• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tayammum

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 39-46)

Secara etimologis kata tayammum artinya bermaksud. Orang Arab mengatakan, هظــــــــفـحـب الله ـــــــــمـيـت. Artinya, Semoga Allah bermaksud melindungimu. Secara terminologis, Tayammum adalah memukulkan kedua belah telapak tangan ke tanah yang berdebu untuk diusapkan pada wajah dan kedua tangan sebagai pengganti wudhuk dalam kondisi darurat. Ini adalah suatu rukhshah (keringanan) yang diberikan Allah SWT dalam soal thaharah. ‘Illat (alasan) yang membolehkannnya yang disepakati ada dua hal, yaitu dalam keadaan sakit yang bermudarat bila memakai air dan dalam keadaan musafir (perjalanan).

Mengenai hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya pada surat al-Nisaa’ ayat 43 dan dalam surat al-Maaidah ayat 6:

◆







◼⧫





◆

⧫◼





⧫

 ◆ ☺⬧

◼⬧



⧫

❑☺☺◆⧫⬧

➔

⬧

❑⬧⬧

❑❑

◆





⧫

❑→⧫

❑→



Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci);

sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (al-Nisaa’: 43).

◆







◼⧫





◆

⧫◼





⧫



☺⬧

◆

◼⬧



⧫

❑☺☺◆⧫⬧

➔

⬧

❑⬧⬧

→❑❑

◆



⧫





➔◆

→◼⧫



⚫⧫

⬧◆



⧫⬧

▪◆

⧫☺➔

◼⧫

→➔⬧

◼



Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya

40

bagimu, supaya kamu bersyukur. (al-Maaidah: 6).

Dari kedua ayat ini terdapat dua ‘illat boleh bertayammum, yaitu dalam keadaan sakit yang tidak boleh memakai air dan sedang dalam perjalanan (musafir) yang ketiadaan air. Berikut ini akan dijelaskan satu- persatu.

1. Tayammum bagi Orang Dalam Kondisi Sakit

Pada kedua ayat di atas ditegaskan, Dan jika kamu sakit ….maka bertayamumlah. Sakit adalah suatu ungkapan perubahan fisik dari kondisi normal dan biasa pada kondisi yang tidak normal. Sakit itu ada dua macam:

sakit berat dan sakit ringan. Yang dimaksud dengan kebolehan tayammum dalam ayat ini adalah bahwa seseorang khawatir dirinya akan mendapat bahaya atau bermudarat bila memakai air atau fisiknya lemah, tidak sanggup pergi ke tempat air. (Al-Syaukani I, 1964: 469). Bila sakit seseorang berat dalam arti dikhawatirkan akan meninggal karena sangat diginnya air, atau dikhawatirkan akan tanggal (terpisah) sebagian anggota badannya, maka inilah yang membolehkan tayammum berdasarkan ijma’. Diriwayatkan oleh Daruquthni dari Ibnu ‘Abbas RA mengenai penafsiran ayat ini, Jika seseorang terluka dalam perang, kena bisul yang bernanah, atau kena penyakit cacar, lalu ia junub, dan dikhawatirkan akan meninggal bila ia mandi, boleh tayammum. (al-Qurthubi, V, t.t.: 216).

Menurut Ibnu al-‘Arabi (I, 1988: 560), Keumuman lafazh ayat membolehkan bertayammum kepada semua orang sakit bila khawatir memakai air dan akan menyakitinya bila memakai air. Diriwayatkan dari al- Syafi’i bahwa ia mengatakan, Dibolehkan tayammum bagi orang sakit bila khawatir akan berbahaya memakai air. Tetapi berpatokan pada khawatir akan bertambah sakit bila memakai air tidak dapat dibenarkan boleh tayammum, karena khawatir bertambah sakit itu kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak. Tidak boleh meninggalkan fardhu yang diyakini karena khawatir yang dikeragui.

