KARYA TULIS ILMIAH
Literatur Review : Program Pencegahan Stunting Masyarakat Indonesia
Diajukan untuk mengikuti Karya Tulis Ilmiah Indonesian Nursing Student Competition (INSCO-1) Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI)
Disusun oleh : Citra Intan Pramudya Rini
NIM. 2018.01.004
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan William Booth Surabaya 2022
ii
iii
iv
Kata Pengantar
Puji Syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena dengan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul
“Program Pencegahan Stunting Masyarakat Indonesia.”
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai untuk mengikuti Karya Tulis Ilmiah Indonesian Nursing Student Competition (INSCO-1) Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI). Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak lepas dari bimbingan dan arahan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada Budi Artini, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku dosen pembimbing penyusunan karya tulis ilmiah.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, maka dengan itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Penulis berharap karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama dalam memajukan Indonesia Bebas Stunting.
.
Surabaya20 Juli 2022
Penulis
v Daftar Isi
Halaman Judul ...
Lembar Pengesahan ... ii
Pernyataan Keaslian Karya Tulis... iii
Kata Pengantar ... iv
Daftar Isi ... v
Abstrak ... 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 2
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Stunting ... 4
2.2 Tanda dan Gejala Stunting ... 4
2.3 Faktor Penyebab Stunting ... 4
2.4 Intervensi pada Stunting ... 5
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Strategi Pencarian Literatur ... 7
3.2 Kriteria Inklusi dan Ekslusi ... 8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pencarian ... 9
4.2 Pembahasan
... 10
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 13
5.2 Saran
... 13
Daftar Pustaka ... 14
Lampiran ... 15
1 Abstrak
Latar Belakang Stunting adalah terhambatnya pertumbuhan pada anak akibat kurangnya gizi dalam jangka waktu yang panjang sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya yang ditandai dengan perkembangan saat remaja terganggu, tes pehatian dan ingatan belajar buruk, terlambatnya pertumbuhan gigi, lebih pendiam saat usia 8-10 tahun, tidak ada kontak mata saat berinteraksi., pertumbuhan lambat, paras tampak lebih muda dari usianya sehingga diperlukan penanganan yang serius. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui intervensi spesifik (edukasi gizi pada ibu hamil, pemberian ASI Ekslusif dan MPASI) dalam upaya Indonesia bebas Stunting. Metode penelitian Deskriptif dengan Literatur Review yang terdiri dari 3 jurnal tentang edukasi gizi, 4 jurnal tentang ASI Ekslusif dan 3 jurnal tentang MPASI. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa intervensi spesifik berupa edukasi gizi ibu hamil, pemberian ASI Ekslusif dan MPASI yang bervariasi dapat mencukupi kebutuhan gizi anak sehingga anak memiliki risiko kecil mengalami Stunting. Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa diterapkan sehingga dapat mengurangi angka kejadian Stunting Kata Kunci : ASI Ekslusif, Edukasi Gizi Ibu Hamil, MPASI, Stunting
2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Stunting adalah terhambatnya pertumbuhan pada anak akibat kurangnya gizi dalam jangka waktu yang panjang sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya. Kurangnya gizi pada anak terjadi secara tidak langsung dan lambat mulai dari waktu ibu hamil hingga anak dilahirkan dan akan tampak pada saat anak usia 2 tahun (Djauhari, 2017). Stunting ditandai dengan perkembangan saat remaja terganggu, tes perhatian dan ingatan belajar buruk, terlambatnya pertumbuhan gigi, lebih pendiam saat usia 8-10 tahun, tidak ada kontak mata saat berinteraksi., pertumbuhan lambat, paras tampak lebih muda dari usianya (Sandjojo, 2017).
Masalah stunting dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan pada anak pada saat remaja sehingga perlu diberikan intervensi yang serius.
Berdasarkan data BKKBN, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengumumkan Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGI) 2021 yaitu angka Stunting di Indonesia mengalami penurunan sebesar 3,3% dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 24,4% di tahun 2021. Di Jawa Timur sendiri juga mengalami penurunan 3,35% yaitu dari 26,86 % pada tahun 2019 menjadi 23,5% di tahun 2021 (HaloJatim, 2021).
Faktor utama penyebab masalah Stunting adalah faktor ibu yang mana ibu saat remaja mengalami kurang gizi dan anemi. Selain itu pada saat kehamilan, asupan nutrisi ibu kurang bergizi sehingga dapat menyebabkan kurang energi kronik (KEK) dan terjadinya anemia selama hamil (Kemenkes RI, 2018). Selain faktor kehamilan ada juga faktor dari pemberian ASI Ekslusif yang kurang konsisten serta pemberian MPASI sesuai dengan usia anak.
