• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan dan Pengelolaan Data

Dalam dokumen DARI PANDANGAN IMAM SYAFI’I (Halaman 49-100)

BAB III METODE PENELITIAN

E. Teknik Pengumpulan dan Pengelolaan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan data. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data antra lain:

1. Observasi

Teknik observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan yang handal dalam penelitian analisis percakapan. Teknik observasi dimaksudkan untuk menjaring original action maupun original interaction dari lapangan. Obsevasi ini dapat dilakukan peneliti secara langsung dengan memanfaatkan indra-indranya untuk menjaring data sebanyak dan sevariatif mungkin.42 Jadi peneliti disini mengamati penerapan sistem bagi hasil yag dilakukan pada Nelayan dan Pemilik Bagang di Desa Bojo kecamatan Mallusetasi.

2. Wawancara

Metode wawancara mencakup cara yang dipergunakan untuk mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap- cakap berhadapan muka dengan orang itu. Wawancara dalam suatu penelitian yang bertujuan mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat serta pendirian-pendirian mereka.43 Data penelitian ini peneliti melakukan wawancara dengan Nelayan dan pemilik bagan terkait dengan sistem bagi hasil menggunakan akad mudharabah.

42Siti Kholifah dan I Wayan Suyadnya, Metodologi Penelitian Kualitatif Berbagi Pengalaman dari Lapangan, (Depok: Rajawali Pers, 2018), h. 89.

43 Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994), h. 98.

3. Dokumentasi

Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. Hasil observasi atau wawancara akan lebih kredibel/dapat dipercaya kalau didukung oleh dokumen yang terkait dengan fokus penelitian. 44 Dalam hal ini peneliti mengumpulkan dokumen-dokumen terkait dengan permasalahan yang di teliti.

F. Uji Keabsahan Data

Keabsahan data adalah data yang tidak berbeda antara data yang diperoleh peneliti dengan data yang terjadi sesungguhnya pada objek penelitian sehingga keabsahan data yang disajikan dapat dipertanggung jawabkan. Uji keabsahan data dalam penelitian ini meliputi uji credibility, transferability, dependability, dan confirmability.

1. Kredibilitas (Credibility).

Kriteria kredibilitas melibatkan penetapan hasil penelitian kualitatif adalah kredibel atau dapat dipercaya dari perspektif partisipan dalam penelitian tersebut.

Karena dari perspektif ini tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mendeskripsikan atau memahami fenomena yang menarik perhatian dari sudut pandang partisipan.

Partisipan adalah satu-satunya orang yang dapat menilai secara sah kredibilitas hasil penelitian tersebut.

44 Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: ALFABETA, 2017), h. 55.

2. Tranferabilitas (Transferability).

Kriteria transferabilitas merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif dapat digeneralisasikan atau ditransfer kepada konteks atau seting yang lain.

Dari sebuah perspektif kualitatif transferabilitas adalah tanggung jawab seseorang dalam melakukan generalisasi. Penelitian kualitatif dapat meningkatkan transferabilitas dengan melakukan suatu pekerjaan mendeskripsikan konteks penelitian dan asumsi-asumsi yang menjadi sentral pada penelitian tersebut.

3. Dependabilitas (Dependability).

Kriteria dependabilitas sama dengan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif.

Panndangan kuantitatif tradisional tentang reliabilitas didasarkan pada asumsi replikabilitas (replicability) atau keterulangan (repeatability) secara esensial itu berhubungan dengan apakah kita akan memperoleh hasil yang sama jika kita melakukan pengamatan yang sama untuk kali yang kedua. Akan tetapi, secara aktual kita tidak dapat melakukan sesuatu yang sama (dua kali) dengan definisi jika kita melakukan pengukuran dua kali sebenarnya kita mengukur dua hal yang berbeda.

4. Konfirmabilitas (Comfirmability).

Penelitian kualitatif cenderung berasumsi bahwa setiap peneliti membawa perspektif yang unik ke dalam penelitian. Kriteria konfirmabilitas atau objektifitas merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian dapat dikonfirmasikan oleh orang lain.45

45 Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h.

