Klasik hingga Kontemporer
E. Teori Feminisme
Epistemologi penelitian gender secara garis besar bertitik tolak pada paradigma feminisme yang mengikuti dua teori, yaitu Fungsionalisme Struktural dan Konflik. Dua teori ini menjadi dasar terbentuknya gerakan feminis. Dari dua teori tersebut, melahirkan aliran-aliran feminisme berikut ini.
1. Feminisme Liberal
Pokok pikiran aliran ini bahwa setiap manusia, laki-laki dan perempuan, diciptakan seimbang dan serasi, semestinya tidak terjadi penindasan. Sekalipun, keduanya ada perbedaan dengan kekhususan-kekhususannya tetapi secara ontologi, keduanya sama.16
15 Hal tersebut dikutip Ruth A. Wallace; Alisan Wolf, Contemporary Sociological Theory Continuing the Classical Tradition. New Jersey: Englewood Cliffs, 1995, 98-101; lihat juga dalam pengutipan pendapat tersebut dalam Mas’udi, “Akar-Akar Teori Konflik:
Dialektika Konflik; Core Perubahan Sosial dalam Pandangan Karl Mark dan George Simmel”, FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, 3(1) 2015, 177-200.
16 Istilah feminism berasal dari kata latin yaitu “femina” yang berarti perempuan yang digunakan pada tahun 1890’an. Lahirnya teori feminism dipelopori oleh kaum perempuan, diawali oleh gelombang besar di Eropa, yaitu Lady Mary Wortley Montagu Marquis de Condoracet yang memperjuangkan universal sisterhood, yakni gerakan yang menghapus perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan. Gerakan feminism liberal bertujuan untuk membebaskan perempuan dari rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan dan phalogosentrisme. Salah satu gerbong ide yang ditonjolkan adalah sebagai penguasa, tidak boleh memihak kepentingan kelompok atau lebih condong kepada laki-laki. Sebagaimana dikumandangkan oleh bapak teori feminism liberal yaitu Naomi Wolf mengatakan “Women are rational beings, have the same abilities as men, so they must be given the same rights as men. Likewise with the rulers of a country, they cannot choose one of the parties. In the 18th century there was a demand for women to receive the same education allocation, in the following century women fought for opportunities for civil and economic rights and in the present century many women's
Teori-Teori Gender: Klasik hingga Kontemporer 37 Dalam beberapa hal terutama yang berhubungan dengan fungsi reproduksi, aliran tersebut masih membedakan antara keduanya karena fungsi reproduksi membawa konsekuensi logis bagi perempuan dan perannya di dalam masyarakat. Aliran tersebut mengupayakan agar perempuan diberi peran publik, bekerja di luar rumah. Sumber ketidakadilan terhadap perempuan adalah pemisahan privat dan publik.17 Jika perempuan diberi peluang bekerja di sektor publik maka tidak ada lagi jenis kelamin yang lebih dominan. Teori Liberal lebih cenderung mengikuti aliran Fungsionalisme Struktural. Sasaran gerakannya adalah keterlibatan (partisipasi) perempuan dalam bidang pembangunan tanpa menata terlebih dahulu relasi laki-laki dan perempuan atas dasar keadilan dalam menegakkan hak dan tanggung jawab.18
2. Feminisme Marxis
Karl Marx membuat teori yang disebut Materialist Determinisme yang mengatakan bahwa budaya dan masyarakat berakar dari basis material atau ekonomi. Selanjutnya Karl Marx mengatakan bahwa basis kehidupan masyarakat berdasarkan pola relasi material dan ekonomi yang selalu menimbulkan konflik.19
organizations have begun to be formed to oppose sexual discrimination in all fields. So, liberal feminism is made to make women aware that they are the oppressed group. Women's work in the logistics sector is campaigned as unproductive and puts women in oppressive positions. Therefore, I urge all women to get out of the zone of oppression”, Naomi Wolf, Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan. Bandung: Niagara, 2004, 162.
17 Banyak filosof yang mengatakan bahwa feminism liberal hamper sama dengan filsafat ekstensialisme, di mana landasan teoretis yang digunakan adalah kesamaan hak antar manusia dengan memandang sudut eksistensi kemanusiaannya. Begitu juga dengan feminism liberal yang memiliki landasan filosofis kesamaan antara perempuan dengan laki-laki, namun berhubungan kiprah domestik yang diembankan kepadanya, muncul pola ketimpangan yang tidak terpikirkan. Hal demikian diutarakan oleh Nuril Hidayati dalam artikelnya berjudul, “Teori Feminisme: Sejarah, Perkembangan dan Relevansinya dengan Kajian Keislaman Kontemporer”, Jurnal Harkat: Media Komunikasi Gender, 14(1) 2018, 21-29.
