BAB X: BAB X: TATA CARA MENGAMALKAN WIRID DAN DOA
C. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
25
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
26
adalah perubahan-perubahan yang diinginkan pada tiga bidang asasi sebagai berikut:
Pertama, tujuan individual yang berkaitan dengan individu-individu yang mengarah pada perubahan tingkah laku, aktivitas, dan pencapaiannya, serta persiapan mereka pada kehidupan dunia dan akhirat.
Kedua, tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan tingkah laku masyarakat pada umumnya. Hal ini berkaitan dengan perubahan yang diinginkan, memperkaya pengalaman, serta kemajuan yang diinginkan.
Ketiga, tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni, profesi dan sebagai sebuah aktivitas di antara aktivitas-aktivitas yang ada pada masyarakat.22
Abudin Nata menambahkan bahwa tujuan pendidikan dilihat dari aspek sosial adalah tujuan yang diharapkan oleh masyarakat, termasuk dalam hal ini agama, negara, ideologi, organisasi dan lainnya. Dalam konteks ini, pendidikan sering kali menjadi alat untuk mentransformasikan nilai-nilai yang dikehendaki oleh agama, negara, ideologi, dan organisasi tersebut. Maka tujuan pendidikan ini dapat dirumuskan, misalnya tersosialisasinya nilai-nilai agama, nilai budaya, paham ideologi, dan misi organisasi kepada masyarakat.23
22 Omar Mohammad Al-Toumy As-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 399.
23 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2010), 67- 68.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
27
Sedangkan menurut Othanel Smith sebagaimana dikutip oleh Baharudin bahwa pendidikan yang bersifat individual memiliki dua aliran arus utama yaitu: pertama, aliran yang menyatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk mempersiapkan manusia agar meraih kebahagiaan seoptimal mungkin. Sementara kebahagiaan itu, menurut mereka, hanya bisa diperoleh dengan cara meraih kesuksesan dalam kehidupan masyarakat melebihi apa yang bisa dicapai oleh orang-orang lain di sekitarnya.
Dengan kata lain pendidikan dijadikan sebagai alat untuk mendongkrak posisi sosial ekonomi seseorang di dalam masyrakatnya. Kedua, aliran yang lebih menekankan peningkatan daya intelektualitas, kekayaan, dan keseimbangan jiwa seseorang. Aliran ini beranggapan bahwa meskipun sesama peserta didik memiliki kesamaan-kesamaan, namun mereka tetap memiliki perbedaan dan keunikannya sendiri dalam berbagai segi.
Karena itu, pencapaian tujuan pendidikan harus diarahkan demi melihat perbedaan-perbedaan keunikan tersebut. 24
Tujuan pendidikan inilah yang kemudian mengendalikan arah mana unsur lainnya diarahkan.
Sebenarnya, masing-masing unsur pendidikan memiliki peran masing-masing. Semua unsur itu penting dalam mewujudkan sistem pendidikan Islam. Namun, di antara unsur-unsur tersebut terdapat unsur yang berposisi mempengaruhi dan unsur yang posisinya dipengaruhi.
Tujuan pendidikan adalah unsur pendidikan yang
24 Baharuddin, Pemikiran Pendidikan Syed Naquib Al-Attas;
Aktualisasi Pendidikan Kontemporer, Tesis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 2004, 105.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
28
memengaruhi unsur-unsur lainnya sehingga kurikulum, metode, dan lainnya harus diarahkan sesuai dengan keinginan yang termaktub dalam tujuan pendidikan.25
Menurut Al-Attas, ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan: Pertama, pandangan teoritis yang berorientasi kemasyarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang berkualitas, baik dalam sistem pemerintahan demokrasi, oligarki, maupun monarki;
kedua, pandangan teoritis yang lebih berorientasi pada individu yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajarnya. Sementara itu, tujuan pendidikan Islam adalah mengembalikan manusia kepada fitrah kemanusiaannya, bukan pengembangan intelektual atas dasar manusia sebagai warga Negara, yang kemudian identitas kemanusiaannya diukur sesuai dengan perannya dalam kehidupan bernegara. Masih menurut Al-Attas konsep pendidikan pada dasarnya berusaha mewujudkan manusia yang baik, manusia yang sempurna atau manusia universal yang sesuai dengan fungsi utama diciptakannya. Manusia semacam itu membawa dua misi sekaligus, yaitu sebagai hamba Allah (Abdullah) dan sebagai khalifah di muka bumi.26
Pada dasarnya, tujuan pendidikan Islam mengacu pada sistem nilai yang bersumber dari dalam Al-Qur’an dan Hadis. Nilai-nilai tersebut berbentuk keyakinan kepada Allah SWT serta kepatuhan dan penyerahan diri
25 Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Isalm, 238.
26 Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Educational Philosophy, 177.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
29
kepada segala perintahNya, sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Rasulallah saw.
Pakar pendidikan Islam lainnya, Muhammad Fadhil Al Djamali dalam Arifin, yang menjadi guru besar di Universitas Tunisia menyatakan bahwa pendidikan yang sebenarnya harus berlandaskan pada iman. Sebab, iman yang benar akan memimpin manusia kearah akhlak mulia, dan akhlak mulia akan memimpin manusia ke arah pencarian ilmu yang benar, sedang ilmu yang benar akan memimpin manusia menuju amal salih.27
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam seharusnya dapat merefleksikan ilmu pengetahuan dan ittiba’ pada Rasulullah saw, serta berkewajiban mewujudkan umat Islam yang mampu menampilkan kualitas keteladanan Rasulullah saw. sesuai dengan potensi diri masing-masing. Dengan kata lain, pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan insan mukmin yang sesungguhnya dalam wawasan otoritatif keilmuan yang baik.
Jadi, tujuan akhir pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan hidup seorang muslim. Pendidikan Islam itu sendiri hanyalah suatu sarana untuk mencapai tujuan hidup muslim. Bukan merupakan tujuan akhirnya. Tujuan hidup muslim, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT QS.
Adz Dzariyat: 56:
لَتُمْهَهَبِِِّهتُللَ نٓتُنلَِّوبنتُبِنِّْلَنَّتُبانلَهيبلِّشِّ لََِِِّّْ
27 Lihat Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), 17.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
30
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu”.
(Adz Dzariyat: 56).
Jika tujuan ini dapat diimplementasikan dengan baik maka pendidikan Islam akan melahirkan manusia- manusia ulil albab, yaitu manusia yang tidak saja memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi, tapi juga selalu melakukan zikir dan tafakur atas keagungan Allah SWT.
Bagi manusia generasi ulil albab, fitrah tauhid menjadi bagian dari intelektualitasnya, sehingga intelektualitas itu selalu dibarengi dengan karakter yang terpuji.