• Tidak ada hasil yang ditemukan

Temuan khusus

Dalam dokumen Iwan Saputra - ADOC.PUB (Halaman 52-71)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan khusus

1. Faktor-faktor terjadinya konflik

Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik pertambanagan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling. Adapun faktor penyebab konflik tersebut yaitu sebagai berikut:

a. Kelompok semu

Penyebab terjadinya konflik di Kenagarian Lubuk Ulang Aling disebabkan adanya kepentingan yang sama dari beberapa pihak pemegang kekuasaan yang ingin menguasai pertambangan emas.

Berdasarkan wawancara penulis dengan seorang tokoh mayarakat (Bapak Suwardi Dt. Gunung Bonsu, 22 Maret 2013) mengatakan bahwa:

Saya rasa penyebab trerjadinya permasalahan tambang emas yaitu karena adanya kepentingan dari beberapa pihak pemegang kekuasaan yang ingin menguasai pertambangan, makanya sulit sekali bagi kita untuk menyelesaikan masalah ini.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa penyebab terjadinya konflik pertambangan emas Di Kenagarian Lubuk Ulang Aling yaitu disebabkan karena adanya kepentingan dari beberapa pihak pemegang kekuasaan yang inggin menguasai pertambangan, makanya sulit bagi masyarakat untuk menyelesaikan masalah pertambangan tersebut.

b. Kelompok kepentingan

Konflik di Kenagarian Lubuk Ulang Aling ini disebabkan karena adanya kepentingan dari beberapa pihak pemegang kekuasaan yang ingin menguasai pertambangan tapi dalam cakupan yang lebih besar.

Kelompok kepentingan ini mempunyai struktur, organisasi, program, tujuan serta anggotanya yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata timbulnya konflik dalam masyarakat.

Berdasarkan wawancara dengan Wali Nagari Lubuk Ulang Aling (Bapak Thamrin Dt. Kampung, 23 Maret 2013) mengatakan bahwa:

Sebenarnya konflik yang terjadi di daerah kita ini disebabkan karena adanya kepentingan yang sama dari beberapa pihak untuk mencari keuntung dari hasil pertambangan. Seperti investor yang masuk kedaerah kita ini, merka melakuakan kerja sama dengan masyarakat pemilik lahan, kemudian ada dari masyarakat kita yang menolak dengan kehadiran tambang emas yang dikelolah investor tersebut, penolakan ini yang memicu timbulnya konflik di kehidupan masyarakat.

Dengan demikian penyebab trerjadinya konflik pertambangan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling disebabkan karena karena adanya kepentingan yang sama dari beberapa pihak untuk mencari keuntung dari hasil pertambangan. Seperti investor yang masuk kedaerah Lubuk Ulang Aling, merka melakuakan kerja sama dengan masyarakat pemilik lahan, kemudian ada dari masyarakat lain yang menolak dengan kehadiran tambang emas yang dikelolah investor tersebut, penolakan ini yang memicu timbulnya konflik di kehidupan masyarakat.

Paksaan (coercion)

Bila dicermati konflik yang terjadi di Kanagarian Lubuk Ulang Aling merupakan masalah yang serius. Adapun cara dan tindakan yang digunakan penguasa dalam mengatasi konflik seperti dengan paksaan fisik ataupun psikologis. Bila paksaan psikologis tidak berhasil, dipakailah paksaan fisik. Pihak yang biasa menggunakan paksaan adalah pihak yang kuat, pihak yang merasa yakin menang, bahkan sanggup menghancurkan pihak musuh. Pihak inilah yang menentukan syarat-syarat untuk menyerah dan berdamai yang harus diterima pihak yang lemah.

Berdasarkan wawancara dengan seorang masyarakat pemilik lahan (Ibuk Sien, 26 maret 2013) mengatakan bahwa:

“Memang terjadi masalah di lapangan maslahnya yaitu saya tidak terima sawah saya yang berdekatan dengan tambang terkenak imbas dari alat berat/escapator seperti runtuhnya tebing atau pembatas antara lokasi tambang dengan lahan sawah saya, dan saya menuntut ganti rugi atas lahan yang terkenak imbas tersebut, namun pihak dari investor tidak menangapi masalah tersebut dan saya membawa beberapa orang keluarga saya kemudian memberhentikan alat berat yang sedang berkeja tersebut. Namun dalam hal ini kami tidak melakuakan tindakan yang anarkis kami cuman menuntut yang seharunya menjadi hak kami. Kemudian masalah ini kami diskusi untuk mencapai kesepakatan”.

Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa tindakan yang dilakukan masyarakat untuk mempertahankan sawahnya adalah memberhentikan escapator yang sedang berkerja dan mendiskusikan masalah tersebut dengan pihak investor. Hasil dari diskusi tersebut pihak investor menganti kerugi lahan masyarakat yang terkenak imbas dari escapator. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 4.1 Sawah masyarakat. Lokasi tambang emas

Dari gambar 4.1 diatas terlihat aktivitas penambangan yang dilakukan pihak investor dalam mengekploitasi emas dengan mengunakan alat berat berupa escavator yang berakibat runtuhnya tebing antara lokasi tambang dengan sawah masyarakat kemudian pihak pemilik sawah menuntut ganti rugi kepada pihak investot dan masalah ini diselesaikan dengan cara diskusi untuk mencapai kesepakatan antara kedua belapihak.

Berdasarkan wawancara dengan seorang ketua pemuda Limau Sundai (bapak Masriyal, 28 maret 2013) mengatakan bahwa:

“Dulu kami bersama masyarakat Lubuk Ulang Aling perna melakukan demo kekantor bupati Solok Selatan. Kami menuntut supaya tambang emas yang dikelolah pihak investor diberhentikan, kalau hal ini di biarkan kami takut daerah kami akan terkikis habis. Demo yang kami lakukan sepat terjadi tindakan yang anarkis yaitu terjadinya bentrok dengan pihak keamanan (aparat kepolisian). Itu kami lakukan karena kami tidak mengiginkan investor berkerja didaerah kami, dan kami juga menuntut supaya diberlakukannya izin untuk tambang rakyat”.

Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa tindakan yang dilakukan masyarakat untuk menyelesaikan konflik pertambanagan emas di Kanagarian Lubuk Ulang Aling adalah dengan cara demo dengan tujuan menuntut supaya diberhentikan tambang emas yang di kelolah pihak investor dan memberlakukan tambang rakyat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 4.2 Demo yang dilakukan masyarakat

Dari gambar 4.2 diatas terlihat tindakan yang dilakukan masyarakat untuk menyelesaikan konflik pertambanagan emas di Kanagarian Lubuk Ulang Aling adalah dengan cara demo, demo yang dilakukan masyarakat tersebut berakibat pada tindakan yang anarkis yaitu terjadinya bentrokan dengan pihak keamanan (aparat kepolisian) itu dilakukan masyarakat supaya diberhentikannya tambang emas yang dikelolah pihak investor kemudian memberlakukan tambang rakyat dengan mengelurkan izinya.

2. Kendala-Kendala Masyarakat Dalam Menyelesaikan Konflik

Kendala disini berarti faktor-faktor penghambat terhadap solusi konflik pertambanagan emas yang saat ini menimbulkan masalah dalam kehidupan masyarakat. Adapun faktor penghambat terhadap solusi konflik, yaitu sebagai berikut:

a. Kepribadian Individu

Kendala yang dihadapi seseorang dalam mengatasi konflik dapat dilihat dari karakteristik-karakteristik intelektual dan kepribadiannya. Bahwa seorang individu dengan intelektual yang rendah cenderung menggunakan aksi fisik dalam mengatasi konflik.

Sebaliknya seorang individu dengan intelektual yang tinggi lebih cenderung untuk menggunakan gaya-gaya penyelesaian konflik yang membuat konflik melunak.

Berdasarkan wawancara penulis dengan Kepala Jorong Limau Sundai (Bapak Kaliumar, 27 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Berdasarkan pengamatan saya ketika musyawarah yang di adakan dirumah gadang/adat, dalam menyelesaika masalah terkait dengan pertambangan emas ini kebanyakan dari masyarakat tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak diselesaikan dengan kepala dingin dan berhati lapang, hal ini disebabkan karena rendahnya pendidikan masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan mengenai tambang emas ini ”.

Hal ini sejalan dengan yang di kemukakan oleh investor (Bapak Zulfikar, 25 Maret) mengatakan bahwa:

“Saya sebagai investor merasakan heran dengan sikap masyarakat, karena masih banyak dari masyarakat yanag belum paham mengenai solusi yang saya ajukan, Bahkan mereka bersikeras dengan pendapatnya sendiri, padahal solusi yang saya ajukan untuk mencari jalan keluar dari masalah ini”.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa yang menjadi kendala terhadap upaya penyelesaian konflik yaitu karena masih rendahnya pendidikan masyarakat dan kurangnya pemahaman mengenai solusi

yang dikemukakan oleh perangkat Nagari dan investor terkait dengan masalah tersebut.

b. Situasional

Kendala yang dihadapi masyarakat dalam mengatasi konflik pertambangan adalah kurang baiknya situasi dilapanagan. Situasi disini maksudnya yaitu terjadinya kesalahpahaman diantara masyarakat sehingga menyebakan terjadi bentrokan baik antara masyarakat dengan pihak investor ataupun antara pemilik lahan dengan masyarakat biasa.

