BAB III PANDANGAN UMUM TENTANG JILBAB
E. Transformasi Jilbab Dalam Islam
memakai hijab. Adapun sebab lainnya yaitu cita kerahiban yaitu merupakan suatu upaya untuk melawan atas dorongan seksualitas yang tinggi yang terjadi tidak hanya di Barat ataupun di Timur melainkan di seluruh Dunia.
b. Faktor Sosial, sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa hijab muncul karena adanya rasa tidak aman sehingga masyarakat pada masa itu harus menyembunyikan kekayaan dan para istrinya yang berparas cantik dengan mengenakan hijab agar tidak dirampas oleh para raja dan para pangeran, dengan demikian faktor sosial ini yang kemudian menjadi suatu gagasan agar para perempuan mengenakan hijab pada saat itu.
c. Faktor Ekonomi, alasan ini menjadi salahsatu penyebab berkembangnya hijab karena hal ini dilakukan untuk mengeksploitasi wanita, pada masa ini berdasarkan sejarah dikatakan bahwa ada empat masa antara hubungan perempuan dengan laki-laki. Yang pertama yaitu masa komunal, kedua yaitu suatu masa ketika laki-laki menguasai perempuan dan mereka di anggap sebagai budak, ketiga yaitu masa saat perempuan berbalik melawan laki-laki dan masa keempat yaitu masa dimana perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kesetaraan yang sama rata atau dikenal dengan kesetaraan gender.
d. Alasan Etis, hal ini menjadi sebuah alasan atas dasar keegoisan dan kecemburuan seorang laki-laki terhadap perempuan agar hany
menjadi miliknya saha sehingga tidak ada laki-laki lainnya yang dapat memilikinya.
e. Alasan Psikologis, menurut sebagian masyarakat di dunia mereka mempercayai bahwa hijab didasari atas psikologis seseorang, menurut mereka seorang perempuan di haruskan untuk menggunakan hijab karena dua sebab. Pertama, kaum perempuan merasa bahwa mereka memiki suatu kekurangan didalam tubuhnya yang berbeda jika dibaningkan dengan laki-laki. Kedua, karena mereka mengalami menstruasi setiap bulannya sehingga hal itu membuat kaum perempuan hanya boleh berdiam diri dirumah dan menutup dirinya dengan hijab.
Seiring berjalannya peradaban Islam Timur, hijab memberikan peran sangat penting bagi perempuan dalam pembentukan system sosial, dalam sejarah telah tercatat bahwa hijab bukan hanya sebagai identitas masyarakat Timur pada masa itu saja, tetapi kemudian perempuan pada zaman itu menggunakan hijab dan kemudian keluar dari belenggunya yang harus selalu berada di dalam rumah. Kemudian adat atau kebiasaan ini berlanjut sampai abad ke 13 M dan kemudian terus berkembang hingga kemudian berangsur menjadi hilang di daerah Yunani dan barat pada saat itu.26
Proses terjadinya pemisahan antara laki-laki dengan perempuan bermula pada saat adanya urbanisasi pada penduduk Arab pada saat itu.
26 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, (Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang Yogyakarta 2005), h. 65.
Adapun di Negara lainnya seperti di Maroko, mereka berpendapat bahwa pengurungan perempuan atau yang dikenal dengan proses Pingit terhadap perempuan yaitu sebagai sebuah harga diri yang memuliakan seorang perempuan. Historis mengatakan bahwa proses terjadinya pingitan terhadap perempuan yaitu dilakukan untuk para istri Nabi yang mana mereka ikut serta dalam perang contohnya Aisyah R.A, beliau mengikuti perang Uhud yang kemudian membuat pakaiannya terangkat dan kemudian gelang kakinya terangkat dan kemudian menyebabkan adanya sentuhan dengan laki-laki lainnya sehingga kemudian itu menjadi alasan utama adanya batasan secara formal.27
Adapun menurut Husein Muhammad bahwa budaya pada zaman saat ini sudah mengalami perubahan, perempuan pada zaman ini memiliki kualitas dan kemampuan intelektual yang lebih mendominasi daripada laki-laki sehingga dengan adanya perkembangan ini maka memberikan peluang dan ruang bagi perempuan untuk bebas mengekspresikan kehadiran dan kemampuan mereka.28
Sejalan dengan pergerakan abad yang terus berkembang, masyarakat di Nusantara kemudian mulai menggunakan hijab seperti yang ditulis oleh Alimatul Qibtiyah dalam karyanya yang berjudul
27 Rosdiana A. Bakar, Hijab dan Jilbab dalam Perspektif Sejarah, Jurnal Pendidikan dan Konseling, (Vol. 6 No.1, Edisi Januari-Juni 2016) Hlm, 104.
