MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH 1
AKUNTANSI UNTUK PERSEDIAAN 2
Dosen Pengampu : Fitri Purnamasari, S.E., MSA
Disusun Oleh:
Kelompok 6
Ahmad Taqqiudin (23092260999) Anggun Chika Zahrani (230922608104)
Awalia Rahma Diana (230922604681) Faisa Armilda Jaudah (230922610001) Fitria Ayu Wulandari (230922606198) Mochammad Halmar Hibatulloh (230423601682)
Manatap A. Hutasoit (230423601053)
D4 AKUNTANSI FAKULTAS VOKASI
UNIVERSITAS NEGERI MALANG 2024
DAFTAR ISI
A. Persediaan Agrikultur...2
1.1 Ilustrasi Akuntansi Agrikultur pada Nilai Realisasi Neto...2
B. Komoditas Broker-Trader... 4
2.1 Penilaian Menggunakan Nilai Penjualan Relatif...4
C. Komitmen Pembelian... 6
3.1 Contoh kasus...6
D. Metode Laba Bruto Dalam Mengestimasi Persediaan...7
4.1 Perhitungan Persentase Laba Bruto...7
4.2 Evaluasi Metode Laba Kotor... 9
E. Metode Persediaan Ritel...10
5.1 Metode Persediaan Ritel (Retail Inventory Method)...10
5.2 Cara Kerja Metode...10
5.3 Contoh Soal...10
5.4 Item Khusus yang Berkaitan dengan Metode Ritel...11
5.5 Evaluasi Metode Persediaan Eceran... 12
A. Persediaan Agrikultur
Berdasarkan IFRS, pengukuran nilai realisasi neto digunakan untuk persediaan ketika persediaan tersebut terkait dengan kegiatan agrikultur. Secara umum, kegiatan pertanian menghasilkan dua jenis aset agrikultur yaitu aset biologis dan hasil agrikultur pada saat panen.
1. Aset biologis (biological asset)(diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar) adalah hewan atau tanaman hidup, seperti domba, sapi, pohon buah-buahan, atau tanaman kapas. Aset biologis diukur pada pengakuan awal dan pada setiap akhir periode pelaporan pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (nilai realisasi neto).
Perusahaan mencatat keuntungan atau kerugian yang diakibatkan perubahan nilai realisasi neto dari aset biologis pada pendapatan ketika perubahan tersebut terjadi.
2. Hasil agrikultur (agrikultur product) adalah produk yang dipanen dari aset biologis, seperti wol dari domba, susu dari sapi perah, buah dari pohon buah, atau kapas dari tanaman kapas. Hasil agrikultur (yang dipanen dari aset biologis) diukur pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (nilai realisasi neto) pada saat panen. Setelah dipanen, nilai realisasi neto dari hasil agrikultur menjadi biaya perolehan, dan aset ini dicatat mirip dengan persediaan lainnya yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan bisnis normal.
1.1 Ilustrasi Akuntansi Agrikultur pada Nilai Realisasi Neto
Untuk mengilustrasikan akuntansi aset agrikultur pada nilai realisasi neto, asumsikan bahwa Bancroft Dairy menghasilkan susu untuk dijual ke pembuat keju lokal. Bancroft mulai beroperasi pada 1 Januari 2011 dengan membeli 420 ekor sapi perah seharga 460.000. Bancroft memberikan informasi berikut yang berhubungan dengan pemerahan sapi.
Seperti yang ditunjukkan, nilai tercatat dari sapi perah meningkat selama bulan tersebut. Sebagian dari perubahan tersebut adalah karena perubahan harga pasar (dikurangi biaya untuk menjual) sapi perah. Perubahan harga pasar juga dapat dipengaruhi oleh pertumbuhan-kenaikan nilai seiring dengan sapi bertambah dewasa dan kapasitas pemerahan susunya meningkat. Di saat yang sama, seiring dengan sapi dewasa diperah susunya, maka kapasitas pemerahan lama-kelamaan menurun (nilai wajar menurun karena panen).
Bancroft membuat jurnal untuk mencatat perubahan nilai tercatat sapi perah sebagai berikut.
