Christya Putranti
Universitas Katolik Soegijapranata [email protected]
Abstract
Simultaneous general elections in 2024 will be a historical record for Indonesia. This becomes a challenge all general election organizers and the Constitutional Court. The decision of the Constitutional Court No. 85/PUU-XX/2022 discusses the dispute resolution over the results of the regional head elections. This study concerns the resolution of the regional head election disputes after the decision of the Constitutional Court No 85/PUU-XX/2022 in 2024 general election. This normative legal study used library research with a case-study design. It used some decisions of the Constitutional Court and laws and regulations.
The result showed that based on the decision of the Constitutional Court No. 85/PUU-XX/2022, the constitutional court was granted permanent authority to settle disputes over the regional head election disputes. This becomes a challenge to the Constitutional Court for the 2024 simultaneous general elections. In carrying out law enforcement, the Constitutional Court has to be guided by fast, simple and cheap principles as intended in the Law on Judicial Power.
Keywords: General Election, Regional Head, 2024 Election, Challenges of the Constitutional Court.
Abstrak
Pemilihan umum serentak tahun 2024 yang akan diselenggarakan nanti akan menjadi catatan sejarah bagi Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi Indonesia, seluruh penyelenggara pemilihan umum dan Mahkamah Konstitusi. Melalui putusan Mahkamah Konstitusi No 85/PUU-XX/2022 akan membahas perkembangan penyelesaian sengketa perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah. Rumusan masalah dalam penulisan ini adalahBagaimana Penyelesaian perselisihan pemilihan umum kepala daerah pasca putusan Mahkamah Konstitusi No 85/PUU-XX/2022 terhadap Pemilihan Umum 2024? Dalam penelitian ini metode yang diterapkan adalah menggunakan metode penelitian hukum normatif, yaitu penelitian kepustakaan yang menggunakan pendekatan penelitian terhadap sistematik hukum.Penelitian ini menggunakan studi kasus yakni melalui beberapa putusan Mahkamah Konstitusi dan beberapa peraturan perundang-undangan.
Pendekatan yang dipergunakan untuk mendapatkan kesimpulan atas rumusan masalah yang telah dibentuk, penulis melakukan pendekatan normatif. Adapun kesimpulannya bahwa dengan putusan Mahkamah Konstitusi No 85/PUU-XX/2022 mahkamah konstitusi diberikan kewenangan secara permanen untuk menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah, hal ini menjadi tantangan kepada Mahkamah Konstitusi untuk Pemilihan Umum serentak tahun 2024 nanti. Mahkamah Konstitusi dalam menjalankan penegakan hukum harus berpedoman pada salah satu asas yakni cepat, sederhana dan murah sebagaimana yang dimaksudkan dalam UU Kekuasaan Kehakiman.
Kata kunci: Pemilihan Umum, Kepala Daerah, Pemilu 2024, Tantangan Mahkamah Konstitusi.
Pendahuluan
Istilah negara hukum merupakan terjemahan langsung dari istilah “rechtstaat” dalam terminologi negara-negara di Eropa dan Amerika istilah untuk “negara hukum”
menggunakan istilah yang berbeda-beda. Di jerman dan Belanda digunakan istilah rechtsstaat.1 Mewujudkan penegakan hukum di bidang kekuasaan kehakiman yang bebas, merdeka dan mandiri merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam kerangka negara hukum dan demokrasi.2
Konstitusi sebagai hukum tertinggi mengatur penyelenggaraan negara berdasarkan prinsip demokrasi dan salah satu fungsi mengatur adalah melindungi hak asasi manusia
1 Allan R. Brewer Carias, Judicial Review In Comparative Law, Cambridge University Press, 1989, hlm. 7.
2 Usman Rasyid, Wajak Kekuasaan Kehakiman Indonesia, UII Press, Yogyakarta, 2020, hlm. 18.
Jeva Fitri Fadilla dan Budi Agus Riswandi Accountablility for the Production of Moral...
yang dijamin dalam konstitusi, sehingga menjadi hak konstitusional warga negara. Oleh karena itu Mahkamah Konstitusi juga sebagai pengawal demokrasi (The guardian of democracy) pelindung hak-hak konstitusional warga negara (The proctectro of the citizen’s constitutional right) serta pelindung hak asasi manusia (The protector of human rights).3Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan secara konstitusional yang diatur didalam Pasal 24C ayat (1) bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang- undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
Berdasarkan bunyi pasal tersebut maka Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan secara langsung yang salah satu diantaranya adalah memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
Kekuasaan kehakiman untuk menyelenggarakan peradilan untuk menegakan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 demi terselenggaranya Negara Hukum, Mahkamah Konstitusi merupakan pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana yang dimaksud dalam UUD 1945 yakni Pasal 24C ayat (1) kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman.
Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan salah satu bentuk negara yang demokrasi, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD 1945) mengatur secara tegas dalam BAB tersendiri yakni BAB VIIIB yakni Pasal 22E. yang dimaksudkan dengan Pemilihan umum tersebut adalah Pemilihan Umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan wakil presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 22E ayat (2). namun apabila dilihat kembali pasal tersebut tidak mengatur bagaimana dengan pemilihan kepala daerah. Pasal 18 menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut di dalam pasal 18 ayat (4) Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis.
Dalam hal penyelesaian perselisihan hasil pemilihan umum diatur pula dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) Pasal 10 ayat (1) huruf d, Sedangkan untuk penyelesaian perselisihan hasil pemilihan kepala daerah dengan berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah merupakan kewenangan Mahkamah Agung Pasal 106 ayat (1), kemudian dengan diundangkannya Undang-Undang No 12 Tahun 2008 tentang Perubahan kedua Undang- Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah kewenangan mengadili perselisihan hasil pemilihan kepala daerah tidak lagi diselesaikan oleh Mahkamah Agung tetapi dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi sehingga kewenangan Mahkamah Konstitusi lebih luas yakni dalam Pasal 236C UU No 12 Tahun 2008.
Perluasan kewenangan itu menandakan dua hal, penegasan bahwa selain menjadi pengawal konstitusi (the guardian of the constitution), Mahkamah Konstitiusi juga menjalankan fungsi sebagai pengawal demokrasi (the guardian of democracy). Dalam
3 Norvendri M. Ngilu, Hukum dan Teori Konstitusi (perubahan Konstitusi yang Pratisipatif dan Populis), Yogyakarta; UII Press, 2014, hlm. 148
mengawal demokrasi, Mahkamah Konstitusi menjadi pemutus paling akhir atas sengketa Pemilukada. Peran yang demikian membuat Mahkamah Konstitusi menyadari bahwa putusan tidak hanya menyangkut para kandidat yang sedang berkompetisi tetapi menentukan nasib rakyat dan demokrasi terutama di daerah di mana Pemilukada digelar, kedua Pemilihan Kepala Daerah menjadi berada dalam lingkup pemilihan umum sebagaimana diatur dalam Pasal 22E UUD 1945 karena hanya sengketa Pemilu lah yang menjadi kewenangan MK. Dalam hal ini Mahkamah harus dapat menunjukkan performa yang lebih baik dalam proses penangannya, artinya agar pelaksanaan kewenangan ini dapat dijalankan secara optimal, tidak dapat tidak Mahkamah Konstitusi harus memiliki dan mempersiapkan dukungan yang memadai dalam segala aspek.4
Tahun 2024 nanti akan menjadi tahun politik di Indonesia, pada tahun tersebut akan diselenggarakan untuk Pemilu dan pemilihan kepala daerah. PKPU No 3 Tahun 2022 tentang Tahapan dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum. Pada Lampiran PKPU tersebut angka 10 penetapan hasil pemilihan umum apabila terdapat permohonan perselisihan hasil pemilihan umum diajukan paling lambat 3 (tiga) hari setelah putusan Mahkamah Konstitusi dibacakan. Mahkamah tampaknya telah menyatakan kesiapan untuk pemilihan umum dan pemlihan kepala daerah 2024 nanti melalui laman Mahkamah Konstitusi Anwar Usman mengatakan bahwa
“Dengan pilkada, rakyat dapat memilih secara langsung calon-calon pemimpin di daerahnya. Oleh karena itu, pilkada merupakan pendelegasian kedaulatan rakyat kepada seseorang (pasangan calon), guna mewakilinya dalam menyusun kebijakan- kebijakan publik, khususnya di tingkat pemerintahan daerah. Untuk itu, agar kemurnian suara rakyat terjaga, maka proses pilkada harus didesain setransparan mungkin, akuntabel, dan dengan pengawasan yang ketat. Hal ini dilakukan agar keterpilihan para kepala daerah, mendapatkan legitimasi yang kuat karena mendapatkan mandat langsung dari rakyat,” terang anwar.5
Mahkamah Konstitusi dalam putusannya No 85/PUU-XX/2022 secara nyata Mahkamah Konstitusi memutus bahwa Mahkamah Konstitusi diberi kewenangan secara permanen untuk menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan kepala daerah. Dengan berapa putusan Mahkamah Konstitusi penulisan ini akan menyinggung juga beberapa putusan Mahkamah Konstitusi No 97/PUU-XI/2013, No 55/PUU-XVII/2019. Tantangan Penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilihan Kepala Daerah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No 85/PUU-XX/2022 tersebut untuk dibahas.
