• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. [1] Modul Profesional GKMI Topik 1

N/A
N/A
MIN 7 MAGETAN

Academic year: 2025

Membagikan "a. [1] Modul Profesional GKMI Topik 1"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

2 2

MODUL PROFESIONAL

Pendidikan Guru

Madrasah Ibtidaiyah

PENANGGUNG JAWAB

Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. (Direktur Jenderal Pendidikan Islam)

Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.Ag. (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam) Dr. Thobib Al-Asyhar, M.Si. (Direktur GTK Madrasah)

Dr. Munir, M.Ag. (Direktur PAI) Penulis:

Dr. Muhammad Rifqi Mahmud, M.Pd. dan Inne Marthyane Pratiwi, M.Pd.

Editor:

Fatkhu Yasik, M.Pd. | Dr. Rofiq Zainul Mun’im, M.Ag. | Dr. Khaerul Umam, M.Ag.

Hak cipta dilindungi undang-undang All right reserved

Edisi Revisi ke-IV, Januari 2025

Desain Sampul dan Tata Letak: Nur Handi Faruq Al Ayyubi Halaman: xii + 158

DITERBITKAN OLEH:

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

(3)

ii

SAMBUTAN

DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM

Program Pendidikan Profesi Guru—selanjutnya disebut PPG—memiliki tujuan untuk menghasilkan guru profesional. Guru profesional adalah guru yang memiliki seperangkat kompetensi meliputi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Pada tahun 2025, desain PPG telah mengalami perkembangan yang cukup mendasar, sehingga dibutuhkan modul baru yang sesuai dengan inovasi yang dikembangkan di tahun 2025.

Untuk itu, keberadaan Modul PPG ini sangat penting karena menjadi salah satu sumber belajar mahasiswa PPG di Kementerian Agama RI. Melalui modul ini para mahasiswa Program PPG dapat melakukan reskilling (melatih kembali) atau bahkan upskilling (meningkatkan kemampuan) sehingga memenuhi syarat untuk menjadi guru profesional.

Di samping itu, penulisan modul pembelajaran PPG ini menambah koleksi karya yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Aktifitas ini juga menunjukkan bahwa kita sebagai regulator dan juga sebagai instansi pembina para guru agama dapat mengambil peran dalam penyediaan sumber belajar bagi masyarakat.

Terakhir, kami sampaikan terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan dan penyuntingan Modul PPG di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Semoga Modul PPG ini bermanfaat bagi Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan dapat digunakan sebagai rujukan bagi dosen dan mahasiswa Program PPG di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag.

(4)

iii

PENGANTAR PENULIS

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga modul ini dapat disusun dengan baik dan dapat digunakan oleh mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Guru Kelas Madrasah Ibtidaiyah (GKMI). Modul ini disusun sebagai upaya untuk mendukung para guru maupun calon guru MI dalam meningkatkan kompetensi profesional, sehingga siap mengemban tugas sebagai pendidik yang professional, berkualitas, berakhlak mulia, dan penuh dedikasi.

Sebagai pendidik, tugas kita tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan moral siswa, membekali mereka dengan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, modul ini hadir untuk mendukung para guru MI dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar sekaligus pembentuk karakter bangsa.

Modul ini mengulas berbagai topik penting yang diperlukan oleh mahasiswa PPG untuk mengembangkan pengetahuan mengenai teori dan aplikasi materi Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), matematika, dan pembelajaran tematik. Selain itu, dalam modul ini terdapat materi mengenai pendidikan nilai dan pendidikan karakter dan moderasi beragama yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas.

Kami juga menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti, sehingga penting bagi kita untuk terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Modul ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi dan referensi bagi para guru dalam menghadapi tantangan dan perubahan dalam dunia pendidikan, terutama di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah.

Akhir kata, kami berharap modul ini dapat memberikan manfaat yang besar dalam perjalanan pendidikan bapak/ibu pada PPG ini. Semoga bapak/ibu dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperoleh dalam modul ini untuk memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan, khususnya di Madrasah Ibtidaiyah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tim Penulis,

(5)

iv

DAFTAR ISI

Contents

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM ... ii

PENGANTAR PENULIS ... iii

DAFTAR ISI ... iv

PENDAHULUAN ... vii

A. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) ... vii

B. Ruang Lingkup Materi ... viii

C. Proses Pembelajaran Mata Kuliah ... viii

D. Penilaian ... ix

E. Refleksi dan Tindak Lanjut ... ix

F. Organisasi Waktu Belajar ... xi

Topik 1: Bahasa Indonesia ... 1

A. Definisi Bahasa Indonesia ... 1

B. Teori Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah ... 3

C. Urgensi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah ... 9

D. Prosedur Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah ... 9

E. Kontekstualisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah ... 16

F. Metakognisi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah ... 16

G. Kesimpulan ... 18

H. Pemahaman Konsep/Soal ... 19

I. Daftar Pustaka ... 21

Topik 2: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) ... 22

A. Konsep Dasar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ... 22

B. Teori Pembelajaran PPKn di Madrasah Ibtidaiyah ... 23

C. Urgensi Pembelajaran PPKn di Madrasah Ibtidaiyah ... 30

D. Prosedur Proses Pembelajaran PPKn di Madrasah Ibtidaiyah ... 30

E. Kontekstualisasi Pembelajaran PPKn di Madrasah Ibtidaiyah ... 37

F. Metakognisi Pembelajaran PPKn di Madrasah Ibtidaiyah ... 38

G. Kesimpulan ... 39

H. Latihan Soal ... 39

I. Daftar Pustaka ... 42

(6)

v

Topik 3: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ... 43

A. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ... 43

B. Teori Pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah ... 44

C. Urgensi Pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah ... 55

D. Prosedur Proses Pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah ... 56

E. Kontekstualisasi Pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah ... 60

F. Metakognisi Pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah ... 61

G. Kesimpulan ... 62

H. Latihan Soal ... 63

I. Daftar Pustaka ... 65

Topik 4: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ... 67

A. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ... 67

B. Teori Pembelajaran IPS di Madrasah Ibtidaiyah ... 68

C. Urgensi Pembelajaran IPS di Madrasah Ibtidaiyah ... 75

D. Prosedur Proses Pembelajaran IPS di Madrasah Ibtidaiyah ... 75

E. Kontekstualisasi Pembelajaran IPS di Madrasah Ibtidaiyah ... 80

F. Metakognisi Pembelajaran IPS di Madrasah Ibtidaiyah ... 81

G. Kesimpulan ... 83

H. Latihan Soal ... 83

I. Daftar Pustaka ... 85

Topik 5: Matematika... 87

A. Konsep Dasar Matematika ... 87

B. Teori Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah ... 88

C. Urgensi Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah... 100

D. Prosedur Proses Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah ... 100

E. Kontekstualisasi Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah ... 105

F. Metakognisi Pembelajaran Matematika di Madrasah Ibtidaiyah ... 107

G. Kesimpulan ... 108

H. Latihan Soal ... 109

I. Daftar Pustaka ... 111

Topik 6: Pembelajaran Tematik ... 112

A. Definisi Pembelajaran Tematik ... 112

B. Teori Pembelajaran Tematik di Madrasah Ibtidaiyah ... 113

C. Urgensi Pembelajaran Tematik di Madrasah Ibtidaiyah ... 119

D. Prosedur Proses Pembelajaran Tematik di Madrasah Ibtidaiyah ... 119

(7)

vi

E. Kontekstualisasi Pembelajaran Tematik di Madrasah Ibtidaiyah ... 125

F. Metakognisi Pembelajaran Tematik di Madrasah Ibtidaiyah ... 126

G. Kesimpulan ... 127

H. Latihan Soal ... 127

I. Daftar Pustaka ... 129

Topik 7: Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter ... 131

A. Definisi Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter ... 131

B. Teori Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter ... 131

C. Urgensi Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter ... 137

D. Integrasi Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter ... 138

E. Kontekstualisasi Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter ... 141

F. Metakognisi Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter ... 142

G. Kesimpulan ... 143

H. Latihan Soal ... 144

I. Daftar Pustaka ... 146

Topik 8: Moderasi Beragama ... 147

A. Definisi Moderasi Beragama ... 147

B. Teori Moderasi Beragama ... 147

C. Urgensi Moderasi Beragama ... 149

D. Integrasi Moderasi Beragama ... 150

E. Kontekstualisasi Moderasi Beragama ... 152

F. Metakognisi Moderasi Beragama ... 153

G. Kesimpulan ... 154

H. Latihan Soal ... 155

I. Daftar Pustaka ... 157

PENUTUP ... 158

(8)

vii

PENDAHULUAN

A. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

1. Kompetensi Lulusan PPG (KL PPG)

a. Mampu menguasai dan mengembangkan materi ajar berdasarkan struktur keilmuan dan merumuskan alur nateri ajar yang relevan dengan tujuan pembelajaran untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik.

b. Mampu melaksanakan refleksi pembelajaran secara komprehensif (konten, pedagogi, dan teknologi) pada tahapan pembelajaran yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.

c. Mampu menunjukkan jati diri profil guru profesional melalui langkah pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan pembuatan karya inovatif secara berkelanjutan.

2. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)

Menguasai teori dan aplikasi materi bidang Guru Kelas Madrasah Ibtidaiyah (GKMI) yang mencakup bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), matematika, pembelajaran tematik, pendidikan karakter dan pendidikan nilai, dan moderasi beragama termasuk advanced material secara bermakna yang dapat menjelaskan “apa (konten), “mengapa” (filosofi), dan “bagaimana” (penerapan dalam kehidupan sehari-hari).

3. Sub Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub CPMK)

a. Mampu menguasai teori dan aplikasi materi ajar Bahasa Indonesia secara bermakna.

b. Mampu menguasai teori dan aplikasi materi ajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) secara bermakna.

c. Mampu menguasai teori dan aplikasi materi ajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara bermakna.

d. Mampu menguasai teori dan aplikasi materi ajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara bermakna.

e. Mampu menguasai teori dan aplikasi materi ajar matematika secara bermakna.

f. Mampu menguasai teori dan aplikasi materi ajar pembelajaran tematik secara bermakna.

g. Mampu menguasai teori dan aplikasi pendidikan karakter dan pendidikan nilai secara bermakna.

h. Mampu menguasai teori dan aplikasi moderasi beragama secara bermakna.

(9)

viii B. Ruang Lingkup Materi

Modul Pendalaman Materi (PM) Profesional untuk Guru Kelas Madrasah Ibtidaiyah (GKMI) ini dirancang untuk memperkuat kompetensi profesional calon guru kelas MI Arab.

Ruang lingkup materi dalam modul ini mencakup delapan topik utama sebagai berikut:

1. Topik 1: Bahasa Indonesia

2. Topik 2: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 3. Topik 3: Ilmu Pengetahuan Alam

4. Topik 4: Ilmu Pengetahuan Sosial 5. Topik 5: Matematika

6. Topik 6: Pembelajaran Tematik

7. Topik 7: Pendidikan Nilai dan Pendidikan Karakter 8. Topik 8: : Moderasi Beragama

C. Proses Pembelajaran Mata Kuliah

Proses pembelajaran dirancang berbasis pembelajaran mandiri dan terstruktur dengan dukungan Learning Management System (LMS) yang telah ditetapkan. Model ini mengacu pada konsep PPG Transformatif, yang mengutamakan fleksibilitas dan efisiensi dalam mendukung kesiapan guru menjadi tenaga pendidik yang profesional dan kompeten. Modul ini dirancang untuk dilaksanakan selama 10 hari. Setiap peserta diharuskan menyelesaikan berbagai kegiatan pembelajaran yang dibuktikan dengan tugas mandiri dan tugas terstruktur yang telah ditentukan oleh Panitia Nasional (Pannas).

Tahapan Pembelajaran. Proses pembelajaran dalam modul ini terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Pretest

o Sebelum memulai modul, peserta diwajibkan mengikuti pretest yang bertujuan untuk mengukur pemahaman awal terhadap materi yang akan dipelajari.

o Hasil pretest akan digunakan sebagai dasar untuk menyesuaikan strategi pembelajaran yang lebih efektif.

b. Pembelajaran Mandiri melalui LMS

o Peserta akan mengakses bahan bacaan, presentasi (PPT), serta video pembelajaran yang telah disediakan dalam LMS.

o Materi ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang delapan topik utama dalam modul profesional.

o Setiap peserta diharapkan untuk membaca, menonton, dan memahami materi sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.

c. Penugasan

o Peserta wajib mengerjakan tugas yang telah dirancang untuk menguatkan pemahaman terhadap materi.

o Penugasan tersebut terdiri dari tugas mandiri dan tugas terstruktur.

o Penyelesaian tugas ini menjadi bukti bahwa peserta telah memahami dan dapat mengaplikasikan materi yang dipelajari dalam konteks nyata.

d. Test Akhir Modul

o Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran dan tugas, peserta diwajibkan mengikuti test akhir modul.

o Tes ini bertujuan untuk mengukur pemahaman peserta terhadap seluruh materi yang telah dipelajari dan memastikan kesiapan mereka dalam menerapkan konsep-konsep tersebut dalam praktik mengajar.

Melalui proses pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menguasai kompetensi profesional sebagai guru yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu

(10)

ix

mengimplementasikannya dalam pembelajaran yang inovatif, inklusif, dan berorientasi pada perkembangan anak usia dini.

D. Penilaian

Penilaian dalam modul ini dilakukan secara berkelanjutan dan mencakup beberapa komponen utama yang dilakukan melalui LMS, meliputi:

Jenis

Penilaian Deskripsi Tujuan

Pretest Tes awal berupa 10 butir soal pada setiap topiknya berbasis HOTS untuk mengukur pemahaman awal peserta.

Menilai pengetahuan awal peserta terkait materi yang akan dipelajari serta menentukan tingkat kesiapan mereka dalam mengikuti pembelajaran.

Tugas Mandiri

Peserta menyelesaikan tugas seperti meresume materi, menganalisis bahan ajar, refleksi

pembelajaran, dan

mengembangkan bahan ajar.

Mengukur pemahaman peserta terhadap materi, kemampuan analisis kritis, serta keterampilan dalam menyusun strategi pembelajaran.

Tugas Terstruktur

Diskusi kelompok tentang setiap topik dan pengembangan materi dalam pembelajaran yang bermakna.

Mendorong kolaborasi, berpikir kritis, dan penerapan konsep ke dalam praktik nyata.

Test Akhir Modul

Tes akhir berisi 10 butir soal pilihan ganda berbasis HOTS yang mencakup seluruh materi dalam modul.

Menilai pemahaman akhir

peserta setelah

menyelesaikan seluruh kegiatan belajar, serta mengukur tingkat pencapaian capaian pembelajaran (CPMK).

Tabel ini memberikan gambaran jelas tentang jenis penilaian yang digunakan dalam modul ini, tujuan masing-masing penilaian, serta bagaimana setiap penilaian berkontribusi untuk mengevaluasi pemahaman peserta.

E. Refleksi dan Tindak Lanjut

Bagian refleksi dan tindak lanjut dalam Modul Pendalaman Materi (PM) bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta dalam mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan, memahami aspek yang perlu ditingkatkan, serta merancang strategi penerapan ilmu yang diperoleh dalam praktik nyata.

1. Refleksi

Bagian refleksi dan tindak lanjut dalam Modul Pendalaman Materi (PM) menjadi langkah penting bagi peserta dalam mengevaluasi pengalaman belajar mereka.

Proses ini tidak hanya bertujuan untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari, tetapi juga untuk menilai efektivitas metode pembelajaran yang digunakan serta merancang strategi implementasi dalam praktik mengajar.

(11)

x

Dalam refleksi pembelajaran, peserta diajak untuk merenungkan pemahaman yang telah mereka peroleh mengenai delapan topik dalam modul ini. Mereka diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi konsep-konsep utama yang telah dipelajari, mengidentifikasi bagian yang masih memerlukan pendalaman, serta menelaah bagaimana materi tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran. Selain itu, mereka juga diharapkan untuk menilai kelebihan dan tantangan yang dihadapi selama proses belajar, baik dalam mengakses materi melalui LMS, menyelesaikan tugas, maupun dalam keterlibatan diskusi dan asesmen. Dengan melakukan refleksi ini, peserta dapat memperoleh gambaran lebih jelas mengenai aspek yang sudah dikuasai dan hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.

Proses refleksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menulis jurnal reflektif yang berisi pengalaman mereka dalam memahami materi, tantangan yang mereka hadapi, serta solusi yang ditemukan untuk mengatasi kendala tersebut.

