• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.7. Uji Hipotesis

atau tidaknya autokorelasi maka digunakan uji Durbin-Watson (DW Test) dengan melihat nilai Durbin-Watson yang tertera pada output SPSS disebut dengan DW hitung. Angka ini akan dibandingkan dengan kriteria penerimaan dan penolakan yang dibuat dengan dL (batas bawah) dan du (batas atas) ditentukan berdasarkan jumlah variabel bebas dalam model regresi (k) dan jumlah sampelnya (n). Kriteria keputusan uji autokorelasi yaitu jika DW hitung lebih besar dari du dan DW lebih kecil dari 4- du, maka model regresi linier tidak terjadi autokorelasi. Jika DW lebih kecil dari dL, maka model regresi terjadi korelasi positif. Namun, jika DW lebih besar dari 4- du, maka model regresi terjadi korelasi negatif.

G. Uji Heteroskedastisitas

Tujuan uji heteroskedastisitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan kepengamatan lainnya (Ghozali, 2009). Uji heterokedastisitas yang digunakan dalam penelitan ini adalah glejser. Suatu model dikatakan baik jika tidak terjadi heteroskedastisitas jika nilai signifikansi > α 0,05 maka pada varian tidak terdapat heteroskedastisitas (Yani & Noviari, 2017).

Indonesia Banking School

berarti variabel independen layak digunakan untuk memprediksi variabel dependen sehingga pembuktian hipotesis dapat dilanjutkan karena variabel independen secara simultan dan signifikasi mempengaruhi variabel dependen (Ghozali, 2016). Uji kedua yang dilakukan adalah uji koefisien determinasi (R2).

Menurut Ghozali (2016), uji ini bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai R2 adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil menunjukan bahwa kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat terbatas. Kriteria nilai R2 yaitu

No Nilai Keterangan

1 0 Tidak Ada Korelasi

2 0 – 0,49 Korelasi Lemah

3 0,50 Korelasi Moderat

4 0,51 – 0,99 Korelasi Kuat

5 1,00 Korelasi Sempurna

Sumber: Ghozali (2016)

Kelemahan dari koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukan kedalam model. Setiap ada penambahan variabel independen maka R2 pasti akan meningkat tanpa mempedulikan apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu digunakan model adjusted R2. Model adjustedR2 dapat naik atau turun apabila ada suatu variabel independen yang ditambahkan kedalam model (Ghozali, 2016).

Uji hipotesis (uji t) ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel keadilan, ketakutan mengungkap harta dan keberhasilan terhadap tax amnesty serta untuk membuktikan hipotesis dalam penelitian ini. Apabila tingkat signifikansi t < α, maka H0 ditolak sehingga hipotesis diterima dan sebaliknya jika tingkat signifikansi t ≥ α = 0,05 maka H0 diterima dan hipotesis ditolak (Ghozali, 2016)

56 Indonesia Banking School

4 BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Penelitian ini menggunakan kuesioner yang disebar dan dijawab oleh Wajib Pajak orang pribadi yang ada di kota Jakarta. Kuesioner ini disebar selama 11 hari dari tanggal 16 April 2018 sampai dengan tanggal 26 April 2018 Jumlah kuesioner yang disebar sebanyak 124, jumlah kuesioner yang tidak kembali sebanyak 22 kuesioner, jumlah kuesioner yang kembali 102 terdiri dari kuesioner yang tidak memenuhi kriteria sebanyak 2 karena responden tidak berkedudukan/bertempat tinggal/menjalankan usaha di Jakarta.

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin yaitu 43 orang (43%) responden laki-laki dan 57 orang (57%) responden perempuan dengan diantaranya 58 orang responden berumur 20 – 30 tahun, 23 orang responden berumur 31 – 40 tahun, dan 19 orang responden berumur 40 – 55 tahun.

Karakteristik responden dengan latar belakang pendidikan SD/SMP/SMA/Sederajat sebanyak 11 orang, Diploma sebanyak 7 orang, Sarjana (S1) sebanyak 74 orang dan Magister (S2) sebanyak 8 orang dengan sebagaian besar (47%) respoden memiliki penghasilan/pendapatan 8,1 – 25 Juta (Rupiah) perbulan. Responden penelitian ini didominasi oleh karyawan sebesar 58%, pegawai lembaga independen (OJK, BI, LPS) sebesar 25%, Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebesar 10%, dan menjalankan usaha, pekerjaan bebas dan pekerjaan lainnya sebesar 7%.

