Sistem proteksi kebakaran dapat terbagi menjadi dua, yaitu sistem proteksi aktif dan sistem proteksi pasif. Sistem proteksi aktif merupakan peralatan yang dapat mendeteksi atau memadamkan kebakaran pada awal kebakaran (Furness and Muckett, 2007). Sistem proteksi kebakaran aktif terbagi menjadi alat-alat seperti Detektor, Alarm, Sprinkler, Hidran, APAR.
Sedangkan Menurut Kepmen PU Nomor 10 (2000) yang dimaksud dengan Sistem proteksi kebakaran pasif adalah sistem perlindungan terhadap kebakaran yang dilaksanakan dengan melakukan pengaturan terhadap komponen bangunan gedung dari aspek arsitektur dan struktur sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran.
Fatma Lestari (2013) sebagai Pengamat kebakaran Universitas Indonesia menyatakan peristiwa kebakaran dapat terjadi akibat tidak adanya organisasi darurat kebakaran dan ketidaksesuaian sistem proteksi kebakaran. Gedung atau bangunan perkantoran dengan berbagai aktivitas kerja di dalamnya seperti kegiatan yang berhubungan dengan bidang verifikasi mutu barang, bagian tata usaha, Laboratorium, dan lain-lain, dengan berbagai aktivitas serta material yang rentan akan kebakaran secara langsung maka dapat menyebabkan risiko kebakaran semakin besar (Apriyanti, 2013).
Ketidaksesuaian proteksi aktif kebakaran seperti springkel atau alat untuk memancarkan air yang tidak berjalan, serta gedung yang tidak dilengkapi alat yang bereaksi cepat untuk pemadam kebakaran dapat menyebabkan api tidak bisa di lokalisasi lalu merembet dan membesar. Selain itu, ketidaksesuain proteksi pasif juga dapat berpengaruh.
Contohnya adalah seperti belum ada organisasi darurat internal, respon staf internal yang tidak sigap menangani kebakaran, dan gedung-gedung atau bangunan yang hanya mengandalkan dinas Pemadam Kebakaran yang kurang sigap (Fauzan, 2013).
Referensi
Furness, Andrew & Muckett, Martin. (2007). Introduction to Fire Safety Management.
Oxford, UK. Butterworth-Heinemann Publications.
Hilal, Fauzan. 2013. Audit Bangunan Pemerintah. Jurnal Nasional.
http://www.jurnas.com/halaman/8/2013-03-23/237653
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No: 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. (2000).
https://adoc.pub/ajeng-wulan-apriyanti-1-ridwan-zahdi-sjaaf-2.html