Rumusan Masalah
Bagaimana Penyelesaian perselisihan pemilihan umum kepala daerah pasca putusan Mahkamah Konstitusi No 85/PUU-XX/2022 terhadap Pemilihan Umum 2024?
4 Panduan Teknis Beracara dalam Perkara Perselisihan Hasil pemilihan Umum kepala Daerah dan Wakil kepala daerah (Jakarta: Sekretariat jendral dan Kepanitreraan Mahkamah Konstitusi, 2011, hlm. V.
5 “MK Siap Hadapi Pemilu Serentak Nasional” 2022,
https://www.mkri.id/index.php?page=web.Berita&id=18554&menu=2
Jeva Fitri Fadilla dan Budi Agus Riswandi Accountablility for the Production of Moral...
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang diterapkan adalah menggunakan metode penelitian hukum normatif, yaitu penelitian kepustakaan yang menggunakan pendekatan penelitian terhadap sistematik hukum. Penelitian terhadap sistematik hukum dapat dilakukan pada perundang-undangan tertentu ataupun hukum tercatat.6 Penelitian Hukum Normatif merupakan penelitian hukum yang terdiri dari penelitian asas-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi hukum, sejarah hukum dan perbandingan hukum.7 Penelitian ini menggunakan studi kasus yakni melalui beberapa putusan Mahkamah Konstitusi dengan permohonan para pemohon menguji suatu undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Pendekatan yang dipergunakan untuk mendapatkan kesimpulan atas rumusan masalah yang telah dibentuk, penulis melakukan pendekatan normatif. Dalam penelitian yuridis normatif terdapat beberapa pendekatan: pendekatan perundang-undangan (statutory approach), pendekatan konsep (conceptual approach), pendekatan analisis (analytical approach), pendekatan perbandingan (comparative approach), pendekatan sejarah (historical approach), pendekatan filsafat (philosophical approach), dan pendekatan kasus (case approach).8 Pendekatan yuridis normatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah perundang- undangan (statutory approach), pendekatan sejarah (historical approach) ini dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan isu hukum yang diteliti.
Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan yang berupa bahan-bahan hukum. Pada penelitian hukum normatif yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder.9 pengambilan data ini melakukan beberapa studi pustaka terhadap buku, jurnal, hasil penelitian, peraturan perundang- undangan, putusan Mahkamah Konstitusi.
Pembahasan
Mahkamah Konstitusi
M Lacica Marzuki mengemukakan Mahkamah Konstitusi bukan bagian dari Mahkamah Agung dalam makna perkaitan struktur unity juridiction, seperti halnya dalam sistem hukum Anglo Saxon tetapi berdiri sendiri serta terpisah dari Mahkamah Agung secara duality of jurisdiction. Keduanya merupakan penyelenggara tertinggi dari kekuasaan kehakiman dengan kata lain maka perubahan UUD 1945 maka selain Mahkamah Agung sebagai puncak pelaksanaan kekuasaan kehakiman dari lingkungan peradilan yang berada di bawahnya juga terdapat Mahkamah Konstitusi yang secara fungsional juga pelaksana kekuasaan kehakiman.10 Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga peradilan
6 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat, raja Grafindo, Jakarta, 2006, hlm. 15.
7 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta,1996, hlm. 13.
8 Mukti Fajar & Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hlm. 184-190.
9 Ibid, hlm. 52.
10 Abdul Latif, Buku Ajar Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Total Meddia, Yogyakarta, 2009, hlm. 15
sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman di samping Mahkamah Agung yang dibentuk melalui Perubahan Ketiga UUD 1945 dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2001, tanggal 9 November 2001.