Intervensi yang dapat dilakukan pada anak stunting yaitu intervensi gizi spesifik yang berfokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan berupa ASI Ekslusif serta pemberian MPASI dan intervensi sensitif untuk masyarakat umum (Sandjojo, 2017). Dalam mengatasi Stunting, peneliti berupaya memberikan intervensi yang kompleks, intervensi diberikan sejak saat kehamilan hingga usia anak 2 tahun atau 24 bulan berupa ddukasi pada ibu hamil yang mengutamakan
3
edukasi gizi, pemberian ASI Ekslusif pada bayi baru lahir dan pemberian MPASI sesuai usia anak.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah Program Pencegahan Stunting Masyarakat Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk menjelaskan Program Pencegahan Stunting Masyarakat Indonesia
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Sebagai sarana meningkatkan ilmu pengetahuan terkait program yang ada di masyarakat tentang mengatasi stunting.
1.4.2 Manfaat Praktis
Untuk mencegah peningkatan kejadian stunting masyarakat di Indonesia.
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Stunting
Stunting adalah terhambatnya pertumbuhan pada anak akibat kurangnya gizi dalam jangka waktu yang panjang sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya. Kurangnya gizi pada anak terjadi secara tidak langsung dan lambat mulai dari waktu ibu hamil hingga anak dilahirkan dan akan tampak pada saat anak usia 2 tahun (Djauhari,2017).
Stunting yaitu kurangnya gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama dan asupan gizi yang tidak sesuai. (Sandjojo, 2017).
Dari teori tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa Stunting adalah kegagalan pertambahan tinggi badan pada anak akibat kurang asupan gizi dalam waktu yang cukup lama yang tanda dan gejalanya mulai terlihat di usia 2 tahun.
2.2 Tanda dan Gejala Stunting
Tanda dan gejala anak yang terkena stunting menurut (Sandjojo, 2017) sebagai berikut :
1) Perkembangan saat remaja terganggu.
2) Tes pehatian dan ingatan belajar buruk.
3) Terlambatnya pertumbuhan gigi 4) Lebih pendiam saat usia 8-10 tahun 5) Tidak ada kontak mata saat berinteraksi.
6) Pertumbuhan lambat
7) Paras tampak lebih muda dari usianya.
2.3 Faktor Penyebab Stunting 2.3.1 Asupan gizi
Zat gizi yang dimaksud adalah makanan yang dikonsumsi mengandung karbohidrat, protein yang berfungsi dalam proses pertumbuhan dan mengganti sel- sel yang rusak. Faktor yang mempengaruhi asupan gizi yaitu :
1) Tingkat Pendidikan Ibu
Tingkat pendidikan mempengaruhi proses penerimaan informasi yang disampaikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, maka semakin
5
mudah dalam menerima informasi dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebaliknya, semakin rendah pendidikan ibu, maka semakin sulit untuk menerima informasi baru terutama tentang gizi yang yang dapat mengakibatkan terjadinya malnutrisi pada anak.
2) Pengetahuan Gizi Ibu
Malnutrisi pada anak terjadi akibat kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi sehingga perlu dilakukan penyuluhan atau pendidikan kesehatan dalam upaya memperbaiki sikap ibu yang kurang menguntungkan pada pertumbuhan anak.
3) Pendapat Orang Tua
Terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan orang tua dengan kejadian Stunting. Hal ini disebabkan karena apabila pendapatan orangtua tinggi maka kebutuhan gizi anak akan tersedia dan sebaliknya, jika pendapatan orang tua rendah maka kebutuhan gizi anak tidak akan tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan. (Andrian & Bambang, 2012)
2.3.2 Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
BBLR merupakan indikasi bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu sehingga organ-organ tubuh belum matur. Hal ini menyebabkan bayi memiliki risiko tinggi terjadi komplikasi yang berbahaya.
2.3.3 ASI Ekslusif
ASI Ekslusif diberikan pada anak sejak lahir paling kurang selama 4-6 bulan untuk mencegah anak terkena penyakit seperti masalah pencernaan dan pernafasan. Hal ini disebabkan karena pada kolostrum ASI terdapat antibodi yang dapat menjaga neonatus dari alergi dan membantu pertumbuhan neonatus.
