• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Shalat

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 93-96)

Pada prinsipnya hakikat shalat adalah untuk mengingat Allah SWT. Hal ini ditegaskan Allah dalam surat Thaahaa ayat 14:



⧫





⧫⬧



⧫

⬧

◆

◼❑◼

✓



Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

94

Shalat bukan hanya disyariatkan kepada nabi Muhammad dan umatnya saja, tapi juga kepada nabi-nabi sebelum beliau. Ayat ini buktinya.

Karena ayat ini ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, yaitu mulai dari ayat 9 sampai dengan 36 surat Thaahaa.

Dalam ayat-ayat tersebut Allah menginformasikan kepada nabi Muhammad SAW tentang berita nabi Musa AS yang menerima wahyu secara langsung dari Allah di Lembah Thuwa, Bukit Tursina, ketika dalam perjalan pulang bersama isterinya dari Madyan ke Mesir setelah selesai menepati janjinya mengembalakan kambing selama sepuluh tahun kepunyaan nabi Syu’aib, mertuanya. Pada suatu malam yang gelap gulita di tengah pejalanan yang begitu jauh, ia melihat kelap-kelip api dari kejauhan. Ia minta izin kepada isterinya untuk mengambil api itu untuk dijadikan penerangan. Setelah sampai ke tempat yang dituju ternyata ia mendapati sinar yang amat terang di lembah Thuwa yang suci. Maka terjadilah dialog langsung nabi Musa AS dengan Allah Ta’ala. Dalam dialog itu terdapat juga perintah Allah, salah satu di antaranya ialah perintah shalat untuk mengingat Allah sebagaimana terdapat pada ujung ayat 14 surat Thaahaa ini. Perintah ini tentu juga disyariatkan kepada Nabi Muhammad beserta ummatnya, karena firman Allah ini juga sudah diturunkan kepada nabi Muhammad di dalam Al-Quran, (al-Baqa’i, V, 1995: ).

Sejalan dengan keterangan di atas, Ibnu Katsir (III, 1992: 140) menjelaskan makna firman Allah ( اــنا لاا هــلا لا الله اــنا يــننا ) bahwa ini adalah awal kewajiban bagi para mukallaf agar mereka dapat mengetahui bahwa Tiada Tuhan kecuali Allah saja, tidak ada sekutu baginya. Firman-Nya (

عاف ـ ـــب ـد

يـــنو ) artinya esakan Aku dan laksanakan ibadah kepada-Ku tanpa

mempersekutukan Aku. Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa namanya ialah Allah. Yaitu Allah sebagai Tuhan, tiada Tuhan selain Dia yang berhak disembah ( اــنا لاا هــلا لا الله اــنا ىــننا ). Ini adalah kewajiban yang pertama bagi orang- orang beriman, yaitu mengenal Allah. Setelah mengenal Allah sebagai Tuhan, kemudian diiringipula dengan kewajiban beribadah, menyembah-Nya

ىنودــبعاف(.

) Artinya maka sembahlah Aku saja. Kemudian Allah menjelaskan ibadah sebagai tambang pahala bagi manusia, khalawat al-iman (manisnya iman), ketundukan hati kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan ruh agama. Lalu Allah berfirman ( ة لاـــصلا مـــقاو ). Artinya, dirikanlah shalat untuk menghilangkan busuknya keburukan (kejahatan). Ini merupakan isyarat yang sangat jelas bahwa shalat adalah inti agama, karena shalat syariat tertinggi. Shalat itu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Melalui pelaksanaan shalat akan berkekalan zikir (ingat) kepada Allah dan mencegah dari keburukan. Inilah yang dimaksud dengan ) ىرــكذــل ). Yaitu membangsakan sesatu pada maqam (kedudukan) yang agung, bahkan shalat itu menghimpun fenomena-fenomena keindahan dan keagungan. Kemudian Allah menjelaskan perintah beribadah.

