• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis kemampuan pemecahan masalah matematis

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "analisis kemampuan pemecahan masalah matematis"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) DITINJAU DARI KECERDASAN

MAJEMUK

SKRIPSI

Oleh:

DINI AMALIA WARDANI NPM 217.01.07.2.001

UNIVERSITAS ISLAM MALANG

FAKULTAS KEPENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JULI 2021

(2)

ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) DITINJAU DARI KECERDASAN

MAJEMUK

SKRIPSI Diajukan kepada

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang

Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika

OLEH

DINI AMALIA WARDANI NPM 217.01.07.2.001

UNIVERSITAS ISLAM MALANG

FAKULTAS KEPENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JULI 2021

(3)

ABSTRAK

Wardani, Dini Amalia. 2021. Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah

Matematis Peserta Didik dalam Menyelesaikan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Ditinjau dari Kecerdasan Majemuk. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematiks Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang. Pembimbing I: Abdul Halim Fathani, S.Si., M,Pd; Pembimbing II: Alifiani, M.Pd.

Kata-kata Kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis, AKM, Kecerdasan Majemuk.

Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik, karena kemampuan pemecahan masalah sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi pada kehidupan sehari- hari yang berkaitan dengan matematika. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah adalah kecerdasan verbal linguistik.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahaman masalah matematis dalam menyelesaikan soal AKM peserta didik berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dengan kecerdasan dominan kedua yaitu kecerdasan logis matematis, visual spasial, interpersonal, dan intrapersonal.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini berjumlah 4 peserta didik yang didasarkan atas hasil pengisian angket kecerdasan majemuk dan hasil jawaban tes soal AKM.

Subjek penelitian ini terdiri dari subjek dengan kecerdasan dominan verbal linguistik – logis matematis, subjek dengan kecerdasan dominan verbal linguistik – visual spasial, subjek dengan kecerdasan dominan verbal linguistik –

interpersonal, dan subjek dengan kecerdasan dominan verbal linguistik – intrapersonal.Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket, dan

wawancara, dengan instrumen soal tes AKM, angket kecerdasan majemuk, dan pedoman wawancara. Validasi data menggunakan triangulasi teknik dengan membandingkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan hasil

wawancara. Setelah data absah/valid dilakukan analisis data untuk memperoleh kesimpulan kemampuan pemecahan masalah matematis berdasarkan setiap tipe kecerdasan yang ditentukan.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa Peserta didik dengan tipe kecerdasan verbal linguistik – logis matematis dan kecerdasan verbal linguistik – visual spasial mampu menyelesaikan masalah matematika pada soal Asesmen Kompetensi Minimum. Peserta didik memenuhi seluruh indikator kemampuan pemecahan masalah matematis. Peserta didik tipe kecerdasan verbal

(4)

linguistik – logis matematis lebih unggul dari pada tipe kecerdasan yang lain dan peserta didik menyelesaikan dengan teliti dan tepat dengan waktu yang tidak lama. Peserta didik dengan tipe kecerdasan verbal linguistik – visual spasial lebih memahami masalah menggunakan visual/gambar yang ada pada soal masalah.

Peserta didik berkecerdasan verbal linguistik – interpersonal memenuhi 3 indikator dari 4 indikator pemecahan masalah matematis. Peserta didik tipe kecerdasan verbal linguistik – interpersonal mampu memahami masalah dengan berulang-ulang membaca soal yang diberikan dan dalam menyelesaikan masalah peserta didik membutuhkan rangsangan/ atau petunjuk untuk menemukan konsep yang tepat untuk digunakan. Peserta didik berkecerdasan verbal linguistik – interpersonal memenuhi 2 indikator dari 4 indikator pemecahan masalah matematih. Peserta didik dengan tipe kecerdasan verbal linguistik dan intrapersoanl membutuhkan waktu berulang kali membaca untuk memahami masalah pada soal, akan tetapi peserta didik mampu mengingat konsep yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. Peserta didik belum mampu

menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana, akan tetapi mampu menjelaskan kesimpulan dari penyelesaian yang dilakukan.