2.4 Intervensi Pada Stunting
Intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting menurut (Fitriami, 2021) yaitu :
2.4.1 Ibu hamil
Pada saat ibu hamil diperlukan pendidikan kesehatan guna menambah pengetahuan tentang cara yang tepat dalam mengatasi kejadian stunting berupa perbaikan nutrisi selama hamil. Sehingga ibu terhindar dari masalah kesehatan kekurangan energi kronik (KEK) yang dapat menyebabkan cadangan nutrisi yang
6
diperlukan janin tidak adekuat dan menghambat pertumbuhan maupun perkembangan janinnya dan melahirkan dengan bayi yang pendek. (Najahah, 2013). Penyebab terjadinya kurangnya gizi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu karena pengetahuan ibu memiliki peran yang penting dalam memilih sumber makanan sebagai pemenuhan gizi keluarga terutama saat ibu sedang hamil (Andriani & Wirjatmadi, 2014).
2.4.2 Bayi lahir
Pada bayi baru lahir dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD) dan diberikan ASI Ekslusif saja hingga usia 6 bulan. Pada usia bayi 0-6 bulan, enzim pada tubuhnya belum mampu untuk mencerna makanan selain ASI sehingga kebutuhan nutrisinya hanya tercukupi melalui ASI (Kemenkes RI, 2012). ASI juga merupakan sumber gizi seimbang sebagai sumber makanan bayi baik kualitas dan kuantitasnya yang dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayi normal hingga usia 6 bulan (Roesli, 2013).
2.4.3 Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Usia bayi 6 bulan diberikan asupan makan pendamping asi (MPASI) hingga usia bayi 2 tahun atau lebih. MPASI merupakan makanan pendamping ASI yang apabila diberikan terlalu cepat atau usia kurang dari 6 bulan, bayi akan berisiko mengalami masalah pencernaan. Namun sebaliknya, jika diberikan terlalu lambat atau lebih dari 6 bulan maka akan mengakibatkan bayi kekurangan nutrisi dan menghambat pertumbuhan serta perkembangannya (AL-Rahmad, 2013).
Ketidak adekuatnya asupan makanan pendamping ASI atau MPASI menjadi penyebab langsung terjadinya stunting. Kurangnya asupan nutrisi terutama protein dapat menjadi penyebab terjadinya gagal tumbuh pada anak. Protein dapat tercukupi apabila energi terpenuhi. Apabila asupan energi tidak tercukupi, maka protein yang ada digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi. Protein yang berkurang akibat dijadikan sebagai sumber energi dapat menyebabkan laju pertumbuhan terhambat karena protein memiliki peran penting dalam mengangkut zat gizi dari saluran cerna. (Febrindari & Nuryanto, 2016).
7 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Strategi Pencarian Literatur
3.1.1 Framework yang digunakan
Teknik yang diterapkan dalam mencari jurnal atau artikel yang berhubungan dengan penelitian ini adalah PICOS Fraamework yang terdiri dari :
1. Problem/Population adalah sebuah masalah yang akan dianalisa oleh peneliti
2. Implementasi/Intervention adalah tindakan atau strategi yang dilakukan dalam mengatasi masalah yang timbul.
3. Kontrol/Comparation adalah Alternative atau tindakan lain yang dapat dilakukan yang bersifat sebagai pembeda.
4. Outcome adalah hasil yang diperoleh dari penelitian jurnal yang direview.
5. Study Design adalah desain penelitian yang digunakan pada jurnal yang di review.
3.1.2 Kata Kunci
Penelitian yang dilakukan ini berfokus pada 3 variabel yang berbeda yaitu edukasi gizi ibu hamil, ASI Ekslusif dan Pemberian MP-ASI terhadap kejadian stunting sehingga menggunakan keyword atau kata kunci yang berbeda. Pada variabel edukasi gizi ibu hamil, kata kunci yang digunakan dalam pencarian jurnal yaitu “Edukasi Gizi” AND “Ibu Hamil” AND “Stunting”. Sedangkan pada variabel ASI Ekslusif menggunakan kata kunci “ASI Ekslusif” AND “Stunting”
dan pada variabel Pemberian MP-ASI menggunakan kata kunci “MPASI” AND
“Stunting”. Penggunaan kata kunci dalam pencarian jurnal dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah saat menentukan jurnal yang akan direview.
8 3.1.3 Database
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data sekunder karena peneliti tidak langsung berinteraksi dengan responden dan didapatkan dari penelitian sebelumnya. Pencarian jurnal yang terkait dengan penelitian ini menggunakan database berupa Google Scholar.