UUD 1945 perubahan ke tiga melahirkan lembaga baru yang mana menjadi bagian dari kekuasaan kehakiman. Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa
“Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”
Kemudian diperkuat lagi dalam Undang-Undang No 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-Undang No 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia (UUD RI 1945) Pasal 24C ayat (1) yakni menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Berkaitan dengan penulisan ini pada Perselisihan Hasil Pemilihan umum, perselisihan yang dimaksud adalah tentang penetapan hasil pemilihan umum secara nasional yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum yang mengakibatkan seseorang yang seharusnya terpilih menjadi anggota DPD, DPR maupun DPRD, Presiden dan wakil presiden. Hal ini terjadi karena perhitungan suara hasil pemilihan umum dilakukan secara keliru atau tidak benar, baik sengaja maupun tidak. Yang menjadi ter mohon dalam hal ini adalah KPU.11
Mahkamah Konstitusi dibentuk untuk menjamin agar konstitusi sebagai hukum tertinggi dapat ditegakkan sebagaimana mestinya, karena itu Mahkamah Konstitusi bisa disebut sebagai the guardian of the constitution.12 Bahkan dalam rangka kewenangan untuk memutus perselisihan hasil pemilu, Mahkamah Konstitusi juga dapat disebut sebagai pengawal proses demokratisasi dengan cara menyediakan sarana dan jalan hukum untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di antara penyelenggaraan pemilu dengan peserta pemilu dapat memicu terjadinya konflik politik dan bahkan konflik sosial di tengah masyarakat. Dengan adanya Mahkamah Konstitusi, potensi konflik semacam itu dapat diredam dan bahkan diselesaikan melalui cara-cara yang beradab di meja merah Mahkamah Konstitusi, oleh karena itu Mahkamah Konstitusi di samping berfungsi sebagai (I) pengawal konstitusi (ii) penafsir konstitusi juga adalah (iii) pengawal demokrasi (The Guardian and the sole interpretes ofdemocratization) bahkan Mahkamah Konstitusi juga merupakan (iv) pelindung hak asasi manusia (the protector of human right).13
11 Maruar Sihaan, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, hal 38.
12 Ibid bawah hlm. 152.
13 Jimly Asshiddiqie, Perkembangan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Sekretariat Jendral dan Kepanitraan Mahkamah Konstitusi RI, Jakarta pusat, 2006,, hlm. 153
Jeva Fitri Fadilla dan Budi Agus Riswandi Accountablility for the Production of Moral...
Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie., SH menyatakan bahwa;14
“Dalam konteks ketatanegaraan, Mahkamah Konstitusi dikonstruksikan sebagai pengawal konstitusi yang berfungsi menegakkan keadilan konstitusional di tengah kehidupan masyarakat Mahkamah Konstitusi bertugas mendorong dan menjamin agar konstitusi dihormati dan dilaksanakan oleh semua komponen negara secara konsisten dan bertanggung jawab, Di tengah kelemahan sistem konstitusi yang ada Mahkamah Konstitusi berperan sebagai penafsir spirit konstitusi selalu hidup dan mewarnai keberlangsungan bernegara dan bermasyarakat”
Dalam menjalankan penegakan hukum mahkamah konstitusi juga harus tunduk pada asas-asas peradilan dalam Undang-Undang Hukum Acara dan Undang-Undang kekuasaan kehakiman yakni;15Persidangan terbuka untuk umum
Keterbukaan ini merupakan salah satu bentuk social control dan juga bentuk akuntabilitas hakim.16 Independen Independensi dan imprasialitas merupakan konsep yang mengalir dan doktrin separation of powers (pemisahan kekuasaan) yang harus dilakukan secara tegas agar cabang-cabang kekuasaan negara tidak saling mempengaruhi.
