BAB II TINJAUN PUSTAKA
C. Tinjauan Empiris
Tabel 2.1 Penelitan Terdahulu
No
Nama Peneliti/
Tahun
Judul Peneliti Alat Analisis
Hasil Penelitian 1 Ando suryo
wicaksono, Isna Putri Rahmawati 2019
Pengaruh Kecakapan Manajerial, Good Corporate
Governance dan Book Tax
Differences Terhadap Kualitas Laba Perbankan di Indonesia
Purposive Sampling
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kemampuan manajerial, tata kelola perusahaan yang baik dan perbedaan pajak buku dengan kualitas laba pada industri perbankan konvensional.
2 Vonny Santoso 2018
Analisis Perbandingan Manajemen Laba pada Perbankan Syariah dan perbankan konvensional di Indonesia
Regresi Linear Berganda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh status syariah terhadap manajemen laba pada perusahaan perbankan di Indonesia dan tingkat perbandingan manajemen laba antara bank syariah dan konvensional. Penelitian ini dilakukan pada 28 bank konvensional dan 9 bank syariah yang ada di Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda serta uji beda dua rata-rata (Independent sample T- Test) dengan bantuan Program SPSS 20 For Windows. Kesimpulan dari penelitian ini adalah status bank berpengaruh signifikan terhadap tingkat manajemen laba.
3 Tutut Murniati1 , I. I. D. A. M.
Manik
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kualitas Laba
regresi linier berganda
Informasi laba
perusahaan manufaktur
berguna untuk
pengambilan keputusan
36
Sastri dan I Wayan Rupa 2018
Pada
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2012-2016
yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh leverage, likuiditas, reputasi perusahaan audit, konservatisme, set kesempatan investasi (IOS), komisaris
independen dan
kepemilikan institusional terhadap laba pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2016. Penelitian ini juga menggunakan variabel kontrol yaitu return on asset (ROA).
4 Reza Ardianti 2018
Pengaruh Alokasi Pajak Antar Periode Persistensi Laba,
Profitabilitas, dan Likuiditas Terhadap Kualitas Laba (Studi Empiris Pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2012- 2016)
Multiple regresi Linear dengan Uji R Square, Uji F,Uji t,dan Uji Multikoline aritas, dan Uji
Heteroske dastisitas.
Tujuan penelitian ini
adalah untuk
mendeskripsikan 1).
Pengaruh alokasi pajak antar periode terhadap kualitas laba 2).
Pengaruh persistensi laba terhadap kualitas
laba 3).
Pengaruhprofitabilitas terhadap kualitas laba 4).
Pengaruh likuiditas terhadap kualitas penghasilan.
5 Titi Purbo Sari, SE., M.Si. Linda Novasari, SE., MM.
2019
Pengaruh Auditor Spesialisasi Industri dan Redflags Terhadap Kualitas Laba pada
Perusahaan Publik di Bidang Keuangan .
tehnik regresi berganda untuk menganali sis data
Kasus akuntansi yang terjadi di Indonesia telah mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan, sehingga memberikan efek pada menurunnya kepercayaan terhadap integritas dan earnings quality dari laporan keuangan.Oleh karena itu, skandal tersebut menjadikan wacana dalam penelitian ini untuk mengetahui cara mendeteksi
penyimpangan penyajian
laporan keuangan melalui penggunaan jasa auditor spesialisasi
industri dan
mengidentifikasi tanda – tanda peringatan sebagai redflags. Sehingga dengan adanya peranan auditor spesialisasi industri dan redflags dapat memberikan kontribusi terhadap kualitas laba yang relevan dan baik. Sampel penelitian ini terdiri dari 121 perusahaan publik di bidang keuangan dan terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014 – 2015.
6 Ros Melinda 2020
Faktor Internal dan Eksternal Perbankan Syariah yang Mempengaruhi Tindakan Perataan Laba
Analisis Regresi data Panel
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis faktor internal dan eksternal perbankan syariah yang dapat mempengaruhi praktik perataan laba 7 Reka Sintya
BR Ginting 2020
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kualitas Laba
regresi linear berganda
Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-
faktor yang
mempengaruhi kualitas laba atau quality of income (QI) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2014-2017.
