LAPORAN KERJA PRAKTEK
ANALISIS KONSENTRASI PM10 DAN PM2.5 PADA AREA DRIED ORE STORAGE (DOS) 2 PT VALE INDONESIA Tbk
Periode Kerja Praktek Mei 2024 s/d Juli 2024
Disusun Oleh :
SITTI NUR ASFANI RIFAI (D131201042) WAODE NADIAH ALILA (D131201081)
DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN GOWA
2024
ii LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS KONSENTRASI PM10 DAN PM2.5 PADA AREA DRIED ORE STORAGE (DOS) 2 PT VALE INDONESIA Tbk
Disusun Oleh :
SITTI NUR ASFANI RIFAI (D131201042) WAODE NADIAH ALILA (D131201081)
Disetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Prof.Dr. Sumarni Hamid Aly, S.T., M.T. Dr. Eng. Muraullia Hustim, S.T., M.T.
NIP. 195812281986012001 NIP. 197204242000122001
Mengesahkan,
Ketua Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Dr. Eng. Muraulia Hustim, S.T., M.T. IPM.
NIP. 197204242000122001
iii KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah swt. karena berkat Rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan Kerja Praktek (KP) serta penyusunan Laporan Kerja Praktek dengan Analisis Konsentrasi PM10
dan PM2.5 pada area Dried Ore Storage (DOS) 2 PT Vale Indonesia Tbk sesuai dengan observasi dan data hasil pemantauan yang telah dilakukan di area DOS 2 PT Vale Indonesia. Dalam penulisan laporan ini penulis menemukan berbagai hambatan sehubung dengan keterkaitan ilmu dan pengalaman yang dimiliki.
Namun dengan adanya arahan dari pembimbing serta dorongan moral dan material dari berbagai pihak maka semua kesulitan dan hambatan dapat diatasi.
Untuk itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Allah swt. yang telah memberikan berkat kesehatan dan keselamatan kepada penulis selama melaksanakan kerja praktik di PT Vale Indonesia Tbk.
2. Orang tua, saudara serta seluruh keluarga yang senantiasa memberi doa dan dukungan kepada penulis selama melaksanakan kerja praktik di PT Vale Indonesia Tbk.
3. Dr. Eng. Muralia Hustim, S.T., M.T. dan Dr. Ir. Sumarni hamid Aly, M.T., selaku dosen pembimbing kerja praktik khususnya di kampus yang telah mengarahkan dan membimbing penulis.
4. Isnain Walfitra selaku mentor yang selalu membimbing kami selama kerja praktik di PT Vale Indonesia Tbk.
5. Bapak Firdaus M. selaku Manager EPM PT Vale Indonesia Tbk.
6. Ibu Dindin selaku HR yang telah banyak memberikan bantuan terkhusus fasilitas di Pontada.
7. Seluruh perwira dan pertiwi PT Vale Indonesia Tbk.
8. Serta teman-teman kerja praktek khususnya di Mess Pontada yang telah banyak memberikan bantuan dan dukungan selama proses pengerjaan laporan kami.
Penulis menyadari bahwa dalam laporan ini masih terdapat banyak kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat
iv dibutuhkan sebagai acuan penulisan laporan selanjutnya. Penulis juga berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat terhadap pembaca.
Sorowako, 21 Juli 2024
Penulis
v DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Maksud dan Tujuan KP ... 3
C. Manfaat KP ... 4
D. Ruang Lingkup... 4
E. Sistematika Penulisan ... 5
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 6
A. Profil PT Vale Indonesia Tbk ... 6
B. Sejarah Singkat Perusahaan ... 7
C. Visi Misi Perusahaan... 9
D. Penghargaan Perusahaan ... 9
E. Kegiatan Penambangan ... 10
F. Kegiatan Pengolahan Bijih Nikel... 12
G. Proses Pengendalian Pencemaran Udara ... 14
H. Stuktur Organisasi PT Vale Indonesia... 19
I. Struktur Organisasi Departemen Environment Permit & Management PT Vale Indonesia ... 20
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ... 21
A. Pencemaran Udara ... 21
B. Baku Mutu dan Peraturan Terkait Pencemaran Udara ... 21
C. Sumber Pencemaran Udara ... 24
D. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) ... 25
E. Particulate Matter ... 27
F. DusTrak ... 31
vi
G. Aeroqual ... 32
BAB IV METODE PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK... 35
A. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek ... 35
B. Metode Kerja Praktek ... 36
C. Deskripsi Metode Pelaksanaan Kerja Praktek ... 36
D. Perlengkapan Penelitian ... 38
E. Tahap Penelitian ... 41
F. Flowchart Pengambilan Data PM10 dan PM2.5 ... 43
G. Metode Analisis Data ... 46
H. Metode Analisis Deskriptif ... 47
I. Tahap Pelaporan ... 47
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 48
A. Data Pengukuran Konsentrasi PM10 dan PM2.5 ... 48
B. Data Meterologi Konsentrasi PM10 dan PM2.5 ... 51
C. Perhitungan Konsentrasi PM10 dan PM2.5 ... 54
D. Hubungan antara Konsentrasi PM10 dan PM2.5 dengan ISPU ... 59
E. Sebaran Konsentrasi PM10 dan Pm2.5 ... 63
F. Arahan Pengolahan ... 67
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
A. Kesimpulan ... 75
B. Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 76 LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Kegiatan Kerja Praktek Lampiran 2. Surat Balasan Kerja Praktek Lampiran 3. Dokumentasi
vii DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penempatan Electrostatic Precipitator (ESP) di PTVI ... 15
Tabel 2. Penempatan Bag House di PTVI ... 15
Tabel 3. Penempatan Multycyclone di PTVI ... 16
Tabel 4. Baku Mutu Udara Ambien ... 21
Tabel 5. Baku Mutu Emisi Pengolahan Bijih Nikel ... 23
Tabel 6. NAB Nikel Sulfide, uap, debu sebagai Ni ... 25
Tabel 7. Batas Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) ... 27
Tabel 8. Kategori Angka Rentang ISPU ... 27
Tabel 9. Perlengkapan Penelitian ... 38
Tabel 10. Kategori Angka Rentang ISPU ... 47
Tabel 11. Rekapitulasi data pengukuran konsentrasi PM10 dan PM2.5 selama 8 jam ... 48
Tabel 12. Rekapitulasi rerata hasil pengukuran konsentrasi PM10 selama 1 jam ... 49
Tabel 13. Hasil pengukuran meterologi ... 51
Tabel 14. Jumlah curah hujan area Plant Site hujan periode bulan Mei-Juni Tahun 2024 ... 53
Tabel 15. Klasifikasi Scmidt-Ferguson (1951) ... 53
Tabel 16. Rekapitulasi pehitungan konsentrasi PM10 ... 56
Tabel 17. Rekapitulasi pehitungan konsentrasi PM2.5 ... 58
Tabel 18. Rekapitulasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) konsentrasi PM10 ... 62
Tabel 19. Rekapitulasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) konsentrasi PM2.5 ... 64
Tabel 20. Kategori AQI untuk konsentrasi PM10 dan PM2.5 ... 65
Tabel 21. Spesifikasi Dust Net ... 69
Tabel 22. Rekomendasi tumbuhan daya serap terhadap partikulat ... 71
Tabel 23. Kelebihan dan kekurangan Tanaman Johar ... 73
Tabel 24. Kelebihan dan kekurangan Tanaman Mahoni ... 74
viii DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Area Kontrak Kerja Vale ... 6
Gambar 2. Komposisi Kepemilikan Saham PT Vale Indonesia ... 7
Gambar 3. Alur Penambangan Nikel PT Vale Indonesia ... 13
Gambar 4. Alur Pengolahan Nikel PT Vale Indonesia... 13
Gambar 5. Alur Pengendalian Pencemaran Udara PTVI ... 18
Gambar 6. Struktur Organisasi PT Vale Indonesia ... 19
Gambar 7. Struktur Organisasi EPM PTVI ... 20
Gambar 8. Alat DusTrak Aerosol Monitor 8530 ... 31
Gambar 9. Lokasi Titik Sampling ... 35
Gambar 10. Hasil pengukuran konsentrasi PM10 ... 50
Gambar 11. Hasil pengukuran konsentrasi PM2.5 ... 51
Gambar 12. Grafik perhitungan konsentrasi PM10 dan PM2.5 ... 59
Gambar 13. Peta sebaran konsentrasi PM10 di area DOS 2 ... 66
Gambar 14. Peta sebaran konsentrasi PM2.5 di area DOS 2 ... 67
Gambar 15. Alat Dust Net ... 68
Gambar 16. Tanaman Johar ... 72
Gambar 17. Tanaman Mahoni ... 74
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kerja praktek lapangan merupakan sebuah program atau kegiatan yang umumnya dilakukan oleh mahasiswa di perguruan tinggi sebagai bagian dari kurikulum, dimana mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari selama dibangku kuliah.