(5)

ABSTRACT

Wardani, Dini Amalia. 2021. Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah

Matematis Peserta Didik dalam Menyelesaikan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Ditinjau dari Kecerdasan Majemuk. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematiks Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang. Pembimbing I: Abdul Halim Fathani, S.Si., M,Pd; Pembimbing II: Alifiani, M.Pd.

Key words: Mathematical problem solving ability, AKM, multiple intelligences.

Mathematical problem solving ability is an ability that must be mastered by students, because problem solving skills are needed in solving problems

encountered in everyday life related to mathematics. One of the factors that influence problem solving ability is intelligence.

This study aims to describe the mathematical problem solving ability in solving the AKM questions of students based on the dominant verbal linguistic intelligence with the second dominant intelligence, namely mathematical logical intelligence, visual spatial, interpersonal, and intrapersonal.

This study uses a qualitative approach with a qualitative descriptive type.

The subjects of this study were 4 students based on the results of filling out multiple intelligence questionnaires and the results of the AKM test answers. The subjects of this study consisted of subjects with dominant verbal linguistic

intelligence – mathematical logic, subjects with dominant verbal linguistic intelligence – visual spatial, subjects with dominant verbal linguistic intelligence – interpersonal, and subjects with dominant verbal linguistic intelligence – intrapersonal. Data collection techniques used tests, questionnaires, and

interviews, using the AKM test questions, multiple intelligence questionnaires, and interview guidelines. Validation of the data using triangulation techniques by comparing mathematical problem solving abilities and interview results. After the data is valid / valid, data analysis is carried out to obtain conclusions about

mathematical problem solving abilities based on each type of intelligence that is determined.

Based on the results of data analysis, it was concluded that students with verbal linguistic intelligence - logical mathematical and verbal linguistic - visual spatial intelligence were able to solve mathematical problems on the Minimum Competency Assessment questions. Students meet all indicators of mathematical problem solving ability. Students with verbal linguistics – logical-mathematical intelligence are superior to other types of intelligence and students complete the task carefully and accurately in a short time. Learners with the type of verbal

(6)

linguistic - visual spatial intelligence better understand the problem using the visuals/images in the problem. Learners with verbal linguistic - interpersonal intelligence meet 3 indicators of 4 indicators of mathematical problem solving.

Students of the verbal linguistic-interpersonal intelligence type are able to understand problems by repeatedly reading the questions given and in solving problems students need stimulation / or instructions to find the right concept to use. Students with verbal linguistic – interpersonal intelligence fulfill 2 indicators of 4 mathematical problem solving indicators. Students with the type of verbal, linguistic and intrapersonal intelligence need time to read repeatedly to understand the problems in the questions, but students are able to remember the concepts used in solving problems. Students have not been able to solve the problem according to the plan, but are able to explain the conclusions of the solution made.

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Konteks Penelitian

Pada tahun pelajaran 2020/2021 Ujian Nasional yang biasa disebut UN telah diganti menjadi Asesmen Kompetensi Minimum atau disingkat AKM. Hal ini diungkapkan langsung oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim pada akhir tahun 2019. Nadiem Makarim

mengatakan bahwa tahun 2020 akan menjadi tahun terakhir pelaksanaan ujian nasional (UN), karena UN lebih banyak soal-soal yang mengukur kompetensi tingkat rendah yang tidak sejalan dengan tujuan pendidikan, kurang mendorong pendidik menggunakan metode pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta kurang optimal dalam memperbaiki mutu pendidikan secara nasional. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian atau asesmen kompetensi mendasar yang digunakan agar peserta didik mampu mengembangkan kapasitas diri dan turut berperan aktif dalam hal positif pada masyarakat.