Tabel 4.1

Karakteristik Responden

Keterangan Laki-Laki Perempuan Total

Responden 43 57 100

Umur

20 – 30 Tahun 15 43 58

31 – 40 Tahun 15 8 23

40 – 55 Tahun 11 8 19

Pendidikan

SD/SMP/SMA 8 3 11

Diploma 5 2 7

Sarjana (S1) 24 50 74

Magister (S2) 6 2 8

Pendapatan (Rupiah)

< 4,5 Juta* 1 4 5

4,6 – 8 Juta 10 29 39

8,1 – 25 Juta 27 20 47

> 25 Juta 5 4 9

Pekerjaan

Karyawan 16 42 58

Pegawai Lembaga Independen

(OJK, BI, LPS) 13 12 25

Pegawai Negeri Sipil 10 - 10

Menjalankan Usaha (Wirausaha/

UMKM) 1 2 3

Pekerjaan Bebas 1 1 2

Lainnya 2 - 2

*Pendapatan < Rp 4.500.000 / bulan, namun memiliki pendapatan Rp 54.000.000 / tahun Sumber: Data yang diolah (2018)

4.2. Analisa dan Pembahasan Hasil Penelitian 4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif

Satu variabel dependen (tax amnesty) dan tiga variabel independen (keadilan, ketakutan dan kebehasilan) yang digunakan dalam penelitian ini memiliki jumlah sampel (N) sebanyak 100. Variabel dependen tax amnesty (Y) memiliki nilai terendah/minimal sebesar 2 dan nilai tertinggi/maksimum sebesar 5 dengan nilai rata-rata sebesar 3,88. Standar deviasi untuk variabel tax amnesty

Indonesia Banking School

sebesar 0,567. Artinya terjadi perbedaan nilai tax amnesty terhadap nilai rata-rata sebesar 0,567. Variabel keadilan (X1) memiliki nilai terendah/minimal sebesar 2 dan nilai tertinggi/maksimum sebesar 5 dengan nilai rata-rata sebesar 3,84.

Variabel keadilan memiliki nilai standar deviasi sebesar 0,543. Artinya terjadi perbedaan nilai keadilan terhadap nilai rata-rata sebesar 0,543. Variabel ketakutan (X2) memiliki nilai terendah/minimum sebesar 1 dan nilai tertinggi/maksimal sebesar 4 dengan nilai rata-rata sebesar 2,83. Standar deviasi untuk variabel ketakutan sebesar 0,540. Artinya terjadi perbedaan nilai ketakutan terhadap nilai rata-rata sebesar 0,540. Variabel keberhasilan (X3) memiliki nilai terendah/minimal sebesar 3 dan nilai tertinggi/maksimum sebesar 5 dengan nilai rata-rata sebesar 3,57. Variabel keberhasilan memiliki nilai standar deviasi sebesar 0,513. Artinya terjadi perbedaan nilai keadilan terhadap nilai rata-rata sebesar 0,513.

Tabel 4.2

Uji Statistik Deskriptif

Variabel N Min Max Mean Std.Deviation

Tax Amnesty (Y) 100 2 5 3,88 0,567

Keadilan (X1) 100 2 5 3,84 0,543

Ketakutan (X2) 100 1 4 2,83 0,540

Keberhasilan (X3) 100 3 5 3,57 0,513

Sumber: Data Primer, diolah (2018)

4.2.2. Analisis Tingkat Capaian Responden (TCR)

Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai Tingkat Capaian Responden (TCR) menurut Riduwan (2008) adalah

TCR =𝑅𝑆𝑛

𝑋 100%

Keterangan :

TCR = Tingkat Capaian Responden

Rs = Rata–Rata Skor Jawaban Responden n = Nilai Skor Jawaban

Kriteria interpretasi skor untuk Tingkat Capaian Responden (TCR) adalah sebagai berikut

Tabel 4.3

Kriteria Interpretasi Skor Tingkat Capaian Responden (TCR)

No Angka Keterangan

1 0 – 20% Sangat lemah

2 21 – 40% Lemah

3 41 – 60% Cukup

4 61 – 80% Kuat

5 81 – 100% Sangat Kuat

Sumber: Riduwan (2008)

Nilai Rata–Rata Skor Jawaban Responden (Rs) dan Nilai Skor Jawaban (n) dalam dilihat dalam tabel dibawah ini.