Tujuan utama dari kerja praktek adalah memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia kerja sehingga mampu membentuk sebuah etos kerja dan sikap profesionalisme sebelum terlibat dalam dunia kerja sebenarnya.
Sebagai salah satu lembaga perguruan tinggi yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah, Departemen Teknik Lingkungan Universitas Hasanuddin memiliki peran yang penting dan berkewajiban dalam membentuk serta mengembangkan sumber daya manusia sehingga cakap dan berkualitas dalam bidang lingkungan seperti pengelolaan sumber daya air, pengelolaan limbah padat dan B3, kesehatan lingkungan, analisis mengenai dampak lingkungan, pengelolaan pencemaran udara, serta sektor-sektor lainnya. Pada bidang Kualitas Udara dan Kebisingan, diajarkan terkait bagaimana teknik sebelum dilakukan pemantauan, prosedur pengukuran dan pengambilan sampel, pengolahan data untuk mengindikasi bahwa telah terjadi pencemaran atau tidak, bagaimana cara mempertahankan atau mengatasi pencemaran yang terjadi serta dampak apa saja yang ditimbulkan.
Pencemaran udara merupakan permasalahan yang sering ditemui di daerah industri. Salah satu dampak yang timbul dari kegiatan industri adalah peningkatan kadar polutan di udara baik dalam bentuk gas maupun partikulat sehingga berpotensi menurukan kualitas udara ambien. Pencemaran udara merupakan masuknya zat pencemar ke dalam udara yang disebabkan secara alamiah atau aktivitas manusia. Mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, pencemaran udara terjadi saat zat pencemar melebihi baku mutu udara ambien yang telah ditentukan. Baku mutu udara ambien dalam pengukuran telah ditetapkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 dan baku mutu
2 emisi untuk sumber tidak bergerak telah ditetapkan pada Permen LH No. 21 Tahun 2008.
PT. Vale Indonesia Tbk sebagai salah satu perusahaan tambang nikel yang memiliki komitmen menjaga kelestarian bumi dengan menjalankan kegiatan penambangan dan pengolahan biji nikel dengan melaksanakan praktik-praktik terbaik didukung penerapan teknologi ramah lingkungan. Dengan demikian, perusahaan ini tidak hanya menargetkan keuntungan ekonomi, tetapi juga mengutamakan kelestarian lingkungan dalam menjalankan bisnisnya. Dalam proses produksinya, alat-alat dari setiap proses produksi melepaskan gas buang dan partikel halus ke atmosfer yang berpotensi menurunkan kualitas udara. Untuk meminimalkan dan mengendalikan potensi pencemaran udara ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menerbitkan Permen LH No. 4 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Sumber Emisi Tidak Bergerak bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan.
Pengolahan bijih nikel yang dilakukan PT. Vale Indonesia di blok Soroako menggunakan proses pirometalurgi. Peleburan bijih nikel dilakukan dengan memadukan bijih nikel dari blok Barat, blok Timur, dan blok Petea sehingga menghasilkan nikel dengan kualitas tertentu. Dalam proses pengolahan nikel di PTVI menghasilkan emisi udara. Pada area Proses Plant di PTVI terdapat beberapa tempat yang menghasilkan emisi salah satunya ialah DOS (Dry Out Storage), yang terdiri dari dua unit, yaitu DOS 1 dan DOS 2. Dry Out Storage (DOS) berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil dari Dryer berupa Dryer Kiln Product (DKP) sebelum diproses ke Reduction Klin. Dryer merupakan proses pengolahan biji nikel yang bertujuan untuk mengurangi kadar air ore dari 30-35%
menjadi 19-21% H2O. PT Vale Indonesia TBK memiliki 3 unit dryer dengan 2 stack/cerobong. Dryer 1 dan 2 menggunakan stack 1, sementara Dryer 3 pada stack 2. Kadar air Dryer Kiln Product (DKP) harus 19-21%. Jika kadar air<19%, maka akan membentuk emisi fugitif sehingga debu berterbangan di area DOS 2.
Salah satu jenis partikulat yang berterbangan di area DOS adalah Particulate Matter yang dikategorikan berdasarkan ukurannya yaitu PM10 dan PM2.5. Sebaran partikel ini sulit untuk diketahui atau dilihat oleh mata secara normal sehingga dalam jangka panjang dapat membahayakan manusia. PM10
3 utamanya dihasilkan oleh proses mekanis, baik dari debu di permukaan jalan yang tersuspensi ke udara, proses mekanis di industri dan agrikultur, atau bioaerosol, Sedangkan, PM2.5 merupakan partikel halus dengan diameter <2,5 μm dan umumnya berasal dari emisi langsung dari proses pembakaran serta pembentukan sekunder dari proses kimiawi atmosfer sehingga umumnya terdiri dari lebih banyak spesies organik dibandingkan dengan PM10.
Pada area DOS 1 telah dilakukan upaya dalam meminimalisir penyebaran partikulat dengan menggunakan dust net. Sedangkan pada area DOS 2 akan dilakukan pemasangan dust net pada sisi barat dan utara dengan mempertimbangkan arah angin. Dari hasil penelitian kerja praktek sebelumnya yang dilakukan oleh (Sitorus, 2023), menunjukkan bahwa pola dispersi partikulat mengarah ke arah barat dan utara dari DOS 2, sehingga pada area DOS 2 utara memiliki nilai konsentrasi PM2.5 dan PM10 diatas baku mutu dan area DOS 2 barat memiliki nilai konsentrasi PM2.5 dan PM10 hampir mendekati baku mutu.
Kemudian pada arah timur dan selatan dari DOS 2 akan dilakukan penanaman vegetasi berupa Green Belt karena tidak menutup kemungkinan bahwa partikulat debu dari DOS 2 akan terdispersi ke arah tersebut. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kualitas udara di area DOS 2 PT Vale Indonesia khususnya untuk parameter PM2,5 dan PM10 serta mengetahui hubungan antara nilai konsentrasi PM2.5 dan PM10 dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
B. Maksud dan Tujuan KP
Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek ini yaitu sebagai syarat kelulusan mata kuliah kerja praktek di departemen teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin, Gowa. Pengaplikasian teori yang didapatkan di bangku perkuliahan serta memahami teori baru yang akan didapatkan di lapangan.
Adapun tujuan dari kerja praktek ini terbagi menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari pelaksanaan kerja praktek adalah ;
1. Meningkatkan keahlian mahasiswa di bidang Teknik Lingkungan dalam dunia kerja yang dituntut untuk memiliki kompetensi dan didukung dengan sertifikasi untuk memasuki persaingan di dunia kerja.
