• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Pelayanan Jalan

Dalam dokumen Dasar Perencanaan Geometrik Jalan Raya (Halaman 47-53)

F. Jalan Lokal Sekunder

4.2. Kendaraan Rencana

4.3.6. Tingkat Pelayanan Jalan

Pengertian tingkat pelayanan jalan dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Level of Service (LOS) ditentukan oleh : Volume, kapasitas, dan kecepatan lalu lintas.

42 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

b. Tingkat Pelayanan Jalan merupakan kondisi gabungan dari rasio volume dan kapasitas (V/C) dan kecepatan. Rasio V/C juga disebut Derajat Kejenuhan (MKJI 1997).

Tabel 4.6. Tingkat Pelayanan Jalan

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 43 4.4. Kecepatan Rencana

Kecepatan adalah besaran yang menunjukkan jarak yang ditempuh kendaraan dibagi waktu tempuh yang dinyatakan dalam Km/Jam. Sedangkan kecepatan rencana (design speed) adalah kecepatan yang ditentukan untuk perencanaan dan korelasi dari bentuk fisik jalan yang mempengaruhi operasi dari kendaraan. Kecepatan rencana merupakan kecepatan maksimum yang masih dalam ambang aman dilakukan oleh oengendara di sepanjang ruas jalan tersebut. Kecepatan rencana ini harus disesuai dengan kelas jalan, fungsi jalan, dan tentunya klasifikasi medan jalan tersebut. Juga, bentuk geometric jalan seperti bentuk tikungan, superelevasi, dan jarak pandang juga turut memberikan konstribusi dalam penentuan kecepatan rencana dalam sebuah jalan. Kecepatan kendaraan terbagi menjadi :

1. Kecepatan sesaat (spot speed), yaitu kecepatan yang diukur disuatu tempat dalam sesaat.

2. Kecepatan gerak, yaitu kecepatan yang dari hasil bagi antara jarak dengan lama bergerak kendaraan.

3. Kecepataan perjalanan, yaitu kecepatan yang dihitung dari hasil bagi antara jarak dengan lama menempuh, termasuk tundaan yang terjadi.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kecepatan rencana antara lain:

1. Kondisi pengemudi dan kendaraan yang bersangkutan.

2. Sifat fisik jalan dan keadaan medan sekitarnya.

3. Sifat dan penggunaan daerah.

4. Cuaca.

5. Adanya gangguan dari kendaraan lain.

6. Batasan kecepatan yang diizinkan.

Kecepatan rencana inilah yang dipergunakan untuk dasar perencanaan geometrik (alinyemen). Kecepatan rencana dari masing–masing kendaraan dapat ditetapkan pada table berikut ini:

44 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

Tabel 4.7. Kecepatan Rencana pada SJJ Primer

I II III Datar Bukit Gunung

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)

Jalan Tol Jalan Nasional x - - JBH 4/2-T 80 - 120 70 - 110 60 - 100

IKP - IKN x x x JRY 4/2-T

IKP - IKP x x x JRY 4/2-T

IKP - IKP (Jalan Perintis dan

Ex - - x JLR 2/2-TT 15 - 60 15 - 50 15 - 40

IKP -IKP Jalan Kolektor Jalan Nasional x x x JRY 4/2-T 40 - 80 30 - 70 20 - 60 IKP - IKP Primer (Jalan perintis dan

Ex - - x JLR 2/2-TT 15 - 40 15 - 40 15 - 40

IKP - IKK/KT Jalan Provinsi x x x JSD 2/2-TT

IKK -IKK (Pemerintah x x x JSD 2/2-TT 40 - 80 30 - 70 20 - 60

KT - KT Provinsi) x x x JSD 2/2-TT

IKK - IKC Jalan Lokal - x x JSD 2/2-TT

Primer

IKC - IKC - - x JKC 2/2-TT

DS - DS - - x JLR 1/2 15 – 30 15 - 30 15 - 30

x JLR 2/2-TT

Kabupaten)

PD - DS Jalan Lingkungan - - x JLR 1/2

Primer

20 - 50 20 - 40

IKC - PD - - x JKC 2/2-TT

(Pemerintah

PD - PD - -

SJJ Primer (Jalan Antarkota)

-IKN=Ibu Kota Negara -IKP=Ibu Kota Provinsi -IKK=Ibu Kota Kabupaten -KT=Kota

-IKC=Ibu Kota Kecamatan -PD=Pusat Desa (di pulau Jawa seperti kelurahan)

-DS=Desa (di pulau Jawa seperti Dukuh)

-KP=Kawasan Primer -KS1=Kawasan Sekunder1 -KS2=Kawasan Sekunder2 -KS3=Kawasan Sekunder3 -KSn=Kawasan Sekunder ke-n;

