Ketika mengadakan konferensi dengan para pemimpin beberapa negara komunis di Eropa Timur dan Rusia, Aidit memiliki pengetahuan yang baik sekali tentang kondisi kesehatan Presiden, yang mengalami gagal-ginjal pada akhir bulan Juli, melalui dua saluran. Pertama, Dr. Subandrio, sebagai Menlu, selalu memberi informasi kepada Aidit melalui misi diplomatik Indonesia pada setiap negara yang dikunjunginya tentang kondisi Presiden yang kritis itu.
Kedua, PKI sendiri punya saluran komunikasi internal partai yang menghu- bungkannya dengan Departemen Internasional dari partai komunis di Moskow, Peking, dan di tempat-tempat lain, yang memberitahukan kepada Aidit tentang krisis penggantian presiden yang tidak dapat dielakkan lagi karena menurunnya kondisi kesehatan Prsiden Sukarno dengan cepat sekali.
Seperti telah kita lihat, ketika Presiden terserang penyakitnya itu pada akhir bulan Juli, ia sendiri yang memerintahkan Subandrio untuk mengirim telegram kepada kedutaan-besar di Peking untuk diteruskan kepada Aidit memanggilnya untuk langsung kembali ke Jakarta, dan Aidit membalas tanggal 3 Agustus bahwa ia akan pulang tanggal 6 Agustus.
Mengingat kesehatan Presiden Sukarno yang gawat itulah, maka Aidit melakukan pembicaraan-pembicaraan dengan para pemimpin senior Cina di partai, pemerintahan dan kemiliteran, ketika kunjungan delapan harinya di Peking pada akhir Juli hingga awal Agustus 1965. Para pejabat ini memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan Presiden dari para dokter yang merawatnya, kedutaan besar, dan informan-informan lain yang beroperasi di Indonesia. Diskusi itu pasti terpusat pada pelaksanaan persyaratan-persyaratan Persetujuan Cina-Indonesia tanggal 3 Desember 1964, sebuah persetujuan yang komprehensif tentang koordinasi dalam politik luar-negeri kedua negara dan kerjasama mereka di bidang ekonomi, militer dan lain-lain karena kebutuhan yang diperlukan Indonesia lantaran konfrontasinya dengan Malaysia. Lagi pula,
diskusi ini mungkin sekali berhubungan dengan cara-cara mengenai pemasokan senjata untuk Angkatan Kelima yang direncanakan itu, atau Tentara Rakyat, pasokan material yang diperlukan untuk membangun markas besar the New Emerging Forces di Jakarta untuk menandingi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta masalah-masalah lain yang timbul dari pertimbangan- pertimbangan yang berhubungan dengan visi strategis Peking yang dipercayai ketika itu. Visi strategis ini menghimbau Indonesia untuk memajukan momentum “revolusioner” dari konfrontasi militernya dengan Malaysia, tetap berpendirian teguh dalam penarikan diri dari keanggotaannya di PBB tanggal 1 Januari 1965, dan membangun sebuah sekretariat di Jakarta untuk the New Emerging Forces, sehingga kebijakan-kebijakannya dapat dikoordinasikan secara lebih efektif. Peking percaya bahwa Asia Tenggara adalah titik-pusat terbaru revolusi dunia, di mana Indonesia yang saat ini berada di bawah Presiden Sukarno, dan kemudian akan berada di bawah hegemoni PKI, harus menjadi kekuatan utamanya.
Diskusi Aidit dengan para pemimpin senior Cina sudah pasti berhu- bungan dengan semua masalah di atas dalam jangka panjangnya. Namun, rubuhnya Presiden tanggal 4 Agustus, dan penilaian para dokter Cina terhadap kematiannya yang tak terelakkan lagi siap menjemput, atau lumpuh, adalah kemungkinan realistis yang menyuntikkan unsur mendesak ke dalam misinya sehingga ia diterima oleh Mao. Dari urutan-urutan peristiwa tampak bahwa mereka bertemu keesokan harinya, tanggal 5 Agustus, untuk menilai situasi baru itu, dan mengembangkan koordinasi kebijakan untuk mengeksploitasi kesempatan yang diciptakannya.35 Mao menerima Aidit di markas-besar partai Cina di Zhongnanhai, sebuah perkampungan di dalam dinding-dinding Kota Terlarang di Cina.