4 2. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan illmu yang sudah didapatkan di bangku perkuliahan secara nyata di Perusahaan atau instansi terkait dengan observasi penerapan teknologi sesuai dengan bidang kerja dan permasalahannya secara langsung di lapangan.
3. Meningkatkan wawasan serta pola pikir tentang dunia kerja yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang sedang ditekuni.
4. Menyelesaikan salah satu syarat kelulusan (2) SKS untuk penyelesaian strata satu Teknik Lingkungan.
Tujuan khusus :
1. Mengukur dan menganalisis konsentrasi PM10 dan PM2.5 di area DOS 2.
2. Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM10 dan PM2.5 dengan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
3. Pemetaan sebaran konsentrasi PM10 dan PM2.5 di area DOS 2.
C. Manfaat KP
Manfaat yang dapat diperoleh mahasiswa selama kerja praktek berlangsung yaitu:
1. Dapat membantu mahasiswa untuk menyelesaikan kewajiban sesuai dengan sks dari Universitas Hasanuddin, serta dapat memberi gmabaran secara nyata tentang dunia proyek perindustrian.
2. Menambah keterampilan serta menagasah kembali ilmu yang telah didapatkan.
3. Mendapatkan gambaran seputar pengelolaan udara dan bising pada lingkungan kerja.
Adapun manfaat yang diperoleh bagi perguruan tinggi selama kerja praktek berlangsung yaitu:
1. Dapat meningkatkan hubungan dengan Industri PT Vale Indonesia.
2. Memberikan peluang penempatan kerja lulusan bagi perguruan tinggi.
3. Mendapatkan wawasan seputar pengelolaan lingkungan yang tidak didapatkan di perkuliahan.
D. Ruang Lingkup/ Batasan Penelitian
1. Parameter pencemar yang digunakan dalam pengukuran ialah PM2.5 dan PM10
5 2. Lokasi penelitian yaitu pada 4 titik di sekitar area DOS 2
E. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan
Bab ini mencakup uraian latar belakang kerja praktek, maksud dan tujuan, manfaat, ruang lingkup, serta sistematika penulisan laporan kerja praktek (judul) BAB II Gambaran Umum Perusahaan
Bab ini mencakup tentang kondisi umum Perusahaan tempat praktikan melaksanakan kerja praktek (judul) yakni terkait Sejarah, visi misi mengenai bidang lingkungan, perkembangan perusahaan, struktur organisasi, manajemen pelaksanaan kegiatan/proyek, serta deskripsi kegiatan/proyek yang ditangani.
BAB III Tinjauan Pustaka
Bab ini mencakup tentang kajian mengenai pencemaran udara baik berupa pengertian, sumber, dan baku mutu. Selain itu, melingkup pembahasan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan Particulate Matter khususnya PM10 dan PM2.5.
BAB IV Metode Kerja Praktek
Bab ini mencakup tentang gambaran umum kegiatan proyek (judul) serta metode pengumpulan data kegiatan/proyek selama prakikan melakukan kerja praktek.
Dalam bab ini juga telah ditampilkan data-data kegiatan/proyek selama masa kerja praktek, baik data primer maupun sekunder.
BAB V Hasil dan Pembahasan
Bab ini mencakup perbandingan hasil pengamatan dengan hasil studi literatur, hasil Analisa permasalahan yang muncul pada kegiatan/proyek, serta alternatif Solusi terhadap permasalahan tersebut.
BAB VI Kesimpulan dan Saran
Bab ini mencakup uraian singkat mengenai garis besar hasil pengamatan permasalahan yang ada di kegiaran/proyek, serta saran-saran yang menjadi Solusi dari permasalahan tersebut.
6 BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Profil PT Vale Indonesa Tbk
PT. Vale Indonesia Tbk merupakan salah satu perusahaan tambang nikel terintegrasi terbesar di dunia. PT Vale Indonesia beroperasi dalam naungan Kontrak Karya yang telah diamandemen pada 17 Oktober 2014 dan berlaku hingga 28 Desember 2025. Sebagai kontraktor tunggal Pemerintah Indonesia di areal Kontrak Karya (KK), memiliki hak eksklusif di beberapa wilayah yang telah ditentukan di Sulawesi untuk melakukan eksplorasi, pengembangan, penambangan, pengolahan, penimbunan, pengangkutan dan penjualan nikel maupun mineral lain terkait nikel yang terdapat di areal KK.
Gambar 1. Area Kontrak Kerja Vale Sumber: PT Vale, 2024
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa luas konsesi daerah pertambangan nikel PT. Vale Indonesia Tbk sebesar 118.017 ha yang mencakup beberapa daerah di tiga provinsi yaitu Sulawesi Selatan (70.566 ha), Sulawesi Tengah (22.699 ha), dan Sulawesi Tenggara (24.752 ha).
PT. Vale Indonesia menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel dalam matte. Rata-rata volume produksi nikel per tahun mencapai
7 75.000 metrik ton. Dalam memproduksi nikel di Blok Sorowako, PT. Vale Indonesia menggunakan teknologi pyrometalurgi (meleburkan bijih nikel laterit).
PT Vale Indonesia Tbk menghasilkan nikel dalam matte, yaitu produk setengah jadi yang diolah dari bijih laterit di fasilitas pertambangan dan pengolahan terpadu di daerah Sorowako, Sulawesi Selatan. Seluruh produksi PT Vale Indonesia dijual dengan dollar Amerika Serikat berdasarkan kontrak-kontrak jangka panjang untuk dimurnikan di Jepang. Kelebihan daya saing PT Vale Indonesia terletak pada cadangan bijih laterit yang berlimpah, tenaga kerja terampil dan terlatih, pembangkit listrik tenaga air berbiaya rendah, fasilitas produksi modern dan pasar terjamin untuk produknya.
Gambar 2. Komposisi Kepemilikan Saham PT.Vale Indonesia Sumber: PT Vale, 2024
Dari gambar diatas dapat dilihat komposisi kepemilikan Saham PT Vale Indonesia Tbk saat ini adalah :
1. Vale Canada Limited (43,79%) 2. Publik (20.64%)
3. PT. Indonesia Asahan Aluminium (20,00%) 4. Sumitomo Metal mining Co., Ltd. (15.03%) 5. Vale Japan Limited (0,54%)
B. Sejarah Singkat Perusahaan
Eksplorasi di Wilayah Sulawesi bagian Timur pada dimulai tahun 1920. Pada tahun 1966, perjalanan ekspedisi bijih laterit memastikan Indonesia memiliki 15%
8 cadangan nikel dunia. Pada tahun 1968 dilakukan pendirian PT Inco dan penandatanganan KK antara PT Inco dan Pemerintah Indonesia untuk konsesi berjangka tiga puluh tahun sejak dimulainya produksi komersial. Pada tahun 1970 sampel pertama dari bijih Sulawesi sebanyak 50 ton dikirim ke fasilitas penelitian Inco di Port Colborne, Ontario, Kanada. Percobaan di fasilitas peleburan reduksi baru menunjukkan bahwa bahan dari Sorowako bisa diolah. Selanjutnya pada tahun 1973, Pembangunan fasilitas pengolahan pyrometalurgi satu lini di Sorowako dan pada tahun 1977 peresmian fasilitas penambangan dan pabrik pengolahan nikel oleh Presiden Soerharto. Pada tahun 1978, PT Inco memulai produksi komersial. Pada tahun 2012 nama PT Vale resmi digunakan secara menyeluruh dan dideklarasikan kepada karyawan dan Pada 17 Oktober 2014, amandemen Kontrak Karya dilakukan sebagai hasil renegosiasi antara Perusahaan dan Pemerintah Indonesia.