28 Yusuf Rahman, Feminist Kyai, K.H. Husein Muhammad The Feminist Interpretation on Gendered Verses and The Qur’an Based Activism, Al-Jami’ah : Journal of Islamic Studies, Vol. 55 No. 2, 2017. h. 306
Hijab di Indonesia Sejarah dan Kontroversinya tertulis bahwa hijab dikenakan pertama kalinya yaitu pada abad ke 17 oleh seorang perempuan muslimah dari kalangan bangsawan yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kemudian pada tahun 1970 di Nusantara dikenal sebagai penutup kepala perempuan, kerudung, kain tipis yang kemudian di ikatkan di pundak dan membiarkan bagian lehernya masih terlihat dan pada tahun berikutnya yaitu 1980, jilbab mulai dikenal dan dikenakan oleh banyak kalangan perempuan yang pada saat itu dipengaruhi oleh Iran pada tahun 1979 demi menunjukan identitas seorang muslim salahsatunya dengan adanya sarana penggunaan jilbab pada masa itu.29
29 Husein Muhammad, Jilbab & Aurat (Yogyakarta: CV. Aksarasatu 2020), h. 132.
BAB IV
JILBAB DAN PEREMPUAN PERSPEKTIF HUSEIN MUMMAD A. Corak Feminis Menurut Husein Muhammad
Dengan pergerakan zaman yang terus berkembang dan maju, hal itu kemudian menjadikan pemikiran-pemikiran manusiapun terus berkembang, begitupula dengan pemikiran dari para feminis di dunia.
Menurut penulis feminis saat ini sudah memberikan kontribusinya dengan menggunakan akal dan logikanya dan kontribusinya tidakhanya dilakukan oleh perempuan, sebagaimana tokoh yang saat ini penulis teliti.
Husein Muhammad seorang feminis muslim seorang laki-laki yang berusaha membebaskan perempuan dari belenggu-belenggunya saat ini sehingga hal itu kemudian menjadikan bahwa segala bentuk dukungan ataupun pembelaan pada seseorang yang lemah tidak selalu dilakukan dengan kekerasan saja, hal itu kemudian menunjukan pula bahwa perempuan ataupun laki-laki sudah memiliki kecerdasan dan kekuatan yang sama yaitu menggunakan logikanya sebagaimana yang harus dilakukan oleh manusia. Gerakan feminis itu kemudian semakin meluas dan semakin kuat dalam masyarakat saat ini, untuk memahami feminis itu sendiri kemudian penulis akan menjelaskan lebih mendalam tentang feminis itu sendiri agar penulisan ini menjadi lebih fokus.
a. Feminisme
Menurut salah satu tokoh yang bernama Kamla Nighat makna feminisme adalah seseorang atau suatu kelompok yang menyadari akan adanya penindasan dan mendeskriminasi perempuan dengan alasan jenis kelaminnya, mendominasi dari kedua gender yang ada dan adanya sistem patriarkhi dalam kehidupan sosial yang ada maka ia sudah termasuk kedalam feminisme.1
Dalam bab ini penulis akan memberikan pembahasan yang mendalam dan memusat pada tema tentang deskripsi feminis yang disampaikan oleh Husein Muhammad lalu kemudian bagaimana pandangan beliau tentang perempuan serta bagaimana peran dan kedudukannya dalam Islam saat ini. Pada perkembangan dan kemajuan zaman saat ini, diskriminasi dan pelecehan terhadap perempuan justru semakin meningkat seakan-akan perempuan tidak berhak untuk terlibat dalam kehidupan sosial.
Gerakan Feminisme menurut Husein Muhammad yaitu suatu gerakan yang timbul dari kesadaran dan rasa keperdulian terhadap adanya penindasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan yang terus menerus terjadi dan kemudian dengan adanya kesadaran tersebut yang menjadi pondasi dan poin inti
1 Dra. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A., dkk, Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam, (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga 2002), h. 32.
dalam feminisme itu sendiri.2
b. Feminisme Menurut Husein Muhammad
Untuk mengetahui aliran-aliran feminis yang ada, Husein Muhammad memberikan pemaparannya bahwa feminis memiliki berbagai macam aliran yaitu:3
1. Feminis Liberal
Gerakan feminis pertama kali dikenal pada abad (1759- 1799) oleh seseorang bernama Mary Wollstonecraft, gerakan feminis liberal ini memberikan kecaman keras tentang subordinasi yang terjadi terhadap perempuan yang beranggapan bahwa perempuan memiliki intelektual dan kekuatan yang lemah dibandingkan dengan laki-laki.