Aidit mungkin sekali mulai dengan mengatakan kepada Mao bahwa PKI adalah murid yang patuh pada ajaran-ajarannya, sebagai pakar teori dan praksis Marxisme-Leninisme terbesar yang masih hidup semenjak masa Lenin. PKI sedang melaksanakan teori-teorinya tentang perlunya perjuangan anti- imperialis yang tegas dengan jalan berkonfrontasi terhadap Malaysia sejak tahun 1963, dan ajarannya bahwa satu-satunya jalan kepada kekuasaan bagi partai Marxisme-Leninisme seperti PKI adalah lewat revolusi agraria. Untuk tujuan itu partai menggelorakan pendekatan ofensif revolusioner yang memiliki basis massa yang luas semenjak tahun 1964, termasuk upaya untuk menggolkan konsep Tentara Takyat, yang terdiri dari kaum buruh dan tani, yang akan dibentuk dengan bantuan Peking, sebagai kekuatan utama revolusi agraria itu.
Meskipun tujuan partai untuk mendirikan tentara rakyat secepat mungkin mendapat dukungan penuh dari Presiden Sukarno, namun masalah yang paling besar baginya dan bagi partai justru datang dari jenderal-jenderal terkemuka Angkatan Darat, yang tidak hanya menentang didirikannya tentara rakyat itu, tetapi juga tidak begitu menyukai orientasi revolusioner dari politik luar-negeri Presiden, konfrontasi dengan Malaysia dan persekutuan dengan Cina.
Dan sangat-sangat dapat dipercaya bahwa Aidit lebih jauh mengatakan kepada Mao bahwa berita kemarin dari Jakarta menjadikan suatu kemestian bagi partai untuk langsung bersiap-siap guna melakukan tindakan darurat untuk menghadang tantangan, dan bahwa di akar tantangan itu terdapat kesiapan AD untuk memukul PKI terlebih dahulu demi kekuasaan, terlepas dari apakah Presiden meninggal atau tidak. Berdasarkan bahaya baru ini, dan dengan mempertimbangkan panggilan Presiden untuk segera pulang guna membantunya menghadapi krisis itu, maka sudah pasti Aidit meminta nasehat kepada Mao tentang tindakan apa yang harus dilakukan PKI. Tanggapan Mao adalah cepat dan lugas sekali.
“Mao : Kamu harus bertindak cepat.
Aidit : Saya khawatir AD akan menjadi penghalang.
Mao : Baiklah, lakukanlah apa yang saya nasehatkan kepadamu: habisi semua Jenderal dan para perwira reaksioner itu dalam sekali pukul.
Angkatan Darat lalu akan menjadi seekor naga yang tidak berkepala dan akan mengikutimu.
Aidit : Itu berarti membunuh beberapa ratus perwira.
Mao : Di Shensi Utara saya membunuh 20.000 orang kader dalam sekali pukul saja.”36
Seperti disimpulkan PKI sayap pro-Moskow kemudian dalam kritik tajam mereka mengenai kebijakan-kebijakan Aidit yang pro-Peking, ketika itu Mao dan Aidit memusatkan perhatian dan penilaian terhadap karakter pribadi khas Presiden Sukarno “yang negatif dan yang positif”. Penilaian ini membicarakan sampai sejauh mana kemampuan Presiden, berdasarkan kondisi kesehatannya yang ada sekarang, untuk ikut menggelorakan tujuan-tujuan revolusioner Cina di Asia Tenggara dan sasaran PKI di front dalam-negeri, dan kemudian
“mengambil keuntungan” dari hal-hal yang mereka percayai paling kondusif bagi tujuan bersama mereka.37
Mengenai promosi tujuan jangka panjang kedua partai itu, jelas bahwa Presiden tidak dapat diharapkan lagi bisa memenuhinya. Pertama, kesehat- annya yang memburuk dan kemungkinan meninggal dunia secara tiba-tiba atau menjadi lumpuh secara permanen. Setelah itu Mao dan Aidit tampaknya sangat yakin bahwa bahkan seandainya kesehatan Presiden makin membaik, ia pasti sudah tidak berdaya lagi, tidak sanggup memikul tuntutan-tuntutan baru yang diletakkan di atas bahunya oleh keperluan suatu promosi aktivitas revolusioner yang cepat di dalam-negeri dan di luar-negeri. Lagi pula, sama sekali tidak dapat dipastikan, malah dalam kenyataan diragukan, apakah Presiden bersedia pergi sampai ke tujuan akhir yang mungkin telah dibuatkan baginya oleh Mao dan PKI.
Kedua, sifat gampang marah secara meledak-ledak dan sembrononya Presiden, yang telah dialami oleh Marsekal Chen Yi ketika berunding dengannya tentang Persetujuan Cina-Indonesia tanggal 3 Desember 1964, mungkin pula menjadi faktor pertimbangan lain mereka tentang “potensi revolusioner” Presiden. Dalam pertemuan itu, Presiden menuntut agar Cina berbagi teknologi nuklirnya dengan Indonesia, dan bahwa sebuah ledakan nuklir harus diuji di wilayah Indonesia karena hal itu akan memberi dampak psikologis yang besar baik kepada kawan maupun lawan, dan Presiden secara histeris memukul meja dengan tinjunya ketika ia dibantah.
