Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan (Studi Living Hadits).
Tradisi Nyonok Eslangkangan (Kang-kang) Ebhuh (merangkak di bawah kang-kang paha ibu), di budayakan oleh masyarakat Toron Samalem, Blumbungan, Larangan, Pamekasan dimana mereka mempercayai dengan tradisi tersebut dapat memberikan keridloan Allah SWT melalui media orang tua di mana ketika anak mau menghadapi suatu permasalahan atau hal yang terbesar dalam hidupnya seperti akan menikah, merantau, dan akan menghadapi ujian sekolah dan lain sebagainya, yang dirasa dalam hidupnya begitu berat maka memperaktekkan tradisi tersebut agar apa yang diharapkan mereka di ijabahkan oleh Allah SWT dengan mengharapkan keridhoan Allah dan mereka mempercayai dengan dasar Hadits “Ridho Allah tergantung Ridho orang tua, dan Murka Allah tergantung murka orang tua”.
Focus penelitian ini adalah :1). Bagaimana sejarah tradisi nyonok Eslangkangan Ebhuh ? 2). Bagaimana proses tradisi nyonok Eslangkangan Ebhuh
? 3). Bagaimana pemahaman masyarakat Dusun Toron samalem, Desa Blumbungan terhadap tradisi nyonok Eslangkangan Ebhuh yang diImplementasikan dari hadits?
Tujuan penelitian ini adalah 1). Mendiskripsikan sejarah pelaksanaan tradisi nyonok Eslangkangan Ebhuh. 2). Mendiskripsikan proses tradisi nyonok Eslangkangan Ebhuh. 3). Mendiskripsikan bagaimana pemahaman masyarakat desa Toron Samalem, Blumbungan dalam mengimplementasikan hadits yang dibuat sebagai dasar Nyonok Eslangkangan Ebhuh.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi lapangan dengan subjek penelitian menggunakan purposive sampling dan metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis model Miles and Huberman dengan tiga tahapan, yaitu : reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian ini adalah : 1). Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh diperkirakan bermula dan berkembang pada saat jaman penjajahan dimana pada saat itu pemuda yang akan melakukan peperangan terlebih dahulu meminta restu kepada orang tuanya dengan harapan akan diberi keselamatan dan kemenangan dimedan perang. 2). Proses tardisi Nyonok Eslangkangan EbhuhDimulai berdirinya seorang ibu tepat di pintu utama rumah, sambal mengangkat paha sebelah kanan. Dilanjutkan dengan merangkaknya sang anak dari belakang sang ibu dan melewati slangkangan (kang-kang) ibunya dengan cara Nyalonuk (merangkak). 3). dari semua pandangan mayarakatsemuanya sepakat bahwa tradisi ini adalah tradisi yang positif dan harus tetap di lestarikan.
A. Konteks Penelitian
Agama merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan masyarakat, yang di jadikan sebagai kepercayaan dan juga sebagai bagian dari kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Aspek religius pada pola keberagaman setiap pemeluk Agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran dari keberagamaan itu sendiri dan sebisa mungkin untuk berusaha membumikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terutama aspek menjalani kehidupan sehari-hari. Maka dari itu agama sangat di butuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Emile Durkheim, seorang pelopor Sosiologi Agama di Prancis, ia mengatakan “bahwa agama merupakan sumber semua dari kebudayaan yang paling tinggi nilainya, jadi sepantasnya jika respon kebudayaan ini harus di realisasikan dan sangat di butuhkan oleh masyarakat terutama terhadap nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya”.1
Dalam Agama Islam Al-qur’an memiliki kedudukan yang tertinggi sebagai pedoman hidup, yang mengatur seluruh aspek kehidupan dari tatacara untuk beribadah, hubungan antara hamba dan tuhan-Nya hubungan hamba dengan hamba yang lain (bersosialisasi dengan masyarakat), akhlaq (budi pekerti), dan lain sebagainya.
1Thomas F. O’dea Sosiologi Agama, terj. Tim Yasogama, (Jakarta: Grafindo Persada, 1996), 3.
Hadits atau Sunnah Nabi SAW dalam pandangan umat Islam merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Secara struktural ia menduduki posisi kedua setelah Al-Qur’an. Hadits merupakan sebuah narasi yang memberikan informasi tentang perkataan, perbuatan, maupun persetujuan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. Oleh karena Rasulullah adalah orang yang dipilih Allah untuk menerima wahyu dari-Nya, maka semua perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasulullah itu dijadikan sebagai penjelasan atau petunjuk dalam memahami al-Qur’an.2
Demikian juga perhatian terhadap hadits-hadits nabi sudah dimulai sejak masa Rasulullah SAW dari segi memelihara hadits dengan cara mengamalkan atau memperaktekannya, menghafal, mengingat, menulis dan menghimpunnya.3 Hadits pada dasarnya sangat penting untuk di kaji dalam segi hal keotentikan karena merupakan salah satu unsur terpenting di dalam Islam. Dia menempati martabat yang kedua setelah al-qur’an dari sumber- sumber hukum Islam. Dan telah disepakati sebagai pedoman umat Islam setelah al-qur’an, namun masih banyak pertentangan mengenai hadits, karena hadits tidak seotentik Al-Qur’an oleh sebab itu tidak ada henti-hentinya untuk dijadikan kajian atas isi hadits maupun keilmuan hadits. Bahkan kajian hadits terus meluas dan selalu berkembang seiring berlangsungnya zaman dan kebutuhan hidup masyarakat.4 Namun penelitian terhadap keotentikan hadits terbilang sudah selesai, semisal di lihat dari segi sanad dan matan.
2T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999), cet. VI,156-159.
3Dr. H. Abdul Majid khon, M.Ag,ulumul Hadits, (Jakarta: AMZAH, 2015), 75.
4Nur Kholis M.Ag, Pengantar Studi Al-Qur’an dan Al-Hadits, (gowok depok sleman yogyakarta:
Teras), 215
kajianseputar sanad hadits sudah berlangsung lama oleh ulama terdahulu dan telah banyak dari hadits-hadits yang telah diteliti baik secara sanad maupun kedudukan dan derajat hadits.
Era moderen ini banyak yang masih belum mengetahui ke otentikan dan ke aslian dari apa yang di kerjakannya dan apa yang di ikutinya itu benar atau kah salah. Begitupun juga anggapan yang ada pada masyarakat kebiasaan dan lain sebagainya masih juga belum begitu mengetahui apakah ‘urf (kebiasaan) yang di kerjakan itu ada haditsnya ataukah tidak, ataukah mengikuti atsar para sahabat, tabi’in, dan ulama’ sebelumnya atau hanya kebiasaan yang di buat-buat oleh masyarakat terdahulu atau masyarakat pada zaman itu sendiri.
Setelah Nabi wafat, sunnah Nabi tetap merupakan sebuah ideal yang hendak diikuti oleh generasi Muslim sesudahnya, dengan menafsirkan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan mereka yang baru dan materi yang baru pula. Penafsiran yang kontinu dan progresif ini, di daerah-daerah yang berbeda misalnya antara daerah Hijaz, Mesir dan Irak disebut sebagai “Sunnah yang hidup” atau Living Sunnah. Sunnah di sini dalam pengertian sebagai sebuah praktek yang disepakati secara bersama (Living Sunnah). Sebenarnya Sunnah relatif identik dengan ijma’ kaum Muslimin dan ke dalamnya termasuk pula ijtihad dari para ulama generasi awal yang ahli dan tokoh-tokoh politik di dalam aktivitasnya. Dengan demikian, “sunnah yang hidup” adalah
sunnah Nabi yang secara bebas ditafsirkan oleh para ulama, penguasa dan hakim sesuai dengan situasi yang mereka hadapi.5
Haditspun Terkait erat dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat yang semakin kompleks dan diiringi adanya keinginan untuk melaksanakan ajaran Islam yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. maka hadis menjadi suatu yang hidup di masyarakat dan di praktekkan di masyarakat Fenomena ini selanjutnya berkembang dengan istilah Living Hadits.