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dirancang untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam perbaikan mutu pembelajaran, yang berikutnya mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Nadiem Makarim menjelaskan bahwa pelaksanaan AKM akan dilakukan pada tengah jenjang pendidikan, tidak seperti ujian nasional yang dilaksanakan pada akhir jenjang pendidikan (Kasih, 2020). Perbedaan lain terletak pada mata pelajaran yang diujikan yang mana pada

(8)

2

UN ada setidaknya empat mata pelajaran, sedangkan pada AKM hanya dibagi menjadi dua kompetensi, yaitu literasi linguistik dan literasi numerasi. Adapun yang dimaksud literasi numerasi menurut Mahmud dan Pratiwi (2019:70) adalah pengetahuan dan kecakapan dalam menggunakan berbagai simbol dan angka terkait dengan matematika dan kemudian menganalisis informasi yang diperoleh.

Sedangkan literasi linguistik adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu serta untuk dapat berpartisipasi secara produktif kepada masyarakat (Adit, 2020).

Dalam melakukan penilaian atau AKM diperlukan instrumen penilaian.

Sandi (2020) menjelaskan komponen instrumen pada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) ada dua, yakni literasi linguistik (membaca) dan literasi numerasi. Bentuk instrumen yang digunakan dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yakni soal pilihan ganda (memilih satu jawaban tepat), soal pilihan ganda kompleks (memilih jawaban tepat lebih dari satu), soal mejodohkan, soal isian singkat, dan soal uraian. AKM menyajikan masalah dengan beragam konteks yang diharapkan dapat diselesaikan oleh peserta didik dengan

menggunakan kompetensi literasi membaca dan literasi numerasi. Kemampuan numerasi yang dimiliki peserta didik dapat dijadikan alat untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai konteks yang sesuai. Dalam pembelajaran matematika diperlukan kemampuan literasi, khususnya literasi numerasi peserta didik yang berguna dalam memecahkan masalah matematika.

(9)

3

Menurut Zulkarnain dan Budiman (2019:19) matematika merupakan hasil pemikiran seseorang yang penuh dengan konsep dan prinsip yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah matematika. Masih banyak peserta didik yang belum menguasai kemampuan memahami konsep matematika sehingga peserta didik kurang mampu dalam menyelesaikan masalah matematika (Zulkarnain dan Budiman, 2019:19). Padahal kemampuan menyelesaikan masalah merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai peserta didik setelah belajar matematika. Kemampuan pemecahan masalah sangat dibutuhkan karena kebutuhan peserta didik dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan matematika.

Menurut Ardani dan Ningtiyas (2017:418) dalam menyelesaikan masalah matematika, setiap orang memiliki cara dan kemampuan yang beragam karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Selain itu juga terdapat faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi seseorang dalam memecahkan masalah matematika. Menurut Novitasari (2015:42) salah satu faktor internal yang mempengaruhi seseorang dalam memecahkan masalah adalah kecerdasan

seseorang.

Menurut Gardner (2013) kecerdasan terbagi menjadi delapan tipe yang kemudian disebut dengan kecerdasan majemuk. Delapan jenis kecerdasan yakni (1) verbal linguistik berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berbahasa; (2) logis matematis berkaitan dengan kemampuan mengolah angka dan menggunakan logika; (3) visual spasial mampu menggunakan indera penglihatan secara baik serta mengubah ke dalam bentuk lain; (4) kinestetik mampu mengekspresikan

(10)

4

perasaanya dengan menggunakan olah tubuh; (5) musikal berkaitan dengan kemampuan menangkap bunyi; (6) interpersonal mampu memahami dan bekerja sama dengan orang lain dengan baik; (7) intrapesonal mampu memahami aspek internal dalam diri sendiri dengan baik; dan (8) naturalis berkaitan dengan kemahiran seseorang dalam mengenali flora dan fauna dalam lingkungannya.

Menurut Armstrong (2002:3) peserta didik yang dominan dengan kecerdasan verbal linguistik memiliki karakteristik yakni memiliki kemampuan dalam menggunakan dan memahami kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam hal ini peserta didik dengan kecerdasan verbal linguistik

diharapkan mampu memahami soal-soal AKM yang diberikan.

