dapat terjadi saat MK mengadili sengketa hasil Pemilu serentak Tahun 2024 nantinya.
Kondisi ketiga adalah sempitnya makna frasa “hasil pemilihan umum” yang dipahami sebagai “perselisihan mengenai penetapan hasil pemilihan umum yang dilakukan secara nasional oleh KPU” dan makna “frasa perselisihan hasil pemilihan”17 yang dipahami sebagai perselisihan antara KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota dan peserta pemilihan mengenai penetapan perolehan suara hasil pemilihan.18 Meskipun pada praktiknya kini MK mulai memperluas makna frasa hasil pemilihan disetiap kali mengadili perkara perselisihan hasil pemilihan,19 tetapi bukan tidak mungkin akumulasi dari beberapa tantangan yang telah dijelaskan diatas membuat MK kembali terjebak pada kesalahan yang fatal yakni kembali menjadi “mahkamah kalkulator”.
Alternatif Gagasan dalam Menjawab Tantangan PHPU Serentak Tahun 2024 Pada dasarnya semua tantangan yang akan dihadapi oleh MK dalam mengadili sengketa hasil Pemilu Serentak Tahun 2014 berpotensi mengancam demokratisasi pemilihan, khususnya dalam hal legitimasi keterpilihan kontestan pemilu yang harus menempuh jalur MK. Oleh karena itu, perlu difikirkan alternatif gagasan untuk menjawab berbagai tantangan sebagaimana telah diuraikan diatas.
Dalam hal tantangan yang bersifat teknis, penulis berpandangan bahwa perlu dilakukan penataan kembali terhadap sidang yudisial di MK khusus pada perkara perselisihan hasil pemilu. Sementara dalam hal tantangan yang bersifat non teknis, penulis berpandangan bahwa MK harus konsisten berdiri sebagai lembaga pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang independen dan imparsial. MK juga harus mampu menjaga jarak dengan aktivitas politik praktis walaupun tidak dapat dinafikkan bahwa pelaksanaan kewenangan MK cukup erat kaitannya dengan aktivitas politik. Dengan
16 Meirina Fajarwati, Intervensi Politik dalam Putusan Mahkamah Konstitusi, Jurnal Rechts Vinding, 2016, Hlm.
5
17 Pasal 24 C ayat (1) UUD NRI 1945 yang menjadi dasar kewenangan MK untuk mengadili PHPU tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan perselisihan hasil pemilu, derivasinya dalam Pasal 77 UU No. 24 Tahun 2003 tentang MK kemudian memberikan arti PHPU yang sangat terbatas, yakni “perselisihan tentang hasil pemilu adalah perselisihan mengenai penetapan hasil pemilu yang dilakukan secara nasional oleh KPU”. Lihat Harry Setya Nugraha, 2015, “Redesain Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Penyelesaian Sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia”, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, No. 3. Vol 22, hlm. 422.
18 Pasal 156 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturann Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang.
19 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi No 62/PHPU-B-II/2004. Dari putusan a quo dapat diketahui bahwa terkait permohonan yang bersifat kualitas dalam penyelenggaraan pemilu akan menjadi perhatian (concern) MK hanya apabila prinsip-prinsipyang ditentukan dalam Pasal 22E ayat (1) dan ayat (5) UUD NRI Tahun 1945 dilanggar. Hal ini juga dapat dilihat dalam beberapa putusan MK lainya terkait perselisihan hasil pemilu dan hasil pemilihan kepala daerah.