ANALISIS KOMPARATIF KITAB AN-NAHWU AL-WADHIH DAN KITAB MARJA’ AT-THULLAB FI QAWA’ID AN-NAHWI
Zuhairoh
Universitas Negeri Malang [email protected]
ABSTRAK:Dalam mempelajari qawa’id pada proses pembelajaran bahasa Arab, salah satu media yang utama dan sering digunakan adalah buku teks. Buku teks merupakan salah satu bahan ajar dan sumber belajar yang sudah digunakan sejak lama, terutama dalam pembelajaran bahasa.
Dengan posisi buku teks yang penting, maka buku teks harus dirancang dan diproduksi dengan konten yang memenuhi kaidah keilmuwan dan standar pendidikan. Dalam konteks penelitian ini adalah kitab Nahwu.
Analisis konten kitab nahwu sangat langka dan penelitian ini difokuskan analisis komparatif dua kitab, yakni kitab An-Nahwu Al-Wadhih dan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi. Komponen yang dikomparasikan adalah sistematika kitab, metode, seleksi, gradasi, presentasi dan repetisi.
Kitab An-Nahwu Al-Wadhih menggunakan metode induktif dalam penyusunannya, sedangkan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi menggunakan metode deduktif. Kedua kitab ini sama-sama disusun untuk pelajar bahasa arab tingkat pemula, sehingga keduanya menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh pelajar. Dari segi gradasi, keduanya pun sama-sama menggunakan gradasi putar, dan presentasi kudianya menggunakan prosedur kontekstual. Selain penggunaan metode yang berbeda, kedua kitab ini juga memiliki repetisi yang berbeda, kitab An-Nahwu Al-Wadhih menggunakan pengulangan materi dan evaluasi di akhir kitab, sedangkan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi hanya menggunakan pengulangan dalam beberapa materi tanpa menyajikan evaluasi akhir.
KATA KUNCI: Qawa’id, An-Nahwu Al-Wadhih, Marja’ at-Thullab, Komparatif.
Dalam pembelajaran bahasa arab, terdapat beberapa ruang lingkup pembelajaran, salah satunya adalah unsur kebahasaan. Unsur kebahasaan ini terdiri atas 3 butir, yakni kosakata (mufradat), fonologi (ilmu al-ashwat), dan tata bahasa (qawa’id/tarakib). Tata bahasa dalam bahasa arab dibagi menjadi dua aspek, salah satunya adalah tata kalimat (nahwu). Ilmu nahwu merupakan ilmu yang mengupas tentang hukum-hukum bunyi huruf, kata, dan kalimat, serta bunyi akhir (harakat) sebuah kata. Dalam mempelajari qawa’id pada proses pembelajaran di kelas, salah satu media yang utama dan sering digunakan adalah buku teks. (Ahmad Fikri, 2017)
Buku teks merupakan salah satu bahan ajar dan sumber belajar yang sudah digunakan sejak lama, terutama dalam pembelajaran bahasa. Bahkan, suatu penelitian melaporkan bahwa guru menghabiskan lima puluh persen waktu mereka
di kelas tentang buku teks. Buku teks memberikan kontribusi yang baik dalam sebuah proses pembelajaran, dan menempati posisi dasar dalam pembelajaran(Suyarman;2006). Buku teks merupakan alat utama dalam pembelajaran, dan mendapat perhatian dari guru, orang tua dan siswa semua jenjang pendidikan. Bahkan, beberapa materi tidak dapat diajarkan tanpa bantuan buku teks. Dilihat dari segi penggunaannya, buku teks juga mudah digunakan, pelajar cukup membaca dan memahami materi yang tertulis dalam buku tersebut, tanpa memerlukan keterampilan khusus untuk menggunakan buku teks (Rahmawati;
2015). Dengan posisi buku teks yang penting, maka buku teks harus dirancang dan diproduksi dengan konten yang memenuhi kaidah keilmuwan dan standar pendidikan. Buku dengan konten yang tidak layak dan dibawah standar akan memberikan kontribusi yang buruk dalam perkembangan keterampilan siswa.
Dalam konteks penelitian ini adalah kitab Nahwu. Analisis buku kitab nahwu sangat langka dan penelitian ini difokuskan analisis komparatif dua kitab, yakni kitab An-Nahwu Al-Wadhih dan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an- Nahwi yang ditujukan untuk pelajar dewasa, misalnya mahasiswa universitas.