Beberapa faktor yang diuji adalah leverage yang diukur dengan debt to equity ratio (DER), profitabilitas yang diukur dengan return on asset (ROA), likuiditas yang diukur dengan current ratio (CR), dan ukuran perusahaan yang diukur dengan Ln to total asset (Size).
8 Eka Dila Pengaruh Tujuan utama dari
38
Dahlia 2018 Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris
Independen dan Komite Audit Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kualitas Laba Sebagai Variabel Intervening Pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
penelitian ini adalah untuk menguji apakah mekanisme tata kelola perusahaan yang terdiri dari : kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi
dewan direksi
independen dan komite audit mempengaruhi nilai perusahaan, dimana kualitas laba sebagai intervensi variable.
9 Fatma Ariani1, Rangga Wenda Prinoya, 2021
Pengaruh Permodalan Likuiditas dan Efesiensi Operasional Terhadap Profitabilitas pada Perbankan Syariah yang Terdaftar di BEI
nalisis Regresi Linier Berganda
Riset ini bertujuan melihat pengaruh permodalan, likuiditas dan efesiensi operasional terhadap profitabilitas perbankan syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2016 sampai tahun 2019 untuk melihat kinerja perbankan syaraih yang semakin diminati masyarakat untuk melakukan penyimpanan dana atau peminjaman dana. Pemilihan sampel dengan purposive sampling dimana jumlah sampel 3 perbankan yang terdaftar di Direktori Perbankan Indonesia dengan menganalisis laporan keuangan triwulan perbankan syariah. Analisis data yang dipakai yaitu analisis regresi linier berganda menggunakan program computer SPSS 21.
10 Alfiyatur Rohmaniya hdan Khanifah Khanifah 2018
Analisis Manajemen Laba pada Laporan Keuangan Perbankan Syariah
deskriptif statistik, analisis regresi berganda.
Penelitian ini bertujuan untuk mengalisis manajemen laba pada laporan keuangan perbankan syariah (studi pada Bank Umum Syariah IndonesiaTahun 2015-2017). Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data
sekunder dan
menggunakan laporan keuangan periode 2015- 2017 di annualreport
D. Karangka Pikir
Pelaporan laba telah dipandang oleh pemakai laporan keuangan sebagai laporan yang dominan dan merupakan isu fundamental dalam riset akuntansi. Laba merupakan informasi utama yang disajikan dalam laporan keuangan, sehingga angka-angka dalam laporan keuangan, khususnya laba ini bawah (bottom line) menjadi kas krusial yang harus dicermati oleh pemakai laporan keuangan. Hal ini, karena angka-angka dalam laporan keuangan. Hal ini, karena angka-angka dalam laporan keuangan merupakan fungsi dari kebijakan dan metode-metode akuntansi yang dipilih oleh perusahaan.
Menurut pandangan teori agensi (Jansen dan meekling). Laba sangat rentan dengan intervensi manajemen. Laba bukanlah sesuatu yang unik, karena tergantung pada prinsip dan asumsi akuntansi yang digunakan. Laba akuntansi berdasar akrual memunculkan isu tentang kualitas laba,, karena laba dari proses akuntansi akrual potensial menjadi objek perakayasaan laba (earning management). Kualitas laba merupakan sifat imberen pada
40
akuntansi berdasar konsep akrual yang memberikan pintu masuk bagi manajemen dalam pemilihan metode akuntansi yang tersedia. Manajemen dalam pemilihan metode akuntansi yan tersedia. Manajemen dalam perspektif oportunistik memilih kebijakan akuntansi untuk mengoptimalkan kepentingannya. Sedangkan dalam perpektif eefficient contracting.
Manajemen akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat mengoptimalkan nilai perusahaan.