Aset biologis-Sapi Perah (€493.800 - €460.000) 33.800 Keuntungan atau Kerugian Akibat Pemilikan yang Belum Direalisasi-Laba 33.800
Sebagai hasil dari jurnal ini, laporan posisi keuangan Bancroft melaporkan Aset Biologis-Sapi Perah sebagai aset tidak lancar sebesar nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (nilai realisasi neto). Selain itu, keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi akan dilaporkan sebagai pendapatan dan beban lain-lain dalam laporan laba rugi. Periode berikutnya pada setiap tanggal pelaporan, Bancroft terus melaporkan Aset Biologis-Sapi Perah sebesar nilai realisasi neto dan mencatat setiap keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi terkait dengan pendapatan. Oleh karena terdapat pasar yang siap untuk aset biologis (sapi perah) tersebut, penilaian pada nilai realisasi neto memberikan informasi yang lebih relevan atas aset-aset ini.
Selain mencatat perubahan dalam aset biologis, Bancroft juga membuat jurnal ringkasan untuk mencatat susu yang dipanen pada bulan Januari sebagai berikut.
Persediaan Susu 36.000
Keuntungan atau Kerugian Akibat Pemilikan yang Belum Direalisasi-Laba 36.000 Persediaan susu dicatat sebesar nilai realisasi neto pada saat susu dipanen dan Keuntungan Akibat Pemilikan yang Belum Direalisasi-Laba diakui pada pendapatan.
Seperti pada aset biologis, nilai realisasi neto dianggap sebagai nilai yang paling relevan untuk tujuan penilaian pada saat panen. Apa yang terjadi dengan Persediaan Susu yang dicatat Bancroft setelah panen susu sapi? Dengan asumsi susu yang dipanen pada bulan Januari dijual kepada pembuat keju lokal seharga €38.500, Bancroft mencatat penjualan sebagai berikut.
Kas 38.500 Beban Pokok Penjualan 36.000
Persediaan 36.000 Penjualan 38.500
Jadi setelah dipanen, nilai realisasi neto dari susu yang dipanen menjadi biaya perolehan, dan susu dicatat dengan perlakuan yang mirip dengan persediaan lainnya yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan bisnis normal.
Catatan akhir : Beberapa hewan atau tanaman mungkin tidak dianggap sebagai aset biologis, tetapi diklasifikasikan dan dicatat seperti jenis aset lainnya (tidak sebesar nilai realisasi neto). Misalnya, toko hewan peliharaan memiliki persediaan berupa kucing yang dibeli dari peternak yang kemudian dijual. Oleh karena toko hewan peliharaan tidak mengembangbiakkan kucing, maka kucing ini tidak dianggap sebagai aset biologis. Akibatnya, kucing dicatat sebagai persediaan yang dimiliki untuk dijual (pada LCNRV).
B. Komoditas Broker-Trader
Broker komoditas adalah suatu organisasi atau individu yang membantu perdagangan komoditas di pasar keuangan. Mereka berfungsi sebagai perantara antara pembeli dan penjual komoditas dan membantu pelanggan mereka melakukan
transaksi jual beli.
Komoditas broker-trader juga biasanya dihitung dengan menghitung nilai realisasi neto, atau nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Perubahan pada nilai realisasi neto akan dicatat pada laporan laba rugi periode saat perubahan terjadi.
Broker-trader membeli atau menjual komoditas seperti jagung, gandum, logam mulia, dan minyak pemanas kepada pihak lain atau pada akun mereka sendiri. Tujuan utama pemilikan stok ini adalah untuk menjual barang dalam waktu dekat dan menghasilkan keuntungan dari fluktuasi harga. Oleh karena itu, nilai realisasi neto/Net Realizable Neto (NRV) adalah pengukuran yang paling relevan dalam industri ini karena menunjukkan berapa banyak yang akan diterima broker-trader dari persediaan ini di masa depan.
Ada beberapa penilaian yang harus dilakukan untuk menentukan apakah bisnis bertindak sebagai broker. Perusahaan harus mempertimbangkan seberapa lama persediaan tersedia dan seberapa banyak jasa tambahan yang terkait dengan barang tersebut. Jika perusahaan menyediakan jasa tambahan yang signifikan, seperti distribusi, penyimpanan, atau pengemasan ulang, maka pengukuran persediaan komoditas dengan nilai realisasi neto tidak tepat. Misalnya, Carl's Coffe Wholesalers membeli biji kopi dan menjualnya kembali dalam waktu yang singkat dengan kondisi yang sama. Akuntansi persediaan kopi pada nilai realisasi neto tampak tepat. Namun, jika Carl memperluas bisnisnya dengan memanggang biji kopi dan mengemasnya kembali untuk dijual kembali ke toko kopi lokal, persediaan kopi akan dicatat pada LCNRV atau Loan to Cost Non-Recoverable Value, mirip dengan persediaan lainnya yang dimiliki untuk dijual.
