• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA TEORITIS DAN KONSEPTUAL

2.3. Teori Konflik

saling bergaul secara intensif, langsung, dan dalam jangka waktu yang lama; (3) kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan. Contohnya perkawinan antar suku sehingga terjadi pembauran dari kebudayaan masing-masing individu sehingga muncul kebudayaan baru.

Bentuk hubungan asosiatif yang keempat adalah akulturasi.

Akulturasi adalah suatu keadaan diterimanya unsur-unsur budaya asing ke dalam kebudayaan sendiri. Diterimanya unsur-unsur budaya asing tersebut berjalan secara lambat dan disesuaikan dengan kebudayaan sendiri, sehingga kepribadian budaya sendiri tidak hilang.

Contohnya akulturasi antara budaya Hindu dan Islam yang tampak pada seni arsitektur masjid Kudus.

berada di antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian.

Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang atau unsur-unsur budaya kelompok lain. Sikap tersembunyi tersebut dapat berubah menjadi kebencian, namun tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian. Bentuk kontravensi, misalnya berupa perbuatan menghalangi, menghasut, memfitnah, berkhianat, memprovokasi, dan melakukan intimidasi. Contohnya demonstrasi yang dilakukan elemen masyarakat untuk menghalangi atau menolak kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak). Pertentangan/perselisihan (dispute) adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok menantang pihak lawan dengan ancaman dan atau kekerasan untuk mencapai suatu tujuan.36 Contohnya pertentangan antara golongan muda dengan golongan tua dalam menentukan waktu pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun 1945.

Ian Craib37 menyajikan sebuah perbandingan antara teori konsensus dengan teori konflik terkait dengan dua kata kunci dalam studi konflik yaitu “kepentingan” dan “kekuasaan”, sebagaimana diuraikan dalam tabel berikut:

36 Evan Willis, The Sociological Quest: An introduction to The Study of Social Life, New Brunswick, New Jersey: Rutgers University Press, 1996, hlm. 40-44.

37 Ian Craib, Op.cit., hlm 91.

Tabel 2.1.

Perbandingan Antara Teori Konsensus dengan Teori Konflik

Teori Konsensus Teori Konflik

1. Norma-norma dan nilai-nilai adalah unsur-unsur dasar dari kehidupan sosial

Kepentingan adalah unsur dari kehidupan sosial

2. Kehidupan sosial melibatkan komitmen Kehidupan sosial melibatkan dorongan

3. Masyarakat perlu kohesif Kehidupan sosial perlu terbagi 4. Kehidupan sosial tergantung pada

solidaritas

Kehidupan sosial melahirkan oposisi 5. Kehidupan sosial didasarkan

pada resiprositas dan kerja sama

Kehidupan sosial melahirkan konflik struktural

6. Sistem-sistem sosial bertahan pada konsensus

Kehidupan sosial melahirkan kepentingan bagian-bagian 7. Masyarakat mengenal otoritas legitimasi Diferensiasi sosial melibatkan

kekuasaan

8. Sistem-sistem sosial diintegrasikan Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi-kontradiksi 9. Sistem sosial cenderung untuk bertahan

lama

Sistem sosial cenderung berubah Sumber: Ian Craib, Teori-teori Sosial Modern: dari Parsons sampai Habermas, (Alih

bahasa oleh Paul S. Baut dan T. Effendi), Edisi 1, Cetakan ke-3, PT.

RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1994, halaman 91.

Teori konsensus memandang norma dan nilai sebagai landasan masyarakat, memusatkan perhatian pada keteraturan sosial berdasarkan atas kesepakatan diam-diam dan memandang perubahan sosial terjadi secara lambat dan teratur. Sebaliknya, teori konflik menekankan pada dominasi kelompok sosial tertentu oleh kelompok lain, melihat keteraturan sosial didasarkan atas manipulasi dan kontrol oleh kelompok dominan dan memandang perubahan sosial terjadi secara cepat dan menurut cara yang tak teratur ketika kelompok- kelompok subordinat menggulingkan kelompok yang semula dominan.38

Merujuk pada studi yang dilakukan oleh Sumardjo

38 George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Op.cit., hlm. 116.

(2009)39bahwa keragaman suku bangsa, etnis, agama, strata sosial, profesi dan golongan merupakan basis munculnya ekspresi perilaku yang mengarah pada potensi konflik, kompetisi, dan konflik terbuka.

