BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Tinjauan Konseptual
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia relevansi artinya hubungan, kaitan.33
Relevansi adalah konsep suatu topik yang dihubungkan ke topik lain sedemikian rupa sehingga berguna untuk mempertimbangkan topik kedua saat mempertimbangkan topik pertama. Konsep relevansi dipelajari di berbagai bidang, termasuk ilmu kognitif, logika, dan ilmu perpustakaan dan informasi. Yang paling mendasar, bagaimanapun, itu dipelajari dalam epistemologi (teori pengetahuan).
Teori pengtahuan yang berada memiliki implikasi yang berbeda untuk apa yang dianggap relevan dan pandangan fundamental ini memiliki implikasi untuk semua bidang lainnya juga.
Oleh karena itu dari pengertian diatas relevansi ialah suatu informasi ataupun ilmu yang berkaitan atau sama dengan informasi yang lain baik itu informasi yang sudah ada sebelumnya maupun yang ada saat ini untuk menyamakan informasi tersebut dan mengambil sebuah kesimpulan.
4. Murabahah
Murabahah berasal dari kata “ar-ribbu”yang berarti “an-namaa’” yang berarti tumbuh dan berkembang. Atau Murabahah juga berarti “al-irabaah” karena salah satu dari dua orang yang bertransaksi memberikan keuntungaan kepada yang
33Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 953.
lainnya. Sedangkan secara istilah, bai’ul murabahah (murabahah) adalah jual beli dengan harga awal disertai dengan tambahan keuntungan34
Murabahah secara bahasa adalah mengambil keuntungan yang disepakati.
Bai’ Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam Bai’Murabahah penjual harus memberitahu harga pokok yang ia beli dan menetukan suatu tingkat keuntungan sebagaimana tambahannya.35
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan barang dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh kedua belah penjual dan pembeli. Murabahah dapat dilakukan secara tunai bisa juga secara bayar tangguh atau bayar dengan angsuran.36
Menurut Muhammad Syafi’i Antonio, Bai’ “Al-Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati”.37
Ibnu Qudamah dalam bukunya Mughni 4/280 mendifinisikan “murabahah adalah menjual dengan harga asal ditambah dengan margin keuntungan yang telah disepakati”.38
Karena dalam definisinya disebut adanya “keuntungan yang disepakati”, karakteristik murabahah si penjual harus member tahu pembeli tentanag harga
34Wahbah al-Zuhaili, Fiqh al-Islami wa Adillatubu, juz 7, (dalam Sofware: al- Maktabah al- Syamsilah , 2005), h. 37565.
35Harisman, Kamus Isrilah Keuangan dan Perbankan Syari’ah,(Jakarta: Direktorat Perbankan Syari’ah, 2006), 48.
36Adrian Sutedi, Perbankan Syariah Tinjauan Dan Beberapa Segi Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia 2009), h. 195.
37Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Teori Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001), Cet. Ke-1, h. 101.
38Muhammad, Sistem Dan Prosedur Oprasional Bank Syariah, (Yogyakarta: UII Pres, 2005), h.24.
pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut.
Berdasarkan definisi diatas Murabahah adalah suatu akad transaksi yang berbasis syariah dimana ketika telah melakukan transaksi juaal beli dimana penjual tersebut harus menjual suatu barang dengan harga perolehan barang tersebut atau dengan kata lain menjual barang tersebut dengan harga yang sesuai ketika membeli objek jual beli tersebut dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dengan cara pembayaran dapat dibayarkan secara tunai maupun angsuran.
3. Mazhab
Mazhab adalah jalan pikiran atau metode yang ditempuh oleh seorang imam mujtahid dalam menetapkan hukum atau peristiwa berdasarkan Al-Quran dan hadits.
Selanjutnya imam mazhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara istinbat imam mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat imam mujtahid tentang masalah hukum Islam. Adapun pengertian mazhab menurut ulama fiqih adalah sebuah metodologi fiqih khususmya yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkan memilih jumlah hukum dalam kawasan ilmu furu’.39
Menuurut M. Husain Abdullah, “Mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam,yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawa’id) dan landasan (ushul) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh”.40
39Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh , (Ciputat: Logos Wacana Ilmu 1997), h. 29.
40M. Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Usul al-fiqh, (Beirut: Darurat Bayariq, 1995), h. 71
Menurut A. Hasan, “mazhab adalah mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbathnya”.41
Oleh karena itu dari pengertian diatas bahwa mazhab adalah seseorang atau kelompok yang mengambil dan menetapkan suatu jalan pemikiran yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist.
