• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Risiko Nipah Virus di Indonesia

N/A
N/A
Az-zahra Budiman

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Risiko Nipah Virus di Indonesia"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Co-Asistensi Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner

Analisis Risiko Nipah Virus

Disusun oleh :

Kelompok III Muhammad Fathul Hatta

Azzahra Budiman

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN 2024

(2)

Analisis Risiko Nipah Virus

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di sebuah peternakan babi di Malaysia. Saat itu, beberapa jenis hewan menunjukkan gejala demam, sulit bernapas, dan kejang. Menurut WHO, Virus tersebut berasal dari kelelawar buah yang ditularkan ke babi saat terjadi penebangan hutan secara besar-besaran sehingga menyebabkan populasi kelelawar berpindah mendekati area peternakan.

Penyakit Nipah disebabkan oleh virus Nipah, dari genus Morbilivirus, familiy Paramyxoviridae. Babi dan kalong (Pteropus spp.) telah terbukti memainkan peranan yang sangat penting dalam kejadian wabah Nipah di Malaysia. Kelelawar bertindak sebagai induk semang reservoir, sedang- kan babi bertindak sebagai pengganda yang mampu mengamplifikasi virus Nipah (amplifier host), yang siap ditularkan ke hewan lain atau manusia.

Secara serologis, Nipah pada Pteropus spp. juga telah dilaporkan di beberapa negara Asia seperti Banglades, Kamboja, Filipina dan Australia. Namun hingga saat ini belum ada laporan yang menyatakan bahwa virus Nipah menyebabkan kematian atau kesakitan pada kelelawar. Kelelawar yang terineksi tampak sehat meskipun antibodi dapat terdeteks. Infeksi Nipah pada kalong bersifat subklinis, walaupun infeksi buatan pada marmot dengan inokulum yang sama menimbulkan gejala klinis.

Di Indonesia, kasus Nipah pada kelelawar dan babi belum pernah dilaporkan secara klinis. Sementara pada manusia kasus ensefalitis telah banyak dilaporkan. Namun demikian, kejadian pada 2 orang Indonesia yang bekerja di salah satu peternakan babi yang terkena wabah Nipah di Malaysia, telah dilaporkan mengalami gejala ensefalitis kemudian meninggal di Rumah Sakit Umum Batam pada tahun 1999. Hasil serologis menunjukkan bahwa kedua orang tersebut mengandung antibodi terhadap Virus Nipah.

1. Identifikasi Bahaya (Hazard Identification)

Virus Nipah yang perlu diidentifikasi, terutama terkait dengan:

• Penyebaran geografis: Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Banglades sudah mengalami kasus Nipah Virus.

• Penularan: Penularan dapat terjadi melalui kelelawar atau kontak langsung.

Penyakit ini menyebar melalui serangga vektor yang mudah berkembang biak.

• Dampak terhadap ekonomi: Virus Nipah menyebabkan penurunan produktivitas ternak (daging), kematian, serta biaya penanganan yang tinggi.

(3)

Morbidity rate yang tinggi: Virus Nipah dapat menyebabkan demam, penurunan produksi daging, sulit bernapas, dan kejang.

2. Penilaian Risiko Menggunakan Rumus 𝑅 =H+V

C

Rumus ini memperhitungkan bahaya (H), kerentanan (V), dan kapasitas (C) untuk menilai risiko total. Mari kita gunakan contoh numerik untuk menjelaskan risiko Virus Nipah di Indonesia.

a. Bahaya (H)

• Bahaya Virus Nipah di Indonesia

• H = 5 (skala 1-10), karena meskipun belum menjangkau Indonesia namun potensi masuknya penyakit ini ke Indonesia cukup tinggi dilihat dari aspek faktor penularannya.

b. Kerentanan (V):

• Kerentanan populasi ternak di Indonesia terhadap Virus Nipah juga cukup tinggi, karena:

o Rendahnya kesadaran peternak tentang Virus Nipah.

o Infrastruktur veteriner belum merata di seluruh Indonesia.

o Kasus terkonfirmasi yang dilaporkan terjadi di negara-negara Asia Tenggara dan dapat berpotensi menyebar hingga ke Indonesia.

o Letak geografis negara Indonesia sanagt berdekatan dengan Malaysia, Singapura, dan Bangladesh.

o Penelitian tentang virus Nipah masih terbatas di Indonesia.

o Keberadaan hewan reservoir alami virus Nipah yang juga berada di Indonesia.

V = 7 (skala 1-10), karena keterbatasan dalam kesiapan proteksi di banyak wilayah dan tingkat kepedulian masyarakat terhadap penyebaran penyakit ini masih sangat rendah mengingat belum ada satu kasus pun mengenai penyakit ini yang masuk ke Indonesia.

C. Kapasitas (C):

Kapasitas pemerintah dan peternak dalam mencegah penyakit Virus Nipah relatif rendah karena belum ada kebijakan pemerintah untuk menyediakan vaksinasi virus Nipah pada setiap hewan yang berpotensi. Namun, pemerintah telah menerbitkan edaran kewaspadaan terhadap virus nipah yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas.

