Theology memiliki makna, theos berarti Tuhan, dan logos berarti ilmu. Dalam bahasa Yunani teologi adalah theologia, memiliki arti ilmu ilahia, tentang hakikat Tuhan, doktrin atau keyakinan tentang Tuhan. Teologi merupakan pemahaman ketuhanan yang dimiliki oleh agama-agama sebagai landasan berkeyakinan dalam menjalankan rutinitas keagamaan. Setiap agama memahami konsep Teologi (Mukhlis, 2016). Saat berbicara tentang hubungan Tuhan dengan manusia, apalagi dengan manusia yang beragama maka hubugan itu merupakan hubungan teologis. Dalam aplikasinya, hubungan teologis tidak hanya mersifat vertikal, tetapi juga horizontal (hubungan antar sesama manusia).
Setiap agama memiliki keyakinan ketuhanan, namun berbeda dalam hal praktik bahkan keyakinan. Sehingga banyak kita kenal dalam perkembangan agama ada teologi Islam, teologi Kristen, teologi Hindu, dan sebagainya.
Perbedaan konsep keyakinan (teologi) masing-masing agama ini sifatnya sensitif. Hal yang paling dasar dalam keyakinan umat beragama adalah konsep teologis.
Seringnya terjadi benturan internal maupun eksternal umat beragama kebanyakan dipicu oleh adanya saling singgung soal hal-hal teologis. Dalam konsep pluralisme agama (toleransi) mestinya yang paling utama adalah
mengedepankan kepentingan sosial-kemasyarakatan, bukan atas keyakinan. Karena jelas bahwa konsep teologisnya berbeda dan tidak akan pernah bisa bertemu. Dalam melahirkan kerukunan umat beragama harus mengedepankan hubungan dan kepentingan bersama dalam tujuan-tujuan sosial.
Setiap agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan demikian, penekanan harmonisasi kemanusiaan merupakan sifat dari agama-agama. Namun harmonisasi itu sering dibangun atas dasar primordialisme, politik dan etnis. Bangunan harmonisasi yang di bangun atas seperti sering bersifat semu dan amat sementara bahkan rapuh.
Sebab jika terjadi ketersinggungan antar kelompok penganut agama segera menimbulkan ketegangan hingga terjadi permusuhan. Saat itulah dibutuhkan kerukunan yang didasarkan ke langit (suatu kerukunan yang bersifat teologis) (Harahap, 2011). Tugas teologi kerukunan adalah menggemakan kembali suara Tuhan di zaman ini. Teologi harus menjadi penyambung lidah Tuhan, bukan penyambung lidah otoritas ataupun mayoritas, atau bukan sekedar perpanjangan kehendak penguasa atas masyarakat semata.
Secara umum agama merupakan pandangan atas rahasia ilahi, sehingga tidak ada satupun agama yang berhak mengklaim diri sebagai pemilik norma bagi agama lain. Ajaran setiap agama tentang sebuah titik temu, kebersamaan, dan kemanusiaan akan membuat manusia damai dan harmonis dalam kehidupan untuk menyongsong masa depan umat manusia yang lebih baik. Agama harus menjadi rahmat bagi seluruh semesta (Harahap, 2011).
Agama harusnya menjadi tempat mengaktualkan amalan-amalan sosial kemanusiaan. Spirutualisme tidak hanya dimaknai dengan melaksanakan ritus-ritus peribadatan, tetapi juga membangun harmoni sosial, pembebasan terhadap ketidakadilan dan penindasan terhadap umat manusia. Setiap penganut agama harus membuang jauh sikap monopoli kelas tertentu dalam hierarki keberagamaan, tapi mengajarkan egalitarianisme spiritual demi terwujudnya etika dan kebaikan global.
Daftar Pustaka
Ahmad, M. K. (2010). Teologi Kerukunan dalam Konteks Pluralitas Agama. Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin, 9(1), 91. https://doi.org/10.18592/jiiu.v9i1.1412.
Aisyah BM, S. (2014). Konflik Sosial dalam Hubungan antar Umat Beragama. Jurnal Dakwah Tabligh, 15(2), 189–
208.
Awwas, I. S. (2001). Risalah Kongres Mujahid dan Penegakan Syariah Islam. Wihdah Press.
Bagir, Z. A., Rahayu, M., & Tahun, M. (2012). Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2011.
Ghazali, A. M. (2013). Teologi Kerukunan Beragama dalam Islam ( Studi Kasus Kerukunan Beragama di Indonesia ).
Analisis, XIII(2), 281–302.
Harahap, S. (2011). Teologi Kerukunan. Prenada.
Mukhlis, F. H. (2016). Teologi Pancasila: Teologi Kerukunan Umat Beragama. Fikrah, 4(2), 171.
https://doi.org/10.21043/fikrah.v4i2.1885
Muqoyyidin, A. W. (2012). Potret Konflik Bernuansa Agama di Indonesia (Signifikansi Model Resolusi Berbasis Teologi Transformatif). Analisis: Jurnal Studi Keislaman, XII(2), 315–340.
Poloma, M. M. (2013). Sosiologi Kontenporer. Rajawali Press.
Susan, N. (2009). Pengantar Sosiologi Konflik. Kencana.
