BAHASTRA
E. Perkembangan Pendidikan Pada Usia
3. Uji Homogenitas
Jika dalam pengujian normalitas diperoleh data berdistribusi normal, maka dilakukan uji homogenitas yaitu kesamaan varians, dengan hipotesis. Uji homogenitas dilakukan dengan rumus yang dikutip dari Sudjana (2002: 261)
Fhitung =
Keterangan : S1
2 = Varians terbesar
S2
2 = Varians terkecil Pengujian Homogenitas
dilakukan dengan kriteria; diterima H0 jika Fhitung < Ftabel dan ditolak H0 jika Fhitung>
Ftabel yang menyatakan bahwa sampel
berasal dari populasi yang homogen.
4. Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis ini dilakukan dengan cara membandingkan harga t hitung dan t tabel dengan tingkat kepercayaan α = 0,05% dengan ketentuan jika t hitung> t tabel, maka Ho ditolak Ha
Silvia Siburian
Pengaruh Media Lagu Terhadap Kemampuan Menulis Puisi pada Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 1 Tanjung Morawa
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
180 diterima dengan pengertian ada pengaruhmedia lagu terhadap kemampuan menulis puisi siswa kelas X MIA SMA Negeri 1 Tanjung Morawa.
Rumus uji t yang digunakan yaitu:
t’ >
(Sudjana 2005:243) dengan :
t’ =
(Sudjana 2005:243)
dimana X1 = rata rata hasil belajar siswa menggunakan media lagu
X2 = rata-rata belajar siswa tidak menggunakan media lagu
n1 = jumlah siswa n2 = jumlah siswa
= Varians kelas yang menggunakan media lagu
= Varians kelas yang tidak menggunakan media lagu
Dari persamaan tersebut maka tolak Ho jika: t’ > sebaliknya
Terima Ho jika t’ <
HASIL PENELITIAN
Setelah melakukan prosedur penelitian yang panjang, seperti uji normalitas, uji homogenitas dan pengujian hipotesis, maka diperoleh hasil dari penelitian tersebut. dari temuan penelitian, diketahui kemampuan menulis puisi dengan pengaruh media lagu diperoleh nilai rata-rata siswa berjumlah 79,55 dari jumlah siswa 34 orang, data dikonstribusikan dalam kategori sangat baik sebanyak 11 orang atau 33% kategori baik sebanyak 20 orang atau 58%
perbedaan perolehan nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menulis puisi dengan media lagu lebih tinggi dari pada nilai rata-rata kemampuan menulis puisi tanpa media lagu.
PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis puisi dengan pengaruh media lagu lebih baik dari pada kemampuan menulis puisi tanapa media lagu.dalam temuan penelitian, dilihat dari setiap perindikator menulis puisi dengan pengaruh media lagu memberikan peluang bagi siswa untuk berpikir kreatif, siswa dapat menuangkan ide-idenyaa dari lagu yang didengar, hal ini karena lirik lagu yang diperdengarkan tidak hanya sebatas kata-kata tetapi juga memberikan sugesti
yang meransang imajinasi siswa. Berbeda dengan menulis puisi tanpa media lagu skor yang diperoleh siswa lebih rendah dari pada penggunaan media lagu hal ini dikarenakan siswa sulit menuangkan ide- idenya, siswa hanya menulis puisi berdasarkan langkah-langkah menulis puisi yang tertera dari buku teks.
Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa pengaruh media lagu lebih baik dari pada menulis puisi tanpa media lagu. Hal tersebut karena media lagu dapat membuat siswa lebih kreatif dalam menulis puisi, hal itu karena lagu merupakan ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan melalui kata-kata yang undah, dalam hal ini lagu juga dapat menghilangkan kejenuhan siswa, karena lagu adalah kegiatan seorang musisi mencurahkan perasaannya sepenuh- penuhnya dan seutuh-utuhnya melalui bunyi-bunyian mengatur atau menata agar bunyi-bunyian yang dibuat indah, bagus atau enak didengar.