Living hadits adalah suatu hadits yang hidup dan berkembang di masyarakat.6 Secara sederhana “living hadis” dapat dimaksudkan sebagai gejala yang nampak di masyarakat berupa pola-pola perilaku yang bersumber dari maupun sebagai respons pemaknaan terhadap hadis Nabi Muhammad SAW. Di sini terlihat adanya pemekaran wilayah kajian, dari kajian teks kepada kajian sosialbudaya yang menjadikan masyarakat agama sebagai objeknya.7
Living hadis mempunyai tiga model yaitu tradisi tulisan, tradisi lisan dan tradisi praktik. Uraian yang digagas ini mengisyaratkan adanya berbagai bentuk yang lazim dilakukan di satu ranah dengan ranah lainya terkadang saling terkait erat. Hal tersebut dikarenakan budaya praktik umat Islam lebih menggejala dibanding dengan dua tradisi lainya, tradisi lisan dan praktik.
Tradisi tulis menulis sangat penting dalam perkembangan living hadis. Tulis
5Suryadi dkk, Metodologi penelitian living Qur’an dan hadits. hlm. 93.
6M. Alfatih Suryadilaga, Aplikasi Penelitian Hadits Dari Teks ke Konteks (Yogyakarta: Kalimedia, 2016),174.
7M. Alfatih Suryadilaga dkk, Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006), 193.
menulis tidak hanya sebatas sebagai bentuk ungkapan yang sering terpampang dalam tempat-tempat yang strategis seperti bus, masjid, pesantren dan lain sebagainya. Ada juga tradisi yang kuat dalam khazanah khas Indonesia yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad saw yang terpampang dalam berbagai tempat tersebut.8
Model living hadis selanjutnya adalah tradisi lisan dipakai dalam memaknai hadits yang berupa kata-kata atau suatu perbuatan yang didalamnya bisa diamalkan melalui lisan. Hal ini terlihat dengan doa-doa yang diajarkan langsung dari Rasulullah, atau suatu perintah untuk membaca surat tertentu di hari-hari tertentu pula, sebagai contoh pembacaan surat As-Sajdah dan surat Al-Insan di waktu shubuh di hari Jum’at. Hal ini sudah termasuk menjadi kajian dari Living Hadits dari varian tradisi lisan.9
Model living hadis yang terakhir adalah tradisi praktik ini banyak dilakukan umat Islam.10 Yang mana di masyarakat banyak di amalkan atau di peraktekkan dan menjadi tradisi yang berkembang di masyarakat seperti yang terdapat di Madura yakni di Toron Samalem Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan yang sampai saat ini masih berkembang yaitu tradisi “Nyonok Eslangkangan(Kang-kang) Ebhuh (merangkak di bawah kang-kang paha ibu)” yang di budayakan oleh masyarakat Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kabupaten Pamekasan dengan tradisi tersebut dapat memberikan keridloan bagi orang tua di mana ketika anak akan menghadapi suatu permasalahan atau hal yang terbesar dalam hidupnya
8M. Alfatih Suryadilaga dkk,Metodologi Penelitian Living Hadits (Yogyakarta: Teras, 2007), 116.
9Ibid, 121.
10Ibid, 123.
seperti akan menikah, merantau, dan akan menghadapi ujian sekolah dan lain sebagainya, yang dirasa dalam hidupnya begitu berat maka memperaktekkan tradisi tersebut. Masyarakat Toron Samalem, Desa Blumbungan mempercayai Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh ini sebagai implementasi dari hadits nabi yaitu :
ﻦﻋﻭ
ﺪﺒﻋ
ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹺﻦﺑ
ﺿﺭﺮﻤﻋ
ﻲ
ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺎﻤﻬﻨﻋ ,
ﻦﻋ
ﻲﹺﺒﻨﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﹶﻝﺎﹶﻗ :
) ﺎﺿﹺﺭ
ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻲﻓ ﺎﺿﹺﺭ ﹺﻦﻳﺪﻟﺍﻮﹾﻟﺍ ,
ﹸﻂﺨﺳﻭ
ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻲﻓ
ﻂﺨﺳ ﹺﻦﻳﺪﻟﺍﻮﹾﻟﺍ
.(
ﻪﺟﺮﺧﹶﺃ
ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ,
ﻪﺤﺤﺻﻭ
ﻦﺑﺍ ﹶﻥﺎﺒﺣ
ﻢﻛﺎﺤﹾﻟﺍﻭ .
11
Artinya : Dan dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi SAW telah bersabda :
“Keridhaan Allah terletak kepada keridhaan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua “.(H.R. At-Tirmidzi dan di Shahihkan oleh ibn hibban dan hakim).
Dalam mengimplementasikan hadis tersebut masyarakat Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, menjadikan ibu sebagai media untuk mendapatkan keridloan dengan cara merangkak di Slangkangannya dan bukan di Slangkangan Bapak/Ayah karena merujuk pada hadits nabi yaitu12:
ﻦﻋ ﺲﻧﺃ ﻦﺑ ﻚﻟﺎﻣ - ﻲﺿﺭ ﷲﺍ ﻪﻨﻋ - ﻝﺎﻗ ﻝﻮﺳﺭ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﷲﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ) ﺔﻨﳉﺍ
ﺖﲢ ﻡﺍﺪﻗﺍ ﺕﺎﻬﻣﻻﺍ (
ﻩﺍﻭﺭ ﺪﲪﺍ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍﻭ ﻦﺑﺍﻭ
ﻪﺟﺎﻣ ﺎﳊﺍﻭ ﻢﻛ
13
.
Artinya : “Surga itu dibawah telapak kaki ibu”. (H.R. Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
11Abu Alfadl Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar Al-‘asqalani, Bulughul Maram min Adillati Al-ahkam, 1424 H, Juz 1, 443.
12Baihaki bin Jamaludin, Wawancara, Dusun Toron Samalem, 03 Agustus 2107.
13Abu ‘Abdillah Muhammad bin salamah bin ja’far bin ‘Ali bin Hukmun Al-Qadhi Al-Mishriy, Musnad As-syihab, (Muassasatu Ar-risalah : Bayrut, 1407), Juz 1, 102.
Oleh sebab itu dirasa sangat unik dan penting untuk dikaji dan diteliti sebagai bahan kajian dan pengetahuan dari tradisi yang jarang bahkan tidak ada tradisi yang seperti itu di kelompok masyarakat lainnya, maka sekiranya sangat penting bagi penulis untuk di jadikan sebuah atau di angkat sebagai judul skripsi yang berjudul Tradisi Nyonok Eslangkangan (Kang-Kang) Ebhuh Di Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pemekasan (Studi Living Hadits). Agar menambahkan wawasan kita terhadap fenomena yang masih sampai sekarang di peraktekkan di masyarakat yang di implementasikan dari hadits, yang kita fahami sebagai
“Living hadits”.
B. Fokus Penelitian
Perumusan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus penelitian. Bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui proses penelitian. Fokus penelitian harus disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang dituangkan dalam bentuk kalimat tanya.14
Berdasarkan pengertian tersebut, maka penelitian ini akan difokuskan dalam rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Sejarah TradisiNyonok Eslangkangan Ebhuh ? 2. Bagaimana Proses Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh ?
14Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 45.
3. Bagaimana Pemahaman Masyarakat DusunToron Samalem, DesaBlumbungan terhadap Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh yang di Implementasikan dari Hadits?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu dan konsisten dengan masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah yang telah dirumuskan dalam rumusan masalahsebelumnya.15 Diantaranya ialah : 1. Mendiskripsikan Sejarah Pelaksanaan Tradisi Nyonok Eslangkangan
Ebhuh
2. Mendiskripsikan Proses Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh
3. Mendiskripsikan Bagaimana Pemahaman Masyarakat Dusun Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan dalam mengimplementasikan Hadits yang dibuat sebagai dasar Nyonok Eslangkangan Ebhuh.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah penelitian selesai melakukan penelitian, kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, seperti kegunaan bagi
15Ibid.,45.
penulis, instansi dan masyarakat secara kesuluruhan. Kegunaan penelitian harus realistis.16
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat menambah khazanah dan wawasan keilmuan tentang “Tradisi Nyonok Eslangkangan (Kang- Kang) Ebhuh Dusun Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pemekasan (Studi Living Hadits)”.
a. Menambah pengetahuan mengenai Tradisi yang sampai saat ini masih di laksanakan dan berkembang seperti Tradisi Nyonok Eslangkangan (Kang-Kang) Ebhuh Di Dusun Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran secara lengkap mengenai hadits dan praktek Tradisi Nyonok Eslangkangan (Kang- Kang) Ebhuh Di Dusun Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti, sebagai bahan studi empiris bagi penyelesaian Skripsi diProgram Studi Ilmu Hadits, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora IAIN Jember dan menambah wawasan tentang tradisi
16Ibid.,45.