2.1 Penilaian Menggunakan Nilai Penjualan Relatif
Masalah khusus muncul ketika perusahaan membeli kelompok unit yang berbeda dalam satu pembelian lump-sum (lump-sum purchase), juga disebut pembelian keranjang.
Untuk mengilustrasikan, asumsikan bahwa woodland Developers membeli tanah seharga $1 juta dolar yang akan dibagi menjadi 400 petak. Petak - petak ini terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk, tetapi dapat dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan kualitas petak, yaitu A, B, dan C. Seiring dengan Woodland menjual petak - petak tersebut, Woodland mengalokasikan biaya pembelian sebesar $1 juta di antara petak yang dijual dan yang tersisa.
Ilustrasi 9 - 10 menunjukkan alokasi nilai penjualan relatif untuk contoh Woodland Developers.
Dengan menggunakan jumlah yang ada pada kolom “Biaya Per Petak,”
Woodland dapat menentukan biaya petak yang dijual dan laba boruto sebagai berikut.
Jadi persediaan akhir adalah $320.000($1.000.000 - $680.000).
Woodland juga dapat menghitung jumlah persediaan ini dengan cara lain.
Rasio biaya perolehan terhadap harga penjualan untuk semua petak adalah $1 juta dibagi $2.500.000, atau 40%. Dengan demikian, jika total harga penjualan petak yang dijual adalah, misalnya $1.700.000, maka biaya perolehan petak yang dijual adalah 40
% dari $1.700.000, atau $680.000, atau $320.000.
Industri minyak bumi secara luas menggunakan metode nilai penjualan relatif untuk menilai (sebesar biaya perolehan) berbagai produk utama dan produk
sampingan yang dihasilkan dari satu barel minyak mentah.
C. Komitmen Pembelian
Dalam kelangsungan bisnis, perusahaan sangat bergantung pada stok barang dagang yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan. Akibatnya, sangat umum bagi perusahaan untuk membuat komitmen pembelian (purchase commitment) yang merupakan perjanjian untuk membeli persediaan beberapa minggu, bulan, atau bahkan tahun. Penjual akan tetap memiliki hak atas barang dagang atau bahan baku yang terkait dengan komitmen pembelian sebelum barang berpindah ke pembeli. Sehingga, pembeli tidak perlu membuat jurnal apabila barang belum dikirim oleh penjual.
Apabila harga kontrak melebihi harga pasar dan kerugian diestimasi akan timbul pada saat pembelian dilaksanakan, maka kerugian ini harus diakui dalam periode terjadinya penurunan harga pasar. Kerugian kepemilikan yang belum terealisasi akan dilaporkan dalam laporan laba-rugi di bawah kelompok beban dan kerugian lain-lain.
Estimasi kewajiban atas komitmen pembelian akan dilaporkan dalam kelompok kewajiban lancar dari neraca karena kontraknya akan dilaksanakan pada tahun fiskal berikutnya.
Komitmen pembelian ini dapat melindungi pihak pembeli sendiri dari probabilitas penurunan harga pasar barang yang bersangkutan kontrak dengan pembendungan (hedging). Pembendungan dilakukan melalui kontrak futures dimana pihak pembeli dalam komitmen pembelian pada saat yang sama juga membeli kontrak futures untuk menjual produk sama dengan kuantitas yang serupa di masa mendatang pada harga tetap. Jika sebuah perusahaan memegang posisi beli dalam suatu komitmen pembelian dan memegang posisi jual dalam kontrak futures untuk komoditas yang sama, maka kerugian dalam suatu kontrak akan ditutupi oleh keuntungan dari kontrak lain.
3.1 Contoh kasus
St. Regis Paper Co. menandatangani kontrak penebangan yang harus dipenuhi tahun 2013 seharga $10,000,000 dan nilai pasar hak penebangan pada 31 desember 2012 adalah $7,000,000.
● Jurnal berikut dibuat pada 31 desember 2012 :
Laba rugi yg blm terealisasi—pendapatan 3,000,000
Liabilitas pada Komitmen pembelian 3,000,000 ketika st. Regis penebang kayu dengan biaya $10 juta.