Dalam konteks Indonesia, hanya ada beberapa studi komprehensif tentang komponen analisis kitab nahwu seperti yang dilaporkan oleh Mubtadi’in dan Khoerunnida. Dengan demikian ada kesenjangan penelitian yang harus diisi dan fokus dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan tentang masalah kitab nahwu dalam konteks universitas di Indonesia, khususnya Universitas Negeri Malang.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah Library Research atau kajian pustaka. Penulis mendapatkan informasi dari beberapa literatur dan buku terkait judul penelitian. Penelitian ini ditujukan untuk menemukan persamaan dan perbedaan dua buku (kitab) nahwu. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen pengumpul data utama, sehingga peneliti berperan sebagai partisipan penuh. Berdasarkan jenis penelitian tersebut, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Dokumentasi ini meliputi kegiatan pengidentifikasian, penjelasan, dan penguraian secara sistematis dokumen-dokumen atau sumber-sumber pustaka yang mengandung informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
Dalam penelitian ini, data akan dianalisa menggunakan sebuah pendekatan yang disarankan oleh Mile dan Huberman (dalam Denzim dan Lincoln,1994 dan dalam Ainin, 2016) yaitu, 1) Pengumpulan data dan pengecekan (pemeriksaan kembali) catatan lapangan, 2) Reduksi data, dengan mereduksi dan menyesuaikan data dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian dan kasus-kasus yang ada. Dalam hal ini, peneliti akan memilih materi dari kedua kitab yang sesuai dengan tujuan penelitian untuk dianalisis, 3) Display data, peneliti menganalisis dan mendeskripsikan sistematika dan isi materi kedua kitab, 4) Penyimpulan, peneliti
akan mendeskripsikan persamaan dan perbedaan kedua kitab yang menjadi sumber data, dari segi sistematika maupun materi.
Hasil dan Pembahasan
Aspek Penting dalam Analisis Materi Pengajaran Bahasa
Mackey (dalam Maman; 2017) mengemukakan bahwa materi dalam buku teks yang akan diajarkan harus melalui 4 tahap, yaitu seleksi, gradasi presentasi dan repetisi. Aspek penting dalam menganalisis pengajaran bahasa, antara lain:
1) Seleksi (pemilihan materi)
Seleksi materi merupakan tahapan yang paling penting dalam penyusunan sebuah buku tata bahasa. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyeleksian materi yang akan disusun dalam buku adalah tingkat kemahiran pelajar, karena tingkat pemahaman dasar dan menengah tentu akan berbeda dengan tingkat pemahaman atas. Beberapa prinsip yang mendasari penyeleksian materi dalam sebuah buku menurut Mackey adalah tujuan belajar, tingkat kemampuan siswa, lama waktu belajar, pilihan bahasa yang digunakan.
2) Gradasi (Pengurutan)
Setelah dilakukan tahap seleksi maka perlu dilakukan gradasi (pengurutan) pada materi yang telah diseleksi. Materi diajarkan dari yang mudah kemudian secara perlahan masuk ke materi yang lebih sulit. Gradasi materi yang sistematis akan memudahkan siswa mempelajari buku teks karena disusun menjadi bagian-bagian yang berurutan sehingga tidak terjadi kekacauan. Pengurutan (gradation) harus didasarkan pada prinsip psikologi belajar, yaitu dari yang umum ke yang khusus, dari yang ringkas ke yang panjang, dari yang sederhana ke yang kompleks dan yang lainnya.
Pengembangan bahan ajar bahasa akan berhadapan dengan pilihan gradasi yang pada dasarnya ada dua jenis, yaitu:
a. Gradasi lurus (linear gradation)
Gradasi lurus disebut juga gradasi eksklusif (succesive gradation). Gradasi lurus merupakan gradasi yang menatatingkatkan isi pembelajaran secara lurus satu demi satu, dalam artian setiap pokok pembelajaran disajikan secara detail dengan tujuan pencapaian secara tuntas atas pokok pembelajaran tersebut. Penyajian secara intensif mendalam dan detail diperlukan, karena gradasi ini menolak adanya pengulangan. Jadi setiap materi hanya tersaji satu kali.
b. Gradasi putar (cyclic gradation)
Gradasi putar disebut juga gradasi spiral (spiral gradation) atau gradasi konsentris (concentric gradation). Dalam gradasi putar, materi pembelajaran tidak
disajikan dan dibahas secara mendalam dan mendetail, namun hanya menyajikan aspek-aspek penting dalam materi tersebut. Tanpa harus menunggu penguasaan tuntas atas materi yang tersaji, pembelajaran dapat berlanjut pada materi selanjutnya. Dalam pembehasan materi yang baru, materi yang lama diulang dan diintregasikan. (Tarigan;2009)
3) Presentasi (Penyajian)
Presentasi (penyajian) merupakan suatu cara mengkomunikasikan materi kepada pelajar dengan menunjukkan apa yang ada di setiap halaman dalam buku tersebut, ini tergantung pada tujuan dan tingkat belajar siswa.
Berikut model-model presentasi menurut Mackey, ada empat macam, yaitu:
a. Prosedur diferensiasi. Yaitu menjelaskan sebuah kaidah dengan menerjemahkan penjelasannya ke dalam bahasa ibu.
b. Prosedur ostensif. Yaitu menggunakan obyek, tindakan dan situasi untuk menjelaskan materi tersebut.
c. Prosedur piktorial. Yaitu menggunakan gambar-gambar untuk menjelaskan materi tersebut.
d. Prosedur kontekstual. Yaitu penjelasan yang bersifat abstrak, yang meliputi definisi, anumerasi, subtitusi, metaphor, opposisi, dan multiple context.