yang masih hidup di masyarakat dengan fenomena yang jarang atau bahkan tidak di lakukan di desa-desa lain.
b. Bagi IAIN Jember, sebagai tambahan literatur atau refrensi Living Hadits dan bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan kajian tentang tradisi yang bisa dibilang masih hidup dan di peraktekkan di masyarakat sebagai acuan tradisi ini baik ataukah tidak ataupun bisa di kembangkan atau tidak dan juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih intelektual kepada peneliti selanjutnya mengenai Tradisi Nyonok Eslangkangan (Kang-Kang) Ebhuh.
c. Bagi Masyarakat Toron Samalem, Desa Blumbungan hasil penelitian ini merupakan salah satu bahan informasi yang bisa dijadikan bahan masukan konstruktif dalam upaya melaksanakan tradisi tersebut.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.17
Adapun yang menjadi definisi istilah dalam judul Tradisi Nyonok Eslangkangan (kang-kang) Ebhuh sebagai berikut:
1. Tradisi
Adat atau kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih di jalankan dalam masyarakat, penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.18
17Ibid., 45.
2. Nyonok Eslangkangan (kang-kang)
Merangkak di celah Kang-kang atau kunci paha ibu.19 3. Hadits
Hadits berasal dari kata hadits jamaknya ahadits, hidtsan dan hudtsan.
Namun yang populer adalah ahadits. Dari segi bahasa, kata ini memiliki banyak arti, diantaranya al-jadid (sesuatu yang baru).20 Adapun secara istilah terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Misalnya, ulama hadits berpendapat bahwa hadits adalah segala ucapan, perbuatan, ketetapan dan segala keadaan yang ada pada Nabi Muhammad SAW.21 Ada juga yang berpendapat menyamakan antara hadits dengan sunnah, yang berpendapat bahwa hadits menunjukkan pada penampilan kepribadian nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, bentuk-bentuk hadits atau sunnah adalah berita yang berkaitan dengan perkataan (qauly), perbuatan (fi’ly), ketetapan (taqriry), atau hal-ihwal (segala sifat dan pribadi) Nabi Muhammad SAW.22 Sedangkan ulama ushul mengatakan hadits adalah segala perkataan, perbuatan dan takrir Nabi Muhammad SAW yang bersangkut-paut dengan hukum Islam. Sedangkan menurut Ulama Fiqih mereka menyebut hadits hanya terfokus pada atau informasi
18Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka), 1180.
19Kamus besar edisi ke lima aplikasi luring resmi badan pengembangan dan pembinaan bahasa, kementrian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia.
20M. Syuhudi Ismail, Kaidah Keshahihan Sanad Hadits : Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Sejarah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), 78.
21M. Alfatih Suryadilaga dkk, Ulumul Hadits, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), 21.
22Ayat Dimyati dkk, Teori Hadits, cet 1- (Bandung : Pustaka setia, 2016), 20.
yang hanya terpusat pada Hukum saja.23 Perbedaan-perbedaan dalam memberikan definisi ini disebabkan perbedaan cara peninjauan semata.
Dengan demikian, yang dimaksud oleh judul Tradisi Nyonok Eslangkangan (Kang-Kang) Ebhuh Di Dusun Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan (Studi Living Hadits) adalah suatu aktivitas berdasarkan acuan norma Agama yang memiliki tujuan tertentu dan sudah di rencanakan berupa bentuk pelaksanaan atau peraktek yang meliputi ucapan dan peragaan tubuh yang khusus, dimulai merangkaknya seorang anak di bawah Slangkangan (kang-kang) ibu dari dalam pintu rumah utama lalu keluar rumah dengan tetap posisi merangkak sambil bersholawat dan setelah itu ibu berdoa’
memohon kepada Allah agar selamat dan di mudahkan segala urusannya dan tercapai apa yang di inginkannya dengan tujuan ingin di ridhai Allah SWT, melalui jalan meminta keridloan seorang ibu dengan peraktek tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh mengaca pada hadits yang menjelaskan ridha Allah tergantung keridloan orang tua dan hadits yang mengatakan surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.24 Sistematika pembahasan merupakan rangkuman sementara dari isi skripsi yang bertujuan
23Muh. Zuhri, Hadits Nabi Telaah Historis dan Metodologis, penyunting, (Faraz Umaya, Cet.II,Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2003), 03.
24Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 48.
untuk mengetahui secara global dari seluruh pembahasan yang sudah ada.
Pada bagian sistematika pembahasan ini dimaksudkan untuk menunjukkan cara pengorganisasian atau garis-garis besar dalam penelitian ini sehingga akan lebih memudahkan dalam meninjau dan menanggapi isinya. Masing- masing bab disusun dan dirumuskan dalam sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab Iadalah pendahuluan. Dalam bab ini terdiri dari latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.
Bab II adalah kajian kepustakaan.Yakni mencakup (kajian terdahulu dan kajian teori), di dalam kajian terdahulu disajikan untuk mengetahui apakah obyek yang menjadi bahan penelitian sudah pernah diteliti sebelumnya atau belum.Sedangkan dalam kajian teori berisi tentang teori-teori yang berkaitan dengan Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh di Desa Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten pamekasan.
Bab III berisi berbagai hal yang berkitan dengan metode penelitian, yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, tahap- tahap penelitian.
Bab IV adalah bentuk inti dari penelitian apakah pembahsan ini sudah sesuai dengan fokus masalah atau yang biasa kita sebut sebagai rumusan masalah, dalam bab ini dibahastentang gambaran obyek penelitian, penyajian data, dan analisis serta pembahasan.
Bab V adalah kesimpulan dan saran. Dalam bab ini ditulis kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di lapangan Bagian ini juga berisi daftar pustaka, pernyataan keaslian tulisan dan lampiran-lampiran berupa dokumentasi penelitian dan biografi penulis.
Bagian ini merupakan kajian teori dari bermacam- macam sumber informasi yang berkaitan erat dengan permasalahan penelitian yang hendak dipecahkan. Keberadaan kajian teori pustaka adalah mutlak diperlukan untuk mengajak peneliti lebih mendalami dan menguasai pengetahuan yang berkaitan erat dengan rumusan masalah.25
A. Penelitian Terdahulu
Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan (skripsi, tesis, disertasi dan sebagainya). Dengan melakukan langkah ini, maka akan dapat dilihat sampai sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.26
Sepanjang penelusuran yang di lakukan penulis, beberapa penelitian sejenis yang telah ada antara lain :
1. Kajian terhadap Living Hadits
Penelitian Muhammad Al-fatih suryadilaga tentang “ pemaknaan shalawat dalam komunitas joget shalawat mataram : “Kajian Living Hadits” menyebutkan bahwa joget shalawat mataram merupakan sebuah fenomena tradisi sosial budaya keagamaan yang dapat di kategorikan
25Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan : Kompetensi dan Praktiknya (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2014), 39.
26Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 45
sebagai tarian spiritual atau gerakan spiritual. Selain itu joget shalawat mataram di yakini sebagai sebuah fenomena Living hadits sebab joget shalawat mataram merupakan tarian spiritual yang bernafaskan nilai-nilai Islam. Hadits-hadits nabi yang dijadikan prinsip dasar joget shalawat mataram adalah hadits-hadits tentang perintah bershalawat kepada nabi SAW dan hadits-hadits tentang perintah meneladani akhlaq nabi. Joget shalawat mataram juga mengandung fenomena “syia’ar budaya religius”
dan sebagai gerakan sosisal.27 Penelitian yang dilakukan Muhammad alfatih suryadilaga ini memiliki kemiripan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, yaitu bahwa penelitian yang dilakukan ini termasuk dalam kategori penelitian Living hadits akan tetapi objek kajiannya berbeda dengan yang dilkukan oleh penulis.
Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Arrofiqi tentang Implementasi Hadits Birrul walidain setelah meninggal dunia pada massyarakat Wonokromo (studi Living hadits). Penulisan dalam skripsi ini mengkaji tentang salah satu budaya yang terdapat di jawa, seperti halnya budaya nyandran yang di jadikan sebagai fokus penelitian bahwa Nyandran merupakan sebuah ritual yang dikhususkan kepada para roh nenek moyang yang telah meninggal sebagai upaya meminta petunjuk atas beberapa permasalahan bagi pelaksana. Hal ini karena menurut mereka bahwa arwah nenek moyang itu lebih dekat kepada Allah SWT sehingga ketika berdoa’ akan lebih mudah untuk di kabulkan. Akan tetapi setelah
27Muhammad alfatih suryadilaga, pemaknaan shalawat dalam komunitas joget shalawat mataram:
studi Living hadits”, (penelitian dosen fakultas ushuluddin, UIN Jogjakarta, 2013).
Islam datang budya ini sedikit mengalami perubahan dari sebelumnya, sebab budaya ini tidak dihapus oleh para wali songo yang telah menyebar Islam.28
Kesamaan penelitian ini dengan penelitian penulis adalah bahwa sama-sama fokus pada kajian Living hadits, akan tetapi budaya yang diteliti tidak sama dengan penulis serta tempat penelitian yang di lakakukan penulis.
Penelitian yang dilakukan muhammad alfatih suryadilaga tentang Living hadits tradisi Sekar Makam. Dalam penelitian ini di sampaikan bahawa salah satu Fenomena Living hadits yang dapat di temukan di Yogyakarta adalah tradisi ziarah kubur di pemakaman perambahan senopati kota gede, kegiatan ziarah kubur dimaksud dirujuk melalui hadits Nabi Muhammad walaupun tidak semuanya mengetahui teks haditsnya karena sebatas pendapat pengetahuan dari tokoh agama melalui ceramah.
Adapun peraktek pelaksanaannya di sesuaikan dengan konteks masyarakat Jawa. Para pengunjung makam memiliki sikap atau pandangan yang berbeda-beda. Pelestarian kebiasaan atau tradisi jawa, yaitu mendoakan leluhur, perantara tuhan dan mencari berkah. Namun ada juga yang lebih dekat, yaitu hanya sekedar mendoakan ahli kubur yang juga termasuk penyebar agama Islam.29
28Ahmad Arrofiqi, Implementasi Hadits Birrul Walidaini setelah meninggal dunia pada
masyarakat Wonokromo (Studi Living Hadits), (Skripsi S1 fakultas Ushuluddin dan pengkajian Islam, UIN Jogjakarta, 2009).
29Muhammad alfatih suryadilaga, “Living hadits dalam Tradisi Sekar Makam”, Al-risalah, volume 13, no 1.
Perbedaan penelitian penulis dengan penelitian muhammad alfatih suryadilaga adalah terletak dalam perbedaan tempat dan kasus yang diteliti walaupun pada dasarnya penelitian ini sama-sama menggunakan pendekatan Living hadits.
2. Kajian berbakti kepada orang tua
Skripsi yang di tulis oleh Maulida Adawiyah jurusan Ilmu Al- Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan pemikiran Islam Universitas Islam negri Jogjakarta yang berjudul “Berbakti kepada Orang tua dalam Ungkapan Al-Qur’an” (pendekatan teori anti sinonimitas). Memaparkan bahwasanya berbakti kepada orang tua dibagi menjadi tiga istiilah yang sering di sebut dalam redaksi ayat lafadz birr, ihsan, dan Ma’ruf .ketiga tersebut secara umum bermakna baik, akan tetapi sebenarnya memiliki makna berbeda dalam setiap ungkapan kebaikan. Lafadz birr menggambarkan kata Tawassu’ (kebaikan yang memiliki makna luas) atau perbuatan yang sangat istimewa baiknya, karena kebaikan tersebut di dasari oleh cinta, kebajikan, dan juga di dorong oleh pengalaman religius yang berkenaan dengan taqwa. Adapun lafdz Ihsan perbuatan baik yang sesuai dengan akal, keinginan dan panca indra. Selain itu ihsan berbuat baik dalam segenap pekerjaan, yaitu mengerjakan amal perbuatan secara professional, yang mana mencakup ketulusan, keikhlasan, bagus dan rapi baik yang wajib maupun yang sunnah. Di dalam Al-qur’an lafadz ihsan memiliki makna yang sangat baikkarena perbuatan tersebut di tunjukkan oleh makhluk sosia; termasuk kepada orang tua. Sedangkan lafadz Ma’ruf
bermakna kebaikan yang dapat dipahami oleh masyarakat (lokal kultural) dan kebaikan tersebut harus sesuai dengan Syara’. Lafadz Ma’ruf adalah kebaikan yang bersifat umum, yang mana kebaikan tersebut menjadi tolak ukur bagaimana seorang mukmin harus berprilaku.
Ketiga makna tersebut ketika di sandingkan dengan lafadz Walidain memiliki makna yang berbeda. Lafadz birr al-walidain memilki makna kebaikan yang bermakna luas dalm berbuat baik kepada orang tua atau perbuatan yang sangat istimewa baiknya. Karena kebaikan tersebut melibatkan aktifitas fisik dan psikologis, seperti yang di contohkan para nabi dalam berbakti kepada orang tua.30
Perbedaan skripsi yang di tulis oleh Maulida Adawiyah ini dengan penulis yaitu terletak pada konsep dan peraktek dalam berbuat baik atau mencari keridloan orang tua yang mana skripsi yang ditulis oleh Adawiyah lebih kepada membahas maslah pemaknaan berbakti kepada orang tua menggunakan teori anti sinonimitas, sedankan penulis sendiri disini lebih menguraikan terkait berbakti kepada orang tua atau mencari keridloan orang tua dengan jalan tradisi yang berkembang yang di implementasikan oleh hadits yang di kenal dengan tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh yang disebut dengan kajian Living hadits atau bisa dikatakan hadits yang di amalkan menjadi sebuah budaya atau tradisi yang hidup di masyarakat, penelitian penulis disini terletak di Toron Samalem, Desa Blumbungan,
30Skripsi Maulida Adawiyah jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan pemikiran Islam Universitas Islam negri Jogjakarta yang berjudul “Berbakti kepada Orang tua dalam Ungkapan Al-Qur’an”(pendekatan teori anti sinonimitas).
Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan dan fenomena ini atau tradisi ini bernama Nyonok Eslangkangan Ebhuh.
Skripsi yang ditulis oleh Fatchur Rohman mahasiswa iain Walisongo semarang Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits dengan judul “Berbakti kepada orang tua menurut penafsiran hamka dalam tafsiral-azhar dan hasbi ash-shiddieqy dalam tafsiral-qur’anul majid an- nur (study komparatif )”. bahwasanya dalam Al-qur’anpun di jelaskan dengan banyak tentang berbakti kepada orang tua. Al-qur’an menegaskan, bahwasanya untuk berbakti kepada orang tua itu merupakan sesuatu kewajiban seorang anak terhadap kedua orang tua, bukti utama, bahwa berbakti kepada orang tua merupakan salah satu ajaran Islam yang paling tinggi setelah iman kepada Allah swt.
Dan firman Allah swt yang tertuang dalam Al-qur’an, dengan kuatnya kewajiban itu, Allah mengulang-ulang perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan tegasnya, setelah perintah beribadah kepada- nya. adapun ayat-ayat yang menegaskan untuk berbakti kepada kedua orang tua, yaitu surah al-baqarah ayat : 83, an-nisa : 36, al-an-am : 151, dan al-isra’ : 23, ada surah lain yang mengandung perintah langsung untuk berbakti kepada orang tua, yaitu surah al-‘ankabut : 8 dan al-ahqaf : 15. Al-qur’an memperkenalkan konsep berbakti kepada kedua orang tua dengan istilah ihsan dan husn. dua kata itulah yang ditampilkan oleh Al-qur’an untuk menjelaskan perintah berbakti kepada kedua orang tua. Ayat-ayat tersebut
menunjukan himbauan secara serius kepada semua manusia (bani adam) agar senantiasa untuk berpilaku baik kepada kedua orang tua.31
Perbedaan skripsi yang di tulis oleh Fatchur Rohman mahasiswa iain walisongo semarang fakultas ushuluddin ini dengan penulis yakni sangat berbeda sekali dalam segi hal penerapannya dan sedangkan penulis Menjelaskan tentang tradisi yang di implementasikan dari hadits, yang di percayai bentuk patuh dan berbakti serta memohon keridloan kepada orang tua dengan cara merangkak di bawah kang-kang ibu.