59.

G. Teknik Analisis Data

Analisis adalah suatu usaha untuk mengurai suatu masalah atau fokus kajian menjadi bagian-bagian sehingga susunan/tatanan bentuk sesuatu yang diurai tampak dengan jelas dan karenanya bisa secara lebih terang ditangkap maknanya atau lebih jernih dimengerti duduk perkarangan. Data kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandaskan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mesintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.46 Dalam rangka menjawab rumusan masalah yang ditetapkan penulis maka analisis data yang menjadi acuan dalam penelitian ini mengacu pada beberapa tahapan yang dijelaskan Miles dan Huberman. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Sebagaimana dimaklumi, ketika peneliti mulai melakukan penelitian tentu saja akan mendapatkan data yang banyak dan relatif beragam dan bahkan sangat rumit. Itu sebabnya, perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data. Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang terperinci. Laporan yang disusun berdasarkan data yang diperoleh direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting.

2. Penyajian Data

Langkah selanjutnya sesudah mereduksi data adalah menyajikan data. Teknik penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dalam berbagai bentuk

46 Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: ALFABETA, 2017), h. 67.

seperti tabel, grafik dan sejenisnya. Lebih dari itu, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya.

3. Verification (Verifikasi)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti yang dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada di lapangan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Bentuk Akad dalam sistem Bagi Hasil Nelayan Dan Pemilik Bagang di Desa Bojo

Hasil penelitian merupakan data yang diperoleh dari lapangan yang mana data tersebut diperoleh dengan cara wawancara kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan penelitian yang dilakukan, diantaranya para Nelayan. Untuk mendapatkan hasil bagaimana praktek Mudharabah yang terjadi di Desa Bojo peneliti mendapatkan beberapa hasil wawancara terhadap pelaku akad didaerah tersebut yaitu dengan narasumber utama dan beberapa pemilik Bagang. Dijelaskan bagaimana sistem pembagian upah Nelayan, yang terjadi di Desa Bojo.

Bentuk akad atau kerjasama yang dilakukan oleh pemilik bagang dan nelayan yaitu perjanjian secara lisan tanpa adanya perjanjian tertulis, perjanjian secara tertulis berdasarkan tradisi turun temurun bahasa yang mereka gunakan dalam melakukan perjanjian adalah bahasa yang mudah di pahami oleh keduanya, karena itu tidak ada persyaratan melainkan sesuai dengan kebiasaan yang telah dikenal dan berlaku di kalangan masyarakat.

Bentuk akad dengan lafadz atau perkatan yang digunakan oleh pemilik bagang dan nelyan di Desa Bojo pada saat melakukan perjanjian bagi hasil . Terjadinya kesepakatan antara pemilik bagang dan nelayan di desa Bojo, maka keduanya telah terikat dalam akad tersebut, dalam pelaksanaanya setelah pembuatan akad, pemilik bagang menjelaskan perjanjian sebelum turun melaut secara lisan.

Bapak Modding selaku pemilik Bagang menjelaskan perjanjian dan pembagian upah kepada nelayan. Di jelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 198

ۡۚۡمُكِِّب َّر نِِّم الا ۡضَف ْاوُغَتۡبَت نَأ ٌحاَنُج ۡمُكۡيَلَع َسۡيَل Terjemahannya: Tidak ada dosa bagimu untukmencarikarunia ( rezki hasil

perniagaan) dari tuhanmu (QS. Al-Baqarah: 198)47

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada dosa bagi kalian untuk mencar rezeki dari Allah SWT dengan mengambil keuntungan.