Berdasarkan wawancara dengan Wali Nagari Lubuk Ulang Aling (Bapak Thamrin Dt. Kampung, 21 maret 2013) mengatakan bahwa:

“Berdasarkan laporan yang saya terima dari masyarakat memang sering terjadi keributan dilokasi pertambangan semenjak di bukanya tambang emas ini dan ditambah lagi kedatangan investor dari luar, situasi tersebutlah yang membuat kurang harmonisnya hubungan kekerabatan diantar masyarakat, dan saya selalu menyarankan kepada masyarakat mari kita selesaikan masalah ini dengan musyawarah”.

Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan seorang tokoh masyarakat (Suwardi Dt. Gunung Bonsu 26 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Terkait dengan situasi dilapangan, memang banyak yang melapor kepada saya, apa lagi semenjak masuknya investor kedaerah ini ada yang melapaor mengenai sawahnya, ladangnya, kebunya, bahkan ada yang melapor mengenai perkelahian karena memperebutkan lokasi tambang. Semua laporan dari masyarakat saya tanggapi bahkan kami suda membicarakan masalah ini secara adat yaitu dengan cara musyawarah”.

Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa yang menjadi kendala terhadap penyelesaian konflik pertambangan di Kenagarian Libuk Ulang Aling yaitu kurang baiknya situasi dilokasi pertambangan, situasi disini maksudnya yaitu terjadinya kesalah pahaman antara masyarakat dengan pihak investor karena tidadak menerima lahanya berupa ladang pinang terkenak imbas dari tambang emas yang dikelolah oleh pihak investor tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.6 Ladang pinang masyarakat yang terkenak imbas pertambangan emas

Dari gambar 4.6 diatas terlihat bahwa yang menjadi kendala terhadap penyelesaian konflik pertambangan di Kenagarian Lubuk Ulang Aling adalah kurang baiknya situasi dilokasi pertambangan, situasi disini maksudnya yaitu terjadinya kesalah pahaman antara masyarakat dengan pihak investor karena tidadak menerima lahanya

berupa ladang pinang terkenak imbas dari tambang emas yang dikelolah oleh pihak investor tersebut.

c. Interaksi

Kendala yang dihadapi masyarakat dalam mengatasi konflik pertambangan emas yaitu kurang baiknya hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan ketua KAN (Sudirman Ts, 23 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Berdasarkan pengamatan serta kondisi yang saya lihat konflik tentang pertambanagan ini terjadi bukan antara investor saja, tapi konflik terjadi karena adanya kecemburuan sosial dari pihak lain. Seperti pertikaian yang terjadi di kampung Limau Sundai. karena merasa kurang senang melihat saudaranya yang berkerja sama dengan investor dan ekonomi saudaranya meningkat, kemudian dia menuntut supaya tanah yang di lokasi tambang tersebut dibagi dua. Saya suda memberikan pengertian kepada masyarakat yang terlibat pertikaian tersebut selesaikan secara kekeluargaan”.

Pendapat diatas sejalan dengan yang di kemukakan seorang tokoh masyarakat (Bapak Awen, 28 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Kalau saya lihat secara menyeluruh, semenjak adanya tambanga emas perekonomian masyarakat menjadi meningkat, saya rasa ini yang menyebakan terjadinya petikaian di masyarakat karena ada sebagian dari masyarakat merasa iri dengan perkembanggan tersebut. Seharusnya upaya yang dilakuakan pihak Nagari maupun pemuka adat adalah memberikan pengertian kemasyarakat supaya tidak terjadi pertikaian di masyarakat”.

Dari pernyataan diatas dapat dipahami bahwa yang menjadi kendala bagi masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling terhadap upaya

penyelesaian konflik tambang emas adalah kurang harmonisasi hubungan antara pemuka masyarakat dengan masyarakat, serta terjadinya kesenjanagan sosial dalam kehidupan masyarakat.

d. Isu Konflik

Isu konflik pertambanagan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling dan kendala yang dihadapi masyarakat untuk mencari solusi masih menjadi bembicaran di kalangan masyarakat.

