• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha-usaha dan manfaat apa saja yang dapat menanamkan

Dalam dokumen strategi guru dalam menanamkan kedisiplinan (Halaman 90-99)

BAB IV HASIL PENELITIAN

D. Usaha-usaha dan manfaat apa saja yang dapat menanamkan

Penjelasan diatas juga dipertegas oleh ibu Suriani, S. Ag yang mengatakan bahwa:

Kesadaran diri siswa disini sebagian ada juga yang masih kurang. Akan tetapi masih ada juga yang mempunyai pribadi disiplin yang tinggi, misalnya jika ada anak yang kurang disiplin dalam mengikuti kegiatan shalat berjamaah maka temannya pun tidak akan sungkan dan tidak akan takut melaporkan ke saya atau guru lain, sehingga kami bisa memastikan alasan yang kami terima dari anak yang tidak mengikuti shalat itu benar atau tidak.

Karena mereka yang disiplin merasa iri dengan temannya yang kurang disiplin tetapi bisa lolos-lolos terus tidak mengikuti kegiatan shalat tersebut. (11 Agustus 2015)

Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kurangnya kesadaran siswa bisa menjadi penghambat guru dalam menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah di sekolah sedangkan laporan-laporan dari siswa yang merasa dirinya sudah disiplin untuk temannya yang kurang disiplin kepada gurunya sangat membantu dan menjadi faktor pendukung agar pelaksanaan shalat berjamaah tersebut berjalan dengan baik.

D. Usaha-Usaha dan Manfaat Apa Saja Yang Dapat Menanamkan

menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah. Maka yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh seorang guru adalah bagaimana cara menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah dalam diri siswa antara lain:

1. Guru yang bersangkutan juga harus berperan aktif dalam memberikan arahan dan pengertian agar siswa mampu mengamalkan serta menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah. Dengan demikian siswa mengerti tentang manfaat ibadah dari segi kesehatan, social dan maupun agama.

2. Dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru bukan hanya mentrasfer materi saja akan tetapi seorang guru harus mampu menggambarkan, mengkorelasikan ibadah dalam kehidupan sehari- hari sehingga siswa berlangsung beribadah. Seorang guru harus mampu memberikan contoh secara langsung terhadap siswanya tersebut.

Wangisa, S. Pd. MM (08 Agustus 2015) selaku kepala sekolah SMP Islam Darul Hikmah Makassar mengemukakan bahwa siswa yang melanggar atau tidak mengikuti shalat berjamaah akan dihukum dengan melalui:

1. Menulis bismillah sekian kali.

2. Menghafal alqur‟an.

3. Menulis alqur‟an.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa usaha yang dilakukan oleh pihak sekolah sangatlah

baik untuk para siswa yang tidak mengikuti shalat berjamaah agar siswa tersebut akan terbiasa mengikutinya.

Dra. Hj. Baniah (11 Agustus 2015) selaku guru bidang studi Fiqih mengemukakan alasannya bahwa usaha yang dilakukan oleh guru-guru Pembina shalat berjamaah untuk siswa tersebut yaitu:

Siswa yang tidak shalat berjamaah, nilai bidang studi Fiqih, Pendidikan Agama Islam dan Aqidah Akhlak oleh guru Pembimbing shalat berjamaah akan memberikan nilai yang sangat rendah dengan harapan supaya siswa bisa terdorong hatinya untuk rajin mengikuti shalat berjamaah, karena nilai yang rendah akan menyebabkan tidak naik kelas.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa yang dilakukan oleh guru Pembimbing shalat berjamaah sangat baik untuk siswa agar siswa tersebut akan terdorong dan mau mengikuti shalat berjamaah.

Usaha yang lain untuk menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah siswa di SMP Islam Darul Hikmah antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Menumbuhkan pembentukan kebiasaan berakhlak mulia kepada Allah dan sesama.

b. Membiasakan diri berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam.

c. Membiasakan bersikap ridho, optimis, percaya diri, menguasai emosi, tahan menderita dan sabar.

d. Selalu tekun beribadah/melaksanakan shalat berjama‟ah dan mendekatkan diri kepada Allah serta bermu‟amalah dengan baik.

e. Adanya program shalat dhuhur berjama‟ah dan shalat asyar berjamaah di sekolah.

f. Pembentukan guru yang bertanggung jawab atas pelaksanaan shalat berjama‟ah.

g. Memberikan dorongan dan motivasi yang lebih kuat kepada siswa agar aktif mengikuti aktivitas yang di selenggarakan.

h. Program pengembangan pengalaman keagamaan siswa.

i. Adanya peraturan-peraturan tentang kedisiplin dan tata tertib sekolah.

 Manfaat yang dapat menanamkan kedisplinan shalat berjamaah pada siswa SMP islam darul hikmah makassar.

Manfaat dan pelaksanaan kegiatan keagamaan yang di lakukan oleh pihak sekolah tentu saja agar siswa tersebut akan merasa lebih tekun dalam menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah baik dalam sekolah maupun diluar sekolah.

Penyelenggaraan yang dilakukan oleh guru-guru yang bersangkutan sangatlah baik untuk siswa karena kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para guru-guru disekolah sangat membantu siswa untuk lebih disiplin dalam berbagai hal.