Berdasarkan penelusuran dari berbagai literatur, maka belum di temukan adanya penelitian tentang Living hadits dalam Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh yang di Implementasikan dari hadits tentang surga di telapak kaki ibu dan keridloan Allah tergantung dari keridloan orang tua yang terfokus pada tradisinya atau peraktek yang masih berjalan dan berkembang di masyarakat Toron Samalem, desa Blumbungan pamekasan. Oleh sebab itu penelitian dapat di kategorikan baru pada ranah Living hadits dengan judul Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh di Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.
B. Kajian Teori
Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji
31Skripsi yang ditulis oleh mahasiswa iain walisongo semarang fakultas ushuluddin jurusan tafsir hadits dengan judul “Berbakti kepada orang tua menurut penafsiran Hamka dalam Tafsiral- azhar dan Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur (Study Komparatif )”.
permasalahan dan tujuan penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, posisi teori dalam penelitian kualitatif diletakkan sebagai perspektif, bukan untuk diuji.32
1. Kerangka teoritik tentang Tradisi a. Tradisi dalam pandangan Sosiologi
Tradisi (Bahasa Latin : Traditio, “diteruskan”) atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang di teruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan dan peraktik. Karena tampa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.33
Lebih lanjut soal tradisi, R. Redfield seperti yang dikutip Bambang Pranowo mengatakan bahwa konsep tradisi itu di bagai menjadi dua yaitu tradisi besar (Great Tradition) dan tradisi kecil (little tradition), konsep ini menggambarkan bahwa dalam suatu peradaban manusia pasti terdapat dua macam tradisi yang di kategorikan sebagai Great tradition dan Little tradition adalah suatu tradisi dari mereka sendiri yang suka berfikir dan dengan sendirinya mencangkup jumlah orang yang relatif sedikit. Sedangkan Great tradition adalah suatu tradisi yang berasal dari mayoritas orang
32Ibid., 46
33Mouche, “Tradisi”, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tradisi (15 juni 2017)
yang tidak pernah memikirkan secara mendalam pada tradisi yang telah mereka miliki, tradisi yang ada pada filosof, ulama, dan kaum terpelajar adalah sebuah tradisi yang ditanamkan dengan penuh kesadaran, sementara tradisi dari kebanyakan orang adalah tradisi yang diterima dari dahulu dengan apa adanya (Taken for Granted) dan tidak pernah diteliti atau di saring pengembangannya.34
Banyak sekali Masyarakat yang memahami tradisi itu sangat sama dengan budaya atau kebudayaan. Sehingga antara keduanya sering tidak memiliki perbedaan yang sangat menonjol, dalam pandangan Kuntowijoyo, budaya adalah hasil karya cipta (pengolahan, dan pengarahan terhadap alam) manusia dengan kekuatan jiwa (pikiran, kemauan, intuisi, imajinasi, dan fakultas- fakultas ruhaniyah lainnya) dan raganya yang menyatakan diri dalam berbagai kehidupan (ruhaniah) dan penghidupan (lahiriyah) manusia sebagai jawaban atas segala tantangan, tuntutan dan dorongan dari interen manusia, menuju arah terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan (spiritual dan material) manusia baikindividu maupun masyarakat ataupun individu masyarakat.35
Menurut Hasan hanafi, tradisi (turats) segala warisan masa lampau yang masuk pada kita dan masuk kedalam kebudayaan yang sekarang berlaku. Dengan demikian, bagi hanafi turats tidak hanya
34Bambang Pranowo, Islam Factual Antara Tradisi dan Relasi kuasa, (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 1998), 3.
35Kuntowijoyo,Budaya dan Masyarakat ,(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), 3.
merupakan peninggalan sejarah, tetapi sekaligus merupakan persoalan kontribusi zaman kini dalam tingkatannya.36
Subtansi dan isi semua yang kita warisi dari masa lalu, semua yang di salurkan kepada kita melalui proses sejarah, merupakan warisan sosial. Berbicara masalah tradisi, hubungan antara masa lalu dan masa kini haruslah lebih dekat. Tradisi mencakup kelangsungan masa lalu di masa kini ketimbang sekedar menunjukkan fakta bahwa masa kini berasal dari masa lalu.
Kelangsungan masa lalu di masa kini mempunyai dua bentuk;
material dan gagasan atau objektif dan subjektif. Menurut arti yang lebih lengkap, tradisi adalah keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar masih ada kini,belum di hancurkan, dirusak, dibuang atau dilupakan. Disini tradisi hanya berarti warisan, apa yang benar-benar tersisa dari masa lalu, seperti yang dikatan Shils…
“Tradisi berarti segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini” (198 : 12).
Kriteria tradisi dapat lebih di batasi dengan mempersempit cakupannya. Dalam pengertian yang lebih sempit tradisi berarti bagian-bagian warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja
36Moh Nur Hakim, “Islam Tradisional dan Reformasi Pragmatism” Agama dalam pemikiran Hasan Hanafi, (Malang : Bayu Media Publishing, 2003), 29.
yakni yang tetap bertahan hidup di masakini, dan yang masih kuat ikatannya dengan masa kini.37
b. Tradisi dalam Islam (‘Urf)
Kata ‘urf berasal dari kata ‘arafa, ya’rifu sering di artikan dengan “al-ma’ruf” dengan arti : “sesuatu yang di kenal”, secara etimologi sesuatu yang di pandang baik dan diterima oleh akal sehat38 Secara harfiyah, ‘urf adalah suatu keadaan, ucapan, perbuatan, atau ketentuan yang telah di kenal manusia dan telah menjadi tradisi untuk melaksanakannya atau meninggal kannya.
Dikalangan masyarakat, ‘urf ini di sebut sebagai adat.39
‘Urf (Tradisi) merupakan satu sumber hukum yang diambil oleh madzhab Hanafi dan Maliki, yang berbeda di luar lingkup Nash. ‘urf (tradisi) merupakan bentuk-bentuk mu’amalah (hubungan kepentingan) yang telah menjadi adat kebiasaan dan telah berlangsung ajeg (konstan) di tengah masyarakat.
Ulama madzhab Hanafi dan Maliki mengatakan bahwa hukum yang di tetapkan berdasarkan ‘urf yang shahih (benar) bukan yang fasid (rusak/cacat) sama dengan yang di tetapkan berdasarkan dalil Syar’i Imam As-syarkhasi dalam kitab “Al-mabsud” berkata :
ﹼﺜﻟﺍ
ﺺﻨﻟﺎﺑ ﺖﺑﺎﹼﺜﻟﺎﻛ ﻑﺮﻌﻟﺎﺑ ﺖﺑﺎ
37Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta : Pernada Media Group, 2007), 74
38Satria Efendi, Ushul Fiqh (Jakarta : kecana, 2009), 153.
39Rahmat syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung : Cv Pustaka setia, 2007), 128.
Artinya: “Apa yang di tetapkan berdasarkan ‘urf setatusnya seperti yang di tetapkan berdasarkan Nash”.
Adapun yang di maksud oleh Imam As-Syarkhasi adalah bahwa apa yang di tetapkan berdasarkan ‘urf sama dengan yang di tetapkan berdasarkan dalil Syar’i yang sederajat dengan Nash sekiranya tidak terdapat Nash.40
2. Kerangka Teoritik Tentang Surga Itu Dibawah Telapak Kaki Ibu Kita tentu sangat kerap sekali mendengar tentang ungkapan
“surga dibawah telapak kaki ibu” sebenarnya itu adalah sebuah ungkapan atau kiasan betapa kita wajib mentaati dan berbakti kepada ibu, mendahulukan kepentingan beliau mengalahkan kepentingan pribadi hingga di ibaratkan letak diri kita bagaikan debu yang ada dibawah telapak kakinya bila kita ingin meraih surganya.
) ﺕﺎﻬﻣﹸﺄﹾﻟﺍ ﻡﺍﺪﹾﻗﹶﺃ ﺖﺤﺗ ﺔﻨﺠﹾﻟﺍ (
ﻝﻮﺧﺪﻟ ﺐﻳﺮﻗ ﺐﺒﺳ ﻦﻬﺘﻋﺎﻃ ﻡﻭﺰﹸﻟ ﻲﹺﻨﻌﻳ ﺔﻨﺠﹾﻟﺍ
41
.
Artinya: “surga itu di bawah telapak kaki ibu”, artinya selalu mentaatinya menjadikan sebab akan dekatnya seseorang memasuki surga.
