Soal 1 – Imbalan Kerja, Provisi, dan Kontinjensi (CPMK 1, CPMK 2) – Total 20 Poin
Pertanyaan : a. PT Makmur memiliki program imbalan pasca kerja berupa pemberian uang pensun. Pada akhir tahun 2024, aktuaris perushaan menghitung nilai kini kewajiban imbalan pasti sebesar Rp10.000.000.000 dan nilai wajar aset program sebesar Rp8.500.000.000. Hitunglah defisit atau surplus program imbalan pasti tersebut dan jelaskan bagaimana perusahaan harus menyajikannya dalam laporan keuangan. (10 poin)
Jawaban : Perhitungan Defisit/Surplus Program Imbalan Pasti Diketahui:
Nilai kini kewajiban imbalan pasti (Defined Benefit Obligation/DBO) = Rp10.000.000.000
Nilai wajar aset program = Rp8.500.000.000 Defisit atau surplus dihitung dengan rumus:
Defisit/Surplus = Nilai Wajar Aset Program - Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti
Defisit:
Rp8.500.000.000 - Rp10.000.000.000 = (Rp1.500.000.000)Karena hasilnya negatif, maka terjadi defisit program sebesar Rp1.500.000.000.
Penyajian dalam Laporan Keuangan
Sesuai dengan PSAK 24: Imbalan Kerja, langkah penyajian defisit program imbalan pasti dalam laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Laporan Posisi Keuangan
- Defisit sebesar Rp1.500.000.000 harus diakui sebagai liabilitas neto imbalan pasti di neraca.
- Penyajian dilakukan dalam pos “Liabilitas Imbalan Kerja” pada kelompok liabilitas jangka panjang.
2. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
- Biaya imbalan kerja yang diakui dalam laporan laba rugi terdiri atas:
a) Beban jasa kini dan jasa lalu
b) Biaya bunga neto, yang dihitung dengan mengalikan defisit (atau surplus) neto dengan tingkat diskonto.
- Pengukuran kembali (remeasurement) atas liabilitas neto imbalan pasti diakui pada penghasilan komprehensif lain, yang mencakup:
a) Keuntungan atau kerugian aktuarial.
b) Hasil aktual atas aset program (di luar bunga neto).
3. Catatan atas Laporan Keuangan - Perusahaan harus mengungkapkan:
a) Penjelasan tentang sifat program imbalan pasti.
b) Asumsi utama yang digunakan dalam perhitungan kewajiban.
c) Analisis pergerakan saldo kewajiban dan aset program selama tahun berjalan.
Dengan demikian, defisit sebesar Rp1.500.000.000 dilaporkan sebagai liabilitas dalam laporan keuangan PT Makmur, disertai dengan pengungkapan rinci di catatan atas laporan keuangan.
Pertanyaan : b. PT Industri menghadapi klaim dari pelanggan atas kerusakan produk.
Perusahaan yakin dapat memenangkan kasus ini, namun jika kalah, potensi kerugian diperkirakan sebesar Rp1.000.000.000. Bagaimana perusahaan harus memperlakukan kasus ini dalam laporan keuangan? (10 poin)
Jawaban : Perusahaan tidak mencatat provisi atas klaim ini, tetapi mengungkapkan informasi terkait klaim dalam catatan atas laporan keuangan.
Berdasarkan PSAK 57, perlakuan atas kasus ini dalam laporan keuangan PT Industri bergantung pada tingkat kemungkinan (probabilitas) kerugian dan keyakinan perusahaan terkait hasil dari kasus tersebut. Karena perusahaan yakin dapat memenangkan kasus ini, maka perlakuan akuntansinya adalah sebagai berikut:
1. Tidak Membentuk Provisi:
o Perusahaan tidak perlu mencatat provisi karena tidak ada kewajiban kini yang diharapkan mengakibatkan arus keluar sumber daya ekonomi yang probable (kemungkinan besar terjadi).
o Klaim ini belum memenuhi kriteria pengakuan provisi, yaitu adanya kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun konstruktif) yang kemungkinan besar memerlukan penyelesaian.
