• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiga Pesantren Kontoversial: Ngruki, Hidayatullah dan

5. Tiga Pesantren Kontoversial: Ngruki, Hidayatullah dan Al-

150 | Nu r m a id a h , M .Pd .I

asas tunggal Pancasila. Sementara jika kita lihat dari semangat kelahiran pesantren ini pada tahun 1973 memang ditujukan untuk menanggulangi gelombang komunisme yang merebak di Solo Raya, selain juga untuk menanggulangi kristenisasi dan sinkretisme yang mereka anggap semakin meningkat intensitasnya.21 Pesantren ini juga meluruskan aqidah umat Islam yang dianggap telah banyak melakukan penyimpangan dengan mencampurkan unsur-unsur lokal dalam beragama (bid‘ah). Semangat terakhir yang dibangun oleh pesantren tersebut menjadi sangat wajar karena memang pesantren ini secara faham keagamaan mengacu pada gerakan purifikasi Islam yang mana gerakan ini dimunculkan oleh Ibn Abd al-Wahhab di Jazirah Arab.22

Sementara Pesantren Al -Mukmin terus menghadapi sikap represif dari pemerintah karena keputusannya yang dinilai oleh Orde Baru mengandung unsur subversif, di sisi lain Pesantren Al-Mukmin baik itu aktor maupun lembaganya secara simultan terus melakukan legitimasi identitas kepada warga-warga di sekitar pesantren baik itu kepada warga lokal maupun pendatang. Proses legitimasi ini dilakukan dengan tujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai yang diyakini oleh Pesantren Al-Mukmin. Di lingkup pesantren internalisasi nilai juga ditanamkan dengan lebih kencang. Praktik- praktik sosial yang dilakukan untuk menginternalisasikan nilai ini melalui beberapa saluran, mulai dari kurikulum pengajaran yang didesain sedemikian rupa, sampai pada pola kehidupan sehari-hari.

Konstruksi sosial yang ada di dalam pesantren ternyata berjalan lebih efektif daripada konstruksi yang ada di luar pesantren.

21 Solahudin. NII Sampai JI, Salafy Jihadisme di Indonesia. (Jakarta, Komunitas Bambu: 2011). Charlene Tan, Islamic Education and Indoctrination, The Case in Indonesia. (Routledge: New York, 2011).

22Natana J. De Long Bas, Wahhabi Islam, From revival and Reform to Global Jihad.

(I.B. Taurus: New York. 2007). Selanjutnya lihat M. Nurun Najib, Konstruksi Identitas Keagamaan (Studi tentang Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki dengan Masyarakat Lokal), Laporan Penelitian Unpublished, h.14

Dalam operasi melawan jaringan Jama'ah Islamiyah di Jawa Tengah, polisi menemukan dokumen menarik yang menunjukkan bahwa Pesantren Ngruki ini sedang melakukan upaya untuk membangun kontak dengan pesantren di seluruh wilayah untuk tujuan propaganda dan rekrutmen tetapi tidak terlalu berhasil.

Kontak-kontak itu sebagian besar berhasil dengan guru-guru yang tidak memiliki pesantren. Pesantren yang berafiliasi dengan NU atau Muhammadiyah sebagian besar dilaporkan 'tidak dapat diakses' oleh jaringan Ngruki.

b) Jaringan Hidayatullah

Ma'had Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973 M, konsideran dengan tanggal 3 Dzulhijjah 1393 H, dimotori oleh Al- Allamah KH. Abdullah Said, ulama mujahid berdarah Bugis- Makassar, lahir di sebuah desa bernama Pannang, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan nama Muksin Kahar, yang eksodus ke Balikpapan pada tahun 1969. Laporan ICG 2003 menyebutkan pesantren 'jaringan Hidayatullah' terafiliasi dengan gerakan Jam‘iyah Islamiyah (JI). Pusat pesantren secara resmi didirikan di Jakarta 1973 oleh Abdullah Said, mantan aktivis DI dan rekan dari pemimpin Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan, Kahar Muzakkar. Ma‘had ini mengajarkan Islam puritan, reformis dengan penekanan kuat pada Al-Qur'an dan hadis.23