-Prm=Perumahan/Persil -Semua jalan Antarkota yang masuk ke dalam kota, pengelompokannya dari SJJ primer berubah menjadi SJJ sekunder, adapun jalan-jalan lainnya yang sudah ada di dalam

Jalan Arteri Primer (Pemerintah Pusat) 60 -100 50 - 90 40 - 80

IKK - PD - x x JSD 2/2-TT

Jalan

Kabupaten 20 - 60

SJJ Peran

menghubungkan

Pengelompokan fungsi Jalan

Status dan Penyelenggara

jalan

Kelas jalan

SPPJ Tipe jalan (paling kecil)

Rentang VD , Km/Jam

Keterangan

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 45 Tabel 4.8. Kecepatan Rencana pada SJJ Sekunder

I II III Bukit Gunung

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11) (12) (13)

Jalan Tol Jalan Arteri Sekunder

Jalan Nasional

(Pemerintah Pusat) x - - JBH 4/2-T

KP – KS1 x x x JSD 2/2-TT

KS1 – KS1 x x x JSD 2/2-TT

KS1 – KS2 - x x JSD 2/2-TT

KS2 – KS2 - x x JSD 2/2-TT

KS2 – KS3 - x x JSD 2/2-TT

KS1 – Prm - - x JKC 2/2-TT

KS2 – Prm - - x JKC 2/2-TT

KS3 – Prm - - x JKC 2/2-TT

KSn – Prm - - x JLR 2/2-TT

Prm - Prm Jalan Lingkungan

Sekunder - - x JLR 2/2-TT

(10)

SJJ Sekunder (Jalan Perkotaan)

60 - 100

kota masuk ke dalam SJJ sekunder dan klasifikasi fungsinya ditetap- kan sesuai perannya.

-Khusus untuk keluarga Jalan Nasional, Jalan Provinsi, dan Jalan Kabupaten yang dipersiapkan sebagai calon Jalan Nasional, calon Jalan Provinsi, dan calon Jalan Kabupaten dikategorikan masing-masing dengan sebutan Jalan Strategis Nasional, Jalan Strategis Provinsi, dan Jalan Strategis Kabupaten.

Jalan Arteri Sekunder

Jalan Kota (Pemerintah Kota)

30 - 60 Jalan Kolektor

Sekunder 20 - 40

Jalan Lokal

Sekunder 10 - 30

10 - 20 SPPJ Tipe jalan

(paling kecil)

Rentang VD , Km/Jam

Keterangan Datar

SJJ Peran meng- hubungkan

Pengelompokan fungsi Jalan

Status dan Penyelenggara

jalan

Kelas jalan

46 DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA

Pemilihan Kecepatan rencana yang semakin tinggi, akan berakibat meningkatnya biaya pembangunan jalan. Peningkatan Biaya pembangunan jalan disebabkan karena beberapa hal sebagai berikut :

1. Diperlukan Radius lengkung horisontal yang semakin besar, sehingga diperlukan pembebasan tanah yang lebih luas.

2. Meningkatnya kecepatan rencana, menuntut kelandaian jalan yang semakin kecil, sehingga diperlukan konstruksi jalan yang khusus misalnya Jembatan atau tunnel.

3. Dampak terhadap elemen bagian jalan seperti Bahu jalan, Lebar lajur lalulintas, jarak pandang dll, berdampak pada meningkatnya biaya konstruksi.

Pemilihan Kecepatan rencana juga dipengaruhi oleh kondisi Medan terrain trase jalan, seperti :

1. Kondisi Medan Datar.

Kondisi ini apabila kecepatan Truk relative hampir menyamai dengan kecepatan Mobil Penumpang.

2. Kondisi Medan Perbukitan.

Kondisi dimana kecepatan Truk sdh lebih rendah dari kecepatan mobil penumpang, namun belum sampai merangkak atau congesti. Namun Mobil Penumpang masih mudah melakukan manuver untuk menyiap kendaraan Truk.

3. Kondisi Medan Pergunungan.

Kondisi dimana kecepatan truk sudah sedemikian rendah jauh dibawah kecepatan mobil penumpang, sudah merangkak dan mengganggu maneuver mobil penumpang yang akan mendahului kendaraan truk.

Apabila perencanaan geometri jalan kurang memperhatikan kondisi kondisi diatas, maka peningkatan biaya pembangunan jalan dapat bersumber pada tidak seimbangnya antara galian dan timbunan tanah yang terjadi. Perubahan kecepatan rencana yang dipilih sepanjang trase jalan, tidak boleh terlalu besar dan tidak pada dalam jarak yang terlalu pendek. Perbedaan sebesar 10

DASAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN RAYA 47 Km/Jam dapat dipertimbangkan karena akan menghasilkan beda desain geometrik yang cukup signifikan.

Dalam dokumen Dasar Perencanaan Geometrik Jalan Raya (Halaman 47-53)

Dokumen terkait