4) Repetisi (Pengulangan)
Repetisi (pengulangan) merupakan langkah yang harus dilakukan agar materi yang disajikan dapat dicerna dan diinternalisasikan oleh pelajar sehingga pelajar mampu berbahasa dengan baik. (Pransiska, 2018)
Metode Pembelajaran Nahwu
Ibrahim Muhammad ‘Atha dalam Munir (2017: 110) membagi metode pembelajaran nahwu ke dalam enam macam, yaitu; metode deduktif (at-Thariqah al-Qiyaasiyyah), metode induksi (at-Thariqah al-Istiqraa’iyyah), metode tekstual (Thariqah an-Nushuush al-Mutakaamilah), metode aktivitas/kegiatan (Thariqah an-Nasyaath), metode analisis problem (Thariqah Hallu al-Musykilaat), dan metode fokus (Thariqah at-Ta’yiin). Berikut uraiannya:
1) Metode Deduktif (at-Thariqah al-Qiyaasiyyah/al-Istinbaathiyyah/al- Istibdaaliyyah)
Metode ini menitikberatkan pada penyajian kaidah, pembebanan hafalan bagi pelajar, kemudian pemberian contoh untuk memperjelas maksud dari kaidah tersebut. Ini berarti bahwa proses pembelajaran berlangsung dari yang bersifat umum kepada yang khusus.
Kelebihan dari metode deduktif seperti diatas adalah proses pembelajaran memerlukan waktu yang sedikit. Selain itu, metode ini juga memiliki kelemahan, yaitu;
a. Peserta didik cenderung terpaku dengan menghafal kaidah, hanya menirukan dan cenderung lemah dalam penalaran.
b. Peserta didik terikat dengan kaidah gramatika secara ketat sehingga timbul perasaan takut salah untuk mengembangkan di luar kaidah yang ada.
c. Bertentangan dengan kaidah umum pembelajaran, karena pembelajaran dimulai dari materi yang sulit menuju materi yang mudah.
d. Cenderung tidak dapat menghasilkan pengetahuan yang baru. (Hamid;2008) 2) Metode induktif (at-Thariqah al-istiqraa’iyyah)
Metode ini merupakan kebalikan dari metode deduktif, karena metode ini didasarkan pada penyajian contoh-contoh terlebih dahulu, yang kemudian didiskusikan oleh para pelajar, dan dirumuskan kaidah-kaidahnya, kemudian menyajikan beberapa latihan. Metode ini dimulai dari yang khusus untuk mencapai kaidah yang umum. (Effendy;2012)
Kelebihan metode ini antara lain:
a. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran bahasa arab yang berlangsung
b. Berangkat dari materi yang mudah, sederhana, konkret, dan terbatas menuju kepada materi yang lebih abstrak dan umum
c. Melatih nalar untuk bersifat kritis, analitis, dan konstruktif.
Sedangkan kelemahan dari metode induktif ini adalah;
a. Memerlukan waktu lebih banyak.
b. Cenderung mengabaikan bahasa baku teoritis, sehingga kurang praktis untuk menghafalkan kaidah umum bahasa.
c. Kaidah gramatika yang dikuasai sangat terbatas.
3) Metode tekstual (Thariqah an-Nushush al-Mutakaamilah)
Penyampaian materi dengan metode ini dimulai dengan membaca teks, kemudian contoh, lalu gramatika. Sehingga metode ini disebut juga Thariqah an- Nushush tsumma al-Amtsilah wal-Qa’idah. Metode ini berkonsentrasi pada penyajian sebuah teks yang utuh yang diambil dari buku bacaan, teks sastra, surat kabar, dan sejenisnya.
Para pendukung metode ini memandang bahwa pembelajaran nahwu yang baik harus dihubungkan dengan bahan bacaan, mendengarkan dan berinteraksi dengan
teks bacaan secara total, tidak terbatas dengan menghafal kaidah nahwiyyah saja.
Namun, adanya pengintegrasian antara ungkapan bahasa yang fasih dengan ilmu nahwu juga akan memantapkan pelajar pada bahasa dan gaya-gayanya beserta cara i’rabnya. Cara ini akan mengindarkan pengajar dari beban menyuruh pelajarnya untuk menghafal materi yang tidak mereka mengerti. Namun, sesempurna apapun sebuah metode diciptakan, pastikah mempunyai kelemahan. Berikut ini kelemahan metode teks utuh:
a. Kesulitan pengajar dalam mencari atau membuat teks yang dapat menampung semua persoalan sub materi pelajaran.
b. Biasanya pengajar terpaksa membuat teks yang sangat panjang guna menyentuh semua sisi kaidah yang diinginkan, akibatnya pengajar akan menghadapi dua hal yang dilematis:
c. Teks yang panjang tersebut dibahas dengan sempurna, membaca dan mendiskusikannya dengan pelajar, menjelaskan maknanya hingga menyeleksi contoh-contoh yang diinginkan. Dalam hal ini, membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
d. Atau mengabaikan teks dan langsung menyeleksi contoh-contoh, membaca dan mendiskusikannya secara singkat tanpa memuaskan pelajar. Dalam hal ini, pengajar telah menyimpang dari metode yang ideal, yaitu yang dapat mengasosiasikan antara diskusi nahwu yang memadai dan latihan yang memuaskan serta pendidikan yang menghendaki bahwa qawa'id/tarakib harus diajarkan dibawah naungan teks bahasa sastra.
