• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITAN

G. Teknik Keabsahan Data

Keabsahan data digunakan untuk mengecek kebenaran atas temuan hasil penelitian dengan fakta dilapangan. Pengabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data triangulasi. Triangulasi bermakna melakukan pengecekan (pemeriksaan) akan kebenaran data (keterangan/ informasi) dengan beragam sumber, beragam cara atau metode serta beragam waktu. Menurut Sugiyono (2016) adaberbagai trigulasi antara lain:

1. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber yaitu pengecekan/ pemeriksaaan data (keterangan/

informasi) yang dikerjakan dengan memeriksa data yang sudah didapatkan melalui beragai sumber yang sudah ditetapkan oleh peneliti (periset) dimana dalam penetapannya berdasarkan hubungan penelitian.

2. Triangulasi teknik

Triangulasi teknik yaitu pengecekan/pemeriksaaan data (keterangan/

informasi) yang dikerjakan dengan memeriksa data kepada satu sumber dengan menggunakan teknik (metode) yang berberda. Teknik yang dimaksudkan yakni observasi, wawancara, serta dokumentasi.

3. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu yaitu pengecekan/pemeriksaaan data (keterangan/

informasi) yang dikerjakan dengan menggunakan teknik (metode) wawancara, observasi diberbagai waktu atau keadaan (kondisi) yang berbeda. Jika hasil pemeriksaan berubah atau tidak tetap, maka dikerjakan dengan berulang-ulang hingga didapatkan kejelasan datanya.

28 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis menjelaskan tentang gambaran umum Provinsi Sulawesi Barat, susunan organisasi dan tata kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat, jenis-jenis bencana yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat, serta hasil penelitian dan pembahasan.

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Profil Provinsi Sulawesi Barat

Sulawesi Barat (Sulbar) adalah provinsi ke-33 dalam Negara Republik Indonesia yang dibentuk pada tahun 2004. Letak Sulawesi Barat di Pulau Sulawesi dengan garis lintang 00˚45’59’’-03˚34’00 Lintang Selatan dan 118˚48’59’’- 119˚55’06’’ Bujur Timur. Perbatasan wilayah Sulawesi Barat yaitu Sulawesi Tengah di bagian Utara, Sulawesi Selatan di bagian Timur dan Selatan dan Selat Makassar di bagian Barat. Pada tahun 2021, penduduk Sulawesi Barat berjumlah 1.419.229 jiwa dengan kepadatan 85,00 jiwa/km2.

Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat merupakan hasil pemerekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan yang didasarkan pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004 yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2004. Ibukota Provinsi Sulawesi Barat adalah Kabupaten Mamuju. Sulawesi Barat memiliki daratan dengan luas 16.937, 16 km2 dan lautan dengan luas 20.342 km2 serta pesisir pandai sepanjang 677 km. Jumlah kecamatan di Sulawesi Barat sebanyak 69 dengan jumlah desa/kelurahan sebanyak 649.

2. SejarahProvinsi Sulawesi Barat a. Pra-kemerdekaan

Pada masa penjajahan, wilayah Celebes Bagian Barat adalah bagian dari 7 wilayah pemerintahan yang dikenal denganm nama Afdeling Mandar yang meliputi empat onder afdeling, yaitu :

1) Onder Afdeling Majene beribukota Majene 2) Onder Afdeling Mamuju beribukota Mamuju 3) Onder Afdeling Polewali beribukota Polewali 4) Onder Afdeling Mamasa beribukota Mamasa

Onder Afdeling Majene, Mamuju dan Polewali yang terletak di sepanjang garis pantai barat pulau celebes mencakup 7 wilayah kerajaan (Kesatuan Hukum Adat) yang dikenal dengan nama Pitu Ba’bana Binanga (Tujuh Kerajaan di Muara Sungai) yang meliputi :

1) Balanipa di Onder Afdeling Polewali (dipimpin oleh Ambo Caca Daeng Magasing)