2. Feminisme Radikal
Kelompok ini memberikan penekanan pada persoalan tentang seksualitas perempuan dan reproduksinya yang mengasumsikan paham patriarkhi yang selalu mendominasikan laki-laki sebagai penguasa atas perempuan dan menjadikan perempuan sebagai pemuas atas nafsu laki- laki.
2 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), h. 221.
3 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan, h. 17-30.
3. Feminisme Marxisme
Berbeda dengan aliran-aliran sebelumnya, pada aliran ini mereka beranggapan bahwa perempuan mengalami subordinasi dan keterbelakangan disebabkan karena ekonomi, politik, dan kehidupan dalam masyarakat sosial yang memiliki hubungan dengan sistem kapitalisme yang ada.
4. Feminisme Sosialis
Paham gerakan ini berfokus pada kesadaran atas penindasan terhadap perempuan yang disebabkan oleh sistem patriarkhi, karena menurut golongan ini perempuan tidak menyadari akan hal itu. Seperti adanya kekerasan terhadap perempuan yang kemudian gerakan ini menyadarkan mereka dan membangkitkan emosi para kaum perempuan dan melawan langsung kaum yang mendominasi sehingga dengan hal tersebut dapat perlahan merobohkan sistem patriarkhi tersebut.
5. Feminisme Islam
Gagasan yang di usung oleh gerakan ini adalah memberikan analisis dan penelitian yang memberikan jawaban-jawaban dan dorongan terhadap permasalahan yang di alami oleh perempuan terkait ketidakadilan, kekerasan maupun kesetaraan yang berasal dari sudut pandang agama.
Menurut Husein Muhammad ketidakselarasan antara laki-laki dengan wanita yaitu suatu struktur sosial yang seringkali terjadi di lingkungan masyarakat yang mendominasikan laki-laki atau perempuan sebagai korban, ketidakselarasan tersebut terus menerus terjadi dalam ruang lingkup subordinasi seakan-akan menentukan bahwa mereka tidak berhak memberikan suaranya dalam suatu penentuan keputusan, bahkan pendapatnya di anggap tidak penting dan memberikan dampak penindasan dan kekerasan seksual terhadap perempuan.4
Sebagaimana yang telah penulis uraikan pada bab-bab sebelumnya, Husein Muhammad sangat aktif dalam memberikan kontribusinya dalam aksi pembelaan hak-hak kesetaraan gender antara laki-laki ataupun wanita sehinga tidak ada ketimpangan antara manusia satu dengan manusia lainnya.
Feminis liberal mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita, hakikat yang pasti bahwa manusia hanya berbeda dengan binatang karena manusia dianugerahi kemampuan berpikir yang hanya dimiliki oleh manusia yaitu sebagai penentu suatu keputusan yang otonom dan prudensial atau pemenuh atas segala keperluan akan dirinya sendiri sehingga laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama.5
4 Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender (Yogyakarta: IRCiSoD 2019), h. 51.
5 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005) , h. 18.
Sebagai seorang tokoh pembela perempuan yang memiliki latar belakang dunia pesantren, Husein Muhammad kerap kali dikenal sebagai salahsatu feminis muslim di Indonesia itu sendiri merupakan hal yang sudah banyak didukung dan dikenali oleh masyarakat umum karena feminis pada saat ini tidak hanya identik dengan perempuan saja, melainkan laki-laki pun memberikan dukungan dan membela kesetaraan dan kebebasan perempuan lainnya.6
Adapun pernyataan bahwa Husein Muhammad sebagai seorang Feminis Islam memberikan makna itu sendiri sebagaimana dituliskan dalam kitab-kitab kuning klassik terdahulu yang beliau ajarkan di Pesantren. Pada saat itu mayoritas masyarakat sudah terpengaruh oleh budaya patriarkhi dan menyatakan bahwa perempuan memiliki posisi nomor dua setelah kaum laki-laki, ungkapan itu diberikan karena perempuan seringkali disebut dapat menjadi fitnah bagi manusia, padahal penilaian tersebut tidak dapat diberikan karena berdasarkan jenis kelamin seseorang, sehingga dari pandangan tersebut kemudian menjadikan para perempuan merasa Islam bukanlah agama yang memberikan keamanan dan kenyamanan lagi bagi mereka, padahal pada hakikatnya Islam sejak dahulu merupakan agama yang ramah bagi seluruh kaum yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai suatu rahmat dan tidak hanya kepada muslim semata sehingga dengan demikian telah terjadi pergeseran pemahaman yang sangat jauh dari
6 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), h. 7.