3.2 Kriteria Inklusi dan Ekslusi
Tabel 3.1 Kriteria inklusi dan ekslusi menggunakan format PICOS
Kriteria Inklusi Ekslusi
Problem
Jurnal atau artikel yang
berhubungan dengan
penelitian adalah Edukasi gizi ibu hamil, pemberian ASI ekslusif dan MPASI pada balita stunting
Jurnal atau artikel yang berupa edukasi pemberian ASI dan MPASI pada balita stunting
Implementasi
Pemberian edukasi ibu hamil, ASI Ekslusif dan MPASI dengan kejadian stunting
Jurnal atau artikel yang belum ada tindakan secara langsung
Comparation Tidak ada tindakan pembanding
Tidak ada tindakan pembanding
Outcome
Terdapat hubungan edukasi gizi ibu hamil, ASI Ekslusif dan MPASI terhadap kejadian stunting
-
Study Design
True Eksperimental. Quasy Eksperiment, Study Analitik, Cross Sectional, Case Control
Tidak ada batasan
Tahun terbit
Jurnal atau artikel yang dipublikasikan pada tahun 2019 – 2022
Jurnal atau artikel yang dipublikasikan sebelum tahun 2019
Bahasa Bahasa Indonesia -
9 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pencarian
Berdasarkan hasil pencarian jurnal sesuai kata kunci yang telah ditentukan menggunakan Google Scholar didapatkan 715 jurnal tentang edukasi gizi ibu hamil, 4.190 jurnal tentang ASI Ekslusif dan 1.060 jurnal tentang MPASI pada kejadian stunting, dimana terdapat 617 jurnal edukasi gizi ibu hamil, 3.210 jurnal ASI Ekslusif dan 857 jurnal MPASI pada kejadian stunting terbitan 3 tahun terakhir. Kemudian jurnal dipilah sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan peneliti, apabila jurnal tidak sesuai, maka termasuk dalam kriteria Eksklusi sehingga didapatkan 10 jurnal yang terdiri dari 3 jurnal tentang gizi ibu hamil, 4 jurnal ASI Ekslusif dan 3 jurnal pemberian ASI terhadap kejadian stunting.
Edukasi Gizi Pada Ibu Hamil
N = 715
ASI Ekslusif pada Stunting N = 4.190
MPASI pada Stunting N = 1.060
3 tahun terakhir N = 617
3 tahun terakhir N = 857 3 tahun terakhir
N = 3.210
Jurnal yang memiliki judul
artikel sesuai topik N = 9
Jurnal yang memiliki judul
artikel sesuai topik N = 14 Jurnal yang
memiliki judul artikel sesuai
topik N = 29
Jurnal pencarian akhir yang dapat dianalisa sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan oleh peneliti
Edukasi Gizi = 3 ASI Ekslufif = 4
MPASI = 3
Gambar 3.1 Diagram Alur Review Jurnal
10 4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil jurnal penelitian Melati (2021), Listyarini (2020) dan Rantesigi (20202) menyatakan bahwa pemberian edukasi kesehatan terutama tentang gizi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa media seperti booklet ataupun whatsapp Group yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang zat gizi yang diperlukan selama hamil serta perubahan perilaku ibu hamil misalnya ibu lebih tau makanan yang dikonsumsi sehari-hari dan pola makan selama masa kehamilan. Pada saat ibu hamil diperlukan pendidikan kesehatan guna menambah pengetahuan tentang cara yang tepat dalam mengatasi kejadian stunting berupa perbaikan nutrisi selama hamil. Sehingga ibu terhindar dari masalah kesehatan kekurangan energi kronik (KEK) yang dapat menyebabkan cadangan nutrisi yang diperlukan janin tidak adekuat dan menghambat pertumbuhan maupun perkembangan janinnya dan melahirkan dengan bayi yang pendek. (Najahah, 2013). Penyebab terjadinya kurangnya gizi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan ibu karena pengetahuan ibu memiliki peran yang penting dalam memilih sumber makanan sebagai pemenuhan gizi keluarga terutama saat ibu sedang hamil (Andriani & Wirjatmadi, 2014). Hasil analisa peneliti menyatakan bahwa ibu hamil perlu diberikan edukasi mengenai kesehatan terutama kebutuhan gizi yang diperlukan selama proses kehamilan. Gizi yang cukup pada ibu dapat mempengaruhi kesehatan janin selama dalam kandungan. Apabila pengetahuan ibu mengenai asupan gizi kurang, maka makanan yang dikonsumsi ibu juga tidak mengandung gizi yang seimbang. Selain itu, pengetahuan ibu merupakan faktor penting yang harus dikembangkan agar dapat mengasuh, merawat dan memberikan asupan yang bergizi pada anak sehingga gizi pada anak dan keluarga juga terpenuhi. Dalam mengembangkan pengetahuan ibu hamil terutama mengenai gizi selama kehamilan diperlukan edukasi gizi yang terus menerus untuk merubah perilaku ibu menjadi lebih positif dan pengetahuannya pun berkembang.