) ﺕﺎﻬﻣﻷﺍ ﻡﺍﺪﻗﺃ ﺖﲢ ﺔﻨﳉﺍ (
ﻝﻮﺧﺪﻟ ﺐﺒﺳ ﻦﻬﻴﺿﺮﺗﻭ ﻦﳍ ﻊﺿﺍﻮﺘﻟﺍ ﲏﻌﻳ
ﺔﻨﳉﺍ ﻱﺮﻣﺎﻌﻟﺍ ﻝﺎﻗﻭ . :
ﺖﲢ ﺏﺍﺮﺘﻟﺎﻛ ﺎﻬﺘﻣﺪﺧﻭ ﺎﻫﺮﺑ ﰲ ﻥﻮﻜﻳ ﻪﻧﺃ ﺩﺍﺮﳌﺍ
ﻣ ﺎﻬﻴﻣﺪﻗ ﻰﻠﻋ ﺎﳍ ﺎﻣﺪﻘ
] ﺹ : [ 362 ﷲﺍ ﺩﺎﺒﻋ ﻞﻛ ﺮﺑ ﻰﻠﻋ ﺎﻫﺮﺑ ﺍﺮﺛﺆﻣ ﻩﺍﻮﻫ
40Muhammad abu zahroh, Ushul fiqh, (jakarta : PT pustaka firdaus, 2010), 417.
41Zainuddin Muhammad Al-mud’awi bin ‘Abdi Ro’uf bin Taji al-‘Arifin bin Zainul ‘abidin al- hadadi al-Manawi al-Qahrawi, At-Taysir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, (maktab imam as-Syafi’i- Riyadh, 1408 H -1988 M). Juz 1, 490.
ﺔﻴﻓﻮﺼﻟﺍ ﺾﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ ﻪﺘﻴﺑﺮﺗﻭ ﻪﻋﺎﺿﺭﻭ ﻪﻠﲪ ﺪﺋﺍﺪﺷ ﺎﻬﻠﻤﺤﺘﻟ :
ﻪﻟ ﺚﻳﺪﳊﺍ ﺍﺬﻫ
ﻊﻣﺍﻮﺟ ﰐﻭﺃ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﻠﺻ ﻰﻔﻄﺼﳌﺍ ﻥﻷ ﺔﻘﻴﻘﺣﻭ ﻖﺣﻭ ﻦﻃﺎﺑﻭ ﺮﻫﺎﻇ ﺔﻨﳉﺍ ﱃﺇ ﻎﻠﺒﳌﺍ ﻦﻫﺎﺿﺭ ﺲﻤﺘﻠﻳ ﺕﺎﻬﻣﻷﺍ ﻥﺃ ﻩﺮﻫﺎﻇ ﱁﺇ ﺔﻨﳉﺍ ﻪﻟﻮﻘﻓ ﻢﻠﻜﻟﺍ ﺑ ﻥﺃ ﻪﻴﻓ ﺔﻘﻴﻘﳊﺍﻭ ﻦﳍ ﻞﻟﺬﺘﻟﺍﻭ ﻦﻬﻣﺍﺪﻗﺃ ﺖﲢ ﺲﻔﻨﻟﺍ ﺀﺎﻘﻟﺇﻭ ﻦﳍ ﻊﺿﺍﻮﺘﻟﺎ ﻖﻠﳋﺍﻭ ﺔﻨﳉﺍ ﰲ ﺔﺟﺭﺩ ﻰﻠﻋﺃ ﰲ ﻪﺟﺍﻭﺯﺃ ﻡﻼﺴﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻌﻣ ﻦﻫ ﲔﻨﻣﺆﳌﺍ ﺕﺎﻬﻣﺃ ﺔﻨﳉﺍ ﰲ ﻢﺎﺟﺭﺩ ﺔﻌﻓﺭ ﰲ ﻖﻠﳋﺍ ﺱﻭﺯ ﺀﺎﻬﺘﻧﺎﻓ ﺔﺟﺭﺪﻟﺍ ﻚﻠﺗ ﺖﲢ ﻢﻬﻠﻛ ﺚﻴﺤﻓ ﲔﻨﻣﺆﳌﺍ ﺕﺎﻬﻣﺃ ﻡﺍﺪﻗﺃ ﻡﺎﻘﻣ ﻝﻭﺃ ﺔﻌﻓﺮﻟﺍ ﰲ ﻢﳍ ﻡﺎﻘﻣ ﺮﺧﺁﻭ ﻖﻠﳋﺍ ﻰﻬﺘﻧﺍ
ﻭﺰﻐﻟﺍ ﺩﺍﺭﺃ ﻦﳌ ﻪﻟﺎﻗ ﺍﺬﻫﻭ ﻦﻬﻣﺍﺪﻗﺃ ﺖﲢ ﺎﻬﻠﻛ ﺔﻨﳉﺎﻓ ﻦﺎﺟﺭﺩ ﺀﺍﺪﺘﺑﺍ ﰒ ﻦﻬﻓ ﻪﻌﻨﲤ ﻡﺃ ﻪﻟﻭ ﻪﻌﻣ .
42
Artinya: “surga itu ada dibawah telapak kaki ibu” . artinya patuh dan ridhanyalah yang menjadi sebab masuknya seseorang di dalam surga.Al-‘amiriy berkata : maksudnya ukuran dalam berbakti dan khidmah pada para ibu bagaikan debu yang berada di bawah telapak kaki mereka, mendahulukan kepentingan mereka atas kepentingan sendiri dan memilih berbakti kepada mereka ketimbang berbakti pada setiap hamba-hamba Allah lainnya, karena merekalah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui serta mendidik anak-anak mereka. Sebagian Ulama Tasawwuf menyatakan “hadits ini memiliki makna secara dhahir, bathin, hak dan hakikat karena baginda Nabi Muhammad SAW, mampu menguasai segala kesempurnaan bahasa, maka arti
“surga itu dibawah telapak kaki ibu” arti dhahirnya adalah para ibu keridhaannya yang mampu mengantarkan kedalam surga harus berprilaku rendah diri, patuh bagaikan meletakkan diri kita di bawah telapak kakinya.
Arti hakikatnya bahwa para ibu-ibu orang mukmin kelak disurga berada di tempat tertinggi bersama dengan Nabi Muhammad SAW dan setiap makhluk berada di bawah derajat tersebut, maka puncak derajat
42Zainuddin Muhammad Al-mud’awi bin ‘Abdi Ro’uf bin Taji al-‘Arifin bin Zainul ‘abidin al- hadadi al-Manawi al-Qahrawi, Fayd Al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, (Al-maktaba al-Jariyat Al-Qubra-Mesir, 1356), Juz 3, 361.
para makhluk disurga berada kedudukannya di bawah telapak kaki para ibu, dengan demikian semua derajat yang terdapat di dalam surga yang kelak dihuni orang-orang mukmin kesemuanya berada dibawah telapak kaki para ibu sebab keluhuran derajat mereka didalam surga.