PT. Vale Indonesia menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai sumber energi listriknya. PT. Vale Indonesia memiliki 3 PLTA yaitu PLTA Larona yang dibangun pada tahun 1977 dan mulai beroperasi pada tahun 1979 yang mampu menghasilkan 165 MW. PLTA Balambano yang dibangun pada tahun 1995 dan mulai beroperasi pada tahun 1999 yang mampu menghasilkan 110 MW. PLTA Karebbe yang dibangun pada tahun 2007 dan mulai beroperasi pada tahun 2011 yang mampu menghasilkan 90 MW sehingga menambah total kapasitas pembangkit listrik tenaga air menjadi rata-rata 365 MW.
Upaya PT. Vale Indonesia dalam mengatasi dampak pencemaran lingkungan yang dihasilkan dari proses produksi nikel ialah pada tahun 2005 dilakukan instalasi perangkat Bag House System pada tanur listrik 3 untuk mengurangi emisi debu dari tanur listrik. Pada tahun 2006 fasilitas pembibitan tanaman (nursery) di Sorowako mulai beroperasi dan mampu memproduksi 700.000 bibit per tahun untuk mendukung program relabilitasi lahan pasca-tambang. Pada tahun 2007, fasilitas ESP (electrostatic precipitator) dioperasikan untuk mengendalikan emisi partikulat di pabrik pengolahan. Pada tahun 2015, PT. Vale memperkenalkan Program Pertanian Sehat Ramah Lingkngan Berkelanjutan (PSRLB) dengan aktivitas budidaya System of Rice Intensification (SRI) Organik, budidaya tanaman herbal dan pelatihan penyehat tradisional.
9 Adapun penjualan berupa nikel matte dan dikemas dalam kantong yang berisi 10 ton nikel matte. Lalu produk diangkut ke Pelabuhan Balantang dan dibawa kapal pengangkut ke Jepang.
C. Visi dan Misi Perusahaan 1. Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan sumber daya alam nomor satu di Indonesia yang menggunakan standar global dalam menciptakan nilai jangka panjang, melalui keunggulan kinerja dan kepedulian terhadap manusia dan alam.
2. Misi
Mengubah sumber daya alam menjadi kemakmuran dan pembangunan yang berkelanjutan.
3. Nilai-nilai
a. Kehidupan adalah yang terpenting b. Menghargai karyawan
c. Menjaga kelestarian bumi d. Melakukan hal yang benar
e. Bersama-sama menjadi lebih baik f. Mewujudkan tujuan
D. Penghargaan Perusahaan
PT Vale Indonesia berhasil menerima tiga penghargaan untuk program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dari Indonesia Sustainable Development Award (ISDA) 2022 :
1. PT Vale berhasil meraih penganugerahan dengan kategori Emas (Gold) atas kontribusinya dalam pencapaian SDGs 3 Kehidupan Sehat Sejahtera melalui program Pengembangan Panti Sehat Tradisional Sebagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Herbal di Luwu Timur.
2. PT Vale meraih penganugerahan dengan kategori Silver atas kontribusinya dalam pencapaian SDGs 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui program Pengembangan Pariwisata LokalBerkelanjutan “Wisata Laa Waa River Park” di Luwu Timur.
3. PT Vale meraih kategori Silver atas kontribusinya dalam pencapaian SDGs 9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui program Pengembangan
10 Inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) “Alat Penyiangan Padi (Gasrok)”
untuk program pertanian organik dan penunjang program PPM lainnya di Luwu Timur.
PT Vale Indonesia berhasil menerima empat penghargaan dalam Good Mining Practice Award 2022 dari Kementerian ESDM :
1. Penghargaan Aditama (simbol emas) Aspek Pengelolaan Teknik Pertambangan
2. Penghargaan Aditama (simbol emas) Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Pertambangan
3. Penghargaan Aditama (simbol emas) Aspek Penerapan Konservasi Mineral dan Batubara
Trofi untuk Pengelolaan Lingkungan Hidup
PT Vale Indonesia berhasil menerima penghargaan Green PROPER pada 21 Desember 2021 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
E. Kegiatan Penambangan
Kegiatan Penambangan nikel ditujukan untuk menggali lapisan saprolit yang mengandung bijih nikel. Metode penambangan yang digunakan PT. Vale Indonesia ialah tambang terbuka yang dilakukan dari lapisan atas dan secara bertahap menurun mengikuti elevasi.
a. Land Clearing
Land Clearing merupakan kegiatan pembersihan vegetasi penutup di areal yang akan ditambang dengan menebang dan memotong pohon. Kegiatan ini merupakan awalan sebelum melakukan penambangan.
b. Stripping
Stripping merupakan tahapan pengupasan lapisan top soil dan tanah penutup. Pengupasan topsoil dan tanah penutup dilakukan menggunakan bulldozer, topsoil akan diangkut menggunakan truck menuju stockpile topsoil sedangkan tanah penutup akan ditimbun diluar lokasi tambang atau digunakan untuk menutup lubang bekas tambang. Topsoil dan tanah penutup yang disimpan akan digunakan kembali pada kegiatan revegetasi dan reklamasi lahan.
11 c. Ore Mining
Setelah lapisan tanah penutup diambil, dilakukan pengambilan lapisan nikel saprolit dan menyisahkan lapisan bluezone. Kegiatan penambangan bijih nikel dilakukan di blok Timur, blok Barat, dan blok Petea. Masing- masing blok memiliki spesifikasi bijih yang berbeda-beda. Pada blok barat memiliki kadar nikel 2.15% dengan kategori tinggi sedangkan blok Timur memiliki kadar nikel 1.8% dengan kategori rendah.
d. Screening
Setelah bijih nikel ditambang, dilakukan penyaringan sesuai ukuran yang diinginkan. Ukuran dari masing-masing blok berbeda, blok Barat berukuran <102 mm. Hasil dari penyaringan akan disimpan ke tempat penimbunan (wet stockpile), namun bijih nikel dari blok Timur dan blok Barat disimpan dalam stockpile yang berbeda. Pada pengolahan bijih nikel di process plant, bijih nikel dari blok Timur dan blok Barat akan dicampur sesuai dengan rasio perbandingannya yaitu 68% Barat dan 32% Timur.
e. Pengangkutan dan Penyimpanan Bijih Nikel
Secara garis besar, pengangkutan dan penyimpanan bijih nikel ini diangkut kebeberapa tempat seperti dari tambang ke ROM pile, hasil dari screening station diangkut ke wet ore stockpile (WOS), dan dari WOS ke pabrik peleburan.
f. Reklamasi dan Rehabilitasi
Kegiatan reklamasi yang berjalan di PT. Vale Indonesia ini dilakukan setelah kegiatan penambangan di satu kompartemen selesai. Sehingga, kegiatan reklamasi dilakukan secara berkesinambungan dan luas pembukaan lahan dapat dijaga pada luasan tertentu karena fokus pada satu kompartemen. Kegiatan reklamasi yang dilakukan memperhatikan banyak hal seperti pembangunan drainase untuk mengendalikan air limpasan dan menggunakan jenis tanaman cover crop untuk menekan laju erosi yang ada di lahan reklamasi. Setelah itu dilakukan pemantauan terhadap keberhasilan reklamasi.