18 Robi’ul Afif Nurul ‘Aini, “Analisa Kritis Teori Feminisme Liberal dalam Konstruksi Pendidikan Islam Perspektif Kesetaraan Gender”, Tahdzib, 19(2) 2018, 12-18.
19 Dalam literature yang ditulis oleh Saulnier Christine Flynn (2011), dijelaskan bahwa sebenarnya teori feminism Marxis juga dikenal dengan sebutan feminism sosialis, yaitu memandang bahwa perempuan sebagai penghulu kelas ekonomi domestik dalam bentuk kelas seks, sebagaimana yang diistilahkan oleh Shulamith Firestone yang berarti perempuan dapat menampilkan pelayanan berharga bagi kaum kapitalis baik secara pekerja buruh, istri maupun kerja domestik lainnya. Dalam feminism sosialis, perempuan dipandang dari sudut sistem patriarkhi dan kapitalis. Lihat dalam Christine Flynn, Feminist Theories and Sosial Work: Approaches and Applications.
New York: The Haworth Press, 2011, 292.
Basis material itu juga berlaku pada kehidupan keluarga dan masyarakat. Negara Jerman dan Rusia merupakan basis gerakan Feminisme Marxis Sosialis dengan tokoh-tokohnya, antara lain Clara Zetkin (1859-1933) dan Rosa Luxemburg (1871-1919). Akar masalah ketimpangan laki-laki dan perempuan menurut aliran ini adalah sistem kelas yang berdasarkan kepemilikan pribadi, secara inheren bersifat menindas dan laki-laki kulit putih mempunyai keistimewaan di dalamnya. Penindasan kelas oleh kapitalis terhadap perempuan yang digunakan sebagai buruh cadangan, tenaga perempuan sangat murah atas dasar perbedaan sexis untuk menentukan skala upah. Menurut Feminis Marxis bahwa hanya dengan penghapusan kelas secara ekonomis dan penindasan ekonomi, penindasan patriarkis dapat diselesaikan.20 Untuk itu perlu dilakukan perubahan penindasan struktur ekonomi dan membangkitkan kesadaran kelas dalam masyarakat.
3. Feminisme Radikal
Sumber ketidakadilan terhadap perempuan menurut aliran ini adalah seksisme dan ideologi patriarkis. Dalam perspektif analisis feminisme radikal digambarkan bahwa perempuan ditindas oleh sistem sosial patriarkis, rasisme, eksploitasi fisik, heteroseksisme dan klasisme terjadi secara signifikan.21 Upaya yang harus dilakukan adalah mengubah masyarakat yang berstruktur patriarkis. Menurut aliran feminisme radikal yang lebih ekstrim adalah menuntut tidak hanya mendapatkan hak tapi juga seks, seperti keputusan seks
20 Harold J. Laski, the State in Theory and Practice. New York: the Viking Press, 8-9;
lihat juga dalam Siti Dana Panti Retnani, “Feminisme dalam Perkembangan Aliran Pemikiran dan Hukum di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum Principium, 1(1) 2017, 97-98.
21 Aliran feminism radikal sebenarnya mengembangkan konsep feminis yang lebih bebas dan merdeka sepenuhnya sehingga dapat mencegah subordinan pada gender tradisional. Aliran ini menolak setiap kerja sama dan melakukan langkah praktis dan teoretis untuk menumbangkan aliran gender. Karena fenomena yang terjadi di masyarakat adalah pandangan kolektif bahwa perempuan menjadi tumpuan penindasan akibat patriarki. Intinya, aliran ini berupaya untuk menghancurkan sistem patriarki yang terfokus terkait biologis tubuh perempuan. Lihat dalam kutipan Abdul Karim,
“Kerangka Studi Feminisme (Model Penelitian Kualitatif tentang Perempuan dalam Koridor Sosial Keagamaan)”, Fikrah, 2(1) 2014, 65.