Indonesia Banking School

Tabel 4.4

Nilai Jawaban Responden

Variabel Min Max (n) Mean (Rs)

Tax Amnesty (Y) 2 5 3,88

Keadilan (X1) 2 5 3,84

Ketakutan (X2) 1 4 2,83

Keberhasilan (X3) 3 5 3,57

Sumber: Data Primer, diolah (2018)

Diperoleh nilai TCR variabel tax amnesty sebesar 77,6%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel dependen tax amnesty (Y) adalah kuat, dengan perhitungan

TCR Tax Amnesty =𝑅𝑆𝑛

𝑋 100%

Keterangan : Rs = 3,88 n = 5

TCR Tax Amnesty = 3,88

5

𝑋 100%

TCR Tax Amnest y= 77,6%

TCR variabel keadilan sebesar 76,8%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel independen keadilan (X1) adalah kuat, dengan perhitungan

TCR Keadilan =𝑅𝑆𝑛

𝑋 100%

Keterangan : Rs = 3,84 n = 5

TCR Keadilan = 3,84

5

𝑋 100%

TCR Keadilan = 76,8%

TCR variabel ketakutan sebesar 70,75%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel independen ketakutan (X2) adalah kuat, dengan perhitungan

TCR Ketakutan =𝑅𝑆𝑛

𝑋 100%

Keterangan : Rs = 2,83 n = 4

TCR Ketakutan = 2,83

4

𝑋 100%

TCR Ketakutan = 70,75%

TCR variabel keberhasilan sebesar 71,4%, artinya tingkat capaian responden untuk variabel independen keberhasilan (X3) adalah kuat.

TCR Keberhasilan =𝑅𝑆𝑛

𝑋 100%

Keterangan : Rs = 3,57 N = 5

TCR Keberhasilan = 3,57

5

𝑋 100%

TCR Keberhasilan = 71,4%

Indonesia Banking School

4.2.3. Analisis Hasil Kualitas Data 4.2.3.1. Uji Validitas

Tabel 4.5

Uji Validitas Variabel Tax Amnesty Variabel Pertanyaan Nilai Pearson

Correlation

Nilai r-kritis

(λ = 5%) Keterangan Tax Amnesty

1 0,480** 0,1654 Valid

2 0,441** 0,1654 Valid

3 0,459** 0,1654 Valid

4 0,144 0,1654 Tidak Valid

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Nilai r-kritis didapat dari tabel yang mengacu pada rumus df = n – 2 dengan signifikansi 5%, maka diperoleh nilai df = 100 – 2 yaitu 98 (df=98).

Tabel 4.6 Nilai R-Tabel

df = (N-2) Tingkat signifikansi untuk uji satu arah

0,05 0,025 0,01 0,005 0,0005

91 0,1716 0,2039 0,2409 0,2659 0,3358

92 0,1707 0,2028 0,2396 0,2645 0,3341

93 0,1698 0,2017 0,2384 0,2631 0,3323

94 0,1889 0,2006 0,2371 0,2617 0,3307

95 0,1680 0,1996 0,2359 0,2604 0,3290

96 0,1671 0,1986 0,2347 0,2591 0,3274

97 0,1663 0,1975 0,2335 0,2578 0,3258

98 0,1654 0,1966 0,2324 0,2565 0,3242

99 0,1646 0,1956 0,2312 0,2552 0,3226

100 0,1638 0,1946 0,2301 0,2540 0,3211

Sumber: Junaidi (2010)

Dapat dilihat dalam tabel diatas, dengan nilai df = 98 dan tingkat signifikansi 5% untuk uji satu arah, maka dapat disimpulkan bahwa nilai r-kritis adalah sebesar 0,1654.

