60
IMPLEMENTASI PLURALISMEDALAM ISLAM DAN BARAT
Oleh : Kisman
Dosen STAI Al-Amin Dompu Jln. Lintas Wawonduru No. 02 e-mail : [email protected]
Abstrak : Implementasi pluralisme dalam perspektif Islam antara lain: (1) Pluralisme dapat diimplementasikan dalam ranah pendidikan yang disebut dengan pendidikan multikultural sebagai sebuah proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku, dan agama. (2) Pluralisme dapat di implementasikan dalam ranah sosial, seperti pengkajian, penelitian dan pendampingan kepada masyarakat terhadap persoalan-persoalan hukum, kesejahteraan sosial, budaya, pendidikan moral, dan terwujudnya keadilan serta penegakkan HAM. Sehingga terwujud masyarakat madani yang rukun dalam keberagaman. Implementasi pluralisme dalam perspektif Barat: (1) Mengadakan dialog antar umat beragama yang diadakan oleh pihak Barat. (2) Bekerjasama untuk menghadapi persoalan kemanusiaan dan persoalan bangsa. (3) Semangat kebersamaan Barat dalam menjalin hubungan kekerabatan terhadap umat lain, itu ditandai dengan mengucapkan selamat pada hari-hari besar yang dirayakan oleh umat lain. (4) Membangun yayasan-yayasan Kristen yang turut berjuang untuk membumikan kesadaran pluralisme dalam berbangsa dan bernegara.
Kata Kunci: Implementasi, Pluralisme, Islam, Barat
---
A. Pendahuluan
Realitas suatu bangsa yang menunjukkan adanya kondisi keanekaragaman budaya, mengarahkan pada pilihan untuk menganut asas pluralis. Dalam asas pluaralisme ada kesadaran bahwa bangsa itu tidak tunggal, tetapi terdiri atas sekian banyak komponen yang berbeda. Indonesia merupakan salah satu negara pluralis terbesar di dunia. Berbagai pluralitas yang ada di Indonesia terdiri dari keragaman
61
kelas sosial, etnis, ras, gender, agama, bahasa, dan usia. Kenyataan ini mengantarkan kita kepada sebuah konsep bahwa Indonesia bukan terbentuk dari satu suku, satu budaya, satu agama, satu ras dan golongan, namun justru Indonesia terbentuk dari keberagaman atau keperbedaan. Pemahaman inilah yang membawa keperbedaan itu kepada sebuah istilah yang menjadi jargon dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yaitu negara Indonesia merupakan negara yang Pluralis, (Harahap, 2011: 29).
Di era globalisasi dewasa ini, pertemuan unsur-unsur budaya, suku, ras, dan agama telah terjadi secara intens tanpa mengenal dimensi ruang dan waktu.
Pluralisme dengan segala aspeknya akan mengiringi nilai-nilai dan konsep parsial ke dalam kotak-kotak primordialisme. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa budaya, suku, ras, bahasa, dan agama, selain dapat merupakan faktor pemersatu juga menjadi faktor penyebab konflik. Tergantung bagaimana upaya masyarakat untuk menjaga dan melestarikan keberagaman dengan baik.
Dunia memang sedang dilanda arus perubahan yang cepat dan tidak terelakan, sehingga berakibat pada perubahan sosial dan budaya. Ada pergeseran sistem nilai sosial dan budaya yang cukup drastis. Pergeseran nilai yang cepat ini dapat menimbulkan goncangan kuat karena manusia harus mengadakan penyesuaian perilakunya terhadap nilai baru tersebut. Penyesuaian perilaku manusia terhadap nilai baru berupa budaya, suku, ras, bahasa dan agama yang berbeda dengan yang mereka pahami, sering mengakibatkan konflik yang cukup berat, (madjid, 2004: 69). Di beberapa negara Eropa dan Barat, perubahan sistem nilai yang didasarkan pada pluralisme atau keberagaman dalam berbangsa dan bernegara relatif berjalan dengan baik, karena mereka berhasil meredam potensi konflik dengan melaksanakan perubahan secara terkonsep. Di Indonesia pengelolaan terhadap perubahan nilai pluralisme sering kali menjurus kepada terjadinya konflik. Pihak yang satu melakukan koreksi terhadap pihak lain, sebaliknya pihak yang dikoreksi juga melakukan hal yang sama. Masyarakat
62
Indonesia dengan “budaya Timurnya” cendrung memberikan resistensi atau bahkan perlawanan terhadap koreksi dari pihak lain, itu ditandai dengan merebaknya konflik seperti di Ambon, Poso, Sulawesi Selatan, Bima NTB, dan beberapa organisasi masyarakat Islam yang mengatas namakan Islam seperti DI/TI, komando jihad, FPI, dan ISIS yang sedang menjadi trending topic dalam wacana dunia global dengan motif yang berbeda. Keadaan yang demikian membuat konflik cendrung semakin berkembang dan semakin tajam, dan pada klimaksnya sering kali menyebabkan terjadinya benturan fisik yang mengakibatkan jatuhnya korban.
