• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan tiga metode diantaranya:

a. Observasi non partisipatif

Peneliti menggunakan observasi non partisipatif, dimana dalam observasi ini peneliti tidak terlibatkan dalam kegiatan yang sedang di observasi. Dengan demikian observasi jenis ini, peneliti hanya bertindak sebagai pengamat tanpa ikut terlibat dalamkegiatan yang akan diteliti.49

Layaknya jenis pengukuran yang lainnya, maka observasi memiliki tahapan dalam pelaksanaanya, yaitu:50

1. Melakukan pengamatan terhadap keadaan yang akan diteliti guna untuk memperoleh gambaran secara umum.

49Wina Senjaya., Penelitian Pendidikan: Jenis, Metode dan Prosedur, (Jakarta: PRENADAMEDIA Group, 2013), hal. 273

50Farida Nugrahani, “Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian

53

2. Menfokuskan diri terhadap apa yang menjadi sasaran atau objek dalam penelitian

3. Menfokuskan diri terhadap data-data yang sekiranya diperlukan sesuai dengan permasalahan yang sedang diangkat.

Metode observasi ini juga digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data tentang :

1. Letak geografis pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, Kec. Janapria, Kab.

Lombok Tengah.

2. Batas-batas wilayah pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.

3. Keadaan lingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.

b. Wawancara terstruktur

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara terstruktur sebagai alat pengumpulan data.Wawancara jenis ini dilakukan melalui tatap

muka secara lansung dengan sumber data atau objek penelitian, dimanapeneliti terlebih dahuluakan menyiapkan daftar wawancara sesuai dengan data- data yang sekiranya dibutuhkan ketika dilapangan.51Oleh karena itu, maka hal-hal yang peneliti siapkan terkait alat-alat wawancara dalam hal ini adalah buku catatan untuk mencatat semua hasil percakapan,kemudiantaperecorderyaitu sebagai alat perekam hasil wawancara peneliti dengan informan dan lain sebagainya.

Menurut Lincoln and Guba dalam Sanapiah Faisal (1990), menerangkan ada tujuh langkah pengumpulan data dengan wawancara dalam penelitian kualitatif, yaitu;52

1. Menetapkan siapa yang akandi wawancara, jadi sebelum peneliti melakukan wawancara terlebih

51Suwardi Endaswara, “Metode, Teori, Teknik Penelitian:Idiologi, Epistemology, dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2006) Hal. 166

52Hengki Wijaya, “Analisis Data Kualitatif Ilmu Pendidikan Teologi”,

55

dahulu peneliti akan menentukan siapa yang akan diwawancara atau yang akan dijadikan informan.

2. Mempersiapkan pokok masalah yangakan di bahas sebagai bahan perbincangan. Peneliti terlebih dahulu menyiapkan daftar wawancara atau pokok permasalahan sesuai dengan data-data yang akan dibutuhkan dilapangan.

3. Membuka alur wawancara. Sebelum memulai wawancara ke inti dari permasalahan yang akan diteliti, maka peneliti akan membuka alur dari wawancara terlebih dahulu.

4. Melakukan wawancara. Setelah membuka alur wawancara maka peneliti akan lansung mewawancarai informan sesuai dengan alur wawancara yang sudah dibuat oleh peneliti sebelumnya.

5. Memberitahukan apa yang menjadi hasil dari wawancara danmenutup alur wawancara tersebut.

6. Mencatat hasil dari kegiatan wawancara yang diperoleh ketika dilapangan.

7. Hasil dari kegiatan selama wawancara berlansung akan ditulis oleh peneliti kedalam catatan hasil lapangan.

8. Hasil dari wawancarayang telah diperolehakandi identifikasi untuk di tindak lanjuti. Dalam hal ini peneliti akan melakukan kegiatan tindak lanjut jika hasil wawancara masih ada data-data yang sekiranya masih dibutuhkan oleh peneliti.