4. Manajemen Keuangan Syariah
Manajemen keuangan adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok ke arah tujuan-tujuan organisasi atau maksud-maksud yang nyata.42
Manajemen keuangan syariah adalah semua aktivitas yang menyangkut usaha untuk memperoleh dana dan mengalokasikan dana berdasarkan perencanaan, analisis, dan pengendalian sesuai dengan prinsip syariah.43
Menurt Bambang Riyanto menyatakan bahwa “manajemen keuangan syariah adalah keseluruhan aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha mendapatkan dana yang diperlukan dengan biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan beserta uasaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien mungkin”. 44
Setelah mengetahui pengertian manajemen keuangan di atas, sekarang marilah kita melihat bagaimana konstruksi manajemen keuangan dalam Islam. Pada dasarnya,
41Muhammad Ali Hasan, Perbandingan mazhab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h.
86.
42Nana Heriana Abdurahman, Manajemen Bisnis Syariah dan Kewirausahaan, (Jakarta: CV Pustaka Setia, 2013), h. 20.
43 Boedi Abdullah,Manajemen Keuangan Syariah, (Jakarta: CV Pustaka Setia, 2017), h. 20.
44Bambang Riyanto, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Empat, (Yogyakrta:
BPFE, 2001), h. 28
konsep manajemen keuangan Islam sudah lahir sejak datangnya Islam berabad-abad lalu. Hanya saja konsep yang mulia dan bersumber langsung dari Sang Pencipta ini belum dibukukan dengan baik oleh para ulama dan sarjana muslim. Seiring dengan gagalnya sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme dalam peradaban manusia di zaman kontemporer ini, maka para sarjana muslim kemudian berusaha kembali kepada konsep Sang Kuasa dengan memformalitaskannya berdasarkan konsep dan praktik yang sudah ada pada masa lalu.
Berdasarkan definisi diatas manajemen keuangan syariah merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan dana untuk mencapai tujuan sesuai dengan prinsip syariah.
5. BMT (Baitul Mall wa Tamwil)
Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) adalah balai usaha mandiri terpadu yang isinya berintikan bayt al-mal wa al-tamwil dengan kegiatan mengembangkaan usaha- usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil ke bawah dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Baitul Maal Wat Tamwil juga bisa menerima titipan zakat, infak, dan sedekah, serta menyalurkan sesuai dengan peraturan dan amanatnya. Selain itu, yang mendasar adalah bahwa seluruh aktivitas BMT harus dijalankan berdsarkan prinsip muamalah ekonomi Islam.45
45Hertanto Widodo Ak, et al., eds., Panduan Praktik Oprasional Baitul Mal Wat Tamwil(BMT) (Bandung: Mizan, 2000), h. 82.
Menurut Karnaen A. Perwataatmadja, “Baitul Mal wal Tamwil merupakan pengembang ekonomi berbasis masjid sebagai sarana untuk memakmurkan masjid”.46
Menurut Abdul Azizi dan Mariyah Ulfa “Baitul Mal wa Tamwil (BMT) adalah lembaha keuangan mikro yang dioprasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dan kecil dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum kafir miskin”.
Baitul Mal Wal Tamwil adalah lembahga keuangan non bank yang beroprasi berdasarkan syariah dengan prinsip bagi hasil, yang didirikan oleh dan untuk masyrakat di suatu tempat atau daerah.47
BMT merupakan organisasi bisnis yang juga berperan sosial. Peran sosial BMT terlihat pada definisi baitul maal, sedangkan peran bisnis BMT terlihat dari definisi baitul tamwil. Sebagai lembaga sosial, baitul maal memiliki kesamaan fungsi dan peran dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Oleh karena itu, baitul maal ini harus didorong abar mampu berperan secara professional menjadi LAZ yang mapan. Fungsi tersebut paling tidak meliputi upaya pengumpulan dana zakat, infaq, shadaqah, wakaf, dan sumber dana-dana sosial lainnya.48
Berdasarkan pengertian diatas BMT adalah lembaga keuangan syariah yang didirikan disuatu daerah yang berkegiatan untuk memajukan dan mensejahterakan perekonomian masyarakat menengah kebawah dengan melakukan pembiayaan dan peminjaman modal yang didasari oleh prinsip syariah.
46Karnaen A. Perwataatmadja, Membumikan Ekonomi Islam Di Indonesia, (Depok: Usaha kami), h. 17.
47Ayumardi Azra, Berdema Untuk Semua, (Jakarta: PT. Mizan Publika, 2003), h. 236.
48Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil, (Jakarta: UII Press,2004), h. 126.