Contoh tersebut menunjukkan manfaat kualitas laba. Untuk memenuhi tujuan penyajian informasi keuangan yaitu bermamfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi atau investasi, seharusnya laba yang disajikan merupakan laba yang berkualitas. Namun demikian, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa laba tidak selalu berkualitas. Hal ini banyak ditemukan dalam literatur tentang manajemen laba sebagai yang dapat didefinisi sebagai pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajer untuk mencapai tujuan tertentu.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas laba.
Tujuan ini penting karena manajemen memungkinkan untuk merekayasa kualitas laba. Tujuan penting karena manajemen memungkinkan untuk merekayasa laba melalui akrual yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas laba.
GAMBAR 2.1 Karangka Pikir
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Analisis Kualitas Laba Bank Umum Syariah Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”, yang dilaporkan dan dimasukkan dalam situs resmi Bursa Efek Indonesia. Tujuan ini penting karena memungkinkan manajemen untuk memanipulasi laba melalui akrual, yang pada gilirannya mempengaruhi kualitas laba.
Laporan Laba-Rugi
Laba Operasi
Laba Kotor
Kualitas Laba
Kas Awal Tahun Rata-rata kas
Jumlah Biaya Operasi
Kas Akhir Tahun
42 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif yaitu suatu penelitian untuk menyusun, mengklasifikasikan, menafsirkan serta menginterprestasikan data sehingga memberikan suatu gambaran tentang masalah kualitas laba. Tujuan pengertian deskriptif adalah untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat suatu populasi atau daerah tertentu.
B. Pemilihan Alokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilakukan di Galeri Bursa Efek Universitas Muhammadiyah Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 kota Makassar. Dan penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu maret-april pada tahun 2022.
C. Definisi Oparasional Variabel dan Pengukuran Variabel
Defenisi operasional merupakan gambaran dari variabel-variabel yang menjadi objek penelitian. Dari variabel-veriabel tersebut akan menentukan jenis pengolahan data.
Kualitas laba adalah menunjukkan tingkat kedekatan laba yang dilaporkan dengan income, yang merupakan laba ekonomi yaitu jumlah yang dapat dikomsumsi dalam satu periode dengan menjaga kemampuan perusahaan pada awal dan akhir periode tetap sama. Ukuran yang digunakan adalah rasio kas operasi dengan laba yang dikonfirmasi sebagai berikut:
Kualitas Laba = Laba operasi Rata−rata kas 𝑋%
Untuk menyatakan suatu laba dinyatakan berkualitas baik bila, laba yang dihasilkan semakin dekat dengan aliran kas operasi.
D. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Menurut sugiyono (2013) Populasi diartikan sebagai wilayah generasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan jenis bank perbankan syariah yang berjumlah 3 perusahaan.
2. Sampel
Menurut Sugiono (2013) Sampel adalah sebagian dari populasi itu populasi itu misalnya penduduk di wilayah tertentu, jumlah pegawai pada organasasi tertentu, jumlah guru dan murid di sekolah tertentu dan sebagainya. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dimana salah satu teknik sampling non random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus tang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian
44
Tabel 3.1
Daftar Sampel Perusahaan
No Perusahaan Perbankan Syariah
1 Bank Syariah Indonesia
2 Bank Panin Dubai Indonesia
3 Bank BTPN Syariah
https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi dokumentasi yaitu pengumpulan data, yaitu berupa data dan aset perusahaan perbankan syariah yang ada di Bursa Efek Indonesia sampai dengan tahun yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara internet diambil langsung dari situs Bursa Efek Indonesia.
Menurut Sugiyono (2013) teknik dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain.
Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.
Menurut Sugiyono (2013) Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisa data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis akuntansi, yaitu suatu kegiatan untuk menyusun mengklasifikasikan, menafsirkan serta menginterprestasikan data sehingga memberikan suatu gambaran tentang masalah yang dihadapi atau diteliti.
Menurut Sugiyono (2013) Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain
46 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
1. Sejarah perusahaan perbankan syariah
a. Praktik Perbankan di Zaman Rasulullah SAW dan Sahabat RA.