hakikat yang sebenarnya.7
Dasar-dasar dan asas pembelaan yang dilakukan oleh Husein Muhammad dalam pembelaan dan kontribusinya terhadap perempuan yaitu:8
a. Gagasan keadilan (‘adalah)
b. Gagasann permusyawaratan (syurah) c. Gagasan persamaan (musawah)
d. Gagasan menghasrgai kemajemukan (ta’addudiyah) e. Gagasan toleransi dalam perbedaan (tasamuh) f. Gagasan perdamaian (ishlah)
B. Perempuan Perspektif Husein Muhammad
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) perempuan merupakan gender yang ada selain daripada laki-laki, jika perempuan adalah mahluk yang mempunyai vagina, melahirkan, menstruasi dan menyusui maka laki-laki adalah mahluk yang mempunyai jakun, kumis dan zakar kedua makna tersebut hanyalah pembeda secara biologis dan tidak memberikan pengaruh dalam memberikan kebebasan untuk menjadi pemimpin.9
Perdebatan tentang perempuan tampak semakin sengit dan selalu meningkat hingga menarik perhatian banyak kalangan seakan-
7 Husein Muhammad, Mengaji Pluralisme Kepada Maha Guru Pencerahan (Bandung:
Mizan, 2011) , h. 51-52.
8 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan,h. 226.
9 Kunti Ayu Vedanti, Filsafat Kepemimpinan perempuan Kajian Tokoh Bawin Balian dalam Kitab Suci Panaturan (2021, No 1, ISBN) h. 15.
akan kaum perempuan selalu menjadi objek dari segala aspek, khususnya sejak dua dekade belakangan ini. Adanya kontrofersi tentang hakikat perempuan lebih rendah dari laki-laki dan menjadi suatu pusat atas kerusakan yang ada dan anggapan tersebut bermula pada cerita tentang turunnya nabi Adam ke bumi yang disebabkan oleh Hawa, kemudian Hawa yang tercipta dari tulang rusuknya adam dan kemudian Adam jatuh cinta padanya hingga menjadi penyebab beliau di keluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi.10
Dari pernyataan di atas dapat dilihat bahwa pemikiran tersebut seakan-akan sudah mensubordinasi perempuan, menjadikan perempuan sebagai suatu kaum yang tidak di muliakan karena menjadi sumber kerusakan yang telah terjadi, sehingga oleh karenanya dalam bab ini akan di uraikan bagaimana pemikiran Husein Muhammad terhadap untuk melakukan pembebasan terhadap hak-hak perempuan yang hingga saat ini masih mendapatkan penindasan.
Dalam sejarah dikatakan bahwa proses penciptaan perempuan lebih sulit dibandingkan dengan penciptaan laki-laki, sejarah mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena adanya evolusi terus menerus sehingga seharusnya dari kesulitan penciptaannya tersebut menjadikannya tidak untuk disubordinasi oleh laki-laki.11
10Husein Muhammad, Perempuan Islam dan Negara, Pergulatan Identitas dan Entitas, (Yogyakarta: Qalam Nusantara 2016), h. 132.
11Sitti Arafah, Jilbab: Identitas Perempuan Muslimah dan Tren Busana, Jurnal Agama dan Kebudayaan, (Vol 5, No. 1, 2019), h. 32 (31-38).