Diskusi dengan sesama peserta juga menjadi bagian dari refleksi yang dapat memperkaya pemahaman melalui tukar pengalaman. Selain itu, peserta juga dapat mengisi lembar refleksi yang telah disediakan untuk membantu mereka mengorganisir pemikiran dan mengukur perkembangan pemahaman mereka secara lebih terstruktur.

Dalam beberapa sesi, peserta juga dapat mempresentasikan hasil refleksi mereka, sehingga memperoleh umpan balik dari dosen atau fasilitator untuk memperbaiki pendekatan pembelajaran mereka ke depan.

2. Tindak lanjut

Langkah selanjutnya setelah melakukan refleksi adalah tindak lanjut agar pembelajaran yang telah diperoleh tidak hanya berhenti dalam pemahaman teoritis tetapi juga diimplementasikan dalam praktik nyata. Salah satu langkah utama adalah penyusunan rencana aksi, di mana peserta merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan inovatif berdasarkan evaluasi diri mereka. Mereka dapat memodifikasi atau mengembangkan bahan ajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik, serta mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan moderasi beragama dalam pembelajaran sehari-hari.

Penerapan hasil refleksi dalam kelas nyata menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses ini. Dengan mencoba mengimplementasikan strategi pembelajaran yang telah dirancang, peserta dapat melihat efektivitas pendekatan yang mereka gunakan dan melakukan evaluasi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pengajaran mereka. Selain itu, penting bagi peserta untuk terus berkolaborasi dengan rekan-rekan sesama guru melalui forum diskusi atau komunitas profesional, sehingga dapat saling berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam mendidik anak usia dini.

Melalui refleksi yang mendalam dan tindak lanjut yang sistematis, peserta diharapkan dapat berkembang menjadi guru yang profesional, inovatif, dan berorientasi pada pembelajaran yang berkualitas. Kesadaran untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan akan membantu mereka menjadi pendidik yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bermakna, serta berkontribusi dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini.

(12)

xi F. Organisasi Waktu Belajar

Pembelajaran dalam modul ini dirancang untuk diselesaikan dalam waktu 10 hari.

Setiap modul terdiri dari 8 topik pembelajaran. Alokasi waktu untuk pelaksanaan 1 topik adalah 13,5 jam untuk belajar mandiri dari modul dan bahan ajar yang telah disediakan pada LMS, dilanjutkan dengan mengerjakan tugas yang terdiri dari dari tugas mandiri dan tugas terstruktur. Sebelumnya peserta akan diminta mengerjakan sejumlah soal pretest, dan di akhir modul peserta akan mengerjakan Tes Akhir Modul. Alokasi waktu tersebut lebih jelasnya mengikuti ketentuan pada tabel berikut:

No Aktivitas Pembelajaran Tujuan Waktu

1 Mengerjakan Pretes Mengukur pemahaman awal guru 30 menit 2 Membaca Modul Memahami materi yang dipelajari

secara mendalam 2,5 jam

3 Mencermati PPT, Artikel dan Video

Mahasiswa membaca, melihat dan mencermati PPT, Artikel dan Video

1,5 jam

4 Membuat Resume Merangkum materi yang telah

dipelajari 1 jam

5 Menganalisis Bahan Ajar Mendalami bahan ajar untuk

memperkuat pemahaman 1,5 jam 6 Membuat Refleksi

Pembelajaran

Menilai proses dan hasil

pembelajaran serta evaluasi diri 1,5 jam 7 Mengembangkan Bahan

Ajar Kreatif

Menyusun bahan ajar yang

inovatif 1,5 jam

8 Mendiskusikan Materi Berkolaborasi dan mendalami

konsep yang masih perlu dibahas 2 jam 9 Mengerjakan Tes Akhir

Modul Mengevaluasi hasil belajar akhir 1 jam

(13)

1

Topik 1: Bahasa Indonesia

A. Definisi Bahasa Indonesia

Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbiter, Bahasa adalah alat komunikasi yang dihasilkan dari alat ucap manusia, bahasa dijadikan sebagai sarana untuk berinteraksi antarsesama manusia. Dalam berkomunikasi, manusia menggunakan bahasa baik berupa tulisan maupun secara lisan. Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai fungsi berdasarkan kebutuhan seseorang baik digunakan secara sadar maupun tidak sadar, di antara fungsinya yaitu: 1) menyampaikan informasi; 2) fungsi mengekspresikan diri yaitu dengan menyalurkan perasaan, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan pembicara; 3) fungsi adaptasi dan integrasi yaitu meyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat;

dan 4) fungsi kontrol sosial yaitu mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang penting di negara kita. pentingnya peranan Bahasa Indonesia bersumber dari ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dan pasal UUD 1945. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi di Indonesia. Sebagai bahasa negara, Bahasa Indonesia berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, dalam dunia pendidikan, dan kebudayaan. Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan di sekolah dasar, karena bahasa merupakan pokok dari proses pendidikan sekolah.

Menurut Farhrohman (2017) belajar merupakan alat utama dalam mencapai tujuan pembelajaran sebagai unsur pendidikan di sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya kita perlu mengetahui tujuan dan peran dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD yang harus dipahami oleh guru dinyatakan dalam Badan Standar Nasional Pendidikan di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan.

2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebaai bahasa persatuan dan bahasa Negara

3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.

4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.

5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya intelektual manusia Indonesia.

Sementara itu, terdapat ruang lingkup dari mata pelajaran Bahasa Indoenesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1. Menyimak

Farhrohman (2017) menjelaskan bahwa kerampilan menyimak dalam pembelajaran bahasa adalah proses penerimaan pesan yang disampaikan oleh orang lain. Kegiatan menyimak terdiri dari tahap penerimaan rangsangan lisan, pemusatan perhatian, serta pemahaman makna atas pesan yang disampaikan. Seperti menyimak berita, petunjuk, pengumuman, laporan, ceramah, pidato, dialog atau percakapan serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi

(14)

2

dan berekspresi sastra melalui kegitan mendengarkan hasil sastra berupa dogeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita fabel, puisi anak, pantun, dan lain sebagainya. Penyimak akan dapat menyimak dengan baik apabila ia memiliki kemampuan berkonsentrasi, menangkap bunyi, mengingat hal-hal penting, dan memahami unsur linguistik dan nonlinguistik secara memadai.

2. Berbicara

Keterampilan berbicara menurut Farhrohman (2017) terdiri dari mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan sambutan, dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri, menceritakan teman, menceritakan keluarga, menceritakan kegiatan sehari-hari, atau menyampaikan informasi secara lisan.

Keterampilan ini penting untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi. Keterampilan berbicara ditandai dengan memilih kata, kalimat, penekanan atau nada yang tepat, memformulasikan pesan dengan tepat, berbicara dengan percaya diri, jujur dan bertanggung jawab, serta dapat mengatasi masalah psikologi seperti rasa malu, rendah diri, dan ketegangan.

3. Membaca

Keterampilan membaca merupakan kemampuan memahami informasi yang terdapat dalam teks bacaan. Keterampilan membaca melibatkan proses bepikir, penglihatan, gerakan mata, bahasa internal, dan memori. Keterampilan membaca misalnya membaca huruf, suku kata, kata, kalimat, paragraf, berbagai teks bacaan, denah, serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, atau cerita rakyat. Sebagai proses, membaca merupakan kegiatan pemaknaan yang teru menerus berdasarkan apa yang tersaji dalam teks karangan serta pengetahuan yang dimiliki oleh pembacanya. Farhrohman (2017) mejelaskan bahwa pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II dengan tujuan agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuaran tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut. Adapun membaca lanjut merupakan tingkat proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.

4. Menulis

Keterampilan menulis merupakan keterampilan menyusun ide, atau informasi dalam bentuk tulisan yang jelas dan terstruktur. Keterampilan menulis dalam pembelajaran bahasa adalah proses penyampaian pesan kepada pihak lain secara tertulis. Sebagai proses, menulis terdiri dari tahap prapenulisan, menulis, dan pascapenulisan. Farhrohman (2017) mengungkapkan bahwa keterampilan menulis ini misalnya menulis karangan naratif dengan tulisan rapih dan jelas dengan memperhatikan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca, serta kosakata yang tepat dengan menggunakan kalimat tunggal dan kalimat majemuk serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan menulis berupa cerita dan puisi.

Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk kebiasaan, sikap, serta kemampuan siswa untuk tahapan selanjutnya. Selain itu, pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa dalam pengembangan kemampuan berbahasa di lingkungannya, bukan hanya untuk kebutuhan komunikasi, namun juga siswa diharapkan dapat menyerap berbagai nilai serta pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui kemampuan bahasa pula, diharapakan siswa mampu mempelajari berbagai cabang ilmu yang lainnya.

(15)

3

B. Teori Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah

Mata pelajaran Bahasa Indonesia membentuk keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca dan memirsa) dan keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan mempresentasikan, serta menulis). Kompetensi berbahasa ini berdasar pada tiga hal yang saling berhubungan dan saling mendukung untuk mengembangkan kompetensi peserta didik, yaitu bahasa (mengembangkan kompetensi kebahasaan), sastra (kemampuan memahami, mengapresiasi, menanggapi, menganalisis, dan mencipta karya sastra); dan berpikir (kritis, kreatif, dan imajinatif). Berikut uraian materi Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah.

1. Pengenalan Huruf dan Kata

Uraian materi singkat dari pengenalan huruf dan kata, akan diuraikan di bawah ini.

a. Materi Huruf Vokal dan Konsonan

Huruf dalam Alphabet terdapat 26 huruf, huruf alpabhet dapat berbentuk huruf kapital dan huruf kecil. Amati bentuk-bentuk huruf di bawah ini.

Di dalam Alphabet terdiri dari jenis huruf vocal dan huruf konsonan. Huruf vocal disebut juga dengan bunyi vokal yaitu terdiri dari “A – I – U – E - O”. Sedangkan selain huruf “A – I – U – E - O” disebut dengan huruf konsonan. huruf konsonan terdiri dari “B – C – D – F – G – H – J – K – L – M – N – P – Q – R – S – T – V – W – X – Y – Z”.

b. Suku Kata

Suku kata adalah unit bunyi yang tidak terputus yang membentuk kata, contoh BAJU dalam kata BAJU terdapat dua suku kata yaitu BA dan JU. Contoh lainnya yaitu:

toko = to – ko rumah = ru – mah sekolah = se – ko – lah

2. Membaca dan Menulis Kalimat Sederhana

Uraian materi singkat terkait materi membaca dan menulis kalimat sederhana akan diuraikan di bawah ini. Kalimat sederhana adalah kalimat yang hanya terdiri dari satu kluasa atau satu ide pokok. Kalimat ini biasanya mudah dipahami.

a. Membaca Kalimat Sederhana

Kalimat sederhana adalah kalimat yang hanya terdiri dari satu kluasa atau satu ide pokok. Kalimat ini biasanya mudah dipahami. Tujuan membaca kalimat sederhana agar siswa dapat memahami makna, menjawab pertanyaan, dan membangun kosakata. Aktivitas membaca bisa dilakukan dengan cara :

1) Membaca nyaring: siswa membaca kalimat dengan keras agar melatih pengucapan dan intonasi

(16)

4

2) Membaca dalam hati: siswa membaca kalimat secara diam-diam untuk meningkatkan pemahaman

3) Menjawab pertanyaan: guru memberikan pertanyaan tentang isi bacaan untuk menguji pemahaman siswa.

b. Menulis Kalimat Sederhana

Kalimat sederhana terdiri dari Subjek, Predikat, dan Objek.

1) Subjek: bagian dari sebuah kalimat yang menjelaskan orang atau benda yang melakukan tindakan dalam kalimat.

2) Predikat: bagian dari kalimat yang menjelaskan tindakan atau pernyataan yang dilakukan oleh subjek dalam kalimat.

3) Objek : bagian dari sebuah kalimat yang menerima tindakan atau pernyataan yang dijelaskan oleh predikat.

Contoh Kalimat Sederhana:

Subjek + Predikat = Ali bermain

Subjek + Predikat + Objek = Aisyah membaca buku Aktivitas menulis bisa dilakukan dengan cara:

1) Siswa melengkapi kalimat yang belum lengkap

2) Siswa membuat kalimat sendiri berdasarkan tema yang telah ditentukan

3) Siswa menulis cerita pendek yang sederhana menggunakan kalimat-kalimat yang telah dipelajari.

3. Menulis cerita sederhana dan Membaca Nyaring

Uraian materi singkat terkait materi menulis cerita sederhana dan membaca nyaring akan diuraikan di bawah ini.

a. Menulis Cerita Sederhana

Menulis cerita akan menjadi mudah jika kita mengembangkan inti ceritanya. Inti cerita disebut juga dengan topik. Topik adalah pokok cerita. Topik cerita dapat dikembangkan menjadi paragraph yang panjang. Kerangka cerita adalah pokok-pokok permasalahan yang akan ditulis dalam sebuah cerita. Kerangka cerita dapat mempermudah penulisan dan pengembangan cerita. Kerangka cerita juga membuat cerita lebih terarah dan menghindari pengulangan cerita yang ditulis.

Kerangka cerita bisa ditulis seperti berikut ini.

1) Memilih tema

Tema yang dipilih bisa menggunakan tema pengalaman pribadi atau kejadian sekitar kita, serta pastikan bahwa tema yang dipilih adalah pengalaman yang berkesan, sehingga menarik minat pada pembaca.

2) Buat awalan cerita

Bagian awal cerita bisa dibuat dengan menceritakan awal mula atau latar belakang dari cerita yang akan dibuat. Misalnya tema yang diambil adalah tentang pengalaman memasak kue dengan orang tua di rumah. Maka bagian awal cerita bisa dimulai dengan menceritakan Ketika mendapat ide untuk memasak kue tersebut, ataubisa juga dengan menceritakan bagian awal dari proses meamsak seperti menyiapkan tempat, barang, hingga bahan yang diperlukan.

3) Bagian tengah cerita

Bagian tengah cerita biasanya adalah bagian adanya konflik atau masalah yang muncul, masalah, bagian ini juga bisa berupa hal menarik dari inti cerita yang ingin

(17)

5

disampaikan. Misalnya tema memasak kue dengan orang tua di rumah, maka bagian ini bisa berupa proses membuat kue Bersama orang tua yang sangat seru.

4) Buat penutup cerita

Pada bagian akhir ini berisi akhri dari kegiatan atau peristiwa yang sedang diceritakan. Bagi ini juga bisa menjadi bagian penyelesaian dari konflik yang diceritakan pada bagian tengah. Seperti contohnya, pada bagian tengah terdapat konflik selama proses memasak kue. Lalu pada bagian akhir ini akan diceritakan bahwa proses memasalk kue berjalan lancar dengan hasil kue yang lezat. Bagian akhir ini akan menjdi penyelesaian dari cerita yang disampaikan. Sehingga pembaca dapat menangkap pesan yang dimaksudkan dari cerita yang dibuat.

b. Membaca Nyaring

Membaca nyaring harus jelas dan enak didengar. Oleh karena itu pergunakanlah lafal dan intonasi yang tepat. Lafal adalah cara mengucapkan huruf, dan intonasi adalah nada suara atau nada bicara. Berikut contoh teks bacaan yang bisa menjadi bahan untuk praktik membaca nyaring siswa.

Berbohong Dapat Merugikanmu

Setelah pulang sekolah, Adi langsung mengganti pakaian dan mengambil buku PR-nya. Ia bergegas pergi untuk bermain. Ibu heran mengapa ia begitu tergesa-gesa. “Mau ke mana, kok, terburu-buru?” tanya Ibu kepada Adi. “Mau mengerjakan PR di rumah Feri, bersama teman-teman yang lain,” kata Adi sambil berlari keluar.

Sampailah Adi di lapangan di samping rumah Iwan. Ternyata ia berbohong kepada ibunya. Ia sebenarnya akan bermain. Ibu selalu melarang Adi bermain jika PR-nya belum selesai dikerjakan. Jadi, kali ini ia berbohong kepada ibu supaya ia bisa bermain bersama teman-temannya yang lain.

Adi menyimpan bukunya di bawah pohon di samping lapangan itu. Ia langsung bermain bersama yang lain. Adi bermain benteng kemudian bermain sepak bola sampai sore. Akhirnya, waktu bermain selesai sudah. Adi dan teman-teman yang lainnya segera pulang karena hari menjelang malam.