Sistem bagi hasil nelayan dan pemilik bagang di Desa Bojo melibatkan dua pihak yaitu nelayan dan pemilik bagang, masyarakat Desa Bojo khususnya daerah pesisir pantai sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan, nelayan terbagi menjadi dua yaitu nelayan buruh dan nelayan juragan, atau biasa di sebut punggawa, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Alang yang berprofesi sebagai nelayan bahwa:

“Kalau disini dek nelayan itu ada dua jenis yaitu nelayan seperti saya yang ikut saja melaut, dan satu lagi punggawanya nelayan e, yang pimpin i semua nelayan kalau pergi ma’bagang, biasanya yang berprofesi sebagai nelayan itu lebih banyak di banding punggawa atau pimpinan bagang"48

Nelayan di Desa Bojo menurut hasil wawancara masyarakat sekitar ternyata ada dua jenis buruh nelayan yaitu buruh nelayan yang hanya bekerja sebagai buruh, dan nelayan yang memimpin para buruh nelayan.

Hal yang sama diungkapkan oleh Jabir yang berprofesi sebagai nelayan bahwa:

"Kalau punggawanya itu nelayan'e biasanya orang yang di percaya sama yang punya bagang, punggawanya nelayan' e ceritanya pimpin nelayan lain' e, nah ini merupakan orang kepercayaan pemilik bagang, jika pemilik bagang tidak ikut serta dan ini sering dilakukan, karna akhir akhir ini pemilik bagang hanya menyerahkan alat tangkap dll, dan diserahkan kepada orang kepercayaannya"49

47Hafidz Abi Abdillah Muhammad ibn Yazid Al-Qazwini, sunanIbnuMajahjilid 2, DarulFikri, 207-275 M, h. 768.

48Alang, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

49Jabir, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

Juragan adalah orang yang membawa kapal, juragan merupakan orang yang dipercayai oleh pemilik bagang, yang bertugas umtuk megontrol anak buah kapal selain itu juga juragan inijuga yang menentukan bagi hasil perhari anak buah kapal, Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Aril yang berprofesi sebagai nelayan bahwa:

“Bagang yang ku ikuti itu sekitar 8 orangka sama juragan, begitupun bagang lain, juragan itu orang kepercayaannya punggawa’e dia yang disuruh bawa kapal dan juragan mi juga yang tentukan berapa pembagiannya kalau ada di dapat ikan, dia yang tau semua di atas kapal, bagaimana sistem pembagiannya"50

Adapun pendapat Alang selaku Nelayan bahwa:

"Kalau di Bojo itu dek rata rata 8 orang ji biasa jarang sekali itu yang melebihi 10 orang, biasaji kalau musimnya memang, seperti itu kalau naik ikan kecil, biasa juga naik ikan tuna, kalau ikan tuna mi yang naik biasa itu banyak di dapat pembagian nya, karna ikan tuna mahal di pasaran, apalagi di daerah bojo terkenal dengan usaha Abon nya, jadi klau ikan tuna itu naik biasa itu cepat terjual, kah memang biasanya orang bojo ji yang belli ,nah disitu ji biasa lebih dari 8 orang yang ikut ma Bagang, dalam satu bagang, karna ukuran bagangnya memang kecil ji, klau sedikit Jeki cepat juga ta bagi saro'e nah yang bagi itu biasanya punggawa'e, orang yang dipercaya sama yang punya bagang"51

Nelayan Bagang di Desa bojo berusia sekitar 15-60 tahun, nelayan yang masi usia muda ini adalah anak yang putus sekolah atau yang telah tamat disekolah tidak melanjutkan sekolah karena terhalang oleh biaya dan akhirnya memilih untuk menjadi nelayan bagang.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Jabir bahwa:

"Rata-rata itu yang ikut ma Bagang, biasanya anak yang berenti'e mi sekolah, yang laki laki sebagian besar itu, karna kalau ma bagang tenaga ji memang di butuhkan, jadi anak anak muda biasa itu banyak yang ikut.52

50Aril, Nelayan, wawancara di Bojo, 14 Desember 2021.

51Alang, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

52Jabir, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

Adapun pendapat Aril bahwa:

"Seperti mi saya ini Masi dibawah 20 umurku, mau meka 3 tahun ikut ma Bagang, rata rata seumuran ku yang banyak ikut, karna tugas ta itu ma tarik jaring, jadi tenaga sama fisik memang harus kuat"53

Nelayan bagang di Desa Bojo mayoritas berusia 20 tahun.