Howard Gardner dalam Abas (2016:53) berpendapat bahwa tidak ada seseorang yang tidak cerdas, bahkan seseorang bisa memiliki lebih dari satu kecerdasan majemuk. Kombinasi dari beberapa tipe kecerdasan majemuk membantu seseorang melakukan berbagai aktivitas yang berbeda. Begitu pula pada kemampuan memecahkan masalah matematika. Masalah matematika yang dihadapi pada pembelajaran matematika sering kali berupa soal uraian yang membutuhkan penyelesaian dengan cara memahami dahulu masalah yang tengah terjadi. Dalam memahami masalah membutuhkan kemampuan bahasa yang baik.

Hal ini berhubungan dengan kecerdasan verbal linguistik. Dalam menyelesaikan masalah matematika yang dihadapi juga didukung dengan kecerdasan lain seperti kecerdasan logis matematis, karena seseorang dengan tipe kecerdasan ini

memiliki kemampuan mengolah angka dan berhitung yang baik. Selain itu ada peserta didik yang didukung dengan kecerdasan visual spasial karena peserta

(11)

5

didik mampu berimajinasi dan mengungkapkan gagasannya melalui grafik (Suparno, 2004).

Observasi awal dilakukan peneliti pada Sabtu, 19 Maret 2021 di SMA Diponegoro Tumpang. Alasan peneliti memilih SMA Diponegoro Tumpang sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini telah melakukan uji coba pelaksanaan Asesmen Nasional dengan instrumen Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang dipilih oleh Dinas Pendidikan. Observasi dilakukan dengan melakukan wawancara kepada 11 peserta didik yang telah mengikuti pelaksaan uji coba pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) oleh Dinas Pendidikan.

Hasil yang diperoleh peserta didik dalam mengerjakan soal yang diberikan yakni 3 peserta didik dengan nilai antara 70 – 80, 5 peserta didik dengan hasil antara 50 - 69, dan 3 peserta didik dengan nilai kurang dari 50. Peserta didik belum mampu menyelesaikankan soal AKM. Terlebih lagi peserta didik lemah dalam hal

pemahaman.

Dari hasil wawancara didapatkan bahwa peserta didik yang menjadi

responden dalam observasi awal kesulitan dalam mengerjakan soal yang diberikan oleh peneliti. Peserta didik berpendapat bahwa soal tersebut tidak sesuai dengan materi yang diajarkan selama ini. Selain itu ada yang berpendapat jika soal yang diberikan susah untuk dipahami. Beberapa peserta didik membutuhkan waktu yang lama untuk menerjemahkan soal ke dalam konsep matematika. Dari hasil tersebut terlihat bahwa ada peserta didik yang lemah dalam menerjemahkan soal yang diberikan. Di samping itu, ada juga peserta didik yang mampu

menyelesaikan yang diberikan dengan baik.

(12)

6

Terdapat beragam tipe kecerdasan yang dimiliki peserta didik di SMA Diponegoro Tumpang kelas XI peminat Bahasa. Tipe kecerdasan yang dimiliki berpengaruh terhadap proses menyelesaikan masalah matematika. Dalam memahami dan menyelesaikan masalah matematika setidaknya seseorang memiliki tipe kecerdasan verbal-linguistik dan logis-matematis, karena masalah matematika sebagian besar disajikan dalam bentuk soal cerita. Oleh sebab itu, selain kemampuan berhitung dalam mengerjakan soal cerita juga dibutuhkan kemampuan memahami bahasa dalam soal cerita tersebut.

Dalam menyelesaikan soal cerita peserta didik dituntut terlebih dahulu untuk dapat memahami makna dari soal yang diberikan. Dalam memahami soal tersebut yang dibutuhkan yakni kecerdasan verbal linguistik. Setelah memahami soal tersebut peserta didik harus mampu memahami konsep matematikanya dan mampu mengoperasikan rumus atau algoritma dalam menyelesaikan maslaah yang diberikan. Berdasarkan uraian, peneliti tertarik untuk melakukan studi dengan judul “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Peserta Didik dalam Menyelesaikan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Ditinjau dari Kecerdasan Majemuk”.