C = 7 (skala 1-10), karena tingkat pencegahan penyakit rendah.

(4)

Perhitungan Risiko:

𝑅 =H + V

C =5 + 7 7 = 12

7 = 1,7

Risiko penyebaran virus Nipah di Indonesia dihitung sebesar 1,7 pada skala 1-5, yang menunjukkan bahwa risiko penyebaran virus Nipah berada pada tingkat rendah hingga sedang.

3. Konsekuensi dan Dampak

Konsekuensi dari penyebaran Virus Nipah dapat mencakup beberapa aspek:

Dampak ekonomi langsung: Penurunan produktivitas babi akibat penyakit, biaya pengobatan, vaksinasi, hingga kematian ternak.

Dampak jangka panjang: Penurunan populasi ternak produktif, penurunan kualitas dan daging, serta pembatasan perdagangan ternak antar wilayah yang terinfeksi.

4. Manajemen Risiko

Berdasarkan analisis risiko yang menunjukkan tingkat risiko rendah-sedang, beberapa langkah mitigasi dapat diambil:

Vaksinasi masal: Peningkatan vaksinasi di wilayah yang rawan terkena virus nipah, khususnya di daerah peternakan intensif dan daerah dengan populasi vektor tinggi.

Pengawasan dan pemantauan ketat: Pembentukan pos pemantauan di pintu-pintu masuk peternakan serta jalur distribusi ternak.

Edukasi peternak: Memberikan penyuluhan tentang gejala, pencegahan, dan pengobatan Virus Nipah kepada peternak agar mereka dapat mendeteksi gejala dini dan mengurangi penyebaran.

Kesimpulan

Risiko penyebaran Virus Nipah di Indonesia berada pada tingkat rendah hingga sedang (R = 1,7), dengan bahaya yang cukup besar dan kerentanan yang signifikan. Kapasitas penanganan masih perlu ditingkatkan melalui langkah-langkah preventif seperti vaksinasi massal, dan edukasi peternak. Pemerintah Indonesia harus memonitoring situasi dengan tingkat kesiapsiagaan yang tinggi, dengan beberapa rekomendasi di antaranya memperkuat pemeriksaan perbatasan, pelaksanaan surveilans dan penguatan biosekuriti. Dengan pendekatan mitigasi yang tepat, Indonesia bisa mencegah risiko penyebaran virus Nipah dan melindungi sektor peternakan yang vital.

(5)

DAFTAR PUSTAKA

Sendow, I., Field, H., Adjid, R. A., Syafriati, T., Darminto, D., Morrissy, C., dan Daniels, P.

2017. Seroepidemiologi Nipah virus pada kalong dan ternak babi di beberapa wilayah di Indonesia. Jurnal Biologi Indonesia, 5(1), 35-44

Rampengan, N. H. 2016. Virus Nipah. Jurnal Biomedik: JBM, 8(2): 67-71.

Sikatta, F. O. A., dan Adisasmito, W. B. B. 2020. Resiko Perilaku Konsumsi Satwa Liar Terhadap Kejadian Penyakit Infeksi Emerging (Pie): Tinjauan Literatur. IAKMI Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1(3), 143-150.

Bahari, W. N. I. W., Rus, A. K. A. M., dan Rahman, Z. A. 2023. National Security and The Menace of The Nipah Virus, 1998–2000: The Malaysian Experience. Akademika, 93(2), 173-184.

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini akan dilakukan analisis risiko dan merancang aksi mitigasi risiko dengan mengaplikasikan model House of Risk (HOR).. Pemetan aktivitas

Dari kelima variabel yang digunakan untuk melihat risiko pasar, dimana empat diantaranya menunjukkan hasil yang signifikan maka dapat dikatakan risiko pasar mempengaruhi

Penerapan pengelolaan risiko operasional untuk mitigasi kesalahan dalam sistem posting debitur sehat menjadi debitur hitam pada PT.Bank Sulut Go adalah peningkatan

Rekomendasi yang dapat diberikan untuk Bank Mestika Dharma Tbk dalam menerapkan manajemen risiko kredit dan instrumen derivatif yang digunakan telah baik dengan risiko yang

Tingkat risiko kredit per Maret 2014 tetap pada predikat low to moderate (rendah ke sedang) dengan tingkat risiko yang menunjukkan tren meningkat dibanding Desember 2013. 1)

Aksi Mitigasi Agen Risiko Aksi Mitigasi Karyawan hilang focus karena terlalu Lelah A26 Shiftpanjang digantishiftpendek PA 1 Penerapan “reward and punishment” untuk peningkatan

Setelah tindakan manajemen risiko mitigasi dilakukan terhadap 5 risiko tertinggi yang masuk dalam kategori Unacceptable, yaitu 1 Secara internal perusahaan tidak ada informasi terkait

Tingkat pengungkapan manajemen risiko pengolahan informasi teknologi menunjukan tingkat pengungkapan yang cukup rendah dimana pengungkapan sebesar 25% dan 50% hanya dilakukan sebanyak