4) Metode Aktivitas (at-Thariqah an-Nasyath)
Pembelajaran nahwu menggunakan metode ini dimulai dengan pemberian tugas kepada seluruh peserta didik supaya memahami konsep-konsep kaidah gramatika, seperti fi’il, fa’il, jaar wa majrur, nawasikh, dan sebagainya, kemudian mereka diminta mencari contoh-contohnya didalam kitab atau bacaan lain yang berkaitan.
Setelah itu hasil bacaan tersebut didiskusikan didalam kelas dan diambil kesimpulan bersama-sama, dan dilanjutkan dengan latihan pengayaan contoh- contoh lainnya.
Kelebihan metode aktivitas ini adalah sebagai berikut:
a. Peserta didik betul-betul memahami dan menghafal kaidah-kaidah gramatika b. Melibatkan peserta didik secara aktif
c. Lebih komprehensif (menyeluruh), karena dikaitkan langsung dengan naskah bacaan dan memahami makna yang terkandung didalamnya.
Adapun kelebihannya antara lain:
a. Peserta didik dibebani dengan tugas yang cukup berat, karena harus menghafal dan memahami sekaligus kaidah-kaidah gramatika.
b. Secara psikologis kurang tepat, sebab dimulai dari materi yang berat dan sulit menuju materi yang lebih mudah.
c. Membutuhkan banyak waktu.
5) Metode Analisa Problem (Thariqah Hallu al-Musykilaat)
Metode ini menekankan pada kesalahan-kesalahan yang lazim terjadi dalam ungkapan, tulisan, ataupun bacaan dan menganalisanya dari perspektif kaidah gramatika. Proses pembelajaran biasanya diawali dengan meminta peserta didik untuk bercakap-cakap, membaca teks tertentu, atau mendengarkan siaran berita.
Kemudian guru menulis beberapa kata/kalimat yang mengandung kesalahan di papan tulis. Setelah itu guru mengajak peserta didik untuk mencari letak kesalahan kata yang tertulis di papan tulis tersebut dalam konteks kalimat atau ungkapan tadi.
Setelah itu menganalisa kesalahan-kesalahan tersebut dengan menggunakan kaidah gramatika yang telah disampaikan dan dihafal sebelumnya.
Metode ini sangat cocok untuk pembelajaran nahwu dalam arti yang sebenarnya.
Artinya, metode ini mengarahkan pada penguasaan materi nahwu secara total, tidak hanya bersifat teoritis belaka, tetapi menyentuh pada aspek praktis analitis,mendalam, dan detail.
6) Metode Fokus (Thariqah at-Ta’yin)
Metode ini tidak hanya terpaku pada kaidah gramatika belaka, tetapi merupakan metode komprehensif, yaitu melihat bahasa secara utuh. Metode ini lebih cocok untuk pesrta didik di perguruan tinggi (mahasiswa), dan sulit dipakai untuk peserta didik yang pengetahuan dasarnya masih rendah. Metode ini menuntut referensi yang cukup banyak, dan melihat gejala nahwu dari berbagai perspektif.
Pembelajaran dimulai dengan mengemukakan beberapa gejala bahasa yang lazim dipakai, lalu menganalisisnya dari berbagai perspektif. Jadi, materi yang diberikan hanya sedikit, kemudian dituntut untuk mencari jawaban seluas mungkin dengan referensi sebanyak mungkin.
Setiap metode yang telah dipaparkan memiliki pendukung dan penentang, memiliki kelebihan dan kelemahan. Namun seorang pengajar yang yang baik adalah pengajar yang mampu mengambil keuntungan dari kelebihan-kelebihan metode tersebut.