Lagu dapat digunakan untuk melatih daya analisis siswa dari apa yang mereka simak sehingga siswa mampu mengungkapkan diksi dari lagu, hal ini karena lagu yang diperdengarkan dapat member respon yang positif dalam kemampuan menulis puisi. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan menulis puisi siswa yang diajar menggunakan media lagu lebih tinggi atau lebih baik dari pada nilai rata-rata kemampuan menulis puisi siswa yang diajarkan tanpa media lagu.
Kriteria pengujian adalah t’ = 5,79 atau 5,79 > 1,68 maka Ho ditolak, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwasanya Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran menulis puisi dengan pengaruh media lagu lebih efektif dibandingkan menulis puisi tanpa media lagu.
SIMPULAN
1. Berdasarkan hasil penelitian kemampuan menulis puisi tanpa menggunakan media lagu diperoleh nilai rata-rata berjumlah 68,08 yaitu kurang, dengan standard deviasi berjumlah 7,37 dengan perolehan nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 60 2. Berdasarkan hasil penelitian
kemampuan menulis puisi dengan pengaruh media lagu diperoleh nilai rata-rata berjumlah 79,55 yaitu baik, dengan standard deviasi berjumlah
Silvia Siburian
Pengaruh Media Lagu Terhadap Kemampuan Menulis Puisi pada Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 1 Tanjung Morawa
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
181 8,94 dengan perolehan nilai tertinggi95 dan terendah 65.
3. Adanya pengaruh kemampuan menulis puisi dengan menggunakan media lagu lebih efektif dari pada menulis puisi tanpa menggunakan media lagu hal ini dapat dilihat dari perbedaan perolehan nilai rata-rata, yaitu menulis puisi dengan pengaruh media lagu dengan nilai rata-rata 79,55 sedangkan menulis puisi dengan media teks dengan nilai rata-rata 68,08.
SARAN
Berdasarkankesimpulan tersebut, maka sebagai tindak lanjut dari penelitian ini dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi guru bidang studi menggunakan media lagu dalam proses belajar mengajar disekolah untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Bagi guru bidang studi bahasa Indonesia yang mengajar lokasi penelitian meningkatkan perhatiannya terhadap kemampuan siswa dalam menulis puisi termasuk penggunaan media pembelajaran yang digunakan.
3. Pentingnya diadakan penelitian lebih lanjut bagi peneliti yang lain sebagai langkah konkret peningkatan mutu pendidikan dengan menggunakan media pembelajaran yang beraneka ragam
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharismi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharismi. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Arsyad, Azhar. 2007. Media Penelitian.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Barus. 2010. Petunjuk Teknis Menulis Berita. Jakarta : Erlangga
Departemen Pendidikan Nasional. 2007.
Kamus Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Handayani, Ratih Kanthi. 2011. Pengaruh Media Pembelajaran Lagu terhadap Kemampuan Menulis Puisi Ditunjau dari Pemahaman Bahasa Figuratif Siswa Kelas 10 SMA N 1 Gemolong,Sragen
Tahun Pelajaran 2010/2011.
Skrispi, FKIP USM.
Keraf, Gorys. 2004. Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Jakarta : Nusa Indah
Kosasih. 2008. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Nobel Edumedia.
Kurniandra, TriRatna. 2014. Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Pada Siswa Kelas V SD Negeri 3 Limbangan denga Teknik Latihan Terbimbing Melalui Media Lagu. Skripsi. Jakarta : sarjana . Unes.
Mursini. 2010. Bimbingan Apresiasi Sastra Anak-anak Medan: USU Press.
Napitupulu. 2007. Puisi Teori Apresiasi dan Sastra. I Ende Flores : Nusa Indah
Pradopo. 1990. Pengajaran Apresiasi Puisi. Jakarta : P3G
_______. 2002. Pengajaran Apresiasi Puisi. Jakarta : P3G
Roekhan, Dkk. 1991. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta : Graha Ilmu
Subrata. 2001. Konsep dan Makna Pembelajaran Unsur-unsur.
