Bagan I. Kerangka Berpikir Guru
D. Teknik Penjamin Keabsahan Data
2. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpulan data menurut Faisal (1980:81) merupakan komponen yang diperlukan dalam penelitian ini berupa kamera, tape recorder, blangko-blangko catatan yang dugunakan. Jadi instrumen kunci dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri.
2. Ketekunan Pengamatan.
Ketekunan pengamatan merupakan cara untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan dengan persoalan yang ditelusuri dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara mendalam. Dalam penelitian ini yang perlu di cermati adalah profesionalisme Guru Penjasorkes di SMA Negeri Kota Pekanbaru.
3. Triangulasi
Triangulasi yaitu mengecek keterpercayaan data dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi lainya. Hal ini dilakukan dengan cara: (1) membandingkan hasil pengamatan peneliti dan hasil wawancara dengan Guru Penjasorkes, (2) membandingkan apa yang dikatakan Guru Penjasorkes secara pribadi dengan yang dikatakan di depan umum, (3) membandingkan apa yang dikatakan Guru Penjasorkes suatu situasi sosial dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (4) membandingkan perspektif Guru Penjasorkes dengan tanggapan informasi dari kepala sekolah, siswa dan guru lainya.
(5) membandingkan hasil wawancara dengan hasil pengecekan data dokumen.
4. Pemeriksaan Teman Sejawat Melalui Diskusi
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi
analistik dengan rekan-rekan sejawat yang berperan dalam memberikan kritikan dan saran terhadap hasil penelitian.
Informasi yang telah dikumpulkan didiskusikan setelah data itu dirapikan menjadi catatan lapangan. Selain dari itu ada juga hasil penulisan ini didiskusikan dengan teman sejawat lainnya juga, memperbaiki dalam hal-hal yang dirasa perlu, demi menghasilkan tingkat kepercayaan dari hasil pengamatan tersebut.
5. Pengecekan Anggota
Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses menyimpulkan data sangat penting dalam memeriksa derajat kepercayaan. Pengecekan dengan anggota yang terlihat meliputi data, kategori analisis, menafsirkan, kesimpulan. Para anggota yang terlibat mewakili rekan-rekan mereka yang di manfaatkan untuk memberikan reaksi pandangan dan situasi mereka sendiri terhadap data diorganisasikan oleh peneliti. Para anggota yang di maksud disini adalah kepala sekolah, Guru Penjasorkes, majelis guru lainya, di seluruh SMA Negeri Kota Pekanbaru.
E. Teknik Analisis Data
Adapun langkah-langkah tehnik analisis data dalam penelitian ini berdasarkan teori Spradley (1980) sebagai berikut (1) menentukan situasi sosial, (2) melakukan observasi lapangan, (3) melakukan analisis lapangan, (4) melakukan observasi terfokus dengan pertanyaan terstruktur, (5) melakukan analisis taksonomi, (6) melakukan observasi terseleksi dengan pertanyaan kontras, (7) melakukan analisis komponensial, (8) melakukan analisis tema budaya.
1. Menentukan Situasi Sosial
Situasi sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah SMA Negeri Kota Pekanbaru, Objek penelitian ini didasarkan pada kriteria (a) Sederhana, ruang lingkupnya terbatas, (b) mudah memasukinya, (c) tidak ketara dalam melakukan penelitian, (d) mudah memperoleh izin, (e) kegiatanya berulang-ulang. Situasi sosial di sekolah itu sendiri dari guru bidang studi penjasorkes dan didukung oleh informan lain seperti, kepala sekolah, majelis guru, dan karyawan di lingkungan masing-masing sekolah di Kota Pekanbaru.
2. Melakukan Observasi Lapangan
Dalam observasi lapangan ada dua hal yang harus dilakukan yaitu: (1) Grand tour, melakukan observasi secara umum dan luas, (2) Mini tour Observasi yang dilakukan secara terfokus
dan terbatas. Grand tour yang dilakukan di SMA Negeri Kota Pekanbaru bertujuan untuk melihat kondisi sekolah secara umum, baik kondisi fisik, maupun sosial, dan dalam kegiatan pembelajaran maupun diluar kegiatan pembelajaran. Kemudian peneliti akan melakukan mini tour yang lebih difokuskan pada profesionalisme guru penjasorkes di SMA Negeri Kota Pekanbaru.
3. Melakukan Analisis Kawasan
Analisis kawasan merupakan suatu proses untuk menentukan bagian-bagian atau unsur dari mana budaya yang mencakub kategori yang lebih kecil. Kawasan sebagai ketegori dalam tiga elemen yaitu, (1) nama dari sebuah kawasan budaya, (2) kategori-kategori yang lebih kecil dari dalam suatu kawasan, (3) hubungan semantik dari dua kategori diatas.
Analisis kawasan ini dilakukan untuk menggunakan hubungan semantik yang universal sifatnya berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yakni jenis aktor yang terlibat, tempat berlangsungnya aktifitas, cara-cara yang digunakan guru dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi didalam pembelajaran penjasorkes dan prilaku guru siswa yang berkaitan dengan keprofesionalan Guru Penjasorkes tersebut.
4. Melakukan Observasi Terfokus Dengan Pertanyaan Terstruktur
Observasi terfokus dilakukan untuk menelusuri makna khusus dalam hubungan dengan makna yang lebih luas.
