LANDASAN TEORI
A. Temuan Penelitian
1. Tentang Siti Musdah Mulia
Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., APU, lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1959. Perempuan pertama sebagai Doktor Terbaik IAIN Syahid Jakarta (1997) dengan disertasi: Negara Islam: Pemikiran Husein Haikal. Perempuan pertama dikukuhkan LIPI sebagai APU (Ahli Peneliti Utama) di lingkungan Departemen Agama (1999) dengan pidato pengukuhan: Potret Perempuan Dalam Lektur Agama (Rekonstruksi Pemikiran Islam Menuju Masyarakat Egaliter dan Demokratis).
Anak pertama dari 6 bersaudara, pasangan Mustamin Abdul Fatah dan Buaidah Achmad. Pendidikan formal dimulai dari SD di Surabaya (tamat 1969); Pesantren As'adiyah, Sengkang, Sulawesi Selatan (tamat 1973); SMA Perguruan Islam Datu museng, Makassar (tamat 1974). Menyelesaikan Progran sarjana Muda di Fakultas Ushuludin Jurusan Dakwah, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar (1980); Program SI Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Fakultas Arab, IAIN Alauddin, Makassar (1982); Program S2 Bidang Sejarah di IAIN Syahid, Jakarta (1992); dan Program S3 Bidang
61
Pemikiran Politik Islam di IAIN Syahid Jakarta (1997).60 Pendidikan non-formal antara lain: Kursus Singkat mengenai Pendidikan HAM di Universitas Chulalongkorn, Thailand (2000); Kursus Singkat mengenai Advokasi Penegakan HAM dan Demokrasi (Internasional Visiator Program) di Amerika Serikat (2000); Kursus Singkat
60 Siti Musdah Mulia, “Islam Menggugat Poligami”, ( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, dan The Asia Foundation, 2007), cet, ke-2, h. 201-202
62
Manajemen Pendidikan dan Kepeminpinan di Universitas George Mason, Virginia Amerika Serikat (2001); Kursus Singkat mengenai Pelatih HAM di Universitas Lund, Swedia (2001); Kursus singkat Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Perempuan di Bangladesh Institute of Administration and Management (BIAM), Dhaka, Bangladesh (2002).
Pengalaman pekerjaan dimulai sebagai dosen luar biasa di IAIN Alauddin, Makassar (1982-1989): Dosen Luar Biasa di UMI, Makassar (1982-1989); Peneliti Balai Penelitian Lektur Agama, Depag, Makassar (1985-1989; Penelitian Balitbang Departemen Agama, Jakarta (1990-1999); Dosen Fakultas Adab IAIN Syahid, Jakarta (1992- 1997); Doesn Institut Ilmu-Ilmu Al- Qur'an (IIQ) Jakarta (1997-1999);
Direktur Perguruan Al-Wathoniyah Pusat, Jakarta (1995-sekarang);
Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1997-sekarang);
Kepala Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan, Jakarta (1999- 2000); Staf Ahli Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia (HAM) Bidang Pencegahan Diskriminasi dan Perlindungan Minoritas (2000- 2001); Tim Ahli Menteri Tenaga Kerja R.I. (2000-2001); Staf Ahli Menteri Agama R.I Bidang Pembinaan Hubungan Organisasi Keagamaan Internasional (2001-sekarang). 61
Pengalaman Organisasi: Ketua Wilayah IPPNU Sul-Sel (1978- 1982); Ketua Wilayah Fatayat NU Sul-Sel (1982-1989); Sekjen PP.
61 Siti Musdah Mulia, Ibid., h. 202
64
Fatayat NU (1990-1994); Wakil Sekjen PP. Muslimat NU (2000-2004);
Anggota Dewan Ahli Koalisi Perempuan Indonesia (1999-2003); Ketua Forum Dialog Pemuka Agama Mengenai Kekerasan Terhadap Perempuan (1998-2001); Ketua I (MAAI) Al- Majelis AL-Alami Lil- Alimat Al-Muslimat Indonesia (2001-2003); Anggota Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) DKI, Jakarta (2000-sekarang);
Ketua Komisi Pengkajian Majelis Ulama Indonesia Pusat (2000- sekarang); Ketua Panah Gender dan Remaja Perhimpunan Keluarga Indonesia (2000- sekarang); Ketua Dewan Pakar KPMDI: Korps Perempuan Majelis Dakwah Islamiyah (1997-sekarang); Sekjen ICRP:
Indonesian Conference on Religion and Peace (1998- sekarang);
Direktur LKAJ: Lembaga Kajian Agama dan Jender (1998-sekarang).
Karya tulis antara lain: Pangkal Penguasa- an Bahasa Arab (1989); Sejarah dan Pengan- tar Ilmu Hadis (1995); Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir (1995); Negara Islam; Pemikiran Politik Haikal (1997); Lektur Agama Dalam Media Massa (1999); Anotasi Buku Islam Kontemporer (2000); Poligami dalam Pan- dangan Islam (2000);
Kesetaraan dan Keadilan Gender (Perspektif Islam) (2001); Pedoman Dakwah Muballighat (2000); Analisis Kebijakan Publik (2002);
Untukmu Ibu Tercinta.62
2. Pemikiran Siti Musdah Mulia
Islam memandang perkawinan sebagai amanah Allah Swt.
