• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tokoh Yang Mengembangkan Al Hulul

Dalam dokumen Pengantar akhlak tasawuf (Halaman 143-149)

BAB XIV AL HULUL

D. Tokoh Yang Mengembangkan Al Hulul

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa tokoh yang mengembangkan paham al Hulul adalah al Hallaj. Nama Lengkapnya adalah Husein bin Mansur al Hallaj. Ia lahir tahun 244H (856M) di negeri Baidha, persia. Dia tinggal sampai dewasa di Wasith, dekat Baghdad, dan dalam usia 16 tahun ia telah pergi belajar pada seorang sufi yang terbesar dan terkenal, bernama Sahl bin Abdullah al Tustur di negeri Ahwaz.

Selanjutnya ia berangkat ke Bashrah dan belajar pada seorang sufi bernama Amr al Makki, dan pada tahun 264H ia masuk kota Baghdad dan belajar pada al Junaid yang juga seorang sufi.

Selain itu ia pernah juga menunaikan ibadah haji di Mekkah selama tiga kali. Dengan riwayat hidup yang singkat ini jelas bahwa ia memiliki dasar pengetahuan tentang tasawuf yang cukup kuat dan mendalam (Simuh. 1997)

Dalam perjalanan hidup selanjutnya ia pernah keluar masuk penjara akibat konflik dengan ulama fikih. Ibn Daud al Isfahani dikenal sebagai ulama fikih penganut mazhab Zahiri, suatu mazhab yang hanya mementingkan zahir nas ayat belaka. Fatwa yang menyesatkan yang dikeluarkan oleh Ibn Daud itu sangat besar pengaruhnya terhadap diri al Hallaj, sehingga al Hallaj ditangkap dan dipenjarakan. Setelah satu tahun, dia dapat meloloskan diri berkat bantuan seorang sifir penjara (Hadi dan M. Abd. 1976)

Dari Baghdad ia melarikan diri ke Sus, suatu wilayah yang terletak di Ahwaz. Setelah bersembunyi selama 4 tahun, dan tetap pada pendiriannya, akhirnya ia ditangkap kembali dan dimasukkan ke penjara selama 8 tahun. Akhirnya pada tahun

309H (921M) diadakan persidangan ulama di bawah pengawasan Kerajaan Bani Abbas, Khalifah Mu’tashim Billah.

Dan akhirnya pada tanggal 18 Zulkaidah 309H (921M) al Hallaj dijatuhi hukuman mati. Ia dihukum bunuh, dengan terlebih dahulu dipukul dan dicambuk, lalu disalib, sesudah itu dipotong kedua tangan dan kakinya, dipenggal lehernya, dan ditinggalkan tergantung bagian-bagian tubuh itu di pintu gerbang kota Baghdad, dengan maksud untuk menjadi peringatan bagi ulama lainnya yang berbeda pendirian (Simuh. 1997).

Dalam paham al Hulul yang dikemukakan al Hallaj tersebut ada dua hal yang dapat dicatat, yaitu :

a. Paham al Hulul merupakan pengembangan atau bentuk lain dari paham mahabbah sebagaimana disebutkan dibawa Rabi’ah al Adawiyah.

b. Paham al Hulul juga menggambarkan adanya ittihad atau kesatuan rohaniah dengan Tuhan. Namun Harun Nasution membedakan kesatuan rohaniah yang dialami al Hallaj melalui al Hulul, dengan kesatuan rohaniah yang dialami Abu Yazid dalam al Ittihad (Hadi dan M. Abd. 1976).

Perbedaan antara Ittihad al Bustami dengan Hulul al Hallaj, dalam ittihad yang dilihat satu wujud, sedang dalam hulul ada dua wujud, tetapi bersatu dalam satu tubuh. Hal ini dapat dipahami dari syair yang dinyatakan al Hallaj berikut: “Aku adalah rahasia Yang Maha Benar, dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku. Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami”.

Dengan ungkapan al Hallaj yang demikian itu, kita dapat menilai bahwa pada saat al Hallaj mengatakan ana al haqq sebenarnya bukanlah roh al Hallaj yang mengucapkan demikian, tetapi roh Tuhan yang mengambil tempat (hulul) dalam diri al Hallaj.

Al Hallaj menggambarkan uluhiyah (keTuhanan) dengan tajrid dan tanzih dan tidak terlintas dalam dirinya bahwa mengetahui Allah yang ditanzihkan merupakan sesuatu yang ada di luar kemampuan manusia. Oleh sebab itu, dia berpendapat bahwa seseorang yang berkeTuhanan akan mendapatkan hakikat gambar Tuhan yang diberikan Allah setelah melalui usaha keras (riyadhah dan mujahadah) dan hidup zuhud. Hal ini karena Allah menciptakan manusia sesuai gambar-Nya atau bentuk-Nya (Hadi dan M. Abd. 1976).