● Jurnal pada 2013 saat penebangan dilakukan:
Pembelian (persediaan) 7,000,000 Liabilitas pada komitmen pembelian 3,000,000
Kas 10,000,000
Asumsikan pemerintah mengizinkan St. Regis untuk mengurangi harga kontrak sebesar 1,000,000
● Maka akan dibuat jurnal
Liabilitas komitmen pembelian 1,000,000
Liabilitas komitmen pembelian 1,000,000
D. Metode Laba Bruto Dalam Mengestimasi Persediaan
Perusahaan melakukan pencocokan persediaan fisik sebagai langkah untuk memvalidasi ketepatan pencatatan persediaan secara terus-menerus. Jika catatan persediaan tidak tersedia, proses tersebut digunakan untuk menentukan jumlah persediaan yang sebenarnya. Namun, karena penghitungan persediaan bisa menjadi tugas yang tidak praktis, perusahaan kadang-kadang menggunakan metode pengganti untuk mengestimasi jumlah persediaan yang tersedia. Metode yang biasa digunakan perusahaan untuk memverifikasi atau menentukan jumlah persediaan adalah metode laba bruto (gross profit method) atau metode margin bruto. Metode laba bruto bergantung pada tiga asumsi:
1. Persediaan awal ditambah pembelian yang sama dengan total barang yang akan diperhitungkan
2. barang tidak terjual yang harus tersedia berada di tangan (gudang) 3. Penjualan, dikurangi dengan biaya perolehan, dikurangi dari jumlah
persediaan awal ditambah pembelian, sama dengan persediaan akhir.
Contoh soal metode laba bruto dalam taksiran persediaan sebagai berikut
Cetus SE memiliki persediaan awal persediaan €60.000 dan pembelian
€200.000, keduanya berdasarkan biaya. Penjualan berjumlah €280.000. Laba kotor atas harga jual adalah 30 persen. Cetus menerapkan metode laba kotor sebagai berikut:
4.1 Perhitungan Persentase Laba Bruto
Dari kebanyakan situasi, persentase laba bruto (gross profit percentage) dinyatakan sebagai persentase dari harga penjualan. Pada contoh soal sebelumnya, misalnya menggunakan laba bruto sebesar 30% dari penjualan. Laba bruto pada harga penjualan adalah metode umum untuk menyatakan laba karena beberapa alasan berikut ini :
1. Sebagian besar perusahaan menyatakan barang berdasarkan ritel, tidak berdasarkan biaya perolehan.
2. Laba yang dinyatakan pada harga penjualan nilainya lebih rendah daripada yang dinyatakan berdasarkan pada biaya perolehan. Tingkat yang lebih rendah ini memberikan kesan yang baik pada konsumen.
3. Laba bruto berdasarkan harga penjualan tidak dapat melebihi 100%.
Pada contoh soal sebelumnya, laba bruto merupakan informasi yang diberikan. Akan tetapi, bagaimana Cetus akan mendapatkan angka tersebut? Untuk melihat bagaimana menghitung persentase laba bruto, asumsikan bahwa barang memiliki biaya perolehan sebesar €15 dan dijual seharga €20, atau laba bruto sebesar €5.
Seperti yang ditunjukan pada gambar diatas, markup ini sebesar ¼ atau 25% dari ritel dan ⅓ atau 33 ⅓ % dari biaya perolehan.
Untuk memahami hubungan dasar antara markup pada biaya perolehan dan markup pada harga penjualan, misalnya asumsikan bahwa perusahaan membuat markup terhadap item sebesar 25% dari biaya perolehan. Berapakah laba bruto pada harga penjualan?
Jawaban:
Asumsikan bahwa item tersebut dijual seharga €1. Dalam hal ini, rumus yang digunakan sebagai berikut:
Biaya perolehan + Laba bruto = Harga penjualan C + 0,25C = SP
(1 + 0,25) C = SP 1,25C = €1,00 C = €0,80
Laba bruto sama dengan €0,20 (€1,00 - €0,80). Oleh karena itu, tingkat laba bruto pada harga penjualan adalah 20% (€0,20/€1,00).
Sebaliknya, asumsikan bahwa laba bruto pada pada harga penjualan adalah 20%.
Berapakah markup pada biaya perolehan?