12 F. Kegiatan Pengolahan Bijih Nikel
Pengolahan bijih nikel yang dilakukan PT. Vale Indonesia di blok Soroako ini menggunakan proses pirometalurgi. Peleburan bijih nikel dilakukan dengan memadukan bijih nikel dari blok Barat, blok Timur, dan blok Petea sehingga menghasilkan nikel dengan kualitas tertentu. Secara umum pengolahan bijih nikel dilakukan dengan tahapan:
a. Pengeringan
Bijih nikel basah yang disimpan di wet ore station akan diangkut mennggunakan truk menuju ke rotary dryer. Pada unit ini dilakukan pengeringan dengan suhu ± 9000C dan mereduksi kelembapan bijih nikel dari 30-35% menjadi 20%. Kemudian, bijih nikel yang kering akan disimpan ke dalam Dried Ore Storage (DOS).
b. Kalsinasi dan Reduksi
Bijih nikel yang disimpan di DOS akan dimasukkan ke dalam unit Reduction Kiln untuk menghilangkan air bebas dan air kristal. Kemudian dilakukan reduksi nikel oksida menggunakan HSFO dan sulfur sehingga menghasulkan produk kiln berupa calcine.
c. Peleburan
Proses peleburan ini dilakukan pada unit Electrik Furnace. Dilakukan proses reduksi air kristal lanjutan dari calcine menggunakan batubara.
Setelah itu dilakukan peleburan dan menghasilkan matte dan slag. Proses pemisahan matte dan slag dilakukan berdasarkan berat jenis. Hasil peleburan (matte) akan diteruskan ke dalam unit converter, sedankan slag akan dibuang ke disposal area menggunakan haul master.
d. Pemurnian
Tahap pemurnian dilakukan pada unit Converter yang bertujuan untuk menghilangkan besi dan meningkatkan kadar nikel yang ada pada kandungan matte hasil peleburan. Dilakukan oksidasi besi dalam matte menggunakan udara bertekanan sehingga kandungannya berkurang dan kandungan nikelnya meningkat. Pada okdidasi ini ditambahkan silica flux untuk mengikat oksida besi sehingga membentuk slag. Slag yang terbentuk akan dipisahkan menggunakan perbedaan jenis.
13 e. Granulasi dan Pengemasan
Hasil liquid matte dari converter akan masuk ke disemprot menggunakan air dingin bertekanan sehinnga merubah matte dari liquid menjadi granul.
Produk granul basah ini akan dipisah berdasarkan ukurannya kemudian akan dikeringkan menggunakan fluidized bed. Nikel matte yang sudah kering akan disaring menggunakan vibrating screen sehingga nikel matte yang berukuran -10 mesh akan di kemas, sedangkan nikel matte yang ukurannya tidak sesuai akan dimasukkan kembali kedalam converter.
Adapun gambar alur penambangan bijih nikel dapat dilihat sebagai berikut :
Gambar 3. Alur Penambangan Nikel PT Vale Indonesia Sumber: PT Vale, 2023
Gambar 4. Alur Pengolahan Nikel PT Vale Indonesia Sumber: PT Vale, 2023
14 G. Proses Pengendalian Pencemaran Udara
PT. Vale Indonesia Tbk telah melalukan upaya-upaya dalam pengendalian emisi dan partikulat. Dimana di PTVI terdapat alat-alat pengendalian emisi udara di setiap proses pengolahan nikel yaitu bag house filter, ESP, multicyclone, srubber, Drop Out Chamber (DOC), Drop Out Box (DOB).
1. Teknologi Pengendalian Pencemaran Udara (Dust) a. (Electrostatic Precipitator) ESP
Electrostatic Precipitator (ESP) adalah sebuah teknologi untuk menangkap abu hasil proses pembakaran dengan jalan memberi muatan listrik padanya. Prinsip kerja Electrostatic Precipitator (ESP) yaitu dengan memberi muatan negatif kepada abu-abu tersebut melalui beberapa elektroda (biasa disebut discharge electrode). Jika abu tersebut dilewatkan lebih lanjut ke dalam sebuah kolom yang terbuat dari plat yang memiliki muatan lebih positif (biasa disebut collecting electrode), maka secara alami abu tersebut akan tertarik oleh plat-plat tersebut.
Setelah abu terakumulasi pada plat tersebut, sebuah sistem rapper khusus akan membuat abu tersebut jatuh ke bawah dan keluar dari sistem ESP.
Electrostatic Precipitator (ESP) yang di pasangkan pada sistem cerobong asap digunakan untuk menangkap abu terbang (fly ash). Teknik yang digunakan adalah dengan menjebak partikel halus menggunakan listrik bertegangan tinggi. Produk dari ESP yang masih mengandung nikel akan disalurkan ke BIN untuk ditampung, kemudian dibawah ke pugmill system untuk dicampurkan dengan air menjadi slurry. Produk pugmill ini akan diumpankan kembali ke hopper untuk diolah kembali. Debu ESP yang tidak berharga akan menuju stack. Pada proses pengolahan nikel PTVI alat pengendali Electrostatic Precipitator (ESP) dipasang pada Dryer, Reduction Kiln, dan Product dryer dengan total ESP sebanyak 8 unit. Untuk penempatan ESP dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Penempatan Electrostatic Precipitator (ESP) di PTVI
No Proses Jumlah
1 Dryer 2
15
No Proses Jumlah
2 Kiln 5
3 Furnace -
4 Converter -
5 Produk Dryer 1
Sumber : Rantesalu & Boro (2023) b. Bag House Filter
Bag House Filter atau Dust Collector system merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk memperbaiki kualitas udara yang dihasilkan dari industri dan proses komersial dengan cara mengumpulkan debu dan kotoran lainnya dari udara atau gas lainnya.
Prinsip kerja alat ini adalah dengan menurunkan tekanan pada sisi isap di bawah tekanan atmosfir (udara bebas). Aliran debu dan gas dalam bag filter dapat melewati kain (fabric) ke segala arah. Partikel debu tertahan di sisi kotor kain, sedangkan gas bersih akan melewati sisi bersih kain. Debu secara periodik disisihkan dari kantong dengan goncangan atau menggunakan aliran udara terbalik, sehingga dapat dikatakan bahwa bag house filter adalah alat yang menerima gas yang mengandung debu, menyaringnya, mengumpulkan debunya, dan mengeluarkan gas yang bersih ke atmosfer. PT. Vale Indonesia mempunyai 4 unit Bag House yang berada pada proses furnace.
Untuk penempatan Bag House dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Penempatan Bag House di PTVI
No Proses Jumlah
1 Dryer -
2 Kiln -
3 Furnace 4
4 Converter -
5 Produk Dryer -
Sumber : Rantesalu & Boro (2023)
16 c. Multycyclone
Prinsip kerja cyclone adalah memisahkan dan mengumpulkan debu kering dari aliran gas dengan menggunakan gaya sentrifugal. Sebuah cyclone mempunyai satu inlet tangensial menuju badan silinder, yang menyebabkan aliran gas menjadi berputar-putar. Partikel – partikel kemudian terlempar menuju dinding pada badan cyclone. Ketika partikel mencapai lapisan batas yang stagnan pada dinding, kemudian partikel – partikel tersebut meninggalkan arus aliran gas dan akhirnya jatuh dari dinding. Seiring dengan kehilangan energi pada gas di pusat pusaran, gas mulai berputar di dalam vortex dan menuju ke bagian atas, dan partikel halus yang masih terikut tersangkut di vortex finder sementara aliran udara bersihnya terikut tarikan ID Fan keluar menuju cerobong. Pada PT Vale Indonesia Tbk terdapat 6 unit Multicyclone yang berada di dryer dan reduction kiln 1,2,3, dan 5. Untuk penempatan Multycyclone dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Penempatan Multycyclone di PTVI
No Proses Jumlah
1 Dryer 2
2 Kiln 4
3 Furnace -
4 Converter -
5 Produk Dryer -
Sumber : Rantesalu & Boro (2023)
d. DOC (Drop Out Chamber) dan DOB (Drop Out Box)
Pada proses produksi di converter menghasilkan emisi gas dan partikulat pengendalian emisi di converter menggunkanan alat pengendali DOC (Drop out Chamber) dan DOB (Drop Out Box), selanjutnya debu menuju DOC (Drop out chamber). Didalam DOC terdapat beberapa plat plat yang fungsinya untuk menghilangkan debu kasar, proses selanjutnya menuju DOB (Drop out box), plat plat didalam DOB lebih banyak dibandingkan DOC, fungsinya untuk
17 menghilangkan debu halus. Efisiensi alat pengendali emisi udara DOC (Drop out Chamber) dan DOB (Drop Out Box) mencapai 99%.