Adi pulang dengan tangan kosong. Ia lupa mengambil buku PR-nya yang disimpan di bawah pohon. Sesampainya di rumah, Adi melakukan kegiatan seperti biasanya. Adi mandi kemudian makan malam bersama keluarga. Ketika makan bersama, ibu menanyakan PR Adi

yang dikerjakan bersama teman-temannya. “Bagaimana PR-mu, sudah selesai?” tanya ibu. “Oh, sudah selesai, Bu!” jawab Adi singkat.yang dikerjakan bersama teman-temannya. “Bagaimana PR-mu, sudah selesai?” tanya ibu. “Oh, sudah selesai, Bu!” jawab Adi singkat.

Pertanyaan ibu mengingatkannya pada buku PR yang ia simpan di bawah pohon. Ia bingung karena tidak bisa mencarinya di malam hari seperti ini.

Akhirnya, ia terus memikirkan bagaimana cara mengambilnya. Ia takut bukunya hilang. Adi menyesal karena telah membohongi ibu. Akibatnya ia kehilangan bukunya.

Keesokan harinya, Adi tidak dapat mengumpulkan buku PR-nya. Ia juga tidak dapat mengerjakannya di depan kelas. Ibu guru menghukumnya dengan memberikan PR yang banyak untuk mengisi nilai tugasnya yang masih kosong.

Adi pun berjanji pada diri sendiri bahwa ia tidak akan berbohong lagi. Ia akan mengerjakan PR sebelum bermain.

(18)

6

4. Struktur Teks dan Membuat Surat

a. Struktur Teks

Struktur teks adalah susunan bagian-bagian yang membentuk sebuah teks.

Bagian-bagian utama dari sebuah teks adalah sebagai berikut.

1) Judul

Judul merupakan bagian paling atas yang memberikan gambaran singkat terkait isi teks.

2) Isi

Isi merupkan bagian utama yang berisi penjelasan, uraian, atau cerita.

3) Penutup

Penutup adalah bagian akhir dari sebuah teks, yang merangkum isi atau memberikan kesimpulan.

Jenis-jenis teks dan strukturnya 1) Teks Deskripsi

Teks deskripsi dibuat dengan tujuan untuk menggambarkan sesutau misalnya orang, hewan, tempat, benda, atau peristiwa secara jelas dan terperinci sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan sendiri. Adapun struktur teks dari teks deskripsi adalah sebagai berikut.

a) Pengenalan : menyebutkan objek yang akan dideskripsikan secara umum.

b) Deskripsi bagian : menjelaskan bagian-bagian objek secara rinci, misalnya mulai dari bentuk, warna, ukuran, bahan, fungsi, dan lain sebagainya.

c) Deskripsi keseluruhan : menjelaskan kesan umum atau tanggapan penulis terhadap objek yang dideskripsikan.

2) Teks Prosedur

Teks prosedur dibuat dengan tujuan untuk menjealskan Langkah-langkah untuk melakukan sesuatu, misalnya membuat, merakit, mengoperasikan, dan lain sebagainya. Adapun struktur dari teks prosedur adalah sebagai berikut.

a) Judul : menunjukkan kegiatan yang akan dilakukan.

b) Tujuan : menjelaskan maksud dan tujuan dari kegiatan.

c) Alat dan bahan : menyebutkan alat dan bahan yang diperlukan.

d) Langkah-langkah : menjelaskan Langkah-langkah secara berurutan.

3) Teks Narasi

Teks narasi dibuat dengan tujuan untuk menyampaikan suatu cerita atau kejadian secara runtut. Adapun struktur teks dari teks narasi adalah sebagai berikut.

a) Orientasi : memperkenalkan tokoh, waktu, dan tempat kejadian.

b) Komplikasi : peristiwa- peristiwa yang menimbulkan masalah atau konflik.

c) Resolusi : penyelesaian masalah atau konflik.

d) Koda : pesan atau kesan yang ingin disampaikan penulis.

b. Membuat Surat

Surat adalah selembar kertas yang tertulis. Surta juga disebut dengan alat komunikasi untuk menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan. Informasi ini bisa berupa pernyataan, laporan, pemberitahuan, pemikiran, permintaan, dan sebagainya.

Terdapat beberapa jenis surat, salah satunya adalah surat pribadi. Surat pribadi bisa disebut dengan surat yang ditulis oleh seseorang kepada orang lain yang bersifat individu.tujuannya bisa untuk menanyakan kabar, memberitahu keadaa, memberi undangan, mengungkapkan perasaan, dan menyampaikan pesan atau informasi.

(19)

7

Pada pelajaran kali ini kita akan belajar menulis surat. Sebelum menulis surat sebaiknya memahami EYD Bahasa Indonesia dengan benar.

1) Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Kita telah memiliki EYD yang sudah dibakukan.

Pelajaran kali ini kalian harus memahami ejaan untuk menggunakan huruf kapital, kata, kalimat, dan tanda-tanda baca.

a) Huruf Kapital, Kata, dan Kalimat Huruf kapital digunakan untuk huruf pertama pada kalimat. Selain itu juga, untuk nama diri, tempat, hari, bulan, dan lainnya.

Contoh:

Adi pulang dari Jakarta.

Pada hari Minggu sekolah libur.

Kita masuk sekolah mulai bulan Januari.

b) Menggunakan Tanda-Tanda Baca Tanda-tanda baca yang biasanya digunakan adalah koma, titik, tanda-tanda baca, dan lainnya. Tanda koma adalah lambang membaca berhenti sejenak, lalu dilanjutkan. Tanda titik adalah lambang kalimat itu berhenti. Tanda tanya dan seru ada di belakang kalimat.

Contoh:

Surakarta, tanggal 25 April 2023.

Apa kabar Tono?

Aku menunggu suratmu Rini.

2) Bagian-bagian surat terdiri dari a) Tempat dan tanggal surat.

Pada bagian ini, pembuat surat harus menuliskan tempat dan tanggal pembutaan surat. Contoh :

Bandung, 25 Januari 2025 b) Alamat surat.

Bagian ini berisi alamat pembaca dan kepada siapa surat itu dikirim. Contoh : Untuk sahabatku, Aisyah

di Bandung, Jawa Barat c) Salam pembuka.

Bagian ini adalah cara penulis untuk memulai surat pribadi. Biasanya menggunakan kata sapaan seperti : Halo, Salam kenal, Hai, dan lain sebagaianya.

d) Pembukaan.

Bagian ini sering disebut dengan paragraf pembuka. Kalimat yang ada di bagian ini berupa pertanyaan tentang kabar penerima surat. Contoh :

Apa Kabar?

e) Isi.

Pada isi surat bisa menggunakan bahsa sehari-hari. Namun harus tetap sopan.

Dan Panjang surat tidak terbatas atau sesuai dengan kebutuhan pembuat surat.

f) Penutup.

Bagian penutup bisa menggunakan salam apa saja, namun harus tetap memperhatikan sopan santu dan umu penerima surat. Contoh :

Sampai jumpa!, Salam manis!.

g) Tanda tangan dan nama terang.

Pada bagian ini, mencantumkan nama asli atau nama julukan, dan jangan lupa sertakan tanda tangan.

Catatan: Ketujuh bagian surat itu harus tersusun secara urut.

(20)

8

5. Membaca Teks dan Menyampaikan Pendapat

a. Membaca Teks

Dengan membaca teks, siswa madrasah ibtidaiyah diajarkan untuk:

1) Memahami isi teks yaitu mencari informasi peting, ide pokok, dan rincian yang mendukung

2) Menganalisis struktur teks yaitu mengenali bagian-bagian teks, hubungan antar bagian, dan cara penulis Menyusun teks.

3) Menentukan tujuan penulis

4) Menilai kebenaran informasi yaiu membedakan fakta dan opini, serta mengevaluasi sumber informasi

5) Menarik kesimpulan yaitu membuat pernyataan umum berdasarkan informasi yang diperoleh dari teks

6) Menyajikan Kembali informasi yaitu menceritakan Kembali isi teks dengan bahasa sendiri.

b. Menyampaikan Pendapat

Menyampaikan pendapat adalah kegiatan menyampaikan ide, pikiran, gagasan, atau perasaan kepada orang lain. Pendapat yang hendak disampaikan harus logis dan dapat dipercaya oleh orang lain. Berikut adalah ciri-ciri pendapat yang logis:

1) Berdasarkan fakta. Fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan dan benar-benar terjadi.