2. Pengungkapan Liabilitas Kontinjensi:
o Karena terdapat potensi kerugian sebesar Rp1.000.000.000 jika perusahaan kalah, meskipun dianggap tidak mungkin (remote), perusahaan wajib mengungkapkan liabilitas kontinjensi dalam catatan atas laporan keuangan.
o Pengungkapan meliputi:
Deskripsi sifat dari klaim yang dihadapi.
Estimasi jumlah kerugian potensial (Rp1.000.000.000).
Penjelasan bahwa perusahaan yakin akan memenangkan kasus ini.
Referensi PSAK 57:
Paragraf 10: Provisi hanya diakui jika terdapat kewajiban kini yang memerlukan penyelesaian yang probable.
Paragraf 28-30: Liabilitas kontinjensi diungkapkan jika terdapat kemungkinan arus keluar sumber daya ekonomi yang tidak cukup memenuhi kriteria untuk diakui sebagai provisi.
Soal 2 – Pajak Penghasilan (CPMK 1, CPMK 2) – Total 20 Poin PT Cemerlang memiliki data sebagai berikut untuk tahun pajak 2024:
Laba sebelum pajak : Rp6.000.000.000
Koreksi fiskal positif permanen : Rp400.000.000 Koreksi fiskal positif temporer : Rp500.000.000 Koreksi fiskal negatif temporer : Rp300.000.000 Saldo awal aset pajak tangguhan : Rp220.000.000 Rugi fiskal tahun 2023 yang belum dikompensasi : Rp1.000.000.000
Tarif pajak yang berlaku: 22%
Pertanyaan : a. Hitunglah Penghasilan Kena Pajak (PKP) PT Cemerlang setelah memperhitungkan kompensasi kerugian. (4 Poin)
Jawaban : Hitung Penghasilan Kena Pajak (PKP):
Laba sebelum pajak: Rp6.000.000.000
Koreksi fiskal positif permanen: Rp400.000.000 Koreksi fiskal positif temporer: Rp500.000.000 Koreksi fiskal negatif temporer: (Rp300.000.000)
Rugi fiskal tahun 2023 yang belum dikompensasi: (Rp1.000.000.000)
PKP = Rp6.000.000.000 + Rp400.000.000 + Rp500.000.000 − Rp300.000.000 − Rp1.000.000.000 = Rp5.600.000.000
Pertanyaan : b. Hitunglah pajak kini yang terutang. (4 Poin) Jawaban : Hitung Pajak Kini:
Pajak kini dihitung dengan mengalikan PKP dengan tarif pajak.
Pajak Kini = PKP × Tarif Pajak Pajak Kini = Rp5.600.000.000 × 22%
Pajak Kini = Rp1.232.000.000
Pertanyaan : c. Hitunglah perubahan pajak tangguhan yang timbuk dari perbedaan temporer.
(4 Poin)
Jawaban : Perbedaan temporer neto = Koreksi fiskal positif temporer − Koreksi fiskal negatif temporer
= Rp500.000.000 − Rp300.000.000 = Rp200.000.000
Pajak tangguhan yang timbul = Perbedaan temporer neto × tarif pajak
= Rp200.000.000 × 22% = Rp44.000.000
Aset pajak tangguhan akhir = Saldo awal aset pajak tangguhan + pajak tangguhan yang timbul
= Rp220.000.000 + Rp44.000.000 = Rp264.000.000
Pertanyaan : d. Buatlah jurnal untuk mencatat beban pajak kini dan perubahan pajak tangguhan. (4 Poin)
Jawaban : Mencatat pajak kini:
Dr Beban Pajak Penghasilan Kini Rp1.232.000.000 Cr Utang Pajak Kini Rp1.232.000.000 Mencatat perubahan pajak tangguhan:
Dr Aset Pajak Tangguhan Rp44.000.000 Cr Beban Pajak Tangguhan Rp44.000.000
Pertanyaan : e. Hitunglah total beban pajak yang disajikan dalam laporan laba rugi.
