BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Tinjauan Konseptual
2.3.1. Konsep Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 1. Pengertian dan Unsur-Unsur APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah suatu rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU No. 17 Tahun 2003 pasal 1 ayat 8 tentang Keuangan Negara). APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahunnya dengan peraturan Daerah. Selain itu APBD juga memiliki fungsi otoritas, perencanaan,pengawasan,alokasi,distribusi, dan stabilitas. Semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah disebut
22Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahan Bahasa Indonesia, h.
49.
sebagai Barang Milik Daerah (BMD), BMD diperlukan untuk penyelenggaraan urusan pemerintah daerah dengan tujuan mempercepat kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan umum dan daya saing daerah sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.23
2. Unsur-unsur APBD adalah sebagai berikut :
a. Rencana kegiatan suatu daerah, beserta uraiannya secara rinci.
b. Adanya sumber pemerintah yang merupakan target minimal untuk menutupi biaya-biaya sehubungan dengan aktivitas tersebut, dan adanya biaya-biaya yang merupakan batas maksimal pengeluaran-pengeluaran yang akan dilaksanakan.
c. Jenis kegiatan dan proyek yang dituangkan dalam bentuk angka.
d. Priode anggaran yang biasanya 1 tahun.
e. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).24
3. Terdapat 3 struktur dalam Anggran pendapatan dan Pengeluaran Daerah yaitu : a. Pendapatan Daerah
Pendapatan daerah adalah hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam priode tahun bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umu daerah yang menambah ekuitas dana.25 Pendapan daerah Meliputih :
b. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan daerah yang menjadi hak Pemerintah Daerah (PEMDA) yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
23Nurkholis, Moh. Khusaini,Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja, ( Malang: UB Press, 2019), h. 23.
24Sri Mulyani, Analisis dan perancangan Sistem Informasi Manajemen Keuangan Daerah, (Bandung: Abdi Sistematika, 2016), h. 104.
25Nurkholis, Moh. Khusaini, Penganggaran Sektor Publik, (Malang: UB Press, 2019), h. 23.
bersih. Dalam arti luas pendapatan daerah adalah semua pemerintah kas daerah yang menambah ekualitas dana dalam periode tahun anggaran yang menjadi hak pemerintah daerah.26
c. Dana Perimbangan
Dana perimbangan adalah dana bersumber dari pengelolaan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk memenuhi kebutuhan daerah dalam rangka desentralisasi.
2.3.2. Konsep Manajemen Syariah
Manajemen bisa dikatakan telah memenuhi Syariah apabila manajemen ini mementingkan perilaku yang terkait dengan nilai-nilai keimanan dan ketauhidan, manajemen Syariah pun mementingkan adanya struktur organisasi. Ini bisa dilihat pada surat Al An’amayat 65 :
ْلا َوُه ْلُق يِذُيَو ًاعَيِش ْمُكَسِبْلَ ي ْوَأ ْمُكِلُجْرَأ ِتَْتَ نِم ْوَأ ْمُكِقْوَ ف نِّم ًبااَذَع ْمُكْيَلَع َثَعْ بَ ي نَأ ىَلَع ُرِداَق
َق - ٦٥ - َنوُهَقْفَ ي ْمُهَّلَعَل ِتَيَلآا ُفِّرَصُن َفْيَك ْرُظنا ٍضْعَ ب َسَْبَ مُكَضْعَ ب
Terjemahannya :
“Katakanlah (Muhammad), “Dia-lah yang Berkuasa Mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia Mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah, bagaimana Kami Menjelaskan berulang-ulang tanda- tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(nya)”.
Ini menjelaskan bahwa dalam mengatur dunia, peranan manusia tidak akan sama. Manajemen Syariah membahas soal sistem. Sistem ini disusun agar perilaku pelaku di dalamnya berjalan dengan baik. Sistem pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, misalnya, adalah salah satu yang terbaik. Sistem ini berkaitan dengan
26Barata, Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, (Jurnal Ekonomi PPs UGM, 2004), h. 90.
perencanaan,organisasi dan kontrol. Islam pun telah mengajarkan jauh sebelumnya adanya konsep itu lahir, yang dipelajari sebagai manajemen ala Barat.27
1. Manajemen sebagai ilmu
Sebagai ilmu, manajemen termasuk sesuatu yang bebas nilai atau berhukum asal mubah. Konsekuensinya, kepada siapaun umat Islam boleh belajar.
Berkaitan dengan ini, kita perlu mencermati pernyataan Imam Al Gazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, Bab Ilmu. Beliau membagi ilmu dalam dua kategori ilmu berdasarkan takaran kewajiban :
a. Ilmu yang dikategorikan sebagai fardhu ain yakni yang termasuk dalam golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah bahasa Arab, sirah nabawiyah, Ulumul Quran, Ulumul hadist, Tafsir, dan sebagainya.
b. Ilmu yang terkategori sebagai fardhu kifayah, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh salah satu atau sebagian dari kaum muslimin. Ilmu yang termasuk dalam kategori ini adalah ilmu-ilmu kehidupan yang mencakup ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan. Diantaranya seperti ilmu kimia, biologi, fisika dan manajemen.
2. Manajemen sebagai Aktivitas
Dalam ranah aktivitas, Islam memandang bahwa keberadaan manajemen sebagai suatu kebutuhan yang tak terelakkan dalam memudahkan implementasi Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Implementasi nilai-nilai Islam terwujud pada di fungsikannya Islam sebagai kaidah berpikir dan kaidah amal dalam kehidupan. Sebagai kaidah berpikir, aqidah dan Syariah difungsikan sebagai asas dan
27 Didin & Hendri, Manajemen Syari’ah dalam Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2003),h. 48.
landasan pola pikir. Sedangkan sebagai kaidah amal, Syariah di fungsikan sebagai kaidah amal, Syariah di fungsikan sebagai tolak ukur (standar) perbuatan.
Karenanya, aktivitas manajemen yang dilakukan haruslah selalu berada dalam koridor Syariah, Syariah harus menjadi tolak aktivitas manajemen. Senafas dengan visi dan misi penciptaan dan kemusliman seseorang, maka Syariahlah satu-satunya yang menjadi kendali amal perbuatannya. Hal ini berlaku bagi setiap Muslim, siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Inilah sebenarnya penjabaran dari kaidah ushul yang menyatakan al aslu fi al-af al attaqoyyadu bi al-hukmusy syari , yakni hukum asal suatu perbuatan adalah terikat pada hukum syara yang lima, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.