Berdasarkan keterangan di atas terlihat bahwa kebolehan bertayammum bagi orang sakit adalah bila dalam kondisi sakit yang berat atau dalam kondisi sakit yang membahayakan kesehatan bila memakai air.

Sedangkan menurut pendapat-pendapat berikutya ada pendapat yang membolehkan bertayammum dalam kondisi sakit dalam arti umum.

Menurut penjelasan Ibnu Katsir (II, 1980: 296), Sebagian ulama membolehkan tayammum dengan alasan sakit apapun. Mereka berdalil dengan keumuman ayat ini. Tetapi menurut al-Jashashash (II, 1993: 517) keumuman lafazh ayat ىضرـــــم مـــــتـك ناو bermakna boleh tayammum bagi setiap orang sakit dalam semua kondisi, sekiranya tidak ada dilalah bahwa yang dimaksud oleh ayat boleh bertayammum adalah sebahagian dari orang sakit. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan segolongan tabi’in, Bahwa yang boleh bertayammum adalah orang sakit yang susah memakai air dan bermudarat bila memakai air. Di samping itu, tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang sakit yang tidak bermudarat memakai air tidak

41

boleh bertayammum bila ada air. Kebolehan bertayammum bagi orang sakit tidak dikaitkan dengan ketiadaan air, tetapi dikaitkan dengan khawatir menimbulkan mudarat bila memakai air. Karena dalam ketentuan firman Allah Ta’ala di atas ditegaskan bahwa bagi orang sakit boleh bertayammum tanpa disyaratkan dengan ketiadaan air, dan ketiadaan air hanya disyaratkan bagi orang musafir bukan bagi orang sakit.

Lafazh ayat yang bersifat umum ini dipahami boleh bertayammum bagi orang sakit dalam semua kondisi sekiranya tidak ada pendapat yang diriwayatkan dari para ulama salaf dan kesepakatan para fuqaha’ bahwa sakit yang tidak bermudarat memakai air, tidak boleh bertayammum. Oleh karena itu, Imam Abu Hanifah dan Muhammad mengatakan, “Orang yang khawatir akan menimbulkan mudarat bagi dirinya bila mandi dengan air yang sangat dingin boleh tayammum, karena dikhawatirkan timbul mudharat. Diriwayatkan dalam hadits ‘Amru bin al-‘Ash bahwa beliau tayammum kendatipun ada air, karena khawatir berbahaya memakai air yang sangat dingin. Maka Nabi SAW membolehkannya dan tidak membantahnya. Mereka sepakat, boleh tayammum dalam perjalanan kendatipun ada air karena khawatir dengan air yang sangat dingin.

Demikian pula halnya bagi orang yang menetap boleh bertayammum karena ada ‘illat yang membolehkannya. Sebagaimana halnya tidak ada perbedaan hukum lantaran sakit, baik dalam perjalanan maupun ketika menetap, demikian juga halnya hukum khawatir menimbulkan mudarat bila memakai air karena sangat dingin. (al-Jashshash ,II, 1993: 518).

Menyimak keterangan terakhir ini dapat dipahami ada pendapat mengatakan bahwa bagi si mukim boleh juga bertayammum bila dikhawatirkan akan membahayakan kesehatan bila memamkai air yang sangat dingun..

Menurut Imam al-Syafi’i, sebagaimana dijelaskan di atas, dengan alasan khawatir semata-mata tidak boleh dijadikan ‘illat boleh bertayammum. Menurut hemat penulis bahwa yang dibolehkan tayammum adalah orang sakit yang membahayakan kesehatannya bila memakai air. Argumennya ialah hadits yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah RA, katanya, “Ketika kami keluar kota untuk suatu perjalanan, lalu seorang di antara kami kepalanya ditimpa batu. Lalu ia merenggangkan kedua kakinya, kemudian bermimpi. Setelah bangun dari tidur ia berkata kepada teman-temannya, “Sampaikanlah hal ini kepada Nabi SAW, Beliau berkata,

“Mereka telah membunuhnya, Allah akan membunuh mereka. Apakah mereka tidak bertanya bila tidak tahu. Bahwa obat bagi orang yang tidak tahu adalah bertanya. Sesungguhnya cukuplah baginya tayammum atau membalut lukanya dengan sobekan kain, kemudian menyapunya dan membasuh badannya yang tidak terluka”. H.R al-Bukhari, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Thabrani.