Hal ini diangkat dari pengalaman penulis sendiri yang dalam melakukan kajian tentang resolusi konflik dan praktek-praktek pemberdayaan masyarakat, khususnya di pedesaan, pertanian dan masyarakat pesisir, maupun masyarakat semi urban dan urban.

Gambaran secara rinci tentang hal ini digambarkan oleh Sumardjo sebagaimana dapat dilihat pada pada tabel berikut:

Tabel 2.2.

Potensi Konflik dan Alternatif Resolusi Konflik (Kedamaian)

Latar Belakang Interaksi Sosial

Ekspresi Perilaku

Potensi Konflik Resolusi Konflik (Kedamaian)

Multi Agama/

Kepercayaan

Keragaman Pengamalan

Keyakinan dan Nilai

Toleransi/akulturasi/asimilasi

Keragaman Bangsa

Sikap

Super/inferiority

Dominasi, arogansi

Intercultural Communication Multi Etnis Keragaman

Budaya (Stereotype)

Nilai, Bahasa dan Perilaku (Etnosentrisme)

Cross cultural communication – akulturasi/asimilasi

Multi strata Keragaman kemampuan

Dominasi/

Subordinasi

Kemitraan/kolaborasi Multi profesi Keragaman

kompetensi

Kompetisi profesi/

sumberdaya

Kemitraan koordinasi

Multi golongan

Keragaman kebutuhan

Konflik kepentingan

Kemitraan/kolaborasi/Integrasi Struktur

Sumber: Sumardjo (et al.), “Kajian Kelompok Keagamaan di Sebelas Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta, Bogor: Kerjasama LP IPB dengan Departemen Agama RI, 2005.

39 Sumardjo, Op.cit., hlm. 301-302.

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa di dalam masyarakat terdapat dua sisi yaitu interaksi positif berupa kerjasama dan interaksi negatif yang dapat berwujud konflik. Konflik adalah fenomena yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan manusia. Konflik muncul ketika terjadi ketidak seimbangan dalam status sosial, kekayaan, akses terhadap sumber daya, maupun kekuasaan. Bagaimana konflik yang terjadi dapat diatasi? Bagaimana konflik dapat diselesaikan? Adalah pertanyaan mendasar untuk mengantarkan pembahasan pada analisis konflik yang dapat dipakai – khususnya dalam menganalisis konflik yang terjadi diantara warga kampus Universitas Malikussaleh dengan warga gampong sekitar.

Analisis konflik adalah proses praktis untuk menguji dan memahami realitas konflik dari perspektif yang beragam kemudian menjadi dasar pijakan dalam pengembangan strategi dan perencanaan aksi.40 Analisis konflik dalam studi ini dibutuhkan dengan beberapa pertimbangan, yaitu: 1) analisis konflik akan memberikan pemahaman latar belakang dan sejarah situasi konflik dan peristiwa (konflik) terkini, 2) analisis konflik berguna untuk mengidentifikasi semua kelompok atau pihak relevan yang terlibat dalam konflik, tidak hanya pihak yang utama atau yang jelas terlibat dalam konflik, 3) bahwa setelah adanya identifikasi terhadap kelompok yang relevan, analisis konflik juga penting untuk memberikan pemahaman perspektif dari semua kelompok atau pihak tersebut dan untuk mengetahui lebih luas tentang bagaimana relasi mereka satu sama lain. 4) analisis konflik akan berfungsi untuk mengidentifikasi faktor-faktor dan tren-trend yang menopang konflik, sehingga akan dapat ditentukan faktor-faktor yang memicu konflik, akar konflik serta issu-issu apa saja yang menggerakkan aktor-aktor yang terlibat di dalam konflik untuk melakukan tindakan (termasuk tindakan kekerasan). 5) analisis konflik akan menjadi media belajar – khususnya bagi pengambil kebijakan di Unimal di dalam mengatasi konflik di antara kampus dengan warga gampong. Hal ini akan melahirkan sikap kehati-hatian dalam proses penanganan konflik dan mencegah adanya kecendrungan dari pengambil kebijakan —khususnya untuk bersikap menyederhanakan masalah.41