Pluralisme atau keberagaman masyarakat, ketika berpapasan dengan modernitas, tampaknya tidak bisa menghindarkan diri dari benturan-benturan akibat perubahan sosial dan budaya. Manusia sebagai makhluk sosial juga harus menghadapi dilema-dilema yang pelik menyangkut benturan-benturan berupa perbedaan tentang konsepsi dalam beragama, berbudaya, berbahasa ataupun seabrik perbedaan yang ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mereka yang masih mempertahankan konsepsi ajaran dalam beragama dan berbudaya secara puritan justru terisolir dari interaksi masyarakat global. Bahkan mereka dicap sebagai kaum fundamentalis seperti gerakan pemberontakan yang dipelopori oleh Kartosuwiryo dkk dan gerakan RMS (Republik Maluku Selatan) yang penggerak utamanya adalah Smoukil yang berdarah Belanda, yang dapat ditafsirkan sebagai kelompok yang kurang fleksibel dalam memandang agama, budaya, suku, ras, dan bahasa yang diyakini oleh kelompok yang lain, sehingga tidak mau menerima realitas-realitas pluralisme dalam berbangsa dan bernegara.
Terlepas dari itu semua, fenomena pluralisme budaya, suku, ras, bahasa, dan agama telah menjadi faktor sosial nyata yang harus dihadapi masyarakat modern.
Untuk pertama kali dalam sejarahnya, manusia menyaksikan dirinya secara global hidup berdampingan dengan berbagai keberagaman yang berbeda dalam satu negara, dalam satu wilayah dan satu kota bahkan dalam satu gang yang sama.
Fenomena demikian bagi masyarakat yang belum terbiasa dan belum memiliki
63
pengalaman dalam berkoeksistensi damai, seperti Barat, tentu akan menimbulkan problematika tersendiri, sehingga memaksa para ahli berbagai displin ilmu untuk memformulasikan suatu solusi maupun pendekatan dalam merespon problematika tersebut, (Thohah, 2006: 1).
Perbedaan bahkan benturan konsepsi itu terjadi pada hampir semua aspek dalam kehidupan baik dalam budaya, ekonomi, politik sampai pada persoalan suku, ras, dan bahasa seringkali menjadi pemicu konflik. Sejak munculnya manusia dimuka bumi ini, mulailah perbedaan itu muncul, manusia dikarunia akal dengan kadar kemampuan dan jenis serta jumlah informasi yang berbeda, sehingga berkemungkinan memahami sesuatu dengan berbeda pula. Itu merupakan hal yang alami dalam kehidupan manusia. Sumber-sumber informasi yang dialami oleh setiap manusia juga berbeda. Belum lagi sifat apriori atau fanatisme karena berbagai faktor yang menyebabkan munculnya perbedaan pandangan dan sikap, (Husain, 2004: 9).