42

Ada pendapat mengatakan bahwa orang yang dalam keaadaan junub, lalu bertayammum karena khawatir akan sakit bila memakai air, boleh mengerjakan shalat. Al-Qurthubi (V, t.t. : 217) mengutip suatu hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Daruquthni yang berasal dari ‘Amru bin al-‘Ash, katanya, “Aku pernah bermimpi pada malam yang sangat dingin dalam masa perang Salasil, tapi aku takut mandi karena khawatir sakit.

Lalu aku tayammum dan shalat Shubuh bersama teman-temanku.

Kemudian mereka menyampaikan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau berkata, “Hai ‘Amru, Engkau shalat bersama teman-temanmu pada hal engkau junub?” Lalu aku menyampaikan kepada Beliau halangan aku mandi, dan aku mengatakan, Aku mendengar Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, امــــيـحر مــــكـب ناـــك الله نا , مــــكـسـفـنا اولــــتـقـت لاو (Q.S. 4: 29). Lalu Nabi tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi.

2. Tayammum bagi Musafir

Bagi musafir juga diberikan dispensasi untuk bertayammum, sesuai dengan firman-Nya, Atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah.

Dalam kondisi menempuh perjalanan seseorang boleh bertayammum bila ketiadaan air. Namun terdapat perbedaan pendapat mengenai jarak perjalanan boleh bertayammum. Menurut mayoritas ulama, Kebolehan bertayammum bagi musafir tidak disyaratkan perjalanan sejauh boleh mengqashar shalat Tapi menurut satu golongan, tidak dapat tidak disyaratkan yang demikian itu. (Al-Syaukani I, 1964: 469). Boleh bertayammum dalam perjalanan jauh atau dekat ketika ketiadaan air. Ini adalah pendapat Imam Malik dan jumhur ulama, (al-Qurthubi, V, t.t.: 218).

Mereka juga berbeda pendapat tentang kebolehan tayammum bagi si mukim (orang yang menetap). Menurut Imam Malik dan sahabat- sahabatnya, Imam Abu Hanifah dan Muhammad, Boleh bertayammum bagi si mukim dan orang dalam perjalanan. Menurut Imam al-Syafi’i, Tidak boleh tayammum bagi si mukim yang sehat, kecuali dikhawatirkan sakit bila memakai air. (Al-Syaukani I: 469 - 470). Imam al-Syafi’i, al-Laits, dan al- Thabari mengatakan, Bila ketiadaan air bagi si mukim, baik yang sehat maupun yang yang sakit, dan dikhawirkan waktu shalat akan habis, maka boleh bertayammum untuk melaksanakan shalat, namun kemudian bila ada air wajib mengulang shalat. Menurut Abu Yusuf dan Zufar, “Tidak boleh bertayammum bagi si mukim, baik sedang sakit maupun takut akan habis waktu shalat. Menurut al-Hasan dan Atha’, Tidak boleh tayammum bagi orang sakit dan orang sehat bila ada air. (al-Qurthubi, V, t.t.: 218- 219).

Munculnya perbedaan pendapat ini karena mereka berbeda pemahaman dalam memahami ayat kebolehan tayammum. Malik dan

43

pengikutnya memahami bahwa Allah Ta’ala menyebutkan orang sakit dan orang yang dalam perjalanan lazimnya sulit mendapatkan air sebagai syarat boleh tayammum.. Sementara bagi si mukim lazimnya ada air. Oleh karena itu, tidak ada nash yang membolehkan tayammum bagi si mukim.