Selanjutnya penulis kemudian akan menguraikan bagaimana proses penciptaan perempuan. Pertama, penulis akan menguraikan tentang Husein Muhammad mengungkapkan tentang penciptaan perempuan yang terkandung dalam al-Qur’an Surat al-Nisa Ayat 4 yang menjadi dasar para ulama untuk menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki sehingga hal itu yang kemudian menimbulkan pendapat bahwa yang lebih mulia dari keduanya adalah kaum laki- laki, sedangkan menurut Husein makna ayat ini adalah mengungkap bahwa penciptaan manusia sesungguhnya berasal dari satu (Nafs Wahidah) yang kemudian diciptakanlah sosok yang serupa kemudian dari keduanya tersebut menjadi sepasang yang kemudian oleh karenanya menurut Husein Muhammad sesungguhnya perempuan bukanlah kaum yang lebih rendah dari kaum laki-laki karena ayat tersebut tidak memberikan penjelasan yang pasti tentang makna dari (Zawjaha) pasangannya itu laki-laki atau perempuan, tetapi makna yang paling penting adalah kalimat setelahnya yang menyatakan bahwa perempuan dan laki- laki memiliki hidup yang berpasangan dan kebersamaan sehingga tidak ada anggapan perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena dalam ayat lainnya yaitu Q.S Al-Rum Ayat 30 yang kemudian diperjelas bahwa perempuan dengan laki-laki diciptakan sama.12
12 Susanti, Teosofi Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Husein Muhammad antara Feminis Islam dan Feminis Liberal (2014, No. 1, Vol. 4, ISBN), h. 208.
Kedua, perempuan di zaman dahulu kerap kali mendapatkan perhatian yang lebih dalam berbagai macam pembahasan, seperti halnya yang tercatat dalam tradisi dunia, perempuan mendapatkan kisah yang suram dan amat tertinggal, menurut sejarah Yunani Kuno perempuan yang bernama Pandora ia adalah seorang istri yang konon tidak mematuhi suaminya dan ia adalah perempuan yang disebut sebagai pembawa bencana, penular penyakit, kekacauan dan kerusakan dunia. Ia di amanahkan agar tidak membuka suatu kotak oleh suaminya, tetapi ia kemudian melanggar larangan tersebut dan menimbulkan segala macam hal buruk, dengan adanya cerita kuno tersebut kurang lebih selama sepuluh abad pada masa itu perempuan dinilai sebagai sumber dari segala macam kehancuran dunia di Eropa- Kristen.13
Pernyataan di atas sudah tidak lagi berlaku di zaman yang sudah berkembang jauh ini, Husein Muhammad menyatakan bahwa banyak penindasan atau subordinasi terhadap perempuan yang disebabkan oleh kekeliruan dalam pemahaman masyarakat yang selalu beranggapan bahwa perempuan adalah sosok yang lemah lembut sedangkan laki-laki cenderung kasar, atau yang menyatakan bahwa perempuan sebagai seseorang yang emosional sedangkan kaum laki-laki rasional. Dari pendapat tersebut kemudian Husein Muhammad menilai bahwa adanya penyimpangan pemahaman yang
13 Muhammad Ainun Najib, Tasawuf dan Perempuan Pemikiran Sufi Feminisme KH Husein Muhammad, Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin, (Vol. 08 No. 01 Edisi Juni 2020), h. 206.
menjadikan pernyataan tersebut seolah-olah sudah menjadi kodrat yang artinya tetap dan tidak bisa untuk di ubah karena sudah berasal dari Tuhan padahal pernyataan-pernyataan tersebut terjadi karena kehidupaan social dan budaya di lingkungan masyarakat dan bukan berasal dari Tuhan.14
Pada kenyataannya saat ini kaum perempuan sudah banyak memiliki kecerdasan intelektual yang lebih unggul bahkan juga fisik yang kuat seperti halnya laki-laki. Sebagai seorang tokoh Feminis laki-laki, Husein Muhammad melandaskan pembelaannya terhadap perempuan karena sebagai pembuktian adanya HAM yaitu dengan dasar kebebasan sesama manusia yang kemudian pembelaan tersebut disandarkan pada sudut pandang Islami, seperti pendapatnya mengenai bolehnya seorang perempuan untuk menjadi imam sholat dan menjadi pemimpin, karena berdasarkan tauhid atau monoteisme sehingga menurutnya semua manusia tidak dipandang berdasarkan gender sehingga kemudian pengulikan terkait kebebasan perempuan merupakan suatu bencana besar yang harus segera dituntaskan dan diberikan haknya sebagai pembelaan atas ketidakadilan yang dialami oleh perempuan pada saat ini agar tidak ada lagi ketimpangan yang disebabkan karena subordinasi gender.
Berdasarkan pada uraian-uraian dalam pembahasan yang penulis sampakan pada bab-bab sebelumnya yang memberikan
14 Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender (Yogyakarta: IRCiSoD 2019), h. 49.
pemahaman bahwa perempuan dengan jilbabnya merupakan dua konsep yang berbeda, sehingga penilaian atas baik dan buruk perempuan terpisah dengan jilbab, jilbab dengan definisi sebagai suatu objek penutup yang memisahkan antara satu dengan yang lainnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Husein Muhammad bahwa jilbab itu sendiri sudah ada dalam peradaban masyarakat Islam pada masa itu. Dalam pemberian makna tersebut kemudian dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya jilbab tidak dapat dijadikan sebagai suatu simbol atau identitas atas keyakinan dalam suatu agama melainkan jilbab hanyalah sebuah mode atau tradisi terntentu.
