PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana menghilangkan hak pilih masyarakat dalam pemilihan umum pada Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN Mks. Apa pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pemilu dalam Putusan PN Makassar Nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN Mks.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pemilu dalam Putusan Pengadilan Nomor :.
Kegunaan Penelitian
Kasus yang dibahas dalam penelitian ini adalah tindak pidana pemilu di kota Makassar tahun 2019. Tindak pidana pemilu di https://www.negara Hukum.com/Hukum/tindak-pidana-pemilu.html, (diakses 10 Januari 2020).
TINJAUAN PUSTAKA
Dasar Hukum Pemilu
Pada tahun 1955, yaitu pada masa Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950, diterbitkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1953 yang menjadi dasar hukum Pemilu 1955. Undang-undang ini terdiri dari 16 bab dan 139 pasal yang mengatur berbagai ketentuan mengenai pemilihan konstituen dan anggota. Kartu. . Pemilihan ini dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan Undang-Undang Nomor 16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD.
Ada tiga undang-undang yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu tahun 1999, yaitu: 1) UU No. 2 Tahun 1999 untuk partai politik; Pemilu 2004 Merujuk pada pasal tersebut, Pemerintah dan DPR mengeluarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 yang mengatur tentang mekanisme pengaturan pemilihan anggota parlemen. e. Terdapat empat undang-undang yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu tahun 1999, yaitu: 1) UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum;
Kerangka hukum pemilu 2019 berbeda dibandingkan pemilu sebelumnya yang terbagi dalam tiga undang-undang, kali ini satu dan diatur dalam undang-undang yaitu UU Pemilu.
Asas, Prinsip, dan Tujuan Pemilu
Dalam penafsiran undang-undang no. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1969 tentang Pemilihan Umum Langsung Anggota Badan Permusyawaratan Rakyat menyatakan bahwa pemilih mempunyai hak untuk langsung memberikan suaranya menurut hati nuraninya, tanpa perantara dan tanpa tingkat. Sikap adil penyelenggara pemilu menjadi penting mengingat kemajemukan masyarakat dan sangat tingginya kepentingan politik berbagai pihak. Keamanan hukum sebagai idee des recht merupakan wujud dari keharusan adanya kewajiban penyelenggara pemilu dalam melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan lainnya.
Berdasarkan norma hukum akan memberikan rasa aman bagi semua pihak, sehingga para peserta pemilu dan masyarakat Indonesia pada umumnya mempunyai harapan setidaknya masih ada harapan masa depan demokrasi di tangan penyelenggara pemilu. Penyelenggara pemilu bertindak setara dengan semua pihak untuk memastikan bahwa pemilu dilaksanakan sesuai dengan mandat hukum. Pemilu diselenggarakan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, sehingga setiap keputusan dan/atau tindakan penyelenggara pemilu harus berdasarkan undang-undang.
Memilih dan dipilih adalah hak politik warga negara yang dijamin oleh Konstitusi dan undang-undang.54.
Penyelenggara Pemilu
Pasal 1 Ayat (24) UU Pemilu menyatakan bahwa “Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu yang selanjutnya disingkat DKPP adalah lembaga yang bertugas menangani pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu.” DKPP bertugas menyelidiki dan memutus pengaduan dan/atau laporan dugaan pelanggaran Kode Etik yang dilakukan penyelenggara Pemilu.
Tugas, Wewenang dan Kewajiban Bawaslu
Pencalonan sampai dengan penetapan pasangan calon, calon anggota DPR, calon anggota DPD, dan calon anggota DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; Memantau netralitas aparatur sipil negara, netralitas anggota Tentara Nasional Indonesia, dan netralitas anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia; Mengelola, memelihara dan merawat arsip serta melaksanakan penyusutan berdasarkan rencana retensi arsip sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
Pengambilalihan sementara tugas, wewenang dan kewajiban Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Kabupaten/Bawaslu Kota secara bertahap apabila Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Kabupaten Kota untuk sementara waktu tidak dapat melaksanakannya karena sanksi atau akibat lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; G. Memperbaiki keputusan dan rekomendasi Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Kabupaten/Kota apabila terdapat hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; Menyampaikan laporan hasil pemantauan kepada Presiden dan DPR sesuai tahapan penyelenggaraan pemilu secara berkala dan/atau berdasarkan kebutuhan.
Mengawasi pemutakhiran dan pemeliharaan data pemilih secara terus menerus yang dilakukan oleh KPU dengan memperhatikan data kependudukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; Dan.
Pengertian dan Mekanisme Tugas Gakkumdu
Laporan tindak pidana Pemilu disampaikan oleh Bawaslu, Bawaslu provinsi, Bawaslu kabupaten/kota, dan/atau Panwaslu kecamatan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia paling lambat 1 x 24 (dua puluh empat) jam dari Bawaslu, Bawaslu Provinsi. , Bawaslu Kabupaten/Kota, dan/atau pengawas kecamatan menyatakan dugaan perbuatan atau perbuatan tersebut merupakan tindak pidana pemilu. Perbuatan atau perbuatan yang diduga merupakan tindak pidana pemilu dinyatakan oleh Bawaslu, Bawaslu provinsi, Bawaslu kabupaten/kota, dan/atau Panwaslu kecamatan setelah berkoordinasi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan Agung Republik Indonesia. di Gakkumdu. Penyidikan, penyidikan, penuntutan, dan penyidikan tindak pidana Pemilu dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang Pemilu.
