Sebagai pegawai, saya merasa di layani dengan baik dalam pengurusan BPJS. Sebagai bentuk apresiasi saya ingin memberikan suatu hadiah kepada salah seorang pegawai yang menangani pelayanan tersebut.
Kinerjanya luar biasa! Apa itu termasuk gratifikasi?
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu
kepada pegawai yang memberikan pelayanan, namun tidak jarang pemberian juga dilakukan pejabat publik. Biasanya hal ini dilakukan untuk memudahkan urusan. Pemberian hadiah mempunyai implikasi pada kedekatan hubungan antara pemberi dengan penerima, yang sering disalahgunakan dan disalahpahami oleh yang menerima atau oleh pemberi. Hadiah kemudian dipahami sebagai niat atau keinginan terselubung. Gratifikasi yang diberikan kepada Penyelenggara Negara atau Pegawai Negeri diatur dalam suatu peraturan. Hal itu sejalan dengan sumpah jabatan yang selalu diucapkan. Ada dua poin penting dari sumpah tersebut yang berkaitan dengan hadiah, yaitu memberi atau menerima.
KPK pernah melakukan survei di tahun 2019 bahwa hanya 37%
responden dari segmen masyarakat yang paham apa itu gratifikasi.
Bahwasanya kebanyakan budaya masyarakat ga paham, suka saling memberi. Nah yang lebih mengkhawatirkan lagi dari responden pemerintah hanya 13% yang pernah lapor gratifikasi. Entah gratifikasi ini tidak dipahami, atau takut melapor atau masih dipandang sebagai aib/tabu/suatu hal yang tidak layak. Apalagi yang melapor dianggap tidak solider.
Gratifikasi tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa gratifikasi adalah akar dari korupsi. Korupsi itu awal-awalnya bermula dari gratifikasi. Dianggap kecil tapi memiliki daya rusak tinggi. Terkadang banyak orang memandang gratifikasi kecil, hanya sekedar terima kasih kok dilarang-larang.
Awalnya menerima pemberian menyenangkan saja, uang/hadiah tanda terima kasih dari vendor, masyarakat atau stakeholder yang dianggap sebagai rezeki. Jika dibiarkan terus menerus maka akan merusak mental. Memang kita tidak meminta namun terkadang kalau dikasih ya Alhamdulillah.. Rezeki. Gratifikasi itu bersifat tanam budi.
Ada pepatah yang mengatakan “There is no free lunch”. Di dunia ini tidak ada makan siang gratis. Jika dihubungkan dengan gratifikasi, setiap pemberian dari masyarakat atau vendor atau stakeholder maka mereka akan catat pemberian tersebut.
Dasar pemikiran gratifikasi sangat jelas, “Tidak Sepantasnya Pegawai Negeri/Pejabat Publik Menerima Pemberian Atas Pelayanan yang Mereka Berikan”. Apa yang mereka kerjakan merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab mereka yang sudah digaji oleh Negara.
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi diperkenalkan delik gratifikasi yang dicantumkan dalam pasal 12B dan pasal 12C. pengaturan ini bentuk keseriusan pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Pengaturan mengenai gratifikasi ini merupakan salah satu bentuk penyempurnaan Undang- Undang No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal ini dilakukan mengingat gratifikasi merupakan salah satu delik korupsi yang tidak dapat dipungkiri realitasnya ditengah masyarakat.
Dalam pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001 ini gratifikasi diartikan dalam arti luas meliputi pemberian uang, barang, rabat atau diskon, pinjaman tanpa bunga, komisi, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara Negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan tanggung jawab dan tugasnya.
Gratifikasi dalam rumusan pasal tersebut merupakan suatu unsur delik dan penerima gratifikasi dapat dijatuhi pidana.
services, but not infrequently giving is also done by public officials. Usually, this is done to make things easier. Gift giving has implications for the close relationship between the giver and the recipient, which is often misused and misunderstood by the recipient or the giver. Gifts are then understood as hidden intentions or desires. Gratuities granted to a State Administrator or Civil Servant are stipulated in a regulation.
This is in line with the oath of office that is always pronounced.
There are two important points of the oath relating to gifts, namely giving or receiving.
The KPK once conducted a survey in 2019 that only 37%
of respondents from the public segment understood what gratuities are. Most people’s culture do not understand it; they like to give to each other. What’s even more worrying is that, of the government respondents, only 13% have ever reported gratuities, either this gratuity is not understood, or is afraid to report or is still seen as a disgrace/taboo/an inappropriate thing. Moreover, those who report are considered not in solidarity.
It is not an exaggeration to say that gratuities are the root of corruption. Corruption initially started with gratuities.
Gratuities are considered small but has a high destructive power. Sometimes, many people see gratuities as trivial; it’s only to say thank you, why is it forbidden.