Ketiga, Presiden tidak menyerahkan the Afro-Asian Non-aligned Movement ke pihak Peking, dan gagal mendapatkan dukungannya untuk kerjasama Peking-Jakarta tentang kebijakan konfrontasi terhadap Malaysia pada Perayaan Ulang-Tahun ke-X lahirnya gerakan Asia-Afrika, yang diadakan di Bandung pada akhir bulan April 1965. Upaya keduanya untuk memperbaiki catatan yang mencemaskan ini, dilakukan di Kairo ketika rapat-rapat pendahuluan para delegasi yang berkumpul di sana untuk Konferensi Puncak II gerakan itu, terbukti tidak efektif. Upaya ini pada akhirnya gagal juga karena konferensi puncak itu yang rencananya akan diadakan di Aljazair dalam bulan Juni 1965, telah dibatalkan karena kekacauan melanda Aljazair yang sedianya menjadi tuan rumah, dan Presiden harus kembali pulang dengan tangan hampa, apalagi dalam keadaan sakit yang gawat. Pada saat itu, prestise Presiden Sukarno di dunia Asia-Afrika sedang compang-camping, sehingga menjadikan Indonesia berdiri sendirian saja dan dalam keadaan terisolir dari pergaulan internasional, suatu partner yang meragukan bagi ambisi jangka panjang Mao, sebagaimana akan kita lihat sebentar lagi.
Akan tetapi, manfaat jangka-pendek Presiden diakui oleh keduanya, baik Mao maupun Aidit; dalam kenyataannya Presiden tidak dapat dikesampingkan begitu saja untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang langsung maupun yang berjangka pendek. Sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, adalah dalam kekuasaannya untuk memberhentikan atau menghabisi para jenderal AD yang menentang kedekatannya dengan Cina, konfrontasi bersenjata dengan Malaysia, serta ambisinya untuk mempersenjatai buruh dan tani. Lagi-lagi, segera sesudah menghabisi para jenderal yang keras kepala itu, Presidenlah yang dapat menunjuk sebuah kabinet Gotong Royong di mana PKI akan menjadi pemain yang dominan, yang selanjutnya akan membuka jalan ke arah transformasi sosialisme sepenuhnya di negeri itu.
Namun, setelah melegitimasikan transisi ini dengan wewenang dan kewibawaannya, yang disarankan Mao kepada Aidit, Presiden harus pensiun, atau dipensiunkan, untuk kemudian digantikan oleh seseorang yang “bukan- komunis”, sedangkan Aidit akan memegang jabatan “perdana menteri”,38 guna mengendalikan seluruh lini kekuasaan di negeri itu. Dengan memperhatikan kondisi kesehatan Sukarno yang gawat, serta potensi revolusionernya yang telah kehabisan tenaga, tampaknya Mao dan Aidit setuju bahwa Cina akan menyambut Sukarno dengan baik untuk tinggal di suatu tempat peristirahatan yang nyaman, di mana ia dapat langsung menerima perawatan kesehatan yang amat diperlukan itu dan dari jauh dapat memainkan peran seorang negarawan senior. Kemungkinan untuk mengistirahatkan Presiden ke Cina bukanlah sebuah pemikiran yang tak bermakna, karena di dalam jangka waktu 10 hari kemudian, Marsekal Chen Yi, mengunjungi Jakarta untuk ikut hadir dalam perayaan Hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1965, mengatakan kepada Dr.
Subandrio bahwa Peking siap untuk menyambut Presiden, dan bahwa Chen Yi telah berhasil menemukan sebuah tempat yang tenang baginya di Danau Angsa di Cina.39
Dengan demikian, jelaslah bagi Mao dan Aidit bahwa kepentingan strategis jangka panjang Peking dan PKI hanya dapat dipromosikan oleh Aidit dan tidak lagi oleh Sukarno, dengan Indonesia secara kokoh berada dalam kendali PKI, namun transisi ke arah itu dilakukan dengan bekerja-sama dengan Presiden. Jadi, melakukan transisi “dengan” Presiden jelas merupakan opsi yang disenangi. Namun, seandainya Presiden ternyata enggan menerima butir- butir persetujuan Mao-Aidit itu dan menolak bekerja-sama dalam rencana mereka, tampaknya keduanya setuju dengan opsi yang kedua. Opsi ini memerlukan suatu putusan agar para jenderal reaksioner itu dijatuhkan dan
transisi itu dilaksanakan “tanpa Presiden”,40 dan bahkan menentangnya seandainya ia menolak, untuk menghilangkan dua kendala yang menghalangi PKI untuk merebut kekuasaan. Dalam kesimpulan pertemuan mereka itu, Mao meminta Aidit menyampaikan opsi pertama itu kepada Presiden, mendapatkan daripadanya sebuah persetujuan tertulis dan melaporkan kembali hasilnya, sebagaimana jelas dari surat Aidit tanggal 10 November 1965, di mana ia berbicara mengenai “pasal-pasal perjanjian yang telah kami sampaikan secara /R dalam bulan Agustus yang lalu …” dari Mao kepada Presiden.41
Sebelum berpisah, Aidit mendapat janji Mao yang akan segera memasok bagi Presiden 30.000 pucuk senjata untuk memukul para jenderal reaksioner, dan kemudian mengirim dengan kapal laut sejumlah besar senjata untuk perlengkapan Angkatan Kelima. Inilah yang merupakan saripati dari pesan yang Mao ingin disampaikan Aidit kepada Sukarno, setibanya kembali di Jakarta, dan mendapatkan persetujuannya atas butir-butir perjanjian rahasia Sukarno-Mao-Aidit.