a. Asbabul Wurud Hadits
Di latar belakangi oleh sebuah riwayat bahwa salah seorang sahabat nabi yaitu Jahimah datang kepada nabi SAW, beliau bertanya pada nabi, Ya rasulAllah aku ingin berperang dan aku datang memohon petunjuk kepadamu, rasulullah saw bertanya apakah engkau masih mempunyai ibu ? Jahimah menjawab iya. Rasulullah bersabda
“tetaplah bersamanya karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.43
b. Derajat Hadits
Hadits yang ke 1078 dari kasyful khofa’ ini di riwayatkan oleh imam ahmad, an-nas’I, ibn majah, dan al-hakim dari mu’awiyah bin jahimah as-salami ra. Menurut imam hakim hadits ini adalah shohihul isnad atau mempunyai jalur riwayat yang shohih. Namun dalam riwayat dari al-khotib dalam kitab Jami’nya dapat juga Al-Qudlo’I dalam musnadnya terdapat rawi yang majhul (tidak diketahui). Dan juga Al-Khotib dalam kitab Al-Maqasyidyah menganggap bahwa hadits ini adalah dhoif.44
43 Al-Syakhawiy, Al-maqashidul hasanah, juz 1, hl 91
44 Ibid 91
3. Kerangka Teoritik Tentang Living Hadits
Ada perbedaan dalam kalangan ulama hadits mengenai istilah pengertian sunnah dan hadits, khususnya pada ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin. Menurut ulama mutaqaddimin, hadits adalah perkataan, perbuatan atau ketetapan yang di sandarkan kepada nabi Muhammad SAW pasca kenabian. Sedangkan ulama muta’akhirin berpendapat bahwa hadits dan sunnah memilki makna yang sama, yaitu segala ucapan, perbuatan dan ketetapan nabi.45
Setelah nabi wafat, sunnah nabi tetap merupakan sebuah ideal yang hendak diikuti oleh generasi muslim sesudahnya, dengan menafsirkan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan mereka yang baru dan materi yang baru pula, penafsiran yang kontinu dan progresif ini, di daerah-daerah yang berbeda misalnya antara daerah Hijaz, Mesir dan Irak disebut sebagai “Sunnah yang hidup” atau Living Sunnah.46
Sedangkan Living hadits adalah suatu hadits yang hidup dan berkembang di masyarakat.47 Fazlur Rahman memberikan definisi hadits sebagaimana yang ditulis dalam bukunya : The Islamic Methodology in History :
We have said repeatedly-perhaps to the annoyance of some readers that hadith, although it has as its ultimate basic the Prophetic Model, represent the working of the early generations on that model. Hadits, in fact is the sum total of aphorism formulated and put out by muslims them selves, ostensibly about the prophet
45Subhi Shalih, Ulum Al-hadits wa-Musthalahuhu, (Beirut : Dar al-ilmi lil Malayin, 1998), 3-5.
46M. Alfatih Suryadilaga dkk, Metodologi penelitian hadits, (Yogyakarta: Pokja akademik UIN Sunan Kalijaga, 2006), 193.
47M. Alfatih Suryadilaga, Aplikasi Penelitian Hadits Dari Teks ke Konteks (Yogyakarta:
Kalimedia, 2016), 174.
although not without an ultimate historical touch with the prophet.
Its very aphoristic character shows that is not historical. It is rather gigantic and monumental commentary on the prophet by theearly community.48
Kaum muslimin sepakat menerima sunnah, kemudian sunnah tersebut diformulasikan dalam bentuk verbal dengan istilah hadits.
Berbeda dengan pemikiran Fazlur Rahman, Jalaluddin Rakhmad dalam sebuah artikel yang berjudul “Dari Sunnah ke Hadis atau Sebaliknya?”
dimuat dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramida, 1995) mengemukakan sebaliknya bahwa yang pertama beredar dalam masyarakat adalah hadits.
Dari pemikiran Fazlur Rahman dan Jalaluddin Rakhmat tersebut dapat dikompromikan atau di komparasikan bahwa tradisi hadits dan sunnah sebenarnya terjadi bersamaan. Living hadits lebih didasarkan atas adanya tradisi yang hidup di masyarakat yang disandarkan kepada hadits.
Penyandaran kepada hadits tersebut bisa saja hanya dilakukan hanya sebatas daerah tertentu saja atau lebih luas cakupan pelaksanaannya.
Tentunya Living hadits tidak di maknai sama persis dengan pemikiran Fazlurrahman di atas. Living hadits lebih didasarkan atas adanya tradisi yang berkembang dan hidup di masyarakat yang di sandarkan kepada hadits. Penyandaran kepada hadits tersebut bisa saja di lakukan hanya terbatas di daerah tertentu saja bahkan lebih luas cakupan dan pelaksanaannya.
48M. Mansyur dkk, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadits (Yogyakarta: Teras, 2007), 112. Dikutip dari Fazlur Rahman, Islamic Methodology... 76.
Abdul Mustaqim berpendapat, living hadits tidak hanya menyangkut dengan fenomena yang muncul atau berkembang dalam masyarakat akan tetapi juga menyangkut juga praktek sosial keagamaan sebagai bentuk pengamalan hidup sehari-hari. Praktek tersebut didasarkan pada pengamalan hadis sebagai sumber inspirasi. Living hadits juga tidak hanya terpaku pada praktek akan tetapi juga menyangkut tentang pengetahuan, pandangan, perasaan, dan pengalaman masyarakat setempat.49
4. Kerangka Teoritik Tentang Kebudayaan Islam Di Indonesia
Kebudayaan Islam adalah penjelmaan iman dan al-a’malussalihat dari seorang muslim atau segolongan kaum muslimin atau kebudayaan Islam ialah manifestasi keimanan dan kebaktian dari penganut Islam sejati.50 Dasar dari kebudayaan Islam ialah dari kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya. Apabila ada segala hasil, corak dan ragam kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran agama Allah dan ajaran Rasul-Nya, bukanlah kebudayaan Islam namanya, sekalipun yang menciptakannya mereka-mera yang menamakan dirinya orang Islam.51
Bahwasanya kebudayaan Islam lahir pada ketika Indonesia sudah mulai kedatangan pembawa-pembawa Islam dari orang-orang sipil yang datang ke Indonesia melalui jalan perdagangan dan pada waktu itu Asia tenggara mengalami peningkatan posisidalam perdagangan timur dan
49Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Living Quran: Model Penelitian Kualitatif dalam Sohiron Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur’an danHadis (Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2007), 73
50 Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, (Jakarta: Bulan bintang, 1973), 05
51 Ibid,08
barat. Masa ini mengantarkan wilayah Nusantara kedalam internasionalisasi perdagangan dan kosmopolitanisme kebudayaan yang tidak pernah di alami masyarakat ini pada masa-masa sebelumnya. Saluran kebudayaan di Indonesia melalui beragam saluran antara lain melaui saluran perdagangan, perkawinan, Tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. Inilah beragam penyebaran kebudayaan-kebudayaan yang terbentuk dan menjadi sebuah budaya di Indonesia, karena Indonesia sendiri bermacam suku bangsa, bahasa, ras, dan budaya yang di hasilkan dari saluyra-saluran yang di atas telah di sebutkan. Jadi tidak menutup kemungkinan Indonesia beragam budaya dan bermacam-macam tradisi yang di laksanak oleh masyarakat sekelompok maupun perseorangan.
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Adapun data yang diperoleh melalui penelitian itu adalah data empiris (teramati) yang mempunyai kriteria tertentu, yaitu valid.52
Setiap penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu. Adapun penelitian ini, mempunyai tujuan dan kegunaan yang bersifat pengembangan, yaitu memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian berintikan uraian tentang pendekatan penelitian yang dipilih, yaitu pendekatan penelitian kualitatif. Sementara jenis penelitian misalnya dapat mengambil jenis studi kasus, Etnografi, penelitian tindakan, dan jenis lainnya. Penentuan pendekatan dan jenis penelitian harus diikuti oleh alasan-alasan.53
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan field research (penelitian lapangan). Penelitian kualitatif pada hakikatnya merupakan metode untuk menemukan secara spesifik realitas tentang apa yang sedang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat atau
52Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung: Al Fabeta Cv, 2011),
53Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 45
lembaga pendidikan. Pada prinsipnya penelitian lapangan bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat atau lembaga penelitian.54
Karena objek yang dikaji dalam penelitian ini adalah bentuk dan model praktek, resepsi dan respon masyarakat dalam memperlakukan serta berinteraksi dengan hadits, maka penelitian ini termasuk penelitian livinghadits. Dengan demikian peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu sebuah ilmu untuk mengetahui dan menggambarkan apa yang dipikirkan, dirasa dan diketahui oleh seseorang dalam kesadaran dan pengalamannya pada saat itu dan semua itu adalah tentang kebenaran.55
Berkaitan dengan asumsi dasar diatas, hal utama yang dilakukan dalam fenomenologi adalah memberikan deskripsi atas suatu gejala sosial budaya.
Dalam hal ini peneliti tidak membuat hipotesa atau menguji suatu teori.
Kesadaran dan pengalaman manusia dalam topik yang diteliti (Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh) merupakan deskripsi yang dicari agar peneliti dapat memahami cara pandang suatu kelompok masyarakat tertentu dan bagaimana mereka memaknainya.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menunjukkan dimana penelitian tersebut hendak dilakukan.Wilayah penelitian biasanya berisi tentang lokasi (desa, organisasi, peristiwa, teks, dan sebagainya) dan unit analisis.56
54Mardudin, Metode Penelitian, suatu pendekatan proposal (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),28.
55 John W. Creswell, Penelitian Kualitatif & Desain Riset : Memilih diantara Lima Pendekatan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 105.