Hasil uji validitas variabel dependen tax amnesty pada tabel 4.5 menunjukan terdapat 1 butir pertanyaan yang tidak valid yaitu pertanyaan keempat sehingga pertanyaan tersebut harus dikeluarkan dari analisis dan tidak akan diikutsertakan dalam pengujian selanjutnya karena pertanyaan tersebut tidak mampu menjelaskan dimensi variabel tersebut. Sedangkan 3 butir pertanyaan lainnya dinyatakan valid karena nilai pearson correlation lebih besar dari nilai r- kritis.

Indonesia Banking School

Tabel 4.7

Uji Validitas Variabel Independen Variabel Pertanyaan Nilai Pearson

Correlation Nilai r-kritis Keterangan

Keadilan

5 0,403** 0,1654 Valid

6 0,433** 0,1654 Valid

7 0,286** 0,1654 Valid

8 0,395** 0,1654 Valid

9 0,498** 0,1654 Valid

10 0,469** 0,1654 Valid

11 0,440** 0,1654 Valid

12 0,491** 0,1654 Valid

13 0,264** 0,1654 Valid

Ketakutan

14 -0,070 0,1654 Tidak Valid

15 0,503** 0,1654 Valid

16 0,464** 0,1654 Valid

17 0,359** 0,1654 Valid

18 0,492** 0,1654 Valid

19 0,416** 0,1654 Valid

20 0,122 0,1654 Tidak Valid 21 0,120 0,1654 Tidak Valid

Keberhasilan

22 0,619** 0,1654 Valid

23 0,464** 0,1654 Valid

24 0,334** 0,1654 Valid

25 0,603** 0,1654 Valid

26 0,446** 0,1654 Valid

27 0,499** 0,1654 Valid

28 0,541** 0,1654 Valid

29 0,543** 0,1654 Valid

30 0,652** 0,1654 Valid

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Hasil uji validitas variabel independen keadilan dan keberhasilan pada tabel 4.7 menunjukan bahwa seluruh pertanyaan nomor 5 – 13 untuk variabel keadilan dan 22 – 30 untuk variabel keberhasilan dinyatakan valid karena nilai pearson correlation lebih besar dari nilai r-kritis. Sedangkan hasil uji variabel ketakutan terdapat 3 butir pertanyaan yang tidak valid yaitu pertanyaan nomor 14, 20 dan 21 sehingga pertanyaan tersebut harus dikeluarkan dari analisis dan tidak

akan diikutsertakan dalam pengujian selanjutnya karena pertanyaan tersebut tidak mampu menjelaskan dimensi variabel tersebut. Namun, 5 butir pertanyaan lainnya dinyatakan valid karena nilai pearson correlation lebih besar dari nilai r- kritis.

4.2.3.2. Uji Reliabilitas

Berdasarkan tabel 4.8 menunjukan bahwa satu variabel dependen dan tiga variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nilai Cronbach Alpha (Nilai Reliabilitas) lebih besar dari nilai r-tabel (tabel 4.6), sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen kuesioner dalam penelitian ini dinyatakan reliabel dan layak digunakan sebagai alat ukur.

Tabel 4.8 Uji Reliabilitas Variabel

Cronbach Alpha (Nilai Reliablitas)

Nilai r-

tabel Keterangan

Tax Amnesty (Y) 0,604 0,1654 Reliabel

Keadilan Perpajakan (X1)

0,703 0,1654 Reliabel

Ketakutan dalam Pengungkapan Harta (X2)

0,714 0,1654 Reliabel

Persepsi Masyarakat atas Keberhasilan Program Tax Amnesty (X3)

0,829 0,1654 Reliabel

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Indonesia Banking School

4.2.4. Analisis Uji Asumsi Klasik 4.2.4.1. Uji Normalitas

Tabel 4.9 Uji Normalitas

Keterangan Unstandardized Residual

N 100

Kolmogorov-Smirnov Z 0,417

Asymp. Sig. 0,995

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Model regresi yang baik adalah memiliki residual yang berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji normalitas pada tabel 4.9 diketahui nilai probability asymp.sig sebesar 0,995 yaitu lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual variabel tax amnesty (Y), keadilan (X1), ketakutan (X2) dan keberhasilan (X3) berdistribusi normal.