(4 poin)
Jawaban : Total beban pajak = Beban pajak kini − Beban pajak tangguhan
= Rp1.232.000.000 − Rp44.000.000 = Rp1.188.000.000 Soal 3 – Kombinasi Bisnis dan Konsolidasi (CPMK 1, CPMK 2) – Total 10 Poin
Pertanyaan : a. Sebutkan dan jelaskan 3 indikator yang menunjukkan nahwa suatu entitas memiliki pengendalian atas entitas lain. (5 poin)
Jawaban : Berdasarkan PSAK 65 tentang "Laporan Keuangan Konsolidasian,"
pengendalian suatu entitas atas entitas lain terjadi ketika entitas induk memenuhi ketiga indikator berikut:
1. Kekuasaan atas Investee
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan aktivitas relevan (aktivitas yang secara signifikan memengaruhi hasil investee). Kekuasaan ini dapat diperoleh melalui kepemilikan saham mayoritas, perjanjian, atau hak lainnya, seperti hak suara atau hak veto.
2. Eksposur atau Hak atas Imbal Hasil Variabel dari Investee
Entitas induk memiliki eksposur terhadap risiko atau hak atas keuntungan dari hasil ekonomi entitas anak. Hal ini mencakup pendapatan, dividen, atau potensi kerugian dari investee.
3. Kemampuan untuk Menggunakan Kekuasaan untuk Memengaruhi Imbal Hasil
Entitas induk memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuasaan atas investee guna memengaruhi jumlah keuntungan atau kerugian yang diterima. Ini menunjukkan hubungan kausal antara kekuasaan dan pengaruh atas imbal hasil.
Pertanyaan : b. Bagaimana perlakuan akuntansi untuk transaksi intra – grup dalam penyusunan laporan konsolidasian? (5 Poin)
Jawaban : Transaksi intra-grup adalah transaksi antara entitas dalam grup (induk dan anak atau antar-entitas anak) yang tidak melibatkan pihak eksternal. Dalam
penyusunan laporan keuangan konsolidasian, transaksi ini dieliminasi untuk mencerminkan laporan keuangan grup sebagai satu entitas ekonomi. Perlakuan akuntansi meliputi:
1. Penghapusan Pendapatan dan Beban Intra-Grup
Semua pendapatan dan beban dari transaksi antar-entitas grup, seperti penjualan barang atau jasa, dieliminasi. Hal ini dilakukan untuk
mencegah pendapatan atau beban yang diakui ganda dalam laporan konsolidasian.
2. Penghapusan Saldo Piutang dan Utang Antar-Entitas Grup Saldo piutang dan utang yang timbul dari transaksi antar-entitas grup harus dihapuskan untuk mencerminkan posisi keuangan yang hanya melibatkan pihak eksternal.
3. Penghapusan Laba atau Rugi Tak Terealisasi pada Persediaan atau Aset Tetap
Jika entitas grup menjual barang atau aset kepada entitas lain dalam grup, laba atau rugi yang belum terealisasi (karena barang atau aset tersebut belum dijual kepada pihak luar) harus dieliminasi dari laporan konsolidasian.
o Contoh: Jika entitas anak menjual persediaan ke entitas induk dengan laba, maka laba tersebut dieliminasi sampai persediaan tersebut dijual ke pihak eksternal.
4. Pengaruh Pajak Terkait Transaksi Intra-Grup
Eliminasi transaksi intra-grup mempertimbangkan dampak pajak tangguhan yang mungkin timbul karena perbedaan nilai buku dan nilai pajak akibat eliminasi laba atau rugi intra-grup.