Imparsialitas akan dilihat berdasarkan pedoman tingkah laku (code of conduct) hakim, baik di dalam maupun diluar persidangan yang mengalir dari kode etik. Kode etik pedoman tingkah laku (code of conduct) tersebut harus juga disosialisasikan sehingga diawasi oleh masyarakat17Peradilan dilaksanakan secara cepat, sederhana dan murah, Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang kekuasaan Kehakiman menentukan bahwa peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan. Hakim aktif dan juga pasif dalam Proses Persidangan Pernyataan ini sesungguhnya dapat dilihat paradoksal karena sikap pasif sekaligus aktif harus dianut hakim. Mekanisme constitutional control harus digerakkan pemohon dengan satu permohonan dan dalam hal demikian hakim bersikap pasif dan tidak boleh secara aktif melakukan inisiatif untuk menggerakkan mekanisme Mahkamah Konstitusi memeriksa perkara tanpa diajukan dengan suatu permohonan namun hakim harus aktif dalam menggali data dan keterangan yang diperlukan bahkan dengan menyelisik melalui risalah pembahasan undang-undang.18 Hak untuk didengar secara seimbang (Audiet et Alteram Partem) Dalam perkara sengketa kewenangan lembaga negara, sengketa hasil Pemilu dan pembubaran Partai Politik yang secara eksplisit disebut adanya pihak termohon asas ini akan tampak lebih tegas dalam pelaksanaannya. Termohon harus didengar keterangannya dalam persidangan dan hal ini merupakan hak prosesual yang tidak dapatdikesampingkan. Kegagalan hakim untuk melaksanakan asas ini secara baik akan menimbulkan kesan bahkan tuduhan bahwa hakim atau mahkamah tidak imprasia bahkan tidak adil.19 Ius Curia Novit penemuan hukum ini dimaksudkan agar para pencari keadilan (justitiabelen) tetap terjamin haknya untuk memperoleh keadilan.20
14 Cetak biru, Membangun Mahkamah Konstitusi, sebagai Institusi Peradilan Konstitusi yang moderen dan terpercaya, sekretariat Jendral MKRI, 2004, hlm iv.
15 Op. Cit, Maruar Sihaan, hal. 44
16 Ibid, hlm. 44.
17 Ibid, hlm. 49.
18 Ibid, hlm. 54.
19 Ibid, hlm. 53.
20 Ibid. Hlm. 56.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa keberadaan Mahkamah Konstitusi dalam perubahan UUD 1945 perubahan ketiga menjalankan kekuasaan kehakiman yang memiliki kewenangan secara langsung dalam UUD 1945 yakni Pasal 24C yang memiliki 5 (lima) kewenangan yakni pembubaran partai politik, sengketa antar lembaga negara, pemberhentian presiden, pengujian UU terhadap UUD dan Perselisihan Hasil Pemilihan umum. Dalam menjalankan kewenangannya mahkamah konstitusi harus tunduk pada 6 (enam) asas tersebut.
Pemilihan Umum
UUD 1945 Pasal 1 ayat ayat (2) menegaskan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat” Secara teoritis pemilihan Umum dianggap merupakan tahap yang awal dari rangkaian kehidupan ketatanegaraan yang demokratis.21 Ketentuan mengenai Pemilu dibentuk dalam konstitusi dimaksudkan untuk memberikan landasan hukum yang kuat bagi Pemilu sebagai salah satu wahana pelaksanaan kedaulatan rakyat.22 Konstitusi telah mengamanatkan Pemilu didalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945. Melalui Pemilu inilah kedaulatan rakyat dapat terwujud dengan memilih calon baik Legislatif maupun eksekutif yang akan mewakili suara rakyat. Dengan diselenggarakan Pemilu maka rakyat telah memberikan kepercayaan atau mandat secara langsung bagi calon yang telah dipilihnya.
Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan wakil presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 22 E ayat (1).
Pemilu adalah wujud nyata demokrasi prosedural, meski-pun demokrasi tidak sama dengan Pemilihan Umum, namun Pemilihan Umum merupakan salah satu aspek demokrasi yang sangat penting yang juga harus diselenggarakan secara demokratis. Oleh karena itu, lazimnya di negara-negara yang menamakan diri sebagai negara demokrasi mentradisikan pemilu untuk memilih pejabat-pejabat publik di bidang legislatif dan eksekutif baik di pusat maupun daerah. Demokrasi dan pemilu yang demokratis merupakan “qonditio sine qua non”, the one can not wxist without the others.23 Dahlan Thaib menyebutkan bahwa Pemilu merupakan suatu proses pengantian kekuasaan secara damai dalam masyarakat demokratis yang dilakukan secara berkala sesuai dengan prinsip- prinsip yang digariskan konstitusi.24
Pada tahun 2019 Indonesia telah diselenggarakan pemilu serentak. Tidak hanya memilih Presiden dan Wakil Presiden tetapi juga anggota DPR, DPD dan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Pelaksanaan Pemilu serentak ini adalah pertama kalinya dilakukan di Indonesia dan hal ini menjadi sejarah Pemilu di Indonesia maka kerangka Pemilu juga telah berbeda dibanding Pemilu sebelumnya yang terpisah-pisah di tiga undang-undang namun dalam pemilu serentak pengaturannya akan menjadi satu yakni