Dalam perjalanan pulang dari Peking ke Jakarta tanggal 7 Agustus dengan sebuah pesawat yang disediakan Cina, Aidit dan Njoto, tokoh PKI lainnya yang dalam pada itu telah tiba dari Moskow, didampingi oleh dua orang “dokter”, Dr. Wang Hsin Te dan Dr. Tan Min Hsuen, untuk menyertai tim Cina yang telah merawat Presiden. Dengan memperhatikan kudeta yang hampir terjadi, maka adalah masuk akal bagi kita untuk memperkirakan bahwa salah satu dari dokter itu, jika bukan kedua-duanya, mungkin merupakan perwira intelijen tingkat tinggi untuk mengadakan garis komunikasi langsung dan sangat rahasia yang menghubungkan para pemimpin puncak Cina dengan Sukarno dan PKI.
Rombongan itu mendarat di Kemayoran tanggal 7 Agustus pukul 12.00 tengah hari. Aidit juga mengatakan dalam suratnya tentang pentingnya memperta- hankan komunikasi antara dirinya dan Presiden melalui jaringan intelijen yang dioperasikan di Indonesia oleh Cina.42
Dengan demikian, strategi global Peking dan persaingan dengan Moskow mengenai arah partai-partai komunis dunia, ditambah lagi dengan krisis yang terjadi di Indonesia lantaran jatuh pingsannya Presiden Sukarno tanggal 4 Agustus 1965, itulah yang mendorong Aidit membuat rencana-rencana untuk melakukan pukulan langsung menantang AD, yang akan dipayungi oleh Presiden dan dilaksanakan oleh Untung serta perwira-perwira progresif- revolusioner lain.
“Para Kawan Cina itu tidak menentang kita mengambil kesempatan dari sifat karakter Presiden Sukarno, baik yang positif maupun yang negatif.
Ketika mengerjakan hal itu mereka sepakat dengan kepemimpinan Partai kita untuk menjamin kemenangan konsep burjuis kecil mereka tentang hegemoni politik mereka di Asia dan Afrika, dan menggantikan kebijakan front anti-penjajahan internasional dan perjuangan untuk perdamaian dengan ‘Poros Jakarta-Peking’ …
Setelah kembalinya para pemimpin kita dari perjalanan ke luar-negeri, yang juga mencakup sebuah negara Asia (Cina, Ed.), dalam bulan Juli- Agustus, maka dapat diketahui bahwa kepemimpinan Partai telah mengambil sebuah putusan yang terlalu tergesa-gesa dalam memulai persiapan-persiapan untuk memainkan peran sebagai seorang
‘penyelamat’ dengan atau tanpa Presiden Sukarno dan kekuatan-kekuatan demokratik lainnya … “43
Karena waktu dan sifat yang tepat dari keseluruhan operasi PKI itu tergantung dari evaluasi tentang kesehatan Presiden, maka Aidit dan Njoto tiba di Jakarta dari Peking tanggal 7 Agustus didampingi oleh dua orang Cina “spesialis pengobatan”, dan sebagaimana telah dikemukakan, orang-orang ini mungkin sekali adalah perwira tinggi intelijen untuk mengadakan hubungan komunikasi yang langsung antara Presiden, Mao dan Aidit pada senja hari dari perkembangan-perkembangan yang demikian pentingnya. Sebagaimana diperlihatkan oleh buku catatan para tamu, Aidit mengunjungi Presiden di Istana Merdeka tanggal 7 Agustus langsung setelah ia tiba pada pukul 12.00 tengah hari, secara ringkas melaporkan kepada Presiden tentang perjalanannya ke luar-negeri, namun karena seriusnya topik yang dibicarakan, maka ia merasa perlu untuk sekali lagi menghadap Presiden keesokan harinya, tanggal 8 Agustus, di Istana Bogor.