Al Hallaj berpendapat bahwa cinta dan kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya berada di atas segala sesuatu, dan dasar cinta adalah pengorbanan (at-tadhiyah), serta tanpa diminta Dia rindu bertemu dengan yang dicintai-Nya. Oleh karena itu, para wali Allah harus menghadapkan dirinya kepada Allah semata dalam bentuk penghambaan yang utuh dan mematuhi perintah- Nya meskipun memberatkan mereka. Inilah tampaknya pemahaman agama yang dianjurkan Al Hallaj.

Dari analisis sederhana ini, dapat dilihat bahwa paham sufistik Al Hallaj dipengaruhi oleh berbagai unsur agama, paham, dan isme yang ada sebelumnya, dan tampaknya ia mengadopsi dari unsur-unsur itu, hal-hal yang sulit dipahami.

Dari uraian tersebut, tampak jelas bahwa pandangan- pandangan sufistik Abu Mansur Al Hallaj memang sangat berbeda dengan paham-paham sufistik para tokoh lainnya, bahkan terkesan ganjil. Akan tetapi, keganjilan ini dapat dimaklumi, bahkan dianggap suatu kewajaran bila ditelusuri kondisi dan lingkungan yang mempengaruhi visi khasnya.

Karena visi sufistiknya memang terbentuk dari unsur paham, ajaran, dan agama yang beragam, beragam pula penilaian atau kecaman yang diserahkan kepadanya. Yang jelas, dunia tasawuf terasa semakin semarak dan signifikan dengan kehadiran pandangan-pandangan yang aneh tersebut.

E. KESIMPULAN

a. Hulul secara etimologis berasal dari kata hall-yahull-hulul berarti berhenti atau diam. Adapun secara harfiah dapat didefinisikan Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana.

b. Tujuan dari hulul adalah mencapai persatuan secara batin.

Untuk itu, Hamka mengatakan, bahwa Al Hulul adalah ke Tuhanan (lahut) menjelma ke dalam diri insan (nasut), dan hal ini terjadi pada saat kebatinan seorang insan telah suci bersih dalam menempuh perjalanan hidup kebatinan.

c. Ajaran tasawuf al-Hallaj yang terkenal adalah konsep hulul. Tuhan dipahami mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu setelah manusia tersebut betul-betul berhasil melenyapkan sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuhnya. Menurut al-Hallaj bahwa Tuhan mempunyai dua sifat dasar, yaitu al-lahut (sifat keTuhanan) dan al- nasut (sifat kemanusiaan). Demikian juga manusia juga memiliki dua sifat dasar yang sama. Oleh karena itu, antara Tuhan dan manusia terdapat kesamaan sifat.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kumayi dan Sulaiman. 2004. Kearifan Spiritual dari Hamka ke Aa Gym. Pustaka Nuun. Semarang

Azra, Azyumardi, et. Al, 2002. Ensiklopedia Islam. PT Ichtiar Baru van Hoeve. Jakarta

Hadi dan M. Abd. 1976. Tragedi al-Hallaj. Pustaka. Bandung Joebar. Ajoeb. 1986. The Secret of Ana Al-Haqq. Rajawali. Jakarta Mahmud dan Abdul Kadir. 1986. al-Fikr al-Islami wa al-Falsafat

al-Muaridlah fi al-Qadim wa al-Hadits. Hajah al-Misriyah al- Ammah li al-Kitab. Mesir

Nasution Harun. 1973. Falsafah dan Mistisme Dalam Islam. Bulan Bintang. Jakarta.

Simuh. 1997. Tasawuf dan perkembangannya Dalam Islam. Raja Grafindo. Jakarta

Syukur dan M. Amin. 1999. Menggugat Tasawuf. Pustaka Pelajar.

Yogyakarta

Harun Nasution , Filsafat dan Mitos dalam Islam (Jakarta : Buana bintang ,

BAB XV WAHDAT AL WUJUD A. PENDAHULUAN

Ilmu tasawuf adalah salah satu usaha untuk mengangkat derajat manusia dalam segi kehidupan spiritual dan rohani, dengan cara menyucikan hati kita. Tetapi Seiring berjalanya waktu tasawuf berubah ke dalam kelompok teoritis, dengan mengkaji alam dan berkontemplasi mengenai wujud Allah. Jadilah kontemplasi rasional ini sebagai jalan seorang sufi menuju Allah, sebagaimana tujuan seorang sufi bukan lagi fana’, melainkan ittihad (bersatu), kemudian doktrin al-hulul yang merupakan perkembangan dari ittihad, dan lalu berkembang menjadi wahdatul wujud yang merupakan perluasan dari konsepsi al-hulul.

Dalam dokumen Pengantar akhlak tasawuf (Halaman 143-149)