Akibat dari perseteruan tersebut adalah kesengsaraan semua pihak, yang bertikai maupun yang tidak mengetahui apa-apa. Pada dasarnya akibat dari konflik adalah kerugian yang menyeluruh diberbagai pihak. Rakyat kecil lagi-lagi menjadi korban dan harus menanggung akibat-akibat yang ditimbulkan oleh konflik tersebut. Dari fenomena-fenomena tersebut setidaknya dapat dijadikan vonis awal bahwa sampai saat ini, kesadaran pluralitas dalam keberagaman belum menyentuh sisi kesadaran paling dalam pada masing-masing pihak. Artinya, slogan-slogan universal mengajarkan cinta kasih dan perdamaian, tidak menyukai tindakan kejahatan dalam bentuk apapun hanyalah slogan-slogan yang tidak dimaknai oleh masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat, (Qorib, 2010: 211).
Di sinilah paling tidak, perlu diperhatikan kembali tentang peran pendidikan Islam bagi umat Islam itu sendiri. Islam sebagai “rohmatan lil ‘alamin” harus dapat diwujudkan, karena posisi umat Islam sebagai mayoritas, di satu sisi sangatlah
64
tidak menguntungkan. Dan ironisnya ternyata umat Islam dapat dikatakan hampir banyak ikut serta dalam setiap aksi kerusuhan. Mengapa bisa terjadi demikian, tentunya ada yang salah, “there is something wrong”. Atau bisa jadi pendidikan Islam belum mampu mendidik umatnya menjadi kaum pluralis, ini perlu dikaji kembali sebagai upaya perbaikan mutu pendidikan Islam itu sendiri.
B. Sebab-sebab Timbulnya Pluralisme.
Pemikiran pluralisme muncul pada masa yang disebut dengan masapencerahan di Eropa tepatnya pada abad ke-18 Masehi, masa yang disebut sebagai permulaan bangkitnya pemikiran modern. Yaitu masa yang diwarnai dengan wacana-wacana baru pergolakan pemikiran manusia yang berorientasi pada rasionalitas dan pembebasan akal dari kungkungan-kungkungan agama. Di tengah carut-marutnya pemikiran di Eropa yang timbul sebagai akibat dari konflik-konflik yang terjadi antara Gereja dan kehidupan di luar Gereja, munculah suatu paham yang dikenal dengan liberalisme, yang kemudian memunculkan banyak protes berbagai pihak yang tidak sejalan dengan konsep pemikiran Gereja sehingga terjadi dikotomi antara pihak Gereja dan masyarakat. Akibat yang ditimbulkan dari konflik Gereja dan masyarakat sehingga melahirkan “Kristen protestan”.
Kemudian perlu dicermati bahwa munculnya gagasan pluralisme dalam sejarah dilatarbelakangi oleh beberapa faktor antara lain: Faktor internal ideologis, faktor ideologis adalah kepercayaan yang mengharuskan secara mutlak bagi penganut ideologi untuk konsisten dan taat menjalankan konsep ideologi yang diyakininya. Dalam konteks sejarah munculnya pluralisme. Otoritas Gereja memainkan perannya untuk menghakimi masyarakat dengan aturan-aturan yang mengekang kebebasan berpikir dan berekspresi tanpa kemudian melihat sisi mafsadat dari aturan yang dibuatnya. Sehingga memunculkan protes dari kalangan masyarakat yang menuntut kebebasan berpikir, berekspresi dan berbicara tanpa harus terkekang dengan doktrin Gereja yang cendrung diskriminatif dan jumud.
65
Sehingga fenomena tersebut menjadi pemicu munculnya gagasan pluralisme yang menuntut adanya liberalisme.
Faktor eksternal yang memicu lahirnya pluralisme yaitu: (1) Faktor sosial- politik. Di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi, kemudian diperkuat oleh wacana sosial-politik, demokrasi, nasionalisme yang kemudian melahirkan sistem negara bangsa yang mengarah pada kehidupan era modern. Sehingga menuntut masyarakat dunia untuk saling menghormati, menghargai dan menjalin kerjasama kolektif yang didasari oleh tujuan dan orientasi kehidupan yang dibangun di atas toleransi di tengah keberagaman. (2) Faktor keilmuan memiliki kaitan yang erat dengan timbulnya teori pluralisme melalui ekspansi wacana tentang gagasan pluralisme yang disebarkan oleh ilmuwan- ilmuwan dalam berbagai kesempatan, seperti dalam diskusi, seminar, simposium dan gerakan-gerakan ilmiah lainya berupa tulisan dan pemikiran para tokoh pemerhati pluralisme. Dengan demikian berkembanglah gagasan pluralisme pada masyarakat dunia.