1.2 Fokus Penelitian Dan Rumusan Masalah

Berdasarkan konteks penelitian yang telah diuraikan, maka peneliti membatasi fokus penelitian pada kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik yang ditinjau dari kecerdasan majemuk yang fokus pada kecerdasan verbal linguistik pada soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).

(13)

7

Berdasarkan fokus penelitian maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik

berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan logis matematis?

2. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik

berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan visual spasial?

3. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan interpersonal?

4. Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan intrapersonal?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

(14)

8

1. Untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik

berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan logis matematis;

2. Untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik

berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan visual spasial;

3. Untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik

berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan interpersonal;

4. Untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum peserta didik

berdasarkan kecerdasan dominan verbal linguistik dan kecerdasan intrapersonal.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kegunaan dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun kegunaan penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Kegunaan Teoritis

(15)

9

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan, wawasan dan deskripsi tentang kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dalam menyelesaikan soal asesmen kompetensi minimum (AKM)

berdasarkan kecerdasan verbal linguistik 2) Kegunaan Praktis

a. Bagi Peserta Didik

Bagi peserta didik, penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis peserta didik dalam

menyelesaikan soal matematika khususnya pada soal Asesmen Kompetensi Minimum.

b. Bagi Pendidik

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pertimbangan atau pengembangan bagi pendidik sebagai usaha untuk memperbaiki dan memaksimalkan proses pembelajaran.

c. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk mengatasi masalah pembelajaran dan mengembangkan proses pembelajaran di setiap

matapelajaran khususnya pada pembelajaran matematika.

d. Bagi Peneliti

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadi rujukan, sumber informasi dan bahan referensi penelitian selanjutnya agar bisa lebih

(16)

10

dikembangkan dalam materi-materi yang lainnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

1.5 Penegasan Istilah

Berikut disajikan beberapa definisi istilah dalam penelitian ini untuk menghindari pengertian ganda.

1) Analisis

Analisis adalah suatu tindakan atau kegiatan memisahkan, memilah, dan mengklarifikasikan sesuatu, yang kemudian dikelompokkan menurut parameter tertentu.

2) Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

Kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan peserta didik untuk menyelesaikan/memecahkan atau menemukan jawaban dari pertanyaan yang terdapat di dalam suatu cerita, masalah, teks, dan tugas- tugas dalam pelajaran matematika. Pemecahan masalah memiliki beberapa indikator sebagai berikut, (1) mampu mengidentifikasi/ memahami masalah;

(2) mampu merencanakan penyelesaian; (3) mempu menyelesaikan masalah sesuai rencana; dan (4) mempu memeriksa kembali hasil penyelesaian.

3) Asesmen Kompetensi Minimum

Penilaian atau asesmen kompetensi mendasar dan dibutuhkan peserta didik untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan mampu berpartisipasi positif dalam masyarakat.

(17)

11

4) Kecerdasan Majemuk

Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah dalam menciptakan suatu produk yang memiliki nilai pada suatu budaya.

Kecerdasan majemuk menurut Gardner ada delapan tipe, yaitu (1) verbal linguistik berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berbahasa; (2) logis matematis berkaitan dengan kemampuan mengolah angka dan menggunakan logika; (3) visual spasial mampu menggunakan indera

penglihatan secara baik serta mengubah ke dalam bentuk lain; (4) kinestetik mampu mengekspresikan perasaanya dengan menggunakan olah tubuh; (5) musikal berkaitan dengan kemampuan menangkap bunyi; (6) interpersonal mampu memahami dan bekerja sama dengan orang lain dengan baik; (7) intrapesonal mampu memahami aspek internal dalam diri sendiri dengan baik; dan (8) naturalis berkaitan dengan kemahiran seseorang dalam mengenali flora dan fauna dalam lingkungannya.

(18)

97 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh subjek penelitian memiliki kecerdasan verbal linguistik yang baik, hal ini diketahui bahwa peserta didik mampu menjawab pertanyaan ketika

wawancara dengan baik, lancar, sistematis, dan jelas. Berdasarkan hasil penyelesaian soal AKM didapatkan kesimpulan sebagai berikut.