Setelah diperoleh gambaran mengenai kawasan-kawasan budaya melalui analisis kawasan, kemudian di pilih kawasan- kawasan yang berhubungan dekat dengan topik masalah penelitian yang berkaitan dengan profesionalisme Guru Penjasorkes di SMA Negeri Kota Pekanbaru. Pembatasan- pembatasan terhadap kawasan tentu di lakukan untuk dapat melaksanakan observasi lebih mendalam.
5. Melaksanakan Analisis Taksonomi
Analisis taksonomi dilakukan untuk mencapai hubungan antara komponen dari masing-masing kawasan dengan pedoman kepada langkah-langkah yang di anjurkan oleh Spradley bahwa diantara jenis-jenis aktor yang terlibat dalam pembelajaran penjasorkes yang meliputi guru, siswa, bahan ajar, metode, media, alat serta evaluasi pembelajaran. Analisis taksonomi pada kawasan untuk mencari hubungan antar komponen di dalam kawasan.
6. Melakukan Observasi Terseleksi dengan Pertanyaan Kontras.
Observasi terseleksi adalah untuk mengkaji secara lebih rinci kawasan-kawasan yang telah dipilih. Dalam observasi yang
terseleksi ini di anjurkan satu bentuk pertanyaan pada masing- masing kawasan budaya yang mucul dari perbedaan sebagai mana hal nya dengan kesamaan antara kategori-kategori.
Observasi ini dimaksud untuk menentukan makna dari situasi sosial yang diteliti, dengan mengajukan pertanyaan kontras terhadap kawasan yang ditentukan dalam observasi terfokus guna menemukan masa budaya dari situasi sosial diteliti.
40 A. Temuan Umum.
1. Gambaran Umum Tentang Lokasi Penelitian.
Kota Pekanbaru adalah salah satu kota di Provinsi Riau, Kota pekanbaru merupakan ibu kota dari provinsi Riau dengan luas wilayah 632,26 km penduduknya 850.000 jiwa dengan berbagai macam suku yang ada antara lain Melayu, Minang, Batak, Jawa dan lain-lain suku bangsa yang ada di Indonesia. Pekanbaru terdiri dari 12 kecamatan di bawah pemerintahan Wali kota Pekanbaru, dari 12 kecamatan tersebut terdapat 14 SMA Negeri, dalam penelitian ini peneliti membatasi hanya mengambil 4 sekolah yang di jadikan objek penelitian antara lain:
1) SMA Negeri 3 Pekanbaru terletak di Kec. Rumbai.
2) SMA Negeri 4 Pekanbaru terletak di Kec. Marpoyan Damai.
3) SMA Negeri 8 Pekanbaru terletak di Kec. Sail.
4) SMA Negeri 12 Pekanbaru terletak di Kec. Tampan.
2. Guru Penjasorkes di SMA Negeri No: 3, 4, 8 dan 12 di Kota Pekanbaru.
Sekolah Menengah Atas merupakan salah satu lembaga pendidikan tingkat atas yang berada di bawah naungan Dinas
dibidang pendidikan, selayaknya memiliki jumlah guru sesuai dengan rombongan belajar, di sekolah-sekolah berdasarkan observasi dan studi dokumentasi, penulis menemukan data-data Guru Penjaorkes yang mengajar di masing-masing Sekolah Menengah Atas Negeri 3, 4, 8 dan 12, seperti tabel di bawah ini.
Tabel 1. Guru Penjasorkes SMA Negeri 3, 4, 8 dan12 Kota Pekanbaru.
No Sekolah Guru Olahraga Pendidikan
1 SMA Negeri 3 1. Drs. Khairul Asbar 2. Hajrul Boy S.Pd 3. Titin Angraina S.Pd
S1 S1 S1 2
SMA Negeri 4 1. Armen Ar S.Pd.
2. Khairil Abbas, S.Pd.
3. Jasmani Ginting, S.Pd
S1 S1 S1 3
SMA Negeri 8 1. Drs. Erwan Martias 2. Drs Beta Somta 3. Novi (Honor)
S1 S1 S1 4
SMA Negeri 12 1. Raja Setianis 2. Winda Asril
S1 S1 Sumber: Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru tahun 2010
3. Sarana dan Prasarana
Dalam suatu media pendidikan adalah sarana dan prasarana memegang peranan yang sangat penting dalam menunjang pencapaian tujuan pendidikan. Karena sarana dan prasarana yang memadai akan memberikan kemungkinan yang lebih besar untuk
ditentukan.
Tabel 2. Sarana dan Prasarana Seluruh Sekolah Menengah Atas Negeri 3, 4, 8 dan 12 kota Pekanbaru.
No Sekolah Fasilita s
Keadaan Fasilitas Yang Ada
1 SMA
Negeri 3
2 Lap 2 Lap 1 Lap 1 Lap
Lapangan bola volley Lapangan bola basket Bak lompat atletik Lapangan sepak bola
2 SMA
Negeri 4
3 Lap 1 Lap 1 Lap 1 Lap 1 Lap 1 Lap 6 Ring
1 Lap
Lapangan bola volley Sepak Takraw
Bulu Tangkis
Lapangan bola basket Sepak Bola
Bak Lompat Ring Stock Tenis Meja
3 SMA
Negeri 8
1 Lap 1 Lap 1 Lap 1 Lap
Lapangan bola volley Lapangan bola basket Lapangan sepak bola Bak lompat atletik
Lapangan olahraga yang lain dilakukan di belakang sekolah atau disekitar lingkungan masyarakat.
4 SMA
Negeri 12
1 Lap 1 Lap 1 Lap 1 Lap
Lapangan bola volley Lapangan bola basket Lapangan futsal Bak lompat atletik Sumber: Hasil observasi kelapangan.