4.2.4.2. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk mendeteksi apakah variabel independen pada model regresi saling berkorelasi. Untuk memenuhi kriteria BLUE, tidak boleh terdapat korelasi antara setiap variabel independen pada model regresi (Ghozali, 2005).

Berdasarkan tabel 4.10 nilai tolerance variabel keadilan, ketakutan dan keberhasilan lebih besar dari 0,10 atau nilai VIF ketiga variabel independen kurang dari 10,00 maka dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel independen tidak terdapat multikolinearitas.

Tabel 4.10 Uji Multikolinearitas

Variabel Tolerance VIF Keterangan

Keadilan Perpajakan (X1) 0,843 1,186 Tidak Terdapat Multikolinearitas Ketakutan dalam

Pengungkapan Harta (X2) 0,847 1,180 Tidak Terdapat Multikolinearitas Persepsi Masyarakat atas

Keberhasilan Program Tax Amnesty (X3)

0,725 1,380 Tidak Terdapat Multikolinearitas

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

4.2.4.3. Uji Autokorelasi

Nilai Durbin-Watson dalam tabel 4.11 sebesar 1,953. Angka Durbin-Watson yang didapat akan dibandingkan dengan kriteria penerimaan dan

penolakan yang dibuat dengan dL dan du ditentukan berdasarkan jumlah variabel bebas (k) dan jumlah sampelnya (n) (Iqbal, 2015). Dalam penelitian ini terdapat 3 variabel independen yaitu keadilan, ketakutan dan keberhasilan (k=3) dan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 orang (n = 100) dengan signifikansi 5%, maka didapat nilai dL dan dU untuk n = 100, k = 3, dan α =0,05 sebesar 1,6131 untuk dL dan 1,7364 untuk dU. Nilai Durbin-Watson sebesar 1,953 lebih besar dari 1,7364 dan nilai Durbin-Watson sebesar 1,953 lebih kecil dari 4-dU

yaitusebesar 2,047 yang diperoleh dari perhitungan 4 – 1,953.

Indonesia Banking School

Tabel 4.11 Uji Autokorelasi

DU Durbin-Watson 4 – DU Keterangan

1,7364 < 1,953 < 2,047 Tidak terjadi autokorelasi

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Dapat disimpulkan bahwa model regresi linier dalam penelitian ini tidak terjadi autokorelasi.

4.2.4.4. Uji Heteroskedastisitas

Tabel 4.12 Uji Heteroskedastisitas

Variabel Sig Keterangan

Keadilan Perpajakan (X1) 0,188 Bebas Heteroskedastisitas Ketakutan dalam Pengungkapan Harta (X2) 0,425 Bebas Heteroskedastisitas Persepsi Masyarakat atas Keberhasilan

Program Tax Amnesty (X3)

0,551 Bebas Heteroskedastisitas

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Model dalam penelitian ini dikatakan baik karena tidak terjadi heteroskedastisitas. Berdasarkan tabel 4.12 bahwa ketiga variabel independen memiliki nilai signifikansi > α 0,05 maka variabel bebas heteroskedastisitas (Yani & Noviari, 2017).

4.2.5. Analisis Pengujian Hipotesis

4.2.5.1. Uji Regresi Linier Berganda

Berdasarkan tabel 4.13 nilai regresi linier yang diperoleh adalah Y = 1,598 + 0,393 X1 - 0,057 X2 + 0,262 X3

Konstanta (β) pada tabel 4.13 sebesar 1,598, menunjukan jika keadilan pajak, ketakutan dalam menggungkap harta dan persepsi masyarakat atas keberhasilan tax amnesty konstanta atau sama dengan nol. Maka besar nilai tax amnesty adalah sebesar 1,598.