2) Binuang di onder Afdeling Polewali 3) Sedana di Onder Afdeling Majene

4) Banggae/ Majene di Onder Afdeling Majene 5) Pamboang Di Onder Afdeling Majene

6) Mamuju di Onder Afdeling Mamuju 7) Tappalang di Onder Afdeling mamuju.

b. Pasca-Kemerdekaan

Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat telah diperjuangkan sejak tahun 1962. Pada masa itu di pulau Sulawesi terdapat tiga Provinsi yakni Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Tengah dan provinsi Sulawesi Utara. Namun, pada tahun 1963 usulan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat tidak disetujui oleh pemerintah pusat karena beberapa alasan. Sebagai gantinya, pemerintah memekarkan Sulawesi bagian Selatan menjadi Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Perjuangan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat kembali menemukan momentumnya pada tahun 1999 pasca-reformasi. Terbentuknya beberapa provinsi baru di Indonesia seperti Provinsi Banten, Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Gorontalo menjadi api penyulut perjuangan semesta rakyat untuk membentuk Provinsi Sulawesi Barat. Perjuangan panjang pembentukan Provinsi Sulawesi barat akhirnya terwujud melaui UU No.26 Tahun 2004 tentang Undang-Undang Pembentukan Daerah Otonomi Baru pada tanggal 5 Oktober 2004.

3. Pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat

Adapun daftar Gubernur Sulawesi Barat dari masa ke masa sejak Tahun 2006 sebagai berikut:

Tabel 4.1 Gubernur Sulawesi Barat No. Gubernur Mulai

Mejabat

Akhir Menjabat

Wakil Gubernur Priode 1. Anwar

Adnan Saleh

14 Desember 2006

14 Desember 2011

14 Desember 2011

14 Desember 2016

Muhammad Amri Sanusi

Aladin S. Mengga

1 (2006) 2 (2011) 2. Ali Baal

Masdar

12 Mei 2017 Pertahanan Enny Anggraeny Anwar

3 (2017)

Berikut daftar pejabat dan pelaksana tugas Gubernur yang menggantikan Gubernur pertahanan yang sedang cuti kampanye atau dalam masa transisi.

Tabel 4.2 Daftar Pejabat dan Pelaksana Tugas Gubernur No. Pelaksana Tugas

Gubernur

Mulai Jabatan Akhir Jabatan 1. Oentarto Sindung

Mawardi (Pejabat)

16 Oktober 2004 21 Oktober 2005 2. Syamsul Arif Rivai

(Pejabat)

21 Oktober 2005 14 Desember 2006 3. Ismail Zainuddin

(Pelaksana Harian)

14 Desember 2016 30 Desember 2016 4. Carlo Brix Tewu

(Penjabat)

30 Desember 2016 12 Mei 2017

Dewan perwakilan DPRD Sulawesi Barat beranggotakan 45 orang dipilih melalui pemelihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Sulawesi Barat terdiri dari 1 (satu) dan 3 (tiga) Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Sulawesi Barat yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 26 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Makassar di Gedung DPRD Sulawesi Barat.

Komposisi anggota DPRD Sulawesi Barat periode 2019-2024 terdiri dari 10 partai politik dimana Partai Demokrasi adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 9 kursi disusul oleh Partai Golkar yang meraih 8 kursi serta PDI Perjuangan dan Partai Nasdem yang masing-masing meraih 6 kursi.

4. Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulawesi Barat

Adapun daftar Kabupaten dan Kota di Sulawesi Barat sebagai berikut:

Tabel 4.2 Kabupaten dan Kota di Provinsi Sulawesi Barat No. Kabupaten

/Kota

Pusat Pemerintahan

Luas Wilayah

Jumlah Penduduk

Keca- matan

Kelurahan/

Desa 1. Kabutaten

Majene

Banggae 947,84 166.505 8 20/62

2. Kabupaten Mamasa

Mamasa 3.005,88 203.599 17 13/168

3. Kabupaten Mamuju

Mamuju 3.973,07 110.593 6 4/62

4. Kabupaten Mamuju Tengah

Tobadak 3.014,37 142.913 5 -/54

5. Kabupaten Pasangkayu

Pasangkayu 3.043,75 208.325 12 4/59 6. Kabupaten

Polewali Mandar

Polewali 1.755,65 517.677 16 23/144

5. Visi dan Misi Provinsi Sulawesi Barat VISI : Sulawesi Barat Maju dan Malaqbiq MISI :

a. Membangun Sumber Daya Manusia berkualitas berkepribadian dan berbudaya.

b. Mewujudkan pemerintah bersih, modern dan terpercaya.

c. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inovastif dan berdaya saing.

d. Mengarus mengutamakan lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan.

B. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat

1. Ketentuan Umum

a. Pemerintah adalah pemerintah pusat.

b. Daerah adalah Provinsi Sulawesi Barat.

c. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

d. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam system dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaiman dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

e. Gubernur adalah Gubernur Sulawesi Barat.

f. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Barat yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Barat.

g. Lembaga lain adalah lembaga yang dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan sebagai pelaksanaan peraturan perundang-undangan.

h. Kabupaten adalah Kabupaten di lingkup Provinsi Sulawesi Barat.

i. Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut BNPB adalah Lembaga Pemerintah Non Kementrian yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

j. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Barat yang selanjutnya disebut BPBD adalah Perangkat Daerah yang dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi untuk melaksanakan penanggulangan bencana.

k. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Barat yang selanjutnya disebut BPBD adalah Perangkat Daerah yang dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi untuk melaksanakan penanggulangan bencana.

l. Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah yang selanjutnya disebut Pelaksana BPBD adalah bagiaan dari Perangkat Daerah yang yang merupakan lembaga untuk mendukung pelaksana tugas dan fungsi BPBD.

m. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkaan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maaupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban manusia, kerusakaan lingkungaan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

n. Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.

o. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemik, dan wabah penyakit.

p. Bencana Sosial adalah yang diakibaatkan oleh peristiwa atau seraangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia antara lain berupa konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror.

q. Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi.

r. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.

2. Tugas dan Fungsi

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 16 Tahun 2010 tentang uraian tugas pokok dan fungsi organisasi dan tata kerja lembaga lain sebagai bagian dari Perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Barat dan Peraturan Provinsi Sulawesi Barat Nomor 6 tahun 2016 tentang pembentukan dan susunan Perangkat Daerah Sulawesi Barat (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2016 Nomor 6 Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 79, maka unsur pelaksana BPBD yang termuat pada Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 16 Tahun 2010 Tentang Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Lain sebagai bagian dari perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Barat.

Tugas pokok unsur pelaksana BPBD adalah merumuskan, menetapkan, memimpin, menkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan tugas dan fungsi.

Rincian tugas unsur pelaksana BPBD:

a. Menyelenggarakan, memimpin, membina dan mengendalikan pelaksanaan tugas pokokdan fungsi BPBD.

b. Menyelenggarakan penetapan kebijakan teknis BPBD sesuai dengan kebijakan umum Pemerintah Daerah.

c. Menyelenggaraan perumusan dan penetapan pemberian dukungan tugas atas penyelenggaraan pemerintah daerah bidang penanggulangan bencana daerah.

d. Menyelenggarakan penetapan program kerja dan rencana pembangunan penanggulangan.

e. Menyenggarakan fasilitas yang berkaitan dengan penyelenggaraan program kesekretariatan, pencegahan, dan kesiapsiagaan, kedaruratan dan logistik, serta rehabilitas dan konstruksi.

f. Menyelenggarakan koordinasi dan kerjasama dengan instansi pemerintah, swasta dan lembaga terkait lainnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana daerah.

g. Menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana strategis dan LAKIP, LKPJ, LPPD, pelakasanaan tugas-tugas teknis serta evaluasi dan pelaporan yang meliputi, kesekretariatan, pencegahan dan kesiapsiagaan, kedaruratan dan logistik serta rehabilitasi dan konstruksi.

h. Menyelenggarakan koordinasi kegiatan teknis di bidang penanggulangan bencana.

i. Menyelenggarakan koordinasi dan pembinaan UPTB.

j. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

k. Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana yang dimaksud, unsur pelaksana BPBD mempunyai fungsi:

a. Penyelenggaraan, perumusan dan penetapan kebijakan teknis pada BPBD yang meliputi kesekretariatan, pencegahan dan kesiapsiagaan, kedaruratan, dann logistik serta rehabilitas dan konstruksi.

b. Perumusan dan penetapan atas penyelenggaraan pemerintah daerah bidang penaggulangan bencana.

c. Penyelenggaraan fasilitas dan pengendalian pelaksanaan tugas-tugas dibidang penanggulangan bencana daerah.

d. Penyelenggaraan koordinasi dan kerja sama dalam rangka tugas pokok dan fungsi BPBD.

e. Penyelenggaraan koodinasi dan pembinaan UPTD.

3. Unsur Pelaksana BPBD a. Kepala Pelaksana

Kepala pelaksana yang mempunyai tugas pokok membantu kepala BPBD dalam hal menyelengarakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di Bidang Penanggulangan Bencana Daerah untuk menyelengarakan tugas sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), kepala pelaksana mempunyai fungsi:

1) Pengordinasian pelaksana kegiatan,

2) Pengelolaan urusan umum dan administrasi kepegawaian,

3) Pengelolaan keuangan,

4) Pengordinasian dan penyusanan program serta pengeloaan dan penyajian data,

5) Pengelolaan dan pembinaan organisasi dan tatalaksana, dan 6) Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan pimpinan.

b. Sekretariat

Sekretariat mempunyai tugas pokok menyelenggarakan penyiapan perumusaan kebijakan teknis, pembinaan, pengordinasian pelayanan administrasi dan pelaksana dibidang program, keuangan, umum dan kepegawaian. Dalam melaksanakan tugas pokoknya sekretariat mempunyai fungsi:

1) Penyiapan barang, perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengordinasian, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang program.

2) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengordinasian, pelayanan administrasi, dan pelaksanaan di bidang keuangan.

3) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pembinaan, pengordinasian, pelayanan administrassi, pelaksanaan di bidang umum dan kepegawaian.

4) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh unsur pelaksana BPBD sesuai dengan tugas dan fungsinya.

5) Mengumpulkan bahan daan data dalam rangka penyusunan laporan akuntabilitaas kinerja instansi pemerintah (LKIP) BPBD.

6) Melaksanakan penyusunan laporan akuntabilitas kerja instansi pemerintah (LKIP) BPBD.

7) Melaksanakan penyusunan, pengelolaan program, data dan evaluasi kegiatan.

8) Melaksanakan penyusunan laporan hasil pelaksanaan program dan kegiatan.

9) Melaksanakan kordinasi dan konsultasi terhadap intansi terkait.

10) Melaksanakan penyusunan hasil pelaksanaan kegiatan.

11) Melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh pimpinan.

Sekretariat terdiri dari Sub Bagian Program Data dan Evaluasi, Sub bagian Keuangan, Sub Kepegawaian dan Umum.

c. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan

Dalam pencegahan dan kesiapsiagaan mempunyai tugas menyelenggarakan fasilitasi, pengkajian, pengorganisasian, perumusan kebijakan teknis, pembinaan, dan pelaksanaan dibidang pencegahan dan kesiapsiagaan bencana. Dalam melaksanakan tugas pokoknya, bidang pencegahan dan kesiapsiagaan mempunyai fungsi:

1) Penyelenggaraan fasilitas pengkaji bahan kebijakan , strategi dan program pencegahan dan kesiapsiagaan.