2) Memiliki struktur yang jelas.

3) Menggunakan bahasa yang sederhana namun jelas.

4) Terbuka terhadap kritik.

5) Memiliki alasan yang valid.

6) Terdapat hubungan sebab dan akibat yang jelas.

Beberapa cara menyampaikan pendapat yang baik:

1) Pikirkan dengan matang pendapat yang akan disampaikan.

2) Sampaikan dengan sopan.

3) Utamakan kepentingan umum.

4) Jangan memotong pendapat orang lain.

5) Menghargai pendapat orang lain.

6) Tidak menyerang pribadi lawan bicara.

6. Menulis Cerita Pendek dan Membaca Teks Informasi a. Menulis Cerita Pendek

Cerita pendek merupakan salah satu bentuk karya sastra yang berupa karangan fiksi. Cerpen biasanya mengandung unsur-unsur seperti tokoh dan penokohan, latar tempat, konflik, penyelesaian konflik, dan lain sebagainya. Unsur- unsur dalam cerpen:

1) Tokoh dan penokohan

Dalam cerita pendek biasanya tokoh dibagi menjadi tokoh utama dan tokoh pendukung. Tokoh utama lebih sering terlibat pada alur cerita, dan tokoh pendukung hanya muncul sesekali. Sedangkan penokohan adalah ciri khas watak seorang tokoh, sehingga bisa dibayangkan oleh pembaca.

(21)

9

2) Alur Cerita

Unsur penting lainnya dalam sebuah cerpen adalah alur cerita, yaitu rangkaian peristiwa yang diceritakan penulis. Dari mulai pengenalan tokoh, konflik, hingga penyelesaian konflik.

3) Latar

Latar adalah keterangan yang menunjukkan tempat, waktu, dan suasana kejadian, sehingga pembaca lebih bisa membayangkan dan merasakan latar sesuai dengan deskripsi cerita.

4) Sudut Pandang

Sudut pandang adalah hubungan penulis dengan hasil cerita pendek yang ditulisnya. Ada sudut pandang orang pertama, yaitu penulis menggunakan kata ganti akua tau saya. Ada sudut padang orang ketiga, yaitu penulis menggunakan kata ganti seperti mereka, dia, atau nama dari tokoh.

5) Tema

Tema adalah unsur yang penting yang harus disampaikan kepada pembaca, biasanya tema berkaitan dengan judul dan gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis.

b. Membaca Teks Informasi

Informasi merupakan suatu pemberitahuan atau berita yang didapatkan untuk menambah wawasan pengetahuan tentang suatu kejadian. Mencari informasi penting merupakan saegala hal yang harus diketahui agar dapat menambah pengetahuan atau wawasan. Langkah-langkah membaca informasi adalah sebagai berikut.

1) Membaca judul untuk mendapatkan sebuah gambaran tentang informasi yang akan didapatkan.

2) Membaca isi bacaan dengan teiliti

3) Gunakan metode membaca skimming (memindai) 4) Menentukan kata kunci

C. Urgensi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah

Setelah mempelajari topik di atas, adapun manfaat dari mempelajari topik tersebut adalah sebagai berikut.

1. Meningkatkan pemahaman guru tentang materi bahasa Indonesia yang sesuai dengan kurikulum sekolah dasar.

2. Mengembangkan keterampilan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia yang efektif dan menyenangkan.

3. Membekali guru dengan berbagai metode dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk menajarkan keterampilam berbahasa secara kreatif dan inovatif.

D. Prosedur Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah

Pada bagian sebelumnya kita telah mengkaji terkait konsep dasar dan teori pada pembelajaran Bahasa Indonesia serta bagaimana urgensi serta tujuan dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, pada bagian kedua ini akan dijelaskan terkait strategi pembelajaran Bahasa Indonesia yang efektif untuk memberikan gambaran kepada para guru dalam mengajarkan materi Bahasa Indonesia kepada siswa. Namun sebelum itu, perlu kita mengetahui karakteristik dan kebutuhan dari siswa sekolah dasar, sehingga dapat merancang pembelajaran yang efektif.

(22)

10

Menurut Farhrohman (2017) terdapat beberapa karakteristik dan kebutuhan siswa sekolah dasar terhadap penyelenggaraan pendidikan yang berkaitan dengan pembelajaan, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Siswa sekolah dasar adalah anak yang senang bermain, karakteristik ini menuntun guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran yang bermuatan permainan, terlebih bagi kelas rendah. Implementasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat mengajak siswa untuk bermain di luar ruang kelas, lalu suruh diajak untuk mengamati apa saja yang terjadi dan yang terdapat di lingkungan tersebut, kemudian guru meminta siswa untuk menceritakan penemuannya. Hal ini berkaitan dengan kemampuan bahasa lisan yang dilakukan oleh siswa

2. Siswa sekolah dasar adalah anak yang senang bergerak. Guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak bergerak. Implementasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru bisa mengetahui ketika siswanya sudah merasa bosan dan jenuh, maka hendaknya guru mengajak siswa untuk melakukan olah raga refleksi yang dalam hal ini bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan siswa selama proses pembelajaran

3. Siswa sekolah dasar adalah snak yang senang berkerja dalam kelompok, guru dapat merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja dan belajar dalam kelompok, guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok untuk dapat mempelajari atau menyelesaikan tugas secara kelompok, hal ini akan mendorong siswa untuk belajar berkomunkasi dengan baik dengan kelompoknya.

4. Siswa sekolah dasar adalah anak yang senang merasakan atau melakukan/memperagkan sesuatu secara langsung. Sebagaimana ditinjau berdasarkan teori perkembangan kognitif, anak sekolah dasar memasuki tahap operasional konkret. Guru dapat mengarahkan siswa untuk mengamati keadaan lingkungan sekolah, kemudian guru meminta siswa untuk mendeskripsikan apa yang diamatinya mengunakan kalimat induktif dan kalimat deduktif.

Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan di atas, maka di bawah ini akan dijelaskan secara rinci strategi yang efektif digunakan guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

1. Model Pembelajaran Bahasa Indonesia

Terdapat beberapa model pembelajaran yang efektif digunakan untuk mengajarkan materi Bahasa Indonesia kepada siswa, di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Model Pembelajaran Kolaboratif

Menurut Ivantri (2021) pembelajaran kolaboratif merujuk pada kegiatan pembelajaran yang sengaja dirancang dan dilaksanakan secara berpasangan atau dalam kelompok kecil, pembelajaran kolaboratif terjadi ketika kelompok kecil siswa dapat saling membantu untuk belajar. Kelompok belajar kolaboratif terdiri dari sepasang siswa (disebut dued), kelompok kecil (tiga sampai lima siswa), hingga kelas belajar (25-35 siswa). Adapun macam-macam pembelajaran kolaboratif di antaranya sebagai berikut:

1) Learning Together

Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.

(23)

11

2) Teams-Teams Tournament (TGT)

Setalah belajar dengan kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing, dan penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.

3) Jigsaw Prosedure (JP)

Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.

4) Student Team Achievement Divisions (STAD)

Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.

Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok. Terdapat sintak dari model pembelajaran kolaboratif di antaranya meliputi:

1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 2) Meyajikan informasi

3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar 4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar

5) Evaluasi

6) Memberikan penghargaan b. Model Pembelajaran Kontekstual

Model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah model pembelajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Model ini bertujuan agar siswa dapat menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Ivantri (2021) Model kontekstual merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara ilmiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika siswa “bekerja” dan

“mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”.

Pembelajaran tidak hanya sekedar kegiatan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi bagaimana siswa mampu memaknai apa yang dipelajari itu. Terdapat sintak dari model pembelajaran kontekstual di antaranya adalah sebagai berikut.

1) Kontruktivisme

Siswa memabangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasarakan pada pengetahuan awal, pembelajaran harus dikemas menjadi prses

“mengontruksi” bukan menerima penegtahuan.

2) Inquiry

Inquiry atau menemukan merupakan proses pembelajaran yang berdasarkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistimatis, proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, siswa belajar dengan keterampilan berfikir kritis. Dalam hal ini guru harus merencanakan situasi kondusif supaya siswa belajar dengan prosedur mengenali masalah, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur penelitian (investigasi), menyiapkan kerangka berfikir, hipotesis dan penjelasan yang relevan dengan pengalaman pada dunia nyata.

