Al-Kisah ‘Ain Zubaidah Hidayah Tejawulandari (1214070034)
Dinasti Abbasiyah merupakan zaman keemasan Islam atau bisa disebut the golden age, yang mana pada zaman ini manusia fokus terhadap dunia ilmu sains dan agama. Pada zaman ini, dipimpin oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Terwujudnya zaman emas ini, dilatar belakangi oleh seorang wanita yang tidak lain merupakan istri dari khalifah Harun Ar-Rasyid, beliau ialah Zubaidah binti Ja’far Al-Mansur.
Amatul Aziz binti Ja’far bin Abi Ja’far Al-Manshou, merupakan nama asli beliau. Oleh kakeknya beliau dipanggil Zubaidah karena sebagai tanda bahwa beliau seorang wanita berkulit putih dan bersikap lemah lembut. Zubaidah merupakan putri dari khalifah Ja’far Al-Mansur yang merupakan khalifah kedua Dinasti Abbasiyah. Ja’far merupakan saudara tiri al-Mahdi khalifah Abbasiyah ketiga yang istrinya adalah Khayzuran. Dan kakak perempuan Khayzuran ialah Salsabil yang melahirkan Zubaidah pada 766 M di kota Mosul Irak, hingga pada 781 M menjadi istri dari Harun Ar-Rasyid.
Pada tahun 786, Harun Ar-Rasyid menjadi Khalifah ke-5 Abbasiyah, yang menggantukan saudaranya. Pada malam yang sama, gadis budak melahirkan seorang anak laki-laki namun gadis budak tersebut akhirnya meninggal. Zubaidah akhirnya membesarkan anak laki-laki tersebut yang Bernama al-Ma’mun. Hingga pada 787 M, Zubaidah akhirnya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Al-Amin.
Sejarawan Ibnu al-Jawzi mencatat, kesuksesannya sebagai khalifah, Harun Ar-Rasyid ditentukan oleh peran sang istri tercintanya, Zubaidah. Sebagai ibu negara, beliau menjadi sosok penentu atas kebijakan pemerintah dan sangat cakap dalam menemani, berkontribusi dan membantu tugas suaminya saat Harun Ar- Rasyid sedang berkutat dengan urusan ketentaraan. Zubaidah dikenal sebagai permaisuri khalifah yang agung, serta beliau juga merupakan seorang ulama wanita. Zubaidah juga dikenal sebagai ahlul fiqh dan ahlul ibadah.
Sosok Zubaidah mencintai suatu ilmu yang berkutat dalam keindahan bahasa-bahasanya, yang tak lain bukan ialah ilmu sastra. Saking cinta terhadap sastra, beliau mengundang sastrawan dan cendikiawan tersebut diantaranya Husein bin Ad-Dahak, Al-Jahiz (sastrawan, filsuf, dan ilmuwan), hingga Abu Nuwas seorang penyair jenaka. Tidak hanya kecintaanya pada sastra, Zubaidah juga merupakan penghafal al-Qur’an dan melantunkan al-Qur’an dengan suara yang sangat indah. Saking cerdasnya Zubaidah, pada majalah Asy-Syarq yang berjudul “Perempuan Ulama Islam Pada Abad Pertengahan” Dr. Muhammad Ahmad Abdul Hadi menulis:
اهنإ ىتح بأدلل ةبحم رعشلاب ةعلوم تأشن ةئراق ةملاع ةظفاح تناك ،أديشرلا نوراه جوز ةأديبز هذهو عيأدبلا رعشلا نم ةليمجلا تايبلاب ةاشوملا رئاتسلاب اهتفرغ ناطيح نيزت .
“Lihatlah! Zubaidah istri/permaisuri Harun ar-Rasyid adalah perempuan ulama yang hafal al-Qur’an, aktiif dalam dunia sastra dan seni. Dinding kamar- kamarnya dihiasi dengan kaligrafi berisi puisi-puisi indah”
Suatu hari, Zubaidah mengusulkan kepada suaminya, Harun Ar-Rasyid.
Untuk membangun Lembaga Pendidikan serta perpustakaan yang diberi nama
‘Baitul Hikmah’ yang artinya rumah kebijaksanaan. Perpustakaan Baitul Hikmah menjadi tempat untuk menghimpun buku dan karya ilmu pengetahuan dari seluruh penjuru dunia, selain itu menjadi Lembaga penelitian dan penerjemaahan.