Di dalam sejarah perekonomian umat Islam, kegiatan muamalah seperti menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan untuk keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang, yang dilakukan dengan akad-akad yang sesuai syariah telah lazim dilakukan umat Islam sejak zaman Rasulullah Saw. Rasulullah Saw, yang dikenal dengan julukan Al-amin, dipercaya oleh masyarakat Mekah menerima simpanan harta, sehingga pada saat terakhir sebelum hijrah ke Madinah, ia meminta Ali bin abi Thalib r.a untuk mengembalikan semua titipan itu kepada para pemiliknya.
Seorang sahabat Rasulullah SAW, Zubair bin al-Awwam r.a., memilih tidak menerima titipan harta. Ia lebih suka menerimanya dalam bentuk pinjaman. Tindakan Zubair ini menimbulkan implikasi yang berbeda, yakni yang pertama, dengan mengambil uang itu sebagai pinjaman, Ia memiliki hak untuk memanfaatkannya; kedua, karena bentuknya pinjaman, ia berkewajiban untuk mengembalikannya secara utuh. Dalam riwayat lain disebutkan, Ibnu Abbas r.a. juga pernah melakukan pengiriman barang ke Kuffah dan Abdullah bin Zubair r.a. melakukan pengiriman uang dari Mekkah ke adiknya Mis'ab bin Zubair r.a. yang tinggal di Irak.
Penggunaan cek juga telah dikenal luas sejalan dengan meningkatnya perdagangan antara negeri Syam dengan Yaman, yang paling tidak berlangsung dua kali dalam setahun. Bahkan, dalam masa pemerintahannya, Khalifah Umar bin Khattab r.a. menggunakan cek untuk membayar tunjangan kepada mereka yang berhak. Dengan menggunakan cek ini, merekamengambil gandum di Baitul mal yang ketika itu diimpor dari Mesir. Di samping itu, pemberian modal untuk modal kerja berbasis bagi hasil, seperti mudharabah, muzara'ah, musaqah, telah dikenal sejak awal diantara kamu Muhajirin dan kaum Anshar.
Dengan demikian, jelas bahwa terdapat individu-individu yang telah melakukan fungsi perbankan di zaman Rasulullah Saw., meskipun individu tersebut tidak melakukan seluruh fungsi perbankan. Namun fungsi-fungsi utama perbankan modern, yaitu menerima simpanan uang (deposit), menyaluran dana, dan melakukan transfer dana telah menjadi bagian yang tidak terpisakan dari kehidupan umat Islam.
b. Praktik Perbankan di Zaman Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah Di zaman Rasulullah Saw. Fungsi-fungsi perbankan biasanya dilakukan oleh satu orang yang hanya melakukan satu fungsi. Baru kemudian, di zaman Bani Abbasiyah, ketiga fungsi perbankan dilakukan oleh satu individu. fungsi-fungsi perbankan yang dilakukan oleh satu individu dalam sejarah islam telah dikenal sejak zaman Abbasiyah. Perbankan mulai berkembang pesat ketika beredar banyak jenis mata uang pada zaman itu sehingga perlu keahlian khusus untuk membedakan satu mata uang dengan mata uang lainnya. Hal ini diperlukan karena setiap mata uang memiliki
48
kandungan logam mulia yang berlainan sehingga memiliki nilai yang berbeda pula. Orang yang mempunyai keahlian khusus itu disebut naqid, sarraf, dan zihbiz. Aktivitas ekonomi ini merupakan cikal bakal dari apa yang kita kenal sekarang sebagai penukaran uang (money changer).
Istilah Jihbiz itu sendiri mulai dikenal sejak zaman Khalifah Muawiyah (661-680) yang sebenarnnya dipinjam dari bahasa Persia, kahbad atau kihbud. Pada masa pemerintah Sasanid, istilah ini dipergunakan untuk orang yang ditugaskan mengumpulkan pajak tanah.