Tujuan peneliti memakai teknik wawancara sebagai pengumpulan data yaitu untuk mendapatkan data-data tentang kontribusi pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat sekitar lingkungan pondok serta untuk menemukan faktor-fakor yang mempengaruhi pendpatan masyarakat Janggawana.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan caramenelaah dan menganalisis tentang

57

data-data atau dokumen yang sekiranya diperoleh di lapangan, dalam hal ini bisa berbentuk tulisan, gambar atau dokumen harian, dokumen resmi atau dokumen-dokumen yang lainnya.53

Dalam metode ini, peneliti menggunakan dokumentasi untuk memperjelas analisis penelitian serta untuk mendapatkan data-data yang sedang dibutuhkan oleh peneliti dilapangan.Adapun data yang dikumpulkan oleh peneliti dalam metode dokumentasi ini adalah :

1. Data sejarah singkat berdirinya Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.

2. Visi dan Misi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana

3. Program Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin Nw Janggawana

53 Mardawani, “Praktis Penelitian Kualitatif Teori Dasar Dan Analisi Data Dalam Perspektif Kualitatif”, (Yogakarta: Grup Penerbit CV Budi Utama, 2020), hal. 52

4. Profil pondok pesantren Bustanul Wa’izhin Nw Janggawana

6. Teknik Analisis Data.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam analisi data model Miles dan Hubermen (1984),54 bahwa analisi data dalam penelitian kualitatf kegiatannya dilakukan secara terus menerus sampai mendapatkan data yang relevan yang memungkin untuk menjawab semua permasalahan yang sedang diteliti.

Dalam hal ini peneliti menggunakan 3 teknik analisi data, diantaranya:

a. Reduksi data

Dalam penelitian kualitatif, reduksi data ditunjukkan sebagai proses, pemilihan, penyuntingan atau penyederhanaan data yang telah dikumpulkan melalui dokumen atau arsip-arsip dari catatan tertulis dilapangan. Oleh karena itu, reduksi data akan tetap

54Hengki Wijaya, “Analisis Data Kualitatif Ilmu Pendidikan Teologi,

59

berlansung selama kegiatan penelitan dilaksanakan.55 Penyederhanaan data digunakan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penyajian dan mengambil kesimpulan, mana sekiranya data yang tidak akan diambil kemudian dipilih untuk memudahkan peneliti.

b. Penyajian data

Penyajian data diartikan sebagai proses pemberian informasi yang disusun atau dikelompokkan sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian untuk mempermudah menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data juga ditujukan untuk memperoleh gambaran secara keseluruhan dari data yang telah diperoleh agar mudah dibaca atau dipahami.56

c. Verifikasi data/Penyimpulan Data

Verifikasi data diartikan sebagai proses penarikan kesimpulan dan verifikasi awal yang dikemukakan

55Yeni Hidayat, “Kajian Psikologi Sastra Dalam Novel Negri 5 Menara Karya Ahmad Fuadi”, (Karang Anyer Jawa Tengah: Yayasan Lembaga Gumun Indonesia(YLGI), 2021), hal. 27

56Ibid

masih bersifat sementara.Penarikan kesimpulan dilakukan guna untuk meninjau ulang kembali hasil dari catatan-catatan yang diperoleh dilapangan serta mempertimbangkan kembali temuan penelitian.57 7. Keabsahan Data

Untuk memperkuat keabsahan data, maka sangat diperlukan standar krebilitas yaitu hasil dari penelitian kualitatif yang dapat dipercaya sepenuhnya dan dapat diterima kebenarannya oleh partisipan yang diteliti. Oleh karena itu, agar penelitian yang dilakukan membawa hasil yang benar dan tepat sesuai alur yang sesunguhnya, maka peneliti menggunakan berbagai cara sebagai berikut:

a. Ketekunan Pengamatan

Dalam penelitian ini, ketekunan pengamatan diartikan sebagai upaya untukmelakukan pengamatan secara lebih teliti, cermat dan berkesinambungan.58Ketekunan pengamatan juga

57.Ibid, hal 28

58Hengki Wijaya, “Analisis Data Kualitatif Ilmu Pendidikan Teologi”,

61

dapat membantu peneliti dalam menyediakan kedalaman informasi melalui pengamatan yang dilakukan secara rinci dan mendalam terhadap faktor- faktor yang menjadi pokok permaslah yang sedang di teliti.