Tabel 4.13

Uji Regresi Linier Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig

B Std

Error

Beta

(Constant) 1,598 0,449 3,562 0,001

Keadilan 0,393 0,100 0,376 3,928 0,000

Ketakutan -0,057 0,100 -0,054 -0,568 0,571 Keberhasilan 0,262 0,114 0,237 2,298 0,024

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Nilai koefisien regresi (β1) variabel keadilan pajak sebesar 0,393, yang artinya variabel ketakutan dan keberhasilan sama dengan nol. Maka meningkatnya variabel keadilan sebesar satu satuan akan meningkatkan nilai variabel tax amnesty sebesar 0,393 satuan. Nilai koefisien regresi (β2) variabel ketakutan dalam mengungkap harta sebesar -0,057, yang artinya variabel keadilan dan keberhasilan sama dengan nol. Maka meningkatnya variabel ketakutan sebesar satu satuan akan menurunkan nilai variabel tax amnesty sebesar 0,057 satuan.

Nilai koefisien regresi (β3) variabel keberhasilan sebesar 0,262, yang artinya variabel keadilan dan ketakutan sama dengan nol. Maka meningkatnya variabel keberhasilan sebesar satu satuan akan meningkatkan nilai variabel tax amnesty sebesar 0,262 satuan.

Indonesia Banking School

Koefisien regresi untuk data primer tidak bisa diartikan seperti data keuangan (ratio) karena data primer merupakan data berbentuk kualitatif dijadikan kuantitatif dengan cara pembobotan. Koefisien regresi hanya bisa menunjukan arahnya saja.

4.2.5.2. Uji Kelayakan Model (Uji F)

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah uji kelayakan model. Kriteria pengambilan keputusannya yaitu apabila nilai F hitung > F tabel maka hipotesis diterima dan model regresi yang digunakan dianggap layak diuji atau jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 berarti variabel independen layak digunakan untuk memprediksi variabel dependen sehingga pembuktian hipotesis dapat dilanjutkan (Ghozali, 2016).

Tabel 4.14 Uji F Model Sum of

Square

Df Mean

Square

F Sig

Regression 8,168 3 2,723 11,057 0,000b

Residual 23,639 96 0,246

Total 31,807 99

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Tabel 4.14 menunjukan nilai F hitung adalah sebesar 11,057. Nilai F hitung pada tabel 4.14 akan dibandingkan dengan nilai F tabel dimana

df1 = k – 1 df2 = n – k

Keterangan : k = 4

n = 100

didapat angka 3 untuk df1 dan 96 untuk df2 dengan signifikansi 5%, maka nilai F tabel adalah 2,70. Berdasarkan tabel 4.14 nilai F hitung 11,057 > 2,70 dan nilai sinifikansi 0,000 < 0,05 sehingga tiga variabel independen dalam penelitian ini yaitu keadilan pajak (X1), ketakutan dalam mengungkap harta kekayaan (X2) dan persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty (X3) layak digunakan untuk memprediksi tax amnesty sebagai variabel dependen sehingga pembuktian hipotesis dapat dilanjutkan.

4.2.5.3. Uji Koefisien Determinasi

Besarnya nilai koefisien determinasi (R2) ditunjukan dengan nilai adjusted R square. Hasil koefisien determinasi (R2) ini adalah sebagai berikut:

Tabel 4.15

Uji Koefisien Determinasi

R R Square Adj R Square

0,507 0,257 0,234

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Nilai R2 sebesar 25,7% menunjukan korelasi lemah dan nilai adjusted R Square adalah sebesar 0,234 hasil ini menunjukan bahwa pengaruh variabel keadilan perpajakan dan persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty sebesar 23,4% persen dan sisanya dipengaruhi faktor – faktor lain di luar model penelitian.

Indonesia Banking School

4.2.5.4. Uji Hipotesis (Uji t-Statistik) Tabel 4.16

Uji T

Variabel thitung Sig ttabel

Keadilan Pajak 3,928 0,000 1,66088

Ketakutan dalam pengungkapan harta -0,568 0,571 1,66088 Persepsi masyarakat atas kebehasilan tax

amnesty

2,298 0,024 1,66088

Sumber: Data Primer SPSS 21, diolah (2018)

Pengujian hipotesis (uji t) ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel keadilan, ketakutan mengungkap harta dan keberhasilan terhadap tax amnesty dan untuk membuktikan hipotesis dalam penelitian ini (Ghozali, 2016).

