Orang-orang yang berhak menerima zakat disebut mustahiq zakat. Dalam hal ini terdapat delapan ashnaf (golongan), sebagaimana disebutkan dal
a
m surat al- Taubah: 60,
☺
→⬧
⧫⬧→
✓☺◆
⧫☺➔◆
◼⧫
⬧☺◆
❑➔➔
◆
⬧
⧫✓⧫◆
◆
◆
⬧
◆
⧫
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Di kalangan ahli ilmu terdapat perbedaan pendapat, Apakah wajib membagikan zakat kepada ashnaf yang delapan ini saja, atau boleh menyerahkannya kepada selain yang delapan ashnaf ini sesuai dengan pandangan imam atau yang punya zakat? Imam al-Syafi.i dan sekelompok ulama berpendapat sesesuai dengan
153
pendapat pertama. Sedangkan Malik dan Abu Hanifah cenderung kepada pendapat kedua. Pendapat ini juga yang diperpegangi oleh Umar, Huzaifah, Ibnu ‘Abbas, Abu al-‘Aliyah, Sa’id bin Jabir, Maimun, dan Mahran. Kelompok pertama berargumen dengan lafazh ayat ini. Di dalamnya terdapat pembatasan (khishar) yang ditunjukkan oleh kata امنا pada pangkal ayat. Dan juga berdasarkan hadits dari Ziyad bin Harits al-Shada’i, katanya, Aku datang menemui Nabi SAW lalu aku membai’atnya, lalu seorang laki-laki datang pula, ia berkata, “Berilah aku zakat!” Beliau berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah tidak suka dengan hukum seorang nabi dan lainnya berkenaan dengan zakat sehingga Dia menetapkan pembagiannya untuk delapan ashnaf. Jika engkau termasuk dalam ashnaf tersebut, aku berikan bagiannmu.
Golongan lain menjawab, bahwa pembatasan dengan kata امنا dalam ayat ini adalah untuk menjelaskan penyerahan zakat dan orang yang menyerahkan zakat, bukan wajib memfokuskan ashnaf. Dan kalau dilihat hadits ini di dalam sanadnya terdapat nama
‘Abd al- Rahman bin An’im al- Ifriqi. Dia ini tergolong penutur hadits yang dha’if.
Para ulama golongan ini menguatkan pendapatnya dengan ayat lain,
ت نا ـب ــ د اق دصلا او ف ت
ـ عن ـ ,ىه ام ت ناو ـ خ ـف ـ تو اهو ْوـ ـ وت قـفـلا اه ـ مكـل رـيـخ وـهف ءار
Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali bagimu. Jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka meyembunyikan itu lebih baik bagimu. Q. S. 2: 271. Kata ةـــقدــصلا digunakan untuk yang wajib dan untuk yang sunnat. Ada suatu hadits shahih dari Rasulullah SAW, sabdanya, دراو مـ ــكـ ْىايـ ــنـغ ْا نــم ةــق دــصلا ذـــخْا نا ترــمْا
فـ قـ ـْىار ـــك ـ
م (Aku disuruh untuk mengambil zakat dari orang-orang kaya di antara kamu untuk aku berikan kepada orang-orang miskin di antara kamu). Imam Malik mengatakan, telah terjadi ijma’ sesuai dengan pendapat yang kedua ini. Menurut Ibnu ‘Abd al-Bar, Maksudnya ialah ijma’
sahabat. Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka.
(al-Syaukani, II, 1964: 371-372).
Pada catatan kaki Al-Quran dan Terjemahnya (1971: 288-289) dijelaskan kriteria-kriteria kedelapan ashnaf (golongan) yang berhak menerima zakat tersebut:
1. orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan. 3. pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.
154
Namun demikian terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama berkenan dengan kriteria-kriteria ashnaf tersebut. Imam al-Syaukani (II, 1964: 372-373) menjelaskan sebagai berikut,
Ahli ilmu agama berbeda pendapat tentang makna ayat نـيـك اسـمـلا و ءارـقـفـلا (fakir dan miskin). Menurut Ya’kub bin Sakit, Qutaibi, dan Yunus bin Habib, Orang fakir lebih baik keadaannya dari orang miskin. Karena orang fakir masih memiliki sebagian kebutuhan dan keperluan hidupnya. Sedang orang miskin tidak punya apa- apa. Pendapat inilah yang diperpegangi sebagaian ahli fikih, di antaranya Abu Hanifah. Yang lain berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan, Orang miskin lebih baik keadaannya dari orang fakir. Mereka berargumen dengan firman Allah SWT, اـما
ـمل تـن اـكـف ةــنـيـفـسلا نـيـك اـس
(Adapun sampan itu adalah kepunyaan orang-orang miskin.
Q.S. 18: 79). Allah mengkhabarkan bahwa sampan di laut itu adalah milik mereka.