Hidayatullah saat ini mengelola berbagai amal usaha di bidang sosial, dakwah, pendidikan dan ekonomi serta menyebar ke berbagai daerah, hingga tahun 2003 sudah terbentuk jaringan kerja Hidayatullah di-200 kabupaten dan meliputi semuaprovinsi di Indonesia. Selama ini kurikulum yang diterapkan di pesantren terdiri dari 3 (tiga) jenis kurikulum yang dipadukan, yaitu kurikulum pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan kurikulum yang

23Martin Van Bruinessen, Traditionalist and Islamist Pesantrens..., h.235

152 | Nu r m a id a h , M .Pd .I

diformulasikan pesantren sendiri yang sifatnya muatan lokal, seperti tahfidz dan tarjim.24

Pesantren ini terkenal luas melalui majalah yang telah diterbitkannya sejak tahun 1988, Suara Hidayatullah, yang pada puncaknya mencapai sirkulasi 52.000. Majalah itu berbunyi seperti selebaran dari Islamist International; itu militan, memberikan informasi tentang semua jihad yang diperjuangkan di dunia, sangat anti-Yahudi dan anti-Kristen. Hidayatullah memiliki misi yang kuat; ia melatih para misionaris (dai) untuk menyebar pesan Islam reformis kepada non-Muslim serta Muslim nominal atau tradisional di sudut- sudut paling jauh di Nusantara.25

c) Pesantren Al-Zaytun

Sejak berdiri 1999, Pesantren al-Zaytun tiada henti menuai kontroversi. Pesantren modern termegah di Asia Tenggara ini terletak di pelosok Indramayu Jawa Barat ini disebut-sebut terkait gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang diproklamirkan oleh Kartosoewirjo pada tahun 1949. Pimpinan Pesantren Al Zaytun Syeikh AS (Abdussalam) Panji Gumilang alumni Gontor dan IAIN Konon adalah seorang imam NII KW9. Pesantren ini diresmikan Presiden BJ Habibie pada 1999 itu merupakan gambaran sistem pesantren modern yang hidup dari sumber daya pertanian. Dibangun diatas tanah 200 hektare dengan lahan pendukung 1000 hektare yang digarap untuk usaha peternakan, pertanian dan perikanan serta tanaman hutan. Ma‘had al-Zaytun terus mengalami perkembangan pesat, sarana prasarana terus bertambah seiring pertambahan jumlah santri yang datang dari berbagai wilayah bahkan luar negeri seperti Malaysia dan Afrika Selatan26

24Abd. Kadir Ahmad, Pesantren Hid Ayatullah Gunung Tembak Dan Issu Terorisme, Jurnal "Al-Qalam" No. XIX Tahun XIII Edisi Januari - Juni 2007

25Martin Van Bruinessen, Traditionalist and Islamist Pesantrens, h.235

26Martin Van Bruinessen, Traditionalist and Islamist Pesantrens..., h.237

Pesantren ini fenomenal dan kontroversial, dituduh menganut aliran dan aqidah sesat. Pesantren ini dicurigai dan terindikasi terkait dengan gerakan NII yang dilarang pemerintah. Begitupula para pengurus pesantren, tak lain adalah para pejabat dan aparat NII. Tak hanya itu, dana pembangunan dan operasional pesantern ini diduga mengalir dari kantong jamaah NII. Dana tersebut dimobilisasi secara ofensif melalui berbagai kewajiban zakat, infak dan sedekah dalam berbagai jenis yang dilegitimasi dengan doktrin keagamaan menurut tafsiran NII.27