Soal 4 – Investasi Bisnis dan Konsolidasi (CPMK 1, CPMK 2) – Total 15 Poin
Pertanyaan : a. Bandingkan metode biaya dan metode ekuitas dalam penilaian investasi.
Kapan masing-masing metode tersebut digunakan? (5 Poin) Jawaban : Perbandingan Metode Biaya dan Metode Ekuitas
Aspek Metode Biaya Metode Ekuitas
Pengakuan Awal Diakui sebesar biaya perolehan (cost).
Diakui sebesar biaya perolehan (cost).
Pengakuan Pendapatan Dividen diakui sebagai pendapatan saat diterima.
Bagian laba entitas asosiasi diakui sebagai pendapatanberdasarkan proporsi.
Perubahan Nilai Investasi
Nilai investasi tidak berubah, kecuali terjadi penurunan nilai (impairment).
Nilai investasi disesuaikan dengan laba/rugi dan dividen dari entitas asosiasi.
Penggunaan Metode - Digunakan jika investor tidak memiliki pengaruh signifikan (biasanya
<20%).
- Digunakan jika investor memiliki pengaruh signifikan (biasanya 20%-50%).
Contoh Aplikasi Investasi pada entitas
tanpa pengaruh
signifikan (misalnya, saham publik).
Investasi pada entitas asosiasi (entitas dengan pengaruh signifikan).
Pertanyaan : b. Bagaimana perlakuan akuntansi untuk goodwill yang terkait dengan entitas asosiasi? (5 Poin)
Jawaban : Perlakuan Akuntansi untuk Goodwill yang Terkait dengan Entitas Asosiasi
Aspek Perlakuan Akuntansi
Pengkuan Awal Goodwill Goodwill diakui sebagai bagian dari nilai investasi saat perolehan awal.
Penyajian Goodwill Tidak disajikan terpisah dalam laporan keuangan, melainkan termasuk dalam nilai tercatat investasi
pada entitas asosiasi.
Amortisasi Goodwill tidak diamortisasi.
Pengujian Penurunan Nilai Goodwill terkait dengan entitas asosiasi diuji penurunan nilainya bersama nilai investasi lainnya (unit penghasil kas terkait).
Pertanyaan : c. Jelaskan bagaimana investor harus memperlakukan bagiannya atas kerugian entitas asosiasi yang melebihi nilai tercatat investasinya. (5 Poin)
Jawaban : Ketika investor memiliki bagian atas kerugian entitas asosiasi yang melebihi nilai tercatat investasinya, perlakuan akuntansinya adalah sebagai berikut, sesuai dengan PSAK 15 (Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama):
Langkah-Langkah Perlakuan Akuntansi:
1. Hentikan Pengakuan Kerugian Setelah Nilai Investasi Menjadi Nol:
Jika nilai tercatat investasi menjadi nol, investor tidak lagi mengakui kerugian tambahan dalam laporan laba rugi. Nilai investasi tidak dapat menjadi negatif, kecuali jika ada kewajiban tambahan.
2. Pengakuan Kerugian Tambahan Jika Ada Kewajiban atau Komitmen:
Investor harus mengakui kerugian tambahan jika:
o Investor memiliki kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif untuk mendukung entitas asosiasi (misalnya, menjamin utang entitas asosiasi).
o Besarnya kerugian tambahan diakui hingga batas kewajiban tersebut.
3. Pengungkapan Kerugian yang Tidak Diakui:
Kerugian yang melebihi nilai tercatat investasi dan tidak dapat diakui (karena tidak ada kewajiban tambahan) harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Informasi ini memberikan transparansi kepada pembaca laporan keuangan.
Contoh Kasus:
Situasi:
Investor memiliki investasi dalam entitas asosiasi senilai
Rp1.000.000.000. Entitas asosiasi melaporkan kerugian, dan bagian kerugian investor adalah Rp1.500.000.000.