Dra. Hj. Baniah (11 Agustus 2015) selaku guru bidang studi Fiqih SMP Islam Darul Hikmah Makassar mengemukakan bahwa:

1. Siswa dapat mengatur waktu dengan baik.

2. Belajar tepat waktu

3. Disiplin dalam segala kebaikan.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kedisiplinan waktu yang dilakukan oleh siswa sangatlah baik karena disiplin waktu akan mendatangkan kebaikan.

79

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data yang telah dilakukan mengenai “Strategi Guru Dalam Menanamkan Kedisiplinan Shalat Berjamaah Pada Siswa SMP Islam Darul Hikmah Makassar” dapat diambil kesimpulannya sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan guru PAI, Fiqih, dan Aqidah Akhlak di SMP Islam Darul Hikmah Makassar sudah berlangsung dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang berlangsung dengan baik yang ditandai dengan keikutsertaan peserta didik dalam pembelajaran dengan semangat yang tinggi dan merasa senang saat mengikutinya.

2. Pembinaan kedisiplinan shalat berjamaah peserta didik di SMP Islam Darul Hikmah Makassar. Hal ini terlihat dari data-data yang diperoleh tentang pembinaan yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan melibatkan guru PAI, Fiqih dan Aqidah Akhlak para wali kelas dan hampir seluruh guru dalam memantau pelaksanaan kedisiplinan shalat berjamaah peserta didik. Ditambah juga dengan adanya buku penghubung sebagai pemantau shalat berjamaah peserta didik selama di rumah.

3. Strategi guru dalam menanamkan kedisiplinan shalat berjamaah di SMP Islam Darul Hikmah dapat dikatakan dengan baik. Hal ini

dapat terlihat dari upaya sekolah dan guru pendidikan agama islam, fiqih dan aqidah akhlak dalam membina kedisiplinan shalat berjamaah peserta didik dengan cara dan kegiatan yang tepat serta didukung oleh hasil angket yang disebarkan kepada responden yang menyatakan tingkat melaksanakan shalat di sekolah maupun shalat lima waktu sehari semalam sudah sangat baik.

B. Saran

1. Hendaknya guru lebih mementingkan mutu pelajaran khususnya bidang studi Pendidikan Agama Islam, Fiqih dan Aqidah Akhlak karena bidang studi ini bukan karena kewajiban sekolah saja tetapi merupakan pelajaran yang dapat memberikan manfaat dan pedoman hidup peserta didik baik didunia maupun diakhirat.

2. Guru dan seluruh elemen sekolah dan juga para orang tua peserta didik agar senantiasa memberikan arahan, bimbingan serta memantau pelaksanaan kedisiplinan shalat berjamaah peserta didik khususnya ibadah shalat lima waktu.

3. Hendaknya peserta didik tidak hanya memahami bidang studi PAI, Fiqih dan Aqidah Akhlak secara kognitif saja tetapi juga dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

4. Para guru khususnya guru PAI, Fiqih dan Aqidah Akhlak agar memperhatikan peserta didik dalam hal kedisiplinan shalat berjamaah di sekolah.

81 Cipta, 1990.

Prosedur Penelitian. (Cet. XIII: Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002) An-Nahlawa Abdurrahman, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam

Dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat, Diponegoro, Bandung, 1998.

Bahry Nazar, Tuntunan Praktis Metodologi Penelitian. Cet. I: Jakarta:

Pedoman Jaya, 1995.

Burn, R.B. (2000) Introduction to Research Methods. 4th Edition. French Forest NSW : Longman.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1992.

Departemen Agama RI. 2002. Al-Qur’an dan Terjemahnya

Imran, Kelemahan Guru Dalam Mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1995.

Majid Abdul, Perencanaan Pembelajaran, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005.

Majid Abdul & Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam, Trigenda Karya, Bandung, 1993.

Musbikin Imam, Tata cara Shalat Berjamaah. (Cet. I, Mitra Pustaka, Mei 2007)

Mulyasa, H.E. 2011. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

Nata Abuddin, Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia (Cet. I, Bogor, Kencana, 2003)

Parkay, Forrest W. 2008. Menjadi Seorang Guru. Jakarta: Indeks.

Saputro Supriadi dkk, Strategi Pembelajaran, Bahan Sajian Program Pendidikan Akta Mengajar. Malang : Universitas Negri Malang, 2002.

Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara

Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1987,

Sudjana Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2006)

Surakhmad Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah. Cet. II; Bandung:

Tarsito, 1986.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung;

Alfabeta, 2008.

Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Cet. III:

Jakarta: Rinika Cipta, 2006)

Syah Muhibbin, Psikologi belajar (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999) Syah Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (IX,

Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004)

UU. RI No. 14 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Point 1 Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara

Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1998 Wassid Iskandar, M.Pd. Strategi Pembelajaran Bahasa. (Cet, I :

Rosdakarya, Bandung, 1999)

Yasin, Fatah A. Dimensi-Dimensi Pendidikan, UIN Malang Pres, 2008

Dalam dokumen strategi guru dalam menanamkan kedisiplinan (Halaman 90-99)

Dokumen terkait