Hasil penelitian yang dilakukan Pusparini (2019), Chyntaka (2019), Elba (2021) dam Yuliani (2022) menyatakan bahwa ASI ekslusif diberikan kepada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan karena didalam ASI terdapat antibodi dan zat gizi yang membantu pertumbuhan serta perkembangan bayi. Pada bayi baru lahir
11
dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD) dan diberikan ASI Ekslusif saja hingga usia 6 bulan. Pada usia bayi 0-6 bulan, enzim pada tubuhnya belum mampu untuk mencerna makanan selain ASI sehingga kebutuhan nutrisinya hanya tercukupi melalui ASI (Kemenkes RI, 2012). ASI juga merupakan sumber gizi seimbang sebagai sumber makanan bayi baik kualitas dan kuantitasnya yang dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan bayi normal hingga usia 6 bulan (Roesli, 2013). Peneliti menganalisa bahwa pada bayi yang baru lahir perlu diberikan ASI Ekslusif hingga usia 6 bulan terutama pemberian colostrum yang keluar setelah melahirkan berwarna kekuningan yang berfungsi untuk membantu keluarnya mekonium yang merupakan kumpulan tinja sebelum bayi lahir sehingga bayi terhindar dari penyakit kuning. Selain itu ASI mengandung banyak zat gizi yang diperlukan oleh tubuh seperti, karbohidrat yang dapat membantu mengurangi bakteri jahat dan memperbanyak bakteri baik, protein yang dapat membantu mencegah terjadinya infeksi, lemak yang dapat membatu perkembangan otak, sistem saraf dan retina bayi, vitamin yang digunakan untuk pertumbuhan bayi, dan mineral seperti zinc yang dapat menunjang tumbuh kembang bayi, penyerapan nutrisi dan memperkuat tulang, otot serta saraf. Sehingga dengan diberikannya ASI Ekslusif maka kebutuhan gizi bayi akan terpenuhi secara menyeluruh dan dapat membantu pertumbuhan anak.
Penelitian yang dilakukan Wandini (2020), Nurdin (2019) dan Widaryanti (2019) menyatakan bahwa variasi MPASI, jadwal pemberain MPASI mempengaruhi kejadian stunting. MPASI merupakan makanan pendamping ASI yang apabila diberikan terlalu cepat atau usia kurang dari 6 bulan, bayi akan berisiko mengalami masalah pencernaan. Namun sebaliknya, jika diberikan terlalu lambat atau lebih dari 6 bulan maka akan mengakibatkan bayi kekurangan nutrisi dan menghambat pertumbuhan serta perkembangannya (AL-Rahmad, 2013).
Ketidak adekuatnya asupan makanan pendamping ASI atau MPASI menjadi penyebab langsung terjadinya stunting. Kurangnya asupan nutrisi terutama protein dapat menjadi penyebab terjadinya gagal tumbuh pada anak. Protein dapat tercukupi apabila energi terpenuhi. Apabila asupan energi tidak tercukupi, maka protein yang ada digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi. Protein yang berkurang akibat dijadikan sebagai sumber energi dapat menyebabkan laju
12
pertumbuhan terhambat karena protein memiliki peran penting dalam mengangkut zat gizi dari saluran cerna. (Febrindari & Nuryanto, 2016). Analisa peneliti menyatakan bahwa pemberian MPASI pada anak 7 – 23 bulan. MPASI merupakan makanan pendamping ASI yang pemberiannya dilakukan secara bersamaan dengan ASI. MPASI diberikan untuk memenuhi 200 kalori yang dibutuhkan tubuh sedangkan ASI 400 kalori. Hal ini dilakukan karena semakin bertambahnya usia anak, maka semakin meningkat kebutuhan nutrisi anak sehingga ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut. Selain itu makanan tambahan yang bertekstur padat diperlukan tubuh untuk melatih kekuatan motorik bayi. Pemberian MPASI juga perlu diperhatikan karena apabila pemberiannya sebelum usia anak 6 bulan maka anak belum siap dalam menerima makanan dan berisiko tersedak serta munculnya gangguan pencernaan. Namun sebaliknya, jika pemberiannya terlambat atau dimulai lebih dari usia anak 6 bulan maka akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak dan berisiko mengalami stunting. Terdapat strategi dalam pemberian MPASI yaitu tepat waktu sesuai dengan usia, gizi yang variatif atau yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, makanan aman dan higienis. Dengan terpenuhinya zat gizi melalui MPASI, anak anak memiliki risiko kecil mengalami stunting.