Jawaban:
Asumsikan bahwa item tersebut dijual €1. Rumus yang digunakan sama, sebagai berikut:
Biaya perolehan + Laba bruto = Harga penjualan
C + 0,20P = SP
C = (1 - 0,20) SP C = 0,80 SP C = 0,80 (€1,00) C = €0,80
Seperti yang ada pada vonton sebelumnya, markup sama dengan €0,20 (€1,00 -
€0,80). Markup pada biaya perolehan adalah 25%.
Peritel menggunakan rumus untuk menyatakan hubungan sebagai berikut:
1. Laba bruto pada harga penjualan = Markup persentase pada biaya perolehan 100% + Markup persentase pada biaya perolehan 2. Markup persentase pada biaya perolehan = Laba bruto pada harga penjualan
100% + Laba bruto pada harga penjualan
4.2 Evaluasi Metode Laba Kotor
Evaluasi Metode Laba Kotor memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, metode ini hanya memberikan nilai taksiran persediaan akhir, yang berarti bahwa nilai persediaan yang tercatat dalam pembukuan mungkin tidak selalu mencerminkan nilai sebenarnya. Kedua, metode ini cenderung
menggunakan persentase masa lalu untuk menghitung laba kotor, yang dapat
menghasilkan proyeksi yang tidak akurat jika ada perubahan signifikan dalam faktor- faktor yang mempengaruhi biaya produksi.
Kemudian, tingkat laba kotor blanket (keseluruhan) yang dihasilkan oleh metode ini mungkin tidak representatif secara keseluruhan. Ini karena metode tersebut mungkin tidak memperhitungkan variasi dalam biaya bahan baku, tenaga kerja, atau biaya overhead antar produk atau dalam periode waktu tertentu. Selain itu, metode laba kotor seringkali tidak dapat diterima untuk tujuan pelaporan keuangan yang ketat karena hanya memberikan taksiran atau estimasi atas laba kotor, bukan angka yang pasti dan terverifikasi.
Menurut standar IFRS (International Financial Reporting Standards), entitas diwajibkan untuk melakukan inventarisasi fisik sebagai verifikasi tambahan atas nilai persediaan yang tercatat dalam pembukuan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa nilai persediaan yang dilaporkan dalam laporan keuangan mencerminkan nilai
sebenarnya yang ada dalam stok fisik entitas.
E. Metode Persediaan Ritel
5.1 Metode Persediaan Ritel (Retail Inventory Method)
Metode ini digunakan oleh perusahaan pengecer (retailer) untuk menghitung persediaan pada harga eceran. Pengecer dapat menggunakan rumus untuk mengubah harga eceran menjadi harga perolehan. Dalam pasar yang kompetitif, pengecer sering kali perlu menggunakan penurunan harga, yang merupakan penurunan harga jual asli. Pemotongan harga jual tersebut mungkin diperlukan karena penurunan tingkat harga umum, penjualan khusus, barang kotor atau rusak, kelebihan persediaan,dan persaingan pasar. Penurunan harga adalah hal yang biasa dalam ritel akhir-akhir ini. Pembatalan penurunan harga terjadi ketika penurunan harga kemudian diimbangi dengan kenaikan harga barang yang telah dikurangi oleh pengecer—seperti setelah penjualan satu hari. Baik pembatalan markup maupun pembatalan markdown tidak boleh melebihi markup atau markdown asli.
Metode ini membutuhkan peritel untuk mencatat antara lain:
1. Total biaya dan nilai ritel dari barang yang dibeli
2. Total biaya dan nilai ritel dari barang tersedia untuk dijual 3. Penjualan untuk periode berjalan
5.2 Cara Kerja Metode
Contoh ini diambil dari perusahaan Debenham dengan langkah langkah berikut:
● Nilai ritel barang tersedia untuk dijual
● Melakukan pengurangan penjualan untuk periode tersebut untuk menentukan estimasi persediaan pada ritel
● Menghitung rasio biaya perolehan terhadap ritel (cost to retail ratio) untuk semua barang dengan membagi biaya total barang tersedia untuk dijual pada biaya perolehan dengan total barang yang tersedia pada harga ritel
● Menggunakan rasio biaya perolehan terhadap ritel untuk persediaan akhir yang dinilai pada ritel
5.3 Contoh Soal
Data berikut berkaitan dengan suatu departemen Fuque Ltd di bulan Oktober. Buatlah daftar untuk menghitung persediaan eceran dengan menggunakan Metode Konvensional dan Metode Biaya.