Peranan Bankir pada zaman Abbasiyah mulai populer pada pemerintahan khalifah Muqtadir (908-932 M). Pada saat itu hampir setiap wazir (menteri) mempunyai banker sendiri. Misalnya Ibnu Furat menunjuk Harun Ibnu Imran dan Joseph Ibnu Wahab menunjuk Ibrahim ibn Yuhana, bahkan Abdullah al-Baridi mempunyai tiga orang banker sekaligus;
dua orang beragama Yahudi dan satu orang Kristen.
Kemajuan praktik perbankan pada zaman itu ditandai dengan beredarnya saq (cek) dengan luas sebagai media pembayaran. Bahkan, peranan bankir telah meliputi tiga aspek, yakni menerima deposit, menyalurkannya, dan mentransfer uang. Dalam hal yang terakhir ini, uang dapat ditransfer dari satu negeri ke negeri lainnya tanpa memindahkan fisik uang tersebut. Para money changer yang telah mendirikan kantor-kantor di banyak negeri telah memuaai penggunaan cek sebagai media transfer uang dan kegiatan pembayaran lainnya. Dalam sejarah Perbankan Islam, adalah Syaf al Dawlah al-Hamdani yang tercatat sebagi orang pertama yang
menerbitkan cek untuk keperluan kliring antara Baghdad (Irak) dan Allepo (Spanyol).
c. Praktik Perbankan di Eropa
Dalam perkembangan berikutnya, kegiatan yang dilakukan oleh perorangan (jihbiz) kemudian dilakukan oleh institusi yang saat ini dikenal dengan Bank. Ketika bangsa Eropa mulai menjalankan praktik perbankan, persoalan mulai timbul karena transaksi yang dilakukan mulai menggunakan instrument bunga yang dalam pandangan fiqih adalah riba, dan oleh karena itu hukumnya Haram. Transaksi berbasis bunga ini semakin merebak ketika Raja Henry VIII pada tahun 1545 membolehkan bunga (interest) meskipun tetap mengharamkan riba (usury) dengan syarat bunganya tidak boleh berlipat ganda (excessive). Setelah wafat Raja Henry VIII digantikan oleh Raja Edward VI yang membatalkan kebolehan bunga uang. Hal ini tidak berlangsung lama. Ketika wafat, ia digantikan oleh Ratu Elizabeth I yang kembali memperbolehkan praktik pembungaan uang.
Ketika mulai bangkit dari keterbelakangannya dan mengalami renaissance, bangsa Eropa melakukan penjelajahan dan penjajahan ke seluruh penjuru dunia, sehingga aktivitas perekonomian dunia didominasi oleh bangsa-bangsa Eropa. Pada saat yang sama, peradaban Muslim mengalami kemerosotan dan Negara-negara muslim satu-persatu jatuh ke dalam cengkraman penjajahan bangsa-bangsa eroopa. Akibatnya, institusi-institusi perekonomian umat Islam runtuh dan digantikan oleh institusi ekonomi bangsa Eropa.
50
Keadaan ini berlangsung terus sampai zaman modern ini. Oleh karena itu, institusi perbankan yang ada sekarang di mayoritas negara- negara muslim merupakan warisan dari bangsa Eropa, yang notabene berbasis bunga.
d. Perbankan Syariah Modern
Dalam keuangan Islam, bunga uang secara fiqih dikategorikan sebagai riba yang berarti haram. Di sejumlah Negara Islam dan berpenduduk mayoritas Muslim mulai timbul usaha-usaha untuk mendirikan lembaga Bank Alternatif non-ribawi. Melihat gagasannya yang ingin membebaskan diri dari mekanisme bunga, pembentukan Bank Islam mula- mula banyak menimbulkan keraguan. Hal tersebut muncul karena anggapan bahwa sistem perbankan bebas bunga adalah sesuatu yang mustahil dan tidak lazim, sehingga timbul pula pertanyaan tentang bagaimana nantinya Bank Islam tersebut akan membiayai operasinya.