Hasil Analisa
1) Kitab an-Nahwu al-Wadhih
a. Profil kitab
Kitab an-Nahwu al-Wadhih fi Qawa’id al-Lughah al-Arabiyyah Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah merupakan kitab berisikan materi qawa’id bahasa arab, terutama materi nahwu. Kitab yang disusun oleh ‘Ali al-Jarim dan Musthafa Amin ini diterbitkan oleh Percetakan al-Hidayah, kota Surabaya, dan tahun penerbitan tidak tersebut dalam kitab. Kitab ini dibagi menjadi dua, yaitu An-Nahwu Al-Wadhih Li al-madaris al-Ibtidaiyyah dan An-Nahwu Al-Wadhih Li al-Madaris ats- Tsanawiyyah. Kedua kitab tersebut masing-masing berjumlah tiga jilid, yang masing-masing jilid memiliki jumlah halaman yang berbeda. Kitab yang dipilih dalam penelitian ini adalah kitab An-Nahwu Al-Wadhih Lilmadaris al-Ibtidaiyyah, jilid 1-3. (Al-Jarim dan Amin)
b. Sistematika 1) Sampul depan
Judul kitab :
ةيئادتبلاا سرادملل ةيبرعلا ةغللا دعاوق يف ح اولا وحنلا
Pengarang :
نيما ىفطصمو مراجلا يلع
Penerbit :
اياباروس ةيادهلا ةبتكم
2) Kata Pengantar
(باتكلا ةبطخ)
3) Petunjuk Pengajaran
(سيردتلا ةقيرط يف داشرإ)
4) Penyajian Materi
ةديفلما ةلمجلا ( 4
نيرمت ) دئاوقلا ) 2 ( ثحبلا ) 2 ( ةلثملأا ) 1 (
5) Daftar Isi
(سرهف)
6) Evaluasi Akhir
(ةماع تانيرمت)
Evaluasi akhir ini berisi soal-soal yang mancakup semua materi, dari materi yang ada dalam juz 1 sampai juz 3, yang berjumlah 30 soal dengan perintah yang berbeda-beda setiap nomornya.
Berdasarkan sistematika isi materi kitab yang telah dipaparkan, penyajian materi dalam kitab ini selalu memberikan contoh-contoh terlebih dahulu, kemudian pembahasan contoh, yang dilanjutkan dengan kaidah-kaidah, dan diakhiri dengan soal-soal latihan, yang berarti bahwa kitab ini menggunakan metode induktif dalam penyusunannya, yaitu metode yang menyajikan hal yang umum yang berupa contoh (al-amtsilah) terlebih dahulu, yang kemudian dikerucutkan ke dalam materi yang lebih khusus yang berupa kaidah-kaidah nahwu.
c. Aspek Penting dalam Analisis Materi Pengajaran Bahasa 1) Seleksi
Kitab ini merupakan kitab yang berisikan gramatika bahasa arab. Gramatika dalam bahasa arab (qawa’id) dibagi menjadi dua macam, yaitu tata kata (sharf) dan tata kalimat (nahwu). Kitab ini lebih banyak menyajikan materi-materi nahwu, sesuai dengan judulnya yaitu an-Nahwu al-Wadhih. Berdasarkan empat prinsip yang dikemukakan oleh Mackey, maka buku ini disusun dengan tujuan agar pelajar bahasa arab menguasai materi-materi qawa’id, terutama nahwu. tersebut dalam judul kitab Li al-Madaris al-Ibtida’iyyah, yang berarti bahwa buku ini ditujukan untuk pelajar bahasa arab yang pemula, atau tingkat sekolah dasar, yang ditempuh selama enam tahun, dan kitab ini menggunakan bahasa yang baku yang sederhana, sehingga akan mudah dipahami oleh para pemula.
2) Gradasi
Jenis gradasi yang digunakan pengarang dalam menyusun kitab ini adalah gradasi putar. Dimana tiap bab dalam kitab ini tidak dibahas secara mendetail, dan terdapat pengulangan materi dalam bab selanjutnya. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut: pada juz 1 terdapat materi tentang
ربخلاو أدتبلما
, dan pada juz 3 terdapat materi yang juga membahasربخلاو أدتبلما
, dan perbedaannya adalah;أدتبلما
ربخلاو
pada juz 1 hanya sebatas pengenalanربخلاو أدتبلما
dengan mennyajikan pengertian dariربخلاو أدتبلما
, namun pada juz 3 materiربخلاو أدتبلما
lebih dibahas secara mendetail, dengan menjelaskan beberapa kaidah-kaidah yang harus digunakan dalam menyusun jumlah ismiyah (ربخلاو أدتبلما
), juga dijelaskan beberapa macamربخلا
.3) Presentasi
Jenis presentasi yang digunakan kitab ini dalam menyajikan materi adalah dengan menggunakan prosedur kontekstual, yaitu penjelasan materi yang bersifat abstrak, dalam hal ini kitab an-Nahwual-Wadhih menjelaskan materi dengan menyajikan definisi/pengertian dan contoh-contoh.
4) Repetisi
Dalam kitab ini, langkah yang digunakan agar materi yang disajikan dapat dicerna dan diinternalisasikan oleh pelajar selain mengulang (memperinci) beberapa materi adalah dengan menyajikan evaluasi akhir (
ةماع تانيرمت
), yangberisikan soal-soal tentang seluruh materi yang sebelumnya telah dipaparkan dalam kitab. (Pransiska, 2018)
2) Kitab Marja’ at-Thullab Fi Qawa’id an-Nahwi
a. Profil kitab
Kitab Marja’ at-Thullab Fi Qawa’id an-Nahwi ini merupakan kitab yang disusun oleh Ibrahim Syamsuddin, dengan dibantu oleh Fauziyah at-Thurumbati sebagai editor. Kitab ini diterbitkan oleh Percetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, kota Beirut, pada tahun 2012. Hampir sama dengan kitab an-Nahwu al-Wadhih, kitab ini berisikan materi qawa’id, dan lebih banyak membahas nahwu di dalamnya, namun kitab ini hanya ada satu jilid dengan jumlah halaman sebanyak 245 halaman.