40 Lihat, http://www.wmc-iainws.com

41 Lihat, http://sawingbahar.wordpress.com

Dalam praktek, tersedia berbagai macam model analisis konflik.42Diantaranya pemetaan konflik (conflict mapping) — merupakan teknik yang dipakai untuk merepresentasikan konflik dalam bentuk gambar (grafis) dengan menempatkan para pihak yang terlibat dalam konflik, baik dalam hubungannya dengan masalah maupun antar para pihak. Model Conflict Triangle – yang memberi penekanan pada aktor, isu dan proses dari konflik tersebut. Model analogi pohon konflik (conflict tree) juga lazim dipergunakan.43 Model ini menganalogikan konflik dalam bagian-bagian sebatang pohon, yaitu akar, batang, ranting dan daun. Selain itu juga terdapat analisis konflik berdasarkan tahapan-tahapannya, titik awal konflik adalah akar konflik yang akan memunculkan berbagai peristiwa yang mempengaruhi atau menimbulkan ekskalasi konflik, sampai dengan terjadinya tahapan krisis. Pada saat ini, konflik berada pada tahapan puncak yang akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dan upaya penanganannya, apakah dapat mengalami de-eskalasi dan kemudian kembali ke tahapan awal atau akan memecah dan menjadi konflik terbuka —yang besar kemungkinan berupa kekerasan. Model berikutnya adalah Onion Model disebut juga model kulit bawang yang menganalisis konflik dengan melihat keterlibatan aktor dari tiga lapis kulit bawang yang dianalogikan. Lapis pertama adalah sikap aktor —yaitu ekspresi aktor dalam merespon konflik tersebut; lapis kedua adalah posisi dan perspektif aktor tersebut di dalam konflik, dan lapis ketiga adalah kepentingan aktor. Kepentingan disini berarti hal-hal yang diharapkan oleh aktor yang mungkin berbenturan sehingga menimbulkan konflik.44

Onion model45akan dipergunakan sebagai analysis tool dalam studi konflik antara orang kampung dan orang kampus Unimal ini.

Lebih lanjut studi ini akan menunjukkan adanya berbagai pihak/aktor yang terlibat di dalam konflik ini. Studi ini akan mengeksplorasi sikap

42 Nikolaus Schall dan Michael Becker, Methodfinders Practitioner’s Guide, GTZ – FRCS Project Team, 2004, lihat juga http://www.Methodefinder.net.

43 Lihat, Simon Mason & Sandra Richard, Conflict Analysis Tool, Swiss Agency for Development and Cooperation (SDC); lihat juga http:// www. iisd.org / csconservation / conflict_tree. aspx ;

44Lihat, http://www.sawingbahar.wordpress.com.

45Lihat, http://www.wmc-iainws.com; http://www.beyondintractability.org;

http: // www. olorado.edu/conflict/pace/glossary.htm.

para pihak/aktor yang terlibat di dalam interaksi dan konflik ini dan selanjutnya akan mengeksplorasi posisi dan kepentingan para pihak/aktor tersebut dalam konflik yang ada. Penggunaan model analisis konflik ini diharapkan secara komprehensif dapat memberikan pemahaman atas konflik yang terjadi serta solusi yang dapat diambil oleh para pihak dalam mengatasi konflik tersebut.

BAB 3