Bandung
Sudjana. 2005. Metode Statistika.
Bandung: Tarsito
Sudijono. 2008. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Bandung ; ALFABETA
_______. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Bandung ; ALFABETA
Suhadi. “Peningkatan Dalam Keterampilan Menulis Puisi
Silvia Siburian
Pengaruh Media Lagu Terhadap Kemampuan Menulis Puisi pada Siswa Kelas X MIA SMA Negeri 1 Tanjung Morawa
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
182 Melalui Teknik AkrostikDengan Media Lagu”. Dalam Jurnal Suhadi 5. (1).6-7
Sukardi. 2003.Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Suroto. 1989. Apresiasi Sastra Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Sutisna, Rosi Nofaludin. Kemahiran Menulis Puisi dengan Media Lagu. Skripsi. Tanjung Pinang : Pascasarjana. Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Tarigan, Morsey. 1976. Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa.
Tarigan, Henry Guntur. 2005. Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Wadi, Rama. 2013. Hubungan Kebiasaan Menyimak Lagu Terhadap Kemampuan Menulis Cerpen.
Skripsi. Medan: Pascasarjana Unimed
Waluyo, Herman. J. 2005. Apresiasi Puisi.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Widijanto, Tjahjono. 2007. Pengajaran Sastra Yang Menyenangkan.
Bandung: PT.Pribumi Mekar.
Wiyanto, Asul. 2008. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta:
Grasindo.
Wulandari, Intan Febriani.2011. Pengaruh Media Ilustrasi Musik terhadap Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas X Tahun Pelajaran 2010/2011. UIN
BAHASTRA
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN: 2550-0848; ISSN Online : 2614-2988 Vol. 3, No. 2, Maret 2019
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
183 GANGGUAN BERPIKIR DIMENSIA (PIKUN) PADA LANSIARiky Gunawan Siregar
Dikbind PPs Universitas Negeri Medan [email protected]
Abstrak. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gangguan berpikir pada lansia responden dari wanita lanjut usia di Dusun 1 Desa Celawan. Orang lanjut usia yang dipilih yang mempunyai kriteria berumur di atas 55 tahun. Responden yang diberikan CDT sebanyak 3 orang, tetapi tidak seluruhnya dapat dianalisis karena ada beberapa data yang tidak ditampilkan misalnya pendidikan, tidak ada hasil wawancara dan observasi mengenai keseharian responden. Dengan jumlah responden satu orang.
Kata kunci: Gangguan Berpikir, Lansia
Abstract. This study aims to determine thinking disorders in the elderly respondents from elderly women in Hamlet 1 Village Celawan. Selected elderly people who have criteria over the age of 55 years. Respondents who were given CDT were 3 people, but not all of them could be analyzed because there were some data that were not shown for example education, there were no results of interviews and observations about the respondents' daily lives. With the number of respondents one person
Keywords: Thinking Disorder, Elderly PENDAHULUAN
Kapan orang menjadi tua? apakah proses penuaan sebagai akibat fisik yang aus dan penurunan kemampuan terjadi tanpa adanya perubahan yang mendasar pada sikap individu?. Penuaan adalah suatu proses biologis, meskipun para ahli biologis belum menemukan kesimpulan untuk menjelaskan karakteristik umum dari penuaan (Cox, 1988, dalam Shirdev
& Levey, 2004). Schaie dan Willis (1992) mengatakan bahwa tahap usia tua akan dialami oleh semua orang, ada perubahan fisik, psikis dan sosial yang terjadi. Di sisi lain kondisi fisik dan psikis setiap orang lanjut usia akan berbeda. Hal tersebut berkaitan dengan pengalaman masa lalu dan lingkungan sosial budaya mereka.
Akibatnya, di berbagai negara akan mempunyai karakteristik usia lanjut yang berbeda, salah satunya adalah harapan hidupnya.