e. Continuous Emission Monitoring System (CEMS)
Pemerintahan Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah meresmikan penggunaan ruang sistem informasi pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan melalui program Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri Kontinyu (SISPEK). Dimana sistem ini akan menerima dan mengelola data hasil pemantauan emisi pada cerobong industri yang dilakukan secara terus menerus atau Continuous Emissions Monitoring System (CEMS). Continuous Emissions Monitoring System adalah suatu alat yang bertujuan untuk memantau kuantitas kadar suatu parameter emisi pada proporsi dan komposisi gas buang dan laju aliran emisi melalui pengukuran secara terus menerus. CEMS dengan teknologi terdepan sangat penting untuk pengawasan dan pemantauan real-time pada cerobong, untuk memastikan emisi dapat dikontrol secara ketat sesuai dengan standar emisi yang diizinkan.
Pengunaan CEMS digunakan di Reduction Klin 5 PT Vale Indonesia untuk memantau tingkat emisi yang keluar dari cerobong.
Kemudian hasil akan terbaca di komputer yang telah tersambung karena alat ini menggunakan sistem sensor. Parameter yang diukur adalah Partikulat, NOx, SO2, dan laju alir. Sistem pemantauan emisi secara kontinyu (Continuous Emissions Monitoring System), dilakukan dengan dua metode yaitu:
1. Metode Ekstraksi
Gas buang diambil oleh probe sampel dari cerobong dan sampel gas dikirim ke gas analyzer (yang berlokasi di ruang kontrol) melalui pipa sampel gas yang dilengkapi dengan heater untuk mencegah terjadinya kondensasi.
18 2. Metode Insitu
Gas buang langsung diukur di cerobong dan keluarnya sudah berupa sinyal analog yang akan dievaluator (yang berlokasi di ruang konrol) sehingga hasil akhirnya dapat dibaca.
f. Gas Analyzer
PT Vale Indonesia dalam mengelola emisi gas yang keluar dari cerobong (stack) menggunakan gas analyzer. Gas analyzer digunakan untuk mengendalikan pembakaran yang terjadi di kiln agar gas yang keluar dari cerobong kiln berada di bawah baku mutu dan aman dilepas ke permukaan. Parameter yang dikontrol yaitu CO2, O2 dan NOx. Agar dalam proses pembakaran klinker terjadi pembakaran sempurna CO2 harus berada di bawah baku mutu. Jika sewaktu-waktu gas CO2 yang terbaca di gas analyzer dalam alat tinggi maka perlu dilakukan pengurangan bahan bakar dan menjaga suhu pembakaran.
Adapun bagan alur proses bijih nikel dapat dilihat sebagai berikut :
Gambar 5. Alur Proses Pengendalian Pencemaran Udara PTVI Sumber: PT Vale, 2024
19 H. Struktur Organisasi
Gambar 6. Struktur Organisasi PT. Vale Indonesia Sumber: PT Vale, 2023
20 I. Struktur Organisasi Departemen Environment Permit & Management PT Vale Indonesia
Gambar 7. Struktur Organisasi Departemen Environment Permit & Management PT. Vale Indonesia, Tbk Sumber: PT Vale, 2024
21 BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pencemaran Udara
Menurut Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lainnya ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu udara ambien yang telah ditetapkan.
Perubahan lingkungan udara disebabkan pencemaran udara, yaitu masuknya zat pencemar (berbentuk gas-gas dan partikel kecil/aerosol) kedalam udara. Zat pencemar masuk kedalam udara dapat secara alamiah (asap kebakaran hutan, akibat gunung berapi, debu meteorit, dan pancaran garam dari laut) dan aktivitas manusia (transportasi, industri pembuangan sampah). Parameter penting akibat aktivitas ini seperti karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), senyawa organik volatil (VOC), ozon (O3), logam berat, dan partikel terhirup (PM2.5 dan PM10) (Rosyidah, 2018).
B. Baku Mutu dan Peraturan Terkait Pencemaran Udara
Menurut PP No. 22 Tahun 2021 Baku Mutu Udara Ambien adalah nilai pencemar udara yang ditenggang keberadaannya dalam Udara Ambien. Baku Mutu Udara Ambien disusun dan ditetapkan dengan mempertimbangkan hasil inventarisasi udara dan aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Baku mutu udara ambien meliputi jenis parameter dan nilai parameter masing- masing.
Untuk nilai baku mutu udara ambien tiap parameter dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4. Baku Mutu Udara Ambien
No. Parameter Waktu
Pengukuran Baku Mutu Sistem Pengukuran 1. Sulfur Dioksida SO2
1 jam 150 μg/m3 Aktif Kontinu Aktif Manual 24 jam 75 μg/m3 Aktif Kontinu 1 tahun 45 μg/m3 Aktif Kontinnu 2. Karbon Monoksida
(CO)
1 jam 10000 μg/m3 Aktif Kontinu 8 jam 4000 μg/m3 Aktif Kontinu 3. Nitrogen Dioksida 1 jam 200 μg/m3 Aktif Kontinu
22
No. Parameter Waktu
Pengukuran Baku Mutu Sistem Pengukuran
(NO2) Aktif Manual
24 jam 65 μg/m3 Aktif Kontinu 1 tahun 50 μg/m3 Aktif Kontinu 4.
Oksidan Fotokimia (Ox) sebagai Ozon
(O3)
1 jam 150 μg/m3 Aktif Kontinu Aktif Manual# 8 jam 100 μg/m3 Aktif Kontinu##
1 tahun 35 μg/m3 Aktif Kontinu 5. Hidrokarbon Non
Metana (NHMC) 3 jam 160 μg/m3 Aktif Kontinu###
6.
Partikulat Debu
<100 μm (TSP) 24 jam 230 μg/m3 Aktif Manual Partikulat Debu <10
μm (PM10)
24 jam 75 μg/m3 Aktif Kontinu Aktif Manual 1 tahun 40 μg/m3 Aktif Kontinu Partikulat Debu <2,5
μm (PM2,5)
24 jam 55 μg/m3 Aktif Kontinu Aktif Manual 1 tahun 15 μg/m3 Aktif Kontinu
7. Timbal (Pb) 24 jam 24 μg/m3 Aktif Manual
8. Amonia (NH3) μg/m3
1 tahun 100 μg/m3 Chemiluminescene Metode Biru
Indofenol 24 jam 400 μg/m3
Sumber : Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2021 Lampiran VII Keterangan :
μg/m3 = Konsentrasi dalam micrgogram per meter kubik, pada kondisi atmosfer normal, yaitu tekanan (P) 1 atm dan temperature (T) 25°C.
# Konsentrasi yang dilaporkan untuk waktu pengukuran selama 1 jam adalah konsentrasi hasil pengukuran yang dilakukan setiap 30 menit (dalam 1 jam dilakukan 2 kali pengukuran) dan dilakukan diantara pukul 11.00-14.00 waktu setempat.
## Konsentrasi yang dilaporkan untuk waktu pengukuran selama 8 jam adalah konsentrasi hasil pengukuran yang dilakukan diantara pukul 06.00-18.00 waktu setempat.
## Konsentrasi yang dilaporkan untuk waktu pengukuran selama 3 jam adalah konsentrasi hasil pengukuran yang dilakukan diantara pukul 06.00-10.00 waktu setempat.