1. Peserta didik dengan tipe kecerdasan verbal linguistik dan logis matematis mampu menyelesaikan masalah matematika pada soal Asesmen Kompetensi Minimum. Peserta didik berkecerdasan verbal linguistik dan logis matematis memenuhi seluruh indikator kemampuan pemecahan masalah matematis, yaitu kemampuan mengidentifikasi masalah, kemampuan merencanakan penyelesaian, kemampuan menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan kemampuan memeriksa hasil penyelesaian.

2. Peserta didik dengan tipe kecerdasan verbal linguistik dan visual spasial mampu menyelesaikan masalah matematika pada soal Asesmen Kompetensi Minimum. Peserta didik berkecerdasan verbal linguistik dan visual spasial memenuhi seluruh indikator kemampuan pemecahan masalah matematis, yaitu kemampuan mengidentifikasi masalah, kemampuan merencanakan penyelesaian, kemampuan menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan kemampuan memeriksa hasil penyelesaian.

(19)

98

3. Peserta didik dengan tipe kecerdasan verbal linguistik dan interpersonal belum mampu menyelesaikan masalah matematika pada soal Asesmen Kompetensi Minimum dengan benar dan tepat. Peserta didik berkecerdasan verbal linguistik dan interpersonal belum memenuhi seluruh indikator kemampuan pemecahan masalah matematis. Peserta didik belum mampu menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana, sehingga pada indikator memeriksa hasil penyelesaian juga belum tepat.

4. Peserta didik dengan tipe kecerdasan verbal linguistik dan intrapersoanl belum mampu menyelesaikan masalah matematika pada soal Asesmen Kompetensi Minimum dengan benar dan tepat. Peserta didik berkecerdasan verbal linguistik dan interpersonal belum memenuhi seluruh indikator kemampuan pemecahan masalah matematis. Peserta didik belum mampu menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana, sehingga pada indikator memeriksa hasil penyelesaian juga belum tepat, akan tetapi mampu menjelaskan kesimpulan dari penyelesaian yang dilakukan.

5.2 Saran

Berdasarkan temuan dan pembahasan hasil penelitian, dikemukakan beberapa saran yaitu sebagai berikut.

1. Pendidik hendaknya memberikan fasilitas peserta didik dalam pembelajaran matematika dengan memberikan dan melatih peserta didik untuk dapat menyelesaikan soal-soal berbasis masalah.

(20)

99

2. Pendidik hendaknya dapat menyusun perangkat pembelajaran yang mengacu pada aspek keerdasan yang dimiliki peserta didik, sehingga kecerdasan peserta didik akan meningkat dan akan berpengaruh terhadap kemampuan memecahkan masalah matematika.

3. Peneliti sudah melakukan penelitian secara maksimal, akan tetapi untuk memverifikasi diperlukan penelitian selanjutnya. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan mampu meneliti beberapa tipe kecerdasan yang lain, yaitu tipe kecerdasan kinestetik, kecerdasan musik, dan kecerdasan naturalis.

(21)

100

DAFTAR RUJUKAN

Abas, Ros Arianti. 2016. Konsep Kecerdasan Majemuk Perspektif Howard Gardner dan Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Skripsi. Salatiga: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Salatiga.

Adit, Albertus. 2020. Siswa dan Orang Tua, Pahami Perbedaan UN dengan AKM.

[Online] 26 Desember 2020. [Dikutip: 3 April 2021.]

https://amp.kompas.com/eduread//2020/12/26/084601871/siswa-dan- orangtua-pahami-perbedaan-un-dengan-akm.

Ahvan, Y. R., Zainalipour, H. dan Mahmoodi, F. 2016. The correlation between Gardner ’ s multiple intelligences and the problem-solving styles and their role in the academic performance achievement of high school students.

european online journal of natural and social sciences, hal. 32-39.

Akib, Irwan. 2015. Implementasi Teori Belajar Robert Gagne Dalam

Pembelajaran Konsep Matematika. Makassar : Lembaga Perpustakaan dan Penerbitan Universitas Muhammadiyah Makassar , 2015.

