• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Dalam dokumen Consolidated Set of GRI Standards - Indonesian (Halaman 144-148)

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), bagian dari Agenda untuk Pembangunan Berkelanjutan 2030 yang diadopsi oleh 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mencakup rencana tindakan komprehensif dunia untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan [8].

Karena SDGs dan target yang berkaitan dengan mereka bersifat terintegrasi dan tak dapat dipisahkan, organisasi minyak dan gas memiliki potensi untuk berkontribusi pada semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dengan meningkatkan dampak positif mereka, atau dengan mencegah dan memitigasi dampak negatif mereka terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.

Sektor minyak dan gas sangat relevan dalam upaya mencapai Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim dan, dengan adanya potensi dampak perubahan iklim terhadap agenda pembangunan, ini akan memengaruhi pencapaian setiap tujuan, sembari berkontribusi pada transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Sektor minyak dan gas juga memiliki peran penting dalam mencapai Tujuan 7: Energi Bersih dan Terjangkau.

Memastikan akses ke energi untuk semua sembari melakukan transisi menuju ekonomi rendah karbon merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh sektor ini. Jutaan orang masih kekurangan akses ke energi. Keterbatasan ini menghalangi akses ke layanan dasar seperti layanan yang diakui dalam Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas serta peluang mereka menghasilkan pendapatan, yang sangat penting untuk mencapai Tujuan 1: Tanpa Kemiskinan. Lebih luas lagi, energi andal dan terjangkau merupakan sumber daya sangat penting bagi ekonomi dunia dan penting untuk mencapai Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Di negara-negara yang menghasilkan minyak dan gas, sektor ini menghasilkan pendapatan tinggi dan menarik investasi yang besar. Akan tetapi, pendapatan besar yang berasal dari sektor ini memiliki risiko korupsi dan konflik atas sumber daya, yang memengaruhi Tujuan 16: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh.

Tabel 2 menyajikan hubungan antara kemungkinan topik material untuk sektor minyak dan gas dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Hubungan ini diidentifikasi berdasarkan pada penilaian dampak yang dijelaskan di setiap kemungkinan topik material, target yang berkaitan dengan setiap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan pemetaan yang ada yang dilakukan untuk sektor tersebut (lihat rujukan [14] dan [16] dalam Daftar Pustaka).

Tabel 2 bukan merupakan alat pelaporan tetapi menyajikan hubungan antara dampak signifikan sektor minyak dan gas dengan tujuan Agenda untuk Pembangunan Berkelanjutan 2030. Lihat rujukan [21] dan [22] dalam Daftar Pustaka untuk informasi tentang kemajuan pelaporan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) menggunakan Standar GRI.

Tabel 2. Hubungan antara kemungkinan topik materi untuk sektor minyak dan gas serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Topic 12.1 Emisi GRK

Topik 12.2 Adaptasi, ketahanan, dan transisi iklim

Topik 12.3 Penutupan dan rehabilitasi Topic 12.4 Emisi udara

Topic 12.5 Keanekaragaman hayati Topik 12.6 Limbah

Topik 12.7 Air dan efluen Topik 12.8 Dampak Ekonomi Topik 12.9 Komunitas lokal Topik 12.10 Hak atas tanah dan sumber daya

Topik 12.11 Hak masyarakat adat Topik 12.12 Konflik dan keamanan Topik 12.13 Keandalan aset dan manajemen krisis

Topik 12.14 Kesehatan dan keselamatan kerja

Topik 12.15 Praktik ketenagakerjaan Topik 12.16 Pekerja anak

Topik 12.17 Kerja paksa dan perbudakan modern

Topik 12.18 Kebebasan berserikat dan perundingan kolektif

Topik 12.19 Nondiskriminasi dan peluang setara

Topik 12.20 Antikorupsi Topik 12.21 Pembayaran kepada pemerintah

Topik 12.22 Kebijakan publik

2. Kemungkinan topik material

Bagian ini terdiri dari kemungkinan topik material untuk sektor minyak dan gas. Setiap topik menjelaskan dampak paling signifikan dari sektor yang berkaitan dengan topik dan mencantumkan pengungkapan yang telah diidentifikasi relevan untuk pelaporan tentang topik oleh organisasi minyak dan gas. Organisasi diwajibkan untuk meninjau setiap topik dalam bagian ini dan menentukan apakah topik tersebut merupakan topik material untuk organisasi, kemudian menentukan informasi apa yang akan dilaporkan untuk topik material mereka.

Topik 11.1 Emisi Gas Rumah Kaca

Emisi gas rumah kaca (GRK) terdiri dari emisi udara yang turut menyebabkan perubahan iklim, seperti karbon dioksida (CO ) dan metana (CH ). Topik ini membahas emisi energi GRK langsung (Cakupan 1) dan tidak langsung (Cakupan 2) yang berkaitan dengan aktivitas organisasi, serta emisi GRK tidak langsung (Cakupan 3 ) lainnya yang terjadi di aktivitas hulu dan aktivitas hilir organisasi.