21 Dahlan Thaib, Ketatanegaraan Indonesia, Prespektif Konsttiusional, Total Media, Yogyakarta, 2009, hlm. 95.
22 Jimly Asshiddiqie, Peradilan Etik dan Etika Konstitusi, Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hlm. 282.
23 Septi Nurwijanti dan Nanik Prasetyoningsih, Politik Ketatanegaraan, Lab Hukum UMY, Yogyakarta, 2009, hlm. 23.
24 Dahlan Thaib, Ketatanegaraan Indonesia; Prespektif Konstitusional, Total Media, Yogyakarta, 2009, hlm. 98
Jeva Fitri Fadilla dan Budi Agus Riswandi Accountablility for the Production of Moral...
dalam Undang-Undang No 7 Tahun 2017 tentang pemilihan Umum (UU No 7 Tahun 2017).25
Terbitnya PKPU No 3 Tahun 2022 tentang Tahapan dan Jadwal Penyelenggaraan pemilihan Umum Tahun 2024 maka Pemerintah telah siap secara matang untuk melaksanakan Pemilu secara serentak. Yang dimaksud dengan tahapan penyelenggaraan Pemilu diawali dari perencanaan sampai dengan pengucapan sumpah/janji. Pada bulan Oktober sampai bulan November telah memasuki pencalonan Presiden dan wakil presiden kemudian bulan April 2023 untuk pencalonan Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/kota dan yang ketiga adalah pencalonan untuk anggota DPD yakni pada bulan Desember sampai dengan November 2023.
Sedangkan untuk Pemilihan Kepala Daerah diatur dalam UU No 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan pemerintah Pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-Undang. Pasal 201 ayat (5) mengatakan Pemungutan suara serentak nasional dalam pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilaksanakan pada bulan November 2024. Dengan kedua dasar tersebut UU No 7 Tahun 2017 dan UU No 10 Tahun 2016 pemerintah dan PKPU No 3 Tahun 2022 akan diselenggarakan Pemilu tahun 2024 secara serentak.
Pemilu yang berintegritas dapat dilihat dari kualitas pelaksanaan Pemilu. Salah satu yang menentukannya ialah pengimplementasian manajemen yang dilakukan oleh Penyelenggara Pemilu.26 Pasal 22E ayat (5) Pemilu diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri. Dasar konstitusional tersebut diatur lebih lanjut dalam Pasal 1 angka 7 yang mengatakan bahwa Penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu yang terdiri atas Komisi Pemilihan Umum, Badan pengawas Pemilu dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan Pemilu untuk memilih anggota DPR, anggota DPRD, Presiden dan Wakil Presiden dan untuk memilih DPRD secara langsung oleh rakyat. Desain kelembagaan Penyelenggara Pemilu yang meliputi 3 institusi yang sejajar tersebut (KPU, Bawaslu, DKPP) merupakan kesatuan fungsi dalam mewujudkan Penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada yang jujur dan adil. Adapun kelembagaan KPU dan Bawaslu beserta jajarannya berhubungan langsung dengan Penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada (electoral management body), sedangkan kelembagaan DKPP tidak secara langsung berhubungan dengan Penyelenggaraan Pemilu dan Pemilukada.27
Dengan demikian maka Pemilihan umum merupakan perwujudan dari negara yang demokrasi dimana pemilihan umum dimaksudkan untuk memilih anggota eksekutif maupun legislatif yang akan mewakili suara rakyat dengan demikian pemilihan umum juga merupakan cerminan dari kedaulatan rakyat. Pemilihan umum dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Penyelenggara Pemilu
25 Ida Budiati, Pemilu di Indonesia, Sinar Grafika Offset, Jakarta, 2019, hlm. 258.
26 Op.Cit, Jimly Asshiddiqie, hlm. 274.
27 Lihat Pasal 1 ayat (7) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 182 dan Tambahan Lembaran Negara Repulik Indonesia Nomor 6109).