(24)

12

3) Bertanya (Question)

Question adalah mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan dialog interaktif oleh keseluruhan unsur yang terlibat dalam komunitas belajar. Dengan demikian pembelajaran lebih hidup, mendorong proses dan hasil pembelajaran lebih luas dan mendalam. Dengan question mendorong siswa selalu bersikap menolak suatu pendapat, ide atau teori secara mentah. Hal ini mendorong sikap selalu ingin mengetahui dan mendalami.

4) Masyarakat Belajar (Learning Community)

Learning Community adalah pembelajaran yang didapat dari berkolaborasi dengan orang lain. Dalam pembelajaran ini selalu dilaksanakan dalam kelompok- kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu dan seterusnya. Bertukar pengalaman, dan berbagi ide.

5) Pemodelan (Modeling)

Dalam pembelajaran perlu ada model yang dapat dicontoh oleh siswa. Terkait hal ini model bisa berupa cara mengoperasikan, cara melafalkan,, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Ketika guru sanggup melakukan sesuatu maka siswa akan berpikir sama bahwa dia juga bisa melakukannya.

6) Refleksi

Refleksi merupakan suatu upaya untuk melihat, mengorganisir, menganalisis, mengklarifikasi dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari. Untuk merealisasikan, di kelas dirancang pada setiap akhir pelajaran, guru menyisihkan waktu untuk memberikan kesempatan kepada siswa melakukan refleksi dengan cara: pernyataan langsung dari siswa tentang apa apa yang diperoleh setelah melakukan pembelajaran, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa tentang pembelajaran hari itu, diskusi dan ragam hasil karya.

7) Penilaian Autentik

Penilaian autentik merupakan tahapan terakhir dalam pembelajaran kontekstual, pada tahap ini guru menilai siswa secara objektif dengan tujuan bisa mewujudkan kompetensi yang telah disampaikan pada awal pembelajaran oleh guru.

c. Model Pembelajaran Problem Based Learning

Menurut Syihabudin dan Ratnasari (2020) model pembelajaran berbasis masalah (PBL) adalah salah satu model pembelajaran inovatif berbasis masalah. PBL adalah straegi pembelajaran yang berpusat pada siswa, siswa bersama-sama memecahkan masalah dan merefleksikan pengalaman mereka. Dalam hal ini guru berperan sebagai fasilitator belajar. Guru menyajikan situasi masalah yang bermakna dan dapat memberikan kemudahan bagi siswa untuk melakukan melakukan penyelidikan beserta pemecahan masalahnya. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia model pembelajaran PBL ini akan memengaruhi kemampuan pengembangan yang akan berpengaruh pada kualitas penulisan narasi yang ditulis siswa. Adapun sintak dari model pembelajaran problem based learning di antaranya meliputi:

1) mengorganisasikan siswa pada masalah;

2) mengorganisasikan siswa untuk belajar;

3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok;

4) mengembangkan dan menyajikan masalah; dan

5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

(25)

13

d. Model Pembelajaran PAIKEM

Menurut Ivantri (2021) model pembelajaran PAIKEM adalah singkatan dari model pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efeketif, dan Menyenangkan. Aktif yang di maksud bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan susasana yang sedemikian rupa sehingga siswa dapat aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan, pembelajaran inovatif yaitu mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning Is Fun merupakan kunci yang diterapkan pada pembelajaran inovatif ini. Variasi model, metode, dan pengembangan bahan pembelajaran dapat dikembangkan oleh guru dalam proses belajar mengajar dan tentu disesuaikan dengan karakteristik siswa di sekolah dasar. Adapun sintak dari model pembelajaran PAIKEM di antaranya meliputi:

1) Pendahuluan atau persiapan 2) Pendidik mempresentasikan materi 3) Pendidik membimbing kelompok belajar 4) Memberikan pemahaman dan umpan balik 5) Pengembangan dan penerapan

6) Menganalisis dan mengevaluasi

e. Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC)

Model CIRC merupakan salah satu dari bagain model pembelajaran kooperatif yang diperuntukan bagi siswa sekolah dasar hingga menengah. CIRC adalah sebuah program yang komprehensif atau menyeluruh dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis. CIRC juga merupakan program sekolah yang mendasarkan pengajarannya pada membaca, menulis, dan seni berbahasa. CIRC memiliki tiga prinsip dasar yaitu kemampuan membaca pemahaman, membaca lisan, dan integrasi seni berbahasa atau menulis. Penerepan dari model pembelajara ini diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan memahami bacaan, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya yaitu meringkas, menerangkan, menjawab pertanyaan dan kemampuan meramalkan. Adapun Langkah-langkah dalam pembelajaran CIRC adalah sebagai berikut.

1) Guru membentuk kelompok yang anggotanya 4 atau 5 orang siswa secara heterogeny.

2) Guru memberikan wacana atau kliping sesuai dengan topik pembelajaran.

3) Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tangapan terhadap wacana atau kliping dan ditulis pada lembar kertas.

4) Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok.

5) Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama.

6) Penutup.

2. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia

Menurut Krissandi, dkk. (2018) terdapat metode-metode pembelajaran yang bisa digunakan guru dalam mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa, diantaranya adalah sebagai berikut.

a. Metode Ceramah

Metode ceramah adalah metode pembelajaran dengan cara menerangkan atau menjelaskan materi pembelajaran secara lisan. Guru dapat menyelipkan pertanyaan-pertanyaan, dan siswa dapat menyimak serta mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh guru.

(26)

14

b. Metode Tanya Jawab

Metode ini digunakan guru untuk menanyakan kepada siswa terkait hal-hal yang sudah disampaikan guru untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari. Metode ini juga dapat digunakan untuk berdiskusi bersama siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.

c. Metode Diskusi

Metode diskusi digunakan apabila siswa diminta untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dengan bertukar pikiran. Pada penggunaan metode diskusi ada peran yang harus dilaksanakan oleh kelompok diskusi. Peran tersebut adalah pemimpin diskusi, pembicara, peserta diskusi, dan penulis jalannya diskusi.

Penggunaan metode diskusi sebagai metode pembelajaran, peran pemimpin diskusi dapat dipegang guru atau juga dapat diserahkan kepada siswa.

d. Metode Bekerja Kelompok

Metode bekerja kelompok didasarkan pada beberapa latar belakang seperti kurangnya alat pelajaran yang tersedia, kemampuan siswa yang bervariasi, partisipasi siswa dalam bekerja kelompok, dan rumitnya materi yang dipelajari.

e. Metode Sosiodrama

Metode sosiodrama digunakan apabila guru meminta siswa mendramatisasikan sekaligus memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat. Dengan metode ini diharapkan siswa memahami dan mendalami nilai- nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.

f. Metode Resitasi

Metode resitasi atau metode penugasan digunakan bila pembelajaran bertujuan menambah pengertian dan memantapkan hasil belajar yang telah dikuasai siswa, melatih siswa belajar, melatih siswa membagi waktu sesuai dengan kondisi masing-masing, melatih siswa berdisiplin dan tidak mengabaikan waktu, melatih siswa mencari dan menemukan cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan tugas, memperkaya pengalaman siswa.

g. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode penyajian yang memperlihatkan proses terjadinya, atau melaksanakan sesuatu. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia metode ini bisa digunakan guru dalam memberikan contoh dalam membaca puisi, pidato, dongeng, dan lain sebagainya. Guru juga dapat menunjuk salah satu siswa untuk mendemonstrasikan kemapuan-kemampuan yang dimilikinya.

h. Metode Karya Wisata

Dengan karyawisata diharapkan siswa memperoleh pengalaman langsung dari objek yang dilihat, dan diamati. Pelaksanaan metode ini harus didahului perencanaan yang matang karena menyangkut biaya, sarana, tenaga, waktu dan pengelolaan yang matang. Setelah karya wisata selesai diadakan diskusi, menyusun laporan dan diadakan tindak lanjut.

3. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia

Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di madrasah ibtidaiyah adalah:

a. Pendekatan Saintifik (Scientific Approach): Menggunakan langkah-langkah seperti mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan.