Ardani, Riska Ayu dan Ningtiyas, Fitri Ayu. 2017. Peran Berpikir Analogi dalam Memecahkan Masalah Matematika. Surakarta : Universitas

Muhammadiyah Surakarta, 2017. Konferensi Nasional Penelitian Matematika dan Pembelajarannya II (KNPMP II). hal. 416-425.

Arikunto, Suharsimi. 2015. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Jarkarta : PT. Bumi Aksara.

Armstong, Thomas. 2013. Kecerdasan Multipel di dalam Kelas. Jakarta : Indeks.

Basuki, Ismet dan Hariyanto, Hariyanto. 2014. Asesmen Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Busthomi, M Yazid. 2012. Panduan Lengkap PAUD; Melejitkan Potensi dan Kecerdasan Anak Usia Dini. Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan: Citra Publishing.

Can, D. 2020. The mediator effect of reading comprehension in the relationship between logical reasoning and word problem solving. Participatory Educational Research, hal. 230-246.

Desmita. 2015. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Emzir. 2016. Metodologi Penelitian Kualitatif Analsis Data. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

(22)

101

Fatimah, Siti, Muhseto, Gatot dan Rahardjo, Swasono. 2019. Proses Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal PISA dan

Scaffoldingnya. Jurnal Kajian Pembelajaran Matematika, 2019,hal. 24-33.

Fitri, Meri Rolisa, et al. 2020. Hubungan Kecerdasan Majemuk dan Motivasi Belajar terhadap Pemecahan Masalah Matematika. Lampung :

Universitas Negeri Raden Intan Lampung. Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 2020. hal. 75-82.

Fitriani, Ulliya, Aunurrohman, Ahmad dan Cahyono, Budi. 2018. Pengaruh Kecerdasan Linguistik Terhadap Kemampuan Koneksi Matematis dalam Menyelesaikan Masalah Open Ended Materi Trigonometri. Jurnal Phenomenon 2018, hal. 101-113.

Garder, Howard. 2013. Multiple Intelligences (terjemahan Yelvi Andri Zaimur).

Jakarta : Daras Books.

Handayani, Kartika. 2017. Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi

Kemampuan Pemecahan Masalah Soal Cerita Matematika., hal. 325-330.

Handayaningsih, Rohyatun dan Nusantara, Toto. 2021. Profil Multiple

Intelligences dalam Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Edu Sains Jurnal Pendidikan Sains dan Matematika, 2021, hal. 20-32.

Hidayat, Agus, Sa'dijah, Cholis dan Sulandra, I Made. 2019. Proses berpikir siswa sma bergaya kognitif field dependent dan field independent dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan tahapan polya. Jurnal Pendidikan, 2019,hal. 923-937.

Ikhwanudin, Trisno. 2021. Kompas.com. [Online] 14 Januari 2021. [Dikutip: 15 Maret 2021.]

https://edukasi.kompas.com/read/2021/01/14/152519871/pembelajaran- matematika-berbasis-konteks-menumbuhkan-kemampuan-numerasi.

Ilmiyana, Miftahul. 2018. Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMA Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Dimensi Myer Briggs Type Indicator ( MBTI ). Skripsi. Lampung: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Jasmine, Julia. 2016. Metode Mengajar Multiple Intelligences (Terjemahamn Purwanto). Bandung : Nuansa.

Kasih, Ayunda Pininta. 2020. Kompas.com. [Online] 7 Oktober 2020. [Dikutip: 2 Mei 2021.]

http://www.kompas.com/edu/read/2020/10/07/131802471/tahun-depan-un- diganti-asesmen-nasional-ini-penjelasan-kemendikbud.

(23)

102

Kemendikbud. 2020. AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran.

kemendikbud.go.id. [Online] September 2020. [Dikutip: 7 Februari 2021.]

ditpsd.kemendikbud.go.id.

—. 2019. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. [Online] 11 Desember 2019.

[Dikutip: 7 Februari 2021.]

https://www.kemendikbud.go.id/main/blog/2019/12/tahun-2021-ujian- nasional-diganti-asesmen-kompetensi-minimum-dan-survei-karakter.