Sikap pro kontra di Masyarakat, menyebabkan Departemen agama lewat balitbang Keagamaan melakukan penelitian terhadap pesantren ini. Selanjutnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga membentuk tim peneliti terkait Pesantren Al Zaytun. Tim MUI menemukan pertama ada indikasi kuat mengenai hubungan antara Zaitun dan NII KW9 yang bersifat historis, finansial, dan kepemimpinan. Kedua Terdapat penyimpanan paham dan ajaran yang dipraktekkan NII KW9. Ketiga tidak ditemukan adanya penyimpangan ajaran Islam dalam sistem pendidikan di al-Zaytun. Van Bruinessen mengatakan bahwa kurilulum al-Zaytun mirip dan terinspirasi dengan kurikulum Gontor. 28

Minimal ada empat model gerakan pembaharuan dalam sejarah sosial Islam. Gerakan tersebut adalah: pertama gerakan purifikasi sufisme, kedua, gerakan purifikasi Wahabi, ketiga gerakan modernisme maupun fundamentalisme, dan keempat gerakan masyarakat madani (civil society). 29

27Tim Penelitin INSEP; Al-Zaytun The Untold Stories; Investigasi terhadap Pesantren paling Kontroversial di Indonesia

28Martin Van Bruinessen, Traditionalist and Islamist Pesantrens, h.238

29Abdul Quddus, Islam Modernis; gerakanPembaharuan Islam di Dunia, (Mataram;

Sanabil, 2019). Dan Tim Penelitin INSEP; Al-Zaytun The Untold Stories; Investigasi terhadap Pesantren paling Kontroversial di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2011), h.

9

154 | Nu r m a id a h , M .Pd .I

C. Penutup

Banyak pesantren dan madrasah di Indonesia berafiliasi dengan arus utama Islam Indonesia. Kesamaan yang mereka miliki adalah bahwa mereka mengajarkan teks-teks keagaamaan Arab bersamaan dengan kurikulum non-agama atau umum. Sebagian besar pesantren tersebut berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) atau paling tidak mempunyai kesamaaan pandangan dan visi keagamaannya dengan NU. Kurikulum mereka berorientasi fiqih syafii dan akhlak tasawuf.

Banyak pesantren mempunyai pemimpin karismatik yang punya pengaruh cukup besar, dan pada masa pemilu didekati oleh politikus partai. Selain berafiliasi pada Islam arus utama di Indonesia, ada pesantren atau madrasah yang berafiliasi kepada gerakan transnasional salafi. Ibarat wadah, madrasah dan pesantren, maka gerakan salafi di atas merupakan bibit yang subur bersemai dan menemukan tempatnya

Para reformis pesantren mendirikan pesantren mereka sendiri, menawarkan kurikulum yang sesuai dengan orientasi reformis mereka, kajian tentang fikih dilengkapi dengan Al-Qur'an dan hadis.

Gontor tetap menjadi model untuk sebagian besar pesantren reformis, beberapa pesantren lainnya tetap menjauh dari politik dan pemerintah, dan sebagain yang lain muncul menganggap diri mereka sebagai bagian dari gerakan Islam internasional. Sejumlah kecil pesantren telah menyelaraskan diri dan menganut dengan ide-ide dari Ikhwanul Muslimin atau gerakan salafi

Tiga pesantren kontroversial mempunyai cacatan relasi dengan gerakan bawah tanah Darul Islam yaitu Ngruki, Hidayatullah dan Al- Zaytun. Dua pesantren yakni Hidayatullah dan Al-Zaytun Pesantern tersebut mempunyai hutang sukses terhadap jaringan Darul Islam.

Keduanya telah menjalin hubungan yang relatif dekat dengan pemerintah. Al-Zaytun tampak lebih akomodatif dengan pemerintah, sementara Hidayatullah walaupun mengadopsi wacana Islam militan, tetapi para pengajarnya dan alumninya belum ada yang terlibat secara langsung dengan kegiatan radikalisme dan terosrisme. Fakta dua

pesantren di atas, tidak bisa disamakan dengan Ngruki; banyak orang yang ditangkap sehubungan dengan kekerasan teroris di Indonesia atau negara tetangga justru berkaitan dengan Pesantren Ngruki.