Tabel 4.16 menunjukan nilai signifikansi variabel keadilan sebesar 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak. Artinya keadilan pajak berpengaruh dan memiliki

hubungan positif terhadap keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi di kota Jakarta untuk mengikuti program tax amnesty. Hasil koefisien transformasi (thitung) dalam tabel diatas yaitu sebesar 3,928 lebih besar dari nilai ttabel yaitu sebesar 1,66088, hal ini menunjukan bahwa keadilan pajak memiliki pengaruh positif yang membuktikan bahwa apabila semakin tinggi keadilan maka jumlah keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty akan tinggi juga, begitupun sebaliknya apabila semakin rendah keadilan pajak maka jumlah keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty akan rendah. Jadi hipotesis pertama penelitian ini yaitu keadilan pajak berpengaruh positif terhadap tax amnesty, dapat diterima sehingga Ha diterima dan H0 ditolak.

Nilai signifikansi variabel ketakutan sebesar 0,571 > 0,05, maka H0

diterima. Artinya ketakutan dalam pengungkapan harta tidak berpengaruh pada kemauan Wajib Pajak orang pribadi menjadi peserta tax amnesty di Jakarta. Hasil koefisien transformasi (t) variabel ketakutan dalam tabel diatas yaitu sebesar -0,568 lebih kecil dari nilai ttabel yaitu sebesar 1,66088, hal ini menunjukan bahwa ketakutan dalam mengungkap harta tidak memiliki pengaruh negatif. Jadi hipotesis kedua penelitian ini yaitu ketakutan dalam pengungkapan harta berpengaruh negatif terhadap tax amnesty, tidak dapat diterima sehingga Ha

ditolak dan H0 diterima.

Nilai signifikansi variabel keberhasilan sebesar 0,024 < 0,05 maka H0

ditolak. Artinya persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh dan memiliki hubungan positif terhadap tax amnesty. Hasil koefisien transformasi (t) dalam tabel diatas yaitu sebesar 2,298 lebih besar dari nilai ttabel

yaitu sebesar 1,66088, hal ini menunjukan bahwa persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty memiliki pengaruh positif. Jadi hipotesis ketiga penelitian ini yaitu persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh positif terhadap tax amnesty, dapat diterima sehingga Ha diterima dan H0 ditolak.

Indonesia Banking School

4.2.6. Analisa Hasil Penelitian

4.2.6.1. Keadilan pajak berpengaruh positif terhadap tax amnesty Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada tabel 4.2, nilai rata-rata pada kuesioner untuk pernyataan variabel keadilan pajak sebesar 3,88. Jawaban responden akan dinilai dengan perhitungan 5 poin skala likert, yaitu

Poin 1 = Sangat Tidak Setuju (STS) Poin 2 = Tidak Setuju (TS)

Poin 3 = Netral (N) Poin 4 = Setuju (S)

Poin 5 = Sangat Setuju (SS)

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rata-rata responden menjawab setuju. Secara umum 100 responden dalam penelitian ini setuju jika keadilan pajak berpengaruh positif terhadap tax amnesty. Hasil pengujian hipotesis pertama yaitu keadilan pajak memiliki pengaruh dan hubungan positif (Ha diterima) terhadap keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi di kota Jakarta untuk mengikuti program tax amnesty. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin meningkat keadilan perpajakan, maka jumlah Wajib Pajak orang pribadi yang partisipasi dalam program tax amnesty akan tinggi. Begitupun sebaliknya, semakin menurunnya keadilan perpajakan, maka jumlah Wajib Pajak orang pribadi yang partisipasi dalam program tax amnesty akan rendah.

Responden dalam penelitian ini memiliki jiwa nasionalisme atau cinta tanah air karena kebanyakan dari responden menjawab setuju pada indikator ini,

salah satunya bahwa pajak yang mereka bayarkan digunakan untuk mensubsidi barang-barang yang diperlukan masyarakat sehingga meningkatkan ekonomi