Saat ini penduduk yang berusia lanjut (> 60 tahun) di Indonesia terus meningkat jumlahnya bahkan pada tahun 2005-2010 diperkirakan akan menyamai jumlah balita yaitu sekitar 8,5% dari jumlah seluruh penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. Kondisi ini merupakan suatu tantangan untuk mempertahankan kesehatan dan kemandirian para lanjut usia agar tidak menjadi beban bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat.
Dari jumlah itu, sekitar 15% diantaranya mengalami demensia atau pikun, di samping penyakit degeneratif lainnya seperti penyakit kanker, jantung, reumatik, osteoporosis, katarak (Prodia, 2007).
Menurut The World Factbook (2002), berbagai negara mempunai variasi yang besar pada harapan hidup penduduknya. Misalnya di Jepang dan Switzerland usia harapan hidup hampir mencapai 80 tahun. Kemiskinan, bencana alam, masalah politik dan ekonomi menyebabkan usia harapan hidup di berbagai negara seperti Bangladesh, Pakistan dan Chad tetap antara 50-60 tahun bahkan ada yang lebih rendah. Di negara-negara yang sedang berkembang usia harapan hidup berkisar 10 tahun atau lebih ada di bawah rata-rata usia harapan hidup penduduk dunia. (dalam Shirdev &
Levey, 2004) Usia harapan hidup yang lebih lama akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada struktur dan sistem pada masyarakat dunia. Berbagai permasalahan yang dialami oleh para orang lanjut usia seperti tersedianya tenaga kerja yang masih potensial, fasilitas untuk mereka, serta masalah medis dan psikis yang sering dialami (misal: depresi, demensia, penyakit jantung, darah tinggi).
WHO membagi epidemologi dan prevalensi demensia berdasarkan wilayah geografi di seluruh dunia menjadi empat
Riky Gunawan Siregar
Gangguan Berpikir Dimensia (Pikun) pada Lansia
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
184 bagian yaitu (AMRO [wilayah Amerika],EURO [Eropa], EMRO [Afrika utara dan timur tengah], AFRO [Afrika], SEARO [Asia Selatan] and WPRO [wilayah Pasifik bagian barat]). Gambar di bawah ini memperlihatkan bagian wilayah di dunia yang memperlihatkan bukti-bukti penelitian prevalensi demensia. Bagian yang berwarna merah (Amerika utara, Eropa, Jepang dan Australis) memperlihatkan wilayah yang melakukan beberapa penelitian tentang demensia yang mempunyai metodologi yang dianggap berkualitas. Bagian yang berwarna merah muda, adalah penelitian
epidemologi yang kurang
mempertimbangkan kualitas dan kuantitas estimasi yang tepat. Bagian yang berwarna putih merupakan wilayah di dunia yang sama sekali tidak mempunyai penelitian tentang epidemologi demensia. Sedangkan bagian yang bertitik merah adalah wilayah yang kurang lebih hanya mempunyai satu penelitian tentang epidemologi demensia.
(Final Report, 2005). Dari gambaran tersebut terlihat bahwa data-data tentang demensia tidak seluruhnya dapat diperoleh di berbagai budaya di dunia. Data-data tentang epidemologi dan prevalensi biasanya hanya pada negara-negara yang mempunyai sejarah metode penelitian yang baik (bagian berwarnamerah).
Sebagian dari hasil-hasil penelitian tersebut akan diuraikan dibawah ini dengan judul “ Pengaruh Gabgguan Berbahasa Pada Pendrita Pikun (Dimensia) Pada Orang Usia Lanjut Di Desa Pantai Cermin Kec. Serdang Bedagai”.
Adapun rumusan masalah pada uraian di atas sebagai berikut: (a) Bagaimana tinjauan gangguan berbahasa terhadap orang pikun atau dimensia pada orang lanjut usia? Dan (b) Bagaimana analisis fonologi dan sintaksis terhadap gangg`uan pikun atau dimensia pada kata-kata yang diucapkan atau sintaksis yang diucapkan terhadap penderita pikun pada lanjut usia?