Pada sub pembahasan ini, peneliti dituntut untuk mencari dan menemukan informasi mengenai kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat dan faktor yang mempengaruhi pendapatan masyarakat dilingkungan pondok di Desa Janggawana, Kec. Janapria, Kab.Lombok Tengah.

b. Melakukan Tringgulasi

Tringgulasi merupakan teknik penelitian pengecekan data dari berbagai sumber dengan memanfaatkan berbagai cara dan waktu yang berbeda diluar data yang ditemukan.59Dalam pemeriksaan sumber data dapat dibunakan berbagai cara, yaitu bisa

59Ibid, hal. 119

dengan mengecek kembali kepercayaan atas suatu informasi yang telah diperoleh melalui alat dan waktu yang berbeda, yaitu dengan (a) membandingkan data wawancara dengan hasil observasi, (b) membandingkan hasil observasi dengan hasil isi dokumen, (c) membandingkan pernyataan seseorang dengan berbagai pendapat orang lain.60

H. Sistematika Pembahasan

Penelitian tentang Kontribusi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Terhadap Pendapatan Masyarakat Sekitar Lingkungan Pondok Di Desa Janggawana kec.

Janapria, Kab. Lombok Tengah terdiri dari:

Bab I, pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruanglingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, sistematika pembahasan, dan rencana jadwal kegiatan penelitian.

63

Bab II tentang paparan data dan temuan, bagian ini di ungkapkan seluruh data dan temuan penelitian.

Bab III tentang pembahasan, dibagian ini pembahasan ini diungkapkan proses analisis terhadap temuan penelitian sebagaimana dipaparkan di bab II berdasarkan pada perspektif penelitian atau kerangka teoritik sebagaimana yang diungkapkan pada bagian pendahuluan.

BAB IV tentang penutup, pada bagian ini diuraikan mengenai kesimpulan yang didasarkan pada hasil penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian saran.

BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Kondisi Objektif Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana

1. Sejarah berdirinya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana

Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana merupakan salah satu dari beberapa pondok yang ada di Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah, pondok pesantren ini didirikan pada tahun 2015 oleh TGH. Nasrun Mahir QH. S.Pd.I As-Sholaty. Awal mula berdirinya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini karena keperdulian dari pendiri pondok pesantren terhadap dunia pendidikan, karena didaerah perbatesan antara Lombok Tengah dan Lombok Timur yaitu desa Janggawana ini sangat memperihatinkan dalam hal pendidikan, salah satu faktornya masalah perekonomian orang tua yang membuat anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikannya harus terhenti begitu saja.

65

Oleh karena itu pendiri pondok pesantren berinisiatif dengan beberapa tokoh dan masyarakat untuk membuat lembaga pendidikan pesantren swasta yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri, supaya semua anak-anak khususnya yang ada di desa Janggawana ini bisa menikmati pendidikan minimal sampai pada jenjang Madrasah Aliyah (MA) atau sederajat. Karena sebelum pondok pesantren ini didirikan banyak anak-anak yang ada di desa Janggawana ini menghentikan pendidikannya sampai pada jenjang Madrasah Tsanawiyah saja, karena pada masa itu untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang Madrasah Aliyah harus berjalan kaki yang cukup jauh, disamping itu pula sulitnya perekonmian masyarakat membuat anak-anak di desa Janggawana ini harus berhenti karena kekurangan biaya dalam hal pendidikan. Sebelum adanya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana hanya 20% yang bisa melanjutkan pendidikan sampai kejenjang Madrasah Aliyah atau sederajat sedangkan 80%-nya berhenti, namun sekarang dengan

hadirnya pondok pesantren ini justru berbanding terbalik, 80% yang melanjutkan pendidikan ke jenjang Madrasah Aliyah (MA) sedangkan 20%-nya berhenti dengan alasan yang berbagai macam. Hingga saat ini hadirnya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana mampu mengatasi masalah pendidikan terutama bagi anak-anak yang kurang mampu dalam hal biaya pendidikan. Adapun latar belakang berdirinya pondok pesanren ini antara lain:

1. Keperdulian pendiri pondok pesantren terhadap dunia pendidikan

2. Menjadikan generasi penerus yang beriman dan berakhlak

3. Menjadikan generasi yang berilmu dan memiliki keterampilan

4. Mengatasi pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu dalam hal biaya pendidikan.61

61TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty, “Tujuan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izin NW Janggawana”, Wawancara, Janggawana,

67

2. Profil Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.62

a. Profil RA/Madrasah

Nama Madrasah : Madrasah Aliyah Bustanul Wa’izhin NW

No. Statistik Madrasah : 131252020164 No Pokok Nasional : 69955763

Alamat : Jl.Gang Syekh Majid No.1 Janggawana Desa Saba, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah

Kepala Madrasah : TGH. Nasrun Mahir S.Pd.I No Telepon : 087-889-195-236

NPWP Madrasah : 75.022.611.0-915.000 Kode Pos : 83553

Luas Tanah : 4000 m2 Luas Bangunan : 858 m2 a. Data Yayasan

62Dokumentasi, “Profil Pondok Pesantren Bustanul Wa’izin NW Janggawana”, Janggawana, Sabtu, 19 Maret 2022

NamaYayasan : Pondok Pesantren Bustanul Wa’izihn NW

Alamat : Jl Gang Syekh Majid No.1 Janggawana, Desa Saba, Kec. Janapria, Loteng NTB

Akte Pendirian :NOTARIS PUTUT

PRIYANTO,SH.,M.Kn

No : 12 Tanggal 25 Januari 2016 SK Kemenkumham : AHU-00340-AH.02.01.Tahun 2015

Tahun Berdiri : 2015

Pendiri : TGH. Nasrun Mahir S.Pd.I Ket. Yayasan : Mahrim, S.Pd

Sekertariat : Jl Gang Syekh Majid No.1 Janggawana

Desa Saba, Kec. Janapria, Loteng NTB No. NPWP Yayasan : 75.022.611.0-915.000 Status Tanah : Milik Yayasan

Luas Tanah : 4000 m2 Jumlah Ruangan : 14 ruang

69

3. Visi Misi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana 63

a. Visi Pondok Pesantren

1. Terwujudnya madrasah yang islami, berwawasan luas dan berkualitas

b. Misi Pondok Pesantren

1. Mengembangkan dan mengamalkan ajaran islam 2. Menanamkan nilai-nilai terpuji dan karakter

religious

3. Menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran yang efektif dan berkualitas

4. Menciptakan suasana yang asri dilingkungan madrasah

4. Tujuan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana

1. Menjadikan generasi penerus desa agar bisa bersaing dengan desa-desa yang lain dalam hal pendidikan 2. Membentuk generasi yang beriman dan bertaqwa

63Dokumentasi, “Visi Misi Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Janggawana, Senin, 21 Maret 2022.

3. Untuk mengatasi kemiskinan masyarakat terhadap pendidikan supaya para generasi bisa menikmati pendidikan dengan biaya yang apa adanya

4. Menjadikan generasi yang berilmu dan memiliki keterampilan.64

5. Letak Geografis Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana sebagai berikut:65

Sebelah selatan : Pemukiman penduduk Sebelah utara : Jalan raya

Sebelah timur : Lahan pertanian Sebelah barat : Lahan pertanian

Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini letaknya sangat strategis dan mudah di jangkau karena berada di tengah-tengah pemukiman warga, dimana hadirnya pondok pesantren ini tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat setempat khusunya bagi masyarakat yang

64TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty, “Tujuan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Wawancara, Janggawana, Senin, 21 Maret 2022

71

berjualan makanan, snack, baju dan lain-lain. Masyarakat juga bisa meminta saran ataupun nasihat kepada pendiri pondok pesantren terkait hal yang belum bisa dipahami dalam ilmu agama islam. Pesantren ini juga sangat terbuka kepada masyarakat setempat maupun masyarakat umum yang ingin memperdalam pemahamannya tentang ilmu agama islam.66

6. Struktur Manajemen Personal Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.

Sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, pondok pesantren Bustanul Wa’izhin Nw Janggawana ini juga memiliki struktur manajemen personalvsebagai berikut:

66Observasi, “Letak Geografis Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Janggawana, Selasa, 22 Maret 2022.

Gambar 2.1

Susunan Kepengurusan Yayasan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.67

Terkait dengan sarana dan prasarana yang ada dilingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawawana maka dari hasil observasi dan dokumentasi peneliti menemukan data-datanya sebagai berikut:

67Dokumentasi, “Susunan Kepengurusan Pondok Pesantren Bustanul

73 Tabel 2.1

Sarana Dan Prasarana Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.68

No

Fasilitas

Banyak dan

kondisi keterangan Baik Rusak

1. Ruang kelas 5

2. perpustakaan 1 - -

3. Ruang Lab Komputer 1 - -

4. Ruang Pimpinan 1 - -

5. Ruang guru 1 - -

6. Ruang Kepala Sekolah 1 - -

7. Ruang Tata Usaha - -

8. Ruang Koseling 1 - -

9. Ruang UKS 1 - -

10. Jamban 3 - -

11. Asrama darurat 7 - -

12. Gudang 1 - -

13. Dapur umum 1 - -

14. Ruang Sirkulasi 1 - -

15. Tempat Olahraga 1 - -

16. Aula dan mushola 1 - -

17. Ruang Organisasi Kesiswaan

1 - -

18. Ruang Lainnya 3 - -

Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini juga memiliki data guru dan kepegawaian seperti pada lembaga pendidikan pada umumnya yang menjadi pendukung