Firman Allah ( يرـــكذـــل ةلاـــصلا مـــقاو ) ada ulama yang menafsirkannya,

95

laksanakan shalat untuk mengingat-Ku. Ada pula yang menafsirkannya, laksanakan shalat bila ingat.

Pendapat yang kedua ini dikuatkan oleh riwayat Imam Ahmad dari Anas bin Malik,

قر اذا ـ دحا د غوا ةلاصلا نع مك ـ ف

ـ ف اهنع ل ـ

ذ اذا اهيلصيل ىلاعت الله ناف .اهرك

قي ـ قا :لو ـ ذل ةلاصلا م .يرك

Bila sesorang di antara kamu tertidur sehingga tertinggal shalat atau lupa mengerjakannya, maka laksanakanlah shalat ketika sudah ingat.

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman ( يرك ـذل ةلاصلا مـقا ).

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat suatu hadits yang menyatakan,

ع مان نم ـ

ةلاصلا ن ف ,اهيسن وا

ـ ك ـف ـ اهتر ذ اذا ك ـ ك لا ,اهر ـ

ذ لاا اهل ةراف .كل

Siapa yang tertidur atau lupa sehingga tertinggal shalat, maka kaffaratnya adalah mengerjakannya bila ingat. Tidak ada cara lain selain itu.

Pada hakikatnya melaksanakan shalat adalah berzikir (mengingat) Allah SWT semata, tidak boleh mengingat yang lain. Kalau teringat yang lain dalam shalat, kembali lagi megingat Allah. Ibarat berjalan di atas pematang sawah yang baru dibuat, licin. Bila tercampak ke dalam sawah, naik lagi ke pematang. Atau ibarat belajar sepeda. Setiap kali jatuh naik lagi dan kayuh lagi sepeda. Dengan berkonsentrasi mengingat Dzat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Inilah yang disebut dengan shalat khusu’. Dengan zikir kepada Allah hati akan menjadi tenteram dan damai, sesuai dengan firman-Nya,

⧫

❑⧫◆

◆⬧◆

❑➔➔











☺⬧

❑➔→

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. 13: 28).

Mengerjakan shalat dengan khusu’ itu amat berat. Dalam konteks ini, Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 45,

❑➔⧫◆



❑◼◆

◆

◆⬧⬧



◼⧫

⧫✓➔⬧

.

96

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

قو ـ نـيـتـن اق لله اومو

Dan berdirilah kamu untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusuk. (Q.S. 2:

238)

Firman Allah (نـــــيـتـن اـــــق لله اوـــــموـقو) artinya senantiasalah kamu beribadah, taat, khusu’, dan khudhu’. Artinya senantiasalah kamu khusu’

dalam shalatmu. Ali Shabuni, I, 1980: 154).

Kata khusu’ sinonim dengan tawadhu’. Di dalam kitab al-Kasysyaf diterangkan bahwa khusu’ artinya ialah merendahkan diri dan bersikap baik. Sedangkan khudhu’ artinya lemah lembut dan penurut. Syufyan Tsauri mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada ‘Aghmasy tentang arti kata khusyu’ itu.” Dia menjawab, “Hai Tsauri, Anda berkeinginan untuk menjadi imam sedangkan anda tidak mengetahui arti khusyu’. Khusyu’ itu bukanlah berarti memakan makanan yang basi, memakai pakaian yang lusuh, dan mengangguk-anggukkan kepala. Akan tetapi khusyuk ialah bahwa anda melihat orang yang terhormat dan orang yang hina dalam masalah kebenaran adalah sama, dan anda khusyuk kepada Allah pada semua yang difardhukan-Nya kepada anda” (al-Syaukani, I, 1964: 79).

Abdu bin Humaid megutip dari Qatadah tentang firman Allah (Minta tolonglah kamu kepada Allah dengan sabar dan shalat}, katanya, keduanya adalah pertolongan dari Allah, maka minta tolonglah kamu kepada Allah dengan keduanya.

Dalam dokumen TAFSIR AHKAM IBADAH (Halaman 93-96)