Berdasarkan wawancara dengan ketua pemuda Limau Sundai (Bapak Masriyal, 28 Maret 2013) mengatakan:

“Kalu mengenai isu pertambangan saat ini memang sudah menjadi pembicaraan bagi kami masyarakat disini, terkait dengan upaya penyelesaian sudah sering kami lakukan dengan musyawara namun masih terkendala mengenai perizinanya”.

Hal ini juga di ungkapkan wali Nagari Lubuk Ulang Aling (Thamrin Dt. Kampung, 21 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Masalah isu pertambangan memeng sudah menjadi pembicaran bagi kami masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling, apalagi mengenai izinya. Saya sebagai Wali Nagari berseta jajaran dan pemuka masyarakat sudah berupaya dan melakukan musyawara dengan bupati Solok Selatan. Namun masalah izin pertambangan bupati solok selatan belum bisa mengeluarakanya, semuanya itu masih perlu proses. Dan hasil rapat dengan bupati tersebut sudah saya sampaikan kepada masyarakat melalui jorong disetiap Nagari yang ada di Kenagarian Lubuk Ulang Aling”.

Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa yang menjadi kendala bagi masyarakat Kenagarian Lubuk Ulang Aling terhadap upaya penyelesaian konflik tambang emas adalah masalah perizinanya

dan Wali Nagari beserta jajaranya dan pemuka masyarakat suda menemui bapak Bupati Solok Selatan dengan melakukan musyawara terkait izin pertambangan tersebut. Namun masalah izin pertambangan Bupati Solok Selatan belum bisa mengeluarakanya karna masih dalam proses.

3. Upaya Masyarakat Dalam Menyelesaikan Konflik

Upaya disini berarti usaha-usaha yang dilakukan untuk mencari jalan keluar/solusi terhadap permasalahan pertambanagan yang saat ini memicu terjadinya konflik dalam kehidupan masyarakat. Adapun upaya yang dilakukan masyarakat dalam mengatasi konflik, yaitu sebagai berikut:

a. Konsiliasi (conciliation)

Konflik yang terjadi akibat adanya penambangan emas di Kanagarian Lubuk Ulang Aling termasuk masalah yang sangat komplek dan perlu dicari solusi/jalan keluarnya yaitu dengan cara diskusi mengenai masalah yang mereka pertentangkan untuk mencapai kesepakatan agar permasalahan ini tidak berlarut-larut dan tidak menjadi konflik terbuka yang dapat mengakibatkan perbuatan dan tindakan yang bersifat anarkis.

Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan Wali Nagari Lubuk Ulang Aling (Bapak Thamrin Dt. kampung, 21 maret 2013) mengatakan bahwa:

“Kami dari pihak pemerintah Nagari telah berupaya untuk mencari jalan keluar terhadap masalah tambang ini. Adapun

jalan keluar yang telah kami tempuh yaitu dengan cara mempertemukan pemuka adat, tokoh masayarakat serta pihak yang terkait dan mendiskusikan masalah tersebut dan hal tersebut sudah terlaksana secara maksimal”.

Demikian juga yang dinyatakan oleh ketua KAN ( Bapak Sudirman Ts, 23 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Hal yang harus dilakukan adalah mempertemukan kedua bela pihak yang bersengketa kemudian mendiskusikan masalah tersebut untuk mencapai kesepakatan antara pemilik lahan dengan investor, dan hal ini sudah ada dari masyarakat kami yang melakukanya. Ada dari mereka yang melakukan kerja sama dengan investot dan ada juga dengan cara ganti rugi yang dilakukan pihak investor”.

Pentingnya upaya penyelesain melalui diskusi ini diungkapkan juga oleh investor (Bapak Zulfikar, 25 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Kami telah berupaya melakukan pendekatan secara musyawarah maupun mufakat, melalui perangkat Nagari, hal tersebut telah membuahkan hasil dan kejelasan yang pasti dari pihak pemilik tanah, dan kami melakukan sosialisasi dengan diskusi kemasyarakat pemilik tanah/lahan, didampingi Ninik mamak perangkat adat, perangkat Nagari dan kami telah mendapat kejelasan yang pasti dari mereka”.

Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa upaya yang dilakukan masyarakat untuk menyelesaikan konflik pertambangan emas di Kenagarian Lubuk Ulang Aling adalah dengan cara diskusi untuk mencapai kesepakatan demi terciptanya kenyamanan dan kerukunan dari beberapa pihak yang berkonflik. Untuk lebig jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawa ini:

Gambar 4.3 Masyarakat Berdiskusi dalam menyelesaikan masalah pertambangan

Dari gambar 4.3 diatas terlihat aktifitas yang dilakukan masyarakat dalam menyelesaikan masalah pertambangan yaitu dengan cara mempertemukan kedua bela pihak yang berkonflik (masyarakat dengan pihak investor). Dalam menyelesaikan masalah tersebut juga dihadiri oleh pihak Nagari, tokoh masyarakat, investor dan masyarakat.

Kemudian mendiskusikan masalah tersebut untuk mencari jalan penyelesaianya demi terciptanya kenyamanan dan kerukunan dari beberapa pihak yang berkonflik.

b. Mediasi (Mediation)

Upaya yang dilakukan masyarakat Lubuk Ulang Aling dalam mengatasi konflik pertambanagan emas yaitu dengan cara mempertemukan kedua belah pihak yang bersengketa, kemudian

bersama-sama bersepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediatot ( pemuka adat ) yang akan memberikan nasehat-nasehatnya tentang bagaimana mereka, sebaliknya walaupun penyelesaian dari mediator tersebut bertantangan, namun cara pengendalian ini kadang- kadang menghasilkan penyelesaian yang cukup efektif.

Hal ini sejalan dengan yang dikatakan seorang tokoh masyarakat sekaligus orang yang di tuakan di pasukuan tersebut (Bapak Suwardi Dt. Gunung Bonsu 26 maret 2013) mengatakan bahwa:

“upaya yang harus dilakuakan yaitu mempertemukan kedua belah pihak yang besengketa baik itu dari pemilik lahan yang terkenak imbas tambang tesebut, maupun dari pihak investor yang telah mengarap lahan dari masyarakt. Dari pertemuan tersebut sudah kami dapat titik temu secaara adat yaitu berjenjang naik betangga turun atau melalui jalan musyawarah dan mufakat antara pemilik lahan dengan investor, dari kedua pihak sudah sepakat, ada dengan cara kerja sama dan ada juga dengan cara ganti rugi yang di lakukan pihak investor”.

Pendapat diatas sejalan dengan yang dinyatakan oleh kepala Jorong Limau Sundai ( Bapak kaliumar, 27 maret 2013) mengatakan bahwa:

“Memang di kenagarian kami ini terjadi permaslahan terkait tambang emas yaitu antara pemilik lahan dengan investot, tetapi permaslahan sudah kami cari jalan keluarnya dengan cara mempertemukan kedua belapihak yang bersengketa dan kami selesaikan secara adat oleh pemuka adat melalui musyawara untuk mencapai mufakat”.

Dari wawancara diatas dapat dipahami bahwa tindakan yang di lakukan masyarakat Lubuk Ulang Aling dalam mengatasi konflik yaitu dengan cara mempertemukan kedua belah pihak yang berkonflik yang

dipimpin mediator (Pemuka adat). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawa ini:

Gambar 4.4 Masyarakat bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah pertambangan.

Dari gambar 4.4 diatas terlihat aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat dalam menyelesaikan konflik yaitu dengan cara mempertemukan kedua belah pihak yang berkonflik yang di lakukan oleh pemuka adat sebagai mediator dan mencari solusinya secara adat berjenjang naik bertangga turun atau melalui jalan musyawara dan mufakat.

c. Kolaborasi

Setiap permaslahan pasti ada cara untuk mengatasinya seperti yang dilakukan masyarakat Kenagaraian Lubuk Ulang Aling mereka bernegosiasi untuk mencari solusi yang sepenuhnya memuaskan pihah-

pihak yang terlibat konflik. Upaya tersebut saling meliputi, saling memahami permasalahan konflik atau saling memahami ketidaksepakatan. Selain itu, kreativitas dan inovasi juga digunakan untuk mencari alternatif yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.

Berdasarkan wawancara dengan seorang toko masyarakat (Bapak Awen, 28 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Memang semenjak maraknya tambanag emas di kanagarian ini, banyak dari kami yang berkerja sama dengan investor. Namun banyak pula di antara masyarakat kami yang menolak dengan alasan mereka tidak ingin mengelola lahanya, dan bagi yang berkeja sama dengan investor. Pihak investor menemui pemilik lahan dengan cara bernegosiasi dan membuat kesepakan antara kedua bela pihak”.