56Tim Penyusun , Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 46.
Penelitian ini dilakukan di Toron Samalem, Desa Blumbungan, Larangan, Pamekasan. Lokasi ini dipilih karena lokasi tersebut masih menerapakan tradisi nyonok Eslangkangan Ebhuh, Fenomena ini sangat penting untuk dikaji karna sampai sekarang tradisi tersebut masih hidup dan berkembang di masyarakat Toron Samalem Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.
C. Subyek Penelitian
Subjek penelitian diperhitungkan sebagai informan yang dapat dijadikan partisipan, konsultan atau kolega peneliti dalam menangani kegiatan penelitian.57
Sumber data
Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Dalam penelitian ini penulis menggunkan dua sumber data, yaitu :
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada peneliti.58Adapun yang tergolong sumber data primer adalah :
1) Masyarakat Toron Samalem, Blumbungan, Larangan Pamekasan secara umum agar dapat memberikan pemahaman terkait tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh.
57Kasiram, Metodologi Penelitian Kuantitatif-kualitatif (Malang: UIN Malang Press,2008), 155.
58Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2014), 225.
2) Tokoh masyarakat dan seperangkat desa secara khusus dan masyarakat yang bersangkutan atau masyarakat yang mentradisikannya agar mendapatkan informasi dan sejarah mengenai tradisi nyonok Eslangkangan ebhuh.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti.59 Sumber data sekunder ini meliputi data yang diperoleh dari sumber pendukung. Adapun yang termasuk data pendukung adalah buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini.
D. Teknik Pengumpulan Data
Pada bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang akan digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Masing-masing harus dideskripsikan tentang data apa saja yang diperoleh melalui teknik tersebut. 60
Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan dengan memusatkan seluruh perhatian pada satu objek. Sanafiah Faisal (1990) mengklasifikasikan observasi menjadi tiga, yaitu : observasi berpartisipasi, observasi yang secara terang-terangan dan tersamar, dan observasi yang tak berstruktur. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode
59Ibid. 225
60Ibid., 47
observasi yang secara terang-terangan dan tersamar untuk mendapatkan data mengenai Tradisi Nyonok Eslangkangan Ebhuh.61
Alasan dimanfaatkannya metode ini adalah sebagai berikut:
1) Teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung, sehingga lebih meyakini peneliti.
2) Teknik pengamatan ini memungkinkan peneliti untuk melihat, mengamati, dan mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.
3) Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proporsional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data.
4) Jalan terbaik untuk mengecek kepercayaan data tersebut ialah dengan jalan memanfaatkan pengamatan.
5) Teknik pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi yang rumit.
6) Dalam kasus tertentu dimana komunikasi tidak memungkinkan, maka pengamatan bisa dimanfaatkan.62
2. Interview (wawancara)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Wawancara secara umum terbagi menjadi tiga, yaitu wawancara terstruktur, wawancara semiterstruktur dan wawancara tak berstruktur.
Dalam proses wawancara terstruktur, peneliti menyiapkan instrumen
61Tim Penyusun ,Pedoman Penulisan Karya Ilmiah , 227.
62Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif , 174-175.
penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Adapun wawancara semiterstruktur pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Maka dari itu wawancara yang di pakai peneliti yakni tak berstruktur dan semi struktur.63
Dalam teknik ini peneliti menggunakan jenis wawancara tak berstruktur (unstructed interview) dimana yang dimaksud wawancara tak berstruktur disini adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.64
3. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah sekumpulan data yang berbentuk tulisan seperti dokumentasi, buku-buku, majalah, catatan dan sebagainya.
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang gambaran umum masyarakat Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.
63Ibid, 186.
64Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif R&D, 233.
E. Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi.65 Jadi Analisis data bisa di sebut penyederhanaan suatu data dalam bentuk yang mudah untuk dibaca dan diinterpretasikan.
Analisis data yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan analisis model Miles and Huberman dengan tiga tahapan, yaitu : reduksi data, penyajian data dan kesimpulan.
Analisa dilakukan dengan mereduksi data yang didapat dari wawancara karena salah satu kelemahan dari metode wawancara dalam pengumpulan data penelitian kualitatif adalah adanya data-data sampah yang tidak dibutuhkan dalam hasil penelitian, sehingga dilakukanlah reduksi data untuk mengambil data-data yang sesuai dengan penelitian yang dicari.66 Langkah yang kedua adalah melakukan analisa sesuai dengan kerangka teori yang digunakan pada penelitian data lapangan.
Data yang telah dianalis selanjutnya disajikan sesuai realita yang terjadi di lapangan sehingga data yang ditampilkan benar-benar valid.
sehingga menghasilkan suatu kesimpulan mengenai Tradisi nyonok Eslangkangan Ebhuh di Toron Samalem, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten pamekasan.
65Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif R& D, 244.
66 Nashruddin Baidan & Erwati Aziz, Metodologi Penelitian Khusus Tafsir, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2016), 47.
F. Keabsahan Data
Untuk mengoreksi atau memeriksa validasi data, dalam penelitian ini menggunakan metode triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.67 Sedangkan untuk menguji keabsahan data yang diperoleh, peneliti menggunakan triangulasi sumber. Trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode triangulasi (menggunakan beberapa data dan sumber).
G. Tahap-Tahap Penelitian
Bagian ini menguraikan rencana pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, dan sampai pada penulisan laporan.68 Untuk mengetahui proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti mulai awal hingga akhir maka perlu diuraikantahap-tahap penelitian. Tahapan penelitian ini
67Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif R& D, 241.
68Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, 48.
Gambar
Dokumen terkait
Keberadaan dan aktifitas yang dilakukan oleh orang luar melalui kelompok penyebar agama Islam di masa lalu dengan melibatkan aparat pemerintah, dirasakan sebagai represi
Sebagai coontoh bakat dan minat seperti halnya anak dalam bermain game,sepak bola,music,mengambar dan lain sebagainya. Pada awal pertama kali saat anda menemukan bakat anak,tahap pertama ini bias di bilang penting untuk menilai tingkat antusias anak,contohnya jika anak memiliki bakat yang berhubunggan dengan aktifitas fisik. Jika begitu anak dengan banyak kegiatan serta hobi yang melibatkan gerak
1). Evaluasi Program:Evaluasi program adalah proses sistematis untuk mengukur efektivitas, dampak, dan hasil dari program atau inisiatif tertentu. Ini mencakup pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan tentang sejauh mana program tersebut mencapai tujuannya. Evaluasi program tidak hanya melibatkan pengukuran hasil fisik, tetapi juga dampak sosial, ekonomi, atau psikologis yang mungkin timbul dari program tersebut. 2). Model Evaluasi Kebijakan (Policy Evaluation Model): Evaluasi efektivitas kebijakan sekolah terkait bullying, model evaluasi kebijakan dapat digunakan dan dapat melibatkan penilaian terhadap kebijakan yang ada (Guru diberi ruang untuk mendisplinkan Siswa), apakah cukup efektif dalam mencegah dan menangani bullying atau tidak. 2). Model Evaluasi Dampak (Impact Evaluation Model): Model evaluasi dampak membantu dalam mengukur dampak dampak dari berita atau konten yang berkaitan dengan fenomena bullying di sekolah yang diviralkan di media digital. Metode evaluasi ini mencakup pengukuran interaksi, berapa banyak tindakan melaporkan, atau perubahan perilaku yang terkait dengan kesadaran tentang masalah ini. 4). Model Evaluasi Perilaku Online Model ini didasakan pada data bagaimana mengevaluasi perilaku online, seperti jumlah like, komentar, atau berbagi pada platform media sosial, untuk mengevaluasi sejauh mana fenomena ini menarik perhatian atau reaksi dari pengguna online. Metode ini dapat memberikan wawasan tentang tingkat kesadaran dan perhatian yang diberikan kepada fenomena bullying di sekolah. 5). Model Evaluasi Partisipatif (Participatory Evaluation Model): Model evaluasi partisipatif melibatkan partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk siswa, orang tua, guru, dan staf sekolah dalam proses evaluasi. Ini dapat membantu dalam memahami perspektif yang berbeda tentang masalah bullying di sekolah.
KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN 2.4 Melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah BUKTI FISIK: 2.4.1 Memfasilitasi kebutuhan guru dan wali murid 2.4.2