(Syamsudiin; 2012) b. Sistematika 1) Sampul depan
Judul kitab :
وحنلا دعاوق يف بلاطلا عجرم
Gambaran umum kitab :
ةماع دعاوق .ةيبرعلا ةغللا ئدايم يف طسبم باتك تافيرعتو
- ةلثمأ – ييذومن بارعإ ةيقيبطت نيرامت –
Pengarang :
نيدلا سمش ميهاربإ
Editor :
يتابمرطلا ةيزوف
Penerbit :
نانبل – توريبب ةيملعلا بتكلا راد
2) Halaman Copyright 3) Kata Pengantar
(ميدقت)
4) Pendahuluan
(ةماع دئاوفو ديهمت)
5) Penyajian Materi
فرحلا ،لعفلا ،مسلاا :لولأا سردلا (
ةيقيبطت نيرامت ) 4 حرشلا ) 2 ( ةلثملأا ) 2 ( ةدعاقلا ) 1 (
6) Daftar Isi
(تايوتحلما سرهف)
7) Sampul belakang
a) Macam-macam kitab Marja’ at-Thullab yang berjumlah 12.
بلاطلا عجرم
| ةلسلسلا هذه نم ردص
ءاشنلإا ريسيت يف بلاطلا عجرم ثراولما يف بلاطلا عجرم
مسرلا ةيدجبأ يف بلاطلا عجرم وحنلا دعاوق يف بلاطلا عجرم
يأرعلا ظخلا يف بلاطلا عجرم لاعفلأا فيرصت يف بلاطلا عجرم يقيبطتلا دقنلا يف بلاطلا عجرم بارعلإا يف بلاطلا عجرم يفسلفلا ءاشنلإا يف بلاطلا عجرم ءاشنلإا يف بلاطلا عجرم ةيئاشنلإا صوصنلا يف بلاطلا عجرم
اهناقتإو
ءلاملإا يف بلاطلا عجرم
b) Penerbit
Berdasarkan sistematika isi materi kitab yang telah dipaparkan, berbeda dengan kitab sebelumnya, an-Nahwu al-Wadhih, penyajian materi dalam kitab Marja’ at- Thullab fi Qawa’id an-Nahwi ini selalu menyajikan kaidah-kaidah terlebih dahulu, kemudian penyajian contoh, yang dilanjutkan dengan pembahasan-pembahasan, yang dalam kitab ini disebut as-Syarhu, dan diakhiri dengan soal-soal latihan. Dapat disimpulkan bahwa kitab ini menggunakan metode deduktif dalam penyusunannya, yaitu metode yang menyajikan hal yang khusus yang berupa kaidah (al-qa’idah) terlebih dahulu, yang kemudian diperluas ke materi yang lebih umum yang berupa contoh-contoh (al-amtsilah).
c. Aspek Penting dalam Analisis Materi Pengajaran Bahasa 1) Seleksi
Sebagaimana kitab an-Nahwu al-Wadhih yang lebih banyak menyajikan materi nahwu, kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi ini pun begitu, seperti yang telah tertulis dalam judul kitab, yaitu fi Qawa’id an-Nahwi, yang berarti membahas tentang kaidah-kaidah tata kalimat atau nahwu. Tidak jauh berbeda dengan kitab an-Nahwu al-Wadhih, buku ini juga ditujukan untuk pelajar bahasa arab pemula, yang ditulis dengan bahasa yang sederhana pula, sebagaimana yang telah tertulis dalam kitab,
ةيبرعلا ةغللا ئدابم يف طسبم باتك
yang berarti “buku sederhana tentang prinsip-prinsip Bahasa Arab”2) Gradasi
Dalam penyusunannya, kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi ini menggunakan gradasi putar. Sama seperti kitab an-Nahwu al-Wadhih, kitab ini mengulang beberapa bab yang telah disajikan dengan memberikan materi yang lebih detail di bab selanjutnya dalam kitab yang sama, karena kitab ini hanya terdiri dari 1 juz. salah satu contoh; bab
عراضلما لعفلا
, bab ini disajikan pada halaman 15 yang hanya menyajikan definisi dan beberapa contoh, kemudian disajikan juga pada halaman 40 dengan membahas tentang keadaan-keadaan yang dapat menashabkan, menjazmkan, dan merafa’kan fi’il mudlari’, kemudian pada halaman 115, menjelaskan tentang fi’il mudlari’ mabni dan mu’rab, dan beberapa bab selanjutnyayang masih membahas tentang fi’il mudhari’.