1. Bentuk Perjanjian

Perjanjian merupakan salah satu cara untuk membantu manusia agar dapat berinteraksi dengan yang lainnya dengan baik. Dalam perjanjian terdapat suatu kesepakatan antara kedua belah pihak yang telah mengikat keduanya. Maka, suatu perjanjian itu suatu kesepakatan yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai tujuan bersama dari sinilah akan timbul rasa kebersamaan antara manusia.

Hal ini dapat dilihat dari pendapat Modding yang merupakan salah satu pemilik bagang di Desa Bojo.

“Perjanjian dengan nelayan itu dengan lisan, awalnya nelayan pergi kerumah untuk bermohon ikut menjadi nelayan, biasanya kalau kurang nelayan atau faktor cuaca tidak bagus, saya terima beberapa orang saja, mengenai pembagian upahnya atau pembagiannya rata rata natau semuami jdi tidak perlu ka ji jelaskan sama nelayan, saya ku arahkan saja sisanya itu ku serahkan sama orang kepercayaanku, untuk pembagiannya itu 50:50 dan ini bisa berubah tergantung dari cuaca"54

Pemilik bagang ternyata hanya memberikan arahan kepada buruh elayan sebelum turun melaut, dengan menjelaskan kepada nelayan mengenai sistem bagi hasil dan pembagiannya tergantung dari cuaca di hari itu.

Adapun pendapat Aril yang berprofesi sebagai nelayan :

“Itu dia bentuk kerjasamanya lisan, pergikito ketemu sama yang punya bagang bilang mauki ikut ma bagang kalau ada lowongan yah oke klau tidak yah maumi di apa, jarangji tidak diterima Ki"55

Adapun pendapat Alang bahwa:

53Aril, Nelayan, wawancara di Bojo, 14 Desember 2021.

54Modding, Pemilik Bagang, wawancara di Bojo, 12 Desember 2021.

55Aril, Nelayan, wawancara di Bojo, 14 Desember 2021.

"Itu kalau mau meki ikut ma Bagang, kalau saya biasa itu satu hari sebelumnya ikutka ku tanya memang mi Modding yang punya bagang, jadi kalau mau mi berangkat orang ku tunggu ji di pinggir laut, kalau sistemnya mengerti meka dan biasanya yang ikut itu orang kepercayaan nya"56

Hal yang sama diungkapkan oleh Jabir bahwa:

"Kalau kita itu yang senior senior ditaumi, sistemnya, pembagiannya, jadi kalau mau mi pergi ma bagang di tanya saja Modding, karna memang tidak adaji syarat tertentunya kalau mau ikut orang"57

Pendapat di atas menyatakan bahwa secara garis besar ditemukan bahwa praktik bagi hasil yang dilakukan oleh masyarakat desa Bojo dalam melakukan perjanjian kerja sama selama ini tidak memiliki kekuatan hukum sebab perjanjian hanya dilakukan atas dasar kekeluargaan dan kepercayaan masing-masing pihak dan menurut kebiasaan masyarakat setempat. Akad yang dilakukan adalah secara lisan tanpa disaksikan oleh saksi saksi dan tidak menggunakan perjanjian tertulis dengan alasan saling percaya kedua belah pihak merupakan tetangga dekat rumah yang setiap harinya bertemu dan saling mengetahui satu sama lain.

Adapun waktu mendaftarkan diri pada pemilik bagang tidak hanya di suatu tempat tertentu dan waktu tertentu, tetapi dimana saja nelayan secara ribadi bertemu dengan pemilikbagang dan menyampaikan kepada pemilik bagang untuk ikut menjadi nelayan, masyarakat yang ikut bergabung dalam kerja sama nelayan dan pemilik bagang dan menyampaikan kepada pemilik bagang untuk ikut menjadi nelayan, masyarakat yang ikut ma bagang pergi kerumah pemilik bagang menawarkan diri untuk bergabung menjadi nelayan, dan tentunya mereka sudah mengetahui bagaimana isi perjanjian yang digunakan pada sistem bagi hasil nelayan dan pemilik bagang.