C. Pluralisme dalam Perspektif Islam
Dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat tentang pluralisme, bahkan Al-Qur’an berulangkali mengakui adanya manusia-manusia yang shaleh di dalam kaum-kaum Yahudi, Kristen, dan Shabi’in seperti pengakuannya terhadap adanya manusia- manusia yang beriman di dalam Islam. Sikap dan pengakuan Al-Qur’an terhadap pluralisme telah mencapai puncaknya dalam soal pluralisme ketika menegaskan sikap penerimaan Al-Qur’an terhadap agama-agama selain Islam untuk hidup bersama dan berdampingan. Yahudi, Kristen dan agama-agama lainnya, baik agamasamawimaupun agamaardhieksistensinya diakui oleh agama Islam.
Sikap Islam terhadap pluralisme terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi antara lain: (1) Islam mengakui keberagaman sebagai sunnatullah yang tak terbantahkan. (2) Islam memberikan hak hidup kepada pihak lain dengan
66
menghormati mereka, sepanjang mereka tidak menggangu umat Islam. (3) Islam mengakui banyaknya jalan yang bisa ditempuh oleh manusia dan perintah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. (4) Islam tidak memaksakan kehendak terhadap penganut agama lain.
Dengan demikian, terlihat begitu besar perhatian Al-Qur’an terhadap kelompok lain. Tentu yang melatarbelakangi semua itu adalah keinganan umat Islam untuk hidup damai dan rukun dengan yang lainnya tanpa melihat budaya, suku, bahasa, status sosial dan bahkan agama. Justru Islam melihat perbedaan itu perlu di ambil hikmahnya sebagai pendorong untuk menyemangati dalam mewujudkan kebaikan.
Namun, di sisi lain juga terdapat pandangan sebagian umat Islam yang memandang bahwa pluralisme adalah sesuatu yang merusak aqidah umat. Itu disebabkan cara penafsirannya yang cendrung subyektif, seperti ada yang mengatakan bahwa pluralisme sama dengan relativisme. Relativisme adalah pandangan yang melihat tidak ada kebenaran yang mutlak. Kemudian juga ada yang menyamakan bahwa pluralisme sama dengan sinkretisme yang meramu unsur-unsur tertentu dalam budaya, sosial-politik dan agama lalu kemudian dibentuk dalam satu keyakinan baru yang pada akhirnya akan membawa manusia pada keyakinan baru serta mencampakan keyakinan lama yaitu Islam. Padahal makna esensial pluralisme dalam Islam adalah saling memahami perbedaan yang ada tidak memaksakan kehendak kepada yang lainnya.
D. Pluralisme dalam Perspektif Barat
Pluralisme Barat muncul dilatarbelakangi oleh maraknya pemikiran liberalisme di bidang sosial politik yang menandai tatanan dunia abad modern.
Agama, sosial-politik dan budaya harus mampu menyesuaikan diri dengan wacana- wacana global, seperti HAM, demokrasi, egalitarianisme, dan pluralisme. Jika proses liberalisasi politik di Barat telah melahirkan "pluralisme politik", maka
67
liberalisasi agama juga melahirkan "pluralisme agama", yaitu memposisikan semua agama sebagai sama benarnya. Dengan demikian, pluralisme agama lahir dari rahim liberalisme politik.
Pluralisme dalam perspektif Barat terlihat dari beberapa hal:
1. Adanya pengakuan umat Kristen terhadap eksistensi umat agama lain, bahwa ada aktivitas penyelamatan di luar doktrin Gereja. Kristen memandang agama yang paling benar bahkan satu-satunya agama yang benar adalah agama Kristen, namun di sisi lain juga disadari bahwa semua agama dunia, semua agama besar menganjurkan hubungan serasi baik antar umat beragama dan saling menghormati antar penganut agama. Gereja memandang orang-orang Muslim dengan sikap hormat.