rakyat kecil, standar kehidupan dan pemerataan ekonomi. Keadilan adalah salah satu faktor penting keberhasilan program tax amnesty. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak, tertulis bahwa program tax amnesty didasarkan pada keadilan. Namun, responden lebih banyak menjawab netral (3 poin) pada indikator penerapan tax amnesty tidak untuk melindungi kalangan Wajib Pajak tertentu. Salah satu pernyataannya yaitu bahwa masyarakat Indonesia merasa adil dengan diterapkannya tax amnesty. Faktanya, data dari Direktorat Jendral Pajak (DJP) menunjukan hanya 2,65% (dua koma enam puluh lima persen) masyarakat yang berpartisipasi dalam program pengampunan pajak yang diselenggarakan oleh pemerintah dari total 22,61% (dua puluh dua koma enam puluh satu persen) masyarakat yang terdaftar sebagai Wajib Pajak orang pribadi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rendahnya keadilan pajak dalam program tax amnesty berpengaruh terhadap rendahnya jumlah partisipasi masyarakat (Wajib Pajak orang pribadi) sehingga keadilan pajak berpengaruh terhadap keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi pada program tax amnesty di kota Jakarta. Hasil penelitian sesuai dengan hasil penelitian İpek, Öksüz, &

Özkaya (2012) bahwa tax amnesty di Turki diterapkan untuk melindungi beberapa pembayar pajak. Hal ini menyebabkan timbulnya rasa ketidakadilan bagi Wajib Pajak yang taat membayar pajak dan melaporkan pajaknya. Hasil penelitian

Indonesia Banking School

Dibyo Prabowo (2017) juga mengemukakan hasil yang serupa yaitu kesalahpahaman yang muncul dalam masyarakat, dimana masyarakat beranggapan bahwa program tax amnesty membuat rasa ketidakadilan bagi Wajib Pajak yang taat.

4.2.6.2. Ketakutan dalam pengungkapan harta berpengaruh negatif terhadap tax amnesty

Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada tabel 4.2, nilai rata-rata pada kuesioner untuk pernyataan variabel ketakutan pajak sebesar 2,83. Rata-rata responden menjawab netral.

ketakutan dalam mengungkap harta tidak memiliki pengaruh negatif. Jadi hipotesis kedua penelitian ini yaitu ketakutan dalam pengungkapan harta berpengaruh negatif terhadap tax amnesty tidak dapat diterima (Ha ditolak).

Hal ini menunjukan bahwa ketakutan dalam mengungkap harta tidak memiliki pengaruh terhadap keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty. Dapat dikatakan bahwa ketakutan dalam mengungkap harta kekayaan tidak dapat menjadi faktor yang mempengaruhi keikutsertaan Wajib Pajak orang pribadi dalam program tax amnesty. Responden dalam penelitian ini, lebih banyak menjawab netral (3 poin) pada indikator pengetahuan dan pemahaman tentang Undang-Undang Pengampunan Pajak, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka tidak begitu memahami dengan jelas sanksi yang diberikan pasca tax amnesty usai. Faktor lain yang dapat mempengaruhi keikutsertaan Wajib Pajak orang

pribadi dalam program tax amnesty adalah kurangnya pemahaman mengenai Undang-Undang Tax Amnesty, seperti sanksi pasca tax amnesty.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Titik Setyaningsih dan Antin Okfitasari (2016) bahwa pajak (program tax amnesty) tetap menjadi sebentuk gangguan dan menimbulkan ketakutan di masyarakat.

4.2.6.3. Persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh positif terhadap tax amnesty

Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada tabel 4.2, nilai rata-rata pada kuesioner untuk pernyataan variabel keadilan pajak sebesar 3,57. Rata-rata responden menjawab setuju.

Hasil pengujian hipotesis ketiga persepsi masyarakat atas keberhasilan program tax amnesty berpengaruh dan memiliki hubungan positif terhadap tax amnesty (Ha diterima). Artinya masyarakat memiliki persepsi yang baik atas keberhasilan program tax amnesty. Responden dalam penelitian ini sebagaian besar setuju pada indikator keberhasilan diantaranya tujuan tax amnesty dalam Undang–Undang tercapai, dan indikator sikap dan perilaku Wajib Pajak menjadi lebih taat (pasca tax amnesty). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Prabowo (2017) bahwa keberhasilan penerapan tax amnesty tidak hanya dilihat dari pencapaian target pajak tetapi hal terpenting adalah untuk meningkatkan sikap dan perilaku Wajib Pajak menjadi lebih taat. Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Said (2017), bahwa peraturan tax amnesty di

Dokumen terkait