Zubaidah juga mengusulkan kepada suaminya untuk mendirikan majelis yang Bernama Al-Mudzakarah, yakni Lembaga untuk mengkaji problematika agama yang diselenggarakan di rumah, atau masjid dan istana.
Ibnu Taghri Bardi menyatakan :
لضضضف اهل ةيخس ةليلج ةأديس ةأديبز تناك أدقل ،افورعمو ،ةنايصو ،لامجو ،لصأو ،انيأد اهرصع ءاسن مظعأ ءارعشلاو ءابطلاو ءابأدلا ىلع فطعلاو نارمعلاو ةراضحلا يف
“Zubaidah ialah tokoh besar pada zamannya, baik dari sisi agama ataupun akhlak, keturunannya, kecantikannya, kehormatannya, dan kebaikan perilakunya.
Ia adalah perempuan terhormat yang pemurah dan membangun peradaban serta mencintai pada sastrawan, penyair dan dokter”
Selain mendirikan Lembaga Pendidikan, Zubaidah merupakan sosok yang sangat dermawan. Zubaidah menggunakan kekayaan dan kedudukannya di Dinasti
Abbasiyah demi kepentingan sosial dan rakyatnya. Beliau membiayai ratusan orang untuk beribadah haji. Suatu hari, Zubaidah dan suaminya Harun Ar-Rasyid melakukan perjalanan ibadah haji dari Baghdad menuju Mekkah. Dengan bersamaan, Jemaah haji di sana sulit untuk mendapatkan air minum. Air Ketika saat itu sulit dicari dan harganya sulit dijangkau oleh Jemaah haji yang membutuhkan air.
Dengan kondisi demikian, muncul inisiatif dari Zubaidah mengusulkan kepada suaminya untuk membangun saluran air yang menghubungkan ke Mekkah, yang mana sumbernya dari Wadi Nu’man (lembah Nu’man). Zubaidah memanggil dan memerintahkan kepada insinyur dan arsitek bangunan untuk membuat saluran air membentang dari Kufah di Irak hingga Rafha berlanjut ingga Fida sekitar jarak 120 km sebelah tenggara, jalur dari Fida dilanjut hungga ar- Rabdzah (190 km dari Madinah kearah timur, jarak 350km) hingga berakhir di Makkah.
Dalam pembangunan saluran air, Zubaidah menghabiskan sekitar 1.500.000 dinar, namun terdapat sumber lain yang menyebutkan 1.700.00 dinar. Namun ketika masa itu belum ada tenaga listrik, Zubaidah memanfaatkan tenaga kuda untuk menghantarkan air dari Wadi Nu’man lalu di salurkan ke tempat Jemaah haji berada.
Seorang penulis biografi tokoh perempuan, Al-Yafi’i dalam bukunya A’lam An-Nisa’, menyebutkan bahwa ‘Ain Zubaidah tersebut sebagai:
ةضضميظع ةراضضمع ىلع ةلمتضضشمو ةضضيقاب اضضهراثآ ...هنضضسح فضضصو نع ةرابعلا رصقت لابجلا يف مكحم اينب تاذ ةبيجع
“Sebuah bangunan yang amat kokoh di atas gunung yang sulit untuk digambarkan keindahannya. Jejaknya masih terlihat dan mencakup bangunan besar yang mengagumkan.”
Imam Ibnu Jauzi juga bertutur kisah Zubaidah. Beliau berkata, Zubaidah memberi minum kepada penduduk Makkah, Ketika air satu kulah seperti satu dinar, ia mengalirkan air sejauh sepuluh batu yang membelah bukit hingga air tersebut dapat mengalir ke tanah haram.
Mata air secara simbolis sering dihubungkan dengan keberkahan dan kesucian. Air dianggap sebagai sumber kehidupan yang memberikan nutrisi dan kehidupan kepada segala bentuk kehidupan. Mata air Zubaidah, sebagai sumber air yang penting di Makkah, dianggap memiliki keberkahan dan kemurahan hati.