2. Etika pluralisme Barat, dalam hal ini adalah umat Kristen. Dakwah dalam Kristen diarahkan untuk tidak lagi mempengaruhi mereka yang belum atau bukan Kristen untuk masuk dalam agama Kristen, akan tetapi lebih tertuju pada usaha perwujudan membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan.
Implikasi pluralisme Barat antara lain:
1. Di era globalisasi dewasa ini, pertemuan unsur-unsur budaya, suku, ras, dan agama telah terjadi secara intens di dunia Barat tidak mengenal dimensi ruang dan waktu. Pluralisme dengan segala aspeknya akan mengiringi nilai-nilai secara parsial ke dalam kotak-kotak primordialisme. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa budaya, suku, ras, bahasa dan agama, selain dapat merupakan faktor pemersatu juga menjadi faktor penyebab konflik.
2. Doktrin agama Kristen juga menunjukkan adanya kesadaran bahwa pluralisme dapat menjadi tantangan bagi komunitas dunia Barat dalam membangun hubungan dengan kelompok lain.
E. Implementasi Pluralisme dalam Perspektif Islam
68
Implementasi pluralisme dalam Islam bukan hanya sekedar konsep teoritis belaka, tetapi sesungguhnya sudah teruji dalam lintasan sejarah Islam mulai dari periodesasi kenabian sampai hari ini. Pada periodesasi Nabi implemetasi pluralisme terlihat dalam sejarah “piagam madina”. Piagam ini memberikan teladan keadilan dan toleransi yang luar biasa diterapkan oleh Nabi pada masyarakat yang pluralis.
Ini adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan betapa Rasulullah memberikan kepada komunitas yang berbeda keyakinan, budaya, sosial politik tampa harus memaksa orang-orang Yahudi pada saat itu untuk memeluk agama Islam. Kaum Muslimin menjamin keselamatan orang-orang diluar Islam dengan melindungi jiwa dan harta mereka sepanjang mereka tidak mengganggu kaum Muslimin.
Hal yang samapun terjadi pada jaman khulafa’ rosyidin, dimana implemetasi pluralisme nampak terlihat pada keseharian mereka dengan orang diluar Islam.
Sebagaimana direkam dalam dokumen sejarah terkait kebijakan upaya yang dilakukan oleh Abu Bakar r.a, Umar r.a, Usman r.a, dan Ali r.a dalam meratifikasi perjanjian yang telah dibuat pada zaman Rasulullah. Dengan demikian terlihatlah bahwa sesungguhnya Islam bukan agama yang menutup diri dari komunitas yang berbeda dan tidak juga fanatisme golongan, tetapi sesungguhnya Islam sangat menghargai akan nilai pluralisme dalam kehidupan.
Berdasarkan data temuan yang terkait dengan program implementasi pluralisme dalam perspektif Islam, kami kemukakan beberapa aspek antara lain:
1. Program Implementasi pluralisme pendidikan di Indonesia. Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang pluralis dan toleran terdahap realitas keberagaman yang ada. Maka dipandang perlu untuk bisa menerapkan program-program yang mengarah pada pendidikan yang berorientasi pluralis. Program implementasi pluralisme dalam pendidikan di Indonesia antara lain: (1) Implementasi pendidikan multikultural dalam kurikulum pendidikan nasional.
Berbagai konsep yang berkaitan dengan multikulturalisme antara lain:
demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos kerja, kebersamaan
69
dalam perbedaan yang sederajat, suku bangsa dan kesukubangsaan, kebudayaan etnik, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, HAM, hak budaya dan konsep-konsep yang relevan. Berhasil dan tidaknya suatu tujuan pendidikan tergantung pendekatan dan metode yang digunakannya. (2) Program pendidikan pluralisme di antaranya adalah Memberikan pendidikan agama seperti fiqih dan tafsir tidak bersifat linier namun menggunakan pendekatan secara menyeluruh, mengembangkan kecerdasan sosial, siswa juga diberikan pendidikan lintas agama;
Menyelenggarakan progam road show lintas agama. Program road show lintas agama ini adalah progam nyata untuk menanamkan kepedulian dan solidaritas terhadap komunitas agama lain; menanamkan kesadaran spiritual, pendidikan Islam perlu menyelenggarakan progam seperti spiritual work camp; Pada bulan ramadhan, adalah bulan yang sangat strategis untuk menumbuhkan kepekaan sosial pada anak didik. Dengan menyelenggarakan “progam saur on the road”.