23 Baku mutu emisi Industri Pertambangan di atur dalam Peraturan Menteri LH Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Emisi Industri Pertambangan dapat dilihat pada sebagai berikut:
Tabel 5. Baku Mutu Emisi Pengolahan Bijih Nikel
No Sumber Parameter Baku Mutu (mg/Nm3)
1 Nikel Mate SO2 86
2 Tanur Reduksi
SO2 800
Partikulat 250
NOX 800
H2S 10
Zn 50
Ni 50
Opasitas (%) 30
3 Tanur Pengering
SO2 700
Partikulat 250
NOx 800
Opasitas (%) 30
4 Tungku Listrik
SO2 700
Partikulat 250
NOX 800
H2S 10
Opasitas (%) 30
Zn 50
Ni 50
5 Pengering Produk
SO2 600
Partikulat 250
NOx 600
Opasitas 30
Sumber: Lampiran I-PERMENLHK-No.4/ MENLHK/ 2014
Dalam Peraturan Menteri Ketenagkerjaan Republik Indonesia No. 5 Tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, partikulat termasuk faktor kimia dimana faktor kimia adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja yang bersifat kimiawi, disebabkan oleh
24 penggunaan bahan kimia dan turunannya di tempat kerja yang dapat menyebabkan penyakit pada tenaga kerja, meliputi kontaminan kimia di udara berupa gas, uap dan partikulat. Pedoman dalam batasan diperlukannya pengendalian di tempat kerja yaitu Nilai Ambang Batas. Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB adalah standar faktor bahaya di Tempat Kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu (time weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Untuk NAB Nikel sulfide, uap, dan debu sebagai Ni dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6. NAB Nikel sulfide, uap, dan debu sebagai Ni Notasi Nama Bahan Kimia dan Nomor
CAS NAB (mg/m3)
●
■
Nikel sulfide, uap, dan debu sebagai
Ni (1,A1)
Keterangan :
● = Bahan-bahan kimia yang NAB-nya lebih tinggi dari Batas Pemaparan yang diperkenankan (PEL) dari OSHA dan atau Batas Pemaparan yang Dianjurkan dari NIOSH
■ = Identitas bahan-bahan kimia yang dikeluarkan oleh sumber-sumber lain, diperkirakan atau terbukti karsinogen untuk manusia
1, A1 = nilai 1 mg/m3 terbuki karsinogen untuk manusia (Confirmed Human Carcinogen). Bahan-bahan kimia yang berefek karsinogen terhadap manusia, atas dasar bukti dari studi-studi epidemologi atau bukti klinik yang meyakinkan, dalam pemaparan terhadap manusia yang terpajan.
Sumber: Peraturan Menteri Ketenagkerjaan Republik Indonesia No. 5 Tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja Hal 102.
C. Sumber Pencemaran Udara
Menurut Sugiarti (2009), secara umum terdapat 2 sumber pencemaran udara yaitu pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources), seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari kegiatan manusia (anthropogenic sources), seperti
25 yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Sumber pencemaran utama berasal dari transportasi, dimana hampir 60% dari polutan yang dihasilkan terdiri dari karbon monoksida dan sekitar 15% terdiri dari hidrokarbon. Sumber- sumber polusi lainnya adalah pembakaran, proses industri, pembuangan limbah, dan lain-lain (Agusnar, 2008). Sumber pencemaran udara menurut Mukono (2011) dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Sumber bergerak, dapat berupa alat transportasi yang menggunakan pembakaran bahan bakar fosil.
2. Sumber tidak bergerak, dapat berupa pabrik industri yang memang sumber keluaran emisinya tidak bergerak
Sifat dari sumber pencemar udara dibagi kedalam tiga sumber menurut Harsanto dalam Sinolungan (2009) :
1.
Sumber titik, berasal dari sumber stasioner dan dapat diketahui keberadadannya seperti emisi dari cerobong asap2.
Sumber area, berasal dari beberapa titik yang berdekatan ataupun berasal dari sumber yang bergerak3.
Sumber garis, berasal dari emisi yang berbentuk garis, misalnya jalanan yang padat kendaraan.D. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)
ISPU merupakan angka tanpa satuan, digunakan untuk menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu dan didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. Khusus untuk daerah rawan terdampak kebakaran hutan dan lahan, informasi ini dapat digunakan sebagai early warning system atau sistem peringatan dini bagi masyarakat sekitar. Tujuan disusunnya ISPU agar memberikan kemudahan dari keseragaman informasi mutu udara ambien kepada masyarakat di lokasi dan waktu tertentu serta sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan upaya-upaya pengendalian pencemaran udara baik bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (KLHK, 2020). Adapun parameter ISPU meliputi Hidrokarbon (HC), Karbon monoksida (CO), Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Ozon
26 (O3), dan Partikulat (PM10 dan PM2,5). Kategori angka rentang ISPU dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 7. Batas Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)
ISPU
24 Jam Partikulat
(PM10) µg/m3
24 Jam Partikulat
(PM2.5) µg/m3
24 Jam Sulfir Dioksida
(SO2) µg/m3
24 Jam Karbon Monoksida
(CO) µg/m3
24 Jam Ozon
(O3) µg/m3
24 Jam Nitrogen Dioksida (NO2) µg/m3
24 Jam Hidro- karbon
(HC) µg/m3
0-50 50 15,5 52 4000 120 80 45
51-100 150 55,4 180 8000 235 200 100
101-
200 350 150,4 400 15000 400 1130 215
201-
300 420 250,4 800 30000 800 2260 432
˃300 500 500 1200 45000 1000 3000 648
Keterangan :
• Data hasil pengukuran selama 24 jam secara terus menerus
• Hasil perhitungan ISPU parameter partikulat PM2.5 disampaikan tiap jam selama 24 jam
• Hasil perhitungan ISPU parameter Partikulat (PM10), Sulfur dioksida (SO2), Karbon Monoksida (CO), Ozon (O3), Nitrogen Dioksida (NO2), dan Hidrokarbon (HC), diambil nilai ISPU parameter tertinggi dan paling sedikit disampaikan setiap jam 09.00 dan jam 15.00
Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No.14 Tahun 2020
Tabel 8. Kategori Angka Rentang ISPU
Kategori Status Warna Angka Rentang
Baik Hijau 1–50
Sedang Biru 51–100
Tidak Sehat Kuning 101–200
Sangat Tidak Sehat Merah 201–300
Berbahaya Hitam ≥301
Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No.14 Tahun 2020
Tabel 8. Penjelasan Nilai ISPU
Kategori Keterangan Apa yang harus dilakukan Baik Tingkat kualitas udara yang
sangat baik, tidak memberikan efek negatif terhadap manusia, hewan, tumbuhan.
Sangat baik melakukan kegiatan di luar
Sedang Tingkat kualitas udara masih Kelompok sensitif: Kurangi
27 Kategori Keterangan Apa yang harus dilakukan
dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan
aktivitas fisik yang terlalu lama atau berat.
Setiap orang: Masih dapat beraktvitas di luar
Tidak Sehat
Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia, hewan, dan tumbuhan
Kelompok sensitif: Boleh melakukan aktivitas di luar, tetapi mengambil rehat lebih serng dan melakukan aktivitas ringan. Amati gejala berupa batuk atau nafas sesak.
Penderita asma harus mengikuti petunjuk kesehatan untuk asma dan menyimpan obat asma.
Penderita penyakit jantung:
gejala seperti palpitasi/jantung berdetak lebih cepat, sesak nafas, atau kelelahan yang tidak biasa mungkin mengindikasikan masalah serius.
Setiap orang: Mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama di luar ruangan.