Berdasarkan analisa peneliti menyatakan bahwa strategi yang dapat dilakukan dalam mengurangi atau mencegah terjadinya stunting yaitu dengan dilakukan intervensi yang berurutan sejak hamil hingga anak usia 2 tahun dan selalu terdapat pemantauan terhadap intervensi yang dilakukan. Intervensi tersebut berupa edukasi ibu hamil terutama tentang gizi, pemberian ASI Ekslusif dan MPASI atau makanan pendamping ASI.
13 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Terdapat tiga intervensi yang dapat dilakukan dalam mencegah peningkatan kejadi stunting yaitu pemberian edukasi gizi pada ibu hamil karena Edukasi ibu hamil terutama tentang gizi yang dibutuhkan selama kehamilan sehingga dapat menambah pengetahuan ibu dalam pencegahan stunting sejak dini. Pemberian ASI Ekslusif yang dilakukan sejak bayi baru lahir hingga usia 6 bulan karena ASI mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, protein yang dapat mencegah infeksi, lemak yang dapat membatu perkembangan otak, sistem saraf dan retina bayi, vitamin yang digunakan untuk pertumbuhan bayi, dan mineral seperti zinc yang dapat menunjang tumbuh kembang bayi, penyerapan nutrisi dan memperkuat tulang, otot serta saraf. Pemberian MPASI atau makanan pendamping ASI yang tepat dan variatif karena kebutuhan nutrisi tubuh bertambah seiring bertambahnya usia dan apabila pemberian MPASI terlambat maka anak akan berisiko tinggi mengalami stunting.
5.2 Saran
Diharapkan peneliti dapat mengembangkan intervensi yang dilakukan dalam upaya mengurangi kejadian stunting dan memperluas pencarian sumber-sumber sebagai acuan pembuatan literature review.
14
Daftar Pustaka
Adriani, M., & Bambang, W. (2012). Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Andri. (2022, Januari 11). HaloJatim : Angka Stunting Di JATIM Menurun Selama 2021. Diakses dari https://halojatim.com/read/angkat-stunting-di- jatim-menurun-selama-2021.
Chyntaka,M.Putri,N,Y. (2019). Riwayat Pemberian ASI Ekslusif dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-60 bulan. Jurnal Ilmiah Bidan. 7 (1). 8 – 13.
Djauhari, T. (2017). Gizi Dan 1000 HPK. Saintika Medika 13(2) : 125.
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sainmed/article/view/5554
Elba, F. Putri, M. (2021). Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Terhadap Kejadian Balita Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinangor. Jurnal Sehat Masada. XV (2). 271 – 278.
Kemenkes RI. (2018). Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Pusat Data Dan Informasi, Kementerian Kesehatan RI.
Listyarini,A,D. Fatmawati,Y (2020). Edukasi Gizi Ibu Hamil Dengan Media Booklet Tentang Perilaku Pencegahan Balita Stunting Di Wilayah Puskesmas Undaan Kabupaten Kudus. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Bidan. 11 (1) . 100 – 105.
Melati. I.K, Afifah. C.A.N. (2021). Edukasi Gizi Pencegahan Stunting Berbasis Whatsapp Group Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil.
Jurnal Pangan Kesehatan Dan Gizi. 1 (2). 61 – 69.
http://journal.binawan.ac.id/JAKAGI
Nurdin, S,S,I. Katili, D,N,O. Ahmad, Z, F. (2019). Faktor Ibu, Pola Asuh Anak dan MPASI terhadap Kejadian Stunting di Kabupaten Gorontalo. Jurnal Riset Kebidanan Indonesia. 3 (2). 74 – 81.
Rahmawati, R. (2021). Hubungan Status Gizi Ibu Hamil Terhadap Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas Mungkid Kabupaten Magelang. Skripsi.
Universitas Muhammadiyah Magelang.
Sandjojo, E. (2017). Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta:
Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi.
Wandini, R. Rilyani, Resti, E. (2021). Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita. Jurnal
Kebidanan Malahayati. 7 (2). 274 – 278.
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kebidanan.
15 LAMPIRAN 1
Tabel Litertaur Review
No. Author Tahun,
Tempat Penelitian
Judul Metode
(Desain, Teknik Sampling, Sampel,
Analisis)
Hasil Penelitian
1. Ika Putri Melati, Choirul Anna Nur Afifah
2021, Desa Kuripan
Sari Mojokerto
Edukasi Gizi Pencegahan Stunting Berbasis Whatsapp Group Untuk
Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil
D : True Eksperimental, Pretest postest with control group
T : Purposive Sampling S : 19 Ibu Hamil A : Paired T-Test
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa kelompok eksperimen rata-rata nilai pretest 36 dan postest 83. Sedangkan pada kelompok yang tidak diberikan edukasi memiliki nilai pretest 32,2 dan posttest 32,7. sehingga disimpulkan bahwa edukasi gizi pada ibu hamil mampu meningkatkan pengetahuan ibu tentang pencegahan stunting.