Istilah demensi itu berasal dari bahasa asing emence yang pertama kali dipakai oleh Pinel (1745 - 1826). Pikun sebagaimana orang awam mengatakan merupakan gejala lupa yang terjadi pada orang lanjut usia. Pikun ini termasuk gangguan otak yang kronis. Biasanya (tetapi tidak selalu) berkembang secara perlahan-lahan, dimulai dengan gejala depresi yang ringan atau kecemasan yang kadang-kadang disertai dengan gejala
kebingungan, kemudian menjadi parah diiringi dengan hilangnya kemampuan intelektual yang umum atau demensia.
Jadi istilah pikun yang dipakai oleh kebanyakan orang, terminologI ilmiahnya adalah demensia. (Schaei & Willis, 1991).
Jabaran demensia sekarang adalah
"kehilangan kemampuan kognisi yang sedemikian berat hingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan". (dalam Kusumoputro, 2006) Sedangkan Cummings dan Benson (1992) menggunakan istilah “senescence” yang menandakan perubahan proses menua yang masih dalam taraf normal dan istilah
“senility” untuk gangguan intelektual yang terjadi pada lanjut usia tetapi belum mengalami “dementia” (Besdin,1987).
Sejak lama istilah perubahan dan gangguan intelektual tersebut dipergunakan tanpa ada jabaran yang rinci. Hampir semua orang lansia yang mengalami kemunduran fungsi mentalnya secara mudah disebut sebagai telah mengalami demensia. Dalam kenyataan belum tentu lansia sudah mengalami demensia dan mungkin hanya baru dalam taraf predemensia. Istilah predemensia belum begitu dikenal oleh masyarakat (Kuntjoro, 2002).
Keadaan demensia pada usia lanjut terjadi tidak secara tiba-tiba, tetapi secara berangsur-angsur melalui sebuah rangkaian kesatuan dimulai dari
“Senescence” berkembang menjadi
”senility” yang disebut sebagai kondisi
“pre-demensia” dan selanjutnya baru menjadi “dementia”. Pengenalan demensia masa kini dipusatkan pada pengenalan dini melalui rangkaian kesatuan tersebut yaitu mulai dari kondisi
“senescence” yang dikenal sebagai
“benign senescent forgetfulness (BSF)”, dan “age-associated memory impairment (AAMI)”, – berlanjut menjadi kondisi
“Senility” yang antara lain dikenal sebagai “cognitively impaired not demented (CIND)”, dan “mild cognitive impairment ( MCI)”. Akhirnya barulah disusul fase “dementia” (Kuntjoro, 2002).
Ditambahkan oleh Kusumoputro (2006) orang yang mengalami demensia selain mengalami kelemahan kognisi secara bertahap, juga akan mengalami kemunduran aktivitas hidup sehari-hari (activity of daily living/ADL) Ini pun terjadi secara bertahap dan dapat diamati.
Awalnya, kemunduran aktivitas hidup sehari-hari ini berujud sebagai
Riky Gunawan Siregar
Gangguan Berpikir Dimensia (Pikun) pada Lansia
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
185 ketidakmampuan untuk melakukanaktivitas hidup yang kompleks (complex activity of daily living) seperti tidak mampu mengatur keuangan, melakukan korespondensi, bepergian dengan kendaraan umum, melakukan hobi, memasak, menata boga, mengatur obat- obatan, menggunakan telepon, dan sebagainya. Lambat laun penyandang tersebut tidak mampu melakukan aktivitas hidup sehari-hari yang dasar (basic activity of daily living) berupa ketidakmampuan untuk berpakaian, menyisir, mandi, toileting, makan, dan aktivitas hidup sehari-hari yang dasar (basic ADL). Jadi proses demensia terjadi secara bertingkat dalam tahapan-tahapan yang dapat diamati dan dikenali kalau saja orang dekatnya waspada.
Akibat proses penuaan, mau tidak mau terjadi kemunduran kemampuan otak.