Perlakuan Akuntansi:
o Investor mengurangi nilai investasi hingga nol (Rp1.000.000.000).
o Sisa kerugian Rp500.000.000 tidak diakui dalam laporan laba rugi, kecuali investor memiliki kewajiban tambahan untuk mendukung entitas asosiasi.
o Jika tidak ada kewajiban tambahan, sisa kerugian
Rp500.000.000 hanya diungkapkan dalam catatan laporan keuangan.
Mulai ↓
Apakah investor memiliki kewajiban atau komitmen tambahan?
↓
Ya ─────> Akui kerugian tambahan hingga batas kewajiban atau komitmen investor.
↓
Tidak ─────> Hentikan pengakuan kerugian tambahan setelah nilai investasi menjadi nol.
↓
Catat sisa kerugian sebagai informasi di luar laporan keuangan (off-balance sheet).
↓ Selesai
Penjelasan Proses:
1. Jika bagian kerugian entitas asosiasi melebihi nilai tercatat investasi, nilai investasi diturunkan hingga nol.
2. Kerugian tambahan hanya diakui jika investor memiliki kewajiban hukum atau konstruktif untuk mendukung entitas asosiasi, seperti menjamin utang asosiasi.
3. Jika tidak ada kewajiban tambahan, kerugian setelah investasi menjadi nol tidak diakui, tetapi diungkapkan dalam catatan laporan keuangan.
Soal 5 – Pendapatan (CPMK 1, CPMK 2) – Total 15 Poin
Pertanyaan : a. Apa perbedaan utama dalam pengakuan pendapatan antara penjualan real estate yang sudah selesai dibangun dan yang masih dalam proses pembangunan? (5 Poin)
Jawaban : Perbedaan pengakuan pendapatan pada penjualan Real Estate Aspek Real Estate yang
Sudah Selesai Dibangun
Real Estate dalam Proses Pembangunan Metode Pengakuan
Pendapatan Pengakuan dilakukan pada saat properti selesai dibangun dan diserahkan kepada pembeli.
Pengakuan
pendapatan dilakukan menggunakan metode
percentage of
completion (POC).
Syarat Pengakuan Pendapatan Syarat Pengakuan
Pendapatan
- Properti harus diserahkan
sepenuhnya.
- Proyek harus dalam tahap penyelesaian dan kriteria kontrak terpenuhi.
Tingkat Kepastian
Transaksi Terdapat kepastian bahwa risiko dan
manfaat telah
dialihkan.
Pendapatan diakui secara bertahap berdasarkan estimasi progres pekerjaan.
Ketentuan Akuntansi PSAK 72: Pendapatan diakui ketika kontrol atas aset dialihkan kepada pembeli.
PSAK 72: Pendapatan diakui sesuai progres
pekerjaan jika
memenuhi kriteria kontrak kinerja.
Pertanyaan : b. Perusahaan A mengakui pendapatan dari penjualan online saat barang dikirim, sementara Perusahaan B mengakui pendapatan saat barang barang diterima pelanggan. Evaluasi kedua kebijakan tersebut dan jelaskan mana yang lebih sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. (5 Poin)
Jawaban : Kebijakan Perusahaan B lebih sesuai dengan PSAK 72, karena prinsip utama pengakuan pendapatan adalah ketika kontrol atas barang atau jasa telah dialihkan kepada pelanggan.
Evaluasi kebijakan pengakuan pendapatan pada penjualan online
Kebijakan Perusahaan Evaluasi
Perusahaan A: Pendapatan diakui saat barang dikirim.
- Pendekatan ini dapat diterima jika risiko dan manfaat sudah dialihkan ke pembeli saat barang dikirim.
- Namun, kebijakan ini kurang sesuai jika pembeli belum menerima barang, sehingga kontrol atas barang belum sepenuhnya dialihkan (PSAK 72).
Perusahaan B: Pendapatan diakui
saat barang diterima pelanggan. - Kebijakan ini lebih sesuai dengan prinsip PSAK 72, karena
pendapatan diakui ketika kontrol atas barang sepenuhnya dialihkan kepada pelanggan.