Hal ini mencerminkan filosofi kepedulian Zubaidah terhadap para peziarah yang datang ke Makkah, serta kesuciannya dalam membangun infrastruktur yang menguntungkan banyak orang.
Mata air Zubaidah juga mencerminkan nilai-nilai pemberian dan kebajikan.
Zubaidah dikenal sebagai seorang wanita dermawan yang memanfaatkan kekayaannya untuk membangun jalan air dan infrastruktur yang membantu peziarah. Filosofi di balik situs mata air ini mengajarkan pentingnya memberikan dan berbuat baik kepada orang lain. Mata air ini menjadi simbol generositas dan pemikiran yang luas untuk kepentingan bersama.
Mata air Zubaidah juga memiliki nilai filosofis dalam konteks warisan dan kenangan. Meskipun Zubaidah hidup pada abad ke-9, keberadaan mata air ini yang bertahan sampai hari ini menjadi warisan yang berharga dari masa lalu. Ini mencerminkan pentingnya menghargai dan memelihara warisan budaya dan sejarah kita. Situs mata air ini mengajarkan nilai-nilai historis dan keabadian dalam konteks tempat dan budaya.
Mata air merupakan titik pertemuan air yang mengalir dari berbagai arah.
Secara filosofis, hal ini mencerminkan gagasan tentang koneksi dan kebersamaan.
Mata air Zubaidah menjadi titik pertemuan bagi peziarah dari berbagai penjuru, yang datang bersama-sama dalam tujuan yang sama untuk beribadah di Makkah.
Hal ini mengajarkan pentingnya koneksi antara individu-individu yang berbeda dalam mencapai tujuan bersama, serta memperkuat ikatan sosial dan spiritual.
Melalui perspektif ini, situs mata air Zubaidah memiliki makna filosofis yang melampaui sekadar sumber air fisik. Ia mencerminkan nilai-nilai seperti keberkahan, pemberian, warisan, kebersamaan, dan kesucian, yang dapat memberikan inspirasi dan pengajaran kepada orang-orang yang mengunjunginya.
Saluran air ini sekarang dikenal dengan nama ‘Ain Zubaidah (mata air Zubaidah) yang hal ini sangat bermanfaat bagi Jemaah haji selama berabad-abad.
Namun hingga saat ini, mata air Zubaidah mulai tidak digunakan karena tergantikan dengan mata air yang sudah di temukan diMekkah. Namun, pemerintah Arab Saudi tetap mempertahankan situs bersejarah ‘Ain Zubaidah seperti saluran air serta sumur-sumurnya yang sudah berusia lebih dari 12 Abad.
REFERENSI
Anisah, R. (2022). Tebuireng.online: Kisah Zubaidah, Penyair Cerdas dan Baik Hati. Diakses pada Juni 2023: https://tebuireng.online/kisah-zubaidah- penyair-cerdas-dan-baik-hati/
Arifin, Y. (2020). Perempuan Upama di Atas Panggung Sejarah / Muhammad Huseim 1953. Yogyakarta: IRCiSoD
Jannah, S. (2020). Bincang Muslimah: Zubaidah binti Ja’far: Muslimah Ahli
Konstruksi. Diakses pada Juni 2023:
https://bincangmuslimah.com/muslimah-talk/zubaidah-binti-jafar- muslimah-ahli-konstruksi-29138/
Wardayati, K, T. (2022). Intisari Grid Id: Hadiahkan Suaminya Sepuluh Budak Perempuan Sebagai Permintaan Maaf, Inilah Kisah Zubaidah binti Ja’far, Istri Khalifah Harun Al-Rashid, Sediakan Air di Sepanjang Jalan ke Mekah untuk Peziarah. Diakses pada Juni 2023:
https://intisari.grid.id/read/033259461/hadiahkan-suaminya-sepuluh- budak-perempuan-sebagai-permintaan-maaf-inilah-kisah-zubaidah-binti- jafar-istri-khalifah-harun-al-rashid-sediakan-air-di-sepanjang-ja?page=all Yuanita, P. (2015). Dream: Kisah Mata Air Zubaidah dan Perjalanan Jemaah
Haji di Mekah. Diakses pada Juni 2023:
https://www.dream.co.id/travel/kisah-mata-air-zubaidah-dan-perjalanan- jemaah-haji-di-mekah-1510073.html