Diantara kemampuan yang menurun secara linier atau seiring dengan proses penuaan adalah (dalam Kuntjoro, 2002) : (a) Daya Ingat (memori), berupa penurunan kemampuan penamaan (naming) dan kecepatan mencari kembali informasi yang telah tersimpan dalam pusat memori (speed of information retrieval from memory) dan (b) Intelegensia Dasar (Fluid intelligence) yang berarti penurunan fungsi otak bagian kanan yang antara lain berupa kesulitan dalam komunikasi non verbal, pemecahan masalah, mengenal wajah orang, kesulitan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi (dalam Flavel, 1997). Dari penelitian Finkel dan Pederson (2000), ditemukan bahwa ada hubungan antara bertambahnya umur dengan kecepatan untuk melakukan persepsi. Kemampuan mempersepsi (Perceptual speed) disini dicontohkan seperti melakakuan identifikasi suatu objek atau mengingat suatu digit symbol. Kemampuan persepsi ini penting karena akan mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Biasanya akan mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini di lakukan di Dusun 1 Desa Celawan kec. Pantai Cermin Kab.
Serdang Bedagai.Pebelitian dilakukan selama dua minggu mulai dari tanggal 01 Mei -14 Mei 2018.Subjek penelitian merupakan responden dari wanita lanjut usia di Dusun 1 Desa Celawan. Orang lanjut usia yang dipilih yang mempunyai kriteria berumur di atas 55 tahun.
Responden yang diberikan CDT sebanyak 3 orang, tetapi tidak seluruhnya dapat dianalisis karena ada beberapa data yang tidak ditampilkan misalnya pendidikan, tidak ada hasil wawancara dan observasi mengenai keseharian responden. Dengan jumlah responden satu orang.
Instrumen penelitian ini berupa Observasi, yaitu melakukan pengaatan langsung ke subjek penelitian.Wawancara, yaitu mengadaan Tanya jawab secara langsung kepada informan yang diharapkan dapat memberi keterangan- keterangan yang diperlukan seperti wawancara dengan penderita pikun. Studi kepustakaan, yaitu menelaah beberapa literature yang berisi pendapat atau teori- teori para ahli yang berkenaan dengan per,asalahan yang diteliti.
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Dengan demikian, sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer atau objek focus dalam penelitian ini, yakni pnulis mengambil responden sebanyak satu orang yang terdapat di Dusun 1 Desa Celawan Kec. Pantai Cermin. Selanjutnya, data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui sumber-sumber material tertulis seperti buku cetak, internet, dan artikel serta karya tulis lainnya untuk mengambil informasi tambahan yang terkait dengan memeriksa, membavca, kemudian mencatat dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian.
Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan dilakukan sejak pengumpulan data. Penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi proses daripada hasil. Data yang dignakan dalam hasil penelitian ini adalah kualitatif.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan merasa tidak mengalami kesulitan untuk mengadministrasikan tes ini pada responden. Dari observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti, hanya ada beberapa yang melaporkan penolakan.
Penolakan tersebut bukan karena responden takut.
Hasil wawancara dan observasi tersebut memberikan gambaran bahwa meskipun banyak dari responden yang hanya berpendidikan SD bahkan ada yang lupa tempat sekolahnya, mereka tidak berkeberatan menyelesaikan tes tersebut.
Kehati-hatian, banyak pertanyaan yang diajukan, memperlihakan kekhawatiran
Riky Gunawan Siregar
Gangguan Berpikir Dimensia (Pikun) pada Lansia
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
186 karena takut berbuat salah, memintabantuan. Menurut Schaie dan Willis (1991) adalah perilaku yang wajar saat lansia diberikan tes.