68Dokumentasi, “Bangunan dan Fasilitas Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Janggawana, Rabu, 23 Maret 2022

berjalannya proses belajar mengajar dalam lembaga pendidikan adapun data-datanya sebagai berikut:

Tabel 2.2

Data Guru Dan Kepegawaian Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.69

No Nama Jumlah

Pendidik

1. Guru PNS diperbentukkan Tetap

-

2. Guru Tetap Yayasan 11

3. Guru Honorer 13

4. Guru Tidak Tetap 14

Tenaga Kependidikan

1. KTU 1

2. Operator 4

3. Pembina 4

B. Kontribusi Pondok Pesantren Terhadap Pendapatan Masyarakat Sekitar Lingkungan Pondok.

Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana merupakan pondok pesanten yang tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, namun juga dapat menjadi lembaga yang mampu mensejahterakan kehidupan ekonomi masyarakat disekitarnya.Pondok pesantren Bustanul

69Dokumentasi, “Data Guru dan Kepegawaian Pondok Pesanren

75

Wa’izhin NW Janggawana ini juga memiliki prinsip bahwa pondok pesantren harus bisa menciptakan lapangan kerja sendiri terlebih di zaman sekarang yang sangat sulit untuk mencari pekerjaan.Oleh karena itu pendiri pondok pesantren berinisiatif untuk mencipatakan lapangan kerja bagi para alumni pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.Pondok pesantren ini juga menerapakan sistem ilmu dan amal sebagai bekal bagi santriwan/ti dalam bekerja nanti, dimana pendiri pondok pesantren mengartikan ilmu sebagai pengetahuan sedangkan amalnya diartikan sebagai sebuah kreativitas.Bagi santri yang tidak mampu mengamalkan ilmunya dalam bidang pendidikan, setidaknya mereka memiliki keterampilan sebagai bekal dalam kehidupannya sehari-hari.

Berdasarkan hasil mewawancara yang dilakukan dengan TGH. Nasrun Mahir pada hari sabtu 19 Maret 2022, bahwa terkait dengan kontribusi yang diberikan oleh pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat diantaranya:

1. Promosi

Salah satu bentuk kontribusi dari pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat yaitu dengan melalui promosi. Semua hasil kerjinan tangan yang dibuat oleh para santriwan/ti yang berupa hiasan dinding, songkok, dan lain sebagainya, yang kemudian pendiri pondok pesantren mencoba untuk mempromosikannya kepada masyarakat setempat sebagai bentuk dukungan dan apresiasinya terhadap karya anak- anak madrasah.Hal ini sesuai dengan pernyataan TGH.

Nasrun Mahir pada wawancara 19 Maret 2022:

Hasil karya atau kerajinan tangan yang dibuat oleh anak-anak ini kita coba untuk bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk mempromosikannya melalui media sosial, masyarakat juga dalam hal ini memperoleh keuntungan dari hasil penjualan kerajinan tangan yang dibuat oleh anak-anak pondok pesantren Bustanul Wa’izhin Nw Janggawana.70

Diperkuat dengan pernyataan ibu Safitri selaku masyarakat yang membantu para santriwan/ti dalam mempromosikan hasil karya-karyanya:

70TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty (Pendiri Pondok

77

Awalnya saya hanya iseng untuk upload hasil dari kreativitas anak-anak madrasah melalui facebook, namun ternyata ada beberapa orang yang tertarik dengan hasil kerajinan tangan anak-anak dan saya juga memperoleh upah dari hasil penjualan tersebut.71

Kegiatan promosi ini dilakukan sebagai bentuk pengenalan dari hasil karya anak-anak madrasah kepada masyarakat supaya masyarakat juga dapat membantu dan senantiasa mendukung segala bentuk aktivitas yang dilakukan di pondok pesantren tersebut.Kegiatan membuat kerajinan tangan ini dilakukan dua bulan sekali sebagai bentuk praktik dari mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan.Kegiatan kerajinan tangan ini juga dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada dilingkungan sekitar seperti kulit jagung, stik es krim, botol bekas, kayu yang sudah kering dan lain sebagainya.