(27)

15

b. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning): Mengaitkan materi Bahasa Indonesia dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga lebih relevan dan mudah dipahami.

c. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning): Siswa diberikan proyek untuk menghasilkan karya, seperti menulis cerita atau membuat presentasi, yang melibatkan semua keterampilan berbahasa.

4. Media Pembelajaran Bahasa Indonesia

Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk memperjelas pembelajaran yang disampaikan kepada siswa, dan memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Media pembelajaran terdiri dari beberapa jenis, di antaranya media visual, media audio, media audio visual, dan lain sebagainya. Guru tentu perlu memilih media pembelajaran yang relevan dengan materi yang disampaikan, dan juga disesuaikan dengan keadaan dan karakteristik siswa.

Terdapat beberapa pilihan media pembelajan yang bisa guru gunakan dalam mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa, di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Kartu Gambar

Kartu gambar bisa digunakan dalam memperkenalkan kosa kata baru kepada siswa, bisa untuk membandingkan benda, melatih keterampilan siswa dalam bercerita.

b. Buku Cerita Bergambar

Media ini akan memberikan stimulus kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan membacanya, karena melalui buku cerita bergambar siswa akan tertarik untuk mengetahui isi cerita bergambar tersebut.

c. Boneka Tangan

Media boneka tangan adalah alat bantu yang digunakan baik guru atau siswa pada proses pembelajaran, terbuat dari potongan kain flannel atau jenis kain lainnya yang dibentuk atau dihias sedemikian rupa sehingga dapat ditampilkan menjadi beragam tokoh dengan karakter masing-masing. Melalui media ini diharapkan dapat memunculkan motivasi siswa untuk bercerita atau menyimak cerita yang disampaikan oleh guru.

d. Papan Tulis Interaktif

Melalui media papan tulis interaktif ini guru dapat menampilkan gambar, video, atau animasi yang relevan dengan materi yang dipelajari, sehingga guru dapat menjelaskan suatu konsep secara konkret. Atau bisa juga digunakan untuk mendengarkan percakapan, cerita, atau informasi yang relevan dengan materi.

e. Permainan Edukatif

Media permainan edukatif ini bisa guru buat dengan berbagai jenis, misalnya monopoli, ular tangga, dan lain sebagainya. Harapannya dapat melatih keterampilan berbahasa sambil bermain, seperti mencocokan gambar dengan kata, atau membuat kalimat sederhana.

f. Media Digital

Teknologi yang semakin berkembang, guru juga dapat memanfaatkan teknologi atau media digital ini pada proses pembelajaran. Misalnya dengan akses ke berbagai sumber belajar, seperti e-book, aplikasi belajar atau situs web yang menyediakan latihan membaca, menulis, dan mendengarkan secara interaktif, bisa juga memanfaatkan permainan edukasi yang tersedia diberbagai platform online.

(28)

16

5. Langkah-langkah Pembelajaran Bahasa Indonesia

Untuk lebih memahami terkait implementasi dari materi-materi yang sudah dijelaskan pada bagian ini, silahkan bapak ibu simak video di bawah ini.

https://youtu.be/uwcX2PHbFYI?feature=shared

E. Kontekstualisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah

Sebagaimana yang kita ketahui tingkat madrasah ibtidaiyah memberikan waktu belajar lebih lama dibandingkan tingkat sekolah formal lainnya, tentu hal ini menunjukkan bahwa begitu pentingnya pembelajaran pada tingkat sekolah dasar ini, karena sekolah dasar menjadi awal yang akan menentukkan keberhasilan menuju pada tingkat berikutnya. Seringkali kita menemukan siswa yang tidak naik kelas karena belum mampu untuk membaca dan menulis dengan baik. Tentu hal ini harus menjadi perhatian atau bahan refleksi bagi guru, dan tenu hal ini juga merupakan tantangan bagi guru dalam mengajarkan bahasa kepada siswa.

Tantangan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dapat dipahami melalui berbagai aspek, di antaranya meliputi.

1. Perubahan dinamika sosial dan teknologi

2. Terdapat latar belakang budaya siswa yang bervariasi

3. Perubahan kurikulum dan tuntutan pendidikan yang semakin meningkat

Untuk lebih lengkapnya terkait penjelasan tantangan dan solusi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, bapak ibu guru bisa mempelajari artikel yang bisa pindai melalui barcode di bawah ini.

https://qr.me-qr.com/nai7BPLv

F. Metakognisi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah

Keberhasilan belajar siswa dapat dicapai apabila siswa secara sadar mampu mengontrol proses kognitifnya secara berkesinambungan dan berdampak pada peningkatan kemampuan metakognitif. Upaya untuk memperbaiki kemampuan siswa berkaitan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor banyak dilakukan. Pengembangan metakognitif secara

(29)

17

signifikan merupakan efek yang dihasilkan dari pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah. Sanjaya (2006) mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran ada tiga pengajaran berpikir yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, yakni teaching of thinking, teaching for thinking, dan teaching about thinking. Pelaksanaan ketiga aspek itu dalam pembelajaran dapat memfasilitasi kemampuan berpikir siswa, di antaranya untuk memcapai kompetensi komunikasi berbahasa Indonesia. Toccasu-Project (2008) mengemukakan bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar dipengaruhi oleh kemampuan metakognisinya. Jika setiap kegiatan belajar dilakukan dengan mengacu pada indikator dari learning how to learn maka hasil optimal niscaya akan mudah dicapai.

Setelah mempelajari topik Bahasa Indonesia di atas, silahkan bapak/ibu renungkan pelajaran atau hikmah yang dapat diambil dari materi tersebut dengan menjawab pertanyaan berikut.

1. Sebelum mempelajari topik 1, saya berpikir bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di Madrasah Ibtidaiyah

2. Setelah mempelajari topik 1 ini, ternyata

3. Hal ini membuat saya berpikir bahwa terdapat materi yang dianggap mudah

4. Selain itu, saya menyadari terdapat materi yang saya anggap sulit

5. Saya melakukan diskusi bersama teman sejawat dan pimpinan di tempat saya mengajar mengenai materi yang saya anggap sulit tersebut.

(30)

18

6. Setelah mempelajari materi pada topik ini, apa yang dapat saya lakukan untuk membuat perubahan dalam praktik pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas saya?

G. Kesimpulan

Bahasa Indonesia berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, dalam dunia pendidikan, dan kebudayaan. Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan di sekolah dasar, karena bahasa merupakan pokok dari proses pendidikan sekolah. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan. Tujuan dari mata pelajaran Bahasa Indoesia di sekolah dasar adalah agar siswa mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebaai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperluas budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya intelektual manusia Indonesia.

Ruang lingkup dari mata pelajaran Bahasa Indoenesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Adapun materi yang di ajarkan meliputi pengenalan huruf dan kata, membaca dan menulis kalimat sederhana, menulis cerita sederhana dan membaca nyaring, struktur teks dan menulis surat, membaca teks dan menyampaikan pendapat, serta menulis cerita pendek dan membaca teks informasi. Terdapat beberapa model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di antaranya yaitu model pembelajaran kolaboratif, model pembelajaran kontekstual, model PBL, model pembelajaran PAIKEM, dan model pembelajaran Cooperative Integrated Re

Referensi

Dokumen terkait

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini mengkaji konsep dasar perkembangan bahasa anak, pendekatan, dan strategi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di kelas I dan II

Teori behaviorisme menyoroti aspek perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (response).Perilaku bahasa yang efektif

Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Indonesia ……… B.. Konsep Dasar Kemampuan Menyimak di

(4) Buku teks pelajaran Bahasa Indonesia sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI), sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), serta sekolah

Kompetensi Dasar : Memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang pembelajaran bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggisekolah dasar yang meliputi (1) konsep

pendidikan yaitu; lingkungan keluarga, madrasah, dan masyarakat.(2) Penerapan konsep-konsep pembelajaran Bahasa Arab di madrasah adalah belajar menggunakan bahasa

PETA KONSEP MODUL 5 PDGK4204 c TELAAH KURIKULUM DAN BUKU TEKS MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR KELAS TINGGI KB 1 ASPEK PEMBELAJARAN BAHASA KB 2 KAJIAN BUKU TEKS

Alokasi waktu tersebut lebih jelasnya mengikuti ketentuan pada tabel berikut: No Aktivitas Pembelajaran Tujuan Waktu 1 Mengerjakan Pretes Mengukur pemahaman awal guru 30 menit 2