3) Presentasi
Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi ini juga menggunakan prosedur kontekstual dalam penyajian materinya, yaitu menjelaskan materi dengan memberikan definisi-definisi.
4) Repetisi
Dalam kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi ini tidak terdapat evaluasi akhir yang mencakup seluruh materi yang telah disajikan, repetisi kitab ini hanya dengan menggunakan pengulangan beberapa materi dengan lebih memperinci materi yang telah disajikan sebelumnya.
Persamaan dan Perbedaan Kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al- Ibtidaiyyah dan Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi
1) Persamaan Kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah dan Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi
Kedua kitab ini memiliki banyak persamaan, baik dari segi sistematika kitab, maupun empat aspek penting yang dikemukakan Mackey. Dari segi sistematika, sebagaimana buku-buku pada umumnya, kedua kitab ini memiliki sampul depan dan belakang, namun dengan isi yang berbeda. Persamaan berikutnya yaitu kedua kitab ini mengawali isi kitab dengan kata pengantar. Pada kitab ini, materi yang disajikan hampir sama, namun tentunya ada beberapa perbedaan. Daftar isi dari kedua kitab ini disajikan di halaman akhir kitab.
Sedangkan dilihat dari empat aspek yang dikemukakan oleh Mackey, yang pertama yaitu seleksi, kedua kitab ini sama-sama disusun untuk membantu pembelajaran gramatika bahasa arab (qawa’id), yang ditujukan untuk para pelajar yang masih dalam tahap pemula. Karena ditujukan untuk para pemula, maka kedua kitab ini juga sama-sama menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh para pemula.
Persamaan aspek penting yang kedua terletak pada jenis gradasi yang digunakan, keduanya sama-sama menggunakan gradasi putar dalam penyusunannya, dengan menyajikan pengulangan materi atau perincian materi pada bab selanjutnya, yang merupakan penjelasan lebih dari materi yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Pada kitab an-Nahwu al-Wadhih, bab ربخلاو أدتبملا telah dipaparkan dalam juz 1, namun pada juz 1 hanya merupakan pengenalan ربخلاو أدتبملا , yang kemudian pada juz 3 terdapat bab yang sama yaitu ربخلاو أدتبملا , namun pada juz 3 ini membahas tentang kaidah-kaidah yang harus dipakai dalam menyusun jumlah ismiyah (ربخلاو أدتبملا), juga dijelaskan macam-macam khabar. Untuk kitab Marja’
at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi, salah satu contoh pengulangan materi terdapat pada bab عراضملا لعفلا , bab ini telah dijelaskan pada halaman 15, dan diberikan pembahasan lanjutan pada halaman 40 dan 115 dengan materi yang sama yaitu لعفلا
عراضملا , yang membahas tentang keadaan-keadaan yang dapat menashabkan, menjazmkan, dan merafa’kan fi’il mudlari’, dan fi’il mudlari’ mabni & mu’rab.
Beberapa bab selanjutnya yang masih membahas tentang fi’il mudhari’.
Presentasi yang digunakan dalam penyajian materi kedua kitab ini pun sama, yaitu dengan menggunakan prosedur kontekstual, dimana kedua kitab ini menjelaskan materi dengan pengertian/definisi, kaidah, dan contoh-contoh.
2) Perbedaan Kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah dan Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi
Meskipun kedua kitab ini memiliki banyak persamaan, namun pada hakikatnya kedua kitab nahwu ini tetap memiliki perbedaan. Perbedaan yang pertama terletak pada tulisan yang terdapat dalam sampul depan maupun belakang. Sampul depan kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah berisi judul, urutan juz, pengarang, dan penerbit, sedangkan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi bertuliskan judul, gambaran umum tentang kitab, pengarang, editor, dan penerbit.
Untuk sampul belakang kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah hanya bertuliskan penerbit, sedangkan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an- Nahwi bertuliskan macam-macam kitab Marja’ at-Thullab yang berjumlah sebanyak 12 buku/kitab dengan materi yang berbeda-beda, dan penerbit. Kemudian pada kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah terdapat petunjuk pengajaran sebelum kata pengantar, sedangkan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi mencantumkan halaman copyright setelah sampul depan, dan pendahuluan setelah kata pengantar. Perbedaan berikutnya apabila dilihat dari segi sistematika yaitu; kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah menyajikan evaluasi di akhir kitab yang berisi soal-soal terkait seluruh materi yang telah dipaparkan mulai juz 1 - juz 3, sedangkan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi tidak menyajikannya.
Dilihat dari segi aspek-aspek yang dikemukakan oleh Mackey, kedua kitab ini memiliki satu perbedaan, yaitu pada bagian repetisinya. Repetisi dalam an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah menggunakan pengulangan beberapa materi dan evaluasi akhir yang disebut ةماع تانيرمت, sedangkan kitab Marja’ at- Thullab fi Qawa’id an-Nahwi hanya menggunakan pengulangan beberapa materi.