2. Anita Dyah Listyarini, Yayuk Fatmawati
2020 Puskesmas
Undaan Kabupaten
Kudus
Edukasi Gizi Ibu Hamil Dengan Media Booklet Tentang Perilaku Pencegahan Balita Stunting Di Wilayah Puskesmas Undaan
Kabupaten Kudus
D : Quasy Eksperiment, one group pretest postest design
T : Total Sampling S : 54 Ibu Hamil A : Paired T-Test
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku ibu sebelum diberkan edukasi gizi yang kurang sebanyak 20(37%), cukup 17(31.5%), dan baik sebanyak 17 (31.5%) responden, dan setelah diberikan edukasi gizi mengguunakan media booklet perilaku ibu yang kurang sebanyak 4 (7.4%) dan cukup 5 (9.3%) dan baik sebanyak 45(83,3%). Media booklet dipilih peneliti sebagai media pendidikan kesehatan karena dapat menyebarkan informasi dalam waktu singkat sehingga dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil.
16 3. Nirva
Rantesigi, Agusrianto, Dewi
Nurviana, A Marian Ulfa
2022 Desa Tete
B, Kec Ampana, Kab Tojo Una-Una
Edukasi Gizi Masa Kehamilan Meningkatkan Pengetahuan Ibu Hamil dalam Mencegah
Stunting
D : Pra-Eksperimen T : Total sampling S : 10 Ibu hamil A : Kuesioner
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa 10 ibu hamil mengalami perubahan pengetahuan setelah diberikan edukasi yaitu sebelum diberikan edukasi ibu yang memiliki pengetahuan baik sebesar 40% dan setelah diberikan edukasi, ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik sebesar 80%. Hal ini dibuktikan dengan ibu menjadi tau menu makanan sehari-hari, pola makan selama hamil dan dampak buruk yang terjadi apabila kekurangan gizi selama hamil sehingga dapat lebih siap menjaga keseimbangan nutrisi guna memutus rantai kejadian Stunting.
4. Dewi Pusparani, Putri Vidiasari, Nurul Hidayah
2019 Puskesmas Teluk Tiram Banjarmasin
Pengaruh riwayat
pemberian ASI Ekslusif dengan Kejadian
Stunting pada Balita
D :Survey Analitik, cross sectional
T : Simple Random Sampling
S : 47 balita
A : Uji Fishers Exact
Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa dari 47 balita, sebanyak 34 balita mengalami stunting dan didominasi balita yang berjenis kelamin lakiki yaitu 21 balita.
Menurut peneliti, balita yang tidak mendapatkan ASI akan memiliki masalah kekurangan gizi yang menyebabkan stunting terutama pada laki-laki membutuhkan asupan energi yang lebih besar sehingga apabila asupan gizi tidak terpenuhi makan mengalami gangguan pertumbuhan.
5. Mayang Chyntaka, Nanda Yansih Putri
2019 Desa Pabean Ilir Kecamatan Pasekan
Riwayat Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian
Stunting pada Balita Usia 24-60
D : Study Analitik, Cross- Sectional
T : Tehnik accidental S : 66 balita 24 -60 bulan
berdasarkan hasil penelitian, responden yang memiliki riwayat ASI Eksklusif sebanyak 41 balita tidak mengalami stunting dan responden yang tidak memberikan ASI Eksklusif 5 balita mengalami stunting sehingga peneliti menyatakan bahwa ASI
17 Kabupaten
Indramayu,
Bulan
A : Chi-square
Ekslusif berkontribusi dalam pemenuhan nutrisi bayi sejak lahir yang diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan hidup bayi.
6. Fardila Elba, Mega Putri
2021 Puskesmas
Jatinangor
Hubungan
Pemberian Asi Eksklusif
Terhadap
Kejadian Balita Stunting Di Wilayah Kerja Puskesmas
Jatinangor
D : Kuantitatif T : Total Sampling S : 100 balita stunting A : Ci-Square
Hasil penelitian menyatakan bahwa sebesar 80 balita stunting mendapatkan ASI Eksklusif dan 20 balita stunting tidak mendapatkan ASI Eksklusif. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan ASI Eksklusif karena didalam ASI terdapat antibodi yang baik sehingga anak tidak mudah sakit. Selain itu, ASI juga mengandung beberapa zat gizi yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan bayi.