- Pengakuan pendapatan pada saat penerimaan oleh pelanggan
memastikan tidak ada
ketidakpastian terkait pemenuhan kewajiban kontraktual.
Pertanyaan : c. Jelaskan bagaimana investor harus memperlakukan bagiannya atas kerugian asosiasi yang melebihi nilai tercatat investasinya. (5 Poin)
Jawaban : Ketika investor memiliki bagian kerugian yang melebihi nilai tercatat investasinya dalam entitas asosiasi, langkah-langkah berikut diterapkan (seperti dijelaskan dalam PSAK 15):
1. Hentikan Pengakuan Kerugian Setelah Nilai Investasi Menjadi Nol:
o Nilai tercatat investasi diturunkan hingga nol.
o Kerugian tambahan tidak diakui, kecuali jika investor memiliki kewajiban tambahan.
2. Akui Kerugian Tambahan Jika Ada Kewajiban:
o Jika investor memiliki kewajiban hukum atau konstruktif
(misalnya, menjamin utang entitas asosiasi), kerugian tambahan diakui hingga batas kewajiban tersebut.
3. Ungkapkan Kerugian Tidak Diakui:
o Sisa kerugian yang tidak diakui harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, memberikan transparansi mengenai situasi entitas asosiasi.
Soal 6 – Analisis Laporan Keuangan (CPMK 1, CPMK 2) – Total 10 Poin
Pertanyaan : Sebutkan dan jelaskan secara singkat tujuh jenis financial shenanigens yang umum digunakan perusahaan untuk memanipulasi laporan keuangan. Berikan contoh perlakuan akuntansi untuk masing – masing jenis.
Jawaban : Berikut adalah tujuh jenis financial shenanigans yang sering digunakan untuk memanipulasi laporan keuangan, beserta penjelasan dan contoh perlakuan akuntansi untuk masing-masing:
Jenis Financial
Shenanigans Penjelasan Contoh Perlakuan Akuntansi 1. Recording
Revenue Too Soon
Perusahaan mengakui pendapatan sebelum pengalihan kontrol atas barang atau jasa kepada pelanggan (tidak sesuai PSAK 72).
Mengakui pendapatan atas barang yang belum
dikirimkan ke
pelanggan atau
mencatat pendapatan sebelum kontrak selesai.
2. Boosting Revenue with One-Time Gains
Perusahaan memasukkan
pendapatan non-
operasional atau
keuntungan sekali saja (one-off) ke dalam pendapatan operasional untuk meningkatkan laba.
Mengakui keuntungan dari penjualan aset
tetap sebagai
pendapatan
operasional dalam laporan laba rugi.
3. Shifting Current Expenses to a Later Period
Perusahaan menunda pengakuan beban agar laba bersih pada periode berjalan tampak lebih besar.
Mengkapitalisasi biaya perbaikan mesin sebagai aset tetap alih- alih membebankannya langsung ke laporan laba rugi.
4. Failing to Record or
Disclose Liabilities
Perusahaan tidak
mencatat atau
mengungkapkan
kewajiban tertentu untuk mengurangi jumlah beban dan meningkatkan laba.
Tidak mencatat utang
usaha atau
mencatatnya sebagai pendapatan
ditangguhkan.
5. Shifting Current Income to a Later Period
Pendapatan yang
diperoleh pada periode
berjalan ditunda
pencatatannya untuk meningkatkan laba pada periode berikutnya.
Menahan pengiriman barang yang sudah siap dikirimkan hingga awal periode berikutnya agar pendapatan tercatat di periode itu.
6. Shifting Future Expenses to the Current Period
Beban dari periode mendatang diakui pada periode berjalan agar laba di masa depan terlihat lebih stabil.
Membebankan biaya
penelitian dan
pengembangan (R&D) yang seharusnya dicatat di periode mendatang ke periode berjalan.