Untuk memahami makna tauhid itu sendiri kemudian Husein Muhammad menjelaskan dalam tulisannya bahwa Tauhid yang dimaknai oleh Husein Muhammad adalah suatu pebebasan diri atau pemberontakan terhadap pemahaman-pemahaman sesama manusia yang mengatasnamakan keunggulan, kelebihan atau kekuatan apapun yang artinya bahwa adanya kesetaraan mahluk di hadapan Tuhan.15
Hal itu kemudian menjadi alasan bahwa perempuan selama ia masih menjadi mausia tidak ada larangan bagi mereka untuk mendapatkan haknya sebagai manusia, tidak juga menjadikan jilbab sebagai dalih atas semua gerakannya sebagai manusia. Dalam memahami ketimpangan tersebut kemudian Husein Muhammad
15 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005) Hlm, 150-156.
menyebutkan bahwa ada dua aliran besar yang memberikan pendapatnya sebagai berikut:16
pertama yaitu aliran yang menganggap bahwa perempuan adalah mahluk yang diciptakan oleh Tuhan dalam tingkat kedua setelah kaum laki-laki, aliran ini meyakini bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan lagi karena ini sudah menjadi ketetapan, takdir dan hakikat dari Tuhan yang tidak dapat di ubah oleh manusia sehingga dampak dari anggapan ini yang kemudian menyebabkan kaum perempuan tidak mendapatkan hak dan kebebasannya yang tidak sama dan perempuan, mereka hanya mendapatkan sebagian dari laki-laki sehingga aliran ini kemudian dikenal sebagai aliran yang radikal.
Kedua yaitu aliran yang mengusungkan kesetaraan antara hak dan kewajiban kaum perempuan dengan kaum laki-laki sebagai manusia yang setara, perempuan memiliki hak dan wewenang yang sama baik dalam bidang fisik maupun intelektual sehingga haknya untuk berpendapat dan mengekspresikan kemampuannya dan tidak serta merta terbatasi karena gendernya, aliran ini diyakini oleh sebagian ulama muslim lainnya yang kemudian dikenal dengan aliran progresif.
Aliran tersebut yang kemudian sampai saat ini masih terus dikenal di kalangan masyarakat sebagai feminisme yang terus
16Husein Muhammad, Perempuan Islam dan Negara, Pergulatan Identitas dan Entitas (Yogyakarta: Qalam Nusantara 2016), h. 120.
memperjuangkan kaum perempuan agar mendapatkan kebebasan dan hak yang sama sebagaimana sesama manusia sejalan dengan asas perjuangan yang dilakukan oleh Husein Muhammad dalam melakukan pembelaan terhadap perempuan.17
C. Kedudukan Perempuann Sebagai Pemimpin
Dalam KBBI, Pemimpin yaitu memiliki arti orang yang memimpin, sedangkan pemimpin yaitu berasal dari kata pimpin/pim.pin/v, berpimpin dibimbing, dituntun.18 Dukungan dan sumbangan terhadap keadilan atas hak-hak perempuan terus menerus dilakukan oleh Husein Muhammad demi terbentuknya kesetaraan yang tidak terhadang karena gender seseorang, begitu pula posisi perempuan dalam Islam sudah sejak dahulu kala terus diberikan pembelaan oleh para tokoh dan aktifis Islam lainnya dengan berbagaimacam tantangan seperti budaya patriarkhi yang kemudian inilah menimbulkan ketimpangan yang diluruskan oleh para tokoh muslim lainnya untuk menjelaskan bahwa sesungguhnya Islam memberikan hak-hak dan keadilan maupun kesetaraan terhadap sesama manusia.19
Perdebatan dan penentangan terhadap kepemimpinan seorang perempuan selalu mendapat kritik-kritik dan pandangan buruk tentu tidak sedikit pula yang memberi dukungan dan persetujuan terhadap kepemimpinan seorang perempuan, karena dalam Islam itu sendiri
17 M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Permpuan, h. 56.
18 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online 2021.
19M. Nuruzzaman, Kiai Husein Membela Perempuan h. 97.