2) Penyelenggaraan fasilitas penyusunan data tentang daerah-daerah rawan bencana.

3) Penyelenggaraan pengklasifikasian jenis bencana ada data daerah rawan bencana.

4) Penyelenggaraan fasilitas pengorganisasian dan pelaksanaaan program pencegahan dan kesiapsiagaaan terhadap bencana.

Rincian tugas bidang pencegahan dan kesiapsiagaan:

1) Menyelenggarakan program kerja bidang pencegahan dan kesiapsiagaan, 2) Menyelenggarakan fasilitas pengkaji bahan kebijakan, strategi, dan

program kesiapsiagaan.

3) Menyelenggarakan fasilitas penyusunan kriteria dan prosedur pelaksanaan pencegahan dan kesiapsiagaan.

4) Penyelenggaraan fasilitas pengorganisasian dan pelaksanaan program bimbingan pencegahan dan kesiapsiagaan.

5) Penyelenggaraan fasilitasi pemantauan, evaluasi dan pelaporan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan.

6) Menyelenggarakan koordinasi dengan bahan koordinasi dan pembangunan dalam melaksanakan kegiatan di Kabupaten/ Kota.

7) Menyelengarakan telahan staf sebagai bahan pertimbangan pengembalian kebijakan.

8) Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiatan bidang pencegahan.

9) Menyelenggarakan koordinasi dengan unit terkait.

10) Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

11) Bidang pencegahan dan kesiapsiagaan terdiri seksi pencegahan dan kesiapsiagaan.

d. Bidang Kedaruratan dan Logistik

Bidang kedaruratan dan logistik mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang penyelamatan, evaluasi dan penanganan pengungsi serta penyediaan sarana dan prasarana darurat. Dalam melaksanakan tugas pokoknya, bidang kedaruratan dan logistik mempunyai fungsi:

1) Penyelenggaraan fasilitas pengkajian bahan kebijakan, strategi dan program logistik.

2) Penyelenggaraan dan fasilitas penyusunan data tentang kedaruratan dan logistik.

3) Penyelenggaraan pengklasifikasian jenis kedaruratan dan logistik.

4) Penyelenggaraan dan fasilitasi pengorganisasian dalam pelaksanaan kedaruratan dan logistik.

Rincian tugas bidang kedaruratan dan logistik:

1) Menyelenggarakan pengkajian program kerja bidang kedaruratan dan logistik.

2) Menyelenggarakan fasilitasi pengkajian bahan kebijakan, strategi dan program kedaruratan dan logistik.

3) Menyelenggarakan penyusunan kriteria dan prosedur melaksanakan kedaruratan dan logistik.

4) Menyelenggarakan fasilitasi pengorganisasian pelaksanaan program, bimbingan teknis pelaksanaan kedaruratan dan logistik

5) Menyelenggarakan fasilitas pemantauan evaluasi, dan pelaporan kegiatan kedaruratan dan logistik.

6) Menyelenggarakan koordinasi dengan badan koordinasi pemerintah wilayah dalam melaksanakan kegiatan dikabupaten/kota.

7) Menyelenggarakan telahan staf sebagai bahan pertimbangan kebijakan.

8) Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiatan bidang kedaruratan dan logistik.

9) Menyelenggarakan koordinasi dengan unit terkait.

10) Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

11) Bidang kedaruratan dan logistik terdiri dari seksi kedaruratan dan seksi logistik.

e. Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Bidang rehabilitasi dan rekonstruksi mempunyai tugas penyimpangan perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan dibidang hrehabilitasi dan rekonstruksi. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidang rehabilitasi dan rekonstruksi mempunyai fungsi:

1) Penyelenggaraan fasilitas pengkajian bahan kebijakan, strategi dan program rehabilitasi dan rekonstruksi.

2) Penyelenggaraan fasilitas penyusanan data tentang rehabilitasi dan rekonstruksi.