Sangat Tidak Sehat
Tingkat kualitas udara yang dapat meningkatkan resiko kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar
Kelompok sensitif: Hindari semua aktivitas di luar.
Perbanyak aktivitas di dalam ruangan atau lakukan penjadwalan ulang pada waktu dengan kualitas udara yang baik.
Setiap orang:
Hindari aktivitas fisik yang terlalu lama di luar ruangan, pertimbangkan untuk melakukan aktivitas di dalam ruangan
Berbahaya Tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan serius pada populas dan perlu penanganan cepat
Kelompok sensitif: Tetap di dalam ruangan dan hanya melakukan sedikit aktivitas Setiap orang: Hindari semua aktivitas di luar
Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No.14 Tahun 2020
E. Particulate Matter
Particulate Matter merupakan salah satu pencemar udara menurut PP Nomor 22 Tahun 2021. Particulate Matter (PM) adalah campuran kompleks partikel padat dan cair yang tersuspensi di udara. Particulate Matter merupakan debu partikulat
28 yang dibedakan berdasarkan ukurannya yaitu PM2,5 dan PM10. PM merupakan jenis polutan yang berbahaya karena dapat mengakibatkan penyakit dan kematian akibat polusi udara (Arba, 2019). Konsentrasi dan penyebaran Particulate Matter disebabkan oleh proses disperse dan difusi (Aprianto dkk, 2018). Menurut Salim (2014), proses pembentukan partikulat di udara terdiri dari beberapa fase:
1. Pengintian (nukleasi) partikulat dari gas bertekanan uap rendah yang diemisikan atau yang terbentuk di atmosfir oleh reaksi kimia
2. Kondensasi gas bertekanan uap rendah pada partikulat yang ada 3. Koagulasi partikulat
Oleh karena itu partikulat di udara kemungkinan dapat berisi partikulat dari berbagai sumber. Partikulat dari sumber tertentu dapat tersusun dari campuran komponen kimia dan partikulat dari sumber berbeda dapat terkoagulasi menjadi bentuk partikulat baru, maka partikulat di udara dapat dianggap sebagai satu campuran dari berbagai campuran.
Menurut Departemen Kesehatan RI yang dikutip oleh Sitepu (2002), partikulat di udara mempunyai sifat:
1. Sifat Pengendapan
Adanya sifat partikulat yang cenderung selalu mengendap proporsi partikel yang lebih daripada yang ada di udara
2. Sifat Permukaan Basah
Permukaan partikulat akan cenderung selalu basah, dilapisi oleh lapisan air yang sangat tipis. Sifat ini penting dalam pengendalian partikulat.
3. Sifat Penggumpalan
Oleh karena permukaan partikulat yang selalu basah maka dapat menempel antara debu satu dengan yang lainnya sehingga menjadi menggumpal. Turbulensi udara membantu meningkatkan pembentukan gumpalan.
4. Sifat Listrik Statis
Sifat listrik statis yang dimiliki partikulat dapat menarik partikel lain yang berlawanan sehingga mempercepat terjadinya proses penggumpalannya.
29 5. Sifat Optis
Partikulat yang basah/lembab dapat memancarkan sinar sehingga dapat terlihat di dalam ruangan yang gelap
Partikulat terdiri dari ion organik, senyawa logam, elemen karbon, senyawa organik dan senyawa lainnya. Beberapa partikulat tersebut bersifat higroskopis dan berisi partikulat yang terikat air. Partikulat organik terutama yang berbentuk kompleks, berisi ratusan sampai ribuan senyawa organik. Partikel primer secara langsung diemisikan dari sumber, sedangkan partikulat sekunder terbentuk dari gas melalui reaksi kimia dalam atmosfer. Reaksi kimia dalam atmosfer tersebut meliputi oksigen di atmosfir (O2) dan uap air (H2O), zat reaktif seperti ozon (O3), senyawa radikal seperti hidroksi radikal (COH) dan nitrat radikal (CNO3), serta zat polutan (SO2, NOx, dan gas organik dari alam maupun hasil kegiatan manusia).
Ukuran adalah faktor yang menentukan sifat partikulat. Ukuran umumnya dinyatakan dalam diameter aerodinamika yang mengacu pada kepadatan unit partikulat berbentuk bola (US.EPA, 2004).
Penyebaran partikulat dipengaruh oleh beberapa faktor meteorologi seperti (Sukmawati, 2023):
1. Suhu
Terjadinya perubahan suhu yang terjadi karena peningkatan ketinggian.
Hal tersebut menyebabkan udara dingin terperangkap sehingga kandungan pencemar meningkat.
2. Kecepatan angin
Semakin cepat kecepatan angin maka semakin kecil konsentrasi pencemar karena angin membawa zat pencemar ke segala arah sehingga terdispersi.
3. Kelembaban
kelembaban udara yang tinggi uap air dapat bereaksi dengan polutan.
Kondisi udara yang lembab akan membantu proses pengendapan polutan, sebab dengan keadaan udara yang lembab, beberapa polutan yang berbentuk partikel seperti debu akan berikatan dengan air yang ada di udara dan membentuk partikel yang berukuran lebih besar sehingga mudah mengendap ke permukaan bumi akibat adanya gaya tarik bumi.
30 4. Hujan
Merupakan pelarut zat pencemar diudara oleh karena itu semakin tinggi curah hujan maka konsentrasi zat pencemar akan mengalami penurunan.
PM10 merupakan partikulat yang berukuran lebih kecil daripada 10 m. PM10
terdiri dari partikel halus berukuran kecil dari 2,5 m dan sebagian partikel kasar yang berukuran 2,5 m sampai 10 m. Partikel-partikel ini terdiri dari berbagai ukuran, bentuk, dan ratusan bahan kimia yang berbeda. PM10 berasal dari debu jalan, debu konstruksi, pengangkutan material, buangan kendaraan, dan cerobong asap industri, serta aktivitas crushing dan grinding (US.EPA, 2013). Sistem Pemantauan Lingkungan Global yang disponsori PBB memperkirakan pada 1987 ba hwa 70% penduduk kota di dunia hidup dengan partikel yang mengambang di udara melebihi ambang batas yang ditetapkan WHO. PM10 merupakan salah satu bahan pencemar udara yang digolongkan ke dalam kelompok pencemar primer (primary polutant), yaitu bahan pencemar yang diemisikan langsung ke udara dari sumber cemaran (Wijayanti, 2010). Sumber-sumber PM10 sering kali lebih sporadis dan terkait dengan aktivitas seperti debu jalanan, konstruksi, penambangan, dan aktivitas industri yang menghasilkan partikel lebih besar. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu udara ambien untuk PM10
dengan waktu pengukuran 24 jam ialah 75 µg/m3. PM10 dapat menyebabkan berbagai penyakit pada pernapasan bahkan dapat menyebabkan kematian. Paparan PM10 dalam waktu yang lama juga dapat menyebabkan gejala gangguan pernapasan bawah, asma, penurunan fungsi baru bahkan kematian (WHO, 2011 dalam Saputra dkk, 2019). Pada konsentrasi PM10 yang mencapai 140 µg/m3 dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak dan pada konsentrasi 350 µg/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronchitis (Anggraeni dkk, 2021).
Kerusakan kesehatan akibat PM10 tergantung pada lamanya kontak, konsentrasi partikulat dalam udara, jenis partikukat itu sendiri dan lain-lain (Agusnar, 2008).
PM2.5 merupakan partikel dengan diameter 2.5 m atau lebih kecil sehingga mudah untuk terhirup. Partikel ini lebih sering berasal dari pembakaran bahan bakar, seperti emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan pembakaran biomassa. Sumber ini menghasilkan partikel yang lebih kecil dan seringkali lebih konsisten dalam emisi (Hastiti, 2012). Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021,