2. Peran guru dalam implemetasi pluralisme pendidikan. Guru perlu menekankan diversity dalam pembelajaran, antara lain dengan: (1) Mendiskusikan aneka budaya dan orang dari suku lain, dalam hidup bersama sebagai bangsa. (2) Mendiskusikan bahwa semua orang dalam budaya apapun ternyata juga menggunakan hasil kerja orang lain dari budaya lain. Dalam mengelompokan siswa di kelas maupun di luar kelas dalam kegiatan guru diharapkan melakukan keanekaan yang demikian pula.
3. Program Implementasi Pluralisme Sosial. Program implementasi pluralisme sosial dalam perspektif Islam akan terlihar dari beberapa penerapan yang dilakukan oleh umat islam Indonesia seperti: (1) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). (2) LSM Jaringan Insan Peduli (JIP). (3) Yayasan Peduli Anak Negeri (YPAN).
Implikasi penerapan pluralisme dalam Islam antara lain: (1) Terciptanya kesejahteraan yang menjadi harapan masyarakat. (2) Tercipta kerjasama dalam
70
membangun masyarakat madani. (3) Terwujudnya nilai humanisme universal. (4) Terhindar dari hegemoni kelompok mayoritas atas kelompok minoritas.
F. Implementasi Pluralisme dalam Perspektif Barat
Program implementasi pluralisme Barat sering dilakukan dengan beberapa cara antara lain: (1) Mengadakan dialog antar umat beragama. (1) Bekerjasama untuk menghadapi persoalan kemanusiaan dan persoalan bangsa, seperti yang terlihat dalam aksinya umat Kristiani ketika terjadi bencana alam yang berupa tanah longsor, tsunami di Aceh, gunung meletus, jatuhnya pesawat Air Asia, dan terlihat pula mereka sangat koperatif dalam aksi pemberantasan korupsi, karena korupsi dinilai sebagai musuh bersama bangsa Indonesia. (1) Semangat kebersamaan umat Kristiani dalam menjalin hubungan kekerabatan terhadap umat lain, itu ditandai dengan mengucapkan selamat hari-hari besar yang dirayakan oleh umat lain seperti mengucap selamat hari raya Idul Fitri, Idul Adha terhadap umat Islam, dan begitu pula terjadi ketika hari-hari besar umat agama lain seperti hari raya Waisak, dan hari raya Nyepi. (4) Membangun yayasan-yayasan Kristen yang turut berjuang untuk membumikan kesadaran pluralisme dalam berbangsa dan bernegara seperti yayasan Gereja Kristen dalam kudus yang telah membangun banyak sekolah di seluruh wilayah Indonesia dengan visi-misinya adalah memberitakan Injil Yesus kepada semua orang dan membangun toleransi dalam keberagaman. (5) Membangun yayasan sosial Kristen Salib Putih yang bergerak dalam bidang sosial seperti membangun panti asuhan, rumah sakit, pelayanan kesehatan gratis, siaga bencana dan beberapa aktivitas sosial lainnya.
Implikasi dari penerapan pluralisme Barat antara lain: (1) Dialog yang dilakukan antar pemeluk agama akan menghasil kesadaran dan solidaritas antar penganut agama yang berbeda, sehingga terjalin kehidupan saling menghargai dalam perbedaan. (2) Masyarakat dapat memaknai arti penting dari pluralisme, sehingga berimplikasi pada terbentuknya tatanan masyarakat yang sadar akan fenomena keberagaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (3) Dengan
71
keberadaan yayasan sosial dan pendidikan diharapkan akan menjadi sebuah instrument dalam menciptakan kesadaran masyarakat terhadap pluralisme dan keberagaman. (4) Dengan adanya penerapan pluralisme maka lahirlah kesadaran dari kalangan masyarakat untuk saling pengertian dan bersama-sama memadukan perdamaian, kebebasan, keadilan dan nilai moral dalam masyarakat.