Maka setiap orang yang tidak mendapatkan air, atau terhalang memakai air, atau dikhawatirkan waktu akan habis, boleh bertayammum. Musafir bertayammum berdasarkan nash dan si mukim bertayammum berdasarkan makna nash. Begitu juga orang sakit bertayammum berdasarkan nash dan orang yang sehat bertayammum berdasarkan makna nash. Adapun yang melarang tayammum bagi si mukim memahami bahwa Allah memberikan rukhshah bertayammum hanya bagi orang sakit dan musafir, seperti rukhshah berbuka dan qashar shalat. Tidak boleh tayammum, kecuali dengan salah satu dari kedua syarat itu, yaitu sakit dan dalam perjalanan.

Bagi orang yang menetap dan sehat tidak boleh tayammum, karena keluar dari syarat yang ditentukan Allah Ta’ala. Sedangkan pendapat al-Hasan dan Atha’ yang melarang tayammum secara menyeluruh bila ada air memahami bahwa Allah mensyaratkan boleh tayammum bila ketiadaan air. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. اوـــمـمـيـتـف ءاـــم او دـــجـت مـــلـف Maka tidak boleh tayammum bagi seseorang, kecuali ketika ketiadaan air. (Al- Qurthubi, V, t.t.: 219).

Dalam menanggapi silang pendapat ini, penulis lebih cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahwa kebolehan bertayammum dalam ayat di atas harus dilihat dari segi ‘illat-nya. Karena menurut kaidah ushal fiqh yang berbunyi, ةـــلـعـلا عــم رو دـــي مـــكـحـلا ) Hukum itu selalu berkisar di sekitar ‘illat). Tidak ada ‘illat, tidak ada hukum. Dalam ayat ini disebutkan dua ‘illat hukum sebagai alasan boleh bertayammum. Pertama dalam kondisi sakit, kedua dalam bertayammum sebagai pengganti wudhuk. Yaitu sakit berat (parah) yang berbahaya atau bermudarat bila memakai air. Hal ini umumnya sifatnya, baik bagi orang yang menetap maupun bagi orang yang dalam perjalanan. Adapun kebolehan bertayammum bagi orang yang sedang junub adalah berdasarkan hadits.

‘Illat hukum kedua yang membolehkan tayammum ialah dalam perjalanan yang ketiadaan air, baik perjalanan jauh maupun perjalanan dekat. Musafir sering mengalami ketiadaan air dalam perjalanan apalagi di daerah Arab yang banyak melewati gurun pasir. Dengan demikian sangat wajar ada kemudahan bagi mereka. Adapun kebolehen bertayammum bagi orang yang menetap adalah berdasarkan ijtihad. Dalam hal ini terdapat ikhtilaf, sebagaimana dijelaskan di atas.

Kelanjutan ayat menyebutkan طـ ْــى اـــغـلا نـــم مـــكـنـم دـــحا ءاـــج وا. Menurut al-Qurthubi (V, t.t.: 230), Kata طـ ْــى أغـــلا itu berasal dari kata ضـــخـنا اـــم (Suatu tempat yang rendah). Orang Arab bermaksud mengucapkan ungkapan itu dengan pengertian tempat untuk buang hajat, karena tertutup dari

44

pandangan orang. Kotoran yang keluar dari manusia itu disebut dengan طـ ْـــى اــــغـلا. Al-Quran menggunakan kata ini untuk menyebut orang yang berhadats. Menurut al-Syaukani (I, 1964: 480), Masuk pada kata طـ ْــى اـــغـلا itu semua hadats yang membatalkan wudhuk.

Dalam konteks berkenaan dengan tayammum kata وا (atau) di sini dengan makna و (dan). Artinya, Jika kamu sakit atau dalam perjalanan dan salah seorang kamu buang kotoran …. maka bertayammumlah.