Emisi gas rumah kaca merupakan kontributor tunggal terbesar pada perubahan iklim. Aktivitas sektor minyak dan gas dan penggunaan produk minyak dan gas bertanggung jawab pada dua GRK utama dalam jumlah besar: karbon dioksida (CO ) dan metana (CH ). Di seluruh dunia, diperkirakan bahwa sektor ini bertanggung jawab atas

seperempat dari seluruh emisi antropogenik CH , yang memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih tinggi dibandingkan CO2. Pengukuran terkini menunjukkan bahwa angka yang ada pada emisi CH dari sektor ini tidak dapat diremehkan. GRK lain dari aktivitas minyak dan gas meliputi etana (C H ), nitrogen oksida (N O),

hidrofluorokarbon (HCFs), fluorokarbon (PFCs), belerang heksafluorida (SF ), dan nitrogen trifluorida (NF ).

Emisi gas rumah kaca dari aktivitas minyak dan gas diklasifikasikan sebagai emisi GRK (Cakupan 1) langsung dalam kasus aktivitas yang dimiliki atau dikendalikan oleh organisasi atau emisi energi GRK (Cakupan 2) tidak langsung dalam kasus listrik, pemanasan, pendinginan, dan tenaga uap yang dibeli atau didapatkan dan

dikonsumsi oleh organisasi. Saat ini, 15% emisi GRK yang terkait energi di dunia berasal dari proses produksi dan distribusi minyak dan gas [36].

Emisi GRK (Cakupan 1) langsung terdiri dari emisi yang berasal dari pembakaran bahan bakar selama produksi, emisi pengolahan seperti emisi selama pemuatan dan pengisian tangki, dan emisi fugitif seperti emisi yang berasal dari penyaluran pipa dan kebocoran perlengkapan. Sumber besar dari emisi GRK Cakupan 1 dari sektor ini adalah pembakaran gas suar bakar (flaring) dan venting (pelepasan gas tanpa pembakaran), yang bertujuan untuk membuang gas yang tidak dapat ditampung atau ditangani karena alasan keselamatan, teknis, atau ekonomi.

Praktik ini terjadi selama produksi, penyimpanan, dan pengilangan minyak dan gas.

Kotak 1. Pembakaran gas suar bakar dan pelepasan gas tanpa pembakaran

Ketika gas perlu dibuang, gas mungkin dibakar (flaring), atau dilakukan venting (dilepaskan tanpa dibakar).

Flaring membakar gas menjadi CO , sedangkan venting melepaskan CH secara langsung ke udara. Dengan mempertimbangkan bahwa CH memiliki potensi pemanasan global yang lebih tinggi dibandingkan CO , pengalihan gas terkait ke sistem flaring yang efisien alih-alih venting dianggap sebagai praktik terbaik dan ada kesepakatan yang luas bahwa venting yang rutin seharusnya dihilangkan.

Flaring (pembakaran gas suar bakar) juga termasuk sumber utama emisi. Sedangkan gas dalam jumlah besar yang berasal dari aktivitas minyak dan gas digunakan atau dimanfaatkan, flaring masih rutin terjadi.

Berdasarkan Bank Dunia, flaring rutin terjadi 'selama operasi produksi minyak yang normal saat tidak ada fasilitas yang memadai atau geologi yang bertanggung jawab untuk menginjeksi kembali gas yang dihasilkan, memanfaatkan di lokasi, atau mengirimnya ke pasar'. Peningkatan dalam produksi 'shale oil' (minyak serpih) kemudian turut berkontribusi pada volume flaring.

Jumlah gas alam yang dibakar pada tahun 2018 mengakibatkan emisi sekitar 275 megaton CO , serta GRK lainnya seperti metana, karbon hitam, dan N O.

Lihat rujukan [34], [46] dan [48] di Daftar Pustaka.

2 4

2 4

4

4

2 6 2

6 3

2 4

4 2

2 2

Emisi energi GRK (Cakupan 2) tidak langsung berasal dari sumber bergerak dan tetap (misalnya, transportasi material, produk, atau limbah); dan aktivitas ekstraksi; pengilangan minyak; likuifaksi, dan regasifikasi gas alam;

serta pengoperasian fasilitas dan perlengkapan. Menipisnya sumber daya minyak dan gas tradisional telah menyebabkan sektor ini memindahkan produksi ke lokasi yang lebih sulit, yang mungkin melibatkan metode ekstraksi lebih kompleks seperti pengeboran laut dalam atau penambangan pasir minyak. Meskipun ada

peningkatan efisiensi produksi yang berkelanjutan dalam sektor ini, kondisi ini kemungkinan meningkatkan jumlah energi yang digunakan selama produksi dan transportasi serta emisi gas rumah kaca yang terkait dari aktivitas ini.

Emisi gas rumah kaca yang berasal dari penggunaan akhir produk diklasifikasikan sebagai emisi GRK (Cakupan 3) tidak langsung lainnya. Untuk sektor minyak dan gas, hal ini merupakan emisi gas rumah kaca yang paling signifikan dan lebih dari separuh emisi CO global [33]. Sebagian besar emisi GRK Cakupan 3 berasal dari proses

pembakaran yang terkait dengan konstruksi, pembangkit listrik dan panas, manufaktur, dan transportasi. Volume emisi ini telah meningkat bersama dengan permintaan energi yang lebih tinggi.

2

Dalam dokumen Consolidated Set of GRI Standards - Indonesian (Halaman 144-148)