Responden bernama Warsiah berumur 62 tahun, pendidikan SD, ibu rumah tangga, saat ini ia masih aktif berolah raga pagi dan malam hari, serta membersihkan rumah. Ibu Warsiah merupakan yang menderita gangguan pikun atau dimensia. Faktor yang menyebabkan respoden pikun adalah faktor usia. Semakin tua seseorang maka akan semakin pikun. Hal tersebut memang benar adanya karena penyebab utama pikun adalah usia yang semakin bertambah. Orang yang berusia di atas 60 tahun dikategorikan sebagai lansia. Lansia pada umumnya lemah dalam mengingat hal-hal baru yang dijumpai/dipelajari. Hal itu disebabkan oleh hilangnya motivasi para lansia untuk mengingat sesuatu tersebut, kemampuan pendengaran yang semakin lemah, dan juga karena kurangnya perhatian terhadap objek yang dipelajari.
Ibu Warsiah mengalami pikun pada orang di masa lalunya. Ia hanya ingat pada anak dan orang-orang di sekelilingnya saja. Dan Dari hasil penelitian tersebut peneliti memperoleh kesimpulan, bahwa subjek (Warsiah) menderita gangguan berfikir, yaitu gangguan berfikir demensia (Pikun).
Kesimpulan tersebut berdasarkan data- data yang sudah peneliti dapatkan antara lain:
Ketika peneliti menanyakan umur kepada subjek, subjek ragu dan berusaha mengingat-ngingat kembali, walaupun pada akhirnya subjek menyebutkan berapa umurnya, namun perkataan yang diucapkan sering di ulang-ulang dan tidak sesuai dengan umur yang sebenarnya, malahan ceritanya berbelit-belit.
“Umur tidak sedikit lagi, kata orang sudah tua sudah lama hidupnya. Sudah berapa ya? Hmm...sudah 62 Tahun dikurang tiga hari, sekarang sudah 90 Tahun. Kemaren sudah 80+10 kan sudah Sembilan puluh, dikurang tiga hari, sekarang sudah sehari lagi sudah lama.
Sudah berapa lama masuk pagi, sudah lebih seratus. Karena itu tidak ada orang yang umurnya segini, saya bersyukur saja”.
Saat penelitian berlangsung, subjek menyatakan bahwa pendengaran (telinganya) masih baik-baik saja atau
masih terdengar jelas, padahal tidak.
Ketika peneliti bertanya, subjek selalu meminta peneliti untuk mengulang pertanyaanya lagi, contohnya ketika peneliti menanyakan berapa orang anaknya, pertanyaan peneliti tidak dapat ia dengar dengan baik, sehingga ia meminta pertanyaan tersebut di ulang lagi.
Pada saat penelitian berlangsung, tiba-tiba datang menantunya dan responden marah-marah dan menyuruh menantunya pulang. Lalu peneliti bertanya
“Nek, itu siapa? Kenapa di suruh pulang?”.
“ aku benci kali sama itu, jijik kali, ga seneng aku, cina itu” di situ rumahnya”. Sambil nenunjuk arah selatan.
Lalu, peneliti menanyakan sama anak responden, ibu Jumiani. “Itu siapa, Bu?”
“Itu menantunya, dahulu tidak suka dengan beliau karena beliau suku thionghoa. Lalu beliau masuk islam karena menikah dengan anak ibu Warsiah dan yang mengajari mengaji, sholat dan belajar tentang islam ibu ini. Sesudah menikah ibu Warsiah jadi biasa saja, setelah pikun ibu Warsiah mendadak jadi membenci beliau”.Dari pernyataan- pernyataan di atas terlihat jelas, bahwa perkataan subjek tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya, terkadang ia lupa (daya ingatnya berkurang), ia sering mengulang kata-kata yang sama, dapat dikatakan bahwa subjek menderita gangguan berfikir demensia (pikun).
Lansia penderita demensia ini tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, subjek sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Faktor yang mempengaruhi terjadinya demensia pada subjek adalah faktor predisposisi, yaitu faktor perpindahan yang berhubungan dengan proses menua. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita sendiri ialah sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang. Seperti layaknya anak kecil terkadang subjek bertanya sesuatu yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang sama disampaikan.
SIMPULAN
Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Faktor yang mempengaruhi terjadinya demensia pada subjek adalah faktor predisposisi, yaitu faktor perpindahan yang