Hal ini dikuatkan dengan doa Nabi SAW yang minta perlindungan dari kefakiran dengan doanya, انـيـكـسـم ىنـنـمْاو ,انـيـكـسـم ىنـيـحْا مـهـللا (Ya Allah, Ya Tuhanku, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin).
Ini adaah pendapat al-Ashma’i dan para ahli bahasa lainnya. Ini adalah salah satu dari dua pendapat Imam al-Syafi’i dan kebanyakan sahabatnya. Satu kelompok mengatakan, Orang fakir dan orang miskin sama saja, tidak ada perbedaannya. Ini adalah salah satu pendapat Imam sl-Syafi’i lainnya. Pendapat ini juga yang diperpegangi Ibnu Qasim dan seluruh sahabat Imam Malik.
Firman Allah اهـيـلـع نـيـلـم اـعـلاو (dan para amil zakat). Artinya orang-orang yang bekerja dan orang-orang yang memungut zakat yang diangkat oleh imam berhak mendapatkan bagian dari zakat. Ulama berbeda pendapat tentang bahagiannya. Ada yang berpendapat bahagiannya seperdelapan. Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid dan al-Syafi’i. Ada yang mengatakan, Gajirnya sesuai dengan kadar pekerjaannya.
Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hanifah dsn sahabat-sahabatnya. Dan ada pula yang berpendapat, Gajinya diambilkan dari Baitulmal. Pendapat ini berasal dari Imam Malik. Pendapat yang terakhir ini tidak ada landasannya. Karena Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwa mereka mendapat bagian dari zakat itu. Kenapa mereka terhalang mendapatkannya dan diambilkan gajinya dari anggaran lain?
Firman Allah مـهـبوـلـق ةـفـل ْوـملـاو (para muallaf yang dibujuk hatinya), yaitu pada permualaan Islam. Ada pendapat mengatakan, Mereka adalah orang-orang kafir yang ada pada masa Nabi SAW yang dijinaki harinya agar masuk Islam. Mereka tidak masuk Islam dengan power dan pedang, tapi diharapkan masuk Islam dengan memberikan zakat. Ada pula yang berpendapat, Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam pada zhahirnya, tapi tidak baik Islamnya. Maka Nabi SAW menjinaki hati mereka dengan memberikan zakat. Ada yang yang berpendapat, Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Ada yang berpendapat, Mereka adalah sekelompok tokoh-tokoh kaum musyrik yang memiliki pengikut. Nabi SAW memberikan zakat kepada mereka untuk menjinakkan hati para pengikutnya masuk Islam. Dalam hal ini Nabi SAW memberikan zakat kepada tokoh- tokoh kaum musyrik yang baru masuk Islam, seperti: Syufyan bin Harb, Harits bin Hisyam, Suhail bin ‘Amru, dan Huwaithib bin ‘Abd al-‘Azi. Nabi SAW memberikan zakat kepada masing-masing seratus ekor unta untuk menjinakkan hati mereka.
155
Ulama berbeda pendapat, apakah bahagian muallaf masih tetap ada setelah Islam kuat atau tidak? Menurut ‘Umar, Hasan dan, Sya”bi, Terputus pembagian ini setelah Islam jaya. Pendapat ini popular di kalangan madzhab Malik dan ahli ra’yi.
Sebagian ulama Hanafiyah mengatakan bahwa para sahabat telah ijma’ mengenai hal ini. Sekelompok ulama berpendapat, Pembagian mereka tetap ada. Karena imam senantiasa membutuhkan menjinakkan hati mereka untuk masuk Islam. Hanya ‘Umar yang memutuskan pembagian mereka karena melihat Islam sudah kuat. Yunus mengatakan, Aku pernah bertanya kepada Zuhri berkenaan dengan muallaf. Beliau menjawab, Aku tidak mengetahui hal ini sudah di-nasahk-kan. Berdasarkan pendapat pertama, maka eksis pembagian mereka sebagaimana halnya pembagian zakat untuk seluruh ashnaf.
Firman Allah berkenaan dengan ب اـقرـلا (untuk para budak). Artinya untuk memerdekakan budak, yaitu membeli budak dengan harta zakat, kemudian memerdekakannya. Pendapat ini diriwayatkan berasal dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu
‘Abbas. Pendapat inilah yang diperpegangi oleh Malik dan Ahmad bin Hanbal.
Menurut pendapat Hasan al-Bashri, Muqatil bin Hayyan, ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, Sa’id bin Jubair, al-Nakh’i, al-Zuhri, dan Ibnu Zaid, al-riqab adalah budak yang telah ada perjanjian dengan tuannya untuk merdeka, maka dibantu dengan zakat untuk dimerdekakan. Ini adalah pendapat al-Syafi’i, para ahli ra’yi, dan salah satu pendapat Imam Malik. Kedua pendapat ini relevan dengan maksud ayat.