Metode yang digunakan kedua kitab ini pun berbeda, kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah menggunakan metode induktif dalam penyusunannya, yang mana kitab ini menyajikan contoh-contoh terlebih dahulu (hal yang umum) yang kemudian dikerucutkan ke dalam hal yang lebih khusus yaitu kaidah-kaidah, berbeda dengan kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi yang menggunakan metode deduktif dalam penyusunannya, yaitu dengan menyajikan hal yang bersifat khusus terlebih dahulu yang berupa kaida-kaidah, yang kemudian dijabarkan menjadi yang lebih umum berupa contoh-contoh.
A. Kesimpulan
Analisis yang dilakukan oleh peneliti merupakan analisis yang bersifat komparatif, yaitu mencari persamaan dan perbedaan dari dua atau lebih obyek dengan menggunakan beberapa teori. Dalam penelitian ini, obyek yang dipilih untuk dikomparasikan adalah dua jenis kitab nahwu, an-Nahwu al-Wadhih Li al- Madaris al-Ibtidaiyyah dan Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi,dengan mengkomparasikan sistematika isi kitab, metode, seleksi, gradasi, presentasi, dan repetisi yang digunakan dalam penyusunan kedua kitab tersebut.
Hasil komparasi kedua kitab tersebut sebagai berikut;
1) Persamaan Kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah dan Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi
- Kata pengantar - Daftar isi - Seleksi - Gradasi - Presentasi
2) Perbedaan Kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah dan Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi
a) Kitab an-Nahwu al-Wadhih Li al-Madaris al-Ibtidaiyyah - Sampul depan (judul, urutan juz, pengarang, penerbit) - Terdapat Petunjuk Pengajaran
- Terdapat Evaluasi Akhir
- Menggunakan metode induktif dalam penyusunannya - Repetisi (pengulangan materi dan evaluasi akhir) - Sampul belakang (penerbit)
b) Kitab Marja’ at-Thullab fi Qawa’id an-Nahwi
- Sampul depan (judul, gambaran umum kitab, pengarang, editor, penerbit)
- Halaman Copyright - Pendahuluan
- Repetisi (pengulangan materi)
- Sampul belakang (macam-macam kitab dari Marja’ at-Thullab yang berjumlah 12, penerbit)
DAFTAR RUJUKAN
Ainin, Moh. 2010. Metodologi Penelitian Bahasa Arab. Malang: Hilal Pustaka Al-Jarim, Ali dan Musthafa Amin. Tt. An-Nahwu Al-Wadhih. Surabaya: Al-
Hidayah
Effendy, Fuad. 2012. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat.
Fikri, Ahmad. 2017. The Nahwu Learning with Insya’ Bi Al-Anmath Method: The Case of One Arabic Language Department. Ta’dib J. Islam. Educ. 22(2), 86- 91. http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tadib/article/download/1640/pdf Hamid, Abdul, dkk. 2008. Pembelajaran Bahasa Arab, Pendekatan, Metode,
Strategi, Materi, dan Media. Malang: UIN Maliki Press
Khoerunnida. 2014. Studi Komparasi Antara Kitab Mulakhas Qawa’id Al-Lughah Al-‘Arabiyyah Karya Fu’ad Ni’mah Dan Kitab al-Nahwu Al-Wadhih Karya Ali Al-Jarim Dan Musthafa Amin (Analisis Gradasi Materi Nahwu). [skripsi].
Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. online.
http://digilib.uin-
suka.ac.id/13624/1/BAB%20I%2C%20IV%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA .pdf. Diakses pada 17 November 2019
Mubtadi’in. 2015. Komparasi Buku as-Sharf al-Wadhih dan al-Amtsilatu at- Tashrifiyyah (Kajian Metodologi Pembelajaran Qawa’id). [Tesis]. online.
http://digilib.uin-suka.ac.id/29502/1/13420063_BAB-I_IV-atau- V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf. Diakses pada 17 November 2019.
Munir. 2017. Perencanaan Sistem Pengajaran Bahasa Arab. Jakarta: Kencana.
Pransiska, Toni. 2018. Buku Teks Al-Lughaal-‘Arabiyah Al-Mu’ashirah Bagi Penutur Non Arab; Desain, Kontruksi Dan Implementasi. Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, 17(1), 2. http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/al- fikra/article/download/5123/3164
Rahmawati, Gustini. 2015. Buku Teks Pelajaran Sebagai Sumber Belajar Siswa Di Perpustakaan Sekolah Di Sman 3 Bandung. Jurnal Edulib, 5(5), 103.
https://ejournal.upi.edu/index.php/edulib/article/download/2307/1601
Suyarman Maman. 2006. Dimensi-Dimensi Kontekstual Di Dalam Penulisan Buku Teks Pelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Diksi, 13(2), 167.
https://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/download/6456/5575.
Syamsuddin, Ibrahim (Ed). 2012. Marja’ At-Thullab Fi Qawa’id An-Nahwi. Beirut;
Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Morfologi. Bandung: Penerbit Angkasa.