Konsep teoritis mengenai Bank Islam muncul pertama kali pada tahun 1940-an, dengan gagasan mengenai perbankan yang berdasarkan bagi hasil. Berkenaan dengan ini dapat disebutkan pemikiran-pemikiran dari penulis antara lain Anwar Qureshi (1946), Naiem Siddiqi (1948) dan Mahmud Ahmad (1952). Uraian yang lebih terperinci mengenai gagasan pendahuluan mengenai perbankan Islam ditulis oleh ulama besar Pakistan, yakni Abul A'la Al-Mawdudi (1961) serta Muhammad Hamidullah (1944- 1962).
Usaha modern pertama untuk mendirikan Bank tanpa bunga dimulai di Pakistan yang mengelola dana haji pada pertengahan tahun 1940-an,
tetapi usaha ini tidak sukses. Perkembangan berikutnya usaha pendirian bank syariah yang paling sukses dan inovatif di masa modern ini dilakukan di Mesir pada tahun 1963, dengan berdirinya Mit Ghamr Local Saving Bank.
Bank ini diterima dengan baik oleh kalangan petani dan masyarakat pedesaan. Namun sayang, karena terjadi kekacauan politik di Mesir, Mit Ghamr mulai mengalami kemunduran, sehingga operasionalnya diambil alih oleh National Bank of Egypt dan Bank Sentral Mesir pada tahun 1967.
Pengambilalihan ini menyebabkan prinsip nir-bunga pada Mit Ghamr mulai ditinggalkan, sehingga bank ini kembali beroperasi berdasarkan bunga.
Pada 1971, akhirnya konsep nir-bunga kembali dibankitkan pada masa rezim Sadat melalui pendirian Naseer Social Bank. Tujuan Bank ini adalah untuk menjalankan kembali bisnis yang berdasarkan konsep yang telah dipraktikan oleh Mit Ghamr.
Jumhur (mayoritas/kebanyakan) Ulama' sepakat bahwa bunga bank adalah riba, oleh karena itulah hukumnya haram. Pertemuan 150 Ulama' terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank. Berbagai forum ulama internasional yang juga mengeluarkan fatwa pengharaman bunga bank.
Abu zahrah, Abu 'ala al-Maududi Abdullah al-'Arabi dan Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa bunga bank itu termasuk riba nasiah yang dilarang oleh Islam. Karena itu umat Islam tidak boleh bermuamalah dengan bank yang memakai system bunga, kecuali dalam keadaan darurat atau terpaksa. Bahkan menurut Yusuf Qardhawi tidak mengenal istilah darurat
52
atau terpaksa, tetapi secara mutlak beliau mengharamkannya. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Syirbashi, menurutnya bahwa bunga bank yang diperoleh seseorang yang menyimpan uang di bank termasuk jenis riba, baik sedikit maupun banyak. Namun yang terpaksa, maka agama itu membolehkan meminjam uang di bank itu dengan bunga.
Kesuksesan Mit Ghamr ini memberikan inspirasi bagi umat Muslim di seluruh penjuru dunia, sehingga timbullah kesadaran bahwa prinsip-prinsip Islam ternyata masih dapat diaplikasikan dalam bisnis modern.
Ketika OKI akhirnya terbentuk, serangkaian konferensi Internasional mulai dilangsungkan, di mana salah satu agenda ekonominya adalah pendirian Bank Islam.
Bank Islam pertama yang bersifat swasta adalah Dubai Islamic Bank, yang didirikan tahun 1975 oleh sekelompok usahawan muslim dari berbagai negara. Pada tahun 1977 berdiri dua bank Islam dengan nama Faysal Islamic Bank di Mesir dan Sudan. Dan pada tahun itu pula pemerintah Kuwait mendirikan Kuwait Finance House.
Secara internasional, perkembangan perbankan Islam pertama kali diprakarsai oleh Mesir. Pada Sidang Menteri Luar Negeri Negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Karachi Pakistan bulan Desember 1970, Mesir mengajukan proposal berupa studi tentang pendirian Bank Islam Internasional untuk Perdagangan dan Pembangunan (International Islamic Bank for Trade and Development) dan proposal pendirian Federasi Bank Islam (Federation of Islamic Banks). Inti usulan yang diajukan dalam proposal tersebut adalah bahwa sistem keuangan bedasarkan bunga harus