Initially, receiving a gift is pleasant; money/gift as a token of gratitude from vendors, the community or stakeholders are considered as fortune. Allowed to continue, it will damage the mental. Indeed, we don’t ask for it but sometimes, when it is given, we would say thank God. It’s a fortune. Gratuities is to invest favor. There is a saying that “there is no free lunch”.
In this world there is no free lunch. When it is associated with gratuities, every gift from the people or vendors or stakeholders will be recorded.
The rationale for gratuities is very clear, “It is inappropriate for civil servants/public officials to receive gifts for the services they provide”. What they do is part of their duties and responsibilities that have been paid by the State.
Law No. 20 of 2001 concerning amendments to Law No. 31 of 1999 concerning eradication of criminal acts of corruption introduces gratuity offense which is stated in Article 12B and Article 12C. This arrangement is a form of the government’s seriousness to eradicate corruption. This regulation regarding gratification is one form of improvement of Law No. 31 of 1999 concerning eradication of corruption. This is done considering that gratuities are among the corruption offenses that cannot be denied in the community.
In Article 12B of Law No. 20 of 2001, gratuity is defined in a broad sense to include the provision of money, goods, rebates or discounts, interest-free loans, commissions, travel tickets, lodging facilities, tourist trips, free medical treatment, and other facilities. The article stipulates that every gratuity to a civil servant or state administrator is considered a bribe, if it is related to his position and is contrary to his responsibilities and duties. Gratuities as formulated in the article is an element of the offense and the recipient of the gratuity may be subject to a criminal sentence.
Gratifikasi tidak seseram yang dibayangkan. Gratifikasi memberikan waktu kepada kita untuk berfikir, rejeki atau bukan? Sebelum 30 hari kerja, gugur seluruh konsekuensi hukum dari Pasal 12B tentang Penyuapan. Selanjutnya dalam Pasal 12C Gratifikasi tidak dianggap suap, jika pelapor melaporkan ke KPK sebelum 30 hari kerja sejak Gratifikasi diterima. Jika melebihi 30 hari kerja maka sah unsur pidana, dan hukumannya lebih besar dari penyuapan.
“Lalu apa yang harus dilakukan jika menerima Gratifikasi yang dianggap suap?” Gratifikasi harus di tolak dikesempatan pertama namun jika tidak dapat menolak maka dapat diterima kemudian laporkan.
Jangan sampai orang yang memberikan sesuatu kepada kita mempunyai niat jahat untuk menjebak dikemudian hari. Kondisi yang sering terjadi, di beberapa kesempatan tidak jarang dalam pelaksanaan tugas ke daerah, hotel sudah disiapkan oleh pihak pengundang, makanan dijamu, pulang membawa oleh-oleh pemberian dari pihak pengundang yang memiliki benturan kepentingan.
Pandangan sebagian masyarakat masih menganggap gratifikasi adalah suatu hal yang biasa, dan seolah-olah itu tidak dilarang oleh Undang-Undang, karena dalam kehidupan sehari-hari prakteknya lumrah terjadi. Merubah cara pandang tidaklah mudah, harus dimulai dari pegawai negeri dan penyelenggara Negara dengan tidak menerima pemberian dalam bentuk apapun berkaitan dengan jabatan dan pekerjaannya, apalagi meminta. Ini akan memberikan pemahaman yang sangat berharga bagi masyarakat bahwa gratifikasi itu adalah korupsi dan itu adalah kejahatan.
Untuk memahami Pengendalian Gratifikasi di Lingkungan PPATK dapat mengakses tautan https://sites.google.com/view/pupg-ppatk/
home.•
Gratuities are not as scary as imagined. Gratuities gives us time to think; it’s fortune or not? Before 30 working days, all legal consequences of Article 12B on Bribery will be eliminated.
Furthermore, in Article 12C gratuities is not considered a bribe, if the reporter reports to the KPK before 30 working days since the gratuities are received. If it exceeds 30 working days, then the criminal element is valid, and the penalty is greater than bribery.
“Then, what should be done when receiving gratuities is considered a bribe?” Gratuities must be rejected at the first opportunity, but if you can’t refuse it, you can accept it and then report it.
Don’t let people who give something to us have evil intentions to entrap us in the future. On several occasions, it is not infrequently that when performing tasks in the region, hotels have been prepared by the invitees, food is served, and they return home with gifts from the invitees who have conflicts of interest.
Some people remain considers gratuities as a normal thing, and as if it is not prohibited by law, since it is a common practice in everyday life. Changing the perspective is not easy;
it should start from civil servants and state administrators by not accepting gifts in any form related to their positions and work, let alone asking. This will provide a very valuable understanding for the people that gratuity is corruption and a crime.
To understand Gratuity Control within the PPATK, you can access the link https://sites.google.com/view/pupg-ppatk/
home.•
PENGENDALIAN GRATIFIKASI | GRATUITY CONTROL
HARYANDO