Kegiatan membuat kerajinan tangan ini melibatkan semua santriwan/ti baik kelas 10 dan 11. Kegiatan membuat kerajinan tangan ini dilakukan rutin 3 bulan sekali atau 2 kali dalam satu semester, baik pada semester

71 Safitri, Wawancara, Janggawana, Jum’at, 25 Maret 2022

genap atau pada semester ganjil, kegiatan ini dilakukan dengan cara berkelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 3-4 santriwan/ti.72 Sebagaimana yang dikatakan oleh ibu Nurul Aini selaku guru prakarya dan kewirausahaan pada wawancara 31 Maret 2022 bahwa:

Kita mengajarkan untuk membuat kerjinan tangan ini rutin 3 bulan sekali untuk melatih kreativitas anak-anak madrasah supaya anak-anak ini juga ketika sudah lulus nanti dapat membuka peluang kerja sendiri dengan memanfaatkan apa yang ada dilingkungannya.73

Kegiatan praktik prakarya dan kewirausahaan ini tidak hanya membuat kerajinan tangan dalam bentuk barang-barang yang unik dan menarik, namun juga santriwan/ti khususnya yang kelas 12 dituntut untuk bisa membuat suatu memasak yang enak yang diharapkan untuk kedepannya santriwan/ti lulusan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini bisa membuka peluang usaha dalam bidang kuliner sebagai bentuk

72 Nurul Aini,“(Guru Prakarya) Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Wawancara, Janggawana, Kamis, 31 Maret 2022.

73Nurul Aini,“(Guru Prakarya) Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin

79

perkembangan ekonominya dimasa yang akan datang.

Sebagaimana yang dikatakan oleh ibu Nurul Aini selaku guru prakarya dan kewirausahaan pada wawancara kamis, 31 Maret 2022 yang mengatakan bahwa:

Kegiatan praktik memasak ini saya khususkan kepada kelas 12 saja, Karena mereka akan segera lulus dan tentu mereka nantinya akan membutuhkan sebuah pekerjaan, oleh karena itu saya ajarkan kepada anak-anak bahwa zaman sekarang orang-orang akan lebih senang membeli masakan yang siap saji, jadi manfaatkan waktu dan peluang yang ada untuk membuka peluang kerja sendiri sesuai bekal yang sudah diajarkan di pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini.74

Berdasarkan pernyataan diatas maka dalam hal kegiatan membuat kerajinan tangan yang melibatkan santriwan/ti kelas 10 dan 11 hasil dari karya tersebut yang nantinya akan di jual, tentu melibatkan masyarakat sekitar untuk mempromosikan hasil dari karya santriwan/ti tersebut baik promosi melalui mulut ke mulut, menggunakan media sosial dan lain sebagainya. Dari beberapa hasil wawancara dan observasi diatas maka

74Ibid

dapat peneliti pahami bahwa pondok pesantren bukan hanya menjadi lembaga pendidikan saja, namun juga dapat menjadi lembaga yang mampu menopang perekonomian masyarakat melalui hal-hal kecil sekalipun.

Tabel 2.3

Penjualan Haskar Santriwan/ti Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Oleh Masyarakat/September 2021.75

NO Nama Pembuat

Nama Haskar

Modal Harga Jual

Laku Keuntungan Masyarakat

Keuntungan Pondok 1

Rina &

Indriani

Cermin dinding

25.000 0

45.000/

pcs

2 pcs 16.000 24.000

2 Alfina &

Ayudia

Bunga kacang

10.000 25.000/

pcs

1 pcs 5.000 10.000 3 Atika &

Alkodari

Handbags 5.000 15.000/

pcs

3 pcs 9.000 21.000 4 Yola &

Auliatun

Stikwoll

10.000 20.000/

pcs

3 pcs 15.000 45.000 5

Nia Kartika

& Yunia

Bunga mawar

10.000 20.000/

pcs

4 pcs 20.000 60.000

6

Ernawati &

Puspadewi

Sakura rose

10.000 25.000 3 pcs 15.000 30.000

7 Ina &

Yuniarti

Gride foto

15.000 35.000 1 pcs 8.000 12.000 8 Zul &

Siti

Bingka i kayu

20.000 40.000 2 pcs 16.000 24.000

Dokumen terkait