D. Daftar Pustaka

Ahmad, Abd. Kadir, Pesantren Hid Ayatullah Gunung Tembak Dan Issu Terorisme, Jurnal "Al-Qalam" No. XIX Tahun XIII Edisi Januari - Juni 2007

Azra, Azyumardi, peny. Perspektif Islam di Asia Tenggara (Jakarta:

Yayasan Obor Indonesia, 1989)

Bruinessen, Martin Van Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi- Tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995),

_____, Contemporary Developments in Indonesian Islam Explaining the

―Conservative Turn‖ (Singapore: ISEAS, 2013),

_____, NU Tradisi Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru.

(Yogyakarta: LkiS, 1994),

_____, Traditionalist and Islamist Pesantrens in Contemporary Indonesia, (2008), Dalam The Madrasa in Asia Political Activism and Transnational Linkages, Farish A. Noor, Yoginder Sikand &

Martin van Bruinessen (eds.), (Amsterdam University Press, Amsterdam 2008)

_____, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat TradisiTradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1995.

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta:

LP3ES, 2011.

Geertz, Cliffordz, The Javanese Kyai: The Changing Role of A Cultural Broker‖, Comparative Studies in Society and Historym Vol. 2 (1959- 1960),

Hasan, Norhaidi Bruinessen, The Salafi Madrasas of Indonesia, (2008), Dalam The Madrasa in Asia Political Activism and Transnational

156 | Nu r m a id a h , M .Pd .I

Linkages, Farish A. Noor, Yoginder Sikand & Martin van Bruinessen (eds.), (Amsterdam University Press, Amsterdam 2008

Irhamni, Kearifan Lokal Pendidikan Pesantren Tradisional Di Jawa: Kajian Atas Praktek Penerjemahan Jenggotan, Ulumuna, Volume XV Nomor 1 Juni 2011,

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta:

Hidakarya Agung, 1985)

Maksum. Madrasah Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

Mastuhu. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem pendidikan Pesantren. Jakarta:

INIS, 1994.

Mohammad Hasan, Perkembangan Pendidikan Pesantren Di Indonesia, jurnal Tadrîs Volume 10 Nomor 1 Juni 2015

Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Insitusi (Jakarta: Erlangga, tt.),

Najib, M. Nurun, Konstruksi Identitas Keagamaan (Studi tentang Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki dengan Masyarakat Lokal), laporan penelitian unpublished

Natana J. De Long Bas, Wahhabi Islam, From revival and Reform to Global Jihad. I.B. Taurus: New York. 2007.

Quddus, Abdul, Islam Modernis; gerakanPembaharuan Islam di Dunia, (Mataram; Sanabil, 2019)

Saparudin , Salafism, State Recognition And Local Tension: New Trends in Islamic Education in Lombok, Journal of Islamic Studies Published by State Islamic University Mataram Vol. 21, No. 1, 2017, Saparudin dan Emawati, Laporan Penelitian Masjid Dan Fragmentasi

Sosial: Pencarian Eksistensi Salafi Di Tengah Mainstream Islam Di Lombok, L2M UIN Mataram

http://repository.uinmataram.ac.id/323/1/323.pdf

Solahudin. NII Sampai JI, Salafy Jihadisme di Indonesia. (Jakarta, Komunitas Bambu: 2011).

Tan, Charlene, Islamic Education and Indoctrination, The Case in Indonesia. Routledge: New York, 2011.

Tim Penelitin INSEP; Al-Zaytun The Untold Stories; Investigasi terhadap Pesantren paling Kontroversial di Indonesia,

Wahid, Abdurrahman, ―Pesantren sebagai Subkultur‖, dalam Pesantren dan Pembaharuan, ed. M. Dawam Rahardjo (Jakarta:

LP3ES, 1988)

Ziemek, Manfred, Pesantren dalam Perubahan Sosial. Terj. Burche B.

Soendjojo (Jakarta: P3M, 1986),