62 Siti Musdah Mulia, “Islam Menggugat Poligami”, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, dan The Asia Foundation, 2007), cet, ke-2, h. 203-204
Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu akan dipelihara dengan baik dan aman di tangan yang diberi amanat. Istri adalah amanah Allah kepada suami, demikian pula suami merupakan amanah Allah kepada istri. Suami-istri, keduanya harus berjanji menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya.
Perjanjian inilah yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai misaqan ghalidza (perjanjian yang kokoh).
Ajaran Islam amat sangat menekankan pada keadilan. Bukan tanpa alasan kalau ayat yang berisi penjelasan tentang poligami diturunkan dalam konteks pembicaraan anak yatim. Pembicaraan tentang poligami dalam Al-Qur'an berada dalam satu tarikan nafas dengan pembicaraan mengenai anak yatim. Ada persamaan antara anak yatim dan perempuan, yaitu bahwa keduanya sering kali menjadi korban dari perlakuan yang tidak adil, hak-hak mereka sering kali diabaikan. Allah menegaskan keharusan berlaku adil terhadap anak yatim, demikian pula terhadap perempuan, terutama dalam perkawinan.
Perkawinan monogami lebih menjanjikan tegaknya keadilan dan kehar- monisan keluarga dari pada poligami.
Islam tidak menganjurkan poligami, apalagi mewajibkannya.
Pembahasan poligami dalam Islam haruslah dilihat dari perspektif perlunya pengaturan hukum dalam aneka kondisi yang mungkin terjadi.
Suatu perundang-undangan dipandang ideal manakala mampu
66
mengakomodasikan semua kemungkinan yang bakal terjadi. Demikian halnya dengan aturan Islam, apalagi Islam adalah agama yang bersifat u niversal dan berlaku untuk semua situasi dan kondisi. Adalah perlu mempersiapkan ketetapan hukum yang tidak mustahil terjadi pada suatu ketika, walaupun kejadian itu hanya merupakan kemungkinan belaka.
Dalam konteks inilah kita melihat poligami dalam ajaran Islam. 63 Poligami hanyalah sebuah pintu darurat kecil yang dipersiapkan untuk situasi dan kondisi darurat, praktek poligami di masyarakat telah menimbulkan problem sosial yang meluas dan sudah sangat memprihatinkan. Di antaranya menyebabkan maraknya perkawinan di bawah tangan (sirri) atau perkawinan tidak tercatat, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga, tingginya kasus pelanggaran hak-hak anak, dan terlantarnya para istri dan anak- anak, terutama secara psikologis dan ekonomi.
Kesimpulannya, aspek negatif poligami lebih besar dari pada aspek positifnya. Dalam istilah agama, lebih banyak mudharatnya ketimbang maslahatnya dan sesuai kaidah fiqhiyah segala sesuatu yang lebih banyak mudharatnya harus dihilangkan. Mengingat dampak buruk poligami dalam kehidupan sosial, poligami dapat dinyatakan haram lighairih (haram karena eksesnya). Karena itu, perlu diusulkan pelarangan poligami secara mutlak sebab dipandang sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity) dan pelanggaran
63 Siti Musdah Mulia, Ibid., h. 191-193
terhadap hak asasi manusia.
Penghapusan poligami sesuai dengan kaidah fiqih: Dar'u al- mafasid muqaddam ala jalbi al-mashalih (menolak mafsadat [kerusakan] harus didahulukan dari pada meraih kemashlahatan).
Pelarangan mutlak poligami bukan hal yang sama sekali baru di dunia Islam, melainkan telah dilakukan di beberapa negara Islam, seperti Tunisia. 64
Sebelumnya, Turki merupakan negara Muslim pertama yang melarang poligami secara mutlak melalui UU Civil Turki Tahun 1926.
Tunisia adalah sebuah negara yang menjadikan Islam sebagai agama resmi negara dan sejak 1956 telah membuat undang-undang hukum keluarga yang bernama Majalat Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah Nomor 66 Tahun 1956. Semenjak ditetapkan undang-undang tersebut telah berkali- kali mengalami perubahan, penambahan, modifikasi, yaitu pada tahun 1959, 1964, 1981, dan 1993.
UU tersebut mencakup materi hukum perkawinan, perceraian, dan pemeliharaan anak yang dari segi material berbeda dengan ketetapan fiqih klasik. Dari sekian banyak pembaruan terhadap UU tersebut yang menonjol adalah larangan untuk berpoligami. Adapun alasan yang dikemukakan Tunisia melarang poligami adalah pertama, menganalogikan poligami dengan perbudakan. Menurut Tunisia, institusi perbudakan dan poligami hanya diizinkan pada masa-masa
64 Siti Musdah Mulia, Ibid., h. 193-194
68
awal perkembangan Islam, dan setelah Islam mampu membangun masyarakat yang berbudaya dan berkeadaban, poligami seharusnya dihapus. Kedua, bahwa syarat mutlak bolehnya poligami adalah kemampuan berlaku adil pada istri, sementara fakta sejarah membuktikan hanya Nabi yang mampu berlaku adil terhadap istri- istrinya.65
65 Siti Musdah Mulia, Ibid., h. 194-195