56Alang, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

57Jabir, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

Hal ini sebagai mana yang diungkapkan oleh Aril yang merupakan salah satu nelayan di Desa Bojo bahwa:

“Kalau mauka pergi ma bagang pergika tanyai yang punya bagang yang mau sa ikuti, bilang mauka ikut ma bagang di bagangta” terus mengenai sistem bagi hasilnya ku tauji”58

Adapula pendapat Jabir yang berprofesi sebagai nelayan bahwa:

“Tidak adaji waktu tertentu yang perlu pekerjaan datang pribadi menghadap sama yang punya bagan, biasanya yang ikut itu ituji, jarang ji itu orang baru yang ikut ma Bagang, ituji bagusnya karna tidak adaji syaratnya cuman di utamakan yang muda, tapi memang di Bojo jarangji yang umur di atas 50an yang ikut"59

Di dalam perjanjian tersebut pemilik perahu dan nelayan atau sering disebut dengan juragan memiliki ikatan kontrak kerja yang telah mereka sepakati yaitu buruh nelayan bekerja menangkap ikan dan juragan hanya menyediakan perahu dan jaring saja maka yang menanggung adalag buruh nelayan dan mengenai sistem bagi hasil yang diterapkan juragan dan buruh nelayan adalah 50;50 untuk pemilik perahu dan nelayan.

Setelah melakukan prjanjian kedua belah pihak menyatakan sepakat, maka praktik kerjasama bagi hasil antara juragan dan nelayan, juragan hanya menyerahkan perahu dan jaring saja dan nelayan bekerja menangkap ukan, setelah melakukan penangkapan ikan maka buruh nelayan membawa hasil tangkapannya kepada pemilik bagang dan kedua belah pihak menjual ikan tersebut, setelah ikan terjual dan mendapatkan hsil dalam bentuk uang tersebut di bagai antara keduanya yaitu 50%

untuk pemilik bagang dan 50% untuk buruh nelayan.

58Aril, Nelayan, wawancara di Bojo, 14 Desember 2021.

59Jabir, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

Pada saat kesepakatan antara pemilik bagang dan nelayan akan dilakukan maka pemilik bagang mengumpulkan semua nelayan yang sebelumnya sudah mendaftarkan diri untuk membahas isi kesepakatan dalam bagi hasil yang mereka lakukakan secara bersama-sama. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Alang Rahman yang berfrofesi sebagai nelayan bahwa:

“Biasanya itu sebelumki turun dilaut kumpul semuaki dulu bikin perjanjian, ada semuami itu yang sudah mendaftar kita kumpul semua, disitumi biasa dijelaskanki bagi hasilnya sama yang lain-lainnya, dari dulu ji memang begini sistemnya, belum pernah berubah''60

Adapun pendapat Aril Bahwa:

"Intinya itu kalau mau mi ma bagang kumpul dulu orang, tapi sebagian besar itu na tau semuaji sistemnya bagaimana"61

Sama halnya dengan pendapat Jabir yang berfrofesi sebagai nelayan bahwa:

“Kalau mau meki itu turun ma bagang perjanjiannya ada semua meki kumpul na jelaskan meki disitu bagi hasilnya 50% untuk punyanya bagang 50% untuk di bagi sama yang ikut ma bagang, biasana juga itu klau mau tutup buka biasa juga ada nakasikanki, semacam bonus ceritanya, kalau tiba tiba naik harga ikan atau banyak penjualannya di bulan itu, dan tidak ada terjadi kerusakan"62

Sudah jelas bahwa bentuk akad yang digunakan oleh pemilik bagang dan nelayan adalah hanya secara lisan, dan kebanyakan dari mereka yang sudah mengetahui isi perjanjiannya. Dimana pemilik bagang menjelaskan bagaimana isi perjanjiannya kepada nelayan, seperti modal, waktu pergi melaut dan lainnya, krna sudah tersebar di masyarakat, tetapi akad diperjelas lagi pada saat mereka berkumpul untuk menghindari kekeliruan antara pemilik bagang dan para nelayan.