Firman Allah نـيـمراـغـلاو (dan orang-orang yang berhutang) dijelaskan Ibnu Katsir, Istilah gharimin terdiri atas beberapa golongan. Di antaranya ialah orang yang menanggung sesuatu tanggungan atau menjamin suatu hutang, hingga ia haruslah melunasinya. Lalu hutang itu menghabiskan semua hartanya atau ia tenggelam dalam hutangnya sehingga tidak mampu melnasinya, atau hutang yang menghabiskan semua hartanya itu ia lakukan dalam maksiat, kemudian ia bertobat. Maka terhadap mereka semua diberikan sebagian dari harta zakat. Dalil asal dalam bab ini ialah hadits Qubaisah Ibnu Mukhariq al-Hilali yang menceritakan bahwa ia menanggung sesuatu tanggungan hutang, lalu ia datang menghadap Rasulullah SAW untuk meminta sebagian dari harta zakat guna melunasi hutangnya. Maka Rasulullah SAW bersabda, Tinggallah kamu di sini hingga harta zakat datang kepada kita maka akan kami perintahkan untuk memberikan sebagian kepadamu. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, Hai Qubaisah sesungguhnya meminta itu tidak halal kecuali bagi salah seorang di antara tiga macam. Pertama bagi seorang laki-laki yang menanggung suatu tanggungan hutang, maka dihalalkan baginya meminta hingga ia dapat melunasinya, kemudian menahan diri dari meminta-minta. Kedua seorang laki- Laki yang tertimpa sesuatu musibah hingga semua hartanya habis, maka dihalalkan baginya meminta-minta hingga ia memperoleh pegangan bagi kehidupannya atau kecukupan bagi kehidupannya. Ketiga seorang laki-laki tertimpa kemiskinan hingga ada tiga orang yang berakal bijak dari kalangan kerabat dalam kaumnya mengatakan bahwa sesungguhnya si fulan telah jatuh miskin, maka dihalalkan baginya meminta- minta hingga beroleh pegangan kehidupan atau kecukupan bagi kehidupannya.
Adapun meminta-minta yang bukan berdasarkan alasan tersebut, maka hal itu merupakan barang haram yang dimakan oleh pelakunya. H.R Muslim.
156
Ada juga hadits dari Abu Sa’id disebutkan bahwa pada masa Rasulullah SAW pernah ada serang laki-laki yang tertimpa musiabah karena buah-buahan yang dibelinya busuk semua hingga ia berhutang banyak, maka Nabi SAW bersabda, Bersedekahlah kalian untuknya, maka orang-orang (para sahabat) memberikan sedekah mereka kepadanya, tetapi hal tersebut masih juga belum dapat melunas hutangnyai. Lalu Nabi SAW bersabda kepada para pemilik piutangnya, Ambillah apa yang kalian jumpai dan tidak ada lagi bagi kalian kecuali hanya itu. H.R Muslim.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits yang berasal dari Abd al-Rahman bin Abu Bakar mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah menyuruh orang yang berhutang kelak di hari kiamat hingga orang itu diberdirikan di hadapan-Nya lalu Allah berfirman, “Hai anak Adam kenapa kamu mengambil hutang ini dan mengapa kamu sia-siakan hak orang ini?” Maka ia menjawab, “Wahai Tuhanku sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah mengambil hutang itu dan aku tidak memakan dan meminum dan tidak menyia-nyiakannya, tetapi aku terkena kebakaan, dan ada kalanya kecurian, dan ada kalanya kehilangan,” Maka Allah berfirman, “Benarlah apa yang dikatakan hamba-Ku. Aku lebih berhak untuk melunasinya pada hari ini dari pada kamu.” Kemudian Allah memerintahkan kepada sesuatu, lalu sesuatu itu diletakkan pada satu sisi neraca orang itu sehingga kebaikannya lebih berat ketimbang keburukannya, akhirnya ia masuk surga berkat kurnia dan rahmat Allah Firman Allah الله لـيـبـس ىفو (dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah) dijelaskan maksudnya oleh al-Syaukani, Mereka adalah para serdadu dan penjaga perbatasan diberikan zakat sekalipun mereka kaya. Ini pendapat kebanyakan ulama.
Menurut pendapat Ibnu ‘Umar, Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan ibadah haji dan ‘umrah. Diriwayatkan dari Ahmad dan Ishaq bahwa keduanya mengatakan bahwa melaksanakan ibadah haji termasuk fi sabilillah. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya, Serdadu yang diberi zakat hanyalah yang miskin.
Menurut hemat penulis pada zaman sekarang ini setiap orang yang menegakkan agama dan berkekurang di bidang ekonomi tergolong fi sabilillah juga, seperti juru dakwah, guru ngaji, guru-guru honorer di pesantren/madrasah, dan sebagainya. Sepanjang hidupnya mereka melaksanakan pengabdian pada bidang dakwah dan penddikan, tapi sebagian dari mereka tidak memperoleh penghasilan yang cukup, bahkan berkekurangan. Dengan demikian sebenarnya mereka berhak juga mendapat tambahan gaji dari zakat.