7. Rita Yuliani, Dadang Rosmana, dkk
2022 Puskesmas Jatinunggal
Kabupaten Sumedang
Status Gizi Ibu Saat Hamil, Berat Badan Bayi Lahir Dan Pemberian Asi Eksklusif Terhadap
Kejadian Stunting
D : Observasional, Cross sectional
T : Pusposive Sampling S : 64 balita usia 0 – 59 bulan
A : Uji Regresi Logistik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40 balita yang diberikan ASI Eksklusif menjadi anak stunting sebanyak 8 dan tidak stunting 32 anak. Sedangkan 24 balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif menjadi anak stunting sebanyak 17 dan tidak stunting 7 anak. Peneliti menyetakan bahwa ASI mengandung nutrisi yang lengkap untuk tumbuh dan kembang bayi sehingga dapat mencegah stunting.
8. Riska Wandini, Rilyani, Eneng Resti
2020 Puskesmas
Hanura Kecamatan
Teluk
Pemberian Makanan
Pendamping Asi (Mp-Asi)
Berhubungan Dengan Kejadian
D : Cross Sectional T : Total Sampling S : 100 Ibu yang memiliki balita 7 – 24
Hasil penelitian ini mneyatakan bahwa dari 100 ibu yang sebagai responden, sebanyak 54 ibu yang memberi MP-ASI sesuai dengan usia dan 38 ibu memberikan MP-ASI tidak sesuai usianya. Dan sebanyak 68 balita mengalami stunting sedangkan 32 balita tidak
18 Pandan Stunting Pada
Balita
bulan
A : Uji Chi-Square
mengalami stunting. Variasi pemberian MPASI, jadwal pemberian memiliki hubungan yang erat dengan kejadian stunting.
Selain itu faktor lain yang mempengaruhi stunting adalah tidak diterapkannya pemberian ASI Ekslusif.
9. Siti Surya Indah Nurdin dkk
2019 Kabupaten
Gorontalo
Faktor Ibu, Pola Asuh Anak, Dan MPASI Terhadap Kejadian Stunting Di Kabupaten Gorontalo
D : Case Control
T : Simple Random Sampling
S : 59 responden
A : Uji Bivariat dan Multivariat
Hasil penelitian menyatakan sebanyak 44 balita mendapatkan MP-ASI yang monoton dan 15 balita mendapatkan MP-ASI yang variatif. Sehingga peneliti menyatakan balita yang mendapatkan MP-ASI monoton lebih berisiko mengalami stunting daripada balita yang mendapatkan MP-ASI variatif. Pada umumnya ibu di daerah gorontalo lebih memilih memberikan bubur sereal dalam kemasan kepada bayi karena sedikit praktis.
10. Rahayu Widaryanti
2019 Puskesmas
Kalasan, Sleman
Makanan
Pendamping Asi Menurunkan Kejadian
Stunting Pada Balita Kabupaten Sleman
D : Case Control T : Kuesioner
S : 50 kelompok kasus, 50 kelopok kontrol A : Uji Chi-Square
Hasil penelitian menyatakan bahwa sebanyak 48 balita mendapatkan MP-ASI yang tepat tidak mengalami stunting dan 52 balita yang mendapatkan MP-ASI tidak tepat mengalami kejadian stunting. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kejadian stunting berhubungan dengan pemberian MP-ASI.
19 LAMPIRAN 2
DAFTAR RIWAYAT HIDUP I. DATA PRIBADI
Nama : Citra Intan Prsamudya Rini Tempat, Tanggal Lahir : Lamongan, 28 November 1999 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : S1 Keperawatan
Alamat : Perum Uka 10/29, Kel. Sememi, Kec. Benowo,Surabaya, Jawa Timur.
Email : [email protected] No. Telepon / Hp : 0895327480103
Status : Belum Kawin
Tinggi Badan : 155 Cm Golongan Darah : B
Kewarganegaraan : Indonesia
II. RIWAYAT PENDIDIKAN
TAHUN PENDIDIKAN NAMA LEMBAGA
PENDIDIKAN
2004 – 2006 TK RA/TK AL - HIDAYAH
2006 – 2012 SD SDN SEMEMI 1 SURABAYA
2012 – 2015 SMP SMP NEGERI 26 SURABAYA
2015 – 2018 SMA SMA NEGERI 11 SURABAYA
2018 -
SEKARANG S1 STIKes WILLIAMBOOTH
SURABAYA
III. PENGALAMAN BERORGANISASI
1. IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa) STIKes Williambooth Surabaya