7. Employing Other Improper Accounting
Perusahaanmenggunakan metode akuntansi yang tidak sesuai standar untuk memanipulasi laporan keuangan.
Menggunakan metode persediaan FIFO ketika
harga barang
meningkat, meskipun sesuai kebijakan internal harusnya LIFO.
Soal 7 – Pelaporan Terintegrasi (CPMK 1, CPMK 2) – Total 10 poin
Pertanyaan : Bandingkan fokus utama pelaporan berkelanjutan dengan pelaporan terintegrasi.
Jelaskan perbedaan mendasar di antara keduanya.
Jawaban : Berikut adalah perbandingan fokus utama pelaporan berkelanjutan (sustainability reporting) dengan pelaporan terintegrasi (integrated reporting) serta perbedaan mendasar di antara keduanya:
Aspek Pelaporan
Berkelanjutan Pelaporan Terintegrasi
Fokus Utama Menyoroti dampak
ekonomi, lingkungan, dan sosial dari aktivitas perusahaan terhadap keberlanjutan.
Menggabungkan informasi keuangan dan non-keuangan untuk menunjukkan nilai
jangka panjang
perusahaan.
Tujuan Transparansi terkait
tanggung jawab sosial
dan lingkungan
perusahaan.
Menyediakan gambaran holistik tentang bagaimana perusahaan menciptakan nilai dalam
jangka pendek,
menengah, dan
panjang.
Standar yang
Digunakan GRI (Global Reporting Initiative), SASB, atau standar ESG lainnya.
IIRC (International Integrated Reporting Council) Framework.
Penerima Informasi
Utama Pemangku kepentingan
luas, termasuk
masyarakat,
Investor dan penyedia modal lainnya.
pemerintah, dan aktivis lingkungan.
Komponen Utama Informasi tentang dampak keberlanjutan terkait: lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Laporan terintegrasi yang mencakup model bisnis, strategi, tata kelola, kinerja, dan
prospek nilai
perusahaan.
Pendekatan Fokus pada tanggung jawab perusahaan terhadap keberlanjutan dunia.
Fokus pada penciptaan nilai dan keberlanjutan perusahaan itu sendiri.
Hubungan dengan
Keuangan Terpisah dari laporan keuangan utama; sering disajikan dalam laporan khusus.
Mengintegrasikan informasi keuangan dan non-keuangan ke dalam satu laporan.
Konteks Strategis Menekankan dampak perusahaan terhadap keberlanjutan global.
Menekankan bagaimana keberlanjutan
mendukung penciptaan nilai perusahaan.
Perbedaan Mendasar:
1. Perspektif Penciptaan Nilai:
o Pelaporan Berkelanjutan: Berfokus pada dampak perusahaan terhadap keberlanjutan global, termasuk lingkungan dan sosial.
o Pelaporan Terintegrasi: Berfokus pada penciptaan nilai perusahaan dalam konteks finansial dan non-finansial secara holistik.
2. Penerima Informasi:
o Pelaporan Berkelanjutan: Ditujukan untuk pemangku kepentingan luas (masyarakat umum, pemerintah, aktivis).
o Pelaporan Terintegrasi: Ditujukan terutama untuk investor dan penyedia modal.
3. Format dan Standar:
o Pelaporan Berkelanjutan: Menggunakan kerangka seperti GRI atau ESG yang spesifik pada isu keberlanjutan.
o Pelaporan Terintegrasi: Menggunakan kerangka IIRC yang menggabungkan aspek keuangan dan non-keuangan.
Kesimpulan:
Meskipun kedua jenis laporan ini sama-sama mempertimbangkan aspek keberlanjutan, pelaporan berkelanjutan menyoroti dampak sosial dan lingkungan perusahaan, sementara pelaporan terintegrasi lebih menekankan hubungan antara keberlanjutan dan penciptaan nilai bagi perusahaan dalam jangka panjang.