Tharaba, F. (2016). Sosiologi Agama; Konsep, Metode Riset, dan Konflik Sosial. Madani.
Windu, I. M. (1992). Kekuatan dan Kekerasan menurut Johan Galtung. Kanisius.
Yunus, F. M. (2014). Konflik Agama di Indonesia Problem dan Solusi Pemecahannya. Substantia, 16(2), 217–228.
Profil Penulis :
Awaluddin Hasrin., Lahir di Bajo, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Menghabiskan masa studi SD sampai SMP di kampung halaman, tahun 2004 melanjutkan studi SMA di Kota Palopo dan tahun 2008 meneruskan pendidikan di Universitas Cokroaminoto
Palopo. Lulusan Magister Pendidikan Sosiologi Tahun 2018 di Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar. Saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Manado Fakultas Ilmu Sosial Prodi Pendidikan Sosiologi.
Email: [email protected] dan Hp. 085396700705
BAB 4
PROBLEM SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT PESISIR Sa’diyah El Adawiyah
A. Pendahuluan
Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar dan strategis (Fatmasari, 2016) untuk dikembangkan dan dimanfaatkan terdiri dari 7,7 juta kilometer persegi (km2), 1,9 juta km2 berupa daratan, dan 5,8 juta km2 berupa laut. Indonesia memiliki zona eksklusif dengan luas 2,7 juta km2 sebagai pusat keanekaragaman hayati. Problema sosial budaya masyarakat pesisir sangat banyak, diantaranya berkaitan dengan sanitasi, lingkungan pemukiman, tingkat pengetahuan yang rendah, infrastruktur yang terbatas, masalah gender (perempuan), serta kemiskinan dan pangan.
Salah satu masalah terbesar di dunia adalah kemiskinan dan pangan yang menunjukkan gejala makin memburuk (Tajerin et al., 2017). Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah memprioritaskan program pangan dan gizi di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Global Hunger Index (2019) Indonesia memerlukan penanganan khusus terutama kelaparan (Atem & Niko, 2020). Sehingga fokus pemerintah saat ini adalah bagaimana mewujudkan pemantapan ketahanan pangan masyarakat (Tajerin et al., 2017) sampai tingkat perseorangan secara berkelanjutan melalui berbagai program salah satunya bidang ekonomi.
Berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat pesisir (Firdaus et al., 2016) selain kemiskinan, sumberdaya pesisir, kesehatan lingkungan dan akses laut bagi nelayan.
Terutama akses terhadap sumber daya alam dan laut yang dianggap berhubungan dengan tingkat kemiskinan dan ketahanan pangan suatu komunitas masyarakat. Akses terhadap sumber daya alam khususnya yang bersifat milik bersama dan terbuka (common property and open access) seperti perairan, hutan dan perikanan, semakin terancam.
Hal ini disebabkan karena pertumbuhan populasi yang tinggi meningkatkan permintaan terhadap sumber daya tersebut sehingga timbul kelangkaan (Wiebe et al., 2009).
Akses terhadap sumber daya alam yang terbuka menimbulkan konflik yang tidak hanya di level nilai produksi tetapi juga nilai sosiokultural dan politis. Kompleksitas
kontestasi akses terhadap sumber daya alam seperti hutan, perairan serta perikanan. Penanggulanganannya dilakukan melalui pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan perspektif ilmu alam dan ilmu sosial.
Masyarakat pesisir merupakan masyarakat marjinal (Syatori, 2014) yang identik dengan kemiskinan, lingkungan yang kumuh, pendapatan yang rendah dan pendidikan yang sangat minim. Kondisi tersebut menjadikan nelayan rentan terhadap berbagai perubahan sosial poilitik dan ekonomi terhadap pemaksaan atau intervensi dari para pemilik modal dan penguasa. Masyarakat pesisir atau nelayan sangat tergantung kepada pemilik modal seperti tengkulak, pengusaha kapal dalam proses penangkapan ikan. Besarnya biaya yang diperlukan dalam sektor perikanan tidak sebanding dengan perolehan pendapatan dari hasil menangkap ikan yang tidak pasti karena dipengaruhi faktor cuaca dan modal membuat nelayan tidak berdaya.
Masyarakat pesisir tidak memiliki tabungan yang memadai karena sudah habis untuk kebutuhan makan sehari-hari dan biaya perbaikan yang besar jika perahu yang mereka gunakan mengalami kerusakan (Firdaus et al., 2016;
Syatori, 2014).
Kemiskinan merupakan fenomena yang secara global terjadi pada masyarakat di level pedesaan. Mata pencaharian mereka bergantung pada bagaimana mereka memiliki akses terhadap sumber daya alam, untuk mengelolanya sedemikian rupa demi kelangsungan hidup mereka (Wiebe et al., 2009). Selain itu, akses sumber daya alam yang semakin terbatas karena faktor alamiah maupun manusia sendiri berdampak pada ketersediaan pangan yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dan ketahanan pangan pada suatu masyarakat. Semakin besar akses dan ketersediaan terhadap sumber daya alam khususnya bagi masyarakat pedesaan dan pesisir maka akan semakin mengurangi kemiskinan (Hakim dan Zuber; 2008).