Kholilah, Aizaul, Saminanto dan Rohman, Ahmad Aunur. 2019. Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Ditinjau dari Multiple Intelligences. Phenomenon, hal. 204-219.

Kurniawati, Iis dan Kurniasari, Ika. 2019.Literasi matematika siswa dalam

menyelesaikan soal PISA konten space and shape ditinjau dari kecerdasan majemuk. Mathedunesa, hal. 441-448.

Madyawati, Lilis. 2016. Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Jakarta : Prenadamedia Group.

—. 2016. Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Jakarta : Prenada Media.

Manullang, Sudianto, et al. 2017. Matematika. Jakarta : Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan.

Moloeng, Lexy J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Musfiroh, Tadkiroatun. Modul Hakikat Kecerdasan Majemuk (Multiple Intellegences). http://repository.ut.ac.id/4713/1/PAUD4404-M1.pdf (Online). Diakses pada 1 Juli 2020 jam 12.35.

Nasional, Badan Standar. 2006. Model Penilaian Kelas. Jakarta : BNSP.

Polya, G. 1973. How To Solve It. Priceton : University Press.

https://notendur.hi.is/hei2/teaching/Polya_HowToSolve.pdf.

Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Rahayu, Setya. 2012. Pengaruh Pendekatan Realistic Mathematic Education Terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas VII Madrasah Tsanawiyah Hasanah Pekanbaru. Jurnal Pendidikan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Roebyanto, Goenawan dan Harmini, Sri. 2017. Pemecahan Masalah Matematika.

Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

(24)

103

Roin, Asbacha. 2017. Peningkatan Pemahaman Mata Pelajaran Pkn Materi Harga Diri Melalui Metode Pair Check Pada Siswa Kelas III MI Ihyaul Ulum Canga’an Ujungpangkah Gresik. Skripsi. Surabaya: Fakultas

Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Rokhima, Nur dan Fitriyani, Harina. 2017. Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP Ditinjau dari Kecerdasan Intrapersonal. Semarang : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Muhammadiyah Semarang, 2017. Seminar Nasional Pendidikan, Sains dan Teknologi. hal.

272-278.

Sandi, Elisabeth Diandra. 2020. Kompas.com. [Online] 13 Oktober 2020.

[Dikutip: 3 Mei 2021.]

http://kompas.com/edu/read/2020/10/13/092828771/lemdikbud-ini-ragam- jenis-soal-asesmen-kompetendi-minimum-2021.

Sandi, Elisabeth DIandra. 2020. Kompas.com. [Online] 13 Oktober 2020.

[Dikutip: 3 Mei 2021.]

https://www/kompas.com/edu/read/2020/10/13/092828771/kemendikbud- ini-ragam-jenis-soal-asesmen-kompetensi-minimum-2021.

Sariningsih, Ratna dan Purwasi, Ratna. 2017. Pembelajaran Problem Based Learning untutk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Self Efficacy Mahasiswa Calon Guru. Maret 2017, hal.

163-177.

Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : PT Alfabeta.

Suharsimi, Arikunto. 2013. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan. Jakarta : Kencana Prenamedia Group.

Tarigan, Henry Guntur. 2015. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung : Angkasa.

Uno, Hamzah B. dan Koni, Satria. 2013. Assessment Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Yaumi dan Ibrahim, Nurdin. 2013. Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligences): Mengidentifikasi dan Mengembangkan

Multitalenta Anak Edisi Pertama. Jakarta : Prenadamedia.

(25)

104

Zulkarnain, Ihwan dan Budiman, Hadi. 2019. Pengaruh Pemahaman Konsep Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Research and Development Journal Of Education, 2019, hal. 18-27.

Zhang, M., Liu, H. dan Sun, L. 2019. Research on the theory of multiple intelligences in training mode of college students’ innovative ability.

Journal of Physics: Conference Series, 2019, hal. 1-6.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh data kesimpulan bahwa 1 Cara-cara yang dilakukan peserta didik berdasarkan kemampuan penalaran matematis sebagai berikut: a Menyajikan