Teori-Teori Gender: Klasik hingga Kontemporer 39 bisa dilakukan sesama perempuan (lesbi).22 Lembaga perkawinan dan heteroseksual dipandang sebagai bentuk penindasan dan perbudakan terhadap perempuan. Aliran tersebut menuai banyak kritik dari berbagai pihak bukan hanya dari kalangan sosialis dan agamawan, tetapi juga dari kalangan feminis sendiri. Perjuangan ideologi dengan melakukan persaingan mengatasi kaum laki-laki yang tanpa beban organ reproduksi, secara umum, akan sulit diimbangi oleh perempuan yang secara biologis memang beda.
4. Feminisme Sosialis
Juliet Mitchell dalam buku Women’s Estate telah meletakkan dasar-dasar pengembangan Feminisme Sosialis. Ia menggambarkan bahwa politik penindasan sebagai suatu konsekuensi, baik penindasan kelas maupun penindasan patriarkis. Ia memperkenalkan konsepsi dasar Feminisme Sosialis untuk menganalisis dimensi-dimensi penindasan seperti produksi, reproduksi, sosialisasi dan seksualitas.
Bentuk Feminisme Sosialis merupakan perpaduan antara aliran Feminisme Marxis, Feminisme Radikal dan pemikiran Psikoanalisis.23 Menurut aliran tersebut sumber-sumber ketidakadilan terhadap perempuan adalah konstruk sosial. Kerangka analisisnya adalah membongkar ideologi patriarkis dan perlawanan kelas melalui analisis gender agar dapat diketahui seberapa besar peran, akses kontrol dan manfaat yang diperoleh perempuan dibandingkan
22 Dalam penelitian yang dilakukan oleh Mawadah Mus (2018), bahwa feminism radikal memiliki beberapa ciri sesuai kerangka sosiologis yang tercipta di masyarakat. 1) ketidakadilan gender bersumber penganggapan dari seorang figur, tokoh atau pihak yang berpengaruh, karena figur tersebut berperan penting untuk menciptakan stigma atau persepsi sosial; 2) posisi rendah perempuan dikarenakan ulah dan pemikiran perempuan sendiri; 3) ketidakadilan gender dalam bentuk beban ganda tergambar dari tanggung jawab dan peran. Ketiga ciri tersebut masuk pada kategori feminism radikal.
Lihat dalam Mawaddah Mus, “Analisis Feminisme Radikal Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari”, Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 3(1) 2016, 45.
23 Sebagai antitesa dari feminism marxis, teori feminism sosialis ini mengatakan bahwa patriarki sudah muncul jauh sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berupa meski kapitalisme muncul. Menurut Jangger (1987), mazhab ini berawal dari sintesa pendekatan historis-materialis “the personal is political” yang tidak mendukung sama sekali terhadap penindasan dan perbudakan perempuan. Lihat lebih jelas dalam penjelasan Ruth A. Wallace (ed.), Feminism and Sociological Theory: Key Issues in Sociological theory. London: Sage Publucation, 1989, 87; bisa juga dilihat dalam Sutan Siti Aminah, “Gender, Politik, dan Patriarki Kapitalisme dalam Perspektif Feminis Sosialis”, Jurnal Politik Indonesia, 1(2) 2012, 1-5.
laki-laki dalam peran-peran sosial di masyarakat baik sektor domestik (keluarga) dan sektor publik (berbangsa dan bernegara).
Dalam perkembangan lebih lanjut, sasaran gerakan Feminisme Sosial adalah upaya membangun visi ideologi. Kesetaraan (gender) dan memperbaiki struktur serta sistem menuju kesetaraan dan keadilan gender.
5. Feminisme Teologis
Bersumber pada mazhab Teologi Pembebasan (Liberation Theology) yang dikembangkan oleh James Cone pada akhir tahun 1960-an. Teologi Pembebasan memakai paradigma sosialis konflik atau marxis yang telah dimodifikasi. Berbeda dengan Teologi Marx murni yang menganggap Agama dipakai oleh pihak penguasa untuk melegitimasi kekuasaan yang selanjutnya dengan kekuasaan tersebut pihak penguasa sewenang-wenang melakukan penindasan, khususnya pada perempuan, sedangkan Teologi Pembebasan tetap mempertahankan keberadaan agama sebagai pembebas golongan tertindas.24
24 Lihat dalam Kenneth Allan, Contemporrary Sosial and Sociological Theory: Visualizing Sosial Words. London: Pine Forge Perss, 2006, 52.