Dalam penyidikan, penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup atas dugaan tindak pidana Pemilu, hasil penyidikan disertai berkas perkara diserahkan kepada penyidik paling lambat 1 x 24 (satu x dua puluh empat) jam. Pengadilan Negeri dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana Pemilu menggunakan KUHAP, kecuali ditentukan lain dalam UU Pemilu. Pengadilan Negeri memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana Pemilu paling lambat 7 (tujuh) hari setelah penyerahan dokumen, permohonan Banding diajukan paling lambat 3 (tiga) hari setelah pembacaan putusan.
Mahkamah Agung akan memeriksa dan memutuskan permohonan rayuan selambat-lambatnya tujuh (tujuh) hari setelah permohonan rayuan diterima.
Lokasi Penelitian
Tipe Penelitian
Penggunaan metode hukum normatif dalam pendekatan ini diusulkan untuk mengkaji, mengkaji dan menganalisis perkara-perkara yang terjadi dalam perkara ini untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan pelaku melakukan tindak pidana pemilu dalam putusan Pengadilan nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN Mks dan untuk mengetahui lebih lanjut pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pemilu dalam putusan Pengadilan nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN Mks. Tujuannya untuk memeriksa apakah prosesnya sudah sesuai dengan prosedur yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Jenis dan Sumber Data
Data Primer yaitu data yang diperoleh langsung dari narasumber mengenai permasalahan yang menjadi bahan pembahasan, melalui wawancara dengan narasumber yang dianggap mempunyai relevansi dan kompetensi dengan permasalahan yang ada. Data sekunder merupakan data yang sudah ada dan dapat menunjang analisis dan pemahaman data primer. Data diperoleh melalui studi literatur dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang ada serta melalui pendapat para ulama atau ahli hukum.
Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang menjelaskan bahan hukum primer, terdiri atas buku-buku (sastra), artikel-artikel atau sumbangan-sumbangan yang disajikan baik dalam bentuk cetak maupun elektronik, serta pendapat para ahli (doktrin) yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, misalnya: kamus, ensiklopedia, dan lain-lain. Sumber data diperoleh melalui penelitian kepustakaan yaitu buku-buku kepustakaan, artikel, peraturan perundang-undangan, kasus hukum dan karya ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.
Sumber data diperoleh melalui penelitian lapangan yaitu penelitian yang dilakukan terhadap pihak-pihak yang menjadi narasumber (informan) seperti hakim pada Pengadilan Negeri Makassar yang memeriksa dan mengadili perkara Nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN Mks melalui mediator. wawancara.
Teknik Pengumpulan Data
Analisis Data
Putusan Pengadilan Nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN.Mks tanggal 30 Juli 2019 tentang tindak pidana pencabutan hak masyarakat dalam pemilihan umum yang dilakukan oleh terdakwa bernama Selang Stanislaus pada hari Rabu tanggal 17 April 2019 sekitar pukul 11.00 WITA atau sekurang-kurangnya beberapa lain waktu pada tahun 2019 di TPS 34 Ex. Menyatakan terdakwa SELANG STANISLAUS terbukti secara meyakinkan dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja mengakibatkan orang lain kehilangan hak pilihnya, sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan melanggar Pasal 510 Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentang pemilu. Menyatakan terdakwa SELANG STANISLAUS telah terbukti secara meyakinkan dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya.
Dalam hal suatu perkara pidana menghilangkan hak pilih masyarakat dalam pemilihan umum yang diselenggarakan oleh terdakwa, jika berdasarkan bukti-bukti terdakwa melakukan perbuatan dan fakta-fakta yang dikemukakan di persidangan, pada pokoknya hakim akan menjatuhkan hukuman. pidana penjara dan denda, tetapi dalam menjatuhkan pidana itu hakim akan mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan serta menjatuhkan pidana penangguhan.” Menimbang bahwa selanjutnya majelis hakim akan mempertimbangkan apakah berdasarkan fakta hukum di atas, terdakwa dapat dinyatakan melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya; Apabila hal itu terpenuhi, maka terdakwa harus dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan perseorangan;
Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Makassar nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN.Mks ditemukan terdakwa Selang Stanislaus terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja menimbulkan kerugian. orang lain. hak memilih, dengan pidana penjara 5 bulan, denda 1.000.000,00 dan pidana bersyarat 10 bulan. Penerapan hukum pidana yang dilakukan hakim kepada pelaku tindak pidana dengan sengaja menyebabkan hilangnya hak memilih oleh orang lain berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN.Mks adalah patut dan benar menurut hukum berdasarkan keterangan para saksi, terdakwa, dan alat bukti yang digunakan dalam melakukan tindak pidana pemilu, sebagaimana dimaksud dalam putusan pengadilan tersebut di atas. Pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pemilu dalam Putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor: 973/Pid.Sus/2019/PN.Mks telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pertimbangan Hakim
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Penulis berharap penerapan hukum dalam perkara tindak pidana pemilu harus mengedepankan pemberian efek jera dengan menjatuhkan hukuman penjara agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya lagi, karena perbuatan pelaku tidak bisa dipandang sebagai pelanggaran hukum semata, melainkan juga merugikan demokrasi yang dilaksanakan secara langsung, terbuka, bebas, jujur, dan adil. Namun kita bisa melihat bahwa hukuman penjara masih sangat sulit diterapkan dalam praktiknya, hanya ada hukuman bersyarat yang menurut penulis belum bisa dikatakan memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan. Dalam Gusti Ngurah Agung Sayoga Raditya, “Menetapkan Ambang Batas Formal dalam Konteks Sistem Pemilu Universal yang Demokratis di Indonesia.” Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar, 2013.
Anonim, “Pengertian Unsur-Unsur UU Tipikor”, (https://parisminalush.blogspot.com/2014/09/memahami-elus-aturan.html, diakses 10 Januari.