Untuk mengilustrasikan konsep ini, asumsikan bahwa Designer Clothing Store baru saja membeli 100 kemeja dari Marroway Group. Harga kaos ini adalah €1.500, atau €15 per kaos.
Designer Clothing menetapkan harga jual kemeja ini sebesar €30 per kemeja. Kemejanya terjual dengan cepat, jadi manajer menaikkan harga (markup) sebesar €5 per kaos. Markup ini membuat harga menjadi terlalu tinggi bagi pelanggan, dan penjualan melambat. Manajer kemudian menurunkan harga menjadi €32. Pada titik ini, dapat dikatakan bahwa kemeja di Designer Clothing memiliki markup sebesar €5 dan pembatalan kenaikan harga (markup cancellation) sebesar €3.
Sebulan kemudian, manajer menurunkan harga kemeja yang tersisa dengan harga jual €23.
Pada titik ini, pembatalan markup tambahan sebesar €2 telah terjadi, dan penurunan harga (markdown) sebesar €7 telah terjadi. Jika manajer kemudian menaikkan harga kaos menjadi
€24, pembatalan penurunan harga (markdown cancellation) sebesar €1 akan terjadi.
Berikut Penyelesaian Contoh Soal diatas menggunakan dua metode, yaitu Conventional Method dan Cost Method
5.4 Item Khusus yang Berkaitan dengan Metode Ritel
Metode persediaan eceran menjadi lebih rumit ketika kita mempertimbangkan barang-barang seperti pengiriman masuk, retur dan potongan pembelian, dan diskon pembelian. Dalam metode eceran, barang-barang tersebut diperlakukan sebagai berikut.
● Ongkos kirim merupakan bagian dari biaya pembelian.
● Retur pembelian biasanya dianggap sebagai pengurangan harga baik pada biaya maupun eceran.
● Diskon pembelian dan potongan harga biasanya dianggap sebagai pengurang biaya pembelian.
● Transfer masuk dari departemen lain dilaporkan dengan cara yang sama seperti pembelian dari perusahaan luar.
● Kekurangan biasa (kerusakan, kerusakan, pencurian, susut) harus mengurangi kolom ritel karena barang-barang ini tidak lagi tersedia untuk dijual. Biaya tersebut tercermin dalam harga jual karena sejumlah kekurangan dianggap normal dalam perusahaan ritel. Akibatnya, perusahaan tidak mempertimbangkan jumlah ini dalam menghitung persentase biaya-ke-ritel.
Sebaliknya,untuk sampai pada persediaan akhir di ritel, mereka menunjukkan kekurangan normal sebagai pengurang yang mirip dengan penjualan.
● Kekurangan yang tidak wajar, di sisi lain, dikurangkan dari kolom biaya dan ritel dan dilaporkan sebagai jumlah persediaan khusus atau sebagai kerugian. Untuk melakukan sebaliknya mendistorsi rasio biaya ke-ritel dan melebih-lebihkan persediaan akhir.
● Diskon karyawan (diberikan kepada karyawan untuk mendorong loyalitas, kinerja yang lebih baik, dan sebagainya) dipotong dari kolom ritel dengan cara yang sama seperti penjualan.Diskon ini tidak boleh dipertimbangkan dalam persentase biaya ke-eceran karena tidak mencerminkan perubahan harga jual secara keseluruhan.
5.5 Evaluasi Metode Persediaan Eceran
Perusahaan seperti Carefour (FRA),Marks dan Spencer (GBR), atau department store local menggunakan metode persediaan ritel untuk menghitung persediaan karena alasan berikut:
(1) untuk penghitungan laba bersih tanpa penghitungan fisik inventaris, (2) sebagai ukuran pengendalian dalam menentukan kekurangan inventaris, (3) dalam mengatur jumlah barangdagangan di tangan, dan
(4) untuk informasi asuransi.
Salah satu karakteristik dari metode persediaan eceran adalah bahwa memiliki efek rata-rata
metode ini keseluruh bisnis, di mana tingkat laba kotor bervariasi antar departemen. Tidak ada kelonggaran untuk kemungkinan distorsi hasil karena perbedaan tersebut. Perusahaan menyempurnakan metode eceran dalam kondisi seperti itu dengan menghitung persediaan secara terpisah menurut Departemen atau menurut kelas barang dagangan dengan laba kotor yang serupa. Selain itu,keandalan metode ini mengasumsikan bahwa distribusi item dalam persediaan mirip dengan"campuran" dalam total barang yang tersedia untuk dijual.