Pendapat diatas sejalan dengan yang dinyatakan salah seorang masyarakat (Bapak Basri, 29 maret 2013) mengatakan bahwa:

“Saya berkerja sam dengan investor lebih kurang setahun, selama saya berkeja sama dengan investor hasil yang saya dapat lumayan untuk anak dan keluaraga saya. Memang lahan saya berupa kebun suda saya serakan ke pihak investor tapi itu tidak semunya cuman yang berda di tepi aliran sungai saja dan sebelum bekerja sama dengan investor tentu kami membuat surat perjanjian kerjasama dengan tujuan untuk mengatasi supaya tidak terjadinya kesalah pahaman diantara kami”.

Dari wawancara diatas dapat dipahami, bahwa upaya yang dilakukan masyarakat untuk menghindari kesalah pahaman antara pemilik lahan dengan investor yaitu dengan cara membuat surat perjanjian kerjasama, dengan tujuan supaya tidak terjadi kesalah pahaman antara kedua belah pihak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

Gambar 4.5 Surat perjanjian kerjasama antara masyarakat dengan investor

Dari gambar 4.5 diatas terlihat upaya yang dilakukan masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling untuk menghindari kesalah pahaman antara pemilik lahan (Basri) dengan pihak investor (Zulfikar) yaitu dengan cara membuat surat perjanjian kerjasama. Isi dari perjanjian tersebut sebagai berikut:

Pasal 1. Pihak pertama setuju atas investasi kerjasama pengelolaan lahan pertambangan emas dengan dana sebesar Rp 90.000.000,- (Sembilan puluh juta rupiah) sebagai modal awal pertambangan.

Adapun dana tersebut diserahkan secara tunai kepada pemilik lahan atas Nama Basri.

Pasal 2. Pihak Kedua sepakat bahwasanya jangka waktu pertambangan adalah selama 18 bulan (atau kurang), dan apa bila terjadi perpanjangan waktu akan dibicarakan lagi oleh kedua bela pihak terkait.

Pasal 3. Pihak pertama dan Pihak kedua sepakat dalam pengelolaan lahan tambang emas.

Surat perjanjian ini ditandatangani oleh kedua pihak di atas Materai tanpa ada paksaan dan dalam keadaan sadar, serta dengan disaksikan oleh 2 orang Notaris, bilamana di kemudian hari terdapat kesalahan dalam kerjasama ini, maka akan diselesaikan dengan jalan Musyawarah.

d. Kompromi

Gaya ini berorientasi jalan tengah, karena setiap orang punya sesuatu untuk ditawarkan dan sesuatu untuk diterima. Keahlian bernegosiasi dan tawar menawar adalah pelengkap dari gaya kompromi, begitu juga yang dilakukan masyarakat Lubuk Ulang Aling dalam mengatasi konflik pertambanagan emas mereka lakukan dengan cara mencari jalan tengah untuk mengatasi konflik.

Hal ini sejalan dengan yang di kemukakan Wali Nagari Lubuk Ulang Aling (Bapak Thamrin Dt. Kampung, 21 Maret 2013) mengatakan bahawa:

“Memang sulit sekali untuk mengatasi konflik yang terjadi di

tapi saya bersama perakat Nagari serta pemuka masyarakat sudah berupaya mengatasinya, setiap kasus yang kami hadapi kami selalu berusaha mencari jalan keluarnya dengan mempertemukan kedua belah pihak yang berkonflik. Ada dengan cara diskusi/musyawara, negosiasi dan ada juga dengan cara jalan tengah untuk mencari solusinya”.

Begitu juga yang di ungkapkan ketua KAN (Bapak Sudirman Ts, 23 Maret 2013) mengatakan bahwa:

“Sebenarnya apapun masalah yang terjadi, termasuk masalah tambang emas. Kita harus cermati masalah tersebut kemudian baru kita cari upaya apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikanya. Kalu masalah yang terjadi di nagari kita ini bisa jadi dengan mencari jalan tengah, diskusi maupun musyawara itu tergantug kepada kita mencermatinya”.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Upaya yang dilakukan masyarakat Nagari Lubuk Ulang Aling dalam menyelesaikan konflik tambang emas yaitu dengan cara mencermati terlebih dahulu masalahnya kemudian baru dicari penyelesaianya dengan cara mempertemukan kedua pihak yang bertikai dan melakuakan musyawarah yang dimediatori oleh pemuka adat.

Dalam dokumen Iwan Saputra - ADOC.PUB (Halaman 52-71)

Dokumen terkait