Berdasarkan ayat ini faktor penyebab yang membolehkan tayammum adalah berhadats, bukan sakit dan perjalanan. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan boleh tayammum bagi orang yang menetap, bila ketiadaan air (al-Qurthubi, V, t.t.: 220). Pendapat ini sejalan dengan pandangan al- Jashshash.

Lafazh aw (atau) dalam ayat di atas dengan makna wa (dan). Kalau kata و ا tersebut tidak dengan makna و tentu orang yang kembali dari buang air itu tergolong yang ketiga yang boleh tayammum di samping orang yang sakit dan orang yang sedang dalam perjalanan. Dalam hal ini tidak ada kewajiban thaharah bagi orang sakit dan orang dalam perjalanan terkait dengn hadats. Sudah dimaklumi bahwa orang sakit dan musafir tidak mesti tayammum kecuali bila berhadats (al-Jashshash, II, 1993: 519).

Kelanjutan ayat berbunyi ءاســـــنـلا مـــــتـسـملا وا. Terdapat perbedaan cara membaca bagi para qari berkenaan dengan lafazh متــــسـملا. Hal ini menjadi penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam memahami hukumnya.

Para qari seperti Nafi’, Ibnu Katsir, Abu ‘Amru, ‘Ashim, dan Ibnu

‘Amir membacanya dengan مـــــتـسـملا. Sedangkan Hamzah dan Kusa’i membacanya dengan مــــتـسـمـل. Ada yang berpendapat bahwa maksud kedua qiraat itu مـــتـسـملا dan مــــتـسـمـل berarti jima’ (bersenggama). Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengannya adalah mubasyarah secara umum. Ada pula yang berpendapat, maknanya ialah menghimpunkan dua hal sekaligus. Menurut al-Mubarrid, مــــــتـسـملا berarti mencium dan sebagainya, sedang مـتـمـل berarti menggauli (al-Syaukani, I, 1964: 470).

Terdapat pula perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai lafazh ةســـم لاــم sebagai salah satu yang menyebabkan berhadats atau tidak. Silang penapat ini sudah muncul sejak zaman para sahabat dan tabi’in dan berkelanjuan pada zaman fuqaha’.

Para ulama salaf berselisih pendapat mengenai makna ةــسم لاـــم yang disebutkan dalam ayat ini. Ali, Ibnu ‘Abbas, Abu Musa, al-Hasan, ‘Ubaid, dan Sya’bi berpendapat, Kata مــــتـسـملا adalah kinayah (kiasan) dari kata jima’. Mereka tidak mewajibkan berwudhuk bagi orang yang menyentuh isterinya. Sedangkan ‘Umar dan Abdullah bin Mas’ud berpendapat, Yang

45

dimaksud dengan ـــــــمـلا adalah menyentuh. Keduanya mewajibkan berwudhuk disebabkan menyentuh isterinya dan berpendapat bahwa orang junub tidak boleh tayammum. Para sahabat yang mentakwilkan ـــمـلا dengan makna jima’ tidak mewajibkan berwudhuk bagi orang yang menyentuh isterinya. Orang yang mengartikan ــــمـلا menyentuh dengan tangan mewajibkan berwudhuk bagi yang menyentuh isterinya dan tidak membolehkan tayammum bagi orang junub. (al-Jashshash, II, 1993: 519).

Sebagaimana terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama salaf berkenaan dengan hukum ةــسم لاـــم atau مـــلا begitu juga halnya di kalangan para fuqaha’.

Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, Zufar, al-Tsauri, dan Auza’i berpendapat, Tidak perlu berwudhuk bagi orang yang menyentuh isterinya, baik menyentuhnya karena dorongan syahwat atau tidak. Menurut Malik, Jika menyentuhnya disertai dengan syahwat dan lezat (nikmat), wajib berwudhuk. Begitu juga jika menyentuhnya beroleh kenikmatan, wajib berwudhuk. Beliau juga pernah mengatakan, Jika membelai rambutnya dengan perasan lezat, wajib berwudhuk. Menurut Hasan bin Shalih, Jika mencium isteri karena syahwat, wajib berwudhuk, tapi jika tidak dengan syahwat tidak wajib berwudhuk. Menurut al-Laits, Jika menyentuhnya di balik kain dan merasakan kelezatan, wajib berwudhuk. Menurut al-Syafi’i, Bila menyentuh tubuhnya, wajib berwudhuk, baik karena syahwat maupun tidak. (Al-Jashshash, I, 1993: 519). Menurut Malik ةســــم لاــــم dengan arti jima’ boleh tayammum, dan ةـــــسم لاـــــم dengan arti menyentuh dengan tangan boleh tayammum. Tapi jika menyentuh isteri dengan tidak ada syahwat tidak wajib berwudhuk. Pendapat ini juga yang diperpegangi oleh Ahmad dan Ishaq. (Al-Qurthubi, V, t.t.: 224). Menurut al-Syafi’i, Bila bahagian badan laki-laki menyentuh bahagian badan isterinya, baik menyentuhnya dngan tangan atau lainnya, batal wudhuknya. Pendapat ini berasal dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, al-Zuhri, dan Rabi’ah ( al-Syaukani, I, 1964: 470).

Dalam menanggapi pendapat yang bervariasi ini, penulis lebih cenderung kepada pendapat yang dikemukakan Imam al-Syafi’i dan yang sepaham dengannya. Karena ihtiyath (kehati-hatian). Pada hakikatnya lafazh ـــملا atau ةـــسم لاــــم itu maknanya adalah musyarakah (berserikat) padanan katanya adalah ةلــــع افــــم. Maka arti hakikatnya adalah bersentuh- sentuhan (jimak). Tapi untuk ihtiyath maka ـــملا dimaknai dengan menyentuh.

Kebolehan tayammum bagi orang yang berhadats disyaratkan oleh ayat dengan ءاـم اودـجـت مـلـف (tidak mendapat air).

Jika semua lafazh yang bermakna membatalkan wudhuk ini merujuk kepada lafazh sebelumnya, yang bermakna sakit dan dalam

46

perjalanan, buang air, dan menyentuh perempuan, menunjukkan bahwa sakit dan dalam perjalanan semata tidak termasuk kepada hal yang membolehkan tayammum, tapi tidak dapat tidak harus ada terpenuhi syaratnya, yaitu ketiadaan air. Dengan demikian bagi orang sakit tidak boleh tayammum, kecuali ia tidak mendapatkan air. Begitu juga bagi musafir tidak boleh tayammum, kecuali bila tidak mendapatkan air (al- Syaukani, I, 1964: 471)

Dengan memperhatikan penafsiran ayat di aas oleh sementara ulama dapat dipahami boleh bertayammum bagi orang yang dalam keadaan berhadats krcil sebagai pengganti wudhuk dengan syarat bila ketiadaan air. Sedangkan bagi yang dalam keadaan berhahadats besar dalam perjalanan yang ketiadaan air boleh bertayammum berdasarkan hadits.

Objek yang dijadikan untuk tayammum adalah bumi ini. Di dalam ayat dikatakan ابـــيـط دـــيـعص. Menurut para ahli bahasa seperti al-Khalil, Ibnu al-A’rabi, dan al-Zujaj, artinya ialah permukaan bumi, baik ada tanahnya mupun tidak. Sementara para fuqaha’ berbeda pendapat tentang objek yang dijadikan alat untuK tayammum. Menurut Abu Hanifah, Malik, al- Tsauri, dan al-Thabari, Dibolehkan permukaan bumi dijadikan alat untuk tayammum, baik tanah, pasir, maupun bebatuan.

BAB IV

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 39-46)