60Alang, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

61Aril, Nelayan, wawancara di Bojo, 14 Desember 2021.

62Jabir, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

Harga jual dan hasil yang tidak menetap terkadang mendapat ikan banyak dan kadang mendapat ikan sedikit, terkadang dengan harga tinggi dan kadang dengan harga rendah dengan bgitu banyak kebutuhan yang dimiliki dengan konsep ini para buruh nelayan merasa dirugikan, sebab selain mencari ikan buruh nelayan juga menanggung biaya bahan bakar bahkan jika terjadi kerusakan pada perahu dan jaring ia pun harus menanggung sendiri, sedangkan pemilik bagang hanya menyediakan perahu dan jaring tanpa menanggung biaya kerusakan dan biaya transportasi.

Dengan demikian pada saat pelaksanaan/penerapan perjanjian masing-masing pihak yang mengadakan perjanjian atau yang mengikatkan diri dalam perjanjian haruslah mempunyai interprestasi yang sama tentang apa yang telah mereka perjanjikan, baik terhadap isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh perjanjian itu.63 2. Modal

Modal merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi setiap usaha baik skala kecil maupun skala besar menurut Prawirosentono modal merupakan kekayaan yang diperoleh perusahaan yang dapat menghasilkan laba pada waktu yang akan datang ditetapkan dalam nilai uang.64

Modal yang digunakan dalam sistem bagi hasil nelayan dan pemilik bagang di Desa Bojo dalam bentuk uang tunai. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Aril yang berprofesi sebagainelayan bahwa:

“Kalau dari segi modal itu biasanya pemilik bagang yang kasikanki untuk beli solar, es batu dan lainlain.”65

Ada pula pendapat Jabir

63Chairuman Pasaribu dan Suhawardi K,lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, h.03

64Abstarksi Ekonomi, pengertian modal dalam ilmu ekonomi, h 43.

65Aril, Nelayan, wawancara di Bojo, 14 Desember 2021.

“Biasanya modalnya dari pemilik bagang atau nelayan sendiriji, tapi biasanya itu di catat, baru nnti di jelaskan semua setelah selesaiki, tergantung mungkin sama situasinya"66

Adapula pendapat Alang bahwa:

"Modalnya dari pemilik bagang, tapi biasa juga dari nelayan'e tapi jarang ji itu dari nelayan tidak sering ji na pake uangnya nelayan e"67

Modal berupa ongkos yang dikeluarkan setiap harinya kemudian akan dicatat dalam buku besar pemilik bagang,

Hal ini ini diungkapkan oleh Modding yang berprofesi sebagai pemilik bagang bahwa:

“Setiap ongkos itu biasanya biasanya sayaji (pemilik bagang ) yang siapkan, biasanya ku catat kan i, jarang sekali ji itu dari nelayan"68

Berdasarkan pendapat diatas maka modal yang digunakan yaitu modal yang berbentuk uang dan modal yang dikeluarkan setiap harinya jelas, dan tercatat dalam buku pemilik Bagang.

Sementara modal yang digunakan oleh sebagian pemilik bagang adalah barang yang dijual tetapi dengan harga yang jelas dan tercatat dalam buku catatan pemilik bagang sehingga dapat disimpulkan bahwa modal yang digunakan dalam sistem bagi hasil telah sesuai dengan konsep mudharabah.

3. Keuntungan dan manfaat

Setiap usaha yng dilakukan tentunya untuk mendapatkan keuntungan, selain itu juga utuk memberikan manfaat serta mensejahterakan para pelaku usaha tersebut, seperti halnya dalam sistem bagi hasil nelayan dan pemilik bagang di Desa Bojo tentunya untuk mensejahteakan nelayan maupun pemilik bagang , Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Modding yang berprofesi sebagai pemilik Bagang bahwa:

66Jabir, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

67Alang, Nelayan, wawancara di Bojo, 13 Desember 2021.

68Modding, Pemilik Bagang, wawancara di Bojo, 12 Desember 2021.

Dalam dokumen DARI PANDANGAN IMAM SYAFI’I (Halaman 49-100)

Dokumen terkait