3) Penyelenggaraan pengklasifikasian jenis rehabilitasi dan rekonstruksi.

4) Penyelenggaraan fasilitas pengorganisasian dan pelaksanaan program dan rekonstruksi.

Rincian tugas rehabilitas dan rekonstruksi:

1) Menyelenggarakan pengkajian program kerja bidang rehabilitasi dan rekonstruksi.

2) Menyelenggarakan fasilitasi pengkajian bahan kebijakan, strategi dan program rehabilitasi dan rekonstruksi.

3) Menyelenggarakan fasilitasi penyusunan kriteria dan prosedur pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi.

4) Menyelenggarakan fasilitasi pengorganisasian dan pelaksanaan program, bimbingan teknis pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi .

5) Menyelenggarakan fasilitasi pemantauan, evaluasi dan pelaporan kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi.

6) Menyelenggarakan koordinasi dengan badan koodinasi pemerintah dan pembangunan wilayah dalam melaksanakan kegiatan di kabpaten/kota.

7) Menyelenggarakan telahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan.

8) Menyelenggarakan pelaporan dan evaluasi kegiaatan bidang rehabilitasi dan rekonstruksi.

9) Menyelenggarakan koordinasi dengan unit kerja terkait.

10) Menyelenggarakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

11) Bidang rehabilitasi dan rekonstruksi terdiri dari seksi rehabilitasi dan seksi rekonstruksi.

4. Susunan Organisasi

Adapun Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat dapat disajikan sebagai berikut:

a. Kepala : Dr. Muhammad Idris

b. Kepala Pelaksana : Amri Ekasakti, ST

c. Sekretaris : Drs. Salaluddin

1) Sub Bagian Program Data dan Evaluasi : Muhammad Nurdin, SE 2) Sub Bagian Keuangan : Lelyana, SE., MM 3) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian : Muhammad Hamzah, SE d. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan : Muhammad Salil, SE., M.Si

1) Seksi Pencegahan : Inaldi LS Si’lang, ST., M.Han

2) Seksi Kesiapsiagaan : Abdullah Fattah, S.Sos e. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik : Rahmat Barawaja K, SE.,

MM

1) Seksi Kedaruratan : Syafaruddin, S.Sos.,MAP

2) Seksi Logistik : Herman, S.Sos., MM

f. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi : H. Hamzah, BSc., S.Sos., MAP AK

1) Seksi Rehabilitasi : Saparuddin, SE

2) Seksi Rekonstruksi : Felix Rombe, ST

g. Arsiparis Ahli Pertama : Jufri, S.Sos., MM

Adapun Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat dapat disajikan sebagai berikut:

Sub Bagian Program Data dan Evaluasi Muhammad Nurdin, SE

Sub Bagian Keuangan Lelyana, SE., MM

Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Muhammad Hamzah, SE

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan

Muhammad Salil, SE., M.Si

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik

Rahmad Barawaja, SE., MM

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekontruksi H. Hamzah, BSc., S.Sos.,

MAP AK Unsur Pengarah

- Instansi

- Professional/Ahli

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Barat

Kepala Dr. Muhammad Idris

Unsur Pelaksana Kepala Pelaksana BPBD

Amri Ekasakti, ST

Sekretaris Drs. Salaluddin

Kelompok Jabatan Fungsional Seksi Inaldi LS Si’lang,

Pencegahan ST., M.Han Seksi Abdullah Fattah, Kesiapsiagaan S.Sos

Kelompok Jabatan Fungsional Seksi Syafaruddin, Kedaruratan S.Sos., MAP Seksi Herman¸ S.Sos., Logistik MM

Kelompok Jabatan Fungsional Arsiparis Ahli Jufri, S.Sos., MM Pertama

Kelompok Jabatan Fungsional Seksi Saparuddin, SE Rehabilitasi

Seksi Felix Rombe, ST Rekonstruksi

Dokumen terkait