G. Penutup
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil kajian antara lain:
1. Sebab-sebab timbulnya pluralisme dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: (1) Faktor internal ideoligis yang terkait dengan tuntutan akan kebenaran yang absolut dari agama-agama. (2) Faktor eksternal yaitu wacana- wacana sosial-politik, demokrasi, dan nasionalisme serta faktor keilmuan ditandai dengan maraknya studi-studi ilmiah modern terhadap agama- agama dunia.
2. Pluralisme dalam Islam, nampak dari 4 kategori penting yaitu. (1) Islam mengakui keberagaman. (2) Islam memberikan hak hidup kepada pihak lain dengan menghormati mereka, sepanjang mereka tidak menggangu umat Islam. (3) Islam mengakui banyaknya jalan yang bisa ditempuh oleh manusia dan perintah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. (4) Islam tidak memaksakan kehendak terhadap penganut agama lain.
3. Pluralisme dalam perspektif Barat terlihat pada doktrin Gereja yaitu pengakuan kehadiran dan aktivitas penyelamatan yang dilakukan Tuhan melalui semua tradisi agama serta tidak lagi melihat tradisi Kristiani sebagai satu-satunya jalan keselamatan.Paham inklusifisme masyarakat Barat dalam hal ini umat Kristiani, semakin tereduksi bersamaan dengan hadirnya gagasan pluralisme sehingga membuat masyarakat Barat semakin toleran dan membuka diri dengan komunitas lain di tengah realitas keberagaman.
72
4. Pluralisme dalam Islam dapat diimplementasikan dalam ranah pendidikan yang disebut dengan pendidikan multikultural sebagai sebuah proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitasnya sebagai konsekwensi keragaman budaya, etnis, suku, dan agama, serta juga dapat diimplementasikan dalam ranah sosial, seperti pengkajian, penelitian dan pendampingan kepada masyarakat terhadap persoalan-persoalan hukum, kesejahteraan sosial, budaya, pendidikan moral, dan terwujudnya keadilan serta penegakkan HAM. Sehingga terwijud masyarakat madani yang rukun dalam keberagaman.
5. Implementasi pluralisme dalam perspektif Barat dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain: (1) Mengadakan dialog antar umat beragama yang diadakan oleh pihak Kristen. (2) Bekerjasama untuk menghadapi persoalan kemanusiaan dan persoalan bangsa. (3) Membangun yayasan- yayasan Kristen yang turut berjuang untuk membumikan kesadaran pluralisme dalam berbangsa dan bernegara.
73
DAFTAR RUJUKAN
Al-Jauziyah, I. Q. 2013. Mukhtasar Zadul Ma’ad. Jakarta: Al-I’tishom.
Ghony, D, Almanshur, F. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Jakarta:
Ar-Ruzz Media.
Husain, A. 2004. Tinjauan Historis konflik Yahudi Kristen Islam. Jakarta: Gema Insan.
Harahap, S. 2011. Teologi Kerukunan. Jakarta: Prenada Media Group.
Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial.
Jakarta: Salemba Humanika.
Injil, Perjanjian Baru. 2000. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Moleong, L. J. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Maslikhah, 2007. Quo Vadis, Pendidikan Multikultural, Rekonstruksi Sistem Pendidikan Berbasis Kebangsaan. Surabaya: Media Grafika.
Madjid, N. 2004. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan.
Nurdin, M. A. 2014. Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta: Amzah.
Qorib, M. 2010. Solusi Islam. Jakarta: Dian Rakyat.
Rumadi, 2005. Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam. Bandung: Penerbit Nuansa..
Suseno, F.M. 2000. Suara Pembaharuan. Jakarta: Dian Rakyat.
Tilaar, H.A.R.2004. Multikulturalisme Tantangan-Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grassiondo.
Tobroni, 2012. Relasi Kemanusiaan dalam Keberagaman (Mengembangkan Etika Sosial melalui Pendidikan). Bandung: Karya Putra Darwati.
Thohah, A. M. 2006. Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis. Jakarta: Perspektif Kelompok GEMA INSANI.
74
Zainudin, M. 2010. Pluralisme Agama. Malang: UIN MALIKI PRESS.